Analisis Postur Kerja pada Pekerja Gudang dengan Metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS) dan Quick
Exposure Check (QEC) di PT. Sami Surya Indah
Disusun guna melengkapi tugas dan syarat dalam menempuh skripsi pada program studi Teknik Industri Fakultas Teknik
Oleh :
Yohanes Stefanus Kusuma Santosa NIM 2050200049
PROGRAM TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO
2024
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam industri manufaktur, pekerja gudang sangat penting dalam industri manufaktur untuk memastikan distribusi dan penyimpanan material berjalan lancar. Mereka rentan terhadap cedera muskuloskeletal karena aktivitas sehari- hari mereka, seperti mengangkat, membawa, menarik, dan mendorong beban berat. Pekerja tidak hanya mengalami penurunan produktivitas karena cedera ini, tetapi juga berdampak negatif pada kesehatan dan keselamatan mereka.
Salah satu industri manufaktur yang ada di indonesia adalah Industri plastik, industri ini memiliki peran penting dalam perekonomian global maupun nasional. Industri plastik menyumbang sekitar 6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) manufaktur Indonesia pada tahun 2023, (Artha et al., 2023). Plastik digunakan secara luas dalam berbagai sektor seperti kemasan, otomotif, elektronik, konstruksi, dan medis. Di Indonesia, industri plastik telah berkembang pesat seiring dengan meningkatnya permintaan produk plastik baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Menurut data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS), permintaan global terhadap produk plastik diperkirakan tumbuh sekitar 3,5%
per tahun. Produksi plastik untuk kemasan di Indonesia terus meningkat setiap tahun dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 4,65%, menunjukkan pentingnya peran Indonesia dalam pasar regional. Industri ini juga menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja, menunjukkan pentingnya sektor ini dalam menciptakan lapangan pekerjaan. (Artha et al., 2023)
PT. Sami Surya Indah Plastik, atau yang lebih dikenal sebagai SSI, adalah perusahaan yang bergerak dibidang produksi karung plastik (polypropylene woven bag) dan karung jumbo (polypropylene jumbo bag). SSI menyediakan berbagai jenis, ukuran, warna, dan desain sesuai dengan permintaan pembeli untuk keperluan pengemasan barang. Perusahaan ini telah berhasil mengembangkan berbagai produk plastik berkualitas tinggi yang memenuhi
standar internasional. Namun, seperti banyak perusahaan lain dalam sektor ini, PT. SSI menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi produktivitas karyawannya, PT SSI memproduksi sekitar 5 juta karung plastik (PP) per bulan, Ini berarti kapasitas produksi tahunan sekitar 60 juta kantong..
Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh karyawan di industri plastik adalah gangguan musculoskeletal disorders (MSDs), MSDs memiliki pengaruh negatif terhadap karyawan dan organisasi. Pengaruh terhadapat karyawan adalah, kesehatan fisik, kesehatan mental dan produktivitas pekerja, sedangan pengaruh organisasi adalah, Biaya Kesehatan, Kualitas Kerja, Kepuasan dan Loyalitas Karyawan, dan Reputasi Perusahaan.
(Tjahayuningtyas, 2019)
Berdasarkan observasi awal di PT SSI, didapatkan jumlah pekerja di gudang sebanyak 20 pekerja, sebagian besar pekerja mengeluhkan nyeri pada bagian punggung, leher, bahu, dan kaki. Keluhan ini menunjukkan adanya potensi risiko ergonomi yang signifikan di lingkungan kerja tersebut. Sebanyak 10 orang pekerja gudang mengalami sakit pada pinggang, punggung, dan pantat dengan kode S (Sakit), kode AS (Aagak Sakit) memiliki skor 1, kode S (Sakit) memiliki skor 2, dan kode SS (Sangat Sakit) memiliki skor 3. Total skor yang di miliki seluruh pekerja gudang yaitu 86 skor, kondisi ini menunjukkan adanya masalah ergonomis yang perlu diatasi untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pekerja.
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menganalisis postur kerja adalah Ovako Working Posture Analysis System (OWAS). OWAS memiliki keterbatasan dalam mengevaluasi faktor-faktor spesifik seperti frekuensi dan durasi aktivitas, serta faktor psikososial. Maka dibutuhkan metode tambahan seperti Quick Exposure Check (QEC) supaya dapat memberikan hasil yang lengkap, mendalam dan beberapa manfaat tambahan yang penting untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja, contoh penelitian dari metode owas adalah.
Sriyanto et al,. (2004) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Postur Kerja Menggunakan Metode Ovako Work Posture Analysis System (OWAS).
Hasil dari penelitian tersebut adalah PT Sanggar Sarana Baja Transporter merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang pembuatan dump truck yang mana 80% aktivitas lini produksinya adalah aktivitas pengelasan.
Didapat postur kerja terburuk dengan hasil nilai katagori metode OWAS pada welder 2, 5, dan 6 dengan nilai katagori OWAS 4. Dalam metode OWAS, nilai katagori 4 memiliki aksi katagori yakni perlunya dilakukan perbaikan sekarang juga. Oleh karena itu, postur kerja yang digunakan oleh 2, 5, dan 6 merupakan postur kerja terburuk. Usulan perbaikan yang direkomendasikan yaitu dengan memperbaiki penambahan fasilitas pendukung seperti jig pada bidang yang akan dilakukan pengelasan, kemudian kursi atau mobile ladder platform yang dapat digunakan welder sebagai media penopang tubuh agar tubuh membentuk postur kerja yang ergonimis, aman, dan nyaman.
Contoh penelitian sebelumnya tentang metode QEC yaitu Ramadahni et al,. (2018), Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat risiko ergonomi pada saat praktik chassis otomotif pada kompetensi roda dan ban. Pada tubuh persentil 95 didapat 59%, tubuh persentil 50 didapat 59%, tubuh persentil 5 didapat 52,2%, yang berarti harus diselidiki dan segera dirubah untuk mengurangi risiko ergonomi. Peneliti menyarankan alat bantu praktik untuk mengangkat dan memindahkan beban yang bisa disesuaikan menurut data antropometri.
Dengan latar belakang tersebut, Maka penelitian ini untuk menganalisis postur kerja dengan menggunakan metode metode OWAS dan QEC agar dapat membantu dalam menilai dan mengurangi risiko ergonomis di lingkungan kerja. Dengan penggabungan metode OWAS dan QEC, perusahaan dapat melakukan penilaian risiko ergonomis yang lebih mendalam, meningkatkan efektivitas intervensi ergonomis, dan mengurangi risiko cedera di tempat kerja secara lebih efektif. penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja di industri manufaktur plastik. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lanjutan dan pengembangan metode analisis postur kerja yang lebih efektif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah
1. Bagaimana postur tubuh pekerja gudang di industri manufaktur dapat dianalisis menggunakan metode OWAS?
2. Postur kerja mana saja yang memiliki tingkat risiko tinggi dan memerlukan perbaikan segera?
3. Bagaimana tingkat keparahan risiko ergonomi yang dihadapi oleh pekerja di industri plastik berdasarkan gabungan analisis OWAS dan QEC?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang sudah penulis jabarkan maka tujuan penelitian ini yaitu:
1. Menganalisis dan menentukan postur kerja yang memiliki tingkat risiko tinggi pada pekerja gudang di PT. SSI menggunakan metode OWAS dan QEC.
2. Memberikan rekomendasi perbaikan untuk mengurangi risiko cedera muskuloskeletal pada pekerja gudang.
1.4 Batasan Masalah
Untuk membuat masalah penelitian lebih terarah dari tujuan, penulis membuat batasan untuk memperjelas lingkup masalah dan memudahkan analisis, yaitu
1. Penelitian ini dilakukan di gudang PT. Sami Surya Indah yang berlokasi di Kabupaten Sukoharjo. divisi gudang dipilih karena tingginya aktivitas fisik yang dilakukan oleh pekerja.
2. Subjek penelitian adalah pekerja gudang yang terlibat dalam aktivitas pengangkutan, penataan, dan pengambilan barang.
3. Aktivitas yang dianalisis adalah aktivitas pengangkatan, pemindahan, dan penyusunan barang.
1.5 Manfaat penelitian
1. Memberikan informasi dan rekomendasi kepada perusahaan gudang untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja.
