ARAH DAN KEBIJAKAN GREEN INVESTMENT
DISKUSI INTERAKTIF: MEWUJUDKAN INVESTASI PERUBAHAN IKLIM PERKEMBANGAN, TANTANGAN DAN PELUANG PADA FESTIVAL IKLIM 2018
Oleh:
Hanung Harimba Rachman
Direktur Perencanaan Industri Agribisnis dan Sumber Daya Alam Lainnya, BKPM
OVERVIEW KONDISI EMISI DI INDONESIA
TARGET NASIONAL UNTUK PENURUNAN EMISI (RPJMN 2015-2019)
• Target Indonesia, penurunan emisi GRK sekitar 26 persen pada tahun 2019
• Prioritas akan dilakukan di 5 (lima) sektor: kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri, dan limbah. Dengan sasaran pembangunan sebagai berikut:
No. Pembangunan Baseline 2014 Sasaran 2019
1 Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) 15,5% Turun 26%
2 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) 63,0-64,0 66,5-68,5
3 Tambahan Rehabilitasi Hutan 2 juta ha (dalam dan luar kawasan) 750 ribu ha (dalam kawasan)
Oil , 52%
Natural Gas, Coal, 15%
Hydro power, 3% Geothermal , 1%
Oil, 20%
Renewable energy; 17%*
Natural Gas, 30%
Biofuel (5%)
*): Keterangan
Roadmap Kebijakan Energi Nasional
EMISI DI INDONESIA
EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) SEKTORAL, 2000-2014
Energi 31%
Proses Industri dan Penggunaan Produk
3%
Pertanian 8%
Limbah 6%
Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan dan
Kehutanan 35%
Kebakaran Lahan Gambut
17%
SUMBER EMISI UTAMA PROVINSI DI INDONESIA
• Pada 2013 Indonesia baru mencapai 2.25% dari
keseluruhan target penurunan emisi gas rumah kaca di tingkat provinsi tahun 2020.
• Melihat bahwa Indonesia hanya memiliki sisa empat tahun, provinsi-provinsi di Indonesia harus mendorong implementasi yang lebih baik untuk mengejar
pencapaian target di tahun 2020.
KEBIJAKAN GREEN INVESTMENT
AMANAT UU PENANAMAN MODAL TERKAIT LINGKUNGAN HIDUP
No. Pasal Keterangan
1 Pasal 3 Ayat (1) Huruf h
Penanaman modal diselenggarakan berdasarkan asas berwawasan lingkungan (asas penanaman modal yang dilakukan dengan tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup)
2 Pasal 12 Ayat (3) Pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden menetapkan bidang usaha yang tertutup untuk
penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dengan berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan nasional, serta kepentingan nasional lainnya
3 Pasal 15 Huruf b Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat 4 Pasal 16 Huruf d Setiap penanam modal bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan hidup
5 Pasal 17 Penanam modal yang mengusahakan sumber daya alam yang tidak terbarukan wajib mengalokasikan dana secara bertahap untuk pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan hidup, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
6 Pasal 18 Ayat (3) Huruf g
Penanaman modal yang mendapat fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah yang sekurang-kurangnya memenuhi salah satu kriteria menjaga lingkungan hidup
7 Pasal 24 Huruf b Kemudahan pelayanan dan/atau perizinan atas fasilitas perizinan impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c dapat diberikan untuk impor barang yang tidak memberikan dampak negatif
terhadap keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, dan moral bangsa 8 Pasal 30 Ayat (7)
Huruf a
Dalam urusan pemerintahan di bidang penanaman modal, yang menjadi kewenangan Pemerintah
adalah penanaman modal terkait dengan sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat
RENCANA UMUM PENANAMAN MODAL (PERPRES NO. 16 TAHUN 2012)
• Pasal 2 Perpres 16 Tahun 2012 mencantumkan bahwa arah kebijakan penanaman modal, meliputi:
• Perbaikan iklim penanaman modal
• Persebaran penanaman modal
• Fokus pengembangan pangan, infrastruktur, dan energi
• Penanaman modal yang berwawasan lingkungan (Green Investment)
• Pemberdayaan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK)
• Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal
• Promosi penanaman modal
• Arah kebijakan penanaman modal yang berwawasan lingkungan (Green Economy), antara lain:
• Perlunya sinergi dengan kebijakan dan program pembangunan lingkungan hidup , khususnya program pengurangan emisi gas rumah kaca pada sektor kehutanan, transportasi, industri, energi, dan limbah, serta program pencegahan kerusakan keanekaragaman hayati
• Pengembangan sektor-sektor prioritas dan teknologi yang ramah lingkungan, serta pemanfaatan potensi sumber energi baru dan terbarukan
• Pengembangan ekonomi hijau (Green Economy)
• Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal diberikan kepada penanaman modal yang mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup termasuk pencegahan pencemaran, pengurangan pencemaran lingkungan, serta mendorong perdagangan karbon (carbon trade)
• Peningkatan penggunaan teknologi dan proses produksi yang ramah lingkungan serta lebih
DEFINISI GREEN INVESTMENT
• Green Investment adalah kegiatan penanaman modal yang berfokus kepada perusahaan atau prospek investasi yang memiliki komitmen kepada konservasi sumber daya alam, produksi serta penemuan sumber alternatif energi baru dan terbarukan (EBT), implementasi proyek air dan udara bersih, serta kegiatan aktivitas investasi yang ramah terhadap lingkungan sekitar.
• Fokus pengembangan ekonomi hijau (Green Economy) harus sejalan dengan tujuan pembangunan lingkungan hidup seperti: perubahan iklim, pengendalian kerusakan keanekaragaman hayati dan pencemaran lingkungan, serta penggunaan energi baru dan terbarukan
• Menurut Kementerian Perindustrian RI, Green Investment harus memiliki aspek:
• Penggunaan material input ramah lingkungan
• Intensitas material input rendah
• Penerapan konsep reduce, reuse, recycle, dan recovery
• Intensitas energi rendah
• SDM yang memiliki tingkat kompetensi dibidangnya dan memiliki wawasan lingkungan, khususnya efisiensi sumber daya
• Volume air yang digunakan lebih rendah dan memenuhi baku mutu lingkungan
• Low carbon technology
• Penggunaan energi alternatif
RENCANA DAN REALISASI INVESTASI GREEN INVESTMENT, 2010-TW3/2017
No. Kelompok Bidang Usaha PMA (USD juta) PMDN (Rp miliar)
Rencana Realisasi % Realisasi Rencana Realisasi % Realisasi
1 Kehutanan (KBLI 02) 30,4 5,3 17,4 0,0 0,0 -
2 Pengusahaan Tenaga Panas Bumi (KBLI 0620) 1.087,1 864,9 79,6 4.605,2 0,0 0,0
3 Industri Pengolahan (KBLI 2011) 547,3 1.412,3 258,1 6.410,8 2.257,8 35,2
4 Pengadaan Listrik (KBLI 3510) 25.135,2 2.477,6 9,9 169.317,0 28.553,5 16,9
5 Pengelolaan Sampah dan Daur Ulang (KBLI 38) 392,3 3,3 0,8 1.572,4 53,1 3,4
• Kelompok sektor investasi yang berpotensi didorong sebagai investasi hijau (Green Investment):
• Kehutanan*
• Pengusahaan tenaga panas bumi (geothermal)
• Industri pengolahan (industri biofuel)
• Pengadaan listrik (EBT, biogas, sampah)
• Pengelolaan sampah dan daur ulang
Keterangan:
* Yang dikelola secara ramah lingkungan
Rencana dan Realisasi Investasi per Kelompok Bidang Usaha Potensial Investasi Hijau (Green Investment)
2010-TW3/2017
DAFTAR NEGATIF INVESTASI UNTUK GREEN INVESTMENT (1)
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN Dl BIDANG PENANAMAN MODAL
No. BIDANG USAHA KBLI DNI
Sektor Energi
1. Pengumpulan Sampah Tidak Berbahaya 38110 Terbuka 100%
2. Pengelolaan dan pembuangan sampah tidak berbahaya, dengan atau tanpa menghasilkan bahan bakar substitusi
38211 Terbuka 100%
3. Pengadaan gas bio, termasuk perngolahan bahan bakar gas yang dapat dimanfaatkan secara langsung sebaga bahan bakar yang dihasilkan dari sampah/limbah
35203 Terbuka 100%
4. Jasa Pengoperasian dan Pemeliharaan Panas Bumi
06202 PMA Maks.90%
5. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dengan Kapasitas < 10 MW
35101 PMA Maks.67%
DAFTAR NEGATIF INVESTASI UNTUK GREEN INVESTMENT (2)
No. BIDANG USAHA KBLI DNI
Sektor Perdagangan
1. Jasa Survei Lingkungan Hidup 00000 PMDN 100%
Sektor Kehutanan
1. Pengusahaan Perburuan di Taman Buru dan Blok Buru
93193 93229
PMA Maks. 49%
2. Penangkaran Satwa dan Tumbuhan serta Lembaga Konservasi
0172 PMA Maks. 49%
3. Pengusahaan Pariwisata Alam berupa Pengusahaan Sarana, Kegiatan dan Jasa Ekowisata dalam Kawasan Hutan meliputi Wisata Tirta, Wisata Petuangalan Alam dan Wisata Gua
93241 93242 93243 93249 93223 93222
PMA Maks. 51% atau 70% bagi penanam modal dari negara-negara ASEAN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG
TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN Dl BIDANG PENANAMAN MODAL
DAFTAR NEGATIF INVESTASI UNTUK GREEN INVESTMENT (3)
No. BIDANG USAHA KBLI DNI
Sektor Kehutanan
4. Pengadaan dan peredaran benih dan bibit tanaman hutan
46207 PMDN 100%
5. Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air di Kawasan Hutan
02209 PMDN 100%
6. Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar dari Habitat Alam
01711 01712 01713 01714 01715
PMDN 100% dan rekomendasi dari KLHK
7. Penangkapan Spesies Ikan yang Tercantum dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES)
10719 Tertutup
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG
TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN Dl BIDANG PENANAMAN MODAL
DAFTAR NEGATIF INVESTASI UNTUK GREEN INVESTMENT (4)
No. BIDANG USAHA KBLI DNI
Sektor Kelautan dan Perikanan
1. Budidaya Koral / Karang Hias 0172
7
Rekomendasi dari KLHK 2. Pemanfaatan koral / Karang dari Alam untuk
Bahan Bangunan / Kapur / Kalsium, Akuarium dan Souvenir / Perhiasan serta Koral Hidup atau Koral Mati dari Alam
0311 7
Tertutup
Sektor Perindustrian
1. Industri Bahan Aktif Pestisida 2021 1
Tertutup 2. Industri Bahan Kimia Industri dan Bahan Perusak
Lapisan Ozone
2011 9
Tertutup 3. Industri Bahan Kimia Daftar-1 Konvensi Senjata
Kimia Sebagaimana Tertuang Dalam Lampiran I
2011 9
Tertutup
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG DAFTAR BIDANG USAHA YANG
TERTUTUP DAN BIDANG USAHA YANG TERBUKA DENGAN PERSYARATAN Dl BIDANG PENANAMAN MODAL
INSENTIF FISKAL DAN NON-FISKAL BAGI GREEN INVESTMENT
BEA MASUK DITANGGUNG
PEMERINTAH
(Peraturan Menteri Keuangan No.76 Tahun 2012)
Untuk memenuhi penyediaan barang dan/atau jasa untuk kepentingan umum dan peningkatan daya saing industri tertentu di dalam negeri
Kriteriasektorindustri
FASILITAS BEA IMPOR
(Peraturan Menteri Keuangan No.76 Tahun 2012)
pengecualian bea impor selama 2 tahun atau 4 tahun untuk perusahaan yang menggunakan mesin produksi lokal (minimal 30%) dan dapat
diperpanjang 1 tahun.
Mesin, barang, bahan bakuuntukproduksi
Yang memproduksi barang dan/atau jasa dalam bidang:
1. Budaya dan Pariwisata 2. Transportasi Umum 3. Kesehatan Masyarakat 4. Pertambangan
5. Konstruksi 6. Telekomunikasi 7. Pelabuhan
Industri
Investasi baru atau
PMA & PMDN
• Belum diproduksi di dalam negeri
• Sudah diproduksi di dalam negeri namun belum
memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan
• Sudah diproduksi di dalam negeri namun jumlahnya belum mencukupi
Kriteriabarang/ bahan impor
PEMBEBASAN PAJAK
(Peraturan Menteri Keuangan No.159 Tahun 2015)
5-10 tahun Pembebasan pajak , terhitung sejak tahap produksi komersial.
Industri pionir
1. Industri logam dasar;
2. Industri pemurnian minyak bumi dan/atau kimia dasar organik (biofuel) ; 3. Industri mesin;
4. Industri dengan sumber daya terbarukan;
5. Industri peralatan komunikasi.
50 % tambahan Pengurangan pajak dua tahun penghasilan setelah periode berakhir dan bisa diperpanjang.
Rp 1 trilliun minimal rencana investasi & badan hukum setelah
PENGURANGAN PAJAK
(Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 2016)
145 bidangusaha
Berhak masuk dalam kriteria, dari hanya 143 bidang dalam peraturan sebelumnya.
30 % darinilaiinvestasi
Pengurangan dari PPh badan netto selama 6 tahun, 5% per tahun.
Memenuhi persyaratan khusus antara lain: jumlah investasi dan tenaga kerja minimal,serta lokasi proyek (terutama di luar Pulau Jawa).
Pertanian
• Peternakan Sapi
• Jagung
• Kedelai
• Padi
• Buah Tropis
Pembangkit
• Geothermal
• Renewable energy
Minyak dan Gas
• Kilang Minyak
Industri Manufaktur
• Baja dan Besi
• Pakaian
• Semi konduktor
• Komponen Elektronik
• Komputer
• Alat Komunikasi
• Televisi
• Ban
• Farmasi
• Kosmetik
•
TAX ALLOWANCE UNTUK GREEN INVESTMENT (1)
PERATURAN PEMERINTAH NO. 18 TAHUN 2015 JO. NO.9 TAHUN 2016
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH TERTENTU
No. BIDANG USAHA
KBLI CAKUPAN PRODUK PERSYARATAN
1. Industri mesin fotokopi
28174 Mesin fotokopi dan perlengkapan mesin fotokopi
Menggunakan teknologi ramah lingkungan
2. Industri mesin pendingin
28193 Evaporator dan kondensor untuk semua meisn pendingin
Menggunakan teknologi ramah lingkungan
3. Pembangkitan tenaga listrik
35101 Pengubahan tenaga energi baru (hidrogen, CBM,
batubara tercairkan atau batubara tergaskan)
dan energi terbarukan (tenaga air dan terjunan air, tenaga surya, angrn atau arus laut)
menjadi tenaga listrik.
4. Industri mesin fotokopi
28174 Mesin fotokopi dan perlengkapan mesin fotokopi
Menggunakan teknologi
ramah lingkungan
TAX ALLOWANCE UNTUK GREEN INVESTMENT (2)
No. BIDANG USAHA KBLI CAKUPAN PRODUK DAERAH / PROVINSI PERSYARATAN
6. Pengelolaan dan pembuangan sampah yang tidak berbahaya
38211 Listrik, uap, bahan bakar
substitusi, dan/atau biogas,
yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik
(Sludge dan POME (Palm Oil Mill
Elfluent) pabrik kelapa sawit.
Seluruh Provinsi di Indonesia kecuali DKI
Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yoryakarta, Jawa Timur (tidak termasuk Kabupaten di Pulau Madura), Sulawesi Utara, Sulawesi Barat,
Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.
7. Pengusahaan tenaga panas bumi
06202 Pencarian - Pengeboran
- Pengubahan tenaga panas bumi menjadi tenaga listrik.
PERATURAN PEMERINTAH NO. 18 TAHUN 2015 JO. NO.9 TAHUN 2016
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH
TERTENTU
TAX ALLOWANCE UNTUK GREEN INVESTMENT (3)
No. BIDANG USAHA
KBLI CAKUPAN PRODUK
DAERAH / PROVINSI
PERSYARATAN
8. Industri semen 23941 Bermacam semen (semen
hidrolik dan arang atau kerak
besi), seperti portland, natural, semen
mengandung aluminium, semen terak dan semen
superfosfat dan jenis semen lainnya.
Seluruh Provinsi di Indonesia kecuali Provinsi DKI
Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI yograkarta,
Jawa Timur (tidak termasuk
Kabupaten
di Pulau Madura), dan Sulawesi Selatan.
Menggunakan teknologi ramah lingkungan
PERATURAN PEMERINTAH NO. 18 TAHUN 2015 JO. NO.9 TAHUN 2016
FASILITAS PAJAK PENGHASILAN UNTUK PENANAMAN MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAH-DAERAH
TERTENTU
KEBIJAKAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU: SEKTOR KEHUTANAN
Kontribusi sektor kehutanan dalam perubahan iklim;
(i) Meningkatkan peran hutan dalam penyerapan karbon, (ii) Pengembangan bioenergi,
(iii) Pembangunan dan infrastruktur hijau yang terkait dengan produk hutan.
Pengelolaan sumberdaya hutan berkelanjutan;
(i) Penguatan kesatuan pengelolaan hutan, (ii) Penerapan sistem sertifikasi kayu,
(iii) Reforestasi kawasan hutan, pemulihan hutan terdegradasi serta perluasan hutan masyarakat,
(iv) Pembangunan hutan tanaman.
Penyedia jasa lingkungan lainnya (selain emisi GRK penyebab perubahan iklim).
KEBIJAKAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU: SEKTOR ENERGI
Penyediaan/PasokanEnergi Masih yang Bertumpu Pada Sumber Energi Terbarukan.
Konservasi dan Efisiensi Energi.
(i) Inpres Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penghematan Energi dan Air, kepada semua lembaga pemerintah baik di pusat maupun di daerah.
(ii) Penghematan pemakaian BBM Bersubsidi sebesar 10%, melalui
pengaturan pembatasan penggunaan BBM Bersubsidi bagi kendaraan di
lingkungan instansi masing-masing, dan di lingkungan BUMN dan BUMD,
yang dilakukan sepanjang BBM Non Subsidi tersedia di wilayah masing-
masing.
KEBIJAKAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU: SEKTOR PERTAMBANGAN
Penggunaan teknologi bersih di pertambangan.
Revegetasi dan integrasi perencanaan reklamasi dengan seluruh tahapan kegiatan penambangan.
Reklamasi pada lahan bekas tambang berperan dalam mengurangi pemanasan global.
Prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan
dengan reklamasi.
KEBIJAKAN IMPLEMENTASI EKONOMI HIJAU: SEKTOR INDUSTRI
Pembangunan industri dengan menjaga keseimbangan ekosistem, memelihara sumberdaya yang berkelanjutan, menghindari eksploitasi sumberdaya alam dan menjaga fungsi pelestarian lingkungan.
Mengeluarkan larangan memproduksi bahan perusak lapisan ozon serta memproduksi barang yang menggunakan bahan perusak lapisan ozon.
Revisi Undang-Undang tentang Perindustrian, salah satunya adalah mengatur tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan industri hijau.
Penyusunan rencana induk pengembangan industri hijau.
Penyusunan standar industri hijau.
Penyusunan katalog bahan baku dan bahan penolong ramah lingkungan.
POTENSI PENGEMBANGAN CLEAN ENERGY
Solar Power
Potential: 207.8 GW Utilized: 0.085 GW
Geothermal
Potential: 12.3 GW Reserve: 17.2 GW Utilized: 1.64 GW
Hydro Power
Potential: 75 GW Utilized: 5.12GW
Wind Power
Potential: 60.6 GW Utilized: 1.1 MW
Wave Power
Potential: 19.9 GW Utilized: 0 GW
Bioenergy
Potential: 32,6 GW
Utilized: 1.78 GW
INVESTASI DAN KEBUTUHAN PENDANAAN
PERAN INVESTASI TERHADAP GDP
Investasi cenderung mendahului GDP sekitar 1 hingga 4 kuartal sebelum GDP. Ini terlihat jelas pada periode pertengahan tahun 2001 hingga 2004 dan 2009-2015. Ini menarik, karena tahun-tahun dimana
Investasi bersifat prosiklikal mengikuti naik-turunnya GDP
PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI 2011 – TW III 2017 (Rp Triliun)
Share PMA:
62,1%
Share PMDN:
37,9%
FDI DDI
2011 2012 2013 2014 2015 2016 Jan-Sep 2017 Total
PMA 175,3 221,0 270,4 307,0 365,9 396,6 318,5 2.054,7
Target PMA 177,2 206,8 272,6 297,3 343,7 386,4 429,0 2.113,0
PMDN 76,0 92,2 128,2 156,1 179,5 216,2 194,7 1.042,9
Target PMDN 62,8 76,7 117,7 159,3 175,8 208,4 249,8 1.050,5
Total Realisasi 251,3 313,2 398,6 463,1 545,4 612,8 513,2 3.097,6
Total Target 240,0 283,5 390,3 456,6 519,5 594,8 678,8 3.163,5
% Realisasi 104,7% 110,5% 102,1% 101,4% 105,0% 103,0% 75,6%
Pertumbuhan (y-o-y) 21,6% 24,6% 27,2% 16,2% 17,8% 12,4% 13,2%
54%
46%