• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARAH DAN KEBIJAKAN GREEN INVESTMENT

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "ARAH DAN KEBIJAKAN GREEN INVESTMENT"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

ARAH DAN KEBIJAKAN GREEN INVESTMENT

DISKUSI INTERAKTIF: MEWUJUDKAN INVESTASI PERUBAHAN IKLIM PERKEMBANGAN, TANTANGAN DAN PELUANG PADA FESTIVAL IKLIM 2018

Oleh:

Hanung Harimba Rachman

Direktur Perencanaan Industri Agribisnis dan Sumber Daya Alam Lainnya, BKPM

(2)

OVERVIEW KONDISI EMISI DI INDONESIA

(3)

TARGET NASIONAL UNTUK PENURUNAN EMISI (RPJMN 2015-2019)

• Target Indonesia, penurunan emisi GRK sekitar 26 persen pada tahun 2019

• Prioritas akan dilakukan di 5 (lima) sektor: kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri, dan limbah. Dengan sasaran pembangunan sebagai berikut:

No. Pembangunan Baseline 2014 Sasaran 2019

1 Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) 15,5% Turun 26%

2 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) 63,0-64,0 66,5-68,5

3 Tambahan Rehabilitasi Hutan 2 juta ha (dalam dan luar kawasan) 750 ribu ha (dalam kawasan)

Oil , 52%

Natural Gas, Coal, 15%

Hydro power, 3% Geothermal , 1%

Oil, 20%

Renewable energy; 17%*

Natural Gas, 30%

Biofuel (5%)

*): Keterangan

Roadmap Kebijakan Energi Nasional

(4)

EMISI DI INDONESIA

(5)

EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) SEKTORAL, 2000-2014

Energi 31%

Proses Industri dan Penggunaan Produk

3%

Pertanian 8%

Limbah 6%

Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan dan

Kehutanan 35%

Kebakaran Lahan Gambut

17%

(6)

SUMBER EMISI UTAMA PROVINSI DI INDONESIA

• Pada 2013 Indonesia baru mencapai 2.25% dari

keseluruhan target penurunan emisi gas rumah kaca di tingkat provinsi tahun 2020.

• Melihat bahwa Indonesia hanya memiliki sisa empat tahun, provinsi-provinsi di Indonesia harus mendorong implementasi yang lebih baik untuk mengejar

pencapaian target di tahun 2020.

(7)

KEBIJAKAN GREEN INVESTMENT

(8)

AMANAT UU PENANAMAN MODAL TERKAIT LINGKUNGAN HIDUP

No. Pasal Keterangan

1 Pasal 3 Ayat (1) Huruf h

Penanaman modal diselenggarakan berdasarkan asas berwawasan lingkungan (asas penanaman modal yang dilakukan dengan tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup)

2 Pasal 12 Ayat (3) Pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden menetapkan bidang usaha yang tertutup untuk

penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dengan berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan nasional, serta kepentingan nasional lainnya

3 Pasal 15 Huruf b Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat 4 Pasal 16 Huruf d Setiap penanam modal bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan hidup

5 Pasal 17 Penanam modal yang mengusahakan sumber daya alam yang tidak terbarukan wajib mengalokasikan dana secara bertahap untuk pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan hidup, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

6 Pasal 18 Ayat (3) Huruf g

Penanaman modal yang mendapat fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah yang sekurang-kurangnya memenuhi salah satu kriteria menjaga lingkungan hidup

7 Pasal 24 Huruf b Kemudahan pelayanan dan/atau perizinan atas fasilitas perizinan impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c dapat diberikan untuk impor barang yang tidak memberikan dampak negatif

terhadap keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, dan moral bangsa 8 Pasal 30 Ayat (7)

Huruf a

Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal, yang menjadi kewenangan Pemerintah

adalah penanaman modal terkait dengan sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat

(9)

RENCANA UMUM PENANAMAN MODAL (PERPRES NO. 16 TAHUN 2012)

Pasal 2 Perpres 16 Tahun 2012 mencantumkan bahwa arah kebijakan penanaman modal, meliputi:

• Perbaikan iklim penanaman modal

• Persebaran penanaman modal

• Fokus pengembangan pangan, infrastruktur, dan energi

Penanaman modal yang berwawasan lingkungan (Green Investment)

• Pemberdayaan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK)

• Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal

• Promosi penanaman modal

• Arah kebijakan penanaman modal yang berwawasan lingkungan (Green Economy), antara lain:

• Perlunya sinergi dengan kebijakan dan program pembangunan lingkungan hidup , khususnya program pengurangan emisi gas rumah kaca pada sektor kehutanan, transportasi, industri, energi, dan limbah, serta program pencegahan kerusakan keanekaragaman hayati

Pengembangan sektor-sektor prioritas dan teknologi yang ramah lingkungan, serta pemanfaatan potensi sumber energi baru dan terbarukan

Pengembangan ekonomi hijau (Green Economy)

Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal diberikan kepada penanaman modal yang mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup termasuk pencegahan pencemaran, pengurangan pencemaran lingkungan, serta mendorong perdagangan karbon (carbon trade)

• Peningkatan penggunaan teknologi dan proses produksi yang ramah lingkungan serta lebih

(10)

DEFINISI GREEN INVESTMENT

Green Investment adalah kegiatan penanaman modal yang berfokus kepada perusahaan atau prospek investasi yang memiliki komitmen kepada konservasi sumber daya alam, produksi serta penemuan sumber alternatif energi baru dan terbarukan (EBT), implementasi proyek air dan udara bersih, serta kegiatan aktivitas investasi yang ramah terhadap lingkungan sekitar.

• Fokus pengembangan ekonomi hijau (Green Economy) harus sejalan dengan tujuan pembangunan lingkungan hidup seperti: perubahan iklim, pengendalian kerusakan keanekaragaman hayati dan pencemaran lingkungan, serta penggunaan energi baru dan terbarukan

• Menurut Kementerian Perindustrian RI, Green Investment harus memiliki aspek:

• Penggunaan material input ramah lingkungan

• Intensitas material input rendah

• Penerapan konsep reduce, reuse, recycle, dan recovery

• Intensitas energi rendah

• SDM yang memiliki tingkat kompetensi dibidangnya dan memiliki wawasan lingkungan, khususnya efisiensi sumber daya

• Volume air yang digunakan lebih rendah dan memenuhi baku mutu lingkungan

Low carbon technology

• Penggunaan energi alternatif

(11)

RENCANA DAN REALISASI INVESTASI GREEN INVESTMENT, 2010-TW3/2017

No. Kelompok Bidang Usaha PMA (USD juta) PMDN (Rp miliar)

Rencana Realisasi % Realisasi Rencana Realisasi % Realisasi

1 Kehutanan (KBLI 02) 30,4 5,3 17,4 0,0 0,0 -

2 Pengusahaan Tenaga Panas Bumi (KBLI 0620) 1.087,1 864,9 79,6 4.605,2 0,0 0,0

3 Industri Pengolahan (KBLI 2011) 547,3 1.412,3 258,1 6.410,8 2.257,8 35,2

4 Pengadaan Listrik (KBLI 3510) 25.135,2 2.477,6 9,9 169.317,0 28.553,5 16,9

5 Pengelolaan Sampah dan Daur Ulang (KBLI 38) 392,3 3,3 0,8 1.572,4 53,1 3,4

• Kelompok sektor investasi yang berpotensi didorong sebagai investasi hijau (Green Investment):

• Kehutanan*

• Pengusahaan tenaga panas bumi (geothermal)

• Industri pengolahan (industri biofuel)

• Pengadaan listrik (EBT, biogas, sampah)

• Pengelolaan sampah dan daur ulang

Keterangan:

* Yang dikelola secara ramah lingkungan

Rencana dan Realisasi Investasi per Kelompok Bidang Usaha Potensial Investasi Hijau (Green Investment)

2010-TW3/2017

(12)

DAFTAR NEGATIF INVESTASI UNTUK GREEN INVESTMENT (1)

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN Dl BIDANG PENANAMAN MODAL

No. BIDANG USAHA KBLI DNI

Sektor Energi

1. Pengumpulan Sampah Tidak Berbahaya 38110 Terbuka 100%

2. Pengelolaan dan pembuangan sampah tidak berbahaya, dengan atau tanpa menghasilkan bahan bakar substitusi

38211 Terbuka 100%

3. Pengadaan gas bio, termasuk perngolahan bahan bakar gas yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebaga bahan bakar yang dihasilkan dari sampah/limbah

35203 Terbuka 100%

4. Jasa Pengoperasian dan Pemeliharaan Panas Bumi

06202 PMA Maks.90%

5. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dengan Kapasitas < 10 MW

35101 PMA Maks.67%

(13)

DAFTAR NEGATIF INVESTASI UNTUK GREEN INVESTMENT (2)

No. BIDANG USAHA KBLI DNI

Sektor Perdagangan

1. Jasa Survei Lingkungan Hidup 00000 PMDN 100%

Sektor Kehutanan

1. Pengusahaan Perburuan di Taman Buru dan Blok Buru

93193 93229

PMA Maks. 49%

2. Penangkaran Satwa dan Tumbuhan serta Lembaga Konservasi

0172 PMA Maks. 49%

3. Pengusahaan Pariwisata Alam berupa Pengusahaan Sarana, Kegiatan dan Jasa Ekowisata dalam Kawasan Hutan meliputi Wisata Tirta, Wisata Petuangalan Alam dan Wisata Gua

93241 93242 93243 93249 93223 93222

PMA Maks. 51% atau 70% bagi penanam modal dari negara-negara ASEAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG

TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN Dl BIDANG PENANAMAN MODAL

(14)

DAFTAR NEGATIF INVESTASI UNTUK GREEN INVESTMENT (3)

No. BIDANG USAHA KBLI DNI

Sektor Kehutanan

4. Pengadaan dan peredaran benih dan bibit tanaman hutan

46207 PMDN 100%

5. Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air di Kawasan Hutan

02209 PMDN 100%

6. Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar dari Habitat Alam

01711 01712 01713 01714 01715

PMDN 100% dan rekomendasi dari KLHK

7. Penangkapan Spesies Ikan yang Tercantum dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES)

10719 Tertutup

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG

TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN Dl BIDANG PENANAMAN MODAL

(15)

DAFTAR NEGATIF INVESTASI UNTUK GREEN INVESTMENT (4)

No. BIDANG USAHA KBLI DNI

Sektor Kelautan dan Perikanan

1. Budidaya Koral / Karang Hias 0172

7

Rekomendasi dari KLHK 2. Pemanfaatan koral / Karang dari Alam untuk

Bahan Bangunan / Kapur / Kalsium, Akuarium dan Souvenir / Perhiasan serta Koral Hidup atau Koral Mati dari Alam

0311 7

Tertutup

Sektor Perindustrian

1. Industri Bahan Aktif Pestisida 2021 1

Tertutup 2. Industri Bahan Kimia Industri dan Bahan Perusak

Lapisan Ozone

2011 9

Tertutup 3. Industri Bahan Kimia Daftar-1 Konvensi Senjata

Kimia Sebagaimana Tertuang Dalam Lampiran I

2011 9

Tertutup

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG

TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN Dl BIDANG PENANAMAN MODAL

(16)

INSENTIF FISKAL DAN NON-FISKAL BAGI GREEN INVESTMENT

BEA MASUK DITANGGUNG

PEMERINTAH

(Peraturan Menteri Keuangan No.76 Tahun 2012)

Untuk memenuhi penyediaan barang dan/atau jasa untuk kepentingan umum dan peningkatan daya saing industri tertentu di dalam negeri

Kriteriasektorindustri

FASILITAS BEA IMPOR

(Peraturan Menteri Keuangan No.76 Tahun 2012)

pengecualian bea impor selama 2 tahun atau 4 tahun untuk perusahaan yang menggunakan mesin produksi lokal (minimal 30%) dan dapat

diperpanjang 1 tahun.

Mesin, barang, bahan bakuuntukproduksi

Yang memproduksi barang dan/atau jasa dalam bidang:

1. Budaya dan Pariwisata 2. Transportasi Umum 3. Kesehatan Masyarakat 4. Pertambangan

5. Konstruksi 6. Telekomunikasi 7. Pelabuhan

Industri

Investasi baru atau

PMA & PMDN

Belum diproduksi di dalam negeri

• Sudah diproduksi di dalam negeri namun belum

memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan

• Sudah diproduksi di dalam negeri namun jumlahnya belum mencukupi

Kriteriabarang/ bahan impor

PEMBEBASAN PAJAK

(Peraturan Menteri Keuangan No.159 Tahun 2015)

5-10 tahun Pembebasan pajak , terhitung sejak tahap produksi komersial.

Industri pionir

1. Industri logam dasar;

2. Industri pemurnian minyak bumi dan/atau kimia dasar organik (biofuel) ; 3. Industri mesin;

4. Industri dengan sumber daya terbarukan;

5. Industri peralatan komunikasi.

50 % tambahan Pengurangan pajak dua tahun penghasilan setelah periode berakhir dan bisa diperpanjang.

Rp 1 trilliun minimal rencana investasi & badan hukum setelah

PENGURANGAN PAJAK

(Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 2016)

145 bidangusaha

Berhak masuk dalam kriteria, dari hanya 143 bidang dalam peraturan sebelumnya.

30 % darinilaiinvestasi

Pengurangan dari PPh badan netto selama 6 tahun, 5% per tahun.

Memenuhi persyaratan khusus antara lain: jumlah investasi dan tenaga kerja minimal,serta lokasi proyek (terutama di luar Pulau Jawa).

Pertanian

• Peternakan Sapi

• Jagung

• Kedelai

• Padi

• Buah Tropis

Pembangkit

• Geothermal

• Renewable energy

Minyak dan Gas

• Kilang Minyak

Industri Manufaktur

• Baja dan Besi

• Pakaian

• Semi konduktor

• Komponen Elektronik

• Komputer

• Alat Komunikasi

• Televisi

• Ban

• Farmasi

• Kosmetik

(17)

TAX ALLOWANCE UNTUK GREEN INVESTMENT (1)

PERATURAN PEMERINTAH NO. 18 TAHUN 2015 JO. NO.9 TAHUN 2016

FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU

No. BIDANG USAHA

KBLI CAKUPAN PRODUK PERSYARATAN

1. Industri mesin fotokopi

28174 Mesin fotokopi dan perlengkapan mesin fotokopi

Menggunakan teknologi ramah lingkungan

2. Industri mesin pendingin

28193 Evaporator dan kondensor untuk semua meisn pendingin

Menggunakan teknologi ramah lingkungan

3. Pembangkitan tenaga listrik

35101 Pengubahan tenaga energi baru (hidrogen, CBM,

batubara tercairkan atau batubara tergaskan)

dan energi terbarukan (tenaga air dan terjunan air, tenaga surya, angrn atau arus laut)

menjadi tenaga listrik.

4. Industri mesin fotokopi

28174 Mesin fotokopi dan perlengkapan mesin fotokopi

Menggunakan teknologi

ramah lingkungan

(18)

TAX ALLOWANCE UNTUK GREEN INVESTMENT (2)

No. BIDANG USAHA KBLI CAKUPAN PRODUK DAERAH / PROVINSI PERSYARATAN

6. Pengelolaan dan pembuangan sampah yang tidak berbahaya

38211 Listrik, uap, bahan bakar

substitusi, dan/atau biogas,

yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik

(Sludge dan POME (Palm Oil Mill

Elfluent) pabrik kelapa sawit.

Seluruh Provinsi di Indonesia kecuali DKI

Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yoryakarta, Jawa Timur (tidak termasuk Kabupaten di Pulau Madura), Sulawesi Utara, Sulawesi Barat,

Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

7. Pengusahaan tenaga panas bumi

06202 Pencarian - Pengeboran

- Pengubahan tenaga panas bumi menjadi tenaga listrik.

PERATURAN PEMERINTAH NO. 18 TAHUN 2015 JO. NO.9 TAHUN 2016

FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH

TERTENTU

(19)

TAX ALLOWANCE UNTUK GREEN INVESTMENT (3)

No. BIDANG USAHA

KBLI CAKUPAN PRODUK

DAERAH / PROVINSI

PERSYARATAN

8. Industri semen 23941 Bermacam semen (semen

hidrolik dan arang atau kerak

besi), seperti portland, natural, semen

mengandung aluminium, semen terak dan semen

superfosfat dan jenis semen lainnya.

