Asbab al-Nuzul (Dialektika Teks dengan Realitas)
ADRIAN
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar 1. Pendahuluan
Khaszanah keilmuan dalam bidang tafsir al-Qur’an memang perlu diapresiasi yang sampai hari ini mengalami proses dialektis di kalangan cendekiawan Muslim, maupun dari kalangan akademisi yang memusatkan perhatian pada kajian al-Qur’an. Hal ini tentu masih menjadi tanda tanya yang besar terkait misteri al-Qur’an sebagai kalamullah yang acapkali ingin dipecahkan melalui penalaran dan penelitian studi Qur’an.
Untuk mencapai tujuan mulia ini, para ulama merumuskan metodelogi dalam menafsirkan al-Qur’an. Karena kewajiban bagi seorang muslim dalam menafsirkan al-Qur’an adalah hendaknya ketika menafsirkan al-Qur’an ia merasa bahwa dirinya adalah Penerjemah Allah Ta’ala sebagai saksi atas-Nya tentang apa- apa yang Dia kehendaki dari kalam-Nya, sehingga dia mengagungkan persaksian ini dan takut mengatakan tentang Allah tanpa ilmu.1 Allah berfirman dalam QS. al- Isra’/17: 36 yang berbunyi :
ٖهِب َكَل َسْيَل اَم ُفْقَت اَلَو ا ً
ل ْو ُٔـ ْس َم ُهْن َع نا َ َ ك َكِٕىٰۤلو ُ
ا ُّ
ل ُ ك َدا َؤ ف ُ ْ
لا َو َر َصَب ْ
لا َو َع ْم َّ سلا َّ
ن ِاۗ ٌم ْ ل ِع ٣٦
Terjemahnya :
“Dan janganlah mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua akan di minta pertanggungjawabannya”2
Asbab al-nuzul atau sebab-sebab turunnya al-Qur’an merupakan bagian yang terintegrasi dalam setiap proses penafsiran terhadap al-Qur’an. Bagian ini tentu mengindikasikan bahwa untuk memperoleh hasil penafsiran yang objeketif dan sejalan dengan ketentuan studi Qur’an harus melibatkan berbagai unsur yang terkait di dalamnya, termasuk dalam hal asbab al-nuzul. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengkaji lebih jauh terkait asbab al-nuzul yang di dalamnya mengalami berbagai temuan di kalangan mufassir.
1Muhammad Utsaimin, Pengantar Ilmu Tafsir (Jakarta: Darus Sunnah, 2008), h. 60.
2Kementrian Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Sukses Publishing, 2019), h. 285.
2. Metode Penulisan
Penelitian ini merupakan studi literatur yang berupaya untuk menggali berbagai tulisan, jurnal, artikel ataupun buku yang membahas terkait asbab al-nuzul (dialektika teks dengan realitas).
3. Pembahasan
Pengertian Asbab al-Nuzul
Kata Asbabun Nuzul terdiri dari kata Asbab dan An-Nuzul. Asbab dapat berarti sesuatu yang menyampaikan kepada sesuatu yang lain, tali, tambang.
Sedangkan an-Nuzul berarti menempati atau menempati tempat mereka.3 Sedangkan secara terminologi ada beberapa pengertian yang diberikan oleh para ulama ulumul Qur`an. Di antaranya: Az-Zarqaniy menyebutkan: “Sabab Nuzul ialah sesuatu (yang karena sesuatu itu menyebabkan) turun satu atau beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara tentangnya atau menjelaskan hukumnya disaat sesuatu itu terjadi.” Manna’ Al-Qaththan menyebutkan : “Sababun Nuzul ialah sesuatu yang dengan keadaan sesuai itu al-Qur’an diturunkan pada waktu sesuatu itu terjadi seperti suatu peristiwa atau pertanyaan.
Berdasarkan dua definisi Asbab Nuzul diatas maka dapatlah diformulasikan bahwa asbab nuzul ialah sesuatu yang karena sesuatu itu menyebabkan satu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan yang berbicara tentangnya atau menjelaskan hukumnya disaat sesuatu itu terjadi. Yang dimaksud dengan sesuatu itu sendiri ada kalanya berbentuk kejadian atau pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah saw.
Adapun ayat yang diturunkan karena suatu peristiwa menurut az-Zarqaniy ada tiga bentuk. Pertama, peristiwa khusumah (pertengkaran) yang sedang berlangsung, semisal perselisihan antara kelompok Aus dan Khazraj yang disebabkan oleh propokasi kaum Yahudi sampai mereka berteriak “as-silah, as- silah” yang berarti senjata, senjata. Kedua, Peristiwa berupa kesalahan yang keji yang dilakukan oleh seseorang. Ketiga, Peristiwa mengenai cita-cita dan harapan.4
Az-Zarqaniy juga mengatakan bahwa tidak semua ayat atau beberapa ayat mempunyai asbab an-Nuzul, diantaranya ayat yang berbicara tentang peristiwa atau keadaan masa lampau dan masa yang akan datang. Seperti kisah nabi-nabi dan umat terdahulu dan juga peristiwa tentang as-Sa`ah (kiamat) dan yang berhubungan dengannya. Ayat-ayat seperti ini banyak terdapat dalam al-Qur`an al-Karim.5
3Ibnu Manzur, Lisan al-Arab Jilid 14 (Beirut: Dar Sadir, t.t.), h. 237.
4Syukraini Ahmad, Asbab al-Nuzul : Urgensi dan Fungsinya dalam Penafsiran Ayat al- Qur’an”. Jurnal El-Afkar Vol 7 No 2 2018, h. 96-98.
5Muhammad Abdul Azhim az-Zarqaniy, Manahilul `Irfan fi `Ulum al-Qur`an (Cet.I, Beirut: Darul Kitab al-`Arabiy, 1415 H/1995 M), h. 90-91.
Senada dengan az-Zarqaniy, Syaikh al-Ja`bari juga mengatakan bahwa al-Qur`an diturunkan dalam dua bagian. Bagian pertama, al-Qur`an diturunkan secara ibtida`
(tidak terikat dengan sabab nuzul) dan bagian kedua, al-Quran diturunkan berdasarkan peristiwa dan pertanyaan (yang merupakan sabab nuzul).6
Al-Ibrah bi ‘Umum al-Lafzh la bi Khusus al-Sabab
Pada bagian ini penulis perlu mendefinisikan terlebih dahulu beberapa istilah penting. Pertama, al umum secara bahasa al-‘am bermakna al-syamil yaitu mencakup keseluruhan. Dan secara istilah berarti suatu lafaz yang definisinya meliputi seluruh yang mestinya termasuk ke dalamnya, tanpa ada batasannya.7 Jalaluddin al-Suyuthi mendefinisikan makna al-‘am sebagai sebuah lafaz yang mencakup pada seluruh satuan yang mencakupinya dan tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Subkhi al-Saleh menerangkan di dalam kitabnya, bahwasanya lafaz al-‘am merupakan suatu lafaz yang menunjukkan pengertian umum sesuai dengan makna aslinya, tidak dibatasi jumlahnya serta tidak pula menunjukkan bilangan tertentu.
Al- Ghazali menjelaskan lafaz al- ‘am adalah suatu lafaz yang menunjukkan kepada dua makna atau lebih. Al-Bazdawi mengatakan lafaz al-‘am adalah lafaz yang mencakup di dalamnya semua yang sesuai dan cocok untuk lafaz tersebut dalam satu lafaz.
Kedua, al-khusus atau lafaz khas (khusus) merupakan antonim dari lafaz
‘am (umum). Imam al-Bazdawi menjelaskan definisi khas sebagai Setiap lafaz yang diperuntukkan untuk satu makna yang menyendiri dan tidak mungkin mengandung makna lain.8 Al-Amidi dan al-Khudahari Beik mendefinisikan al-khsusu sebagai suatu makna yang hanya memiliki satu objek dan tidak berlaku secara keseluruhan.
Sedangkan Manna al- Qaththan, lafaz khas adalah lafaz yang tidak mencakup semua apa yang pantas meliputinya tanpa ada pembatasan.
Ketiga, lafaz sabab secara etimologis berarti sebab, ‘illat, alasan, wasilah, perantara, asal, sumber, pendorong dan jalan. Sebagaimana sunnatullah yang ada di alam ini. Segala sesuatu memiliki sebab dan porsinya. Pemahaman terhadap ayat- ayat al-Quran yang Allah turunkan juga membutuhkan kepada sebab turunnya suatu ayat tersebut sehingga terhindar dari kekeliruan dan juga sangat bermanfaat bagi kita dalam menetapkan takwil dan tafsir yang benar.
Dari sini dapat diketahui bahwa kaidah al-ibrah bi ‘umum al-lafzh la bi khusus al-sabab merupakan kaidah yang telah dirumuskan oleh ulama terdahulu dan kebanyakan mereka telah bersepakat atas kebenaran kaidah ini. Syeikh Manna al-Qathan dalam kitabnya berpendapat bahwa, jika asbabun nuzul itu bersifat
6Jalaluddin Abdurrahan bin Abi Bakr as-Suyuthiy, al-Itqan fi Ulum al-Qur`an (Cet.I, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2010), h. 48.
7Ismardi, “Kaidah- kaidah Tafsir Berkaitan dengan Kaidah Ushul Menurut Khalid Usman Al-Sabt”, dalam jurnal pemikiran Islam, Vol. 39, No. 01. 2014, h. 60.
8Misbahuddin, Ushul Fiqhi II ( Makassar: CV. Berkah Utami, 2015), h. 11.
khusus. Sedangkan ayat itu turun dengan redaksi yang umum. Para ahli ushul berbeda pendapat berkaitan dengan masalah ini.
Pertama, kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah lafaz yang umum, bukan sebab yang khusus. Dan pendapat ini, dinilai yang paling kuat dan benar. Karena pendapat ini relevan dengan universalitas hukum- hukum syariat. Pendekatan seperti ini digunakan para sahabat dan para mujtahid untuk menetapkan hukum. Mereka memberlakukan hukum ayat-ayat yang memiliki sebab-sebab tertentu kepada peristiwa-peristiwa lain yang bukan merupakan sebab turunnnya ayat tersebut.
Kedua, sebagian ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus, bukan lafaz yang umum. Karena lafaz yang umum itu menunjukkan sebab yang khusus. Maka untuk dapat diterapkan pada kasus lain yang serupa dengan sababun nuzul, diperlukan dalil, seperti qiyas dan semacamnya.
Sehingga pemindahan riwayat sebab yang khsus itu mengandung faedah.
Terdapat persoalan penting terkait kaidah ini, yaitu apabila suatu ayat yang turun dikarenakan suatu peristiwa atau pertanyaan, tetapi redaksi ayat tersebut bersifat umum hingga memungkinkan ayat tersebut mempunyai cakupan yang luas dan tidak hanya terbatas pada kasus pertanyaan atau peristiwa itu. Maka yang menjadi persoalan yaitu mengenai apakah ayat tersebut harus dipahami dari keumuman redaksinya atau sebab yang melatarbelakanginya itu. Apakah ayat tersebut berlaku secara umum atau khusus.9
Kaidah al-‘ibrah bi ‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab merupakan kaidah tafsir terkait ayat- ayat yang diturunkan dengan sebab tertentu, namun memiliki redaksi yang bersifat umum. Dalam hal ini maka penafsiran suatu ayat dan penetapan hukumnya ditetapkan berdasarkan keumuman lafaz bukan berdasarkan pada sebab turunnya suatu ayat. Penetapan ini sejalan dengan argumentasi jumhur ulama. Banyak kita dapati dari beberapa ayat al-Qur’an yang awal mula turunnya dengan konteks tertentu, namun kebenarannya hukum yang terdapat di dalam ayat tersebut kemudian ditetapkan untuk diberlakukan bagi seluruh orang secara menyeluruh.10
Quraish Shihab mengemukakan kaidah al-‘ibrah bi ‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab adalah pemahaman dari suatu ayat dengan berpatokan pada redaksinya yang bersifat umum bukanlah pada kasus sebab turunnya suatu ayat.
Karena menurutnya, dengan menggunakan kaidah ini akan mengabaikan waktu terjadinya dan juga mengabaikan pelaku. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwasanya asbab al-nuzul sangat terikat dengan peristiwa, waktu dan pelaku.11
9Rosihon Anwar, ‘Ulumul Qur’an (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2017), h. 76.
10Anshori, Kaidah-Kaidah Memahami Firman Tuhan (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h.
109-111.
11M.Quraish Shihab, Menbumikan al-Qur’an (Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2013), h. 134.
Akan tetapi, pada karyanya yang lain, Quraish Shihab mengemukakan bahwasanya kaidah al-‘ibrah bi‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab menjadikan ayat tidak hanya terbatas berlaku atas pelaku, akan tetapi juga berlaku terhadap siapa pun selama ungkapan atau redaksi yang digunakan ayat bersifat umum. Hal yang penting diingat bahwa yang dimaksud khusus al-sabab yaitu sang pelaku saja. Sedangkan yang dimaksud “redaksinya yang umum”, yakni harus dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi, bukan berarti terlepas dari peristiwanya.12
Mengenai kaidah keumuman lafaz, hal yang perlu diingat bahwasanya ayat Alquran yang ‘am (umum) yang diturunkan atas sebab tertentu, mencakup dan meliputi sebab tersebut dan juga meliputi yang lain-lain, karena tidak diperbolehkan memahami lafaz ‘am yang terdapat di dalam al-Quran hanya diberlakukan untuk orang tertentu saja.13
Setiap kali kita dapati ayat al-Qur’an yang bersifat umum dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut, kita pasti mendapatkannya pada bagian lain yang merincikan atau membatasi suatu ayat. Oleh karena itu, dalam hal ini para ulama menetapkan beberapa istilah-istilah khusus di antaranya ialah kaidah terkait keumuman al-Qur’an dan kekhususannya. Ayat al-Qur’an yang menunjukkan kepada pengertian umum dapat ditandai dengan adanya lafaz-lafaz lazim yang biasanya digunakan oleh masyarakat Arab untuk memberi pengertian secara menyeluruh. Di antara lafaz-lafaz tersebut adalah sebagai berikut.14
• Kata kullu
• Kata penghubung asma’ al- mausul
• Kata benda, sifat, dan ism al-jins yang didahului lam al-ma‟rifah menunjukkan kepada makna keseluruhan.
• Jamak yang pengertiannya disesuaikan dengan imbuhan kata ganti (dhamir).
• Ism syart, seperti kata man yang berarti barangsiapa.
• Ism nakirah adalah kata benda yang kita tidak jelas mengetahui keberadaannya atau sasarannya. Hal ini baik dalam konteks al-nahyi, al- Nafyi, al- syart, atau istifham.
• Kata- kata yang berbentuk mudhaf yakni kata kepunyaan, ia juga menunjukkan kepada pengertian yang bersifat umum.
• Ism (kata benda) yang disebutkan secara tersendiri di dalam Al-Qur’an adalah menunjukkan kepada arti keumuman lafaz tersebut.
Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan kaidah keumuman lafaz. Pertama, perlu dibedakan antara teks yang umum yang menyikapi
12M.Quraish Shihab, Kaidah Tafsir (Tanggerang: Lentera Hati, 2019), h. 205.
13Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu- ilmu al-Qur'an, h. 47.
14Subhi Al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Terj. Tim Pustaka Firadaus (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 2004), h. 435.
kasus tertentu karena sebab yang khusus tidak dapat mengkhususkan suatu teks yang umum, dan antara indkasi konteks dan qarinah yang menunjukkan adanya pengkhususan atau pentakhsisan karena hal tersebut masih dapat mengkhususkan keumuman teks.
Dengan mempelajari kaidah ini, kita dapat menemukan satu sisi keistimewaan al-Quran dengan keindahan susunan kalimat di dalamnya.
Pemahaman terhadap kaidah ini perlu ditegaskan bahwasanya asbab al-nuzul merupakan suatu alat bantu dalam menjelaskan beberapa ayat Alquran yang memiliki peristiwa tersendiri, namun cakupannya tidak hanya terbatas pada ruang lingkup dari peristiwa yang menjadikan ayat tersebut diturunkan.15
Salah satu contoh perbedaan para mufassir dalam penerapan kaedah al-
‘ibrah bi‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab terdapat dalam QS. Al-Baqarah/2: 114 yang berbunyi :
َ نا َ
ك ا َم َكِٕىٰۤلو ُ
ا ۗا َهِبا َر َخ ْيِف ىٰع َسَو ٗهُم ْسا اَهْيِف َر َ ك ْ
ذُّي ن ْ َ ا ِ ه
للّٰا َد ِج ٰس َم َع َنَّم ْنَِّمِ ُمَل ْظَا ْنَمَو َنْي ِفِٕىۤا َخ اَّلِا ٓا َهْوُل ُخ ْدَّي ْنَا ْمُهَل ِخ اَي ْن ُّدلا ىِف ْمُه َ ۗە
ٌمْي ِظ َع ٌبا َذَع ِة َر ِخٰاْلا ىِف ْمُه َ ل ل َّو ٌي ْز ١١٤
Terjemahnya :
“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat”
Terdapat dua riwayat dari Ibnu ‘Abbas tentang sebab turunnya ayat ini.
Dalam riwayat Al-kalbi ayat ini berkenaan dengan orang Romawi bernama Totelus dan pasukannya yang beragama Nasrani. Mereka menyerbu orang Israel dan membunuh, menawan kaum wanita, mengubah taurat, meruntuhkan Baitul Maqdis, dan melemparkan bangkai kedalamnya. Sedangkan dalam riwayat ‘Atha’ dari Ibnu
‘Abbas; ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrik penduduk Makkah tatkala mereka menghalangi kaum muslimin beribadah kepada Allah Swt di Masjidil Haram. Terlepas dari riwayat mana yang benar, yang menjadi patokan adalah keumuman lafadz, bukan pada kekhususan sebab. Oleh karena itu, ayat ini mencakup ahli kitab dan orang-orang yang serupa dengan mereka, hal ini dapat diberlakukan atas Titus, Kaisar Romawi yang memasuki Baitul Maqdis sekitar tahun 70 M lalu meruntuhkannya, merobohkan Kuil Sulaiman, dan membakar sebagian naskah Taurat. Hal ini juga dapat diberlakukan atas orang orang musyrik Makkah yang menghalangi Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya memasuki Makkah. Juga dapat diberlakukan atas kaum Salib yang menyerang Baitul Maqdis dan negeri Islam lainnya dan menghalangi mereka datang ke Masjid al-Aqsha dan
15Abd. Rahman Dahlan, Kaidah-Kaidah Penafsiran al-Quran (Bandung: Mizan, 1998), h.
91.
menghancurkan banyak masjid. Kejadian ini berulang lagi terjadi pada masa kini di mana mereka meruntuhkan banyak masjid di Palestina. Membakar Masjid al-Aqsha dan berulang kali menghancurkannya.16
Wahbah al-Zuhaili cenderung memperluas penafsiran ayat berdasarkan kaidah tersebut. Sedangkan Ibnu Kathir di dalam kitab tafsirnya tidak memperluas penafsiran ayat tersebut dengan menggunakan kaidah keumuman lafaz. Meskipun makna dasar dari penafsiran ayat tersebut telah terpenuhi, namun dalam hal memperluas makna dengan kaidah al- ‘ibrah bi ‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab terjadi perbedaan antara kedua mufassir tersebut.
Teori Bint al-Syath’i
Nama Dr. Aisyah Abdurrahman banyak dikenal orang terutama pada tahun 1960-an sampai sekarang. Dia dilahirkan di sebelah barat Delta Nil, tanggal 6 November 1913 dari pasangan Muhammad Ali Abdurrahman dan Farida Abdussalam Muntasyir. Ayahnya, ‘Abd ar-Rahman, adalah tokoh sufi dan guru teologi di Dumyat.17 Nama Bint al-Syath’i adalah nama pena yang dia pakai ketika menulis. Nama itu diambil karena memang dia lahir di Dumyat dan dibesarkan di tepian sungai Nil. Jadi nama itu berarti anak perempuan pinggir (sungai)”. Bint al- Syath’i dibesarkan di tengah keluarga muslim yang taat dan shaleh.
Bint al-Syath’i dikenal luas karena studinya tentang sastra Arab dan tafsir al-Qur’an. Pada tahun 1970-an, dia adalah seorang professor sastra dan bahasa Arab di Universitas ‘Ain Syams, Mesir. Dia juga kadang-kadang menjadi professor tamu pada Universitas Umm Durman Sudan, Universitas Qarawiyyin, Maroko. Di samping itu, pada tahun 1960-an dia juga berkesempatan memberikan ceramah kepada para sarjana di Roma, Al-Jazair, New Delhi, Baghdad, Kuwait, Yerusalem, Rabat, Fez, dan Khartoun.
Metode dan prinsip yang dilakukan oleh Bint al-Syathi’i adalah : Pertama, sebuah prinsip sederhana yang dalam prakteknya bisa tidak sederhana yaitu
“sebagian ayat al-Qur’an menafsirkan sebagian ayat yang lain.” Kedua, metode yang bisa disebut sebagai metode munasabah, yaitu metode mengkaitkan kata atau ayat dengan kata atau ayat yang ada di dekatnya, dan bahkan bisa yang tidak berada di dekatnya. Ketiga, prinsip bahwa suatu ‘ibrah atau ketentuan suatu masalah berdasar atas bunyi umumnya lafaz atau teks, bukan karena adanya sebab khusus.
Keempat, keyakinan bahwa kata-kata di dalam Bahasa Arab al-Qur’an tidak ada sinonim. Satu kata hanya mempunyai satu makna. Apabila orang mencoba untuk
16Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani dkk (Jakarta:
Gema Insani, 2013), h. 225.
17Muhammad Amin, A Study of Binth al-Shati Exegesis (Kanada: Tesis Mcgill), h. 6.
menggantikan kata dari al-Qur’an dengan kata lain, maka al-Qur’an bisa kehilangan efektifitasnya, ketepatannya, keindahannya, dan esensinya.18
Pendekatan yang dipakai oleh Bint al-Syath’i adalah tafsir tahlily dengan metode tafsir bil-adabi. Tafsir Adabi adalah analisa teks dengan mengungkap sisi sastra yang terkandung di dalam al-Qur’an. Metode ini lebih cenderung kepada metode kritis dalam memahami al-Qur’an.
Bint al-Syath’i berkeyakinan bahwa: Pertama, al-Qur’an menjelaskan dirinya dengan dirinya sendiri (al-Qur’an yufassiru ba’dhuhu ba’dh). Kedua, al- Qur’an harus dipelajari dan dipahami keseluruhannya sebagai suatu kesatuan dengan karakteristik-karakteristik ungkapan dan gaya bahasa yang khas, dan ketiga, penerimaan atas tatanan kronologis al-Qur’an dapat memberikan keterangan sejarah mengenai kandungan al-Qur’an tanpa menghilangkan keabadian nilainya.19
Berdasarkan tiga diktum atau basis pemikiran di atas, Bint al-Syath’i mengajukan metode tafsirnya, sebuah metode untuk memahami al-Qur’an secara obyektif. Bint Al-Syat’i mengakui mengikuti metode gurunya sekaligus menjadi suaminya, Amin al-Khully (1895-1966) yang terdiri dari empat langkah.20
Pertama, mengumpulkan unsur- unsur tematik secara keseluruhan yang ada di beberapa surat untuk dipelajari secara tematik. Dalam tafsir ini beliau tidak memakai metode kajian tematik murni seperti itu. Namun dengan pengembangan induktif (istiqra’i). Mula- mula beliau gambarkan ruh sastra tematik secara umum.
Kemudian merincinya per-ayat. Akan tetapi perincian ini berbeda dengan perincian yang digunakan dalam kajian tafsir tahlily (analitik) yang cenderung menggunakan maqtha’ (pemberhentian tematik dalam satu surat). Di sini beliau membuka dengan kupasan bahasa dalam ayat itu kemudian dibandingkan dengan berbagai ayat yang memiliki kesamaan gaya bahasa. Kadang menyebut jumlah kata, adakalanya memberikan kesamaan dan perbedaan dalam penggnaannya, terakhir beliau simpulkan korelasi antara gaya bahasa tersebut.
Kedua, memahami beberapa hal di sekitar nash yang ada. Seperti mengkaji ayat sesuai turunnya. Untuk mengetahui kondisi waktu dan lingkungan diturunkannya ayat-ayat al-Qur’an pada waktu itu. Dikorelasikan dengan studi asbab al-Nuzul. Meskipun beliau tetap menegaskan kaidah al-Ibrah Bi ’Umum al-
18‘Aisyah Abdurrahman Bintusy Syath’i, at -Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim, Juz I, terjemahan. Mudzakir Abdussalam Bandung: Mizan, 1996), h. 10.
19‘Aisyah Abdurrahman Bintusy Syath’i, at -Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al-Karim, Juz I, terjemahan. Mudzakir Abdussalam , h. 35-36.
20Muhammad Amin, A Study of Binth al-Shati Exegesis (Kanada: Tesis Mcgill), h. 32.
Lafadz La Bi al-Khusus al-Sabab (kesimpulan yang diambil menggunakan keumuman lafadz bukan dengan kekhususan sebab-sebab turun ayat).
Ketiga, memahami dalalah al-Lafadz. Maksudnya, indikasi makna yang terkandung dalam lafadz-lafadz al-Qur’an, apakah dipahami sebagaimana dhahirnya ataukah mengandung arti majaz dengan berbagai macam klasifikasinya.
Kemudian di tadabburi dengan hubungan-hubungan kalimat khusus dalam satu surat. Setelah itu mengkorelasikannya dengan hubungan kalimat secara umum dalam al-Qur’an.
Keempat, memahami rahasia ta’bir dalam al-Qur’an. Hal ini sebagai klimaks kajian sastra, dengan mengungkap keindahan, pemilihan kata, beberapa pentakwilan yang ada di beberapa buku tafsir yang mu’tamad tanpa mengkesampingkan kajian gramatikal arab (i’rab) dan kajian balaghahnya.
Menurut Bint al-Syath’i, metodenya dimaksudkan untuk mendobrak metode klasik yang menafsirkan al-Qur’an secara tartil, dari ayat ke ayat secara berurutan, karena menurutnya metode klasik ini setidaknya mengandung dua kelemahan:
pertama, memperlakukan ayat secara atomistik, individual yang terlepas dari konteks umumnya sebagai kesatuan, padahal al-Qur’an adalah satu kesatuan yang utuh, di mana ayat dan surat yang satu dengan yang lainnya saling terkait, dan;
kedua, kemungkinan masuknya ide mufasir sendiri yang tidak sesuai dengan maksud ayat yang sebenarnya.21
Ketika berbicara tentang penafsiran sastra (al-tafsir al-adabi), maka tidak boleh menafikan konsep I’jaz al-Qur’ân, bagaimana relasi antara sastra Arab di satu sisi, dan I’jaz al-Qur’an di sisi lain. Al-Zamakhsyari misalnya, berkesimpulan bahwa penguasaan terhadap sastra Arab (balaghah) dengan segala uslubnya tidak hanya akan membantu memahami aspek-aspek kemukjizatan sastra al-Quran, tetapi juga dapat membantu mengungkapkan makna-makna dan rahasia-rahasia yang tersembunyi di baliknya.
Simpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa : Pertama, asbab nuzul ialah sesuatu yang karena sesuatu itu menyebabkan satu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan yang berbicara tentangnya atau menjelaskan hukumnya disaat sesuatu itu terjadi. Kedua, Kaidah al-‘ibrah bi
‘umum al-lafz la bi khusus al-sabab merupakan kaidah tafsir terkait ayat- ayat yang diturunkan dengan sebab tertentu, namun memiliki redaksi yang bersifat umum.
21Nanda Septiana, “Pendekatan Aisyah Abdurrahman dalam Tafsir al-Bayani”, Jurnal Studi Islam Vol 14 No 1 2019, h. 69-73.
Ketiga, Bint al-Syath’i berkeyakinan bahwa: Pertama, al-Qur’an menjelaskan dirinya dengan dirinya sendiri (al-Qur’an yufassiru ba’dhuhu ba’dh). Kedua, al- Qur’an harus dipelajari dan dipahami keseluruhannya sebagai suatu kesatuan dengan karakteristik-karakteristik ungkapan dan gaya bahasa yang khas, dan ketiga, penerimaan atas tatanan kronologis al-Qur’an dapat memberikan keterangan sejarah mengenai kandungan al-Qur’an tanpa menghilangkan keabadian nilainya.
Daftar Pustaka
Amin, Muhammad. A Study of Binth al-Shati Exegesis. Kanada: Tesis Mcgill.
Dahlan, Abd. Rahman. Kaidah-Kaidah Penafsiran al-Quran. Bandung: Mizan, 1998.
Sayth’i, ‘Aisyah Abdurrahman Bintusy. at -Tafsir al-Bayan li al-Qur’an al- Karim, Juz I, terjemahan. Mudzakir Abdussalam Bandung: Mizan, 1996.
Septiana, Nana. “Pendekatan Aisyah Abdurrahman dalam Tafsir al-Bayani”, Jurnal Studi Islam Vol 14 No 1 2019.
Shihab, M.Quraish. Kaidah Tafsir. Tanggerang: Lentera Hati, 2019.
Subhi, Al-Shalih. Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Terj. Tim Pustaka Firadaus.
Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004.
Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani dkk.
Jakarta: Gema Insani, 2013.