2. Meningkatkan kesadaran pekerja terhadap pentingnya postur kerja yang benar dalam mencegah cedera.
3. Meningkatkan produktivitas pekerja dengan mengurangi kelelahan dan meningkatkan efisiensi kerja melalui postur yang lebih ergonomis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian terdahulu
Susihono et al,. (2010) melakukan penelitian yang berjudul Perbaikan Postur Kerja Untuk Mengurangi Keluhan Muskuloskeletal Dengan Pendekatan Metode Owas (Studi Kasus Di Ud. Rizki Ragil Jaya – Kota Cilegon) pada home industri produksi kripik singkong yaitu di UD Rizki Ragil Jaya yang berada di Kota Cilegon Hasil analisis OWAS menunjukkan bahwa sebelum perbaikan masuk pada kategori 3 yang artinya memerlukan perbaikan dengan segera dan 2 yang artinya memerlukan perbaikan dimasa mendatang, sedangkan setelah perbaikan diperoleh kategori 1 yang artinya tidak ada masalah pada sistem musculoskeletal. Indeks resiko sebelum perbaikan sebesar 243 satuan, setelah perbaikan menjadi 129 satuan artinya pekerjaan mempunyai resiko yang kecil (minimum risk).
Rinawati, (2016) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Risiko Postur Kerja Pada Pekerja Di Bagian Pemilahan Dan Penimbangan Linen Kotor RS. X. Hasil Aktivitas petugas laundry dalam penimbangan linen kotor dalam kategori tingkat risiko rendah dengan skor akhir REBA yaitu 3.
Sedangkan aktivitas petugas laundry dalam pemilahan linen kotor dalam kategori tingkat risiko tinggi dengan skor akhir REBA yaitu 9. Sehingga diperlukan tindakan segera. Tingkat risiko tinggi pada tahapan aktivitas petugas laundry dalam pemilahan linen kotor disebabkan oleh postur kerja/sikap kerja yang mengalami pemuntiran badan, pembungkukan dan banyak mengalami fleksi. Saran yang diberikan adalah upaya rumah sakit melakukan pengendalian rekayasa teknik, rekayasa manajemen, pemberian prosedur kerja dan pengadaan promosi K3
Sugiharto et al., (2013) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Perbaikan Postur dan Metode Kerja untuk Mengurangi Kelelahan Muskuloskeletal di PT. XYZ Surabaya. Hasil dari penelitian ini yaitu Sebagian
besar karyawan mengalami keluhan musculoskeletal. Untuk menanggulanginya, peneliti merancang kursi prototype ergonomis yang sesuai dengan antropometri tubuh karyawan dan beberapa perbaikan pada metode kerja dan layout stasiun kerja.
Ramadahni et al,. (2018), Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat risiko ergonomi pada saat praktik chassis otomotif pada kompetensi roda dan ban. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek pada penelitian ini diambil menggunakan teknik sampling jenuh yaitu mahasiswa Departemen Pendidikan Teknik Mesin konsentrasi otomotif angkatan 2014. Pengumpulan data dengan dengan cara teknik observasi dan kuesioner. Instrumen pengumpulan data terdiri dari dari lembar observasi dan kuesioner. Metode yang digunakan untuk menganalisis posisi tubuh adalah Quick Exposure Checklist (QEC) . Metode QEC menganalisis pada punggung, bahu/lengan, pergelangan lengan/lengan, dan leher. Metode ini tidak hanya menilai pajanan pada tubuh tetapi durasi, beban benda kerja, dan tingkat kesulitan pekerjaan masuk kedalam kriteria penilaian. Kompetensi roda dan ban dipilih karena dinilai memiliki tingkat resiko ergonomi yang tinggi.
Pada tubuh persentil 95 didapat 59%, tubuh persentil 50 didapat 59%, tubuh persentil 5 didapat 52,2%, yang berarti harus diselidiki dan segera dirubah untuk mengurangi risiko ergonomi. Peneliti menyarankan alat bantu praktik untuk mengangkat dan memindahkan beban yang bisa disesuaikan menurut data antropometri.
Bintang et al,. (2017) melakukan penelitian yang berjudul Analisa Postur Kerja Menggunakan Metode OWAS dan RULA kemudian mendapatkan hasil penilaian aktivitas menggunakan metode OWAS dan RULA diperoleh bahwa aktivitas yang dilakukan dapat menyebabkan cedera musculoskeletal sehingga diperlukan adanya perbaikan segera untuk mengurangi risiko terjadinya cedera.
Hasil pengodingan level risiko dari postur tubuh dengan menggunakan metode OWAS dan RULA, dinyatakan bahwa postur tubuh pekerja selama ini yang dapat menyebabkan cedera MSDs bagi pekerja itu sendiri. Oleh karena itu, merekomendasikan sebuah alat bantu yang dapat mengurangi beban
pekerja dan juga diharapkan mampu menurunkan risiko musculoskeletal bagi pekerja. Alat bantu yang direkomendasikan adalah hand truck dua roda dengan ditambahkan roda penyangga pada bagian belakang guna mengurangi beban statis yang dialami oleh tangan pekerja, dan juga dapat mencegah hand truck tersebut jatuh saat digunakan mengangkut beban berat.
Arifin et al., (2022) melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengukuran Beban Kerja Menggunakan Metode SNQ, OWAS, RULA dan REBA Pada Pabrik Es, mendapatkan hasil:
1. Pengukuran beban kerja berdasarkan kuesioner Standard Nordic Questionaire (SNQ) dapat diketahui bahwa persentase tingkat keluhan anggota tubuh terbesar ketika melakukan pekerjaan angkat beban yaitu sakit di punggungdan sakit di pinggang. Hal ini dikarenakan posisi tubuh yang salah saat mengangkat bebanv kerja sehingga otot menjadi tegang dan vterjadinya penekanan pada daerah lumbal.
2. Pengukuran beban kerja pada proses pengangkatan barang menggunakan metode OWAS diperoleh bahwa postur kerja yang dilakukan oleh pekerja berada pada level 3, yaitu pada sikap ini berbahaya pada sistem musculoskeletal, yang mengakibatkan pengaruh ketegangan yang sangat signifikan. Sehingga perlu perbaikan segera mungkin.
3. Hasil pengujian menggunakan software RULA untuk data pengangkatan beban es batu dapat diketahui bahwa didapati skor sebesar 5 dan action level RULA adalah 3, sehingga pemeriksaan dan perubahan perlu segera dilakukan agar tidak menimbulkan efek pada bagian atas tubuh pekerja.
4. Hasil pengujian REBA untuk data pengangkatan beban es batu oleh pekerja dapat diketahui bahwa didapati skor sebesar 3 dan action level REBA adalah 1, dari skor tersebut dapat dikatakan bahwa pengangkatan beban es batu berada pada level risiko low (rendah) sehingga tindakan perbaikan mungkin perlu dilakukan.
Sriyanto et al,. (2004) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Postur Kerja Menggunakan Metode Ovako Work Posture Analysis System (OWAS)
(Studi Kasus: PT Sanggar Sarana Baja Transporter). Hasil dari penelitian tersebut adalah:
1. PT Sanggar Sarana Baja Transporter merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang pembuatan dump truck yang mana 80% aktivitas lini produksinya adalah aktivitas pengelasan.
2. Berdasarkan jumlah pengamatan terhadap 8 welder, untuk welder 1 dan welder 4 memperoleh nilai katagori OWAS 1, yang mana pada nilai ini merupakan bahwa tidak diperlukannya perbaikan terhadap postur kerja
3. Untuk welder 3, welder 7, dan welder 8 memiliki hasil nilai katagori OWAS 2.
Nilai ini memiliki aksi katagori yaitu perlu dilakukannya perbaikan. Pada kasus ini, aksi katagori OWAS yang diperoleh merupakan suatu peringatan terhadap postur kerja yang dibentuk pada welder memerlukan adanya perbaikan.
4. Didapat postur kerja terburuk dengan hasil nilai katagori metode OWAS pada welder 2, welder 5, dan welder 6 dengan nilai katagori OWAS 4. Dalam metode OWAS, nilai katagori 4 memiliki aksi katagori yakni perlunya dilakukan perbaikan sekarang juga. Oleh karena itu, postur kerja yang digunakan oleh welder 2, welder 5, dan welder 6 merupakan postur kerja terburuk.
Usulan perbaikan yang direkomendasikan yaitu dengan memperbaiki penambahan fasilitas pendukung seperti jig pada bidang yang akan dilakukan pengelasan, kemudian kursi atau mobile ladder platform yang dapat digunakan welder sebagai media penopang tubuh agar tubuh membentuk postur kerja yang ergonimis, aman, dan nyaman.
Siswanto et al., (2020) melakukan penelitian yang berjudul ANALISIS POSTUR KERJA OPERATOR SABLON KARUNG DENGAN METODE RULA. Hasil yang didapat adalah Berdasarkan identifikasi postur kerja tubuh operator sablon karung di UD. Eka Jaya menggunakan metode RULA , hasil analisis menggunakan dua metode RULA diketahui bahwa postur tubuh yang memiliki resiko kelelahan yang berlebihan yaitu dibagian tubuh pergelangan tangan, leher, batang tubuh, lengan atas dan lengan bawah, kaki.
Diketahui bahwa postur kerja tubuh operator sablon karung menggunakan metode RULA, hasil analisis menggunakan dua metode tersebut diketahui
dan dapat disimpulkan bahwa metode RULA memiliki skor tertinggi yaitu 7 yang artinya bahwa menunjukkan bahwa kondisi ini berbahaya maka pemeriksaan dan perubahan diperlukan dengan sesegera (saat itu juga), . Usulan perbaikan postur tubuh dari hasil penelitiandengan menggunakan metode RULA Pergelangan tangan diposisi 14° operator bisa mengurangi cidera pada pergelangan tangan, Putaran pergelangan tangan operator berada pada rentang menengah putaran, Lengan atas diposisi 25°, Lengan bawah diposisi 65°. Penggunaan tenaga, Pembebanan sesekali atau tenaga kurang 2 kg dan ditahan. Posisi leher operator 0-10° bisa mengurangi cidera pada leher. Postur punggung diposisi 20° operator bisa mengurangi cidera pada batang tubuh. Kaki berdiri dimana bobot tubuh tersebar merata pada kaki dimana terdapat ruang untuk berubah posisi. Penggunaan tenaga.
Pembebanan sesekali atau tenaga kurang 2 kg dan ditahan.
Hudaningsih et al., (2021) melakukan penelitian yang berjudul ANALISIS POSTUR KERJA PADA SAAT MENGGANTI OLI MOBIL DENGAN MENGGUNAKAN METODE RAPID UPPER LIMB ASSESSMENT (RULA) DAN RAPID ENTIRE BODY ASSESSMENT (REBA) DI BENGKEL BAROKAH MANDIRI. Hasil yang didapat adalah Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa dari hasil yang diperoleh, perhitungan yang didapat dengan metode RULA untuk posisi 1 dengan RULA skor 6 maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dan segera melakukan perubahan, posisi 2 dengan RULA skor 7 harus dilakukan pemeriksaan dan perubahan penerapan serta posisi 3 dan posisi 4 dengan RULA skor 4 diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dan mungkin melakukan perubahan.
Dari hasil yang diperoleh selanjutnya, perhitungan yang didapat dengan metode REBA untuk posisi 1 dan 2 dengan REBA skor 5 itu merupakan resiko menengah dan perlu pemeriksaan lebih lanjut serta melakukan perubahan, posisi 3 dengan REBA skor 3 merupakan resiko rendah dan mungkin diperlukan perubahan pola kerja serta posisi 4 dengan REBA skor 4 merupakan merupakan resiko menengah dan perlu pemeriksaan lebih lanjut serta melakukan perubahan. Dari hasil posisi tubuh ketiga, maka posisi kerja dengan
perhitungan RULA (Rapid Upper Limb Assessment) dan REBA (Rapid Entire Body Assessment) perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan perubahan pola kerja dikarenakan untuk mengantisipasi dan menghindarkan resiko cedera yang akan terjadi pada pekerja.
Penelitian mengenai penggunaan metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS) telah dilakukan di berbagai sektor industri untuk mengevaluasi postur kerja dan mengidentifikasi risiko ergonomis. Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dapat dilihat pada tabel 2.1:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
NO OBJEK METODE
OWAS REBA RULA QEC
1.
Industri Makanan &
minuman
Susihono et al,.
(2010) Arifin et al., (2022)
Arifin et al., (2022)
2. Industri jasa Sriyanto et al,.
(2004)
Rinawati, (2016)
Siswanto et al., (2020) 3. Industri
manufaktur Bintang et al,. (2017)
Sugiharto et al., (2013) 4. Industri
otomotif Hudaningsih et al.,
(2021)
Ramadahni et al,.
(2018) Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa metode OWAS dan QEC adalah alat yang efektif untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi postur kerja yang tidak ergonomis di berbagai lingkungan kerja. Metode ini membantu dalam memberikan rekomendasi berbasis bukti untuk perbaikan ergonomis yang dapat meningkatkan kesehatan dan keselamatan pekerja. Temuan dari penelitian terdahulu juga menekankan pentingnya pelatihan ergonomi dan implementasi perubahan desain tempat kerja untuk mengurangi risiko cedera terkait postur kerja.
2.2 Ergonomi
Dalam kegiatan operasi pabrik, perlu diperhatikan berbagai aspek untuk menunjang kegiatan yang lebih efisien maupun lebih nyaman dan aman untuk pekerja. Analisa postur kerja sangat penting untuk mengetahui apakah sudah ergonomi atau belum, (Julianus, 2017).
Ergonomi adalah ilmu penerapan teknologi untuk menyerasikan segala fasilitas dan biomekanis manusia. Ergonomi juga ditujukan untuk mendapatkan pengetahuan yang utuh mengenai interaksi manusia dengan lingkungan kerja.
Ergonomi juga memiliki tujuan untuk mengurangi tingkat kecelakaan ketika bekerja serta meningkatkan produktifitas dan efisiensi pekerja (Triyono et al,.
2016)
2.2.1 Definisi Ergonomi
Ergonomi adalah disiplin ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dan elemen lain dari suatu sistem, serta profesi yang menerapkan teori, prinsip, data, dan metode untuk merancang sistem yang mengoptimalkan kesejahteraan manusia dan kinerja keseluruhan sistem. Dalam konteks kerja, ergonomi bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi pekerja. ( Fallis, 2013)
Menurut Hambudi (2015) Ergonomi bertujuan untuk meningkatkan kinerja kerja manusia, seperti meningkatkan ketepatan kerja dan mengurangi konsumsi energi. Mengurangi waktu dan biaya pelatihan. Pendayagunaan sumber daya manusia yang lebih baik melalui peningkatan keterampilan yang diperlukan. Menghemat waktu dan kerusakan. Selain itu, meningkatkan kenyamanan manusia dalam menyelesaikan tugas. karena ergonomi dapat meningkatkan efektivitas fungsional dan kenyamanan saat digunakan di tempat kerja.
Ergonomi tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga mempertimbangkan interaksi kompleks antara manusia, teknologi, dan lingkungan kerja. Dengan menerapkan prinsip ergonomi, organisasi dapat meningkatkan kualitas hidup kerja, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan kepuasan pekerja, (Fichri, 2022).
2.2.2 Ergonomi Fisik
Menurut Fallis, (2013) Ergonomi fisik adalah cabang dari ergonomi yang fokus pada desain dan penataan aspek fisik dari lingkungan kerja dan interaksi manusia dengan peralatan serta tempat kerja. Tujuan utama ergonomi fisik adalah untuk meningkatkan kenyamanan, efisiensi, dan keselamatan dengan mengurangi ketegangan fisik dan risiko cedera. Berikut adalah beberapa alasan mengapa ergonomi fisik perlu diperhatikan, (Fallis, 2013).
1. Pencegahan Cedera
Cedera Muskuloskeletal, Ergonomi fisik yang baik membantu mencegah cedera muskuloskeletal seperti sakit punggung, nyeri leher, dan sindrom carpal tunnel. Desain tempat kerja dan peralatan yang ergonomis mengurangi ketegangan otot dan stres pada sendi, yang dapat mengurangi risiko cedera.
2. Kenyamanan Pekerja
Pengurangan Kelelahan, Desain yang ergonomis mengurangi ketidaknyamanan dan kelelahan fisik, memungkinkan pekerja untuk bekerja dalam posisi yang lebih nyaman dan mengurangi ketegangan otot. Kualitas Kerja yang Lebih Baik, Dengan mengurangi ketidaknyamanan, pekerja dapat fokus pada tugas mereka dengan lebih baik, yang berdampak positif pada kualitas kerja.
3. Peningkatan Produktivitas
Efisiensi Kerja, Lingkungan kerja yang ergonomis membantu meningkatkan efisiensi dengan meminimalkan waktu yang dihabiskan untuk mengatasi ketidaknyamanan atau cedera. Pekerja dapat menyelesaikan tugas mereka dengan lebih cepat dan dengan lebih sedikit gangguan. Dengan mencegah cedera dan ketidaknyamanan, pekerja cenderung membutuhkan lebih sedik waktu istirahat atau cuti sakit, dan berkontribusi pada produktivitas yang lebih tinggi.
4. Kesejahteraan Pekerja
Kesehatan Jangka Panjang, Ergonomi fisik yang baik mendukung kesehatan jangka panjang dengan mengurangi risiko penyakit terkait pekerjaan dan masalah kesehatan kronis. Lingkungan kerja yang nyaman dan aman
meningkatkan kepuasan kerja, yang dapat berdampak positif pada moral dan motivasi pekerja.
5. Pengurangan Biaya Kesehatan dan Asuransi
Biaya Medis, Mencegah cedera dan masalah kesehatan terkait pekerjaan dapat mengurangi biaya medis dan asuransi perusahaan, Mengurangi jumlah klaim asuransi terkait cedera kerja, yang dapat mengurangi premi asuransi dan biaya administrasi.
6. Kepatuhan Terhadap Regulasi
Peraturan Keselamatan Kerja, Mematuhi standar ergonomi dapat membantu perusahaan memenuhi peraturan keselamatan kerja dan peraturan pemerintah, menghindari denda atau sanksi hukum.
7. Peningkatan Kualitas Hidup
Keseimbangan Kerja-Hidup, Dengan mengurangi cedera dan ketidaknyamanan, pekerja dapat menikmati keseimbangan kerja-hidup yang lebih baik, yang berdampak positif pada kehidupan pribadi dan kesejahteraan keseluruhan.
8. Peningkatan Retensi Karyawan
Kepuasan dan Loyalitas, Lingkungan kerja yang ergonomis dapat meningkatkan kepuasan dan loyalitas karyawan, mengurangi turnover, dan mempertahankan bakat yang berharga.
Secara keseluruhan, ergonomi fisik sangat penting karena menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan pekerja, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi risiko cedera. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ergonomi fisik, perusahaan dapat menciptakan tempat kerja yang lebih aman, nyaman, dan produktif.
2.2.3 Ergonomi Dalam Lingkungan Kerja
Astuti et al,. (2009) Ergonomi memiliki peran penting dalam lingkungan kerja karena berfokus pada kesejahteraan, keselamatan, dan produktivitas manusia. Berikut adalah beberapa alasan mengapa ergonomi sangat penting dalam lingkungan kerja:
1. Mencegah Cedera dan Penyakit Terkait Kerja
Ergonomi membantu mengidentifikasi dan mengurangi risiko cedera muskuloskeletal dan penyakit lainnya yang disebabkan oleh postur yang tidak tepat, gerakan berulang, beban berat, atau lingkungan kerja yang tidak sesuai.
2. Meningkatkan Kesehatan dan Kesejahteraan Pekerja
Desain kerja yang ergonomis meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis pekerja. Hal ini dapat mengurangi kelelahan, stres, dan ketegangan, serta meningkatkan kepuasan kerja dan motivasi.
3. Optimalkan Efisiensi dan Produktivitas
Lingkungan kerja yang dirancang dengan baik dapat meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi waktu istirahat yang diperlukan, dan meningkatkan produktivitas keseluruhan. Pekerja yang nyaman dan tidak terganggu akan bekerja lebih efektif.
4. Menyesuaikan Tugas dengan Kemampuan Manusia
Ergonomi mempertimbangkan kemampuan fisik, mental, dan sensorimotor manusia. Desain yang mempertimbangkan faktor ini akan memastikan bahwa tugas-tugas yang diberikan dapat dilakukan dengan efektif dan aman.
5. Mengurangi Biaya dan Meningkatkan Kualitas Produk
Investasi dalam ergonomi dapat mengurangi biaya terkait cedera kerja, absensi, dan penggantian pekerja. Selain itu, pekerja yang lebih sehat dan lebih produktif dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas produk dan layanan.
6. Meningkatkan Keselamatan Keseluruhan
Desain ergonomis membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dengan mengurangi risiko kecelakaan dan insiden kerja, baik dalam industri manufaktur maupun sektor layanan.
7. Kepatuhan Regulasi dan Standar Keselamatan
Prinsip ergonomi membantu perusahaan mematuhi standar keselamatan dan peraturan yang berlaku, seperti OSHA (Occupational Safety and Health Administration) di Amerika Serikat atau standar ISO internasional.
2.3 Analisis Postur Kerja
Penerapan ergonomis salah satunya adalah dengan memilik postur kerja yang ideal, yaitu postur kerja yang nyaman bagi pekerja dan tidak menganggu kesehatan baik ketika berdiria maupun duduk. Berberapa jenis pekerjaan memiliki postur kerja yang tidak alami dan diakukan secara rutin. Hal ini menyebabkan ketidak nyamanan dalam bekerja bahkan dapat membuat otot terasa sakit. (Arifin et al., 2022)
Menurut Susihono, (2012) Pertimbangan ergonomi yang berkaitan dengan postur kerja dapat membantu mendapatkan postur kerja yang nyaman bagi pekerja, baik itu postur kerja berdiri maupun duduk. dengan pertimbangan ergonomi adalah dasar dari penentuan postur kerja
2.3.1 Definisi Analisis Postur Kerja
Analisis postur kerja adalah proses evaluasi sistematis untuk menilai posisi tubuh pekerja saat melakukan tugas tertentu. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi potensi risiko cedera muskuloskeletal (MSD) yang dapat timbul akibat posisi tubuh yang tidak ergonomis atau gerakan yang berulang.
Analisis ini menggunakan metode-metode tertentu untuk mengukur, memantau, dan mengoptimalkan posisi tubuh agar sesuai dengan prinsip- prinsip ergonomi, (Tarwaka, 2004).
Menurut Tarwaka, (2004) Saat bekerja, posisi tubuh sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan, karena pengaruh setiap posisi kerja dapat berbeda pada setiap tubuh. Postur kerja yang baik, sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan sangat penting karena berpengaruh terhadap nyeri musculoskeletal pada pekerja. (Tamala, 2020)
Dengan demikian, analisis postur kerja tidak hanya bertujuan untuk melindungi kesehatan pekerja, tetapi juga untuk meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan dengan menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.
2.3.2 Tujuan Analisis Postur Kerja
Tujuan utama dari analisis postur kerja adalah untuk meningkatkan kesehatan, kenyamanan, keselamatan, dan produktivitas pekerja di lingkungan kerja, (Nova et al,. 2022). Tujuan dari analisis postur kerja meliputi:
1. Mengidentifikasi Risiko Ergonomis
Analisis postur kerja dilakukan untuk mengidentifikasi posisi tubuh pekerja yang tidak ergonomis atau gerakan yang berpotensi menyebabkan cedera muskuloskeletal (MSD). Ini termasuk posisi tubuh yang tidak alami, beban fisik yang berlebihan, atau gerakan yang berulang.
2. Mengukur Beban Fisik
Dengan menggunakan teknik pengukuran dan evaluasi seperti analisis biomekanik, analisis postur kerja membantu dalam mengukur beban fisik yang diterima oleh tubuh pekerja selama menjalankan tugas-tugas kerja tertentu. Hal ini penting untuk memahami dampak fisik dari pekerjaan terhadap kesehatan dan kesejahteraan pekerja.
3. Mengurangi Risiko Cedera
Dengan mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor risiko ergonomis, analisis postur kerja dapat memberikan dasar untuk merancang tugas, peralatan, dan lingkungan kerja yang lebih aman dan ergonomis. Ini membantu mengurangi risiko cedera dan penyakit terkait kerja, seperti nyeri punggung, carpal tunnel syndrome, atau gangguan MSD lainnya.
4. Meningkatkan Efisiensi dan Produktivitas
Dengan memastikan bahwa posisi tubuh pekerja yang optimal telah diidentifikasi dan diperbaiki, analisis postur kerja membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Pekerja yang bekerja dalam lingkungan yang ergonomis cenderung lebih efisien dalam melakukan tugas mereka.
5. Mendukung Desain Ergonomis
Hasil dari analisis postur kerja dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang atau menyesuaikan tempat kerja, peralatan, dan alat bantu kerja lainnya agar sesuai dengan prinsip-prinsip ergonomi. Hal ini mencakup
pengaturan ulang tugas kerja, desain peralatan yang ergonomis, dan implementasi prosedur kerja yang lebih aman.
6. Meningkatkan Kualitas Hidup Kerja
Dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman dan aman, analisis postur kerja berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup kerja pekerja. Ini mencakup meningkatkan kenyamanan, mengurangi stres fisik, dan meningkatkan kepuasan kerja secara keseluruhan.
Dengan demikian, analisis postur kerja tidak hanya mengidentifikasi masalah ergonomis, tetapi juga memberikan landasan untuk perbaikan yang dapat menghasilkan lingkungan kerja yang lebih sehat, lebih aman, dan lebih produktif bagi semua pekerja.
2.4 Muskuloskeletal Disorders (MSDS)
Muskuloskeletal Disorders (MSDS) mencakup berbagai kondisi yang mempengaruhi sistem otot, tulang, tendon, ligamen, dan saraf. Gangguan ini dapat timbul dari berbagai faktor, seperti posisi tubuh yang tidak ergonomis, gerakan berulang, beban fisik yang berlebihan, atau lingkungan kerja yang tidak sesuai.
