31 A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penulis melakukan penelitian selama ± 12 bulan melaksanakan praktek laut diatas kapal KM. ARMADA SENADA dengan bendera INDONESIA isi kotor: 5.320 Tons. Pemilik kapal: PT. Salam Pacific Indonesia Lines, beralamat di Jalan Kalianak No 51F Surabaya yang dioperasikan di NCV.
Berikut Ship Particular kapal KM. Armada Senada:
Gambar 4.1 Ship Particulars
Sumber: Ship Particulars Mv. Armada Senada
Di atas kapal KM. Armada Senada memiliki daftar awak kapal (Crew List) yang berjumlah 21 awak kapal, termasuk Nakhoda dan Kepala Kamar Mesin.
Awak kapal tersebut terdiri dari 3 Perwira deck, 3 Perwira Mesin,1 Markonis, 1 Electrician, 1 Boatswain, 1 Mandor Mesin, 3 Juru minyak, 3 Juru mudi, 1 Koki, 2 Deck Cadet. Dari ke 21 awak kapal tersebut berwarganegaraan Indonesia.
B. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, penelitian dilakukan pada waktu taruna melakukan praktek berlayar di MV. Armada Senada. Penulis akan memaparkan faskta-fakta yang didapatkan selama melakukan penelitian dilapangan mengenai hubungan atas sesama awak kapal yaitu antara atasan (perwira) dan bawahan (anak buah kapal) khususnya pada bagian deck. Dalam melakukan penelitian ini penulis melakukan observasi dan wawancara kepada perwira kapal di kapal MV. Armada Senada berikut ini penulis akan memaparkan secara rinci tentang hasil penelitian di MV. Armada Senada. Penelitian dilakukan penulis ketika praktek berlayar di kapal MV. Armada Senada milik PT. Salam Pacific Indonesia Lines yang beralamat JL. Kalianak No. 51F Surabaya.
Dalam bab ini penulis akan menjelaskan hasil penelitian sebagai berikut :
1. Hasil Observasi
Dari hasil observasi sumber Perwira Deck tentang jenis kepemimpinan diatas kapal memang perbedaan sendiri dan perbedaan ini sebagian besar
ditunjukkan karena karakter dan pendidikan masing-masing perwira diatas kapal taruna beragam. Berikut penjelasannya:
1. Kapten
Dengan tugas dan tanggung jawab tertinggi diatas kapal yaitu memastikan keselamatan pelayaran dan keselamatan para awak kapal.
Sebagai pimpinan tertinggi diatas kapal kapten diatas kapal taruna telah mengeyam pendidikan tertinggi di akademi pelayaran yaitu ANT-1 (AHLI NAUTIKA TINGKAT 1) dari observasi taruna dan keterangan beberapa awak kapal Kapten diatas kapal taruna termasuk pribadi yang plegmatis karena seperti yang dijelaskan beliau adalah orang yang tidak suka terburu-buru, tenang, tidak mudah dipengaruhi, setia, dingin, santai dan sabar. Memiliki pertimbangan yang matang terhadap segala hal.
Sedangkan gaya kepemimpinan kapten diatas kapal taruna adalah partisipatif beliau turut andil dan meninjau segala aspek yang dikerjakan bawahannya tidak segan meminta dan memberi saran pada bawahannya secara langsung.
Dengan karakter tersebut tentunya kapten dikapal taruna menjadi pemimpin yang sangat didengarkan oleh awak kapal taruna dari setiap keputusan dan tugas yang diperintahkan selalu diterima dengan baik oleh awak kapal. Huabungan antara kapten dan awak kapal pun baik.
2. Mualim 1
Sebagai perwira yang bertanggungjawab atas kedisiplinan awak, pekerjaan dan tanggung jawab perwira, awak, maupun kadet deck. Dan bertanggung jawab atas muatan yang ada dikapal. Sebagai tangan kanan
kapten dan orang yang berpotensi mengemban tugas sebagai seorang kapten mualim 1 (chief officer) memiliki tanggung jawab yang sangat besar diatas kapal bahkan suaranya pun selalu didengarkan oleh kapten dan perusahaan. Seluruh kinerja anak buah kapal sampai pada seorang kadet diatas kapal menjadi tanggung jawab penuh mualim 1 mulai dari kebiasaan dan karakter sangat dipantau oleh mualim 1. Mualim 1 dikapal taruna memiliki pendidikan yang sama dengan kapten yaitu ANT 1 (AHLI NAUTIKA TINGKAT 1) hanya saja yang membedakan adalah ilmu dan pengalaman. Sesuai observasi taruna dan keterangan beberapa awak kapal Mualim 1 dikapal taruna memiliki karakter dominan di korealis yaitu seorang yang optimis, penuh semangat dan teguh terhadap keputusannya.
Meskipun tidak sepenuhnya menyerupai karakter korealis namun yang dominan adalah karakter tersebut. Gaya kepemimpinan beliau adalah partisipatif sama halnya seperti kapten, beliau selalu meninjau langsung dan ikut andil bagian dalam beberpa pekerjaan. Namun terkadang mualim 1 diatas kapal taruna dalam mengambil keputusan sering terburu-buru dan kurang meperhatikan pendapat awak kapal, seringkali terjadi perselisihan antara mualim 1 dan awak kapal seperti ketika proyek kerja harian dengan bostwain seringkali chief dan bostwain berselisih.
3. Mualim 2.
Sebagai seorang perwira navigasi dan bakal calon dari seorang chief tentunya mualim 2 memiliki pendidikan setingkat dibawah mualim 1 namun dikapal taruna mualim 2 memiliki tingkat pendidikan ANT 3. Tapi ternyata hal tersebut tidak terlalu berpengaruh besar pada kinerjanya
meski begitu mualim 2 tidak kalah cerdas dari mualim senior dikapal taruna. Dari observasi taruna dan keterangan awak kapal kepribadian mualim 2 taruna yaitu seorang sanguins yaitu berkepribadian ramah, mudah bergaul, lincah, periang, mudah senyum, dan tidak mudah putus asa. Selalu periang dan penuh pengharapan, menganggap segala sesuatu yang dihadapi amat penting, tapi segera dapat melupakannya sama sekali sesaat kemudian. Pada mualim 2 taruna mengambil banyak pelajaran penting beliau merupakan sesorang yang memotivasi dan sangat peduli terhadap setiap awak kapal. Gaya kepemimpinan mualim 2 adalah Pengasuh dalam hal ini mualaim 2 seringkali membimbing taruna atau awak kapal sampai menemukan jawaban yang benar, bahkan tidak segan mengajari abk tanpa pamrih. Saya pribadi melihatnya sebagai seorang kakak pengasuh, setiap hal yang beliau ajarkan dapat dengan mudah di tangkap dan tak sungkan mengoreksi setiap kesalahan taruna ketika praktek berlayar. Hal itu membuat mualim 2 sangat didengarkan baik atasan maupun bawahannya.
4. Mualim 3.
Sebagai seorang perwira junior dan bertanggung jawab terhadap alat keselamatan diatas kapal dan menjabat pada titik terendah seorang perwira dengan tingkat pendidikan ANT 3 (AHLI NAUTIKA TINGKAT 3) seorang mualim 3 perlu berjuang keras dalam bidang nya. Tidak jarang seorang mualim 3 yang baru menjabat atau fresh graduation berselisih paham dengan abk (anak buah kapal) karena dinilai dia kurang kompeten dan kurang berpengalaman. Tentunya hal tersebut juga terjadi diatas
kapal taruna. Dari observasi taruna dan pendapat awak kapal mualim 3 diatas kapal taruna memiliki karakter koleris mudah berapi-api, seorang yang optimis, penuh semangat dan teguh terhadap keputusannya.
Memang terkadang beliau masih sering terburu–buru dalam mengambil keputusan dan sukar membedakan mana keputusan yang harus didahulukan, tapi semangat belajar dan kinerjanya sangat tinggi, dia masih dapat berkembang dari keterangan kapten. Dia juga tidak sungkan bertanya ke perwira senior maupun setiap orang untuk mengetahui hal yang belum dia pahami. Gaya kepemimpinannya adalah Gaya yang berorientasi pada tugas hal tersebut membuat dia memprioritaskan segala tugas yang ada didepan mata meskipun tidak sepenuhnya dapat terlaksana dengan baik. Terlepas dari hal-hal tersebut anak buah kapal sangat akrab dan menghargai setiap keputusan dan perintah yang diberikan oleh mualim 3 karena dia membangun ikatan yang baik dengan anak buah kapal.
5. Manajemen Kepemimpinan.
Setelah melakukan wawancara dengan Nakhoda KM. Armada Senada didapatkan beberapa informasi bahwa sebenarnya para perwira di kapal ini belum sepenuhnya memahami tentang bagaimana cara memanage anak buah yang benar, terkdang para perwira masih sukar memahami bagaimana kepribadian anak buahnya dan cara memerintah yang benar sehingga terjadi selisih paham antara keduanya. Seperti yang pernah terjadi antara Mualim 1 dan Bostwain seharusnya program kerja yang dilakukan adalah membersihkan deck karena kapal sedang perjalanan masuk ke surabaya tapi
bostwain memaksa mengecat di haluan. Sebenernya masalah tersebut dapat diselesaikan jika terjadi komunikasi yang baik antara keduanya namun karena perwira terkadang memerintah dengan semena-mena sehingga terjadilah ketidak harmonisan antara Mualim 1 dan bostwain.
Cara menerapkan manajemen kepemimpinan untuk memotivasi anak buah adalah dengan cara percaya pada anak buah bahwa mereka memiliki kemampuan terbaik. Mengapresiasi dan melakukan penilaian terhadap kerja para anak buah. Disisni perwira dituntut agar bisa mengambil setiap keputusan dengan bijak. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang pemimpin harus bisa memastikan pada anak buahnya bahwa dia layak dan sanggup untuk memimpin anak buah dengan baik.
Sumber daya manusia yang dapat diperkerjakan di kapal Yaitu SDM yang sudah siap bekerja di kapal, dengan keterampilan dan kecakapan pelaut yang mencukupi dan yang paling utama adalah sehat rohani dan jasmani.
Kepemimpinan yang otoriter atau hirarki tidak dapat membuat anak buah kapal termotivasi karena pemimpin ini tidak menyukai adanya rapat/musyawarah dan memaksa kehendaknya, sehingga anak buah dapat merasa tertekan. Sejauh ini para perwira sudah memimpin dengan baik kepada anak buahnya, hanya saja terkadang jika dihadapkan pada situasi yang mendesak ada perwira yang kadang tergesa-gesa sehingga perintah yang diberikan terkesan sembrono. Seperti ketika kapal menuju banjarmasin dan didepan ada sekumpulan nelayan perwira memberi perintah untuk tetap lurus tanpa merubah haluan sehingga terjadi perdebatan antara awak dan perwira.
Bertepatan dengan pergantian jam jaga perwira jaga selanjutnya
memerintahkan untuk merubah haluan dan menghindari nelayan. Keputusan tersebut dirasa yang paling tepat.
Menurut keterangan kapten taruna kepribadian manusia itu berbeda-beda juntuk dapat memerintah anak buah dengan benar sebelumnya kita harus bisa memahami karakter anak buah tersebut dengan cara pendekatan terlebih dahulu, setelah itu jika kita bisa diterima maka setiap perintah yang kita berikan meskipun itu terkesan berat pasti mereka laksnakan dan tanpa mengeluh. Cara mendidik cadet agar menjadi perwira yang pantas memimpin memimpin diatas kapal. Ketika dia dididik di akademinya pasti sudah mendapat sedikit wawasan bagaimana cara memipin, selanjutnya ketika di kapal kita hanya perlu memberikan pengalaman nyata dan memberikan persoalan yang dihadapkan dengan keputusan-keputusan yang harus dia ambil, masa 1 tahun itulah yang bisa memoles semua kriteria untuk menjadi seorang pemimpin. Jika terjadi perselisihan antara perwira dan anak buah, Ada beberapa cara namun yang baik untuk dilakukan adalah dengan melakukan musyawarah, dengan cara saling bertatap muka secara langsung karena dengan cara tersebut kita bisa langsung mengetahui pokok masalah yang terjadi dan masalah bisa diselesaikan dengan putusan yang adil terhadap kedua belah pihak sehingga kedepannya tidak akan menyimpan ganjalan di hatinya masing-masing.
Setiap tahunnya sekolah-sekolah dan akademi-akademi pelayaran menghasilkan perwira-perwira kapal niaga yang siap untuk ditempatkan pada semua jenis kapal-kapal dalam pelayaran niaga ataupun pelayaran non niaga baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Perwira-perwira tersebut dituntut
bertanggung jawab dan loyal dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya, serta kepada perusahaan dan dapat menggerakkan anak buahnya di atas kapal agar dapat bekerja sama sehingga didapat hasil kerja yang diinginkan bersama.
