• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek-Aspek Semantik Paribasa Bali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Aspek-Aspek Semantik Paribasa Bali"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

Dengan terbitnya buku ini diharapkan akan wujud keseimbangan kajian antara aspek bentuk dan makna pada peribahasa Bali. Bagi mewujudkan kajian yang seimbang, kajian aspek semantik peribahasa Bali ini telah dijalankan.

Fokus Pengkajian dan Permasalahannya

Tujuan

Aspek semantik tersebut perlu dijelaskan melalui pendekatan linguistik agar dapat memahami secara utuh fenomena paribasa di Bali.

Metode

Penerapan metode agih diwujudkan dengan menerapkan teknik distribusi, yaitu teknik fading dan teknik penggantian unsur-unsur satuan kebahasaan dalam konstruksi paribasa Bali (Langacker, 1972). Penerapan teknik ini adalah untuk mengungkap deskripsi semantik dan interpretasi pragmatis dari bentuk-bentuk bahasa sehari-hari Bali yang dipelajari.

Organisasi Penyajian

TEORI SEMANTIK YANG RELEVAN

Kajian Paribasa Bali Sebelum Ini

Jika logika semantik ini diikuti secara konsisten, maka contoh contoh duniawi dan duniawi di atas seharusnya dikonstruksi dengan kalimat seperti berikut. Untuk menghindari ambiguitas, kalimat 'Padange ento tusing dadi arit' (contoh cecangkitan di atas) dapat dikonstruksi dengan menerapkan kaidah morfosintaksis yang berbeda sehingga dihasilkan konstruksi kalimat yang berbeda, misalnya sebagai berikut.

Teori Semantik yang Relevan

  • Semantik: Kajian tentang makna
  • Komponen dan Struktur Semantik
  • Pragmatik: Makna dalam penggunaan bahasa

Namun makna suatu kata merupakan gabungan dari beberapa komponen semantik yang tersusun secara hierarkis, mulai dari ciri semantik yang paling umum hingga yang paling spesifik. Oleh karena itu, makna suatu kata dapat dipecah atau direduksi menjadi komponen-komponen maknanya sampai pada komponen yang terkecil. Pada contoh analisis komponen semantik terlihat bahwa ciri pembeda makna kata bapa'ayah' dan mémé 'ibu' terdapat pada komponen semantik gender.

Disebut oposisi fitur semantik biner karena pengenal komponen semantik selalu dikontraskan antar pasangan kata. Mengacu pada pandangan Chaer (1990); Lintah (1981); dan Parera (1990) serta memadukannya dengan prinsip analisis makna asli dari Wierzbicka (1996) dan Arnawa (2017b), maka prosedur kerja analisis komponen semantik dapat diuraikan sebagai berikut. Mengacu pada konsep ini, gramatikal suatu kalimat ditentukan oleh kesesuaian komponen semantik verba dan nomina kalimat tersebut.

ASPEK SEMANTIK BLADBADAN

Hakikat dan Bentuk Bladbadan

Berem memakai, penuh dengan lelehan gegodane; ngesodin pangarga, ketawa pacang panggi; muanin muda nardi kocak. Jika kita perhatikan contoh penggunaan bladbadan dalam kalimat, maka jelas bahwa komponen makna sujati (makna sebenarnya) tidak muncul dalam struktur kalimat; tetapi merupakan bagian dari struktur kognitif ketika makna bahasa tubuh diproduksi dan dipahami. Jika contoh-contoh di atas dicermati, maka memang terdapat kemiripan bunyi antara landasan leksikal pengungkapan makna sebenarnya dengan makna bladbadan; di permukaan memang tampak seperti itu.

Jika persamaan bunyi digunakan sebagai asas untuk menjelaskan bladbadan, maka mengapa bentuk berikut tidak diklasifikasikan sebagai bladbadan. Selain itu, berdasarkan peraturan morfologi bahasa Bali, bentuk parafrasa digunakan sebagai asas pembinaan badan. Secara umum, hasil parafrasa ditukar kepada kata kerja keadaan dengan menambahkan awalan {ma-}, seperti dalam contoh berikut.

