Argumen Terhadap Kasus “Yati dan Mat Rawi” (Artikel)
Sebelum memutuskan suatu perkara, majelis Hakim terlebih dahulu mempunyai kewajiban untuk menasehati atau mendamaikan para penggugat atau tergugat didalam majelis persidangan. Upaya perdamaian atau proses mediasi yang dimaksud telah diatur pada Pasal 130 HIR ayat (1) bersifat imperatif artinya hakim berkewajiban untuk mendamaikan pihak- pihak yang bersengketa sebelum dimulainya proses persidangan. Hakim berusaha mendamaikan dengan cara sebaik mungkin agar ada titik temu sehingga tidak perlu ada proses persidangan yang lama dan melelahkan. Walaupun demikian, upaya damai yang dilakukan tetap mengedepankan kepentingan semua pihak sehingga semua merasa puas dan tidak ada yang merasa dirugikan. Oleh karena itu, bantuan mediator sangatlah penting untuk menghasilakan win-win solution yang dapat memberikan manfaat kepada para pihak karena tidak melahirkan kekalahan dan kemenangan akan tetapi mampu melestarikan hubungan harmonis para pihak.
Kewajiban hakim dalam mendamaikan pihak-pihak yang berperkara adalah sejalan dengan dengan tuntutan ajaran islam. Ajaran islam memerintahkan agar menyelesaikan setiap perselisihan yang terjadi diantara manusia sebaiknya diselesaikan dengan jalan perdamaian (ishlah).
Hakim mengupayakan semaksimal mungkin memberikan nasehat atau memberikan solusi yang terbaik kepada pihak penggugat atau tergugat, apabila hakim tidak menemukan solusi yang terbaik maka barulah kami mengambil tindakan sesuai prosedur yang ada di majelis persidangan. Sebelum memutuskan suatu perkara hakim melalukan musyawarah terlebih dahulu kepada penggugat atau tergugat didalam majelis persidangan, apabila sudah melakukan musyawarah terlebih dahulu, tetapi ada salah satu pihak yang tidak setuju atas putusan majelis ketua hakim didalam persidangan, maka pihak hakim menasehati dan memberikan ilmu pengetahuan kepada salah satu pihak yang tidak setuju atau tidak puas pada putusan hakim didalam majelis persidangan ditingkat pertama. Maka hakim memberikan kesempatan kepada salah satu pihak yang tidak setuju untuk menempuh jalur selanjutnya yaitu banding.
Strategi Hakim Dalam Mediasi Perkara Perdamaian
(1) strateginya dalam proses mediasi memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada masyarakat guna memberikan pemahaman terhadap proses mediasi secara mendalam dan
dengan mencoba menyentuh hatinya dengan memberikan pertimbangan mengenai dampak- dampak negatif dari proses perceraian .
(2) proses mediasi dengan cara tertutup sehingga apa yang menjadi sesuatu yang mengganjal hati dapat diungkapkan dalam proses mediasi dan juga memberikan waktu kepada kedua pihak untuk berbicara baik-baik guna mempertimbangkan dampak apabila terjadi perceraian.
Dari hal tersebut mediator dapat memberikan penjelasan untuk menyelesaikan permasalahaannya secara baik-baik.
(3) setiap mediator seharusnya memiliki keinginan yang besar untuk mendamaikan para pihak sehingga jika ada pihak yang telah memberikan kuasanya kepada seorang pengacaranya, agar pengacara tersebut mampu menjadi mediator pula diluar pengadilan.
Penyelesaian sengketa perceraian melalui mediator di Pengadilan Agama belum berjalan
efektif dengan faktor sebagai berikut:
a. Para hakim mediator telah menjalankan amanat Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, namun belum efektif hasilnya dikarenakan faktor fasilitas dan saran, kepatuhan masyarakat serta kebudayaan.
b. Keterbatasan SDM yaitu jumlah hakim yang telah memiliki sertifi kat mediator.
c. Kurang efektifnya hakim yang merangkap menjadi mediator dalam segi waktu karena volume perkara besar sedangkan hakim sedikit.
d. Belum adanya evaluasi dan belum adanya peraturan mahkamah Agung tentang kriteria keberhasilan hakim dan insentif bagi hakim yang menjalankan fungsi mediator.
Hambatan bagi mediator dalam penyelesaian perkara cerai gugat di Pengadilan Agama dipengaruhi oleh beberapa faktor penghambat antara lain adanya keinginan kuat untuk bercerai sehingga para pihak tidak dapat dipersatukan kembali, pelaksanaan mediasi terlalu singkat, faktor sosiologis dan faktor psikologis, dan pihak ketiga.