Diajukan untuk Memenuhi Tugas Praktikum Mata Kuliah Biologi Perikanan
Kelompok 16 / Perikanan B
HAIKAL MUNFARIDZI 230110150101
REGITA SEPTIANA 230110150116
DUDI HERMAWAN 230110150119
UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR 2017
SWT., yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktikum Biologi Perikanan.
Sehubungan dengan tugas praktikum mata kuliah Biologi Perikanan, kami sebagai mahasiswa perikanan dituntut untuk menyusun sebuah laporan praktikum berjudul “Aspek Analisis Biologi (Pertumbuhan, Reproduksi, Dan Kebiasaan Makan) Ikan Mas (Cyprinus carpio)”. Dalam laporan ini materi berfokus pada penjelasan aspek pertumbuhan, reproduksi, cara makan dan kebiasaan makan pada ikan mas. Laporan ini juga dilengkapi gambar-gambar untuk memperjelas contoh dalam pembahasan materi.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam laporan ini. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya pengetahuan kami. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki laporan ilmiah ini. Akhir kata kami berharap semoga laporan ilmiah Biologi Perikanan ini dapat memperkaya wawasan terhadap pembaca.
Jatinangor, 05 Maret 2017
Penyusun
1
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR LAMPIRAN... v
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi... 1
1.3 Tujuan... 2
1.4 Kegunaan... 2
II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Letak geografis ikan uji... 3
2.2 Biologi ikan uji ... 4
2.3 Pertumbuhan... 6
2.4 Reproduksi... 9
2.5 Kebiasaan Makan... 16
2.6 Parameter Penunjang Fisik dan Kimiawi Kualitas Air... 19
III METODELOGI 3.1 Waktu dan Tempat... 22
3.2 Alat... 22
3.3 Bahan... 22
3.4 Metode Praktikum... 23
3.5 Prosedur Praktikum... 23
3.6 Parameter Pengamatan... 24
3.7 Analisa Data... 29
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Morfometrik Ikan Uji... 30
4.2 Pertumbuhan... 30
4.2 Reproduksi... 33
4.2 Kebiasaan Makan dan Cara Makan... 39
V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 43
5.2 Saran... 43
DAFTAR PUSTAKA... 44
LAMPIRAN... 46
2
2 Grafik hubungan panjang dan berat pada ikan... 7
3 Alat organ reproduksi ... 11
4 Hasil penelitian karakteristik sperma ikan mas dan patin... 16
5 Prosedur praktikum... 23
6 Grafik distribusi bobot ikan mas... 21
7 Grafik hubungan panjang dan berat ikan mas... 32
8 Grafik faktor kondisi... 33
9 Grafik rasio kelamin... 34
10 Grafik distribusi TKG ikan mas... 35
11 Grafik perbandingan nilai IKG dan TKG... 36
12 Grafik perbandingan nilai HSI, IKG dan TKG... 37
13 Grafik perbandingan total length dengan fekunditas... 38
14 Grafik jenis pakan... 39
15 Grafik indeks propenderan ikan mas... 40
DAFTAR TABEL Nomor Judul Halaman 1 Tingkat kematangan gonad ikan jantan dan betina... 13
2 Efek dari kisaran nilai pH... 20
3 Morfometrik ikan mas kelompok 16... 30
4 Pertumbuhan ikan mas kelompok 16... 30
3
Lampiran 2. Kegitan praktikum ... 48 Lampiran 3. Tabel...50
4
Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.
Ikan adalah organisme bertulang belakang (vertebrata), habitatnya perairan, umumnya bernapas dengan insang, bergerak dan menjaga keseimbangan tubuhnya dengan sirip-sirip, dan bersifat poikilotermal (suhu tubuhnya menyesuaikan dengan suhu lingkungannya). Ikan terdiri dari lebih 27,000 spesies di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan, biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes).
Praktikum aspek biologi (pertumbuhan, reproduksi, kebiasaan makan dan cara makan) pada ikan mas ini bertujuan untuk mengetahui aspek pertumbuhan, aspek reproduksi, aspek kebiasaan makan dan cara makan pada ikan mas untuk memaksimalkan ikan mas sebagai salah satu potensi perikanan dalam memajukan perekonomian bangsa Indonesia serta memudahkan praktikan saat melaksanakan penelitian.
1.2 Identifikasi Masalah
5
2
a. Bagaimana mengetahui aspek pertumbuhan ikan mas?
b. Bagaimana mengetahui aspek reproduksi ikan mas?
c. Bagaimana mengetahui aspek food and feeding habits ikan mas?
1.3 Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum praktikum biologi perikanan mengenai analisis aspek biologi ikan mas (Cyprinus carpio) adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui aspek pertumbuhan ikan mas.
b. Mengetahui aspek reproduksi ikan mas.
c. Mengetahui aspek food and feeding habits ikan mas.
1.4 Kegunaan
Kegunaan praktikum praktikum biologi perikanan mengenai analisis aspek biologi ikan mas (Cyprinus carpio) adalah menambah wawasan dan kemampuan praktikan dalam mengetahui cara dan pengidentifikasian aspek pertumbuhan, reproduksi dan food and feeding habits pada ikan Mas.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Letak Geografris Habitat Ikan Uji
Ikan Mas yang digunakan dalam praktikum berasal dari kawasan Ciparanje. Terdapat kolam-kolam akuakultur dan tempat pengelolaan sumberdaya perikanan di wilayah utara Ciparanje yang merupakan kawasan yang dikelola oleh FPIK Universitas Padjadjaran. Kawasan tersebut dilewati oleh air yang mengalir dari mata air Gunung manglayang. Ikan Mas Ciparanje hidup di perairan mengalir dan wilayah terbuka.
Ikan Mas hidup pada kolam-kolam air tawar dan danau-danau serta perairan umum lainnya. Dalam perkembangannya ikan ini sangat peka terhadap perubahan kualitas lingkungan. Ikan Mas merupakan salah satu ikan yang hidup di perairan tawar yang tidak terlalu dalam dan aliran air tidak terlalu deras. Ikan Mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150- 600 meter di atas permukaan air laut dan pada suhu 25-30°C. Meskipun tergolong ikan air tawar,
ikan Mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas 25-30 ppt (Huet 1971).
Ikan Mas di Indonesia berasal dari daratan Eropa dan Tiongkok yang kemudian berkembang menjadi ikan budidaya yang sangat penting (Suseno 2000).
Ikan Mas awalnya berasal dari Tiongkok Selatan. Disebutkan, budidaya ikan Mas diketahui sudah berkembang di daerah Galuh (Ciamis) Jawa Barat pada pertengahan abad ke-19. Masyarakat setempat sudah menggunakan kakaban untuk pelekatan telur ikan Mas yang terbuat dari ijuk pada tahun 1860, sehingga budidaya ikan Mas kolam di daerah Galuh disimpulkan sudah berkembang berpuluh-puluh tahun sebelumnya (Ardiwinata 1981).
Penyebaran ikan Mas di daerah Jawa lainnya, terjadi pada permulaan abad ke-20, terutama sesudah terbentuk Jawatan Perikanan Darat dari Kementrian Pertanian (Kemakmuran) saat itu. Dari Jawa, ikan Mas kemudian dikembangkan ke Bukittinggi (Sumatera Barat) tahun 1892. Berikutnya dikembangkan di Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) tahun 1895, daerah Bali Selatan (Tabanan) tahun 1903, Ende (Flores, NTT) tahun 1932 dan Sulawesi Selatan tahun 1935.
Pada tahun 1927 atas permintaan Jawatan Perikanan Darat saat itu juga mendatangkan jenis-jenis ikan Mas dari Negeri Belanda, yakni jenis Galisia (Mas Gajah) dan kemudian tahun 1930 didatangkan lagi Mas jenis Frankisia (Mas Kaca). Menurut Suseno (2000), kedua jenis karper tersebut sangat digemari oleh petani karena rasa dagingnya lebih sedap, padat, durinya sedikit dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ras-ras lokal yang sudah berkembang di Indonesia sebelumnya.
2.2 Biologi Ikan Mas
Ikan mas merupakan salah satu ikan yang sangat populer dan juga banyak disukai banyak masyarakat, ikan mas ini termasuk kedalam famili ikan mas atau disebut cyprinidae.
Gambar 1. Ikan mas
Ikan mas ini pertama kalinya berasal dari Asia Tenggara yang menyebar luas di berbagai daerah terutamanya Indonesia. Ikan mas ini memiliki warna yang sangat beragam dan juga bervariasi mulai dari warna merah, kekuningan, orange dan juga bahkan abu – abu kehitaman serta kombinasi. Selain, memiliki warna yang sangat bervariasi ikan mas ini memiliki kandungan gizi dan nutrisi yang sangat tinggi sehingga tidak diherankan ikan mas ini banyak yang menyukainya dan juga dikenali banyak masyarakat.
Klasifikasi ikan mas (Cyprinus carpio) menurut Saanin (1968) adalah sebagai berikut::
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Ordo : Cypriniformes Famili : Cyprinidae Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio
Tubuh ikan mas memiliki ciri-ciri diantaranya yaitu bentuk badan memanjang dan sedikit pipih ke samping, mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protektil) serta dihiasi dua pasang sungut.
Selain itu di dalam mulut terdapat gigi kerongkongan, dua pasang sungut ikan mas terletak di bibir bagian atas. Gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri atas tiga baris yang berbentuk geraham, memiliki sirip punggung (dorsal)
berbentuk memanjang dan terletak dibagian permukaan tubuh, berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral) bagian belakang sirip punggung memiliki jari-jari keras sedangkan bagian akhir berbentuk gerigi, sirip dubur (anal) bagian belakang juga memiliki jari-jari keras dengan bagian akhir berbentuk gerigi seperti halnya sirip punggung, sirip ekor berbentuk cagak dan berukuran cukup besar dengan tipe sisik berbentuk lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan, gurat sisik atau garis rusuk (linea lateralis) ikan mas berada di pertengahan badan dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
Habitat ikan mas hidup pada kolam-kolam air tawar dan danau-danau serta perairan umum lainnya. Namun, ikan ini juga pernah ditemukan di muara sungai berair payau (Susanto 1999). Dalam perkembangannya ikan ini sangat peka terhadap perubahan kualitas lingkungan. Ikan mas merupakan salah satu ikan yang hidup di perairan tawar yang tidak terlalu dalam dan aliran air tidak terlalu deras. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150- 600 meter di atas permukaan air laut dan pada suhu 25-30°C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas 25-30 ppt.
2.3 Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat.
Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon dan lingkungan. Meskipun secara umum, faktor lingkungan yang memegang peranan sangat penting adalah zat hara dan suhu lingkungan. Akan tetapi, di daerah tropis zat hara lebih penting dibandingkan lingkungan. Tidak semua makanan yang dimakan oleh ikan digunakan untuk pertumbuhan. Sebagian besar energi dari makanan digunakan untuk aktivitas, pertumbuhan dan reproduksi (Fujaya 2004).
Menurut Effendie (1997), kelompok sel-sel suatu jaringan pada bagian tubuh dalam pertumbuhan dapat digolongkan menjadi bagian yang dapat diperbaharui, bagian yang dapat berkembang, dan bagian yang statis.
Digolongkan dapat diperbaharui karena sel-sel dalam tubuh mempunyai daya membelah secara mitosis sangat cepat walaupun suatu organisme tersebut sudah
tua. Urat dan daging pada ikan merupakan bagian terbesar dari tubuhnya.
Pertambahan sel-sel pada jaringan tersebut akan berpengaruh terhadap bobot ikan.
Hubungan panjang – bobot ikan dalam biologi perikanan merupakan salah satu informasi pelengkap yang perlu diketahui dalam kaitan pengelolaan sumber daya perikanan, misalnya dalam penentuan selektifitas alat tangkap agar ikan – ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Pengukuran panjang – bobot ikan bertujuan untuk mengetahui variasi berat dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok-kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang bobot, kesehatan, produktifitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa hubungan panjang–berat juga dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu hal penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif populasi ikan atau individu tertentu (Mulfizar 2012).
2.3.1 Tipe-Tipe Pertumbuhan
Pertumbuhan dapat diukur dengan menganalisis ukuran panjang dan berat.
Analisis panjang dan berat bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan di alam. Rumus hubungan antara panjang total ikan dengan beratnya adalah persamaan eksponensial sebagai berikut (Effendie 1979) :
W= a Lb atau
log W = log a + b log L
Keterangan:
W = berat total ikan (g), L = panjang total ikan (mm),
a dan b = konstanta hasil regresi (diperoleh dengan uji statistik regresi).
Hasil plot data panjang dan berat ikan dalam suatu gambar, maka akan didapatkan grafik hubungan sebagai berikut :
Gambar 2. Grafik hubungan panjang dan berat pada ikan (Sumber : Effendi 1997)
Rumus umum hubungan panjang-berat, apabila di transformasikan ke dalam logaritma, akan menjadi persamaan: log W = log a + b log L, yaitu persamaan linier atau persamaan garis lurus sebagai berikut :
W logl×log¿
¿¿
¿¿
¿¿ log¿L
∑
¿2¿¿ L ×
∑
¿log¿ (logL)2−
∑
¿W ×
∑
¿log¿
∑
¿a=¿
log¿
a N ×log¿
∑
log¿W−¿¿ ¿b¿
Hubungan panjang dan berat dapat dilihat dari nilai konstanta b (Effendi 1997) :
Bila b = 3, hubungan yang terbentuk adalah isometrik (pertambahan panjang seimbang dengan pertambahan berat).
Bila b ≠ 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik;
Bila b > 3 maka hubungan yang terbentuk adalah allometrik positif yaitu pertambahan berat lebih cepat daripada pertambahan panjang, menunjukkan keadaan ikan tersebut montok.
Bila b < 3, hubungan yang terbentuk adalah allometrik negatif yaitu pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat, menunjukkan keadaan ikan yang kurus.
Pengukuran berat dari berbagai penimbangan ikan yang paling tepat adalah dengan menggunakan timbangan duduk dan timbangan gantung, adapun keuntungan yang dimiliki dari kedua timbangan ini adalah bekerjanya lebih teliti, pengaruh dari luar seperti angin dapat dikurangi, serta pendugaan pertama terhadap berat ikan yang ditimbang tidak perlu dilakukan, karena secara langsung dapat menunjukkan bobotnya (Abdul 1985).
Pengukuran panjang ikan dalam penelitian biologi perikanan hendaknya mengikuti suatu ketentuan yang sudah lazim digunakan. Dalam hal ini panjang ikan dapat diukur dengan menggunakan sistem metrik ataupun sistem lainnya (Effendie 1979). Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam pengukuran tersebut nantinya akan diperoleh nilai b, yang ikut menentukan seimbang tidaknya antara berat dan panjang ikan. Dimana nilai b yang mungkin muncul adalah b<3, b=3, atau b>3.
2.3.2 Faktor-Faktor Pertumbuhan
Hubungan panjang dan berat ikan memberikan suatu petunjuk keadaan ikan baik itu dari kondisi ikan itu sendiri dan kondisi luaryang berhubungan
dengan ikan tersebut. Diantaranya adalah keturunan, seks, umur, parasit, da penyakit. Pada keturunan yang berasal dari alam sangat sulit dikontrol, untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik, ikan mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda pada tingkatan umur dimana waktu muda pertumbuhannya cepat, dan ketika tua menjadi lamban, dan parasit dan penyakit sangat berpengaruh bila yang diserang adalah organ – organ pencernaan. Faktor luar yang utama ialah makanan dan dan suhu perairan. Makanan dengan kandungan nutrisi yang baik akan mendukung pertumbuhan dari ikan tersebut, sendangkan suhu akan mempengaruhi proses kimiawi tubuh (Effendie 2002).
2.4 Reproduksi
Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau kelompoknya. Untuk dapat melakukan reproduksi maka harus ada gamet jantan dan betina. Penyatuan gamet jantan dan betina akan membentuk zigot yang selanjutnya berkembang menjadi generasi baru (Fujaya 2004).
Alat kelamin jantan meliputi kelenjar kelamin dan saluran-salurannya.
Kelenjar kelamin jantan disebut testis. Pembungkus testikular yang mengelilingi testis, secara luas menghubungkan jaringan-jaringan testis, membentuk batasan- batasan lobular yang mengelilingi germinal epithelium. Spermatozoa dihasilkan dalam lobule yang dikelilingi sel-sel sertoli yang mempunyai fungsi nutritif (Fujaya 2004).
Perkembangan gamet jantan dari spermatogonium menjadi spermatozoa melalui dua tahap, yaitu spermatogenesis dan spermiogenesis. Spermatogenesis adalah tahap perkembangan spermatogonium menjadi spermatid. Sedangkan spermiogenesis adalah metamorfosis spermatid menjadi spermatozoa. Awal spermatogenesis ditandai dengan berkembangbiaknya spermatogonia beberapa kali melalui pembelahan mitosis, untuk memasuki tahap spermatosit primer.
Selanjutnya terjadi pembelahan meiosis, yang dimulai dengan kromosom berpasangan, yang diikuti dengan duplikasi membentuk tetraploid (4n). Satu
spermatosit sekunder diploid membelah diri menjadi dua spermatid haploid (n).
(Fujaya 2004).
Perangsangan perkembangan sperma tidak terlepas dari peran serta hormon androgen, yaitu testosteron. Sedangkan testosteron yang memegang peranan utama pada spermatogenesis dan spermiasi adalah testosteron.
Testosteron selanjutnya akan merangsang sel-sel sertoli sehingga aktif menstimulasi pembelahan mitosis spermatogonia dan menyempurnakan spermatogenesis (Fujaya 2004).
Perkembangan gamet betina atau disebut juga oogenesis terjadi di dalam ovarium. Oogenesis diawali dengan perkembangbiakan oogonium beberapa kali melalui pembelahan mitosis, untuk memasuki tahap oosit primer. Selanjutnya terjadi pembelahan meiosis I, membentuk oosit sekunder dan polar body I melalui proses meiosis II oosit sekunder membelah menjadi oosit dan polar body II.
Oogenesis adalah proses kompleks yang secara keseluruhan merupakan pengumpulan kuning telur (Fujaya 2004).
2.4.1 Tipe Seksualitas Ikan
Seksualitas ikan perlu diketahui karena dapat digunakan untuk membedakan antara ikan jantan dengan ikan betina. Ikan jantan adalah ikan yang dapat menghasilkan spermatozoa, sedangkan ikan betina adalah ikan yang dapat menghasilkan sel telur atau ovum. Ikan jantan dapat dibedakan dari ikan betina dengan melihat ciri-ciri seksual primer dan sekunder. Ciri seksual primer adalah organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri-ciri seksual sekunder adalah dengan melihat warna tubuh (sexual dichromastism), morfologi dan bentuk tubuh (sexual dimorphism) yang digunakan untuk membedakan jenis kelamin pada ikan. Testis beserta salurannya merupakan ciri seksual primer ikan jantan, sedangkan ovari beserta salurannya merupakan ciri seksual primer ikan betina. Nisbah ikan jantan dan ikan betina diperkirakan mendekati 1:1, berarti jumlah ikan jantan yang tertangkap relatif sama banyaknya dengan jumlah ikan betina yang tertangkap. Pada umumnya ikan jantan
mempunyai warna yang lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina (Jayadi 2011).
Apabila suatu populasi terdiri dari ikan-ikan yang berbeda seksualitasnya (jantan dan betina) maka populasi tersebut disebut populasi heteroseksual.
Sedangkan suatu populasi yang hanya terdiri dari ikan satu jenis seksualitasnya (jantan saja atau betina saja) maka populasi tersebut disebut populasi monoseksual atau monoseksual.
Ikan jantan dan ikan betina dapat dibedakan dengan melihat ciri-ciri yang dimilikinya. Ciri-ciri seksual yang dapat membedakan antara ikan jantan dan ikan betina terbagi menjadi dua jenis, yaitu ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder:
a. Ciri Seksual Primer
Ciri seksual primer pada ikan di tandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Ciri seksual primer yaitu alat/organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi.
Gambar 3. Alat organ reproduksi jantan (kiri) dan betina (kanan) (Sumber: http://fredikurniawan.com )
b. Ciri Seksual Sekunder
Ciri seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang
mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme.
Namun, apabila satu spesies ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme.
1) Dimorfisme Seksual
Dimorfisme seksual adalah perbedaan sistematik luar antar individu yang berbeda kelamin dalam spesies yang sama, mencakup ukuran, warna, dan keberadaan atau ketidakberadaan bagian tubuh. Metode yang dipakai adalah morfometrik, yakni memperbandingkan karakter-karakter morfologi luar didalam individu itu sendiri (Tjakrawidjaja 2006)
2) Dikromatisme Seksual
Warna pada ikan sering merupakan ciri pengenalan seksual. Secara umum boleh dikatakan bahwa ikan jantan mempunyai warna yang lebih cemerlang daripada ikan betina. Bagi ikan jantan warna berfungsi untuk menarik perhatian ikan betina. Variasi warna yang menakjubkan di temukan pada banyak spesies siklid jantan pada berbagai danau di Afrika (Kodric- Brown, 1998).
Menurut Fujaya (2008) sebagian besar spesies ikan adalah gonokoristik (dioecious) dimana sepanjang hidupnya memiliki jenis kelamin yang sama.
Gonokoristik terdiri atas dua kelompok, yaitu:
1) Kelompok yang tidak berdiferensiasi, artinya pada waktu juvenil, jaringan gonad dalam keadaan belum dapat diidentifikasi (jantan atau betina)
2) Kelompok yang berdiferensiasi, artinya sejak juvenil sudah tampak jenis kelaminnya (jantan atau betina)
Selain gonokoristik, dikenal pula istilah hermaprodit, yaitu di dalam tubuh individu ikan ditemukan dua jenis gonad (Fujaya 2008). Berdasarkan sifat perubahannya, hermaprodit dibagi menjadi 4 yaitu hermaprodit sinkroni
(synchronous hermaphrodite), hermaprodit protogini (protogynous hermaphrodite) dan hermaprodit protandri (protandrous hermaphrodite) (Ghufran 2010).
2.4.2 Faktor Reproduksi dan Indikator Ikan a. Tingkat Kematangan Gonad
Tingkat kematangan gonad dapat dipergunakan sebagai penduga status reproduksi ikan, ukuran dan umur pada saat pertama kali matang gonad, proporsi jumlah stok yang secara produktif matang dengan pemahaman tentang siklus reproduksi bagi suatu populasi atau spesies. Sejalan dengan pertumbuhan gonad, maka gonad akan semakin bertambah besar dan berat sampai batas maksimum ketika terjadi pemijahan. Indeks kematangan gonad semakin meningkat dengan meningkatnya pematangan gonad (Wahyuningsih dan Barus 2006).
Pengelompokan tingkat kematangan gonad (TKG) dapat dilakukan secara visual, tanpa mematikan hewannya, yaitu dengan melihat perbandingan volume visual gonad bulk ripe (>50 %). Namun, bila hanya dilihat dari ukuran gonad atau VGB (tanpa pembedahan), sangat susah untuk membedakan antara recovery dengan partly spawned atau spent pada TKG yang terakhir, gonad bersifat lembek dan berwarna pucat (Kjorsvik et al. 1990 dalam Utiah 2006)
Menurut Effendi (2002) tingkat kematangan gonad ikan menurut Tester dan Takata (1953) adalah:
Tabel 1. Tingkat kematangan gonad ikan jantan dan betina
TKG Betina Jantan
I Ovari seperti benang yang panjangnya sampai ke depan rongga tubuh, warna jernih, permukaan licin
Testes jantan seperti benang, lebih pendek (terbatas) dan terlihat ujungnya di rongga tubuh, warna jenih
II Ukuran ovari lebih besar, pewarnaan lebih gelap dan kekuningan, telur belum terlihat jelas dengan mata
Ukuran testes lebih besar, pewarnaan putih seperti susu, bentuk lebih jelas
daripada tingkat I III Ovari berwarna kuning, secar morfologi telur
mulai kelihatan butirnya dengan jelas
Permukaan testes tampak bergerigi, warna makin putih, testes makin besar, dalam keadaan di formalin mudah terputus
IV Ovari makin besar, telur berwarna kuning, mudah dipisahkan, butir minyak tidak tampak, mengisi 1/2-1/3 rongga perut, usus terdesak
Seperti pada tingkat III tampak lebih jelas, testes semakin pejal
V Ovari berkerut, dinding tebal, butir telur sisa terdapat didekat pelepasan, banyak telur seperti pada tingkat II
Testes bagian belakang kempis dan di bagian dekat pelepasan masih berisi
b. Indeks Kematangan Gonad
Indeks Kematangan Gonad yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikalikan 100%.
Indeks kematangan gonad dapat menggunakan tanda utama untuk membedakan kematangan gonad berdasarkan berat gonad. Secara ilmiah hal ini berhubungan dengan ukuran dan berat tubuh ikan keseluruhannya atau tanpa berat gonad. Perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh (Nikolsky 1969 dalam Effendie 2002).
Perbedaan nilai IKG dapat disebabkan perubahan tingkat metabolisme pada suhu yang berbeda. Dimana perbedaan suhu akan mempengaruhi tingkat metabolisme suatu organisme budidaya. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa tingkat metabolisme berhubungan dengan suhu air, sehingga tingkat metabolisme akan mengalami perubahan jika dipelihara pada suhu yang berbeda (Masonjones 2001).
Ikan yang mempunyai berat tubuh lebih berat maka secara otomatis ia akan memiliki berat gonad yang jauh lebih berat, hal ini berkaitan langsung dengan ukuran telur yang dihasilkan. Menurut Effendie (2002), umumnya sudah dapat diduga bahwa semakin meningkat tingkat kematangan, garis
tengah telur yang ada dalam ovarium semakin besar pula. Berat tubuh pertama matang gonad pada ikan mas adalah 500gram/ekor, sedangkan pada ikan betina adalah 2.500gram/ekor.
c. Indeks Hepatosomatik
Indeks Hepatosomatik/Hepatosomatic Index (HSI) adalah suatu metode yang dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam hati secara kuantitatif. Hati merupakan tempat terjadinya proses vitelogenesis.
2.4.3 Hasil Penelitian Reproduksi Ikan
Terdapat penelitian tentang reproduksi berjudul “Karakteristik Semen Ikan Ekonomis Budidaya: Mas (Cyprinus carpio), Dan Patin (Pangasius hypophthalmus) oleh Japet (2011) dari Institut Pertanian Bogor.
Penelitian tersebut mengevaluasi bagaimana kriteria sperma segar yang diperoleh dari ikan mas dan patin. Hasil evaluasi semen segar merupakan pemeriksaan awal semen yang dijadikan dasar untuk menentukan kelayakan semen yang akan diproses lebih lanjut. Volume ejakulat pada hewan ternak dipengaruhi oleh breeding, ukuran badan, tingkatan umur, frekuensi, metode penampungan dan kondisi lingkungan. Sedangkan pada ikan, volume ejakulat dipengaruhi oleh umur, bobot, frekuensi dan kondisi lingkungan (Billard 1995).
Gambar 4. Hasil penelitian karakteristik sperma ikan mas dan patin (Sumber: www.google.com)
Jumlah sampel pada masing-masing jenis ikan adalah tiga ekor. Pada hasil penelitian didapatkan volume spermatozoa ikan mas 1,27 ± 0,47 ml sedangkan pada ikan patin 1,23 ± 0,21 ml.
Hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa volume spermatozoa kedua ikan tersebut hampir sama pada penelitian ini. Volume spermatozoa dapat dikaitkan dengan seks ratio pada ikan. Seks ratio adalah seberapa banyak perbandingan spermatozoa antara induk jantan dengan sel telur induk betina yang memijah untuk menghasilkan bibit yang optimal.
Perbedaan volume semen juga dapat mengindikasikan sex ratio yang dibutuhkan pada ikan jantan dan betina. Salah satu faktor berhasil tidaknya suatu proses pembuahan bergantung pada perbandingan spermatozoa dengan sel telur.
2.5 Kebiasaan Makan dan Cara Makan Ikan
Besarnya populasi ikan dalam suatu perairan antara lain dituntekn oleh makanan yang tersedia. Dari makanan ini ada beberapa faktor yang berhubungan dengan populasi tersebut yaitu jumlah dan kualitas makanan yang tersedia, mudahnya tersedia makanan dan lama masa pengambilan makanan oleh ikan dalam populasi tersebut. Makanan yang telah digunakan oleh ikan tadi akan mempengaruhi sisa persediaan makanan dan sebaliknya dari makanan yang diambilnya akan mempengaruhi pertumbuhan, kematangan bagi tiap-tiap individu ikan serta keberhasilan hidupnya (survival). Adanya makanan dalam perairan selain terpengaruh oleh kondisi biotik, ditentukan pula oleh kondisi abiotik lingkungan seperti suhu, cahaya, ruang dan luas permukaan.
2.5.1 Kebiasaan Makan
Kebiasaan makan ikan dan cara alami bergantung kepada lingkungan tempat ikan itu hidup. Kebiasaan makanan ikan (food habits) mencakup jenis, kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan oleh ikan. Kebiasaan makanan dan
cara makan ikan secara alami bergantung kepada lingkungan tempat ikan itu hidup (Effendi 1997).
Kebiasaan makan ikan dipengaruhi antara lain oleh ukuran tubuh ikan, bentuk organ pencernan, umur, lingkungan hidup ikan dan penyebaran organisme pakan. Tingkat kesukaan makanan mencakup jenis kualitas dan kuantitas mkanan yang dimakan oleh ikan. Umumya makanan pertama semua ikan pada fase juvenil adalah plankton (Effendi 1997).
2.5.5 Cara Makan Ikan
Cara makan (feeding habits) adalah tingkah laku ikan dalam mendapatkan makanan hingga masuk ke dalam mulut. Tigah laku ikan berbeda-beda yang dihubungkan dengan bentuk tubuh yang khusus dan fungsional morfologis (Effendi 1997). Adaptasi morfologis dan tingkah laku ikan berkaitan erat dengan makanan yang dikonsumsinya.
Berdasarkan macam makanannya, Mudjiman (2008) menggolongkan ikan menjadi 5 golongan, yaitu:
1. Pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivora), yaitu ikan yang makanan pokonya terutama terdiri dari bahan asal tumbuh-tumbuhan (nabati), contohnya ikan tawes.
2. Pemakan daging (karnivora), yaitu ikan yang makanan pokoknya terutama terdiri dari bahan asal hewan (hewani), contohnya ikan gabus dan arwana.
3. Pemakan segala (omnivora), yaitu ikan yang makanan pokoknya terdiri dari bahan sal tumbuh-tumbuhan (nabati) maupun hewan (hewani), contohnya ikan mas dan mujair.
4. Pemakan plankton, yaitu ikan yang makanan pokoknya terdiri dari plankton, baik fitoplankton (nabati) maupun zooplankton (hewani) sepanjang hidupnya, contohnya ikan tambakan.
5. Pemakan detritus, yaitu ikan yang makanan pokoknya terdiri dari hancurn sisa-sisa bahan organik yang membusuk di dalam air, contohnya ikan belanak.
Menurut Effendie (1997), berdasarkan jumlah variasi dari macam-macam makanan tadi, ikan dapat dibagi menjadi:
1. Euryphagic, yaitu ikan pemakan bermacam-macam makanan.
2. Stenophagic, yaitu ikan pemakan makanan yang macamnya sedikit.
3. Monophagic, yaitu ikan yang makanannya terdiri dari satu macam makanan saja.
Menurut Effendi (1997), penyesuaian ikan berdasarkan jenis makanan yang dinamakan juga terlihat pada letak mulut dari ikan-ikan tersebut. Pada ikan herbivora dan omnivora biasanya letak mulut dari ikan-ikan tersebut. Pada ikan herbivora dan omnivora biasanya letak mulut yang berada didepan (terminal) dan ikan karnivora biasanya letak mulutnya berada dibawah (inferior) atau bahkan ada juga yang terletak diatas (superior).
Cara makan ikan mas ini cukup unik yakni dengan membuka mulutnya lebar-lebar dan kemudian menyedot makanannya seperti alat penghisap. Jadi umpan berstruktur lembut dengan bentuk partikel kecil sangat cocok untuk Ikan Mas. Pada saat kondisi nafsu makan yang tinggi, apapun yang dianggapnya makanan akan dihisap kemudian dicicipi dan yang bukan makanan akan dibuang dengan cara disemburkan.
Secara naluri, Ikan Mas membutuhkan asupan makanan tambahan yang diperlukan tubuh untuk tumbuh dan berkembangbiak. Jadi selain rasa lapar, pemenuhan kebutuhan gizi dan protein juga akan merangsang nafsu makan Ikan Mas dan dipercaya bahwa makanan dengan kandungan protein tinggi memiliki aroma wangi yang khas. Sehingga umpan yang dibuat dari bahan campuran keju, susu, telur, mentega akan sangat cocok digunakan sebagai bahan umpan tambahan.
2.6 Parameter Penunjang Fisik dan Kimia Kualitas Air
Kualitas air didefinisikan sebagai kelayakan suatu perairan untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme akuatik yang nilainya dinyatakan dalam kisaran nilai tertentu (Boyd 1992). Perairan yang baik dalam pemeliharaan ikan adalah yang kualita airnya dapat mendukung kehidupan ikan dalam melakuakan metabolismenya seperti suhu, nilai pH, desolved oxygen (DO), dan penetrasi cahaya (Zonneveld et al 1991).
2.6.1 Suhu
Pengertian suhu adalah suatu besaran untuk menyatakan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda. Suhu ini merupakan salah satu faktor abiotik yang memegang peranan penting bagi kehidupan organisme perairan (Wardoyo 1975). Menurut Boyd (1990), suhu yang baik untuk kegiatan perikanan budidaya adalah 25-30 oC. Pada hewan yang bersifat poikilotermik seperti ikan mas, meningkatnya suhu dalam batas toleransi dapat mempercepat pertumbuhan.
Permasalahnnya adalah pada pembudidayaan ikan mas belum diketahui seberapa besar pengaruh naungan terhadap suhu air kolam dan seberapa besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan optimum ikan mas.
Suhu merupakan merupakan salah satu faktor penting bagi kehidupan ikan karena suhu merupakan faktor pengontrol yang mempengaruhi laju perkembangan dan laju pertumbuhan ikan (Kamler 1989). Hal ini ditegaskan oleh Kamler (1989) bahwa suhu berpengaruh terhadap laju metabolisme ikan karena sesuai dengan biokimia jaringan tubuhnya, yakni ikan memiliki sfat polikioterm (berdarah dingin) yang artinya suhu tubuh ikan mengikuti disekitarnya, sehingga suhu tubuh mereka berubah-ubah dengan suhu lingkunganya.
Spott (1979) mengemukakan bahwa kenaikan suhu diluar batas toleransi dapat menyebabkan laju metabolisme dalam tubuh ikan meningkat. Stickney (1979) menyatakan bahwa pada pada sebagian besar spesies ikan termasuk ikan mas ini, laju metabolisme diatas suhu optimum (33 – 40 oC) akan meningkat dan energi mulai dialihkan dari pertumbuhan untuk laju metabolisme yang tinggi.
Sebaliknya suhu yang lebih rendah dari kisaran suhu optimal (<20oC)
mengakibakan respon imunitas menjadi lambat, mengurangi nafsu makan, aktifitas ikan kurang dan pertumbuhan terhambat (Wedemeyer 1996).
2.6.2 Penetrasi Cahaya
Kecerahan merupakan parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses fotosintesis pada suatu ekosistem perairan. Menurut Goldman dan Horme (1983), kondisi perairan yang kecerahannya rendah dan terlalu tinggi akan menurunkan kelimpahan pankton, hal ini disebabkan karena penurunan kecerahan dan menyebabkan makanan plankton berkurang, serta sifat plankton yang fototaksis negatif yaitu bergerak menjauhi cahaya sehingga akan mempengaruhi kelangsungan hidup ikan karena akan terjadi menurunya kelimpahan plankton dan ikan yang berada pada perairan tersebut akan kekurangan makanan. Boyd (1990), menyatakan bahwa transparansi cahaya baik untuk plankton secara optimal yaitu 30-50 cm.
2.6.3 Derajat Keasaman
Nilai derajat keasaman (pH) dalam air berpengaruh nyata bagi kehidupan ikan. Untuk mendukung kehidupan diperairan diperlukan nilai pH berkisar 6,5 – 9,5 (Boyd 1992) Dibawah ini disajikan tabel kisaran pH dan akibatnya terhadpa ikan.
Tabel 2. Efek dari kisaran nilai pH (Boyd 1992)
pH Akibat terhadap ikan
4,0 Titik mati asam
4,0 – 5,0 Reproduksi tidak berlangsung
5,0 – 6,5 Pertumbuahn lambat
6,5 – 9,5 Baik untuk pertumbuhan
11 Titik mati basa
Sumber: www.academia.edu 2.6.4 Dissolved Oxygen (DO)
Oksigen terlarut ( DO ) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut di suatu perairan sangat berperan dalam proses penyerapan makanan oleh mahkluk hidup dalam air. Umtuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan
dengan mengamati beberapa parameter kimia seperti aksigen terlarut (DO).
Semakin banyak jumlah DO (dissolved oxygen) maka kualitas air semakin baik.jika kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin saja terjadi.
Kandungan oxygen dalam perairan bertindak sebagi faktor pembatas (Kamler 1989). Oksigen terlarut sangat esensial bagi ikan untuk bernafas dan merupakan komponen utama dalam metabolisme. Kandungan oksigen terlarut diperairan selayaknya tidak boleh kuran dari 4 ppm (Wardoyo 1975).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum biologi perikanan mengenai analisis aspek biologi ikan mas (Cyprinus carpio) dilaksanakan pada hari Senin, 27 Februari 2017 pukul 13.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Jatinangor.
3.2 Alat
Alat-alat yang digunakan pada praktikum biologi perikanan mengenai analisis aspek biologi ikan mas (Cyprinus carpio) adalah sebagai berikut:
1. Mikroskop, digunakan untuk melihat organisme yang terdapat di dalam organ pencernaan ikan.
2. Timbanga analitik, digunakan untuk mengukur bobot gonad ikan.
3. Timbangan digital, digunakan untuk mengukur bobot ikan.
4. Milimeter blok, digunakan untuk mengukur panjang ikan dan organ dalam ikan.
5. Pisau bedah (scalpel); pinset (forceps); gunting bedah (dissecting scissors), digunakan untuk membedah ikan.
6. Petri dish, digunakan untuk menyimpan gonad dan isi usus.
7. Sonde (penusuk), digunakan untuk mematikan ikan.
8. Baki, digunakan sebagai tempat penyimpanan ikan.
9. Sterofoam, digunakan sebagai alas milimeter blok.
3.3 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum biologi perikanan mengenai analisis aspek biologi ikan mas (Cyprinus carpio) adalah sebagai berikut:
1. Ikan mas, digunakan sebagai objek pengamatan.
2. Larutan Acetokarmin, digunakan untuk pengeceran isi usus ikan.
3. Serra, digunakan untuk mengetahui tingkat kematangan telur.
3.4 Metode Praktikum
Praktikum biologi perikanan mengenai analisis aspek biologi ikan mas (Cyprinus carpio) dilakukan dengan metode observasi. Metode obsersavi dilakukan dengan teknik pengambilan data dan melakukan pengamatan objek secara langsung.