Seluruh Provinsi di Indonesia kecuali Provinsi DKI

Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI yograkarta,

Jawa Timur (tidak termasuk

Kabupaten

di Pulau Madura), dan Sulawesi Selatan.

Menggunakan teknologi ramah lingkungan

PERATURAN PEMERINTAH NO. 18 TAHUN 2015 JO. NO.9 TAHUN 2016

FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH

TERTENTU

(20)

KEBIJAKAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU: SEKTOR KEHUTANAN

 Kontribusi sektor kehutanan dalam perubahan iklim;

(i) Meningkatkan peran hutan dalam penyerapan karbon, (ii) Pengembangan bioenergi,

(iii) Pembangunan dan infrastruktur hijau yang terkait dengan produk hutan.

 Pengelolaan sumberdaya hutan berkelanjutan;

(i) Penguatan kesatuan pengelolaan hutan, (ii) Penerapan sistem sertifikasi kayu,

(iii) Reforestasi kawasan hutan, pemulihan hutan terdegradasi serta perluasan hutan masyarakat,

(iv) Pembangunan hutan tanaman.

 Penyedia jasa lingkungan lainnya (selain emisi GRK penyebab perubahan iklim).

(21)

KEBIJAKAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU: SEKTOR ENERGI

 Penyediaan/PasokanEnergi Masih yang Bertumpu Pada Sumber Energi Terbarukan.

 Konservasi dan Efisiensi Energi.

(i) Inpres Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penghematan Energi dan Air, kepada semua lembaga pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

(ii) Penghematan pemakaian BBM Bersubsidi sebesar 10%, melalui

pengaturan pembatasan penggunaan BBM Bersubsidi bagi kendaraan di

lingkungan instansi masing-masing, dan di lingkungan BUMN dan BUMD,

yang dilakukan sepanjang BBM Non Subsidi tersedia di wilayah masing-

masing.

(22)

KEBIJAKAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU: SEKTOR PERTAMBANGAN

 Penggunaan teknologi bersih di pertambangan.

 Revegetasi dan integrasi perencanaan reklamasi dengan seluruh tahapan kegiatan penambangan.

 Reklamasi pada lahan bekas tambang berperan dalam mengurangi pemanasan global.

 Prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan

dengan reklamasi.

(23)

KEBIJAKAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU: SEKTOR INDUSTRI

 Pembangunan industri dengan menjaga keseimbangan ekosistem, memelihara sumberdaya yang berkelanjutan, menghindari eksploitasi sumberdaya alam dan menjaga fungsi pelestarian lingkungan.

 Mengeluarkan larangan memproduksi bahan perusak lapisan ozon serta memproduksi barang yang menggunakan bahan perusak lapisan ozon.

 Revisi Undang-Undang tentang Perindustrian, salah satunya adalah mengatur tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan industri hijau.

 Penyusunan rencana induk pengembangan industri hijau.

 Penyusunan standar industri hijau.

 Penyusunan katalog bahan baku dan bahan penolong ramah lingkungan.

(24)

POTENSI PENGEMBANGAN CLEAN ENERGY

Solar Power

Potential: 207.8 GW Utilized: 0.085 GW

Geothermal

Potential: 12.3 GW Reserve: 17.2 GW Utilized: 1.64 GW

Hydro Power

Potential: 75 GW Utilized: 5.12GW

Wind Power

Potential: 60.6 GW Utilized: 1.1 MW

Wave Power

Potential: 19.9 GW Utilized: 0 GW

Bioenergy

Potential: 32,6 GW

Utilized: 1.78 GW

(25)

INVESTASI DAN KEBUTUHAN PENDANAAN

(26)

PERAN INVESTASI TERHADAP GDP

Investasi cenderung mendahului GDP sekitar 1 hingga 4 kuartal sebelum GDP. Ini terlihat jelas pada periode pertengahan tahun 2001 hingga 2004 dan 2009-2015. Ini menarik, karena tahun-tahun dimana

Investasi bersifat prosiklikal mengikuti naik-turunnya GDP

(27)

PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI 2011 – TW III 2017 (Rp Triliun)

Share PMA:

62,1%

Share PMDN:

37,9%

FDI DDI

2011 2012 2013 2014 2015 2016 Jan-Sep 2017 Total

PMA 175,3 221,0 270,4 307,0 365,9 396,6 318,5 2.054,7

Target PMA 177,2 206,8 272,6 297,3 343,7 386,4 429,0 2.113,0

PMDN 76,0 92,2 128,2 156,1 179,5 216,2 194,7 1.042,9

Target PMDN 62,8 76,7 117,7 159,3 175,8 208,4 249,8 1.050,5

Total Realisasi 251,3 313,2 398,6 463,1 545,4 612,8 513,2 3.097,6

Total Target 240,0 283,5 390,3 456,6 519,5 594,8 678,8 3.163,5

% Realisasi 104,7% 110,5% 102,1% 101,4% 105,0% 103,0% 75,6%

Pertumbuhan (y-o-y) 21,6% 24,6% 27,2% 16,2% 17,8% 12,4% 13,2%

54%

46%

200 300 400 500 600 700

is as i P e nanam an M o dal (R p T ri liu n )

59%

58%

56%

58%

54%

46%

54%

46%

55,1%

44,9%

(Rp Triliun)

Rata-rata pertumbuhan investasi (y-o-y) selama

2011 – TW III 2017

19,0%

43,7%

Rata-rata realisasi

(28)

PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN

2011 2012 2013 2014 2015 2016 S1/2017

Primer Sekunder Tersier

PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI PER SEKTOR 2011 – TW III 2017

Sektor

2011 2012 2013 2014 2015 2016 Jan-Sept 2017

PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN PMA PMDN

(Rp Triliun)

Primer 44,0 16,5 53,4 20,4 61,1 25,7 75,2 16,5 77,9 17,1 61,3 27,7 60,4 32,6

Sekunder 61,1 38,5 105,9 49,9 149,9 51,2 140,1 59,0 147,0 89,0 229,0 106,8 139,8 73,0

Tersier 70,2 21,0 61,7 21,9 59,4 51,3 91,7 80,6 141,0 73,4 106,3 81,7 118,3 89,1

Total 175,3 76,0 221,0 92,2 270,4 128,2 307,0 156,1 365,9 179,5 396,6 216,2 318,5 194,7

251,3 313,2 398,6 463,1 545,4 612,8 513,2

Investasi sektor primer, 2011 – TW III 2017

PMA: 21,1 %

PMDN: 15,0%

Investasi sektor sekunder, 2011 – TW III 2017

PMA: 47,3%

PMDN: 44,8%

Investasi sektor tersier, 2011 – TW III 2017

PMA: 31,6%

PMDN: 40,2%

(29)

PROYEKSI INVESTASI DAN SUMBER PENDANAAN 2015-2019

(30)

TARGET INVESTASI DAN KEBUTUHAN PEMBIAYAAN RKP 2018

TARGET INVESTASI 2018

SUMBER PEMBIAYAAN INVESTASI 2018

 Sebagian besar dari kegiatan investasi masih bertumpu pada sumber internal perusahaan.

 Pendalaman lembaga keuangan

belum terjadi

(31)

5 (LIMA) SEKTOR PRIORITAS INVESTASI 2015 – 2019

1 INFRASTRUKTUR

35.000 MW Pembangkit

Listrik

24 Pelabuhan

2 PERTANIAN Food Estate Jagung Sapi

3 INDUSTRI

Padat Karya Tekstil Makanan dan

Minuman Furniture Alas Kaki Substitusi Impor Kimia &

Farmasi Besi & Baja Komponen

Orientasi Ekspor Elektronik

Kelapa Sawit dan Produk

Turunan

Produk kayu, kertas dan bubur kertas

Otomotif

Hilirisasi Kakao Gula Smelter

4 MARITIM Perkapalan Cold Storage Teknologi

Kelautan

5 PARIWISATA DAN KAWASAN 10 KEK

Pariwisata 8 KEK Existing 7 KEK Baru

14 Kawasan Industri prioritas dan

kawasan industri

16 Destinasi

Prioritas

Pariwisata

(32)

DUKUNGAN PERBANKAN TERHADAP INVESTASI

(33)

PERBANDINGAN SUKU BUNGA

PERBANDINGAN BUNGA DEPOSITO DAN KREDIT NEGARA-NEGARA ASEAN (%)

TINGKAT SUKU BUNGA DAN MARGIN SUKU BUNGA NEGARA-NEGARA ASEAN DAN BRICS

Sumber: Kompas, 29 Februari 2016

Menurut Faisal Basri (2016), suku bunga pinjaman di Indonesia masih tertinggi dibanding Negara-negara tetangga baik untuk suku bunga pinjaman maupun deposit:

 Beberapa negara ASEAN telah berhasil melakukan konsolidasi perbankan sehingga modal semakin kuat dan tercapai keekonomian skala (economies of scale), dan efisiensi meningkat.

 Pasokan kredit relatif besar, sehingga memunculkan persaingan

yang lebih ketat, Kredit domestik ke sektor swasta di Indonesia

(34)

KONSOLIDASI PERBANKAN DAN PENETRASI KREDIT

(35)

TRANSAKSI BERJALAN (USD JUTA)

(36)

PERANAN LEMBAGA KEUANGAN NON BANK HARUS DITINGKATAN

 Peranan lembaga-lembaga keuangan non bank belum signifikan yang diindikasikan dari share aset yang rendah, sehingga belum bisa menjadikan sumber pendanaan penting bagi investasi dan belum menjadi kompetitor bank.

 Bidang usaha yang semakin beragam

membutuhkan lebih banyak pilihan skema

pendanaan sesuai karakteristik bidang usahanya,

misalnya start up company di bidang e-commerce

(37)

PERINGKAT EODB

ASEAN+

China &

India

2018 2017 2016 2015

Singapore 2 2 3 1

Malaysia 24 23 22 17

Thailand 26 46 46 46

China 78 78 80 83

Vietnam 68 82 91 93

Indonesia 72 91 106 114 Philippines 113 99 99 97

India 100 130 131 134

Cambodia 135 131 128 133

Laos 141 139 136 139

Myanmar 171 170 171 177 No. 10 Indicator Ease of Doing

Business 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Total Rank of Indonesia 129 128 120 114 106 91 72

1 Starting a business 155 166 158 163 167 151 144

2 Dealing with construction permit 71 75 150 110 113 116 108

3 Registering property 99 98 112 131 123 118 106

4 Getting electricity 161 147 101 45 61 49 38

5 Paying taxes 131 131 158 160 115 104 114

6 Trading across boders 39 37 61 104 113 108 112

7 Getting credit 126 129 67 71 70 62 55

8 Protecting minority investor 46 49 43 87 69 70 43

9 Enforcing contract 156 144 171 170 171 166 145

10 Resolving Insolvency -- -- 71 73 74 76 38

Source: World Bank Group

Peringkat EODB Indonesia 2012-2018

Peringkat EODB Indonesia meningkat dari 129pada2012menjadi72pada2018

• Target Doing Business 2019: Peringkat 40

(38)

PERBAIKAN INDIKATOR DALAM EODB 2018

Indicator EODB 2017 EODB 2018 CHANGE

EODB Rank 91 72 19

Starting a Business 151 144 7

Dealing with Construction Permits

116 108 8

Getting Electricity 49 38 11

Registering Property 118 106 12

Getting Credit 62 55 7

Protecting Minority Investors

70 43 27

Paying Taxes 104 114 10

Trading across Borders 108 112 4

Enforcing Contract 166 145 21

Resolving Insolvency 76 38 38

(39)

PERBAIKAN KEMUDAHAN AKSES KREDIT YANG TELAH DILAKUKAN

(40)

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

Jln. Jend. Gatot Subroto No. 44 Jakarta 12190 - Indonesia

t . +62 21 525 2008

f . +62 21 525 4945

e . [email protected]

www.bkpm.go.id

Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC)

TERIMA

KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Pasal 5 ayat 2 ini berkaitan erat dengan pengertiannya pada Pasal 1 Angka 3 Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2007, bahwa “Penanaman modal asing adalah kegiatan menanam modal untuk