Selama penulis melaksanakan praktek laut di atas kapal MV.
ARMADA SENADA, penulis pernah melihat kerancuan yaitu berselisih paham antara anak buah kapal dan perwira dalam menjalankan tugas dan perintah yang telah diberikan oleh Nahkoda. Perintah yang diberikan kepada perwira dan kadang kala tidak dilaksanakan, bahkan perwira memberikan perintah yang bertentangan dari perintah Nahkoda. Sehingga seringnya para anak buah kapal menjadi bingung, dan hal ini tentu saja membuat suasana kerja di atas kapal tidak kondusif sehingga membuat ketidaknyamanan dalam bekerja.
Penulis pernah dihadapkan pada beberapa masalah yang terjadi di atas kapal yang dilakukan perwira maupun anak buah. Padahal hal tersebut dapat membuat ketidakharmonisan dan dapat menimbulkan perselisihan antara perwira dan anak buah. Dan tidak jarang pula terjadi pertikaian antara perwira dan anak buah kapal. Dan masalah-masalah tersebut sering kita dengar dan lihat. Peranan kepemimpinan di atas kapal sangat penting sebagai jembatan antara perusahaan dengan para bawahannya, begitu pula antara perwira dan anak buah di atas kapal. Perusahaan akan merasa senang dan diuntungkan bila suasana kerja kondusif dan tidak terjadi kesemrawutan dalam organisasi.
Sebagai pemimpin yang baik, hendaknya para perwira tersebut bisa memilih masalah yang terjadi, apakah itu masalah pekerjaan atau masalah
keluarga yang dihadapi. Sering kali penulis melihat para perwira mencampurkan masalah keluarga dengan masalah kerja, yang tentu saja hal ini dapat berakibat buruk terhadap kelangsungan kerja. Para perwira sering dihadapkan dengan masalah-masalah yang terjadi di atas kapal dan bagaimana perwira tersebut menghadapi masalah yang sedang terjadi tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Faktor-faktor yang terjadi dalam pengoperasian kapal dan kenyamanan serta perawatan yang baik terhadap seluruh inventaris kapal, serta kebersihan adalah menjadi faktor utama. Kita sering mendengar apabila perawatan dilakukan dengan baik dan kebersihan selalu diutamakan, semua orang yang melihat pasti akan bertanya-tanya siapakah Nahkoda kapal itu dan jika seseorang naik ke atas kapal maka mereka akan bertanya, dari lulusan akademi manakah Nahkoda tersebut dan apakah ijazahnya? Sehingga dapat kita simpulkan bahwa peranan kepemimpinan di atas kapal juga tergantung dari latar belakang pendidikan seorang pemimpin.
Penulis pernah mengalami masalah yaitu ketika kapal sedang sandar dan melakukan bungker air tawar, setelah pergantian jaga perwira dan abk pengganti terlambat datang karena usai pesiar sehingga datang ke pos jaga mereka tidak mengetahui berapa juumlah air yang sudah terisi dan saat itu ketika melakukan tugas dinas jaga perwira dan abk tertidur sehingga tidak mengecek jumlah air yang masuk ke dalam tangki forepeak, akhirnya air meluap dan memasuki store di forepeak. Penulis dalam hal ini melihat secara langsung kepemimpinan perwira yang tidak sesuai dengan ciri-ciri dan sifat dari seorang pemimpin. Pada saat seorang perwira menjalankan tugasnya di atas kapal, maka dia harus dapat menjadi contoh dan mengayomi anak
buahnya. Kedisiplinan merupakan kunci utama seorang perwira di dalam bekerja dan merupakan contoh yang patut ditiru oleh anak buah. Bawahan akan merasa aman dan nyaman dalam melakukan pekerjaannya apabila seorang pemimpin atau perwira yang memimpinnya dapat menjadi seorang sahabat dan atasan yang baik. Banyak juga para bawahan atau anak buah kapal yang tidak patuh ataupun tidak melaksanakan tugas yang diberikan oleh perwira. Hal ini disebabkan karena para bawahan atau anak buah merasa kurang diperhatikan oleh perwira, dan kadang kala perwira juga hanya sekedar “main” perintah tanpa bisa mempertanggungjawabkan perintah yang diberikan. Dan tersebut tentu saja dapat menyebabkan perselisihan ataupun beda paham antara perwira dan anak buah. Dalam hal ini tentu saja perwira yang bersalah, tetapi karena kekuasaan dan jabatan yang lebih tinggi, maka banyak perusahaan yang memutuskan bahwa anak buah kapal lah yang bersalah. Sebagai seorang perwira dan pemimpin yang baik, hendaklah perwira tersebut mengetahui dan dapat memahami apa yang sedang terjadi dengan bawahannya.
Penulis juga mendapat masukan dari rekan-rekan sesama pelaut yang mengalami kejadian serupa yaitu pada saat tugas jaga mereka juga dihadapkan dengan perwira jaga yang sedang tidur dan dengan terpaksa mereka melaksanakan tugas jaga sendiri, dan juru mudi pun melakukan pengamatan sendiri dan apabila terjadi hal yang meragukan dan menyebabkan bahaya baru akan membangunkan perwira jaga. Tetapi bagaimana apabila juru mudi tersebut juga tertidur, maka dapat kita bayangkan bila terjadi bahaya akan mengancam keselamatan jiwa seluruh crew kapal. Bagaimana tanggung jawab
nahkoda apabila melihat hal tersebut dan apa tindakan yang dilakukan kepada perwira dan juru mudi tersebut. Pentingnya kedisiplinan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan perlu diterapkan secara dini dalam diri kita masing- masing.
C. Pembahasan
Kepemimpinan mempunyai gaya yang berbeda dan dari temuan masalah di atas, penulis dapat menemukan pokok permasalahan yang terjadi yaitu kurangnya disiplin dan kesadaran perwira dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka. Seorang pemimpin sering dihadapkan pada masalah- masalah dan keputusan-keputusan yang harus diambil, apakah keputusan itu telah sesuai dan dapat dijalankan oleh anak buahnya. Di sini kepemimpinan merupakan produk dari karakter dan pendidikan. Setiap orang dilahirkan menjadi seorang pemimpin dan sikap pemimpin harus diterapkan sejak dini agar kelak dapat menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana.
Nahkoda merupakan pemimpin tertinggi di kapal dan bertanggung jawab penuh atas seluruh kapal baik anak buah kapal maupun muatan yang ada di atas kapal dan juga kapal itu sendiri. Dalam menjalankan tugas- tugasnya Nahkoda dibantu oleh perwira di bawahnya baik di bagian deck maupun bagian mesin yang satu sama lain saling berhubungan dan harus bekerjasama dengan baik. Perwira-perwira tersebut telah diberi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan jabatannya di kapal. Karena tanggung jawab Nahkoda sangat luas, maka bagian di kapal dibagi dua bagian yaitu bagian
deck yang dipimpin oleh Chief Officer dan bagian mesin dipimpin oleh Chief Engineer.
Nahkoda sebagai pemimpin tertinggi di atas kapal juga mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar seluruh crew kapal. Kepemimpinan seorang Nahkoda maupun perwira kapal di peroleh dari pendidikan akademi masing-masing. Kini dapat kita ketahui bahwa para nahkoda maupun perwira kapal lainnya mempunyai sifat pembawaan untuk menjadi seorang pemimpin.
Banyaknya pertentangan-pertentangan dalam memberikan tugas serta perselisihan di atas kapal dikarenakan kurang rasa saling menghormati antar perwira dan persaingan dalam mencari kedudukan.
Seorang pemimpin juga perlu memberikan penilaian kerja tidak hanya sekedar menilai, yaitu mencari pada aspek apa awak kapal kurang atau lebih tetapi lebih luas lagi, yaitu membantu awak kapal untuk mencapai kerja yang diharapkan oleh perusahaan dan berorientasi terhadap pengembangan kerja anak buah kapal. Tugas ataupun perintah yang tidak jelas tentu tidak akan memotivasi kerja anak buah kapal. Dalam evaluasi penilaian kerja setiap pemimpin ataupun perwira dapat memberikan masukan yang bersifat membangun terhadap bawahannya agar kejadian yang terjadi di masa lalu tidak terulang kembali dan dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Akademi-akademi pelayaran hanya menumbuhkan sikap percaya diri dan disiplin dalam tubuh perwira, seseorang harus bisa memimpin dengan baik di mana perwira tersebut memimpin. Seorang pemimpin atau perwira di atas kapal harus bisa menjalankan dua peran dengan baik, yaitu sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang sahabat. Pada saat melakukan tugas-
tugasnya perwira tersebut adalah seorang pemimpin, sedang dalam keadaan tertentu atau istirahat perwira tersebut dapat menjadi seorang sahabat yang baik dengan mendengarkan cerita atau masalah yang sedang di hadapi anak buah kapal. Sebagai seorang sahabat, perwira tersebut harus bisa menampung masalah-masalah yang di hadapi dalam pekerjaan perwira harus bertukar pikiran dengan perwira lain dan juga dengan anak buahnya. Seorang perwira mendapat pendidikan kepemimpinan dari akademi dan kemudian di praktekkan di dalam pekerjaan sehingga dapat menjadikan pemimpin yang dari berpendidikan lebih baik dari pemimpin yang terbentuk dari pembawaan.
Seorang pemimpin harus bekerja keras, mempersiapkan diri guna mengenal bidang mereka dengan sesama. Terkadang perwira masih terburu-buru dan tidak memikirkan aspek efektifitas kerja dalam mengambil keputusan dengan tanpa bermusyawarah atau pemberitahuan kepada anak buah terlebih dahulu.
Kepemimpinan tidak dapat dilaksanakan dengan baik tanpa didasari dengan rasa tanggung jawab beserta sikap disiplin, karena tanpa tanggung jawab dan disiplin tidak akan diperoleh hasil kerja yang efektif ataupun tidak sesuai dengan apa yang diinginkan bersama. Anak buah juga akan lebih segan dan patuh kepada perwira yang disiplin dan bertanggung jawab.
45
Berdasarkan analisa serta pemecahan masalah, maka penulis dapat mengambil simpulan dan saran sebagai berikut :
A. SIMPULAN
Gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh Nahkoda dan para perwira kapal MV. Armada Senada sangatlah beragam yaitu gaya partisipatif, pengasuh dan orientasi pada tugas dan tanggungjawab. Dengan karakter dan pendidikannya mereka melakukan pendekatan yang menurut mereka itulah yang terbaik, respon dari anak buah menunjukkan bahwa perwira nya pantas untuk dijadikan panutan. Menurut tupoksi kepemimpinan perwira diatas kapal
“cukup” baik.
Dalam hal ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan, karakter dan pendidikan sangat berperan penting terhadap kinerja, hubungan (keharmonisan) anak buah kapal.
B. SARAN
Sebagai bagian terakhir penulis memberikan suatu saran yang berhubungan dengan peranan kepemimpinan di kapal berdasarkan dari sifat pembawaan dan pendidikan sebagai berikut :
1. Perlunya seorang pemimpin memiliki pengetahuan tentang kepemimpinan yang tepat yang telah dipelajari dalam akademi ilmu pelayaran untuk menjadi perwira dan pemimpin yang sesuai harapan serta
dapat bertanggung jawab dalam mengemban tugasnya dalam bekarja diatas kapal, maka dalam kepemimpinannya harus bisa memahami bagaimana situasi dan karakter anak buahnya juga harus lebih bijak dalam mengambil suatu keputusan agar dapat di pertanggung jawabkan.
Penerapan disiplin dalam berbagai bidang pendidikan serta displin dalam mejalankan tugas harus lebih di tingkatkan lagi agar menjadi seorang perwira yang cakap dan matang serta bertanggung jawab.
2. Pendidikan kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan diatas kapal ataupun perusahaan tempat kita bekerja. Setiap pemimpin harus mempunyai tujuan dalam mengambil suatu keputusan ataupun tindakan, dan tindakan ataupun keputusan yang diambil harus sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Nilai seorang pemimpin banyak ditentukan oleh berhasil atau tidaknya dalam menjalankan tugas yang telah diberikan oleh perusahaan. Semua aturan-aturan dan sanksi yang ada harus diperhatikan dan dipatuhi. Seorang pemimpin bukan hanya bertugas memberikan perintah kepada bawahan ataupun anak buah, tetapi bertanggung jawab atas keputusan yang telah diberikan. Nahkoda dan perwira diatas kapal harus menjalankan kepemimpinan yang baik dan benar agar di dapatkan hasil yang sesuai rencana.