ASOSIASI PERLEBAHAN INDONESIA
ANGGARAN DASAR
ASOSIASI PERLEBAHAN INDONESIA ( API INDONESIA )
JAKARTA, JUNI 2022
MUKADIMAH
Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Asosiasi Perlebahan Indonesia (API Indonesia), dahulu bernama Masyarakat Perlebahan Indonesia dan adalah satu-satunya wadah kegiatan perlebahan yang bersifat Nasional di Indonesia, telah menjalankan kiprahnya sejak 20 Mei 1992 dalam upaya mewujudkan cita-cita Bangsa dan Negara Indonesia yakni masyarakat adil dan makmur sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu, diperlukan upaya pembaharuan dan perubahan yang terus menerus, baik secara perorangan, maupun kelompok, untuk mendorong kerjasama dan berbagai upaya yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan dan ekonomi komunitas perlebahan pada khususnya dan kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Sejalan dengan paradigma pembangunan masyarakat Indonesia yang berkembang pesat, setiap anggota komunitas Asosiasi Perlebahan Indonesia dituntut untuk peka dalam pola pikir dan adaptif dalam pola tindak dalam menjalankan proses pembangunan di bidang ekonomi, sosial, teknologi, serta aspek lainnya melalui usaha perlebahan yang dilakukannya.
Hal ini didorong oleh fakta bahwa usaha perlebahan merupakan salah satu kegiatan yang berperan membantu meningkatkan ekonomi, gizi, dan kesehatan masyarakat, serta menunjang kelestarian lingkungan, baik itu dijalankan sebagai pekerjaan pokok maupun sampingan.
Bahwa potensi perlebahan yang merupakan salah satu hasil hutan non kayu dan bahan ekspor perlu dikembangkan, dalam rangka menunjang produksi pangan, obat-obatan dan kosmetika, yang dapat meningkatkan budidaya perlebahan bagi masyarakat. Lebih jauh dari itu, lebah juga berperan penting dalam penyerbukan tanaman dan atau tumbuhan berbunga yang sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi pangan (baik buah dan atau biji) serta menjamin keberlanjutan populasi dan ragam jenis tanaman budi daya dan tumbuhan liar.
Bahwa untuk meningkatkan potensi Perlebahan tersebut diperlukan adanya koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi yang baik antara beberapa kegiatan tersebut. Atas dasar pemikiran sebagaimana tersebut di atas, maka diperlukan adanya Perkumpulan sebagai wadah kegiatan Perlebahan yang bersifat Nasional di Indonesia.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ini, yang dimaksud dengan:
1. Kegiatan Perlebahan, adalah suatu rangkaian kegiatan pemanfaatan lebah dan vegetasi penunjangnya untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat melalui usaha perlebahan dengan memperhatikan aspek kelestariannya.
2. Pemanfaatan lebah, adalah rangkaian usaha untuk mendapatkan suatu hasil dari lebah madu baik melalui kegiatan budi daya maupun pemungutan dari alam.
3. Jenis lebah, yaitu semua jenis lebah yang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil madu dan atau propolis dan lain-lain, baik yang tergolong dalam kelompok lebah bersengat (suku Apini) maupun tidak bersengat / kelulut (suku Meliponini).
4. Produk lebah, yaitu semua hasil alami yang dapat diperoleh dari lebah madu berikut hasil turunannya.
5. Usaha perlebahan, adalah kegiatan pemanfaatan lebah madu dengan maksud memperoleh keuntungan dari produk yang dihasilkan, baik barang (bibit / koloni, madu, serbuk sari, lilin lebah, propolis, dll), jasa (penyerbukan, pengobatan), maupun alat bantu dan perlengkapan pendukung kegiatan perlebahan.
6. Perkumpulan Perlebahan Indonesia atau Asosiasi Perlebahan Indonesia, adalah wadah Kegiatan Perlebahan yang bersifat Nasional di Indonesia.
BAB II
NAMA, WAKTU, TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 2
Nama
(1) Perhimpunan ini bernama Perkumpulan Perlebahan Indonesia atau Asosiasi Perlebahan Indonesia (disingkat API Indonesia), dan dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan
“INDONESIAN APICULTURAL ASSOCIATION”.
(2) API Indonesia pada tingkat Pusat dijalankan oleh Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Perlebahan Indonesia, disingkat DPP API Indonesia.
(3) API Indonesia pada tingkat provinsi dinamakan Asosiasi Perlebahan Indonesia Daerah, disingkat APIDA Propinsi, disertai nama provinsi yang bersangkutan. APIDA Propinsi dijalankan oleh Dewan Pengurus Daerah APIDA, disingkat DPD APIDA.
(4) API Indonesia pada tingkat daerah Kabupaten/Kota dinamakan Asosiasi Perlebahan Indonesia Daerah Kabupaten/Kota, disingkat APIDA Kabupaten/Kota, disertai nama kabupaten/kota yang bersangkutan. APIDA Kabupaten/Kota dijalankan oleh Dewan Pengurus Cabang APIDA, disingkat DPC APIDA.
Pasal 3 Waktu
Perkumpulan ini didirikan pada tanggal 20 Mei 1992 untuk jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya.
Pasal 4 Tempat Kedudukan
(1) DPP API Indonesia berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta.
(2) APIDA Provinsi berkedudukan di:
a. Ibukota provinsi yang bersangkutan; atau
b. Di salah satu kota yang menjadi pusat kegiatan perekonomian.
(3) APIDA Kabupaten/Kota berkedudukan di:
a. Ibukota kabupaten/kota yang bersangkutan; atau
b. Di salah satu pusat kegiatan perekonomian di kabupaten/kota yang bersangkutan.
BAB III
AZAS, SIFAT, DAN TUJUAN Pasal 5
Azas
Asosiasi Perlebahan Indonesia berazaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pasal 6 Sifat
API Indonesia dalam menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatannya bersifat tidak mencari keuntungan, independen, dijiwai etika kolaboratif sebagai mitra pemerintah dan Lembaga- lembaga berkepentingan lainnya.
Pasal 7 Maksud Dan Tujuan
(1) Maksud didirikannya API Indonesia adalah untuk membangun, mengembangkan, dan memajukan kegiatan perlebahan Indonesia.
(2) Tujuan dari API Indonesia adalah:
a. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota;
b. Menyediakan wahana tukar menukar informasi perlebahan baik antar anggota maupun dengan masyarakat nasional dan internasional;
c. Meningkatkan profesionalisme dalam kegiatan perlebahan dan membina hubungan dengan organisasi profesi lain di dalam dan di luar negeri;
d. Meningkatkan pemanfaatan dan pemasaran produk perlebahan anggota;
e. Memperjuangkan dan melindungi kepentingan anggota bagi kemajuan perkembangan perlebahan Indonesia, khususnya dalam rangka globalisasi;
f. Melakukan edukasi pasar untuk meningkatkan konsumsi madu dan meningkatkan ekonomi rakyat; dan
g. Mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlebahan.
BAB IV
FUNGSI DAN RUANG LINGKUP KEGIATAN Pasal 8
Fungsi
Asosiasi Perlebahan Indonesia sebagai perkumpulan merupakan mitra pemerintah dan lembaga-lembaga berkepentingan lainnya yang berfungsi sebagai wadah dan wahana komunikasi, informasi, konsultasi, fasilitasi, dan advokasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan perlebahan Indonesia yang lebih bertanggungjawab, akuntabel, transparan, dan profesional.
Pasal 9
Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup Kegiatan API Indonesia adalah memfasilitasi dan memperjuangkan kepentingan anggota, kelompok dan atau asosiasi-asosiasi lain di bawahnya yang aktif dalam kegiatan perlebahan, yakni Peternak Lebah Madu, Peternak Lebah Kelulut, Pemungut Madu Lebah Hutan, Pengusaha Produk Perlebahan, Apitherapist, Pakar Perlebahan, Pemerhati Perlebahan dan Penggiat Perlebahan yang aktifitasnya sejalan kebijakan API Indonesia serta tidak bertentangan dengan regulasi pemerintah.
BAB V
LAMBANG DAN ATRIBUT Pasal 10
Lambang
Penetapan lambang organisasi API Indonesia diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 11 Atribut
Atribut dari API Indonesia berupa Bendera, Vandel, dan Badge
BAB VI ORGANISASI
Pasal 12
(1) Untuk kelancaran organisasi dibentuk:
a. Pelindung;
b. Dewan Pembina;
c. Dewan Penasehat;
d. Dewan Pakar;
e. Pengurus API Indonesia; dan
f. Badan-Badan Tertentu sesuai kebutuhan.
(2) Pelindung API Indonesia di Tingkat Pusat adalah Menteri yang membidangi kegiatan perlebahan di Indonesia dan di Tingkat Daerah adalah Pejabat/Kepala Daerah setempat.
(3) Dewan Pembina API Indonesia di Tingkat Pusat adalah Pejabat Pemerintah tingkat Eselon I dan atau lembaga yang setara yang memiliki kewenangan dalam pengembangan perlebahan di Indonesia dan di Tingkat Daerah adalah Kepala-Kepala Dinas yang bidang kegiatannya berkaitan dengan kegiatan perlebahan.
(4) Dewan Penasehat API Indonesia adalah Tokoh-Tokoh Masyarakat/Praktisi yang memiliki dedikasi dan kepedulian tinggi dalam kegiatan perlebahan.
(5) Dewan Pakar API Indonesia adalah Peneliti dan atau Akademisi di bidang keahlian tertentu yang berhubungan langsung dengan kegiatan perlebahan.
(6) Dewan Penasehat, Dewan Pakar, dan Badan-Badan tertentu dibentuk oleh Pengurus Pusat API Indonesia, masing-masing bersifat otonom.
(7) Dewan Penasehat, Dewan Pakar, dan Pengurus Pusat API Indonesia bertanggungjawab kepada Musyawarah Nasional.
(8) Badan-badan otonom tertentu yaitu instansi organisasi yang bersifat taktis untuk menunjang tugas API Indonesia.
(9) Badan-Badan otonom bertanggungjawab kepada Pengurus Pusat API Indonesia.
(10) API Indonesia dapat membentuk API Indonesia di tingkat propinsi yang disebut API Daerah Propinsi.
(11) APIDA Provinsi dapat membentuk APIDA di tingkat Kabupaten atau Kota yang disebut APIDA Kabupaten/Kota.
BAB VII KEANGGOTAAN
Pasal 13
(1) Keanggotaan API Indonesia terdiri dari peternak lebah madu, peternak kelulut, pemungut madu lebah hutan, pengusaha perlebahan, apitherapist, pakar perlebahan, pemerhati perlebahan dan penggiat perlebahan.
(2) Keanggotaan API Indonesia terdiri dari tiga golongan, yaitu:
a. Anggota biasa, adalah mereka yang bekerja/berusaha dan atau mempunyai kepedulian yang kuat kepada perlebahan, sebagaimana dimaksud pada Ayat 1;
b. Anggota kehormatan, adalah perorangan yang karena keahlian, pengetahuan maupun jasanya, baik di tingkat nasional maupun internasional, dipandang perlu untuk
diangkat sebagai anggota; dan
c. Anggota luar biasa, adalah asosiasi profesi yang secara nyata kegiatannya menunjang kegiatan dan pertumbuhan masyarakat perlebahan Indonesia.
(3) Syarat-syarat dan ketentuan keanggotaan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART).
BAB VIII
PIMPINAN API INDONESIA Pasal 14
(1) Tingkat Pusat:
a. Pengurus Pusat adalah pelaksana eksekutif dan merupakan pimpinan organisasi tertinggi Asosiasi Perlebahan lndonesia;
b. Pengurus Pusat sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Jendral, dan Bendahara Umum;
c. Ketua Umum adalah pemimpin organisasi API Indonesia; dan d. Ketua Umum Pengurus Pusat dipilih dalam Musyawarah Nasional.
(2) Tingkat Daerah:
a. Pengurus Daerah adalah pelaksana eksekutif organisasi di tingkat daerah (APIDA);
b. Pengurus Daerah dipilih oleh dan bertanggungjawab kepada Musyawarah Daerah; dan c. Pengurus Daerah sekurang-kurangnya terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara.
(3) Masa jabatan pengurus API Indonesia di Pusat dan di Daerah selama 5 tahun.
BAB IX
RAPAT DAN MUSYAWARAH Pasal 15
Jenis Persidangan dan Rapat
(1) Persidangan, terdiri atas:
a. Musyawarah Nasional;
b. Musyawarah Nasional Luar Biasa, dan c. Musyawarah Daerah.
(2) Rapat, terdiri atas:
a. Rapat Pleno Lengkap Organisasi;
b. Rapat Rutin;
d. Rapat Koordinasi.
Pasal 16 Musyawarah
(1) Kekuasaan tertinggi organisasi berada di Musyawarah Nasional API Indonesia.
(2) Musyawarah Nasional:
a. Musyawarah Nasional adalah persidangan yang dihadiri oleh anggota di tingkat Nasional;
b. Musyawarah Nasional (Munas) diadakan setiap 5 (lima) tahun sekali;
c. Musyawarah Nasional dianggap sah bila dihadiri oleh 2/3 jumlah anggota; dan
d. Bilamana jumlah peserta Musyawarah Nasional tidak memenuhi ketentuan ayat 2 point c, maka Musyawarah Nasional ditunda selama 1 (satu) jam dan kemudian Musyawarah Nasional tetap diselenggarakan.
(3) Musyawarah Daerah:
a. Musyawarah Daerah adalah persidangan yang dihadiri anggota tingkat daerah;
b. Musyawarah Daerah diadakan 5 (lima) tahun sekali;
c. Musyawarah Daerah dianggap sah bila dihadiri oleh 2/3 jumlah anggota; dan
d. Bilamana jumlah peserta Musyawarah Daerah tidak memenuhi ketentuan ayat 3 point c, maka Musyawarah Daerah ditunda selama 1 (satu) jam dan kemudian Musyawarah Daerah tetap diselenggarakan.
Pasal 17 Peserta Musyawarah Nasional terdiri dari:
a. Dewan Penasehat yang memiliki 3 hak suara;
b. Pengurus API Indonesia yang lama memiliki 3 hak suara;
c. Pengurus API Daerah tingkat Propinsi/Kabupaten/ Kota yang masing-masing memiliki 1 hak suara; dan
d. Undangan dan Peninjau yang tidak memiliki hak suara.
Pasal 18 Rapat Pengurus
(1) Rapat Pleno Lengkap Organisasi adalah rapat yang dihadiri oleh segenap pengurus yang diadakan sekurang-kurangnya setiap 6 (enam) bulan sekali.
(2) Rapat rutin adalah rapat pengurus yang dilakukan secara periodik sedikitnya sebulan sekali sesuai dengan kebutuhan yang ada.
(3) Rapat Koordinasi adalah rapat pengurus terbatas yang dihadiri oleh beberapa anggota pengurus sesuai dengan kebutuhan.
Pasal 19
Keputusan rapat diambil dengan jalan musyawarah untuk mufakat. Apabila pengambilan tersebut tidak dapat dilaksanakan, maka keputusan ditetapkan dengan suara terbanyak.
BAB X KEUANGAN
Pasal 20
(1) Keuangan organisasi diperoleh melalui:
a. Iuran anggota;
b. Sumbangan donatur; dan
c. Usaha-usaha lain yang sah dan tidak mengikat.
(2) Kebijaksanaan keuangan organisasi diatur secara terbuka dan didayagunakan seefektif dan seefisien mungkin untuk kepentingan bersama.
(3) Tahun Anggaran dimulai tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember.
(4) Sebagian dari hasil daerah diserahkan untuk kepentingan API Indonesia dan pembagiannya diatur di Anggaran Rumah Tangga.
BAB XI
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR Pasal 21
(1) Rencana perubahan Anggaran Dasar dapat diajukan oleh Pengurus Pusat API Indonesia dan atau APIDA.
(2) Perubahan Anggaran Dasar dapat dipertimbangkan apabila diajukan oleh minimal ½ jumlah Pengurus Pusat dan atau APIDA.
(3) Anggaran Dasar ditetapkan/diubah hanya oleh Musyawarah Nasional atau Musyawarah Nasional Luar Biasa.
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN Pasal 22
Pembubaran organisasi dilakukan dalam suatu Rapat Anggota Luar Biasa tingkat nasional dengan dihadiri oleh minimal 2/3 jumlah anggota, dan dari 2/3 jumlah anggota yang hadir 2/3 bagian menyatakan setuju dibubarkan.
BAB XIII LAIN-LAIN
Pasal 23
(1) Anggota API Indonesia dapat berhimpun dan membentuk wadah atau organisasi keseminatan dengan menyesuaikan terhadap AD/ART API Indonesia.
(2) Hal-hal lain yang belum diatur dalam Anggaran Dasar akan dimuat dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 24
(1) Anggaran Dasar ini ditetapkan kembali dan disahkan serta dinyatakan mulai berlaku oleh Musyawarah Nasional pada tanggal 30 Juni 2022.
(2) Dengan disahkannya Anggaran Dasar ini, maka Anggaran Dasar lama dinyatakan tidak berlaku lagi.
Ditetapkan di : JAKARTA Pada tanggal : 30 Juni 2022
--- TIM PERUMUS :
TIM PERUMUS :
Dianita Kusumawardhani Kartika Kuntadi
Fransisca Natalia widowati