Keluhan gangguan muskuloskeletal Disorders (MSD) muncul akibat penggunaan berlebihan atau bekerja dalam kondisi yang buruk. Gangguan muskuloskeletal (MSD) dirasakan pada otot rangka. Sikap dan postur kerja yang tidak nyaman dapat mempengaruhi sistem muskuloskeletal, (Tamala, 2020). Contoh gangguan muskuloskeletal termasuk:
1. Nyeri Punggung Bawah, Biasanya terkait dengan posisi duduk yang tidak ergonomis, angkat beban yang salah, atau aktivitas fisik yang berlebihan.
2. Carpal Tunnel Syndrome, Kondisi yang menyebabkan rasa sakit, mati rasa, dan kesemutan di tangan dan jari karena tekanan pada saraf di pergelangan tangan.
3. Tendinitis, Peradangan pada tendon yang dapat disebabkan oleh gerakan berulang atau beban berlebihan pada sendi tertentu.
4. Epikondilitis Lateral (Tennis Elbow) dan Medial (Golfer's Elbow), Peradangan pada tendon di siku, yang sering kali terjadi karena gerakan repetitif atau penggunaan yang berlebihan pada otot lengan.
5. Gangguan pada Bahu, Seperti bursitis atau tendinitis bahu yang dapat disebabkan oleh pengulangan gerakan yang tidak tepat atau beban yang berlebihan.
MSDS dapat mempengaruhi kualitas hidup, produktivitas kerja, dan kesejahteraan pekerja secara keseluruhan jika tidak ditangani dengan baik.
Oleh karena itu, pencegahan dan manajemen MSDS melalui prinsip-prinsip ergonomi dan perhatian terhadap lingkungan kerja yang aman sangatlah penting.
2.5 Metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS)
OWAS adalah salah satu metode analisis postur kerja yang digunakan untuk mengevaluasi posisi tubuh pekerja saat melaksanakan tugas-tugas tertentu. Metode ini dikembangkan oleh Ovako Steel AB, sebuah perusahaan industri logam di Finlandia, pada tahun 1970-an, (Astuti et al,. 2009)
Ovako Work Posture Analysis System atau sering di sebut dengan istilah OWAS merupakan metode untuk menganalisa tingkat kenyamanan postur kerja pada pekerja. Ataupun mengevaluasi postur kerja. Teknik OWAS dikembangkan oleh sebuah perusahaan dari Ovako dari finlandia. Menurut (Astuti et al,. 2009) Metode OWAS mengidentifkasi empat bagian tubuh pada postur pekerja yaitu bagian punggung, lengan atas, bagian kaki, dan kategori berat badan.
2.5.1 Karakteristik Metode OWAS
OWAS memiliki beberapa karakteristik utama yang membuatnya unik dalam konteks analisis postur kerja. Berikut adalah beberapa karakteristik penting dari metode OWAS:
1. Metode Observasional, OWAS menggunakan pendekatan pengamatan langsung untuk mengidentifikasi dan mencatat posisi tubuh pekerja saat melakukan tugas-tugas kerja. Observasi dilakukan oleh pengamat yang terlatih untuk mengamati dan mencatat posisi tubuh dalam waktu yang telah ditentukan.
2. Penilaian Berbasis Kategori, Hasil observasi diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori tertentu berdasarkan posisi tubuh yang diamati. Kategori ini
mencakup posisi kerja atas (upper arm), posisi kerja bawah (lower arm), posisi punggung (trunk), dan posisi kaki (leg).
3. Penilaian Risiko Ergonomis, Setelah pengamatan selesai, hasilnya dievaluasi untuk menentukan tingkat risiko ergonomis berdasarkan kombinasi posisi tubuh yang teramati. Metode ini membantu mengidentifikasi posisi tubuh yang mungkin menyebabkan ketidaknyamanan atau risiko cedera muskuloskeletal.
4. Rekomendasi Perbaikan, Berdasarkan hasil evaluasi, metode OWAS dapat memberikan rekomendasi perbaikan ergonomis untuk mengurangi atau menghilangkan posisi tubuh yang tidak aman atau tidak ergonomis. Ini bisa termasuk perubahan desain tempat kerja, penyesuaian peralatan, atau modifikasi proses kerja.
2.5.2 Tujuan Penggunaan Metode OWAS:
Bintang et al,. (2017) Tujuan penggunaan Metode OWAS dalam konteks ergonomi dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
1. Pencegahan Cedera Muskuloskeletal, Salah satu tujuan utama OWAS adalah untuk mencegah cedera muskuloskeletal dengan mengidentifikasi dan mengurangi risiko ergonomis yang terkait dengan posisi tubuh yang tidak tepat saat bekerja.
2. Perbaikan Desain Tempat Kerja, Dengan menghasilkan data observasional tentang posisi tubuh, OWAS membantu dalam merancang ulang atau menyesuaikan desain tempat kerja agar lebih ergonomis dan aman bagi pekerja.
3. Evaluasi Rutin Kondisi Kerja, Metode ini dapat digunakan secara rutin untuk mengevaluasi kondisi kerja di berbagai industri dan sektor untuk memastikan bahwa lingkungan kerja mendukung kesehatan dan kesejahteraan pekerja.
Tujuan utama penggunaan Metode OWAS adalah untuk meningkatkan kondisi kerja dengan mengurangi risiko cedera muskuloskeletal melalui evaluasi posisi tubuh pekerja dan implementasi perbaikan ergonomis yang tepat.
2.5.3 Cara Kerja Metode Owas
Metode OWAS menghasilkan penilaian berupa kategori aksi berdasarkan kombinasi dari posisi tubuh yang diamati selama pengamatan terhadap pekerja.
Kategori aksi ini mencerminkan tingkat keparahan dan risiko ergonomis dari posisi tubuh yang teridentifikasi. (Novianto, 2017) Terdapat 4 kategori aksi dalam Metode OWAS Penilain yang terbaik adalah kategori 1 yang menandakan bahwa posisi kerja dalam keadaan ergonomis sedangkan pada kategoria 2,3 dan 4 merupakan indikator sikap kerja yang tidak ergonomis.
Berikut adalah kategori aksi dalam metode OWAS:
1. Kategori Aksi 1, Termasuk posisi tubuh yang aman. Pekerja dapat melanjutkan tugas mereka tanpa perlu modifikasi.
2. Kategori Aksi 2, Posisi tubuh yang tidak ergonomis, tetapi tidak memerlukan tindakan segera. Rekomendasi perbaikan bisa dilakukan secara bertahap.
3. Kategori Aksi 3, Posisi tubuh yang tidak ergonomis dan memerlukan perbaikan segera. Tindakan korektif harus dilakukan untuk mengurangi risiko cedera atau ketidaknyamanan.
4. Kategori Aksi 4, Posisi tubuh yang sangat tidak ergonomis dan memerlukan perbaikan segera dan mendesak. Tindakan korektif harus dilakukan segera untuk mengurangi risiko cedera serius.
Sebagai contoh, jika seorang pekerja diobservasi dengan punggung ditekuk (kode 2), kedua lengan di bawah bahu (kode 1), berdiri dengan kedua kaki menahan berat badan secara merata (kode 2), dan mengangkat beban sedang (kode 2), maka kode postur yang dihasilkan adalah 2122. Menggunakan tabel penilaian OWAS, kita dapat menentukan tingkat risiko dan tindakan perbaikan yang diperlukan berdasarkan kode ini. Skematik analisis metode OWAS dapat dilihat pada tabel 2.2
Tabel 2.2 Skematik analisis metode OWAS Anggota
Tubuh Skor OWAS Penjelasan Postur Tubuh
Punggung
1 Lurus
2 Membungkuk
3 Memuntir
4 Membungkuk dan Memuntir
Kaki 1 Duduk
2 Berdiri dengan kedua kaki lurus 3 Berdiri dengan salah satu kaki
lurus yang lainnya menekuk 4 Berdiri dengan kadua lutut agak
menekuk < 150°
5 Berdiri dengan kadua lutut agak menekuk >150°
6 Berlutut
7 Berjalan
Lengan
1 Kedua lengan berada di bawah ketinggian bahu
2 Salah satu lengan berada di atas ketinggian bahu
3 Kedua lengan berada di atas ketinggian bahu
Beban/Force
1 Berat beban < 10 kg
2 Berat beban > 10 kg s/d 20 kg
3 Berat beban > 20 kg
Penilaian ini membantu dalam menentukan prioritas perbaikan ergonomis dan memastikan bahwa kondisi kerja yang tidak aman atau tidak ergonomis diidentifikasi dan diatasi dengan tepat waktu. Metode OWAS memberikan kerangka kerja yang sistematis dan terstruktur untuk mengelola risiko ergonomis di lingkungan kerja.
