Analisis hukum permohonan izin poligami dalam perspektif keadilan gender (kajian terhadap putusan Pengadilan Agama Kabupaten Madiun nomor 1512/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn). Bagaimana analisis hukum pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam permohonan izin poligami pada Putusan Nomor 1512/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn. Untuk melihat analisis hukum pertimbangan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam permohonan izin poligami dalam Putusan Nomor 1512/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn.
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana analisis keadilan gender terhadap pertimbangan hakim Pengadilan Agama Kabupaten Madiun dalam Putusan Nomor 1512/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Telaah Pustaka
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apa saja pertimbangan hakim dalam penerapan izin poligami pasca nikah siri dalam putusan nomor 0110/Pdt.G/2015/PA.Lbt?. 18 Luthfi Ardiansyah, Izin Poligami Setelah Nikah Sirri (Keputusan Studi Nomor 0110/Pdt.G/2015/Pa.Lbt), skripsi (Jakarta, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2021), 52.
Metode Penelitian
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Data dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Data
Sehingga menurut peneliti, hakim melakukan kesalahan dengan memberikan putusan membolehkan poligami dalam perkara Nomor 532/Pdt.G/2019/PA.Prm. Sebab jika dilihat dari permohonan yang diajukan pemohon, sebenarnya permohonan tersebut tidak memenuhi syarat materiil karena pada dasarnya permohonan izin poligami diajukan sebelum poligami dilangsungkan. Perbedaannya terletak pada keputusan akhir hakim, dimana dalam penelitian ini permohonan poligami karena nikah siri disetujui oleh hakim, sedangkan dalam penelitian ini permohonan poligami karena nikah siri tidak diterima oleh hakim.
Rafi’i Ikbar, “Analisis Gender Terhadap Putusan Hakim Tentang Izin Poligami (Studi Kasus di Pengadilan Agama Sleman Tahun 2017)” Skripsi, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2018), 35. Bahan hukum utama dalam penelitian ini adalah untuk mendukung data bahan hukum, 25 yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan PERMA Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengajuan Perkara Perempuan yang Bertentangan dengan Hukum. Bahan hukum sekunder berupa data-data terkait lainnya yang dapat memberikan pedoman dan penjelasan terhadap bahan hukum primer26, berupa seluruh publikasi yang berkaitan dengan topik penelitian, antara lain buku teks, jurnal ilmiah, dan analisis putusan pengadilan.
Editing yaitu pemeriksaan kembali terhadap data yang diperoleh, terutama berkenaan dengan kelengkapan, kejelasan makna, dan konsistensi makna satu sama lain. Dalam penelitian ini, ketiga tahapan analisis di atas diterapkan pada proses analisis pada Putusan Nomor 1512/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn.
Sistematika Pembahasan
Poligami dalam Peraturan Perundang-undangan
- Poligami dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
- Poligami dalam Kompilasi Hukum Islam
- PERMA Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Pedoman Mengadili
Pasal 65 mengatur, apabila seorang suami mempunyai isteri lebih dari seorang, baik berdasarkan undang-undang yang lama maupun berdasarkan Pasal 3 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 berlaku beberapa ketentuan yaitu suami wajib memberikan jaminan hidup yang sama kepada seluruh istri dan anaknya. 34. Istri kedua dan selanjutnya tidak mempunyai hak atas harta bersama yang ada sebelum perkawinan dengan istri kedua atau berikutnya. Semua istri mereka mempunyai hak yang sama atas harta bersama yang ada dari perkawinan mereka. 34. Diatur pula dalam Pasal 56 yang menjelaskan bahwa suami yang ingin beristri lebih dari satu harus mendapat izin Pengadilan Agama, yang tata caranya diatur dalam Bab VIII Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975. Kehadiran PERMA No. 3 Tahun 2017 tentang pedoman mengadili perkara perempuan yang berhadapan dengan hukum dinilai sangat relevan karena memberikan definisi tentang relasi kekuasaan itu sendiri.
Selain itu, keberadaan PERMA Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Penanganan Kasus Perempuan Berhadapan dengan Hukum juga dapat menjadi insentif yang baik bagi lahirnya keputusan-keputusan progresif terkait hak-hak perempuan.37. Dalam Pasal 2 disebutkan secara tegas bahwa hakim mengadili perkara perempuan yang melanggar hukum berdasarkan prinsip penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia, non-diskriminasi, kesetaraan gender, persamaan di depan hukum, keadilan, kemanfaatan dan keamanan hukum.38 Hakim adalah juga wajib memperhatikan kesetaraan gender dan non-diskriminasi dengan mengidentifikasi fakta peradilan berupa ketimpangan perlindungan hukum yang mempengaruhi akses terhadap perlindungan hukum, dampak psikologis yang dialami korban, serta relasi kekuasaan yang menyebabkan ketidakberdayaan korban/saksi,39 dengan tujuan untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip dari Pasal 2 dipenuhi. 37 Nurhilmiyah, “Perlindungan Hukum Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum Sebelum dan Sesudah Melahirkan PERMA Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Persidangan Perkara Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum,” DE LEGA LATA: Jurnal Ilmu Hukum 4, no.
Memperlihatkan sikap atau pernyataan yang merendahkan, menyalahkan dan/atau mengintimidasi perempuan merupakan pelanggaran hukum. Perlindungan hukum terhadap perempuan yang berkonflik dengan hukum pasca keluarnya PERMA Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Persidangan Kasus Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum diharapkan semakin membaik karena dengan adanya pasal-pasal PERMA Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Persidangan Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum. Kasus Perempuan yang Berhadapan dengan Hukum telah mengatur penanganan perkara yang bersifat kesetaraan gender.41.
Konsep Keadilan Gender
- Pengertian Keadilan
- Pengertian Gender
- Keadilan Gender dalam Poligami
Dalam aspek tertentu, Islam mengatur status dan kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai setara dan setara. Namun dalam aspek lain, Islam memberikan keadilan distributif antara laki-laki dan perempuan sehubungan dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing, misalnya: dalam hal status perempuan sebagai saksi, besarnya bagian warisan bagi perempuan, dan peluang perempuan menjadi kepala. Dari keluarga itu. negara, dll. Kata gender dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan sebagai akibat dari bentukan (konstruk) sosial budaya yang tertanam melalui proses sosialisasi dari generasi ke generasi.
Keadilan gender adalah kondisi yang adil bagi perempuan dan laki-laki melalui proses budaya dan politik yang menghilangkan hambatan terhadap peran perempuan dan laki-laki. Karena berapa banyak perempuan yang mau menikah, begitu pula laki-laki yang mau menikah? Manifestasi ketidakadilan tersebut disosialisasikan secara terus-menerus kepada laki-laki dan perempuan, sehingga lambat laun baik laki-laki maupun perempuan menjadi terbiasa dan akhirnya percaya bahwa peran gender seolah-olah merupakan hal yang wajar.
Kerugian yang ditimbulkan oleh poligami adalah karena laki-laki yang melakukan poligami telah menimbulkan kesulitan dan kesengsaraan bagi perempuan dan anak-anak dalam keluarga majemuknya. Dalam hal ini istri pertama tidak boleh menikah dengan laki-laki lain, kecuali ia menceraikan terlebih dahulu suami sahnya.
Interpretasi Putusan Hakim
- Keadilan Substantif dan Prosedural
- Parameter Keadilan Substantif dan Prosedural
Selanjutnya dalam terwujudnya keadilan dalam penetapan suatu putusan, ketaatan hakim terhadap suatu prosedur akan bermuara pada keadilan prosedural dimana keadilan prosedural itu sendiri dimaknai sebagai proses pelaksanaan/penegakan suatu hukum substantif. Suatu keputusan akan sia-sia jika hanya mengandaikan keadilan prosedural tanpa diimbangi dengan keadilan substantif. Keadilan substantif adalah keadilan yang berkaitan dengan isi putusan hakim dalam penyidikan, mengadili dan memutus suatu perkara, harus diambil berdasarkan pertimbangan rasionalitas, kejujuran, objektivitas, imparsialitas, tanpa diskriminasi dan berdasarkan hati nurani (keyakinan hakim).
Jika hasil pengukurannya positif maka dianggap memenuhi keadilan substantif, namun jika hasil pengukurannya negatif maka tidak ada keadilan substantif. Jika hasil pengukurannya positif maka keadilan prosedural dianggap ada, namun jika hasil pengukurannya negatif maka keadilan proseduralnya tidak ada. Apakah putusan hakim bersumber pada sumber-sumber berupa nilai-nilai hukum yang ada dalam masyarakat, yaitu berupa hukum adat, hukum setempat, dan/atau adat istiadat?
Apakah kesimpulan dalam putusan hakim runtut dan sistematis didukung oleh pertimbangan fakta dan kondisi hukum, sehingga tidak ada kesimpulan yang dipaksakan? Apakah putusan hakim memuat hal-hal yang wajib dicantumkan dalam putusan pengadilan sebagaimana diatur dalam pasal 2 ayat
DESKRIPSI PERKARA PERMOHONAN IZIN POLIGAMI
Amar Putusan dan Pertimbangan Hakim
Berdasarkan jawaban Termohon dan Termohon di hadapan pengadilan, tampak bahwa pada saat perkawinan siri itu dilangsungkan, Pemohon berstatus suami Termohon bahkan tidak mendapat izin poligami dari Pengadilan Agama sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan bersama. Analisis Hukum Pertimbangan Hakim dalam Permohonan Izin Poligami Putusan Nomor 1512/Pdt.G/2022/Pa.Kab.Mn. Penerapan prinsip penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia dalam perkara permohonan izin poligami tercermin dalam PERMA Nomor 3 Tahun 2017. Perempuan mempunyai hak untuk diadili di pengadilan mengenai kesediaannya untuk memberikan izin poligami.
Seharusnya peran hakim memperhatikan kepentingan perempuan dalam memutus permohonan izin poligami agar tidak terjadi diskriminasi, sehingga perempuan berperan dalam permohonan izin poligami melalui izin istri. Asas keadilan dijadikan standar bagi hakim pengadilan agama dalam menangani perkara perdata, khususnya permohonan izin poligami, karena dalam perkara tersebut perempuan termasuk sebagai pihak yang berperkara, yang seringkali terabaikan haknya.78. Mengenai kedudukan yurisprudensi di Indonesia khususnya mengenai penolakan poligami akibat nikah siri, sudah ada yurisprudensi Mahkamah Agung no.02 K/AG/2001.
Analisis Pertimbangan Hakim dalam Putusan Permohonan Izin Poligami Nomor 1512/Pdt.G/2022/PA.Kab.Mn Menurut Perspektif Keadilan Gender. “Perkara Izin Poligami di Pengadilan Agama Bengkalis (Analisis Putusan Hakim Nomor: 0307/Pdt.G/2017/PA.Bkls).” JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) 18, No. Penyelesaian permohonan izin poligami di pengadilan agama sehubungan dengan kewenangan hakim dalam mengambil keputusan.” ADHAPER : Jurnal Hukum Acara Perdata 4, No.
“Pemberian izin poligami karena nikah sirri (studi kasus putusan Pengadilan Agama Pariaman).” Jurnal Ilmiah Al-Hadi 7, no.
ANALISIS YURIDIS PERMOHONAN POLIGAMI
PENUTUP
Saran
Penelitian ini berkontribusi untuk lebih memahami aspek-aspek yang dijadikan pertimbangan oleh hakim dalam mengambil keputusan atas penerapan poligami dan bentuk-bentuk keadilan gender dalam kasus serupa, sehingga masyarakat dapat lebih obyektif dan menciptakan rasa keadilan bagi semua pihak. Mengesahkan Perubahan Sosial dalam Masyarakat Islam: Hukum Perkawinan Indonesia.” Di Indonesia, Hukum dan Masyarakat, diedit oleh Timothy Lindsey. Tanggung Jawab Negara Mewujudkan Keadilan: Survei Penerima PKH pada Penyandang Disabilitas di Kota Surabaya. Dalam Mempromosikan Hak Disabilitas di Indonesia: Prosiding Konferensi Indonesia ke-2 tentang Studi Disabilitas dan Pendidikan Inklusif, diedit oleh Arif Maftuhin.
Dalam Gender dan Kesetaraan dalam Hukum Keluarga Muslim: Keadilan dan Etika dalam Tradisi Hukum Islam, diedit oleh Lena Larsen, Ziba Mir-Hosseini, Christian Moe, dan Kari Vogt. Gender dan landasan pilihan sosial: Peran lembaga-lembaga yang ada. Dalam Karya dan Ide Amartya Sen: Perspektif Gender, diedit oleh Bina Agarwal, Jane Humphries, dan Ingrid Robeyns. Poligami dalam Islam dan Keadilan Gender.” Jurnal Internasional Pegon: Peradaban Islam Nusantara 8, no.
“Permohonan izin poligami tidak sesuai dengan alasan dan syarat hukum positif Indonesia.” Jatiswara 33, no. Analisis Penolakan Perspektif Isbat Nikah pada Kajian Hukum Kritis.” AL-MANHAJ: Jurnal Hukum Islam dan Kelembagaan Sosial 3, no.