Korupsi “kecil” bisa diibaratkan penyakit ringan, efeknya tidak terlalu besar, sehingga efeknya tidak terlalu terasa, sedangkan korupsi “besar” seperti penyakit berbahaya atau penyakit kronis, efeknya bisa lebih serius lagi. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Anti Korupsi di Perguruan Tinggi.
TUJUAN AKHIR BERBAGAI UPAYA MENCEGAH DAN MENENTANG
Indonesia sudah memiliki lembaga yang khusus dibentuk untuk memberantas korupsi, namanya Komisi Pemberantasan Korupsi. Pada tahun 2020 mengikuti kegiatan Training of Trainer bagi dosen penunjang Mata Kuliah Pendidikan Antikorupsi yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBERANTASAN KORUPSI
Upaya pemberantasan korupsi yang terdiri dari dua bagian utama, yaitu: (1) penindakan dan (2) pencegahan, tidak akan pernah berhasil secara maksimal jika dilakukan oleh pemerintah sendiri tanpa melibatkan partisipasi masyarakat. Spanduk dan poster yang menyerukan penolakan terhadap segala bentuk korupsi 'harus' dipasang di kantor-kantor pemerintah sebagai media kampanye tentang bahaya korupsi.
ROLE MODEL NEGARA/DAERAH/INSTANSI
Pelayanan publik di Denmark memiliki sistem hukum, peraturan dan akuntansi yang sangat baik yang transparan dan sesuai dengan standar internasional. Selain itu, faktor pendukung yang berperan besar Denmark mendapatkan peringkat sangat baik pada Corruption Perceptions Index (CPI) 2013 hingga 2021 adalah faktor sumber daya manusia (SDM) dan kepercayaan masyarakat Denmark terhadap penyelenggaraan birokrasi pemerintahan yang selama ini dianggap bersih dan tidak korupsi (Zuni Asih Nurhidayati, 2020). Perlu diketahui bersama bahwa semangat antikorupsi merupakan hal yang lumrah atau mainstream di Denmark.
Negara Denmark menerapkan zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi di berbagai lembaga atau lembaga di pemerintahan (pemerintah). Salah satunya dengan menempatkan lembaga serupa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di setiap lembaga atau lembaga negara di Denmark. Sebagaimana diketahui publik, negara Denmark sebenarnya tidak memiliki lembaga antikorupsi yang terpusat seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Indonesia.
Menurut data yang dirilis oleh World Justice Project Institute, Denmark juga menempati urutan pertama sebagai negara dengan hukum terbaik di dunia. Meskipun Denmark adalah negara dengan indeks persepsi korupsi (CPI) yang kuat, negara Denmark ini juga tidak sepenuhnya bebas dari perilaku dan praktik korupsi yang mempengaruhi semua negara di dunia, tetapi dengan indeks persepsi korupsi (IPK) yang baik, Denmark adalah tentunya salah satu panutan atau contoh di dunia untuk pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi, sehingga negara Indonesia dalam hal ini dapat mencontoh apa yang telah dilakukan oleh negara Denmark untuk diadopsi dan digunakan dalam pemberantasan korupsi. permasalahan di tanah air, dimana tren penanganan kasus korupsi (TIPIKOR) di Indonesia pada tahun 2021 masih relatif fluktuatif.
DAMPAK KORUPSI DALAM BERBAGAI BIDANG
Hambatan struktural, yaitu hambatan yang timbul dari praktek penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang menyebabkan penanganan tindak pidana korupsi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Termasuk dalam kelompok ini adalah: masih adanya “sikap segan” dan toleransi di kalangan PNS yang dapat menghambat penanganan tindak pidana korupsi; Hambatan instrumental, yaitu hambatan yang timbul karena tidak adanya perangkat pendukung berupa peraturan perundang-undangan yang menyebabkan penanganan tindak pidana korupsi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Hambatan penatalaksanaan, yaitu hambatan yang timbul karena mengabaikan atau tidak melaksanakan prinsip-prinsip good governance (komitmen utama untuk dilaksanakan secara adil, transparan dan bertanggung jawab) yang menghambat penanganan tindak pidana korupsi berjalan sebagaimana mestinya. Selain untuk memberikan informasi kepada masyarakat, ketentuan ini juga sebagai sanksi moral bagi pelaku korupsi. Indonesia Corruption Wacth, Naskah Akademik dan RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Usulan Inisiatif Masyarakat.
UU no. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diubah dengan UU No. Beliau merupakan lulusan Program Sarjana (S1) Kesehatan Masyarakat dan Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat (S2) Pernah bekerja sebagai ASN/Dosen di Poltekkes Kemenkes Medan.
PERBANDINGAN ANTARA KERUGIAN KEUANGAN NEGARA
Pihak lain (termasuk perusahaan) yang dapat menunjukkan kebenaran materiil dalam penghitungan kerugian keuangan negara dan/atau dapat membuktikan perkara yang sedang ditanganinya. Definisi keuangan negara dalam UU Tipikor juga berbeda dengan UU Keuangan Negara dan UU BUMN. Kesulitan dapat ditemukan dalam mencoba untuk menentukan berapa banyak kerugian keuangan negara akibat korupsi dan berapa banyak uang kompensasi yang akan dibebankan kepada mereka yang dihukum, selain kesulitan terkait dengan bukti dalam persidangan korupsi.
Kerugian negara adalah berkurangnya keuangan negara berupa uang berharga, barang milik negara dari jumlah dan/atau nilai yang seharusnya. Suatu perbuatan dapat dikatakan merugikan keuangan negara asalkan terdapat kerugian negara yang nyata. Hal ini berbeda dengan Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor yang menjelaskan bahwa kerugian negara dalam konsep tindak pidana formil dikatakan “dapat” merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Hal ini harus menjadi perhatian semua pihak karena ganti rugi merupakan salah satu upaya untuk memulihkan kerugian ekonomi pemerintah (asset recovery). Perlu adanya suatu rumusan yang dapat menjadi model bagi auditor untuk digunakan dalam perhitungan kerugian keuangan negara yang akan dimasukkan dalam perkara kejaksaan selama persidangan.
PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR BIAYA SOSIAL KORUPSI
Analisis biaya sosial korupsi ini dibangun di atas kerangka biaya sosial kejahatan. Dibawah ini adalah komponen-komponen atau bagian-bagian yang ada pada biaya sosial korupsi yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Bahkan mengejar dan berusaha mengembalikan aset negara, mensosialisasikan pentingnya pencegahan korupsi terhitung sebagai biaya sosial yang dikeluarkan oleh negara.
Oleh karena itu, penerapan biaya sosial korupsi sebagai sanksi keuangan harus dioptimalkan oleh penegakan hukum yang ada. Artinya, jika biaya sosial korupsi dilaksanakan secara optimal, maka pelaku korupsi akan menghadapi sanksi finansial yang lebih berat. Para koruptor nantinya diharapkan membayar biaya sosial yang ditimbulkan akibat korupsi yang dilakukannya.
Dapat disimpulkan bahwa kerugian negara yang jelas akibat korupsi tidak sebanding dengan nilai dendanya. Meramal atau menaksir, bahkan menghitung secara rinci biaya yang ditimbulkan oleh tindak pidana korupsi tidaklah mudah.
DAMPAK KORUPSI, BIAYA SOSIAL KORUPSI DAN INDIKATOR
Namun, di antara keberhasilan tersebut selama ini, Indonesia masih menghadapi situasi yang tidak stabil dalam upaya pemberantasan korupsi. Dan terakhir, banyak orang yang skeptis terhadap agama yang bisa diandalkan sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi. Sementara itu, biaya sosial korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa lebih sulit untuk dihitung, bahkan di beberapa negara, biaya sosial korupsi tidak dapat didefinisikan tetapi masih dapat dihitung dari kerugian minimal (Mathew Heeks, 2018).
Pemberantasan korupsi di Indonesia bukanlah usaha yang mudah, berbagai upaya telah dilakukan sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 hingga sekarang. Pada awal Orde Baru, pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden No. 28 Tahun 1967 tentang pembentukan tim pemberantasan korupsi dan diperkuat dengan UU No. korupsi tidak dapat dilakukan secara optimal, bahkan dapat dikatakan nyaris tidak berhasil sehingga menimbulkan banyak demonstrasi. Upaya pemberantasan korupsi tidak berhenti pada titik ini, maka untuk memperkuat upaya tersebut, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun
Komisi Pemberantasan Korupsi telah menyusun Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) Tahun 2021-2022 yang resmi ditandatangani pada acara Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) 2020 pada 16 Desember 2020 yang menitikberatkan pada tiga hal yaitu; 1) Perizinan dan administrasi perdagangan; 2) keuangan Pemerintah; dan 3) Penegakan hukum dan reformasi birokrasi (SetnasPK, 2020). Masyarakat harus diberikan pengetahuan yang cukup di semua lapisan, agar dapat bekerjasama dalam upaya pemberantasan korupsi.
PENGERTIAN KORUPSI
Menurut Jeremy Pope, “Korupsi melibatkan perilaku pejabat di sektor publik, baik politisi maupun pegawai negeri sipil. Pengertian korupsi Menurut Nurdjana, korupsi berasal dari kata Yunani “corruptio” yang berarti perbuatan yang tidak baik, buruk. , curang, koruptif, asusila, menyimpang dari kesucian, melanggar norma kebendaan, kejiwaan, dan hukum agama.20 Tahun 2001 adalah perbuatan melawan hukum dengan tujuan memperkaya diri sendiri, orang lain atau korupsi yang menimbulkan kerugian negara atau perekonomian negara. Pengertian korupsi secara gamblang dijelaskan dalam 13 pasal dalam UU No.
Dari segi hukum, tindak pidana korupsi pada umumnya mencakup unsur-unsur seperti perbuatan melawan hukum, penyalahgunaan wewenang, kesempatan atau sarana, memperkaya diri sendiri, orang atau korporasi lain dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Menurut hukum di Indonesia, tindak pidana korupsi terdiri dari tujuh kelompok, yaitu terkait kerugian negara, penyuapan, penggelapan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan dan imbalan. Emerson Yuntho, Menerapkan Unsur Merugikan Keuangan Negara dalam Tindak Pidana Korupsi, Indonesia Corruption Watch, Jakarta, 2014.
IGM Nurdjana, Sistem Hukum Pidana dan Bahaya Laten Korupsi” Perspektif Penegakan Keadilan Terhadap Mafia Hukum, Perpustakaan Mahasiswa, Yogyakarta, 2010. Komisi Pemberantasan Korupsi, Pemahaman Untuk Pemberantasan: Buku Saku Untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi , Jakarta, 2006.
FAKTOR-FAKTOR DAN TEORI PENYEBAB KORUPSI
-FAKTOR DAN TEORI PENYEBAB KORUPSI. termasuk pemberian atau penerimaan hadiah atau janji dan suap, penggelapan jabatan, pemerasan jabatan, ikut serta dalam pengadaan dan penerimaan gratifikasi bagi pejabat atau penyelenggara pemerintahan. Faktor penyebab dapat berasal dari dalam diri pelaku korupsi, tetapi juga dapat berasal dari kondisi lingkungan yang kondusif bagi seseorang untuk melakukan korupsi. Cenderung merasa kekurangan pada apa yang dimilikinya dan hal ini akan mendorong orang tersebut untuk berbuat demikian.
Sedangkan menurut Isa Wahyuda (2007), seseorang yang tidak kuat moralnya mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Indah Sri Utami dan Agus Mulya Karsona mengatakan bahwa seseorang yang bermoral lemah mudah tergoda untuk melakukan tindakan korupsi. Godaan bisa datang dari atasan, rekan kerja atau kolega, bawahan atau pihak lain yang membuka peluang korupsi.
Gaya hidup seperti ini akan mendorong terjadinya korupsi karena penghasilan tidak mencukupi untuk memenuhi gaya hidup yang boros. Jika perilaku konsumsi tidak diimbangi dengan pendapatan yang cukup, maka akan membuka peluang bagi seseorang untuk melakukan berbagai tindakan guna memenuhi keinginannya.