Aspek Semantik Bladbadan

Data tersebut menunjukkan adanya upaya memasangkan kata-kata yang mempunyai kemiripan fonotaktik sebagai dasar makna bladbadan (Arnawa, 2005; Arnawa, 2007; Arnawa 2017a). Selanjutnya pada kelompok 2 nampaknya ada upaya untuk mengeksploitasi relasi semantik leksikal homonim sebagai dasar pemaknaan bladbadan. Mencermati proses semantik yang memanfaatkan relasi homonim tersebut, dapat dikatakan bahwa contoh bahasa tubuh seperti pada Kelompok 2 menggunakan perangkat emosional leksikal dalam proses maknanya.

Mencermati fakta kebahasaan tersebut, dapat dikatakan bahwa satuan emosional sintaksis diperankan dalam pengertian bladbadan. Berdasarkan hasil identifikasi sebagaimana diuraikan di atas dan mengacu pada diagram asosiasi makna yang dikembangkan oleh Ullmann (1977), maka proses penafsiran daun badan dapat divisualisasikan sebagai berikut. Proses Makna Kognitif Bladbadan maselaka kuning Selanjutnya tahapan terbentuknya Bladbadan seperti pada diagram 5 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.

Simpulan

ASPEK SEMANTIK CECIMPEDAN

Hakikat dan Bentuk Cecimpedan

Pola Cecimpedan 1 umumnya digunakan oleh anak pada tahap perkembangan kognitif pra operasional hingga operasional konkrit. Apa yang dimaksud dengan cor tung?’ Pada tataran sintaksis terjadi manipulasi peran semantik yang bertujuan untuk menyembunyikan kata, frasa, atau klausa. Berdasarkan kriteria umurnya, cecimpedan digolongkan menjadi 2, yaitu: cecimpedan alit-alit dan cecimpedan biasa (Tinggen, 1995; Gautama, 1995; Simpen, 1988; Ginarsa, 1985).

Berdasarkan acuan usia tersebut, cecimp dan alit-alit digunakan oleh anak di bawah 10 tahun; sedangkan cecimpedan biasanya digunakan oleh anak di atas 10 tahun. Fenomena penghapusan suku kata, yaitu mempertahankan suku kata terakhir, juga terjadi pada sapaan Bali; seperti berikut ini. Mengenai fenomena kebahasaan yang mempertahankan suku kata terakhir ini, Dardjowidjoyo (2000) dan Garman (1991) memandangnya sebagai ciri laten.

Aspek Semantik Cecimpedan

Perkembangan analogi induktif dalam pembentukan penilaian asosiatif dan terhambat didasarkan pada kesamaan yang sebenarnya antara dua hal yang dibandingkan; seperti contoh cecimpedan berikut ini. Implementasi teori struktur semantik dalam pembentukan kalimat asosiatif dan implisit akan dijelaskan pada bagian selanjutnya bab ini. Selanjutnya pembentukan kalimat asosiatif dan asosiatif terjadi melalui proses parafrase deskriptif; makna sasaran dibangun dalam kalimat tanya dan menekankan kesenjangan logika dalam rumusannya.

Meskipun tidak semua ucapan asosiatif menggunakan logika antonimik, untuk memperjelas upaya meningkatkan kesenjangan semantik dalam ucapan asosiatif, berikut adalah contoh lain yang mengandalkan logika antonimik. Saluran anus diarahkan ke bawah; Berdasarkan uraian empiris tersebut, maka dikonstruksikan dalam klausa apaké medil beten 'menyebabkan jatuh'. Jadi, penggunaan kata ganti anak 'orang' dalam bentuk asosiatif dan asosiatif merupakan upaya untuk memenuhi struktur semantik kata kerja tersebut.

Simpulan

ASPEK SEMANTIK CECANGKITAN

Hakikat dan Bentuk Cecangkitan

Apalagi Simpen (2010) dan Aridawati (2014) mengatakan cecangkitan adalah ambiguitas makna yang timbul dari struktur kalimat, bukan kata polisemik. Pertama, jika hubungan sintagmatik rangkaian kata tain-cicing-déngdéng dipandang sebagai satuan sintaksis dan dengan kontur tekanan di akhir kata déngdéng, maka akan muncul kalimat dengan kontur berikut. Kedua, jika rangkaian kata yang mengucapkan kata tersebut dipandang sebagai satu kalimat dan kontur tekanannya diberikan di akhir kata; dan kata déngdéng menjadi kalimat tersendiri, kalimat dibentuk dengan garis besar sintaksis sebagai berikut.

Jadi, daripada analisis sebegini, makna ganda ayat tersebut didorong oleh dua perkara iaitu penggunaan kata polisemik dan faktor kontur sintaksis. Jadi ketangkasan makna ayat bukan semata-mata disebabkan oleh penggunaan kata polisemi, tetapi dicetuskan oleh kekaburan struktur sintaksis. Sebaliknya, saya menjumpai ayat yang bermaksud teksi, tetapi tiada perkataan polisemi di dalamnya, seperti contoh dalam ayat berikut.

Aspek Semantik Cecangkitan

Insiden kaca 'hamil duluan' yang memalukan ini merupakan pelanggaran norma agama dan sosial, sehingga tidak etis jika diungkapkan ke publik. Memang benar ada orang yang menikah karena malu 'hamil', tapi tidak semua; masih banyak orang yang tidak menikah karena malu. Berdasarkan poin-poin prasyarat tersebut, interpretasi semantik cecangkitan yang benar adalah 'Cara Fetate, anaké ngantén makejang beling malu' 'semua kehamilan terletak di bagian depan tubuh'.

Sebagai bentuk monomorfemis, perkataan padang bermaksud 'rumput' dan boleh juga ditafsirkan sebagai polimorfisme daripada morfem asas dalam 'sama'. Jika ditafsirkan sebagai bentuk monomorfemis, perkataan joan bermaksud 'tiang; sebaliknya jika ditafsirkan sebagai bentuk polimorfisme, perkataan joan berasal daripada morfem pangkal joh 'jauh' dan akhiran {-an} sehingga terbentuk perkataan johan 'selanjutnya'. Maka mati Lasaan menangkap padang idup apang joan tanema ditafsirkan sebagai bentuk jenaka yang bermaksud 'Biawak mati, rumput hidup, pancang biar tertimbus'.

Simpulan

Selanjutnya kata polimorfemik padaang mengalami haplologi, yaitu hilangnya fonem di tengah kata, sehingga terbentuklah kata padang. Dengan penjelasan morfologi seperti itu, cecangkitan Lasan mati padang idu apang joan tanema mengandung dua kemungkinan makna sebagai berikut. Ketidakjelasan makna cecangkitan disebabkan oleh tidak berfungsinya penafsiran sintaksis yang berasal dari polisemi, homonimi, atau gramatikal.

Untuk menafsirkan makna cecangkitan dengan benar, partisipan dapat mengandalkan praanggapan, yakni asumsi-asumsi yang melandasi makna cecangkitan.

ASPEK SEMANTIK WEWANGSALAN

Hakikat dan Bentuk Wewangsalan

Selanjutnya dalam kamus Bali - Indonesia (Color, 1978), terdapat akar kata wangsalan yang artinya 'peribahasa yang isinya tersembunyi dalam kalimat lisan'. Pertama, jelas adanya hubungan asonansi dan aliterasi antara baris pertama dan baris kedua dalam setiap instansi otoritas. Selanjutnya, baris kedua pada contoh pertama dapat diidentifikasikan sebagai kalimat elips; yaitu keluarnya frase topik.

Jika baris kedua pada contoh pertama disusun seluruhnya, maka akan muncul kalimat Cai medem bangun ngamah dogén 'Kamu tidur saja, bangun dan makan'. Selanjutnya baris kedua pada contoh kedua dapat dikenali sebagai kalimat tunggal karena terdapat satu unsur subjek dan satu unsur predikat. Penyisipan baris kedua dilakukan apabila penutur yakin dapat memahami maksud dari wewenang yang ingin diutarakan; atau wewenang tersebut telah menjadi pengetahuan umum dan digunakan dalam konteks umum.

Aspek Semantik Wewangsalan

Sedangkan tamsil merupakan perbandingan langsung yang diungkapkan dalam satu kalimat, seperti pada contoh berikut. Berdasarkan proses semantik tersebut, dapat dikatakan bahwa penafsiran semantik otoritas bertumpu pada sarana emosional fonetik, gema makna atau onomatopoeia. Berdasarkan uraian semantik di atas, terlihat jelas bahwa makna wangsalan bertumpu pada konsep onomatopoeia (sering disebut puisi dalam kajian sastra).

Mencermati contoh wewangsalan di atas, ditemukan bahwa makna yang dihasilkan dari setiap konstruksi wewangsalan merupakan makna reflektif yang didasarkan pada asosiasi fonetik sampiran dengan makna tafsirnya. Secara fungsional, otoritas (3) digunakan untuk mengejek perilaku perempuan yang jika ditindas atau dilecehkan oleh laki-laki akan berteriak, 'menjerit, liar', namun jika ditahan, mereka hanya akan menangis 'diam'. Wewenang (4) untuk mengejek orang yang ingin mengulangi permintaan yang pernah dikabulkan.

Simpulan

Di Bali terdapat kata terbitan wangsalan yang terbentuk daripada wangsal + {-an} yang bermaksud 'perjalanan atau perjalanan tingkah laku dan keadaan manusia (Simpen, 2010); tetapi makna perkataan ini tidak berkaitan dengan makna wewangsalan sebagai salah satu jenis peribahasa Bali. Begitu juga sangat mungkin dalam bahasa Bali terdapat kata wangsal yang bererti menuangkan, kemudian mengambil imbuhan {-an} sehingga kata wangsalan bererti 'tuang'. Selanjutnya bersandarkan kepada teori semantik leksikal, proses makna wewangsalan dikenal pasti berdasarkan teori onomatopoeia, iaitu peniruan bunyi sebagai asas tafsiran semantik.

Simpulan

Selama ini cecimpedan dikenal menjadi dua jenis, yaitu cecimpedan alit-alit (anak-anak) dan cecimpedan biasa. Klasifikasi ini nampaknya kurang linier; jika indikatornya adalah umur, maka harus diidentifikasi sebagai cecimpedan alit-alit (anak-anak) dan cecimpedan duur (dewasa). Pada cecimped dan onomatopoeia, pembentukan dan makna bertumpu pada teori semantik leksikal yaitu gema makna; sedangkan secara asosiatif dan tersirat, pembentukan dan maknanya didasarkan pada logika analogi.

Berdasarkan kajian morfologi, etimologi wewangsalan berasal daripada perkataan wangsalan 'orang bijak yang isinya tersembunyi dalam ayat yang dituturkan'; bukan dari bangsal 'bangsal', dan bukan dari perkataan wangsal 'lampah'. Makna wewangsalan dikenal pasti sebagai makna refleksif yang umumnya digunakan untuk melaksanakan lakuan tutur direktif.

Saran Implementatif

Kalau ada kata turunannya, wangsalan 'melimpah' atau wangsalan 'adalah cabang'. maka dapat dipastikan kata turunan wangsalan tersebut homonim karena adanya proses morfologi. Selain itu, berdasarkan bentuknya, wewangsalan merupakan gambaran petir atau karmina, bukan tamsil. diskusi) yang melibatkan guru bahasa Bali, sehingga pembelajaran bahasa Bali khususnya pada materi bahasa asing didasarkan pada teori linguistik praktis dan pedagogis. Gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia diperolehnya pada tahun 1989 dari FKIP Universitas Udayana, Singaraja.

Pada tahun 1998 ia mendapat beasiswa untuk memperoleh gelar Magister Linguistik yang diselesaikan pada tahun 2000 dari Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar. Pada tahun 2002 mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi PhD bidang Linguistik di Universitas Udayana yang diselesaikan pada tahun 2005. Interpretasi Pragmatis Analogi Metafora Bali (2016); Menerapkan Metabahasa Semantik Alami dan File Semantik ke Bahasa.

Referensi

Dokumen terkait

Kajian pustaka yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) teori semantik yang di dalamnya tercakup teori semantik leksikal, teori hiponimi, dan teori penamaan; (2) teori

dengan teknik eksplikasi dapat menghasilkan analisis makna suatu bahasa yang mendekati postulat ilmu semantik yang menyatakan bahwa satu bentuk untuk satu makna dan

Permasalahan yang dibahas pada penelitian ini adalah apakah teori mutual information dapat mengestimasi dengan tepat keterkaitan kata secara semantik dan bagaimana

Teori semantik seharusnya digunakan untuk mengkaji makna kata dalam Alquran dan sudah sepatutnya pula para mufasir menggunakan teori ini sebagai salah satu

“Verba Emosi Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Asahan Kajian Semantik Lintas Bahasa” (Disertasi).. Program Doktor Linguistik

Berdasarkan teori yang berasal dari penelitian terdahulu dapat yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan pada Coreporate

Pembahasan H1 : pengaruh simultan aspek struktural, aspek keperilakuan, dan aspek teknis terhadap kinerja karyawan KPP Madya Bandung dapat diterima karena berdasarkan hasil penelitian

ADJEKTIVA DALAM BAHASA JAWA:KAJIAN MORFOLOGI, SINTAKSIS, DAN SEMANTIK TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Gelar Master Program Studi Linguistik Diajukan oleh: