• Tidak ada hasil yang ditemukan

andi ishaq salma artikel

N/A
N/A
Ishaq Salma

Academic year: 2025

Membagikan "andi ishaq salma artikel"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ARAHAN PENGEMBANGAN KONSEP HILIRISASI DALAM MENDUKUNG KEBIJAKAN DAN SKEMA PEMBIAYAAN INDUSTRI HILIR KELAPA SAWIT

DI PROVINSI SULAWESI SELATAN

DIRECTION FOR DEVELOPING THE DOWNSTREAM CONCEPT

IN SUPPORTING POLICIES AND FINANCING SCHEMES FOR THE PALM OIL DOWNSTREAM INDUSTRY IN SOUTH SULAWESI PROVINCE

Andi Ishaq Salma

1

, Rudi Latief

2

, Iqbal Suhaeb

3

1 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Program Pascasarjana Universitas Bosowa

2’3Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Program Pascasarjana Universitas Bosowa

Email : [email protected] Diterima /Disetujui

Abstrak. Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit mentah (CPO + CPKO) No.1 Dunia. Posisi ini memberikan keuntungan besar dalam hal ketersediaan bahan baku untuk industri hilir. harapannya minyak sawit mentah dapat diolah terlebih dahulu di dalam negeri dalam bentuk produk setengah jadi (antara) ataupun produk jadi (akhir) untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Namun pada kenyataanya pengiriman dalam bentuh mentah masih mendominasi. Sehingga pemerintah Indonesia membuat berbagai kebijakan dan pembiayaan untuk mendukung hilirisasi kelapa sawit. Provinsi Sulawesi Selatan merupakan wilayah potensi alternatif dalam melakukan pengembangan industri hilir kelapa sawit. Penelitian ini kemudian ditujukan untuk mengkaji faktor-faktor yang memungkinkan penyebab terjadinya ekspor minyak sawit mentah dan menentukan tingkatan prioritas arahan pengembangan konsep hilirisasi di Provinsi Sulawesi Selatan, arahan tersebut merupakan cara mereduksi faktor-faktor penyebab ekspor dengan memanfaatkan hipotesis dari kajian kepustakaan dan penelitian terdahulu di lokasi yang lain. Hipotesis kemudian di uji apakah hasilnya sama dengan pada lokasi penelitian saat ini. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan campuran (kualitatif dan kuantitatif) dengan melakukan wawancara kemudian dianalisis menggunakan analisis triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 faktor penyebab terjadinya ekspor minyak sawit mentah dan 6 arahan untuk mereduksinya. Perbedaan hipotesis dengan hasil penelitian adalah pada susunan tingkat prioritasnya. Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk melakukan kajian lebih mendalam untuk mendukung kebijakan hilirisasi kelapa sawit dan skema pembiayaan yang sudah ada maupun alternatif lainnya.

Kata kunci: Hilirisasi; Kelapa Sawit ; Sulawesi Selatan;

Abstract. Indonesia is the World's No. 1 producer of crude palm oil (CPO + CPKO). This position provides a great advantage in terms of the availability of raw materials for the downstream industry. It is hoped that crude palm oil can be processed domestically in the form of semi-finished products (intermediate) or finished products (final) to create added economic value and meet domestic needs. However, in reality, shipments in raw form still dominate. So the Indonesian government has made various policies and financing to support palm oil downstreaming. South Sulawesi Province is an alternative potential area for developing the downstream palm oil industry. This study is then aimed at examining the factors that allow the cause of crude palm oil exports and determining the priority level of directions for developing downstream concepts in South Sulawesi Province, these directions are a way to reduce the factors that cause exports by utilizing hypotheses from literature studies and previous research in other locations. The hypothesis is then tested whether the results are the same as at the current research location. This study was conducted using a mixed approach method (qualitative and quantitative) by conducting interviews and then analyzed using triangulation analysis. The results of the study indicate that there are 6 factors causing crude palm oil exports and 6 directions to reduce them. The difference between the hypothesis and the research results is in the arrangement of priority levels. Furthermore, the results of this study are expected to be able to provide input to the South Sulawesi Provincial Government to conduct a more in-depth study to support the palm oil downstream policy and existing financing schemes or other alternatives.

Keywords: Downstream; Palm Oil; South Sulawesi;

Pendahuluan

Pertumbuhan ekonomi nasional dipengaruhi oleh kontribusi berbagai sektor, seperti sektor pertanian dan perkebunan, pertambangan dan energi, manufaktur, perikanan dan kelautan, parawisata dan jasa keuangan.Subsektor perkebunan dengan komoditas seperti

kelapa sawit, karet, kakao, dan kopi memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor dan pendapatan nasional diantara komoditas perkebunan, kelapa sawit memiliki peranan yang dominan dalam perekonomian nasional. Volume ekspor industri sawit di Indonesia dari tahun 2010-2024 cenderung meningkat. Bahkan Indonesia menempati peringkat pertama negara pengekspor minyak sawit terbanyak di dunia.

(2)

Mempertahankan apalagi terlena sebagai "raja" CPO dunia sangat merugikan Indonesia khususnya dalam jangka panjang. Ketergantungan Indonesia pada pasar CPO dunia akan membuat industri minyak sawit Indonesia mudah dipermainkan pasar CPO dunia karena industri hilir minyak sawit berada dan dikuasai negara-negara lain. Selain itu, nilai tambah industri hilir juga tidak dinikmati Indonesia.

Oleh karena itu, Indonesia perlu mempercepat hilirisasi minyak sawit didalam negeri.(PASPI 2016).

Mempertahankan apalagi terlena sebagai "raja" CPO dunia sangat merugikan Indonesia khususnya dalam jangka panjang. Ketergantungan Indonesia pada pasar CPO dunia akan membuat industri minyak sawit Indonesia mudah dipermainkan pasar CPO dunia karena industri hilir minyak sawit berada dan dikuasai negara-negara lain. Selain itu, nilai tambah industri hilir juga tidak dinikmati Indonesia.

Oleh karena itu, Indonesia perlu mempercepat hilirisasi minyak sawit didalam negeri (PASPI 2016).

Dengan posisinya sebagai produsen terbesar dunia, perilaku Indonesia di pasar minyak sawit dunia mempengaruhi dinamika pasar minyak sawit dunia.

Besarnya volume minyak sawit yang diekspor Indonesia ke pasar dunia akan mempengaruhi pergerakan harga minyak sawit dunia. Demikian juga, berbagai bentuk produk sawit (bahan mentah, antara/setengah jadi, produk jadi) yang diekspor Indonesia ke pasar dunia selain mempengaruhi manajemen stok negara importir juga akan mempengaruhi nilai tambah yang dinikmati Indonesia. Oleh karena itu, kombinasi kebijakan perdagangan internasional dan hilirisasi sawit domestik yang ditempuh Indonesia akan menentukan apakah Indonesia dapat menjadi influencer pasar minyak sawit dunia atau tidak. Kebijakan tersebut juga akan menentukan seberapa besar nilai tambah yang dinikmati Indonesia.

Pada tahun 2011 kebijakan dengan fokus hirilisasi industri minyak kelapa sawit dimulai dengan dikeluarkannya kebijakan pengenaan bea keluar untuk CPO dan produk turunannya dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.

128 Tahun 2011. Tujuan dari ditetapkannya bea keluar pada barang ekspor adalah untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan domestik, melindungi sumber daya alam, dan menjaga kestabilan harga komoditas tertentu di dalam negeri. Menurut Liefert & Westcott (2016), alasan utama pemerintah memberlakukan tarif pajak ekspor dengan menggunakan kekuatan pasar untuk meningkatkan pendapatan, meningkatkan laba dari produk ekspor dengan menggunakan kekuatan pasar untuk menaikkan harga jual, meningkatkan daya saing dan juga nilai tambah industri dalam negeri dengan menyediakan bahan baku yang lebih murah sehingga biaya produksi lebih rendah dari negara pesaing.

Adapun kebijakan lain dari hilirisasi adalah mempermudah izin berusaha dan juga membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam rangka percepatan program hirilisasi industri kelapa sawit (GAPKI, 2017). Ada tiga jalur hilirisasi Indonesia yang menjadi fokus utama pemerintah, yaitu melalui hilirisasi oleopangan yang mengolah CPO menjadi produk bahan makanan, seperti minyak goreng, mentega, pakan ternak, es krim, krimmer, dan lain lain. Jalur yang kedua adalah hilirisasi oleokimia yang mengolah CPO menjadi produk seperti sabun cuci, sabun mandi, shampo, komestik, dan lain-lain. Jalur yang ketiga adalah hilirisasi biofuel yang mengolah CPO menjadi bahan bakar nabati, seperti biodiesel, biogas, bioavtur, dan biopremium.

Kebijakan hilirisasi industri kelapa sawit diharapkan dapat memberi manfaat dalam peningkatan pendapatan petani dan pelaku usaha, menciptakan nilai tambah di dalam negeri,penyerapan tenaga kerja, pengembangan kawasan industri, proses alih teknologi, dan untuk eskpor dalam bentuk produk olahan sebagai penghasil devisa juga menjadi sumber pangan dan gizi utama bagi masyarakat, sehingga keberadaannya berpengaruh nyata terhadap perkembangan

ekonomi wilayah dan kesejahteraan

masyarakat.(syarif,2024)

PTPN memiliki mandat strategis dalam mendukung program hilirisasi kelapa sawit nasional. Sebagai BUMN perkebunan, PTPN diharapkan dapat menjadi pelopor dalam pengembangan industri hilir. PTPN 1 Regional 8 adalah PTPN yang beroprasi di Sulawesi Selatan mengelola beberapa komoditi seperti kelapa sawit, tebu, karet dan kelapa. Khususnya pada komoditi kelapa sawit , PTPN memiliki 4 Unit Usaha Kelapa Sawit, yaitu PKS Luwu (Kebun dan Pabrik), Kebun Keera-Maroangin, Kebun Malili dan Kebun Asera dengan hasil produk Crude Palm Oil (CPO) dan Kernel. Kebun terluas adalah pada wilayah usaha Keera-Moroangin dengan luas Hak Guna Usaha (HGU) 17.400 Ha. (PTPN,2024).

Regulasi hilirisasi kelapa sawit di Indonesia, terutama melalui tiga jalur hilirisasi (oleofood complex, oleochemical complex, dan biofuel complex), diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk dan mengurangi ketergantungan pada ekspor CPO mentah. Provinsi Sulawesi Selatan khususnya wilayah usaha keera-maroangin, sebagai salah satu produsen kelapa sawit di Indonesia, memiliki potensi besar untuk berkembang melalui hilirisasi.

Meskipun demikian, implementasi regulasi hilirisasi di Sulawesi Selatan masih menghadapi beberapa kendala, seperti belum optimalnya keterlibatan pemerintah dan stakeholder yang terlibat dalam industri hilirisasi. Tantangan lain termasuk perluasan akses pasar, kepastian hukum, dan dukungan infrastruktur. Keberhasilan hilirisasi memerlukan pemenuhan prasyarat yang harus segera dipenuhi, termasuk pola pikir jangka panjang, ketersediaan bahan baku, lahan, pembiayaan, teknologi, energi, serta regulasi yang jelas dan tidak tumpang tindih.

Urgensi dari penelitian ini adalah potensi wilayah dengan keberadaan PTPN diharapkan menjadi wilayah alternatif pengembangan hilirisasi kelapa sawit dengan arah pengembangan yang menyesuaikan dengan kebijakan dan skema pembiayaan yang memungkinkan. Sehingga melahirkan sebuah arahan pengembangan konsep hilirisasi kelapa sawit di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Metode Penelitian

a. Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian mixed method. Penelitian mixed method adalah penelitian yang menggabungkan penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif alasannya penelitian kualitatif digunakan untuk menjawab masalah pertama dan penelitian kuantitatif digunakan untuk menjawab masalah yang kedua. landasan filsafat kedua metode penelitian tersebut sangat berbeda bahkan bertentangan, sehingga secara teoritis kedua metode tersebut tidak dapat di Mixed Method kan untuk digunakan bersama- sama.

Sugiyono (Sugiyono, 2011) menyatakan bahwa, pertama, kedua metode tersebut dapat digabungkan tetapi

(3)

menggunakan metode kualitatif, sehingga ditemukan hipotesis tersebut diuji dengan metode kuantitatif. Kedua, metode penelitian tidak dapat digabungkan dalam waktu bersamaan, tetapi hanya teknik pengumpulan data yang dapat digabungkan.

b. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi ini dipandang sebagai sebuah kesatuan wilayah yang terdiri dari 24 Kabupaten yang dimana merupakan Batasan penelitian baik secara keruangan maupun secara data yang mengacu pada tujuan penelitian.

Gambar 1. Peta Administrasi Lokasi Penelitian c. Sampel Penelitian

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Purposive Sampling. Menurut Patton (dalam Moleong, 2001), purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan berdasarkan pertimbangan tertentu dari peneliti. Pertimbangan tersebut bisa berupa sifat dan ciri populasi, atau karena peneliti menganggap sampel tersebut paling tahu tentang masalah yang diteliti.

Adapun sampel yang kemudian disebut informan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Ibu Andi Risarti Pejabat Fungsional Pembina Industri, Bidang Pembangunan Sumber Daya Industri, Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai stakeholder yang mewakili Pemerintah terkait pelaksanaan bidang industri termasuk hilirisasi kelapa sawit.

2. Bapak Muslimin Hamid Kepala Subbidang Ekonomi dan Pembangunan, Badan Perencanaan dan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai informan yang mewakili Pemerintah yang menangani perencanaan dan pembangunan serta penelitian daerah.

3. Kepala Bagian Perkebunan PT. Perkebunan Nusantara 1 Regional 8. Sebagai stakeholder yang mewakili dari pihak Pelaku Usaha yang berstatus BUMN.

d. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui (1) wawancara yang digunakan dengan memberikan pokok pokok pertanyaan dan akan memberikan stimulus jika informan membutuhkan pemahaman lebih jelas terkait pembahasan, (2) Dokumentasi yang digunakan adalah jurnal terkait hilirisasi kelapa sawit, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, kebijakan pemerintah yang berlaku saat ini dalam mendukung hilirisasi serta skema pembiayaan yang memungkinkan dapat diakses untuk mendorong hilirisasi.

Beberapa teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu (1) Bagaimana kondisi eksisting pada aspek fisik, ekonomi, sosial, dan institusional di kawasan Benteng Somba Opu Kabupaten Gowa yang menyebabkan degradasi fungsi kawasan dianalisis menggunakan analisis theoritical descriptive dan analisis delphi. Kedua analisis ini berperan untuk mengkaji fokus penelitian melalui pengintegrasian antara hasil observasi, kajian teori, dan wawancara mendalam pada stakeholder, (2) Perumusan arahan revitalisasi kawasan bersejarah Benteng Somba Opu dilakukan dengan analisis deksriptif kualitatif SWOT, yaitu suatu teknik perencanaan strategis yang bermanfaat untuk mengevaluasi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunities) dan ancaman (threats).

Hasil dan Pembahasan

a. Hasil

1. Deskripsi Hasil Penelitian Kuantitatif Variabel X.

a) Variabel X1 (Faktor Industri Hilir Belum Berkembang) Pengembangan industri hilir membutuhkan investasi yang besar. Kurangnya investasi, baik dari sektor swasta maupun pemerintah, menjadi salah satu faktor utama yang menghambat pertumbuhan industri ini. Komentar tersebut

“setuju” bahwa faktor terjadinya ekspor CPO adalah faktor indutstri hilir belum berkembang di Provinsi Sulawesi Selatan,

Komentar selanjutnya mengatakan “setuju”, walaupun sulawesi selatan memiliki lahan kelapa sawit, tetapi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri hilir yang besar, diperlukan pasokan yang stabil dan terjamin. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Komentar ketiga pun “setuju” karena alasan di Sulawesi Selatan hanya ada pabrik kelapa sawit (PKS) termasuk milik PTPN yang dimana hasil CPO nya dikirim ke Surabaya.

b) Variabel X2 (Faktor Produksi)

Komentar pertama “tidak setuju” bahwa faktor produksi merupakan penyebab terjadinya ekspor CPO meskipun tersedia Pabrik kelapa sawit (PKS) yang memadai, namun ketersediaan bahan baku TBS setiap tahun berkurang karena luasan lahan sawit berkurang.

Komentar kedua juga mengatakan “setuju” sebab Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur menjadi daerah dengan produksi kelapa sawit yang signifikan di Sulawesi Selatan dengan didukung iklim yang sesuai dan ketersedian lahan yang berpotensi pengembangan perkebunan kelapa sawit skala besar di beberapa wilayah Kabupaten salah satunya di Kabupaten Wajo. Namun komentar Ketiga mengatakan “tidak setuju” karena ketersediaan bahan baku berupa tandan buah sawit (TBS) masih terbilang kurang di Sulawesi Selatan baik baik dari segi produktivitas maupun dari kualitas bibit yang digunakan.

c) Variabel X3 (Faktor Kurs/Nilai Tukar)

Ketiga komentar mengatakan “setuju” dengan interpretasi apabila kurs atau nilai tukar rupiah memicu terjadinya ekspor CPO hal tersebut berlaku disemua wilayah Indonesia termasuk Sulawesi Selatan. Ketika nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar AS, harga CPO dalam Dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli internasional.

Hal ini meningkatkan daya saing CPO Indonesia di pasar global, yang berpotensi meningkatkan volume ekspor.

Sebaliknya, jika nilai tukar Rupiah menguat, harga CPO

(4)

Indonesia menjadi lebih mahal, yang dapat menurunkan daya saing dan mengurangi volume ekspor

d) Variabel X4 (Faktor Daya Beli Masyarakat Negara Tujuan)

Daya beli masyarakat suatu negara. Pada penelitian ini faktor penyebab terjadinya ekspor CPO dari Sulawesi Selatan adalah daya beli negara tujuan ekspor yang semakin meningkat. Ketiga komentar mengatakan “setuju” tentang hal tersebut, dengan interpretasi karena ketika daya beli masyarakat meningkat, konsumsi produk-produk seperti makanan olahan, kosmetik, dan produk kebersihan yang menggunakan CPO juga meningkat contohnya pertumbuhan ekonomi yang pesat, seperti India dan China, merupakan pasar potensial bagi ekspor CPO Indonesia

e) Variabel X5 (Faktor Jumlah penduduk)

Faktor jumlah penduduk negara tujuan ekspor adalah salah satu faktor penyebab masih tingginya ekspor CPO dari Sulawesi Selatan sebab Negara-negara seperti India dan Tiongkok, yang memiliki populasi sangat besar, merupakan pengimpor utama CPO. Komentar pertama mengatakan

“setuju” dengan alasan pertumbuhan populasi secara langsung meningkatkan permintaan akan produk-produk konsumen, terutama makanan olahan, kosmetik, dan produk kebersihan.

Komentar kedua mengatakan “setuju” peningkatan jumlah penduduk juga dapat memberikan tekanan pada sumber daya alam dan lingkungan di negara tujuan ekspor dan untuk tetap menjaga lingkungan , beberapa negara lebih memilih membeli minyak mentah ketimbang membangun perkebunan kelapa sawit. Komentar ketiga juga mengatakan

“setuju” pertumbuhan populasi di negara india, china dan afrika akan terus mendorong permintaan CPO dalam jangka panjang

f) Variabel X6 (Harga Internasional)

Harga CPO internasional adalah salah satu faktor penting yang secara signifikan memengaruhi terjadinya ekspor CPO, Komentar pertama mengatakan “setuju” dengan alasan seperti komoditas lainnya, harga CPO sangat dipengaruhi oleh hukum penawaran dan permintaan. Harga CPO internasional yang tinggi secara langsung meningkatkan pendapatan eksportir. Ketika harga tinggi, eksportir cenderung meningkatkan volume ekspor untuk memaksimalkan keuntungan.

Komentar kedua pun “setuju” dengan alasan kondisi ekonomi global, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan nilai tukar mata uang, dapat memengaruhi permintaan dan harga CPO seperti ketika harga rendah, produsen akan mungkin mengurangi volume ekspor atau menyimpan stok.

Komentar ketigapun berpendapat “setuju” dengan alasan harga CPO terkait erat dengan harga minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed, diantara minyak nabati tersebut, CPO adalah minyak nabati dengan harga yang paling ekonomis

g) Variabel X7 (Tingkat Permintaan)

Komentar pertama “setuju” jika tingkat permintaan penyebab ekspor CPO sebab Tiongkok juga merupakan pasar yang signifikan bagi CPO Sulawesi Selatan, dengan permintaan yang didorong oleh pertumbuhan industri makanan dan konsumen. Sama halnya dengan komentar Kedua dan Ketiga sehingga diinterpretasikan permintaan yang tinggi dari negara-negara pengimpor menciptakan pasar yang luas bagi CPO termasuk Sulawesi Selatan.

Faktor – faktor penyebab ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah adalah faktor Industri hilir belum

berkembang, faktor kurs, faktor Pendapatan perkapita, faktor jumlah penduduk, faktor harga dan faktor permintaanPelibatan masyarakat di kawasan cagar budaya dalam proses perencanaan kawasan

2. Deskripsi Hasil Penelitian Kuantitatif Variabel Y Merupakan pengembangan konsep yang lahir untuk mereduksi faktor faktor penyebab terjadinya ekspor CPO.

Adapun variable Y yang dimaksud secara kongkrit adalah faktor percepatan industri hilir kelapa sawit yang bersumber dari penelitian terdahulu sekaligus untuk diuji pada populasi yang diteliti.

a) Kepastian pasar

Informan pertama memberikan solusi dengan mendirikan bursa produk turunan CPO di Sulawesi Selatan atau memperkuat bursa yang sudah ada di Indonesia. Bursa ini akan memberikan transparansi harga dan memfasilitasi transaksi jual beli yang efisien. Menempatkan kepastian pasar pada prioritas ke-5 dengan nilai 7%.

Informan kedua berangapan bahwa kepastian pasar sudah jelas karena Pemerintah telah menetapkan mandatori biodiesel secara bertahap, dari B20, B30, dan menuju B40, yang memberikan sinyal kuat kepada pelaku industri.

Menempatkan kepastian pasar pada prioritas ke-4 dengan nilai 15%.

Informan ketiga memberikan solusi kepastian pasar dengan meluncurkan kampanye nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kualitas dan manfaat produk-produk olahan kelapa sawit dalam negeri, selanjutnya memperkuat pasar domestik untuk produk- produk olahan kelapa sawit dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan menempatkan kepastian pasar pada prioritas ke-5 dengan nilai 7%

b) Komitmen Pemerintah

Informan pertama memberikan solusi membangun pusat pelatihan vokasi khusus untuk industri kelapa sawit di Sulawesi Selatan dan mendorong investasi dalam pembangunan pabrik pengolahan CPO menjadi produk bernilai tambah seperti minyak goreng, margarin, sabun, kosmetik, dan biodiesel. Menempatkan komitmen pemerintah pada prioritas ke-2 dengan nilai 25%.

Informan kedua berpendapat terkait komitmen pemerintah yaitu dengan menyusun rencana induk pengembangan kelapa sawit yang komprehensif dan jangka panjang, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Rencana ini harus mencakup target yang jelas, strategi implementasi, dan mekanisme monitoring evaluasi. dalam bentuk produk hukum seperti Peraturan Daerah.

Menempatkan komitmen pemerintah pada prioritas ke-1 dengan nilai 30%.

Informan ketiga, mengatakan komitmen pemerintah dengan menetapkan target investasi dalam 5 tahun ke depan untuk pembangunan pabrik pengolahan CPO di Sulawesi Selatan serta memberikan insentif fiskal dan non-fiskal kepada investor yang membangun industri hilir kelapa sawit di Sulawesi Selatan. Menempatkan komitmen pemerintah pada prioritas ke-2 dengan nilai 25%.

c) Dukungan Moneter

Informan pertama, memberikan solusi dengan memfasilitasi perusahaan kelapa sawit untuk menerbitkan obligasi sebagai sumber pembiayaan alternatif dan mengelola dana yang diperoleh dari pungutan ekspor CPO dan menggunakannya untuk mendukung pengembangan industri kelapa sawit. Menepatkan dukungan moneter pada posisi prioritas ke-4 dengan nilai 15%.

(5)

moneter dengan menyediakan kredit dengan suku bunga rendah bagi investor yang membangun industri hilir kelapa sawit di Sulawesi Selatan serta mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional dan mempertimbangkan penggunaan mata uang lokal atau mata uang negara mitra dagang. Dengan menempatkan dukungan moneter pada prioritas ke-3 dengan nilai 20%.

Informan ketiga, memberikan pendapat solusi terkait dukungan moneter dengan membentuk badan pengelola dana untuk stabilisasi harga CPO dan produk turunannya.

Dana ini dapat digunakan untuk intervensi pasar saat harga CPO turun drastis. Dengan menempatkan dukungan moneter pada prioritas ke-3 dengan nilai 20%.

d) Insentif Perpajakan

Informan pertama menyatakan solusi terkait insentif perpajakan dengan memberikan insentif berupa tax holiday selama 5-10 tahun bagi investor yang membangun pabrik pengolahan CPO dengan kapasitas produksi tertentu.

Menempatkan insentif perpajakan pada prioritas ke-1 dengan nilai 30%.

Informan kedua, menjelaskan solusi memberikan pengurangan PPN untuk produk-produk hilir kelapa sawit yang dipasarkan di dalam negeri. Berhubung karena insentif perpajakan ini sudah diterapkan di Indonesia maka ini berlaku pula di seluruh wilayah sehingga insentif perpajakan ditempatkan pada prioritas ke-5 dengan nilai 7%

Namun informan ketiga memberikan prioritas ke-4 pada insentif perpajakan dengan solusi memberikan pengurangan pajak ekspor sebesar lima puluh persen (50%) untuk produk- produk hilir kelapa sawit serta memberikan insentif bea keluar bagi produk-produk kelapa sawit yang memiliki sertifikasi keberlanjutan, nilai prioritas insentif perpajakan adalah 15%.

e) Penyiapan Infrastruktur

Memaksimalkan pemanfaatan sumber energi PLTA Salu uro, PLTA Karebbe, PLTA Balambanno, PLTA Kalaena dan PLTA Larona. Menempatkan penyiapan infrastruktur pada prioritas ke-3 dengan nilai 20%.

Informan kedua, menyatakan dengan membangun dan memperbaiki jalan dan jembatan untuk memperlancar distribusi bahan baku dan produk jadi melalui dana Dana bagi hasil (DBH). Menempatkan penyiapan infrastruktur pada posisi prioritas ke-2 dengan nilai 25%.

Informan ketiga memberikan solusi terkait penyiapan infrastruktur dengan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang fokus pada industri hilir Crude Palm Oil (CPO) dengan fasilitas dan infrastruktur yang lengkap.

Menempatkan penyiapan infrastruktur pada posisi ke-1 dengan nilai 30%

f) Penyederhanaan Perijinan

Informan pertama menyatakan dengan melakukan evaluasi secara berkala terhadap regulasi terkait industri kelapa sawit untuk mengidentifikasi dan menghapus regulasi yang tumpang tindih atau menghambat investasi serta mengurangi interaksi fisik antara pelaku usaha dan petugas perizinan. Menempatkan penyederhanaan perijinan pada prioritas ke-6 dengan nilai 3%

Informan kedua menyatakan solusi melalui penggunaan sistem Informasi Gegrafi (SIG) untuk memetakan lahan kelapa sawit dan mengintegrasikan data perizinan serta menetapkan standar waktu pelayanan yang jelas untuk setiap jenis perizinan. Menempatkan penyederhanaan perijinan pada prioritas ke-6 dengan nilai 3%

informasi tentang persyaratan, prosedur, dan biaya perizinan secara transparan di situs web resmi pemerintah dan mengharmonisasikan regulasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menciptakan kepastian hukum bagi pelaku usaha. Menempatkan penyederhanaan perijinan pada prioritas ke-6 dengan nilai 3%.

b. Pembahasan

1. Rumusan Masalah Pertama

Rumusan masalah ini terkait faktor – faktor yang menyebabkan terjadinya ekspor. adapun faktor -faktor tersebut sebagai berikut

a) Faktor Industri Hilir Belum Berkembang

Saat ini, sebagian besar produksi kelapa sawit di Sulawesi Selatan masih berupa CPO, yang merupakan bahan mentah. Kurangnya industri pengolahan di daerah tersebut menyebabkan lebih banyak CPO diekspor daripada diolah menjadi produk bernilai tambah. Pengembangan industri hilir kelapa sawit membutuhkan investasi besar dalam infrastruktur dan teknologi. Kurangnya investasi di sektor ini menghambat pertumbuhan industri pengolahan di Sulawesi Selatan. Faktanya, Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri hilir kelapa sawit sebab sudah memiliki pabrik pengolahan tandan buah sawit (TBS) atau sering dikenal dengan Pabrik Kelapa Sawit. Pabrik ini berjumlah 7 unit tersebar di 2 wilayah yaitu di Kab.Luwu Timur dan Kab.Luwu Utara, Pabrik ini mengolah TBS menjadi CPO dengan suplai bahan baku dari sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, baik dari perkebunan rakyat maupun perkebunan swasta dan BUMN. Hasil analisis ketiga informan menyatakan “setuju” dengan faktor terpenyebab masih tingginya ekspor CPO di Sulawesi Selatan karena belum adanya pabrik pengolahan CPO menjadi produk antara dan produk akhir sehingga Hipotesis 1 diterima pada populasi yang diteliti.

b) Faktor Produksi

Meskipun Provinsi Sulawesi Selatan memiliki lahan perkebunan sawit yang luas dan tersedianya sejumlah pabrik kelapa sawit namun produksi tandan buah segar (TBS) cenderung mengalami penurunan dari segi produktivitas terutama pada perkebunan milik rakyat. Produktivitas Kelapa Sawit milik rakyat pada tahun 2021–2024 cenderung mengalami penurunan. Produktivitas Kelapa Sawit pada tahun 2021 sebesar 4.057 kg/hektare dan pada tahun 2024 diperkirakan akan menurun menjadi 3.466 kg/hektar. Pada perkebunan swasta selama tahun 2021–2024, produktivitas Kelapa Sawit cenderung stagnan di atas 4,5 ton/hektare.

Produktivitas Kelapa Sawit tahun 2021 mencapai 4.523 kg/hektare. Pada tahun 2022 dan 2024 meningkat menjadi 4.608 kg/hektare dan 4.628 kg/hektare. Produktivitas tersebut diperkirakan menurun pada tahun 2024 menjadi 4.560 kg/hectare. Hal ini dikarenakan kwalitas bibit ditanam adalah mayoritas bibit dura dan bibit asalan ketimbang jenis tennera. Hasil analisis meskipun dua informan menyatakan

“setuju” dengan namun informan yang lain menyatakan menyatakan “tidak setuju” bahwa faktor penyebab terjadinya ekspor CPO di Sulawesi Selatan karena faktor produksi yang melimpah sehingga Hipotesis 2 “belum diterima” pada populasi yang diteliti.

c) Faktor Kurs/Nilai Tukar

Nilai tukar mempengaruhi daya saing harga CPO di pasar internasional. Jika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, misalnya harga CPO dari Indonesia menjadi lebih murah dalam dolar AS, sehingga meningkatkan daya

(6)

saingnya. Nilai tukar juga mempengaruhi pendapatan eksportir. Ketika nilai tukar rupiah melemah, eksportir menerima lebih banyak rupiah untuk setiap dolar AS yang mereka peroleh dari penjualan CPO. Ini dapat meningkatkan keuntungan eksportir dan mendorong mereka untuk meningkatkan ekspor. Pada faktanya kondisi rupiah saat ini cenderung terus melemah. Hasil analisis ketiga informan menyatakan “setuju” bahwa faktor penyebab ekspor CPO adalah karena nilai tukar rupiah yang cenderung melemah sehingga Hipotesis 3 “diterima” pada populasi yang diteliti d) Faktor Daya Beli Masyarakat Negara Tujuan

Dalam penelitian ini, faktor yang dimaksud adalah daya beli mayarakat negara tujuan ekspor. Jika daya beli masyarakat tinggi, permintaan terhadap produk-produk tersebut juga akan meningkat, sehingga mendorong peningkatan ekspor CPO. Seperti halnya negara – negara tujuan ekspor CPO seperti negara dengan perkembangan yang signifikan seperti india dan china India dan china adalah pasar terbesar untuk mengekspor CPO Indonesia dengan jumlah ekspor rata-rata india 5 juat ton/tahun dan china 3 juta ton/tahun.Negara ini memiliki permintaan yang tinggi terhadap minyak kelapa sawit untuk berbagai keperluan, terutama untuk industri makanan. Menurut Outlook Ekonomi Dunia IMF terbaru pada bulan Oktober 2023 India dan china merupakan negara dengan daya beli mayarakat tertinggi dunia. Hasil analisis ketiga informan menyatakan “setuju” bahwa faktor penyebab ekspor CPO adalah daya beli mayarakat negara tujuan sehingga Hipotesis 4 “diterima” pada populasi yang diteliti

e) Faktor Jumlah penduduk Negara Tujuan

Di beberapa negara dengan jumlah penduduk besar, terjadi peningkatan konsumsi makanan olahan dan produk- produk industri yang menggunakan CPO. Negara-negara dengan jumlah penduduk besar, seperti India dan china, merupakan pasar utama bagi ekspor CPO Indonesia.

Permintaan dari negara-negara ini sangat mempengaruhi volume ekspor CPO dari Indonesia, termasuk dari Sulawesi Selatan. Menurut laporan World Population Prospect PBB yang diterbitkan pada Desember 2022, para ahli demografi saat itu menyatakan populasi di India akan melampaui China pada 2023 Total penduduk di India saat ini mencapai 1,428 miliar jiwa. Diperingkat kedua penduduk terbanyak dunia adalah china dengan jumlah penduduk 1,425 miliar. Hasil analisis ketiga informan menyatakan “setuju” bahwa faktor penyebab ekspor CPO dikarenakan jumlah penduduk negara tujuan ekspor sehingga Hipotesis 5 “diterima” pada populasi yang diteliti.

f) Faktor Harga Internasional

Harga CPO internasional menentukan daya saing produk CPO dari Sulawesi Selatan di pasar global. Jika harga CPO di pasar internasional tinggi, eksportir cenderung meningkatkan volume ekspor untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Sebaliknya, jika harga internasional rendah, eksportir mungkin akan mengurangi volume ekspor atau mencari pasar alternatif. Harga CPO (Crude Palm Oil) internasional tidak ditentukan oleh satu entitas tunggal, melainkan oleh interaksi kompleks dari berbagai faktor pasar, meskipun demikian tetap mengacu pada bursa dari negara lain seperti Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD) di Kuala Lumpur dan Bursa komoditas di Rotterdam, Belanda. Harga bursa CPO Indonesia senilai USD 845,38/MT, harga bursa CPO Malaysia senilai USD 1.063,62/MT, harga CPO Rotterdam USD 1.418,68/MT (Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Maret 2025).

Tentunya juga saling terkait dengan permintaan dan penawaran terurtama dari negara india dan china. Selain itu, harga CPO masih menjadi minyak nabati yang paling ekonomis ketimbang minyak nabati lainnya seperti minyak rapeseed, minyak bunga matahari, dan minyak kedelai.

Produktivitas minyak kelapa sawit per hektar lahan jauh lebih tinggi (8-10 kali lipat) dari produktivitas minyak nabati lainnya, dengan lahan yang lebih sedikit mampu menghasilkan minyak nabati yang lebih besar produktivitas CPO adalah 4,27 Ton/Ha/Tahun sedangkan minya nabati yang lain adalah < 1 Ton/Ha/Tahun. Hasil analisis, ketiga informan menyatakan “setuju” bahwa faktor penyebab ekspor CPO dikarenakan harga internasional sehingga Hipotesis 6 “diterima” pada populasi yang diteliti.

g) Faktor Tingkat Permintaan

Jika permintaan global tinggi, eksportir CPO di Sulawesi Selatan cenderung meningkatkan volume ekspor untuk memenuhi permintaan tersebut. Terutama negara india, perubahan permintaan dari negara ini, baik karena faktor ekonomi maupun kebijakan perdagangan, merubah pola konsumsi seperti peningkatan konsumsi makanan olahan dan pertumbuhan industri-industri menyebabkan kebutuhan akan industri makanan, kosmetik, dan biofuel yang pada gilirannya akan mendorong peningkatan ekspor dari Sulawesi Selatan. Hasil analisis, ketiga informan menyatakan “setuju” bahwa faktor penyebab ekspor CPO dikarenakan faktor tingkat permintaan sehingga Hipotesis 7

“diterima” pada populasi yang diteliti

Saat ini, sebagian besar produksi kelapa sawit di Sulawesi Selatan masih berupa CPO, yang merupakan bahan mentah. Kurangnya industri pengolahan di daerah tersebut menyebabkan lebih banyak CPO diekspor daripada diolah menjadi produk bernilai tambah. Pengembangan industri hilir kelapa sawit membutuhkan investasi besar dalam infrastruktur dan teknologi. Kurangnya investasi di sektor ini menghambat pertumbuhan industri pengolahan di Sulawesi Selatan. Faktanya, Sulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri hilir kelapa sawit sebab sudah memiliki pabrik pengolahan tandan buah sawit (TBS) atau sering dikenal dengan Pabrik Kelapa Sawit. Pabrik ini berjumlah 7 unit tersebar di 2 wilayah yaitu di Kab.Luwu Timur dan Kab.Luwu Utara, Pabrik ini mengolah TBS menjadi CPO dengan suplai bahan baku dari sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, baik dari perkebunan rakyat maupun perkebunan swasta dan BUMN. Hasil analisis ketiga informan menyatakan “setuju” dengan faktor terpenyebab masih tingginya ekspor CPO di Sulawesi Selatan karena belum adanya pabrik pengolahan CPO menjadi produk antara dan produk akhir sehingga Hipotesis 1 diterima pada populasi yang diteliti.

2. Rumusan Masalah Kedua

Rumusan masalah ini menjelaskan tentang faktor yang mereduksi rumusan masalah pertama sekaligus sebagai arahan konsep pengembangan industri hilir kelapa sawit di Provinsi Sulawesi Selatan. adapun faktor tersebut sebagai berikut.

a) Kepastian Pasar

Investor membutuhkan keyakinan bahwa ada permintaan yang stabil untuk produk-produk hilir kelapa sawit.

Kepastian permintaan ini akan mendorong mereka untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik pengolahan.

kepastian pasar dapat mereduksi faktor industri hilir belum berkembang menjadi berkembang.

(7)

bertahap, dari B20, B30, dan menuju B40, yang memberikan sinyal kuat kepada pelaku industri. Hasil analisis, akumulasi ketiga informan menempatkan prioritas kepastian pasar pada prioritas ke-5 sementara hipotesis menetapkan kepastian pasar pada posisi ke-2 sehingga Hipotesis 8 “belum diterima” pada populasi yang diteliti”

b) Komitmen Pemerintah

Komitmen pemerintah memiliki peran krusial dalam mempercepat pengembangan industri hilir kelapa sawit di Sulawesi Selatan. Kebijakan-kebijakan ini dapat mengurangi risiko investasi dan menarik investor untuk membangun pabrik pengolahan di Sulawesi Selatan.

komitmen pemerintah dapat mereduksi faktor industri hilir belum berkembang melalui penyusunan rencana induk pengembangan kelapa sawit yang komprehensif dan jangka panjang, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Rencana ini harus mencakup target yang jelas, strategi implementasi, dan mekanisme monitoring evaluasi. dalam bentuk produk hukum seperti Peraturan Daerah. Hasil analisis, akumulasi ketiga informan menempatkan prioritas komitmen pemerintah pada prioritas ke-1 sementara hipotesis menetapkan kepastian pasar pada posisi ke-1 sehingga Hipotesis 9 “diterima” pada populasi yang diteliti”

c) Dukungan Moneter

Industri hilir kelapa sawit membutuhkan investasi yang besar dalam pembangunan pabrik pengolahan, pembelian peralatan, dan modal kerja. Dukungan moneter, seperti kredit dengan suku bunga rendah dan persyaratan yang mudah, dapat membantu perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan akses ke pembiayaan yang dibutuhkan terutama memfasilitasi perusahaan kelapa sawit untuk menerbitkan obligasi sebagai sumber pembiayaan alternatif untuk mendorong investasi dalam pembangunan industri hilir kelapa sawit.

Dukungan moneter dapat mereduksi faktor kurs/nilai tukar rupiah melalui Penyediaan kredit dengan suku bunga rendah bagi investor yang membangun industri hilir kelapa sawit di Sulawesi Selatan. Mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional dengan mempertimbangkan penggunaan mata uang lokal atau mata uang negara mitra dagang di Kawasan ASEAN.

Pembangunan industri hilir yang sukses dapat meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik, yang pada gilirannya dapat memperkuat nilai tukar. Kebijakan moneter yang bijaksana dapat menjaga stabilitas nilai tukar, yang mendukung pembangunan industri hilir.

Membentuk badan pengelola dana untuk stabilisasi harga CPO dan produk turunannya untuk mereduksi faktor harga internasional. Dana ini dapat digunakan untuk intervensi pasar saat harga CPO internasional naik drastis. Tujuannya menstabilkan harga CPO dan produk turunannya di pasar domestik, sehingga mengurangi ketergantungan pada harga internasional yang seringkali tidak stabil. Hasil analisis, akumulasi ketiga informan menempatkan prioritas dukungan moneter pada prioritas ke-3 sementara hipotesis menetapkan dukungan moneter pada posisi prioritas ke-4 sehingga Hipotesis 10 “belum diterima” pada populasi yang diteliti”

Investor membutuhkan keyakinan bahwa ada permintaan yang stabil untuk produk-produk hilir kelapa sawit.

Kepastian permintaan ini akan mendorong mereka untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik pengolahan.

berkembang menjadi berkembang.

Pemerintah telah menetapkan mandatori biodiesel secara bertahap, dari B20, B30, dan menuju B40, yang memberikan sinyal kuat kepada pelaku industri. Hasil analisis, akumulasi ketiga informan menempatkan prioritas kepastian pasar pada prioritas ke-5 sementara hipotesis menetapkan kepastian pasar pada posisi ke-2 sehingga Hipotesis 8 “belum diterima” pada populasi yang diteliti”

d) Insentif Perpajakan

Perpajakan yang insentif dapat mengurangi beban biaya bagi perusahaan-perusahaan di industri hilir kelapa sawit.

Pengurangan beban biaya ini dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan dan mendorong mereka untuk melakukan ekspansi dan inovasi. Salah satunya memberikan insentif berupa tax holiday selama 5-10 tahun bagi investor yang membangun pabrik pengolahan CPO dengan kapasitas produksi tertentu sehingga terjadi diversifikasi produk kemudian menciptakan pasar yang lebih luas untuk produk olahan kelapa sawit.

Dengan memahami kebutuhan dan preferensi konsumen di negara tujuan ekspor, Sulawesi Selatan secara khusus dapat mengembangkan produk-produk makanan kelapa sawit yang memiliki nilai tambah tinggi. Produk-produk ini akan memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan ekspor CPO. Seperti itulah peran insentif perpajakan dalam mereduksi jumlah penduduk dan daya beli negara-negara tujuan ekspor utama seperti china dan india. Hasil analisis, akumulasi ketiga informan menempatkan insentif pajak pada prioritas ke-4, sementara hipotesis menetapkan dukungan moneter pada posisi prioritas ke-6 sehingga Hipotesis 11 “belum diterima” pada populasi yang diteliti”

e) Penyiapan Infrastruktur

Para pelaku usaha kelapa sawit mengungkapkan bahwa perbaikan infrastruktur, jalan, pelabuhan dan klaster industri mendukung percepatan industri minyak sawit mentah (Hasan, 2015). Beberapa pendapat pata ahli mengatakan infrasturktur pendukung keberadaan industri turunan minyak sawit mentah kurang atau belum ada mengakibatkan investor harus menyiapkan atau mengalami biaya tinggi untuk mengadaan bahan baku dan penyaluran produknya (Hambali, 2015)

Penyiapan infrastruktur dapat mereduksi faktor industri hilir belum berkembang dengan Membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang fokus pada industri hilir CPO, dengan fasilitas dan infrastruktur yang lengkap. Membangun dan memperbaiki jalan dan jembatan untuk memperlancar distribusi bahan baku dan produk jadi melalui dana bagi hasil (DBH) dan ditunjang oleh pemanfaatan sumber energi PLTA Salu uro, PLTA Karebbe, PLTA Balambanno, PLTA Kalaena dan PLTA Larona sebagai sumber energi. Hasil analisis, akumulasi ketiga informan menempatkan prioritas penyiapan infrastruktur pada prioritas ke-2 sementara hipotesis menetapkan pada posisi prioritas ke-3 sehingga Hipotesis 12 “belum diterima” pada populasi yang diteliti”

f) Penyederhanaan Perijinan

Proses perizinan yang rumit dan berbelit-belit dapat menghambat investasi dan memperlambat pengembangan industri hilir. Penyederhanaan perizinan dapat mengurangi hambatan regulasi dan mempercepat proses investasi.

Penyederhanaan perijinan dapat mereduksi faktor permintaan CPO negara yang berkembang akan sektor industri sehingga solusinya dengan melakukan hal yang

(8)

sama dengan mempermudah perijinan sektor industri yang menunjang kegiatan hilirisasi kelapa sawit.

Hal kongkrit yang dapat dilakukan dengan evaluasi secara berkala terhadap regulasi terkait industri kelapa sawit untuk mengidentifikasi dan menghapus regulasi yang tumpang tindih atau menghambat investasi. mengurangi interaksi fisik antara pelaku usaha dan petugas perizinan.

Mempublikasikan informasi tentang persyaratan, prosedur, dan biaya perizinan secara transparan di situs web resmi pemerintah. Mengharmonisasikan regulasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menciptakan kepastian hukum bagi pelaku usaha. Serta menggunakan Sistem Informasi Geografi untuk memetakan lahan kelapa sawit dan mengintegrasikan data perizinan. menetapkan standar waktu pelayanan yang jelas untuk setiap jenis perizinan.

Hasil analisis, akumulasi ketiga informan menempatkan prioritas penyederhanaan perijinan pada prioritas ke-6 sementara hipotesis menetapkan pada posisi prioritas ke-5 sehingga Hipotesis 13 “belum diterima” pada populasi yang diteliti”

Simpulan

Berdasarkan dari Analisa triangulasi sumber melalui metode wawancara sekaligus untuk menguji hipotesis sebelumnya, berdasarkan rumusan masalah pertama yaitu Faktor-faktor penyebab terjadinya ekspor Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut

1. Faktor Industri hilir belum berkembang. Hipotesis 1

“diterima” pada populasi yang diteliti.

2. Faktor produksi. Hipotesis 2 “belum diterima” pada populasi yang diteliti.

3. Faktor kurs/nilai tukar. Hipotesis 3 “diterima” pada populasi yang diteliti.

4. Faktor daya beli masyarakat negara tujuan. Hipotesis 4

“diterima” pada populasi yang diteliti.

5. Faktor jumlah penduduk negara tujuan. Hipotesis 5

“diterima” pada populasi yang diteliti.

6. Faktor harga internasional. Hipotesis 6 “diterima” pada populasi yang diteliti.

7. Faktor tingkat permintaan negara tujuan. Hipotesis 7

“diterima” pada populasi yang diteliti.

Berdasarkan rumusan masalah kedua yaitu arahan pengembangan konsep pengembangan hilirisasi kelapa sawit di Sulawesi Selatan dengan menerapkan faktor yang mereduksi rumusan masalah pertama. Maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut

1. Kepastian pasar. Hipotesis 8 “ belum diterima” pada populasi yang diteliti.

2. Komitmen pemerintah. Hipotesis 9 “diterima” pada populasi yang diteliti.

3. Dukungan moneter. Hipotesis 10 “ belum diterima” pada populasi yang diteliti.

4. Insentif perpajakan. Hipotesis 11 “ belum diterima” pada populasi yang diteliti.

5. Penyiapan infrastruktur. Hipotesis 12“ belum diterima”

pada populasi yang diteliti.

6. Penyederhanaan Perijinan. Hipotesis 13 “ belum diterima” pada populasi yang diteliti

Daftar Pustaka

Azahari, D. H. (2019). Hilirisasi Kelapa Sawit: Kinerja, Kendala, Dan Prospek. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 36 No. 2, 81-95.

Investasi/Bkpm, K. (2022). Executive Summary Peta Jalan (Roadmap) Hilirisasi Investasi Strategis 2023- 2040 Komoditas Biofuel. Investasi/Bkpm, Kementerian, Jakarta.

Irawan, B. (2021). Dampak Kebijakan Hilirisasi Industri Kelapa Sawit. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, 29 - 43.

Nuryanti, S. (2008). Nilai Strategis Industri Sawit. Analisis Kebijakan Pertanian, Volume 6 No. 4, 378-392.

Ojk. (2019). Kredit/Pembiayaan Perkebunan (Revisi Ed.).

Robbani, S. F., Fahmi, I., & Suprayitno, G. (2015). Sistem Implementasi Rencana Aksi Kebijakan. Jurnal Manajemen & Agribisnis, 12 , 137-149.

Siregar, M. A., Manullang, M., Siregar, R. T., & Damanik, S. E. (2019). Dampak Perusahaan Kelapa Sawit Ptpn - Iv Terhadap Kesejahteraan Sosial Masyarakat Dalam Pembangunanan Wilayah Di Desa Kedai Damar Kecamatan Pabatu Kabupaten Serdang Badagei. Jurnal Regional Planning, 1, 39- 53.

Referensi

Dokumen terkait