2.6 Metode Quick Exposure Check (QEC)
QEC adalah metode penilaian risiko ergonomi yang dikembangkan untuk menilai potensi risiko cedera muskuloskeletal dalam pekerjaan. Metode ini dirancang untuk memberikan penilaian cepat terhadap postur, kekuatan, frekuensi, dan durasi aktivitas fisik yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem muskuloskeletal pekerja (David et al., 2008).
QEC adalah metode penilaian risiko ergonomi yang dirancang untuk mengevaluasi potensi risiko cedera muskuloskeletal pada pekerja. Metode ini dikembangkan oleh Li dan Buckle pada tahun 1998 dan telah digunakan secara luas dalam berbagai industri untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko ergonomi.
QEC digunakan praktisi kesehatan dan keselamatan untuk melakukan penilaian serta perubahan paparan pekerjaan untuk faktor risiko keluhan otot skeletal. QEC dapat mengidentifikasi tingkat keluhan punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan dan leher dengan cepat (David et al., 2008)
Metode QEC memiliki tujuan utama untuk mendukung identifikasi dan mitigasi risiko ergonomi di tempat kerja. Dengan memberikan alat yang cepat dan efisien untuk penilaian risiko, QEC membantu perusahaan dalam mengembangkan lingkungan kerja yang lebih sehat dan aman bagi pekerja, serta mengurangi biaya terkait dengan gangguan muskuloskeletal.
QEC membantu untuk mencegah terjadinya MSDs seperti gerak repetitive, gaya tekan, postur yang salah dan durasi kerja. Penilaian nilai Exposure Level pada metode QECmenggunakan rumus sebagai berikut.
E (%) = x
xmax×100 % (2.1)
Keterangan Rumus:
X = total skor yang didapat untuk paparan risiko cedera untuk punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, dan leher yang diperoleh dari perhitungan kuesioner.
Xmax = total maksimum skor untuk paparan yang mungkin terjadi untuk punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, dan leher.
2.6.1 Cara Kerja Metode QEC
David et al., (2008) QEC adalah sebuah metode yang digunakan untuk menilai risiko cedera muskuloskeletal (MSDs) pada pekerjaan yang berhubungan dengan postur tubuh. Berikut adalah cara kerja metode QEC:
1. Pengumpulan Data
Data yang diperlukan untuk metode QEC meliputi data proses produksi dan data kuesioner QEC. Data proses produksi digunakan untuk menunjang analisis terhadap masalah yang terjadi, sedangkan data kuesioner QEC digunakan untuk menganalisis beban postur tubuh yang dirasakan oleh pekerja.
2. Kuesioner QEC
Kuesioner ini ditujukan untuk pihak peneliti/observer dan mengukur beban postur tubuh operator ketika melakukan pekerjaannya. Kuesioner ini menilai postur tubuh, gaya, dan gerakan yang dilakukan oleh operator.
Kuesioner Operator: Kuesioner ini ditujukan untuk operator/worker dan lebih menitikberatkan pada beban yang dirasakan oleh operator saat melakukan pekerjaannya, seperti beban yang harus diangkat dan durasi kerja.
3. Penilaian Risiko
Metode QEC menggunakan kuesioner untuk menilai risiko cedera muskuloskeletal pada pekerjaan yang berhubungan dengan postur tubuh.
Kuesioner ini mengukur beban postur tubuh yang dirasakan oleh pekerja dan memberikan skor risiko cedera.
Skor Risiko: Skor risiko cedera diberikan berdasarkan kombinasi antara postur tubuh, gaya, gerakan, dan durasi kerja. Skor ini digunakan untuk menentukan tingkat risiko cedera yang dialami oleh pekerja.
4. Analisis Hasil
Hasil dari kuesioner QEC diolah untuk menentukan tingkat risiko cedera yang dialami oleh pekerja. Tingkat risiko cedera ini digunakan untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut.
Tingkat Risiko: Tingkat risiko cedera dikelompokkan menjadi beberapa kategori, seperti "aman", "perlu penelitian lebih lanjut", "perlu penelitian lebih lanjut dan dilakukan perubahan", dan "dilakukan penelitian dan perubahan secepatnya".
5. Implementasi Perbaikan
Berdasarkan hasil penilaian risiko cedera, tindakan perbaikan diambil untuk mengurangi risiko cedera. Tindakan ini dapat berupa perubahan pada
stasiun kerja, peningkatan kualitas alat kerja, atau pelatihan ergonomi untuk pekerja
2.6.2 Tahap-Tahap Metode QEC
Menurut Brown et al,. (2003), Exposure score dihitung berdasarkan bagian tubuh dengan mempertimbangkan ± 5 kombinasi atau interaksi, contohnya postur dengan gaya atau beban, pergerakan dengan gaya atau beban, durasi dengan gaya atau beban, postur dengan durasi serta pergerakan dengan durasi. (McCabe, 2003). Sedangkan untuk tahap-tahap penilaian dengan menggunakan metode QEC yaitu sebagai berikut.
1. Pengembangan Metode untuk merekam postur seseorang saat bekerja, dibagi menjadi segmen-segmen untuk menghasilkan metode kerja yang cepat untuk digunakan. Dari sudut pandang pengamat, grup ini disebut sebagai grup A, B, C, D, E, F, dan G. Namun, dari perspektif operator, dibentuk kelompok H, I, J, K, L, M, dan N. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa penilaian mencakup seluruh postur tubuh, termasuk segala batasan atau kejanggalan postur terkait punggung atau leher yang dapat memengaruhi postur anggota tubuh atas.
2. Membangun sistem skor untuk mengkategorikan bagian tubuh berdasarkan hasil penilaian dari grup A hingga grup G, yang mencakup punggung, bahu, lengan, tangan, dan pergelangan tangan, serta skor untuk masing-masing postur. Selanjutnya, skor tersebut dimasukkan ke dalam tabel skor penilaian, juga dikenal sebagai skor paparan, untuk menghasilkan skor total. Tabel berikut menunjukkan penilaian skor metode QEC. Contoh pengisian Quick Exposure Checklist dapat dilihat pada gambar 2.1
Gambar 2.1 Contoh Quick Exposure Checklist
Kemudan untuk membantu dalam mengkategorikan skor hasil QEC dan memberikan penanganan yang sesuai untuk setiap kategori risiko, diperlukan skor dan penanganan hasil QEC. Dengan demikian, perusahaan dapat mengambil tindakan yang tepat untuk meningkatkan kondisi kerja dan mengurangi risiko cedera bagi pekerja. Skor dan penanganan hasil QEC dapat di lihat pada table 2.3
Tabel 2.3 Skor dan Penanganan Hasil Quick Exposure Checklist (QEC)
Jumlah Skor Action Level Penanganan
< 70 Action Level
1 Nilai tersebut dapat diterima 70 – 88 Action Level
2 Investigasi lebih lanjut 89 – 123 Action Level
3
Investigasi lebih lanjut dan dilakukan penanganan dalam waktu dekat
˂ 123 Action Level 4
Investigasi lebih lanjut dan dilakukan penanganan secepatnya
2.7 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas merupakan dua aspek penting dalam evaluasi instrumen penelitian, baik itu kuesioner, tes, atau metode observasi lainnya.
Kedua konsep ini memastikan bahwa instrumen penelitian mengukur apa yang seharusnya diukur (validitas) dan melakukannya dengan konsisten (reliabilitas). (Matondang, 2009)
2.7.1 Validitas
Validitas merujuk pada sejauh mana instrumen penelitian mengukur apa yang seharusnya diukur. Menurut Azwar (1986), validitas adalah ukuran yang menunjukkan bahwa variabel yang diukur memang benar-benar variabel yang hendak diteliti oleh peneliti. (Widodo, 2006)
1. Definisi validitas
Uji Validitas adalah proses untuk menentukan sejauh mana suatu instrumen atau alat ukur dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas mengacu pada ketepatan dan kecermatan dari hasil pengukuran, serta kemampuan instrumen untuk menggambarkan atau mewakili konsep yang diteliti secara akurat. (Janna & Herianto, 2021)
2. Pentingnya uji validitas
Uji validitas sangat penting dalam penelitian karena:
a) Menjamin Ketepatan Pengukuran, Memastikan bahwa instrumen mengukur konsep yang dimaksud secara akurat.
b) Meningkatkan Kepercayaan Hasil, Hasil yang valid meningkatkan kepercayaan terhadap temuan penelitian.
c) Mengurangi Kesalahan Pengukuran, Meminimalkan kesalahan yang mungkin terjadi akibat instrumen yang tidak tepat.
d) Dasar untuk Keputusan, Memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan berdasarkan hasil penelitian.
e)
2.7.2 Reliabilitas
Reliabilitas mengacu pada konsistensi hasil pengukuran ketika instrumen yang sama digunakan dalam kondisi yang sama. Menurut Sumadi Suryabrata (2004), reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. (Widodo, 2006)
1. Definisi uji reliabilitas
Reliabilitas adalah ukuran yang menunjukkan sejauh mana suatu instrumen pengukuran dapat memberikan hasil yang konsisten dan dapat diandalkan. Dalam konteks penelitian, reliabilitas penting untuk memastikan bahwa hasil pengukuran dapat dipercaya dan tidak dipengaruhi oleh faktor- faktor eksternal yang tidak diinginkan (Janna & Herianto, 2021).
Menurut Retnawati, (2017) reliabilitas merupakan derajat keajegan (consistency) di antara dua skor hasil pengukuran pada objek yang sama, meskipun menggunakan alat pengukur yang berbeda. Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya dan konsisten, yang berarti bahwa jika instrumen yang sama digunakan dalam kondisi yang sama, hasil yang diperoleh akan serupa.
2. Pentingnya Reliabilitas
Reliabilitas sangat penting dalam penelitian karena:
1) Menjamin Konsistensi Pengukuran, Menunjukkan bahwa instrumen dapat menghasilkan hasil yang konsisten dari waktu ke waktu.
2) Meningkatkan Kepercayaan Terhadap Hasil, Hasil yang reliabel meningkatkan kepercayaan terhadap temuan penelitian.
3) Dasar untuk Validitas, Reliabilitas adalah prasyarat untuk validitas. Instrumen yang tidak reliabel tidak dapat memberikan hasil yang valid.
Reliabilitas sangat penting dalam penelitian karena instrumen yang tidak reliabel dapat menghasilkan data yang menyesatkan, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kesimpulan penelitian. Oleh karena itu, peneliti harus melakukan uji reliabilitas untuk memastikan bahwa instrumen yang digunakan dapat diandalkan sebelum melakukan analisis data.
Dengan menerapkan teknik validitas dan reliabilitas pada metode OWAS dan QEC, peneliti dapat memastikan bahwa penilaian ergonomi yang dilakukan akurat, konsisten, dan dapat diandalkan untuk mengidentifikasi dan mengurangi risiko musculoskeletal di tempat kerja
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek penelitian
Objek penelitian utama adalah pekerja gudang yang bertugas di PT. SSI, Pekerja ini dipilih karena mereka sering melakukan aktivitas fisik yang melibatkan pengangkatan, pemindahan, dan penataan barang. Aktivitas ini dapat menimbulkan risiko ergonomis yang besar terhadap kesehatan mereka.
3.2 Subjek penelitian
Subjek penelitian adalah individu atau kelompok yang menjadi fokus utama dalam studi ini. Dalam penelitian ini, subjek penelitian adalah pekerja gudang yang terlibat dalam aktivitas pengangkatan dan pemindahan barang di PT. SSI dengan kriteria yaitu:
1. Pekerja yang melakukan aktivitas pengangkatan barang lebih dari 5 kali sehari.
2. Pekerja yang bekerja minimal 6 bulan di gudang tersebut.
3. Pekerja yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan memberikan informasi yang diperlukan.
3.3 Pendekatan kuantitatif
Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menganalisis postur kerja pekerja gudang secara objektif menggunakan metode OWAS dan QEC. Pendekatan ini menghasilkan data numerik yang dapat dianalisis secara statistik untuk menentukan tingkat risiko ergonomis.
3.3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif.
Desain ini dipilih untuk menggambarkan kondisi postur kerja pekerja gudang dan mengukur tingkat risiko ergonomis yang mereka hadapi.
3.4 Alat dan bahan
Dalam penelitian di lapangan memerlukan peralatan untuk mendukung penelitian ini. Adapun peralatan dan bahan yang digunakan sebagai berikut :
3.4.1 Alat Penelitian 1. Handphone
Merekam aktivitas kerja pekerja gudang untuk analisis postur dan mengambil gambar statis dari postur kerja tertentu untuk analisis lebih lanjut.
2. Laptop
Mengolah dan menganalisis data video dan foto yang telah direkam.
3. Software Analisis Postur
Menggunakan software ErgoFellow dan ErgoPlus yang mendukung metode OWAS dan QEC. Untuk membantu dalam pengkategorian dan analisis postur berdasarkan rekaman video dan foto, kelebihan software tersebut yaitu Memudahkan pengguna untuk memahami dan mengaplikasikan metode OWAS dan QEC, Menyediakan alat visualisasi yang kuat untuk menganalisis postur kerja, Grafik dan diagram yang memudahkan interpretasi data dan identifikasi postur atau aktivitas yang berisiko.
4. Formulir Observasi
Mencatat hasil pengamatan secara manual selama proses penelitian, berisi kolom untuk mencatat berbagai aspek postur kerja sesuai dengan metode OWAS dan QEC.
3.4.2 Bahan Penelitian 1. Dokumen dan Literatur
Referensi untuk memahami dan menerapkan metode OWAS dan QEC, seperti buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan analisis postur kerja dan ergonomi.
2. Kertas dan Alat Tulis
Mencatat pengamatan dan data lapangan selama penelitian menggunakan buku catatan, pensil, pulpen, dan tipeX.
3. Instrumen OWAS dan QEC
Formulir atau perangkat lunak yang digunakan untuk mengkategorikan dan menganalisis postur kerja berdasarkan standar OWAS dan QEC, untuk
membantu dalam pengumpulan dan pengolahan data postur kerja pekerja gudang.
3.5 Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dalam ini dilakukan melalui observasi langsung dan pencatatan sistematis menggunakan metode OWAS dan QEC. langkah-langkah dan alat yang digunakan dalam teknik pengumpulan data adalah:
1. Observasi Langsung
Observasi langsung dilakukan untuk mengamati postur kerja pada pekerja gudang selama aktivitas kerja mereka. Observasi ini melibatkan penggunaan alat perekaman dan formulir observasi untuk mencatat data yang diperlukan.
2. Prosedur Pengumpulan Data
1) Perekaman Aktivitas Kerja dilakukan untuk metode OWAS
Menyiapkan kamera video di lokasi yang memungkinkan perekaman aktivitas kerja tanpa mengganggu pekerja, merekam aktivitas kerja pekerja gudang selama jam kerja, perekaman dilakukan dalam beberapa sesi untuk memastikan data yang diperoleh.
2) Pengamatan dan Pengambilan Foto
Melakukan pengamatan langsung dan mencatat postur kerja secara manual pada formulir OWAS. Kemudian mengambil foto pada momen tertentu yang dianggap kritis untuk dokumentasi lebih lanjut.
3) Pengisian Formulir OWAS
Setiap postur kerja yang terekam dikategorikan sesuai dengan klasifikasi OWAS (misalnya, posisi punggung, lengan, kaki, dan beban yang diangkat), data yang dikategorikan dicatat dalam formulir observasi OWAS, mencakup jenis postur, frekuensi, dan durasi.
4) Pengisian Formulir QEC
Menggunakan formulir QEC untuk menilai faktor risiko ergonomis yang mencakup, frekuensi gerakan, durasi aktivitas, beban yang diangkat atau didorong, Posisi tubuh yang digunakan. Data yang dikumpulkan dari penilaian QEC dicatat dalam formulir yang sesuai.
3. Analisis Data Awal
Memeriksa kembali data yang telah dicatat untuk memastikan keakuratannya, memindahkan data dari formulir observasi ke dalam software analisis statistik untuk memudahkan analisis lebih lanjut.
4. Teknik Validitas dan Reliabilitas 1) Validitas
Memastikan bahwa formulir observasi OWAS dan QEC yang digunakan telah divalidasi untuk keakuratan pengukuran postur kerja dan risiko ergonomis. Langkah-langkah uji validitas:
a) Validitas Isi (Content Validity), Identifikasi semua aspek dan variabel penting yang harus diukur oleh metode OWAS dan QEC.
b) Validitas Konstruksi (Construct Validity), Kumpulkan data menggunakan metode OWAS dan QEC dari berbagai situasi kerja, lakukan analisis faktor untuk metode OWAS dan QEC untuk memastikan bahwa item-item tersebut mencerminkan konstruksi teoretis yang diukur, uji hipotesis yang terkait dengan teori ergonomi menggunakan data hasil metode OWAS dan QEC.
c) Validitas Kriteria (Criterion Validity), bandingkan hasil penilaian OWAS dan QEC dengan metode penilaian ergonomi lain yang sudah terverifikasi, korelasikan hasil OWAS dan QEC dengan data kesehatan karyawan atau survei risiko ergonomi lainnya.
d) Validitas Eksternal, Mengukur sejauh mana hasil penelitian dapat digunakan untuk tujuan umum yang lebih luas
2) Reliabilitas
Melakukan uji reliabilitas dengan mengulangi observasi pada sebagian sampel untuk memastikan konsistensi data yang diperoleh. Langkah-langkah uji reliablitas adalah:
a) Uji-Retest (Test-Retest Reliability), melakukan penilaian ulang menggunakan metode OWAS dan QEC pada waktu yang berbeda untuk pekerjaan yang sama.
b) Reliabilitas Konsistensi Internal (Internal Consistency Reliability), Gunakan Cronbach's Alpha / koefisien yang digunakan untuk mengukur konsistensi
internal suatu instrumen atau kuesioner untuk mengukur konsistensi internal item dalam metode QEC.
c) Reliabilitas Bentuk Paralel (Parallel-Forms Reliability), Jika ada bentuk alternatif dari penilaian (misalnya, versi digital dan versi kertas), bandingkan hasil dari kedua bentuk tersebut untuk memastikan bahwa mereka memberikan hasil yang konsisten.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melibatkan observasi langsung dengan perekaman video dan pencatatan sistematis menggunakan formulir OWAS dan QEC. Proses ini memungkinkan pengumpulan data yang objektif dan akurat tentang postur kerja pekerja gudang dan tingkat risiko ergonomis yang mereka hadapi. Dengan teknik pengumpulan data yang tepat, hasil penelitian dapat memberikan rekomendasi yang berbasis data untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja di gudang.
3.6 Diagram Alir
Diagram alir pada penelitian ini membantu menggambarkan proses penelitian secara sistematis dari awal hingga akhir. Diagram alir yang menunjukkan langkah-langkah utama dalam penelitian ada pada gambar 3.1
Gambar 3.1 Diagram alir
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, R., Aflizal Zubir, A., Rizqullah, F. A., Alfikri, I., & Nandita, A. (2022).
Analisis Pengukuran Beban Kerja Menggunakan Metode SNQ, OWAS, RULA dan REBA Pada Pabrik Es. Jornal of Industrial Science and Technology/ JIsAT, IV(1), 1–7.
Artha, R. P., Anindita, S. F., & Iskandar, M. I. (2023). Tren Produksi Dan Konsumsi Plastik Di Indonesia. Danareksa Research Institude, 1–29.
Astuti, R. D., & Suhardi, B. (2009). ANALISIS POSTUR KERJA MANUAL MATERIAL HANDLING MENGGUNAKAN METODE OWAS(OVAKO
WORK POSTUR ANALYSIS SYSTEM).
https://www.researchgate.net/publication/277866961_ANALISIS_POSTUR_
KERJA_MANUAL_MATERIAL_HANDLING_MENGGUNAKAN_MET ODE_OWAS_OVAKO_WORK_POSTUR_ANALYSIS_SYSTEM
Bintang, A. N., & Dewi, S. K. (2017). Analisa Postur Kerja Menggunakan Metode OWAS dan RULA. Jurnal Teknik Industri, 18(1), 43–54.
https://doi.org/10.22219/jtiumm.vol18.no1.43-54
David, G., Woods, V., Li, G., & Buckle, P. (2008). The development of the Quick Exposure Check (QEC) for assessing exposure to risk factors for work-related
musculoskeletal disorders. Elsevier Ltd.
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0003687007000257 Fallis, A. . (2013). Pengertian Ergonomi. Journal of Chemical Information and
Modeling, 53(9), 1689–1699.
Fichri, A. (2022). Mengenal Ergonomi, Ilmu Tentang Desain Interaksi Manusia
dengan Pekerjaan. Sukabumi Update.com.
https://www.sukabumiupdate.com/berita/94660/mengenal-ergonomi-ilmu- tentang-desain-interaksi-manusia-dengan-pekerjaan
Hudaningsih, N., Rahman, D., Ahmad Jumari, I., & Fazriansyah. (2021). Analisis Postur Kerja Pada Saat Mengganti Oli Mobil Dengan Menggunakan Metode Rapid Upper Limb Assessment (Rula) Dan Rapid Entire Body Assessment (Reba) Di Bengkel Barokah Mandiri. Jurnal Industri & Teknologi Samawa, 2 (1), 6–10. https://doi.org/10.36761/jitsa.v2i1.1018
Janna, N. M., & Herianto. (2021). KONSEP UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS DENGAN MENGGUNAKAN SPSS. Jurnal Darul Dakwah
Wal-Irsyad (DDI), 18210047, 1–12.
Julianus, H. (2017). Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi. Media Nusa Creative (MNC Publishing). https://books.google.co.id/books?
hl=id&lr=&id=WVFKEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=Dalam+kegiatan +operasi+pabrik,
+perlu+diperhatikan+berbagai+aspek+untuk+menunjang+kegiatan+yang+leb ih+efisien+maupun+lebih+nyaman+dan+aman+untuk+pekerja.
+Analisa+postur+kerja+sanga
Matondang, Z. (2009). VALIDITAS DAN RELIABILITAS SUATU INSTRUMEN PENELITIAN. JURNAL TABULARASA PPS UNIMED, 6(1).
McCabe, P. T. (2003). Contemporary Ergonomics. CRC Press.
https://books.google.co.id/books?
hl=id&lr=&id=SCIxOaZTvgIC&oi=fnd&pg=PA38&dq=R+Brown, +G+Li+Contemporary+Ergonomics,
+2003&ots=zadxtfNHbz&sig=BUDTaYS_onsrtQI4_HRGmp3MlpE&redir_
esc=y#v=onepage&q=R Brown%2C G Li Contemporary Ergonomics%2C 2003&f=false
Nova, T. S., & Hariastuti, N. L. P. (2022). Analysis of Occupational Safety and Health Risk Using the HAZOPS Method and ergonomics Approach (RULA and REBA) at UD. Sekar Surabaya. Jurnal SENOPATI : Sustainability, Ergonomics, Optimization, and Application of Industrial Engineering, 3(2), 63–73. https://doi.org/10.31284/j.senopati.2022.v3i2.2382
Novianto, H. (2017). ANALISIS POSTUR KERJA MENGGUNAKAN METODE OWAS (OVAKO WORKING ANALISIS SYSTEM) UNTUK PERBAIKAN FASILITAS KERJA PADA BAGIAN PACKAGING KOPERASI AGRO NIAGA JABUNG (KAB JABUNG). Occupational Medicine, 53(4), 130.
Retnawati, H. (2017). Reliabilitas Instrumen Penelitian. Jurnal Pendidikan Teknik
Mesin Unnes, 12(1), 129541.
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132255129/pengabdian/8 Reliabilitas3 alhamdulillah.pdf
Rinawati, S. (2016). Analisis Risiko Postur Kerja Pada Pekerja Di Bagian Pemilahan Dan Penimbangan Linen Kotor Rs. X. Journal of Industrial
Hygiene and Occupational Health, 1(1), 39.
https://doi.org/10.21111/jihoh.v1i1.604
Siswanto, Pregiwati, P., & Elly, I. (2020). Analisis Postur Kerja Operator Sablon
Karung Dengan. JUSTI (Jurnal Sistem Dan Teknik Industri, 1(4), 591–608.
Sriyanto, & Adwitya, W. (2004). Analisis Postur Kerja Menggunakan Metode Ovako Work Posture Analysis System (OWAS) (Studi Kasus: PT Sanggar Sarana Baja Transporter). 4(4), 121–129.
Sugiharto, A., Trihastuti, D., & Hartanti, L. (2013). Analisis perbaikan postur dan metode kerja untuk mengurangi kelelahan muskuloskeletal di PT. XYZ Surabaya.
Susihono, W., & Prasetyo, W. (2010). PERBAIKAN POSTUR KERJA UNTUK MENGURANGI KELUHAN MUSKULOSKELETAL DENGAN PENDEKATAN METODE OWAS (Studi kasus di UD. Rizki Ragil Jaya – Kota Cilegon).
Tamala, A. (2020). Pengukuran Keluhan Musculoskeletal Disorders (Msds) Pada Pekerja Pengolah Ikan Menggunakan Nordic Body Map (Nbm) Dan Rapid Upper Limb Assessment (Rula). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Tjahayuningtyas, A. (2019). FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) PADA PEKERJA INFORMAL. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 8(1), 1. https://doi.org/10.20473/ijosh.v8i1.2019.1-10
Widodo, P. B. (2006). Reliabilitas dan Validitas KonstrukSkala Konsep Diri Untuk Mahasiswa Indonesia. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 3(1), 1–9.