ASESMEN DIAGNOSTIK DAN PEMBELAJARAN DIFERENSIASI
EDISON M.S BOIMAU, S. Pd
A. ASESMEN DIAGNOSTIK
Asesmen Diagnostik terdiridari:
a. Asesmen Kognitif dan b. Asesmen Non Kognitif
PENGERTIAN
Asesmen diagnostik merupakan penilaian yang digunakan untuk mengetahui
kelemahan-kelemahan peserta didik dalam menguasai materi atau kompetensi tertentu serta penyebabnya.
FUNGSI ASESMEN DIAGNOSTIK
Asesmen diagnostik digunakan untuk
mengidentifikasi masalah atau kesulitan yang dialami siswa, kemudian melakukan
perencanaan terhadap tindak lanjut yang berupa upaya-upaya pemecahan sesuai masalah atau kesulitan yang telah
teridentifikasi.
Langkah-langkah asesmen diagnostik
a. Persiapan. Guru Pintar harus menyiapkan alat bantu berupa gambar ekspresi emosi. ...
b. Pelaksanaan. Guru Pintar memberikan gambar emosi kepada siswa. ...
c. Tindak Lanjut. ...
WAKTU PELAKSANAAN
• Asesmen diagnostik kognitif dapat dilaksanakan secara rutin yang
disebut asesmen diagnostik kognitif berkala, pada awal pembelajaran, akhir setelah guru
selesai menjelaskan dan membahas topik, dan waktu lain. Asesmen Diagnostik bisa
berupa Asesmen Formatif maupun Asesmen Sumatif.
PENTINGNYA AD
Asesmen ini memetakan kemampuan semua siswa di kelas secara cepat, untuk mengetahui siswa yang sudah paham, siswa yang agak
paham, dan siswa yang belum paham. Dengan demikian Bapak atau Ibu guru dapat
menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan siswa.
LANGKAH-LANGKAH ASESMEN KOGNITIF
• Lakukan pengolahan hasil asesmen.
• Berdasarkan hasil penilaian, bagi siswa menjadi 3 kelompok.
• Lakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan sebelum memulai topik
pembelajaran baru.
• Ulangi proses yang sama, sampai siswa
mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan.
Diagnosis Kognitif
Asesmen Diagnosis Kognitif adalah
asesmen diagnosis yang dapat dilaksanakan secara rutin, pada awal ketika guru akan
memperkenalkan sebuah topik pembelajaran baru, pada akhir ketika guru sudah selesai
menjelaskan dan membahas sebuah topik, dan waktu yang lain selama semester (setiap dua minggu/ bulan/ triwulan/ ..
Asesmen non kognitif
Langkah-langkah asesmen non kognitif:
• Persiapan, siapkan alat bantu berupa gambar ekspresi emosi. ...
• Pelaksanaan, berikan gambar emosi kepada siswa. ...
• Tindak Lanjut, Identifikasi siswa dengan ekspresi emosi negatif dan ajak berdiskusi empat mata.
Pengertian asesmen non kognitif
Asesmen diagnostik non kognitif ditujukan untuk mengukur aspek psikologis dan kondisi emosional peserta didik. Asesmen diagnostik non kognitif lebih mengutamakan pada
kesejahteraan psikologi dan sosial emosi peserta didik.
Alat bantu asesmen non kognitif
Untuk melaksanakan asesmen non
kognitif ini, para guru dapat menyiapkan alat bantu berupa gambar ekspresi emosional dan daftar pertanyaan kunci seperti: Apa saja
aktifitas kamu selama Belajar Di Rumah bersama keluarga? Hal apa yang paling
menyenangkan dan tidak menyenangkan?
B. PEMBELAJARAN DIFERENSIASI
Pengertian.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan
profil belajar siswatersebut.
Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya
berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten/materi.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran
berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena
pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti
pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar.
Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi di kelas
Hal yang harus dilakukan oleh guru antara
lain: Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan
belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)
Tujuan
• Tujuan pembelajaran berdiferensiasi untuk membantu setiap murid tumbuh semaksimal mungkin sesuai kemampuannya. Dengan
demikian guru akan berusaha mengetahui perkembangan setiap muridnya dan
perkembangan kelasnya secara keseluruhan.
Murid juga akan belajar memaknai pertumbuhan mereka sendiri.
Strategi pembelajaran diferensiasi
1. Diferensiasi konten (Materi yg akan diajarkan)
Bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan dapat mempelajari tiga hal terpenting terkait materi,
Bagi peserta didik yang cukup mahir dapat mempelajari keseluruhan materi dan
Bagi peserta didik yang sudah sangat mahir dapat diberikan pengayaan
2. Diferensiasi proses (Cara mengajarkan)
• bagi peserta didik yang
membutuhkan bimbingan, pendidik perlu mengajarkan secara langsung;
• bagi peserta didik yang cukup mahir dapat diawali dengan modeling yang dikombinasi kerja mandiri, praktik,
dan peninjauan ulang (review); dan
• bagi peserta didik yang sangat mahir dapat diberikan beberapa pertanyaan pemantik untuk tugas mandiri
3. Diferensiasi produk (performa yg akan dihasilkan)
• bagi peserta didik yang memerlukan
bimbingan dapat menjawab pertanyaan- pertanyaan mengenai konten inti materi,
• bagi peserta didik yang cukup mahir dapat membuat presentasi yang
menjelaskan penyelesaian masalah sederhana, dan
• bagi peserta yang sangat mahir dapat
membuat sebuah inovasi atau menelaah permasalahan yang lebih kompleks
Instrumen asesmen awal pembelajaran yang
digunakan adalah soal isian singkat dan soal cerita yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari terkait keliling segiempat, segitiga, dan lingkaran.
Atas jawaban peserta didik, pendidik
mengidentifikasi kesiapan peserta didik di kelasnya sebagai berikut.
1. Mayoritas peserta didik telah memahami
konsep keliling dan dapat menghitung keliling bangun datar.
2. Beberapa peserta didik dapat memahami konsep keliling, tetapi belum lancar dalam menghitung keliling bangun datar.
3. Beberapa peserta didik belum memahami konsep keliling.
Contoh Diferensiasi
Kesiapan Belajar
Mayoritas peserta
didik telah memahami konsep keliling dan dapat menghitung keliling bangun datar.
Beberapa peserta didik dapat memahami
konsep keliling, tetapi belum lancar
dalam menghitung keliling bangun datar.
Beberapa Peserta didik belum
memahami konsep
keliling
Pembelajaran
berdiferensiasi • Peserta didik
mengerjakan soal- soal yang lebih menantang yang mengaplikasikan konsep keliling dalam kehidupan sehari-hari.
• Peserta didik bekerja secara mandiri dan saling memeriksa pekerjaan masing- masing.
• Pendidik menjelaskan cara
menghitung keliling bangun datar.
• Peserta didik secara berkelompok diberi latihan menghitung keliling bangun datar dengan menggunakan bantuan benda-benda konkret.
• Jika mengalami kesulitan, diminta bertanya kepada 3 teman sebelum bertanya langsung kepada pendidik.
Pendidik sesekali mendampingi kelompok untuk memastikan tidak terjadi miskonsepsi.
Hal-hal yang harus dilakukan guru di kelas
• Melakukan pemetaan kebutuhan belajar
berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa
dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)
• Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)
• Mengevaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.
Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar
Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat
menuntun murid untuk berkembang sesuai
dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi.