• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN INDUSTRI SEMEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2013-2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ANALISIS STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN INDUSTRI SEMEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2013-2015"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

ANALISIS STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN INDUSTRI SEMEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK

INDONESIA PERIODE 2013-2015

Septi Yuliana Risna Wijayanti Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Brawijaya Malang

ABSTRACT

This research aims to analyze the cost of capital company and analyze the optimal capital structure of cement companies listed in the Indonesia Stock Exchange in the period 2013-2015. Method of data analysis in this research is done by doing WACC calculation, then compare it with industry average WACC value and combine it with firm value so that can be analyzed optimal capital structure in the company.

From the result of this research can be known, based on calculation of weighted average cost of capital (WACC), the average WACC value at company in Cement Industry which listed in Indonesia Stock Exchange period 2013-2015 is equal to 10,41%. PT Semen Indonesia Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk and PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk have WACC value is over the industry average WACC value. While PT Holcim Indonesia Tbk has a lower WACC value compared to the industry average WACC value.

Then based on WACC calculation and company value obtained result that PT Holcim Indonesia Tbk has optimum capital structure and PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk not yet optimum. The WACC concept does not apply to PT Semen Indonesia (Persero) Tbk and PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Keywords: capital structure, firm value, cost of capital, optimal capital structure

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya modal perusahaan dan menganalisis struktur modal optimal perusahaan pada indutsri semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015. Metode analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan perhitungan WACC, kemudian membandingkannya dengan nilai WACC rata-rata industri dan menggabungkannya dengan nilai perusahaan sehingga dapat di analisis struktur modal optimal pada perusahaan tersebut.

Dari hasil penelitian ini dapat di ketahui, berdasarkan perhitungan biaya modal rata- rata tertimbang (WACC), nilai WACC rata-rata pada perusahaan di Industri Semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015 yaitu sebesar 10,41%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk memiliki nilai WACC di atas nilai WACC rata-rata industri. Sedangkan PT

(2)

2 Holcim Indonesia Tbk memiliki biaya modal rata-rata tertimbang yang lebih rendah dari nilai WACC rata-rata industri.

Lalu berdasarkan perhitungan WACC dan nilai perusahaan diperoleh hasil bahwa PT Holcim Indonesia Tbk telah memiliki struktur modal optimum dan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk belum optimum. Sementara itu konsep WACC tersebut tidak berlaku pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Kata Kunci : struktur modal, nilai perusahaan, biaya modal, struktur modal yang optimal

PENDAHULUAN

Program pemerintah yang berfokus pada pembangunan infrastruktur memicu potensi peningkatan permintaan semen.

Hal tersebut membuat perusahaan semen melakukan perluasan produksi untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Sehingga, perusahaan membutuhkan modal yang lebih besar guna memenuhi peningkatan permintaan semen tersebut.

Dengan demikian perlu dilakukan analisis struktur modal yang optimal agar dapat memaksimalkan nilai perusahaan dan mengurangi resiko perusahaan.

ASI (Asosiasi Semen Indonesia) memprediksikan konsumsi semen nasional akan menyentuh angka 85-90 juta ton pada tahun 2017. Sementara, pada saat ini kapasitas maksimum produksi perusahaan semen adalah sebanyak 90 juta ton dan kemampuan produksi perusahaan baru mencapai 75-

80 juta ton per tahun. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan semen memerlukan ekspansi apabila ingin menangkap potensi demand yang kemungkinan akan meningkat sampai dengan 10 tahun mendatang.

Ketika melakukan ekspansi bisnis perusahaan perlu didukung dengan manajemen pendanaan yang tepat.

Pendanaan tersebut melingkupi hutang, ekuitas saham biasa dan ekuitas saham preferen. Dengan kata lain perusahaan harus memiliki struktur modal yang optimal agar ekspansi yang dilakukan dapat berlangsung secara tepat dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Menurut Margaretha (2011:115)

“Struktur modal optimal adalah keadaan dimana WACC diminimalkan, karenanya akan memaksimalkan nilai perusahaan”.

Struktur modal yang optimal dapat

(3)

3 diartikan sebagai struktur modal yang

dapat meminimalkan biaya modal rata- rata tertimbang. Biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital - WACC) merupakan rata-rata tertimbang biaya-biaya komponen utang, saham preferen, dan ekuitas biasa (Brigham dan Houston, 2011:7). Oleh karena itu semakin kecil biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost of Capital) maka akan dapat memaksimalkan laba dan akan mempengaruhi tingginya nilai perusahaan.

Akan tetapi, beberapa peneliti telah menemukan bahwa ketika biaya modal menurun, nilai perusahaan mengalami kenaikan, sehingga mereka beragumen bahwa biaya modal minimum dapat memaksimumkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan digunakan sebagai alat pengukur keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan manajemen perusahaan.

Menurut Sartono (2011:228) “Nilai perusahaan dapat diperoleh dengan membagi laba setelah pajak EBIT (1-T) dengan biaya modal rata-rata tertimbang (ko)”. Tujuan manajemen perusahaan

dapat dicapai apabila keputusan perusahaan dalam menetapkan struktur modalnya adalah optimal. Penetapan struktur modal yang optimal akan membawa nilai perusahaan yang baik.

Penelitian-penelitian yang membahas tentang analisis struktur modal optimal menggunakan perhitungan WACC dan nilai perusahaan sudah pernah dilakukan. Selma Adriyani Rahma (2014) melakukan penelitian tentang analisis penetapan struktur modal yang optimal guna meningkatkan nilai perusahaan (studi pada PT. Seemount Garden Sejahtera, Jiwan, Kabupaten Madiun periode 2011-2013) dan Netriyana (2014) yang menganalisis struktur modal optimum pada perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di BEI.

Berdasarkan hasil kedua penelitian terdapat inkosistensi antara hasil penelitian terdahulu tersebut yang menunjukkan bahwa, struktur modal terutama biaya modal tidak selalu berperan penting terhadap besar kecilnya nilai perusahaan. Kondisi ini mendorong peneliti saat ini untuk mengetahui lebih jauh bagaimana struktur modal pada

(4)

4 perusahaan di sektor lainnya, seperti

perusahaan semen yang go public di Indonesia. Selain itu perhitungan biaya modal dan analisis struktur modal yang optimum pada perusahaan yang go public di Indonesia juga masih jarang dilakukan.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya modal perusahaan dan menganalisis struktur modal optimal perusahaan pada indutsri semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

LANDASAN TEORI Modal

Menurut Atmaja (2008:155)

“Modal adalah dana yang digunakan untuk membiayai pengadaan aktiva dan operasi perusahaan. Modal tersebut terdiri dari item-item yang ada di sisi kanan suatu neraca (pasiva), diantaranya adalah: hutang, saham biasa, saham preferen, dan laba ditahan”.

Pengertian Struktur Modal

Raharjaputra (2011:212) berpendapat bahwa “Struktur modal perusahaan merupakan campuran atau

proporsi antara utang jangka panjang dan ekuitas, dalam rangka mendanai investasinya (operating assets)”. Baik atau buruknya penetapan proporsi struktur modal oleh manajemen perusahaan maka akan bedampak pada posisi dan kondisi keuangan perusahaan, karena struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan.

Biaya Modal

Menurut Brealey, Myers, dan Marcus (2007:357) biaya modal di dalam perusahaan yaitu tingkat pengembalian minimum yang bisa diterima ketika perusahaan berekspansi dengan berinvestasi dalam proyek beresiko rata- rata, atau merupakan rata-rata tertimbang pengembalian yang diminta oleh investor utang maupun ekuitas.

Pada dasarnya biaya modal merupakan biaya riil yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperolehdana baik hutang, saham preferen, saham biasa, maupun laba ditahan sebagai tingkat pengembalian yang diminta atas berbagai jenis pendanaan yang digunakan untuk mendanai suatu investasi perusahaan.

(5)

5 Salah satu komponen penting

yang digunakan dalam penilaian investasi, sumber pembelanjaan dan manajemen aset adalah biaya modal (cost of capital).Dalam menganalisis biaya modal terdiri dari (Brigham dan Houston 2011:8):

a. Biaya hutang

Biaya hutang setelah pajak digunakan dalam menghitung biaya modal hal tersebut dilakukan karena nilai dari saham perusahaan yang ingin dimaksimalkan akan bergantung pada arus kas setelah pajak. Karena bunga merupakan biaya yang dapat dikurangkan, bunga akan memberikan pengurangan pajak yang mengurangi biaya hutang bersih. Untuk itu, rumus yang digunakan untuk menghitung biaya hutang adalah :

Rdt= rd (1-T) Keterangan :

Rd: Biaya utang sebelumpajak(%) Rdt: Biaya utang setelahpajak(%) T : Pajak (%)

b. Biaya saham preferen

Komponen biaya saham preferen

yang digunakan untuk

menghitungbiaya modal rata- rata tertimbang adalah dividen saham preferen yang dibagi dengan harga saham preferen saat ini. Rumus yang digunakan untuk menghitung biaya saham preferen adalah :

Rp = Dp Pp Keterangan :

Rp: Biaya sahampreferen Dp: Dividen sahampreferen(Rp) Pp: Harga jual sahampreferen (Rp) c. Biaya saham biasa

Menurut Brigham dan Houston (2011:16) untuk menghitung biaya saham biasa suatu perusahaan dengan cara menggabungkan nilai tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan oleh analis efek (g) dengan imbal hasil deviden yang dibagi harga saham saat ini untuk mencari biaya saham biasa.

Metode yang digunakan untuk menghitung tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan oleh analis efek (g) dengan rumus :

g = (1– tingkat pembayaran) (ROE) Dimana nilai ROE merupakan ekspetasi tingkat pengembalian atas

(6)

6 ekuitas di masa depan. Sementara

tingkat pembayaran diperoleh dari dividen per saham dibagi dengan laba per saham, atau menurut Vanhorne (2008:81) dapat dihitung dengan rumus :

DPR = DPS / EPS

Setelah diperoleh tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan oleh analis efek (g) pada masing- masing tahun maka dilakukan perhitungan biaya saham biasa dengan rumus :

Rs = D1 / Po+ g Keterangan :

Rs: Biaya saham biasa (%)

D1: Dividen perlembar saham biasa (Rp) Po: Harga per lembar saham biasa (Rp) g : Tingkat pertumbuhan (%)

d. Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (WACC)

Proporsi sasaran atas utang, saham preferen, dan saham biasa beserta biaya dari komponen- komponen tersebut selanjutnya akan digunakan untuk menghitung rata-rata tertimbang biaya modal (weighted average cost of capital – WACC)

perusahaan (Brigham dan Houston 2011:7). Adapun rumus WACC adalah sebagai berikut :

WACC = wdrd (1 – T) + wp rp+wc rs Keterangan :

WACC : Biaya modal rata-rata tertimbang

wd : Bobot hutang (%)

wp :bobot saham preferen (%) wc : bobot saham biasa (%) rd : biaya hutang sebelum pajak

(%)

rp : biaya saham preferen (%) rs : biaya saham biasa (%) Struktur Modal yang Optimal

Menurut Margaretha (2011:115)

“Struktur modal yang optimal adalah keadaan dimana WACC diminimalkan, karenanya akan memaksimalkan nilai perusahaan”. Selain itu struktur modal yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya modal rata-rata tertimbang.Rata- rata tertimbang biaya modal (weighted average cost of capital - WACC) merupakan rata-rata tertimbang biaya- biaya komponen utang, saham preferen, dan ekuitas biasa (Brigham dan Houston, 2011:7). Oleh karena itu semakin kecil biaya modal rata-rata tertimbang

(7)

7 (Weighted Average Cost of Capital)

maka akandapat memaksimalkan laba dan akan mempengaruhi tingginya nilai perusahaan.

Nilai Perusahaan

Menurut menurut Margaretha (2011:115), suatu perusahaan pada umumnya dapat dikatakan maksimal jika biaya modalnya minimum, dengan kata lain struktur modal optimal jika WACC diminimalkan sehingga memaksimalkan nilai perusahaan.

Pendekatan yang digunakan untuk mengetahui nilai perusahaan, dengan menggunakan arus kas bebas, dan biaya modal menurut Brigham dan Ehrhardt (2008:12) dapat dirumuskan melalui persamaan berikut:

V = FCF 1 WACC Keterangan:

V = Nilai perusahaan

FCF= Free Cash Flow / Arus Kas Bebas WACC= Biaya modal rata-rata tertimbang

Dimana Free Cash Flow (FCF) pada suatu perusahaan dapat diketahui melalui persamaan berikut:

FCF = EBIT (1-T)-Investasi yang dibutuhkan dalam modal operasi

Analisis Struktur Modal dan Nilai Perusahaan

Menurut Sartono (2011:113)

“Untuk melakukan analisis ini dapat dengan cara membandingkan prestasi satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga diketahui adanya kecenderungan selama periode tertentu”.

METODE

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, dimana peneliti akan mendeskripsikan mengenai penetapan struktur modal yang optimal guna meningkatkan nilai perusahaan melalui analisis laporan keuangan sebagai alat untuk menemukan keterangan tersebut.

Terdapat total 6 perusahaan di sub sektor semen yang menjadi populasi pada penelitian ini. sampel dari penelitian ini berdasarkan metode purposive sampling berjumlah 4 perusahaan yaitu PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Indocement

(8)

8 Tunggal Prakasa Tbk, PT Holcim

Indonesia Tbk dan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk.

Metode analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan perhitungan WACC, kemudian membandingkannya dengan nilai WACC rata-rata industri dan menggabungkannya dengan nilai perusahaan sehingga dapat di analisis struktur modal optimal pada perusahaan semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015.

Perhitungan tersebut dikerjakan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2007. Adapun langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mencari dan mengumpulkan data mentah, yakni laporan keuangan perusahaan Industri Semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode penelitian tahun 2013-2015.

2. Menghitung biaya modal (COC) pada komposisi struktur modal perusahaan, yang terdiri dari biaya hutang, biaya saham biasa dan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC)

3. Menghitung nilai WACC rata-rata industri, lalu menghitung nilai perusahaan.

4. Menganalisis optimalisasi struktur modal perusahaan dengan membandingkan nilai WACC antar perusahaan dengan nilai WACC rata- rata industri, kemudian menggabungkannya dengan nilai perusahaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Biaya Modal

Biaya modal merupakan biaya yang telah dikeluarkan karena perusahaan menggunakan sumber dana yang tergabung dalam struktur modal.

Struktur modal berkaitan dengan struktur pembelanjaan permanen perusahaan yang terdiri atas utang jangka panjang, saham biasa, dan saham preferen. Dalam penelitian ini perhitungan saham preferen tidak dilakukan karena perusahaan di industri semen yang terdaftar di BEI tidak menerbitkan saham preferen.

Biaya Hutang Jangka Panjang

Hasil perhitungan biaya hutang jangka panjang dari ke empat

(9)

9 perusahaan industri semen adalah

sebagai berikut :

Tabel 1. Biaya Hutang Jangka Panjang Perusahaan Industri Semen Periode 2013-2014

Perusahaan

Tahun

Rd (%)

T (%)

Rd(1- T) (%)

SMGR

2013 10.75 20 8.60 2014 11.00 20 8.80 2015 10.75 20 8.60

INTP

2013 7.50 25 5.63 2014 7.75 25 5.81 2015 7.50 25 5.63

SMCB

2013 8.10 25 6.08 2014 6.10 25 4.58 2015 9.50 25 7.13

SMBR

2013 10.50 25 7.88 2014 10.50 25 7.88 2015 10.50 25 7.88 Sumber: Data diolah dari Annual Report Perusahaan Industri Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015

Berdasarkan hasil perhitungan biaya hutang jangka panjang (Rdt) pada tabel 1, dapat ketahui bahwa biaya hutang jangka panjang PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pada tahun 2014 mengalami peningkatan dari tahun 2013, namun menurun kembali di tahun 2015.

Hal ini dikarenakan pada tahun 2014 perusahaan mengalami peningkatan tingkat biaya utang sebelum pajak (Rd) yang disebabkan oleh pinjaman sindikasi bank jangka panjang oleh TLCC. Namun

pada tahun 2015 mengalami penurunan karena Rd turun dan akibat dari penurunan tingkat bunga atas hutang atau biaya pinjaman yang terutama disebabkan oleh adanya porsi hutang jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun tersebut.

Biaya hutang jangka panjang PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2014 mengalami peningkatan dari tahun 2013, namun menurun kembali di tahun 2015. Peningkatan biaya hutang pada tahun 2014 ini dikarenakan perusahaan mengalami peningkatan Rd yang disebabkan oleh adanya peningkatan biaya pinjaman yang digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga gas untuk penyediaan listrik di pabrik semen Cirebon. Namun pada tahun 2015 biaya hutang jangka panjang setelah pajak mengalami penurunan kembali karena Rd yang turun akibat dari pinjaman jangka panjang yang digunakan perusahaan guna merealisasikan pengeluaran barang modal.

Kemudian biaya hutang jangka panjang PT Holcim Indonesia Tbk pada

(10)

10 tahun 2014 mengalami penurunan dari

tahun 2013, namun meningkat kembali di tahun 2015. Pada tahun 2014 perusahaan mengalami penurunan biaya hutang jangka panjang dikarenakan perusahaan mengalami penurunan persentase Rd yang disebabkan oleh adanya penurunan biaya pinjaman yang telah digunakan untuk barang modal proyek ekspansi Tuban-1 dan Tuban-2 yang hampir selesai. Namun pada tahun 2015 biaya hutang jangka panjang setelah pajak mengalami peningkatan kembali yang dikarenakan Rd naik yang disebabkan tingkat bunga atas hutang perusahaan yang naik akibat dari pinjaman untuk dimulainya proyek ekspansi Terminal Semen Lampung.

Sedangkan biaya hutang jangka panjang PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 tidak megalami perubahan atau stabil. Hal tersebut dikarenakan Rd memiliki nilai yang stabil yang disebabkan oleh biaya pinjaman perusahaan yang stabil juga berupa pinjaman bank jangka panjang, pinjaman kepada Pemerintah Republik Indonesia, dan liabilitas sewa pembiayaan.

Pinjaman jangka panjang tersebut digunakan untuk biaya konstruksi bangunan, jalan dan pabrik semen serta pemasangan mesin perusahaan.

Biaya Saham Biasa

Hasil perhitungan biaya saham biasa dari ke empat perusahaan industri semen adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Biaya Saham Biasa Perusahaan Industri Semen di BEI Periode 2013-2015

Peru- Sahaan

Ta- hun

DPS (Rp)

G (%)

Harga Saham (Rp)

Re (%)

SMGR

2013

407.42 13.51

14,150 16.39 2014

375.34 13.37

16,200 15.69 2015

304.91 9.89

11,400 12.57

INTP

2013

900 7.39

20,000 11.89 2014

1,350 1.22

25,000 6.62 2015

415 11.85

22,325 13.71

SMCB

2013

90 2.99

2,275 6.95 2014

34 4.66

2,185 6.22 2015

15 0.81

995 2.32

SMBR

2013

7.93 9.49

330 11.89 2014

8.34 9.06

381 11.25 2015

9.00 9.01

291 12.10 Sumber : Data diolah dari Annual Report Perusahaan Industri Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015

(11)

11 PT Semen Indonesia (Persero)

Tbk memiliki biaya saham biasa yang relatif menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pengembalian perusahaan kepada pemegang saham mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir dan dapat diartikan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk investor akan semakin turun. Pada 2014, biaya saham biasa perusahaan turun yang disebabkan kenaikan harga saham namun menghasilkan laba yang menurun sehingga laba per saham dan dividen per saham juga menurun.

Selanjutnya di tahun 2015 biaya saham biasa perusahaan kembali turun yang disebabkan penurunan tingkat pertumbuhan, pembagian dividen serta harga saham yang turun.

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mengalami fluktuatitf. Pada tahun 2014 biaya saham biasa PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk menurun cukup drastis karena kenaikkan pembagian dividen per lembar saham dan penurunan tingkat pertumbuhan perusahaan. Namun pada tahun 2015, biaya modal saham biasa Indocement kembali meningkat

drastis yang disebabkan naiknya tingkat pertumbuhan perusahaan.

Kemudian PT Holcim Indonesia Tbk memiliki biaya saham biasa yang relatif menurun dan merupakan yang paling sedikit jika dibandingkan dengan ketiga perusahaan lainnya kecuali pada Indocement tahun 2014. Hal tersebut dikarenakan tingkat (Devidend Per Share) DPS yang paling sedikit dan menurun dari tahun 2013-2015, hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pengembalian perusahaan kepada pemegang saham cukup rendah selama tiga tahun terakhir dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk investor rendah.. Pada tahun 2014, biaya saham biasa Holcim turun yang disebabkan pembagian dividen serta harga saham yang turun. Di tahun 2015 biaya saham biasa perusahaan kembali turun cukup drastis yang disebabkan karena penurunan yang drastis pada tingkat pertumbuhan, pembagian dividen serta harga sahamnya.

Sedangkan PT Semen Batu Raja Tbk biaya modal saham biasa dari PT Semen Batu Raja Tbk mengalami sedikit fluktuatitf dari tahun 2013-2015. Pada

(12)

12 tahun 2014 biaya saham biasa Semen

Batu Raja sedikit menurun karena kenaikkan pembagian dividen per lembar saham dan penurunan tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan oleh analis efek dan harga saham. Namun pada tahun 2015, biaya modal saham biasa kembali meningkat yang disebabkan meningkatnya DPS.

Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC)

Berikut ini merupakan hasil perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang perusahaan di industri semen periode 2013-2015:

Tabel 3. Biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) perusahaan industri semen Perusahaan WACC (%)

2013 2014 2015

SMGR 14.40 14.01 11.43

INTP 11.49 6.41 13.2

SMCB 15.49 11.46 10.35

SMBR 11.65 10.99 11.85

Sumber: Data diolah dari Annual Report Perusahaan Industri Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pada tahun 2013 dan 2014 memiliki biaya modal rata-rata tertimbang

(WACC) yang paling besar jika dibandingkan dengan ketiga perusahaan lainnya. Akan tetapi pada tahun 2015 nilai WACCnya lebih rendah jika dibandingkan dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Nilai WACC yang dimiliki PT Semen Indonesia menunjukan tingkat pengembalian yang harus dikeluarkan oleh peusahaan paling besar jika dibandingkan dengan perusahaan lain di Industri yang sama kecuali pada tahun 2015. Jumlah ini didominasi oleh biaya modal saham biasa. Walaupun perusahaan juga memiliki komponen modal biaya hutang jangka panjang yang cukup tinggi jika dibandingkan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk, dan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk.

Secara keseluruhan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) PT Semen Indonesia menurun pada tahun 2013- 2015.

Kemudian biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada tahun 2013 dan 2014 lebih rendah jika dibandingkan dengan PT Semen Indonesia (Persero)

(13)

13 Tbk dan PT Semen Batu Raja (Persero)

Tbk. Sedangkan pada tahun 2015 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki nilai WACC yang paling besar jika dibandingkan dengan 3 perusahaan lainnya. Nilai WACC pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mengalami fluktuatif dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2013, nilai WACC perusahaan sebesar 11,60%. Kemudian pada tahun 2014 turun menjadi 6,59%

dan pada tahun 2015 meningkat cukup drastis menjadi sebesar 13,36%.

Selanjutrnya biaya modal rata- rata tertimbang (WACC) pada PT Holcim Indonesia Tbk periode 2013- 2015 merupakan yang paling rendah jika dibandingkan dengan 3 perusahaan, hal tersebut terjadi karena perusahaan memilki proporsi dan biaya saham biasa yang paling rendah, namun dengan komposisi hutang jangka panjang yang paling tinggi jika dibandingkan dengan ketiga perusahaan lainnya. Nilai WACC yang rendah tersebut menunjukan tingkat pengembalian yang harus dikeluarkan oleh Holcim paling rendah jika dibandingkan dengan tiga perusahaan

lainnya. Nilai WACC pada PT Holcim Indonesia Tbk mengalami penurunan selama periode 2013-2015.

Sedangkan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk pada tahun 2013 dan 2014 memiliki nilai WACC tertinggi kedua setelah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Namun pada tahun 2015 nilai WACC perusahaan menjadi peringkat ke tiga setelah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Nilai WACC pada PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk mengalami fluktuatif dari tahun ke tahun terjadi penurunan di tahun 2014 dan peningkatan di tahun 2015. Komponen modal terbesar pada PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk yaitu berasal dari saham biasa.

Struktur Modal Optimal Berdasarkan Pendekatan WACC

Struktur modal optimal pada perusahaan di industri semen dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut :

(14)

14 Tabel 4. Nilai WACC rata-rata Perusahaan

Industri Semen di BEI Periode 2013-2015

Perusahaan WACC (%)

WACC rata-

rata

2013 2014 2015 (%)

SMGR 15.19 14.70 12.04 13.98 INTP 11.60 6.59 13.36 10.52

SMCB 6.73 5.63 4.09 5.48

SMBR 11.81 11.17 12.01 11.66

Rataan 10.41

Sumber: Data diolah dari Annual Report Perusahaan Industri Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015

Nilai WACC rataan tersebut merupakan indikator untuk mengukur apakah perusahaan pada industri semen yang terdaftar di BEI periode 2013-2015 sudah memiliki struktur modal yang optimal. Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk memiliki nilai WACC masing- masing sebesar 13,98%, 10.52%, dan 11.66% , dimana nilai WACC dari ketiga perusahaan tersebut di atas nilai WACC rata-rata industri, yaitu sebesar 10,41%.

Ini mengindikasikan bahwa perusahaan- perusahaan tersebut memiliki struktur modal dengan biaya modal yang belum proporsional meskipun komposisi

struktur modal pada ketiga perusahaan tersebut di dominasi oleh modal sendiri (saham biasa). Sedangkan pada perusahaan lain, yaitu PT Holcim Indonesia Tbk memiliki biaya modal rata-rata tertimbang yang lebih rendah yaitu sebesar 5.48% dibandingkan nilai WACC rata-rata dari ke empat perusahaan sebesar 10,41%. Ini dikarenakan tingkat pengembalian yang cukup rendah baik terhadap hutang jangka panjang maupun saham biasa.

Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, mengalami peningkatan yang cukup stabil pada setiap tahunnya (2013-2015), yang disebabkan oleh meningkatnya Net Operating Capital (modal operasi bersih) pada perusahaan. Selanjutnya pada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk nilai perusahaannya juga mengalami peningkatan pada setiap tahunnya (2013-2015).

Pada PT Holcim Indonesia Tbk nilai perusahaannya mengalami fluktuatif, dimana pada tahun 2014 perusahaan mengalami penurunan nilai

(15)

15 perusahaan dari Rp 0,35 Triliun di

tahun 2013 menjadi Rp -0,80 Triliun.

Kemudian pada tahun 2015 nilai perusahaan mengalami peningkatan menjadi Rp 0,69.

Selanjutnya pada PT Semen Baturaja (Persero) Tbk nilai perusahaannya mengalami peningkatan pada setiap tahunnya (2013-2015).

Peningkatan nilai perusahaan tersebut disebabkan oleh meningkatnya penjualan akibat pangsa pasar yang semakin menguat sehingga laba perusahaan pun meningkat dan nilai perusahaan pun juga meningkat.

Tabel 5. WACC rataan dan Nilai Perusahaan rataan (dalam Triliun Rupiah) Perusahaan Industri Semen di BEI Periode 2013-2015

Perusa- haan

WACC rata-rata

(%)

Nilai Perusahaan rata-rata

(%)

SMGR 13.98 2.03

INTP 10.52 5.29

SMCB 5.48 0.08

SMBR 11.66 0.07

Rataan 10.41 1.87

Sumber: Data diolah dari Annual Report Perusahaan Industri Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015

Dari tabel perhitungan nilai perusahaan rata-rata diatas dapat dilihat bahwa Konsep struktur modal optimal

tidak berlaku pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Seperti yang diketahui bahwa konsep tersebut mengatakan perusahaan akan memaksimalkan nilai perusahaan, jika perusahaan meminimalkan biaya modalnya (WACC). Namun, dapat dilihat bahwa meskipun PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk memiliki nilai WACC yang tinggi, yaitu 13,98% dan 10,52% dibanding kedua perusahaan lainnya, nilai perusahaan tetap tinggi di atas nilai rata-rata industri.

Hal ini disebabkan perusahaan tersebut merupakan pemimpin pasar dalam industri semen, sehingga aset yang dimiliki perusahaan jauh lebih besar dari kedua perusahaan lainnya dan juga didukung dengan laba setelah pajak dari perusahaan yang tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan lain di industri yang sama. Hal tersebut sesuai dengan teori MM (Modigliani dan Miller) dimana teori ini berpendapat bahwa struktur modal tidak selau dapat memaksimumkan nilai perusahaan

(16)

16 bahkan perusahaan bisa menggunakan

100% hutang.

Sementara itu, PT Holcim Indonesia Tbk dan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk memiliki nilai perusahaan di bawah nilai rata-rata industri dan dibawah kedua nilai perusahaan lainnya yaitu sebesar Rp 0,08 Triliun dan Rp 0,07 Triliun. Namun nilai WACC untuk PT Holcim Indonesia Tbk memang lebih rendah dari rata-rata industri dan ketiga perusahaan lainnya. Sedangkan nilai WACC PT Semen Batu Raja Tbk diatas rata-rata industri dan di bawah nilai WACC PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Dengan demikian sesuai dengan konsep biaya modal rata-rata tertimbang (WACC), PT Holcim Indonesia Tbk dapat dikatakan telah memiliki struktur modal yang optimum karena memiliki nilai WACC yang rendah pada industri semen dengan nilai perusahaan yang lebih tinggi dibandingkan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk, perusahaan dapat menurunkan kembali biaya modalnya dengan harapan dapat menaikkan nilai perusahaan.

Sedangkan pada PT Semen Batu Raja Tbk dapat dikatakan belum

memiliki struktur modal optimum karena memiliki nilai WACC yang cukup besar di atas rata-rata industri, dan memiliki nilai perusahaan yang rendah yang mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut memiliki struktur modal dengan biaya modal yang belum proporsional meskipun komposisi struktur modal perusahaan tersebut di dominasi oleh modal sendiri (saham biasa). Biaya modal merupakan tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor terhadap investasinya, jadi perusahaan tersebut memiliki ekspetasi tingkat pengembalian yang cukup tinggi terutama pada investor atau kreditur yang memberi pinjaman berupa hutang jangka panjang kepada perusahaan. Bagi perusahaan yang belum memiliki struktur modal optimal tersebut, ada baiknya jika manajemen keuangan perusahaan lebih berhati-hati dan cermat dalam menentukan struktur modalnya agar tercapai kombinasi yang optimal antara utang jangka panjang dan ekuitas serta memperhatikan kondisi perekonomian sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan dan mengurangi resiko perusahaan.

(17)

17 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai analisis struktur modal yang optimal pada perusahaan Industri Semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa berdasarkan perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) maka dapat diketahui nilai WACC rata-rata pada perusahaan di Industri Semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2015 yaitu sebesar 10,41%. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dan PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk memiliki nilai WACC di atas nilai WACC rata-rata industri yang mengindikasikan bahwa perusahaan- perusahaan tersebut memiliki ekspetasi tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor terhadap investasinya atau kreditur yang memberi pinjaman berupa hutang kepada perusahaan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan PT Holcim Indonesia Tbk). Sedangkan PT Holcim Indonesia Tbk memiliki biaya modal rata-rata tertimbang yang lebih rendah

dibandingkan nilai WACC rata-rata industri, yang mengindikasikan tingkat pengembalian yang cukup rendah baik terhadap investor maupun kreditur.

Pada perusahaan semen yang terdaftar di BEI yang telah memiliki struktur modal optimal adalah PT Holcim Indonesia Tbk, karena memiliki biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) yang lebih rendah dari nilai WACC rata-rata industri perusahaan semen yang terdaftar di BEI dan memiliki nilai perusahaan yang cukup tinggi. Kemudian untuk PT Semen Batu Raja (Persero) Tbk belum memiliki struktur modal optimal karena memiliki nilai WACC di atas nilai WACC rata-rata industri dan memiliki nilai perusahaan yang rendah.

Sedangkan, pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, konsep struktur modal optimal tidak berlaku karena meskipun perusahaan tersebut memiliki nilai WACC yang cukup besar dan diatas rata-rata industri namun nilai perusahaannya tetap tinggi di atas nilai rata-rata industri.

(18)

18 DAFTAR PUSTAKA

Atmaja, Lukas Setia. 2008. Teori dan Praktek Manajemen Keuangan.

Yogyakarta: Andi

Brealey, Myers, dan Marcus .2007.Dasar-Dasar Manajemen Keuangan Perusahaan.Buku 1.

Diterjemahkan oleh: Yelvi Andri Zaimur. Penerbit Erlangga. dicetakoleh: PT Gelora Aksara Pratama.

Brigham, Eugene F dan Joel F. Houston.

2011. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Buku 2 Edisi 11.

Jakarta: Salemba Empat.

Brigham, Eugene F. dan Michael C.

Ehrhardt. 2008. Financial Management Theory and Practice (Twelfth Edition).

USA: Thomson Learning Inc Margaretha, Farah. 2011. Manajemen

Keuangan untuk Manajer Non keuangan. Jakarta: Erlangga.

Netriyana. 2014. Struktur Modal yang Optimum Pada Perusahaan Telekomunikasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Bogor

Raharjaputra, Hendra S. 2011. Buku Panduan Praktis Manajemen Keuangan dan Akuntansi untuk Eksekutif Perusahaan. Jakarta:

Salemba Empat

Rahma. Selma A. 2014. Analisis Penetapan Struktur Modal yang Optimal Guna Meningkatkan Nilai Perusahaan (Studi Pada PT. Seemount Garden Sejahtera, Jiwan, Kabupaten Madiun Periode 2011-2013.

Universitas Brawijaya Malang, Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Vol. 13 No. 1

Sartono, Agus. 2011. Manajemen Keuangan (Teori dan Aplikasi).

Yogyakarta: BPFE.

Referensi

Dokumen terkait

Walaupun kedua komponen lainnya, yaitu biaya hutang dan biaya saham preferen juga memiliki biaya modal yang memang cukup tinggi bila dibandingkan PT XL Axiata Tbk dan PT

Sehingga didapatkan hasil bahwa variabel profitabilitas, pertumbuhan penjualan, dan likuiditas berpengaruh signifikan terhadap variabel struktur modal, sedangkan variabel

Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh signifikan dengan arah positif terhadap struktur modal, sedangkan struktur aktiva dan

Sementara jika berdasarkan konsep struktur modal yang optimal dimana akan tercapai jika biaya modal rata – rata tertimbang perusahaan minimal dan nilai perusahaan maksimal, dapat

Dari hasil perhitungan biaya modal rata – rata tertimbang pada perumahan Oma Indah Menganti Gresik diperoleh bahwa pada struktur modal optimum dicapai pada saat

Variabel pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh terhadap struktur modal dikarenakan adanya krisis ekonomi global yang terjadi, sehingga hal tersebut baik secara

Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dapat membuktikan hipotesis yang menyatakan “struktur aset berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur

Sementara itu, konsep struktur modal optimum tidak sepenuhnya berlaku pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dikarenakan perusahaan tersebut merupakan pemimpin pasar