3.5 Prosedur Praktikum
Prosedur kerja yang digunakan dalam praktikum biologi perikanan mengenai analisis aspek biologi ikan mas adalah sebagai berikut:
Gambar 5. Prosedur praktikum
3.6 Parameter Pengamatan
Parameter yang digunakan dalam praktikum Biologi Perikanan ini mengenai aspek pertumbuhan, reproduksi dan food and feeding habits ikan mas (Cyprinus carpio).
3.6.1 Pertumbuhan
Parameter pengamatan pada aspek pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio) yaitu:
A. Hubungan panjang bobot
Menurut Saputra (2009), analisa hubungan panjang berat menggunakan metode yang dikemukakan Effendi (2002), adalah sebagai berikut:
W=a . Lb
Keterangan:
W = Berat (gram)
L = Panjang total ikan (cm) A = Nilai intersep
b = Nilai slope atau sudut tangensial
Persamaan tersebut dapat digambarkan dalam bentuk linier dengan logaritma digunakan persamaan log W = log a + b log L. Yang harus ditentukan dari persamaan tersebut ialah nilai a dan b, sedangkan nilai W dan L diketahui. Teknik perhitungan panjang berat menurut Rousefell dan Everhart (1960) secara langsung adalah dengan membuat daftar tersusun dari nilai L, log L, W, Log W, log L x Log, dan (log L)2. Apabila N = jumlah ikan yang sedang dihitung, maka untuk mencari a:
Log a = log W x (log L)² - log L x (log L x log W)Ʃ Ʃ Ʃ Ʃ N x (log L)² - ( log L)²Ʃ Ʃ
Untuk mencari b digunakan rumus:
b = log W – (N x log a)Ʃ log LƩ
Kemudian nilai log a dan b masukkan ke dalam rumus:
Log W = log a + b log L
B. Faktor kondisi
Perhitungan factor kondisi atau indek ponderal menggunakan sistem metric (K). Mencari nilai K digunakan rumus:
K=
a . LbWKeterangan:
K = Faktor kondisi W = Bobot ikan L = Panjang total A = Intercept B = Slope 3.6.2 Reproduksi
Parameter pengamatan pada aspek reproduksi ikan mas (Cyprinus carpio) yaitu:
A. Rasio Kelamin
Rasio kelamin dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan jantan dan betina yang diperoleh sesuai dengan Haryani (1998), adalah sebagai berikut:
Rasio kelamin =
BJKeterangan:
J = Jumlah ikan jantan (ekor) B = Jumlah ikan betina (ekor) B. Indeks Kematangan Gonad
Untuk menghitung Indeks Kematangan Gonad (IKG), mengacu kepada Effendi (1992) dengan rumus:
IKG= Bg
Bw−Bg×100
Keterangan:
IKG = Indeks Kematangan Gonad (%) Bg = Berat gonad (gram)
Bw = Berat tubuh ikan (gram)
C. Hepatosomatik Indeks
Hepatosomatik indeks (HSI) ikan dapat dihitung berdasarkan Effendie (1997) sebagai berikut:
HSI= Bh
Bw−Bh×100
Keterangan:
HIS = Hepatosomatik indeks (%) Bh = Berat Hati (gram)
Bw = Berat tubuh ikan (gram)
D. Diameter Telur
Diameter telur dihitung menggunakan rumus (Rodriquez et al. 1995) dalam Effendi (1997), adalah sebagai berikut:
Ds = √
D x d Keterangan:Ds = Diameter telur sebenarnya (mm) D = Panjang diameter telur (mm) D = Lebar diameter telur (mm) E. Fekunditas
Fekunditas individu dihitung berdasarkan metode gravimetric (Effendi 1992) dengan rumus sebagai berikut:
F= (
Gg)
x nKeterangan:
F = Jumlah total tekur dalam gonad G = Bobot gonad tiap satu ekor ikan
G = Bobot sebagian gonad (sampel) satu ekor ikan n = Jumalh telur dari sampel gonad
Fekunditas ikan juga dapat dihitung berdasarkan metode volumetric (Effendi 1997) dengan bentuk rumus:
X : x = V : v
Keterangan:
X = Jumlah telur didalam gonad yang akan dicari ( fekunditas ) x = Jumlah telur dari sebagian gonad
V = Volume seluruh gonad
v = Volume sebagian gonad contoh 3.6.3 Food and Feeding Habits
Parameter pengamatan pada aspek food and feeding habits ikan mas (Cyprinus carpio) yaitu:
A. Indeks propenderan
Indeks propenderan adalah gabungan metode frekuensi kejadian dan volumetrik dengan rumus sebagai berikut:
IPi= Vi x Oi
∑
i=1 nVi x Oi X100
Keterangan :
Ipi = indeks preponderan
Vi = persentase volume satu macam makanan
Oi = persentase frekuensi kejadian satu macam makanan
∑(vi x oi) = jumlah vi x oi dari semua jenis makanan B. Indeks pilihan
Preferensi tiap organisme atau jenis plankton yang terdapat dalam alat pencernaan ikan ditentukan berdasarkan indeks pilihan dalam Effendi (1979) sebagai berikut:
E =
2ri−ri+pipiKeterangan:
E = indeks pilihan
ri = jumlah relatif macam-macam organisme yang dimakan pi = jumlah relatif macam-macam organisme dalam perairan C. Tingkat tropik
Untuk mengetahui tingkat tropic ikan, ditentukan berdasarkan pada hubungan antara tingkat trofik organisme pakan dan kebiasaan makanan ikan sehingga dapat diketahui kedudukan ikan tersebut dalam ekosistem dirumuskan sebagai berikut:
Tp=1+∑(Ttp x li 100 )
Keterangan :
Tp = tingkat trofik ikan
Ttp = tingkat trofik kelompok pakan ke-p
Ii = indeks bagian terbesar untuk kelompok pakan ke-p
Tingkat trofik ikan dikategorikan menjadi tingkat trofik 2 yaitu untuk ikan yang bersifat herbivora, tingkat 2,5 untuk ikan yang bersifat omnivora dan tingkat trofik 3 atau lebih untuk ikan yang bersifat karnivora (Caddy dan Sharp 1986 dalam Tjahjo 2001 dalam Nugraha 2011).
3.7 Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam praktikum biologi perikanan mengenai analisis biologis ikan mas (Cyprinus carpio) adalah deskriptif kuantitatif. Analisa data deskriptif kuantitatif merupakan suatu metode untuk mengolah sebuah data
menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut menjadi mudah untuk dipahami dan juga bermanfaat untuk menemukan solusi permasalahan terutama dalam sebuah penelitian. Analisa data deskriptif kuantitatif merupakan kegiatan sesudah data dari seluruh responden atau sumber terkumpul. Teknik di dalam penelitian kuantitatif yitu menggunakan statistik.
Umumnya, teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak, teknik pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisi data yang bersifat kuantitatif atau statistik bertujuan untuk menguji hipotesis yang ditetapkan.
(Soegyarto, 2003).
Praktikum biologi perikanan megenai analisis biologi ikan mas (Cyprinus carpio) didapatkan data pertumbuhan yang akan diuji regresi dengan hubungan panjang bobot. Menurut Blackweel (2000) dan Ritcher (2007), pengukuran panjng bobot ikan bertujuan untuk mengetahui variasi bobot dan panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok-kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang bobot, kesehatan, produktivitas dan kondisi fisiologis termasuk perkembangan gonad. Analisa hubungan panjang-bobot juga dapat mengestimasi faktor kondisi yang merupakan salah satu hal penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi atau keadaan kesehatan relatif populasi ikan atau individu tertentu. Dari data hasil pertumbuhan yang telah terkumpul, dilakukan uji hipotesis hubungan panjang bobot.
b = 3 (Isometrik), dimana pertumbuhan panjang dan berat seimbang.
b ≠ 3 (Alometrik) :
b < 3 = alometrik negatif (pertumbuhan berat < panjang)
b > 3 = alometrik positif (pertumbuhan berat > panjang) BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Morfometrik Ikan Uji
Hasil pengamatan morfometrik dan meristik ikan mas kelompok 16 akan disajikan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 3. Morfometrik ikan mas kelompok 16
Letak Mulut Tipe Mulut Bentuk Tubuh Tipe Sisik
Terminal Biasa Compressed Cycloid
Berdasarkan dari hasil pengamatan morfometrik kelompok 16. Ikan mas memiliki bentuk tubuh compressed, tipe mulut biasa, letak mulut terminal dan tipe sisik cycloid.
4.2 Pertumbuhan
Hasil pengukuran pertumbuhan ikan mas kelompok 16 akan disajikan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4. Pertumbuhan ikan mas kelompok 16 SL
(mm)
FL (mm)
TL (mm)
Lingkar Kepala (mm)
Lingkar Tubuh (mm)
Bobot (gram)
145 157 172 125 150 96
Berdasarkan data hasil pengukuran (Tabel 2), ikan mas kelompok 16 memiliki ukuran panjang tubuh SL (Standart lenght) 145 mm, FL (Fork lenght) 157 mm, TL (Total lenght) 172 mm, lingkar kepala 125 mm, lingkar tubuh 150 mm dan memiliki bobot sebesar 96 gram.
4.2.1 Pengelompokan Kelas Ukuran
Pengelompokan ikan dilakukan untuk membagi suatu kelompok ikan ke dalam kelas ukurannya yang memiliki rentang ukuran yang relatif sama. Berikut ini grafik distribusi bobot ikan mas:
0%5%
10%15%
20%25%
30%35%
1% 4% 9%
21%
31%
24%
4% 4%
Distribusi Bobot Ikan Mas
interval presentase
Gambar 6. Grafik distribusi bobot ikan mas
Dari hasil data diatas, dapat diketahui bahwa distribusi bobot ikan mas dengan satuan gram dibagi menjadi 8 kelas. Kelas ke-1 (36-54 gram) sebanyak 1 ekor dengan persentasi 1%. Kelas ke-2 (55-73 gram) sebanyak 3 ekor dengan persentasi 4%. Kelas ke-3 (74-92 gram) sebayak 6 ekor dengan persentasi 9%.
Kelas ke-2 (55-73 gram) sebanyak 3 ekor dengan persentasi 4%. Kelas ke-3 (74- 92 gram) sebayak 6 ekor dengan persentasi 9%. Kelas ke-4 (93-111 gram) sebanyak 15 ekor dengan persentasi 21%. Kelas ke-3 (74-92 gram) sebayak 6 ekor dengan persentasi 9%. Kelas ke-5 (112-130 gram) sebanyak 22 ekor dengan persentasi 31%. Kelas ke-6 (131-149 gram) sebayak 17 ekor dengan persentasi 24%. Kelas ke-7 (150-168 gram) sebanyak 3 ekor dengan persentasi 4%. Kelas ke-3 (74-92 gram) sebayak 6 ekor dengan persentasi 9%. Kelas ke-8 (169-187 gram) sebanyak 3 ekor dengan persentasi 4%.
Dari populasi ikan sebanyak 70 ekor, didapatkan hasil persentasi tertinggi pada interval bobot (112-130 gram) sebanyak 22 ekor ikan mas.
4.2.2 Pola Pertumbuhan
Pola pertumbuhan ikan mas disajikan dalam grafik regresi hubungan panjang dan bobot ikan mas dibawah ini:
2.10 2.15 2.20 2.25 2.30 2.35 2.40 0.00
0.50 1.00 1.50 2.00 2.50
f(x) = 2.6x - 3.86 R² = 0.8
Hubungan Panjang dan Berat Ikan Mas
log L (X) log W (Y) Linear (log L (X) log W (Y)) Log Panjang
Log Bobot
Gambar 7. Grafik hubungan panjang dan berat ikan mas
Pengukuran panjang dan bobot ikan bertujuan untuk mengetahui variasi bobot dan panjang tertentu dari ikan secara individual. Hubungan panjang dan bobot ikan dalam suatu populasi dapat diketahui dengan mencari regresi pertumbuhannya terlebih dahulu. Dari hasil grafik diatas didapatkan nilai b = 2,955. Apabila nilai b < 3 = alometrik negatif (pertumbuhan berat < panjang).
Maka pertumbuhan berat ikan mas lebih cepat dari pertumbuhan panjangnya.
4.2.4 Faktor Kondisi
Salah satu derivat penting dari pertumbuhan adalah faktor kondisi. Faktor kondisi menunjukan keadaan ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk bertahan hidup dan reproduksi.
Grafik faktor kondisi disajikan dalam gambar dibawah ini:
Gambar 8. Grafik faktor kondisi
Dari grafik diatas menunjukan nilai faktor kondisi terbesar berada pada interval (142-153 gram). Hal ini menunjukan ikan sehat, dapat bertahan hidup dan reproduksinya baik. Pada interval (166-177 gram) menunjukan faktor kondisi paling rendah, hal ini disebabkan karena ikan kekurangan asupan makanan. Hal ini sesuai dengan pernyataan King (1995) apabila faktor kondisi tinggi, menunjukan ikan dalam perkembangan gonad, sedangkan faktor kondisi rendah menunjukan ikan kekurangan asupan makanan.
Selama dalam faktor pertumbuhan, tiap pertambahan bobot material ikan akan bertambah panjang dan perbandigan linearnya kan tetap. Hal tersebut dianggap bahwa, bobot ikan yang ideal sama dengan pangkat tiga dari idealnya.
Apabila terdapat perubahan bobot tanpa diikuti oleh perubahan panjang atau sebalikya, akan menyebabkan nilai perbandingan tersebut (Effendi 2002)
4.3 Reproduksi 4.3.1 Rasio Kelamin
Kelompok 16 mengambil sampel Ikan Mas (Cyprinus carpio) jantan.
Setelah dilakukannya pembedahan, isi perut diperiksa dan didapat gonad jantan.
Gonad tersebut memiliki ciri memiliki warna putih susu dan ukurannya memanjang dari dekat insang sampai anal. Rasio kelamin adalah perbandingan
antara jantan dan betina dalam suatu populasi (dalam hal ini populasi ikan uji angkatan).
Dilketahui ikan jantan yang diperoleh dari praktikum adalah 54 ekor sementara ikan betina sejumlah 16 ekor, maka Rasio Kelamin uji Ikan Mas adalah 54 : 16. Untuk menghitung rasio masing-masing jenis kelamin dalam satuan persen, maka caranya adalah populasi jenis kelamin tersebut dibagi oleh kesulurhan populasi dikalikan 100%. Berikut adalah grafik rasio kelamin dalam satuan persen.
77%
23%
Rasio Kelamin Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Jantan Betina
Gambar 9. Grafik rasio kelamin
Dari grafik tersebut didapat bahwa populasi kelamin Jantan adalah 77%
dari keseluruhan populasi ikan uji, sedangkan populasi kelamin betina adalah 23%
dari keseluruhan populasi ikan uji. Menurut Sadhatomo dan Potier (1991), di perairan perbandingan jenis kelamin ikan diharapkan seimbang, bahkan diharapkan jumlah ikan betina lebih banyak daripada jantan sehingga populasinya dapat dipertahankan walaupun ada kematian alami dan penangkapan.
4.3.2 Tingkat Kematangan Gonad
Tingkat kematangan gonad dapat dipergunakan sebagai penduga status reproduksi ikan, ukuran dan umur pada saat pertama kali matang gonad, proporsi jumlah stok yang secara produktif matang dengan pemahaman tentang siklus reproduksi bagi suatu populasi atau spesies. Sejalan dengan pertumbuhan gonad, maka gonad akan semakin bertambah besar dan berat sampai batas maksimum ketika terjadi pemijahan. Indeks kematangan gonad semakin meningkat dengan meningkatnya pematangan gonad (Wahyuningsih dan Barus 2006).
Tingkat Kematangan Gonad yang diperoleh kelompok 16 menggunakan acuan kriteria Tingkat Kematangan Gonad menurut Effendi (1979) yaitu TKG III dengan ciri-ciri permukaan testes tampak bergerigi, warna makin putih, testes makin besar, serta dalam keadaan diformalin mudah putus.
0 2 4 6 8 10 12
1 2
3 4
5 6
7 8
9
2 1
2 6
1
10
1 2
1 2
4 9
4 2 2
3
2 2
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Distribusi TKG Ikan Mas (Cyprinus carpio L)
54-71 72-89 90-107 108-125 126-143 144-161 162-179
Tingkat Kematangan Gonad Persentase
Gambar 10. Grafik distribusi TKG ikan mas
Berdasarkan data angkatan yang diperoleh, hasil yang terbanyak dari populasi ikan mas adalah ikan dengan TKG IV dengan total 36 Ikan (29 Jantan dan 7 Betina). Bobot ikan sampel yang memiliki TKG tersebut berkisar antara 54 – 179 gram. Hal tersebut berarti ikan mas dapat memulai kematangan gonad dari
ukuran yang tidak terlalu besar, namun ikan dengan TKG IV terbanyak adalah dari bobot kelas ke-5 yaitu 108 – 125 gram. Menurut Effendi (1979), Tingkat Kematangan Gonad IV memiliki ciri-ciri hampir sama seperti tingkat III namun Testes semakin pejal untuk jantan, sementara untuk betina Ovari semakin besar, telur berwarna kuning dan mudah dipisahkan, serta butir minyak tidak tampak.
4.3.3 Indeks Kematangan Gonad
Indeks Kematangan Gonad yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikalikan 100%. Diketahui bobot gonad dari ikan uji adalah 10,65 gram, sedangkan bobot tubuh ikan sendiri adalah 96 gram. Maka perhitungan IKG ikan uji dengan acuan perhitungan Effendie (1992) adalah 11,09%.
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00
1.17 2.02 1.49 7.38
14.84
0.992.59 0.05
10.98
0.00
Nilai IKG (%) (♂) Nilai IKG (%) (♀)
Tingkat Kematangan Gonad Indeks Kematangan Gonad
Gambar 11. Grafik perbandingan nilai IKG dan TKG.
Jadi Indeks Kematangan Gonad (IKG) pada Ikan Mas uji kelompok 16 adalah sebesar 11,09%. Berdasarkan data yang diperoleh, jika dibandingkan dengan populasi Ikan Mas lain, hasil uji kelompok 16 menunjukkan nilai yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah karena hasil yang diperoleh umumnya berkisar dari 8 – 13 %.
4.3.4. Hepatosomatik Indeks
Indeks Hepatosomatik/Hepatosomatic Index (HSI) adalah suatu metode yang dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam hati secara kuantitatif.
Hati merupakan tempat terjadinya proses vitelogenesis.
TKG I TKG II TKG III TKG IV TKG V 0.00
5.00 10.00 15.00 20.00
Hepatosomatik Indeks Ikan Mas
Nilai IKG (%) (♂) Nilai IKG (%) (♀) Nilai HSI (%) (♂) Nilai HSI (%) (♀) Tingkat Kematangan Gonad Persentase
Gambar 12. Grafik perbandingan Nilai HSI, IKG, dengan TKG.
Berdasarkan data yang diperoleh, kelompok yang melakukan perhitungan HSI berdasarkan Effendie (1997) kebanyakan dari kelompok tersebut mendapat nilai 20 - 30%. Hal tersebut berarti berat hati ikan adalah 20 – 30% dari bobot tubuh. Terdapat salahsatu data yang menunjukkan ikan uji betina tersebut memiliki HSI sebesar 32%, IKG 19,71%, dan TKG IV. Kemudian ada ikan uji dengan HSI rendah yaitu 16% hanya memiliki persentasi IKG 1,96% dan masih di TKG I. Hal tersebut menunjukkan Indeks Hepatosomatik berbanding lurus dengan IKG dan TKG.
4.3.5. Diameter Telur
Kelompok yang mendapat ikan betina dan menghitung diameter telur memiliki kisaran 50 µm diameter kecil sampai 80 µm diameter besar. Umumnya pada data, telur yang berdiameter tersebut memiliki TKG III keatas. Terdapat juga telur yang memiliki diameter 40 µm dan telur tersebut berasal dari ikan betina yang hanya memiliki IKG sebesar 1,96% dan TKG I. Hal tersebut menunjukkan
berpengaruhnya diameter telur pada kematangan gonad ikan. Ada satu ikan uji betina yang telurnya memiliki diameter kecil hanya 40 µm namun diameter sedang dan besarnya diatas 100. Hal ini merupakan anomali dimana telur tidak berkembang dengan baik di satu bagian gonad. Kelompok 16 Tidak mendapat ikan betina sehingga tidak memiliki dokumentasi dan data yang akurat mengenai proses perhitungan diameter telur.
4.3.6. Fekunditas
Menurut Bagenal (1978) dalam Effendi (1997) fekunditas yaitu jumlah telur matang yang akan dikeluarkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari data angkatan, fekunditas ikan mas betina bermacam-macam walaupun beberapa dari ikan tersebut memiliki TKG serupa. Ikan betina yang memiliki TKG I memiliki fekunditas sebanyak 2.515 dan ada ikan dengan TKG IV yang hanya memiliki fekunditas 2.899, meskipun ikan yang memiliki fekunditas tertinggi yaitu 27.525 juga memiliki TKG tingkat IV.
150 180 210 240
0 10000 20000 30000
f(x) = 0 x^5.19 R² = 0.09
Perbandingan Total Length (mm) dengan Fekunditas Ikan Mas
TL (mm) Fekunditas
Gambar 13. Perbandingan total length dengan fekunditas
Hal tersebut menunjukkan Tingkat Kematangan Gonad bukan satu-satunya faktor dalam mengembangkan fekunditas. Namun berdasarkan grafik, pertumbuhan dapat mempengaruhi fekunditas karena rata-rata fekunditas naik seiring dengan panjang total ikan. Ikan dengan fekunditas 27.525 telur memiliki
TL diatas 210 mm. Namun terdapat pula ikan terpanjang namun fekunditas dibawah rata-rata. Hal tersebut bisa terjadi karena faktor seperti nutrisi yang dibutuhkan sel pembentuk telur. Menurut Effendie (1997), faktor – faktor yang mempengaruhi fekunditas adalah umur, makanan, ikan yang berukuran kecil yang kematangan gonadnnya lebih awal, dan kandungan makanan.
4.3.7. Tingkat Kematangan Telur
Terdapat 3 kategori untuk perhitungan Tingkat Kematangan Telur yaitu pada tahap inti ditengah, tahap inti menuju kutub, dan inti yang telah melebur (Yaron dan Levavi 2011). Berdasarkan data yang ada, perbedaan angka dapat dikatakan sangat jauh berbeda. Angka terbesar 3 tahap tersebut berturut-turut adalah 5.713, 4.570, 6.855 sementara angka TKT terendahnya secara berurutan yaitu 0, 4, 14. Terdapat beberapa data yang rancu seperti 103, 2.500, 31.010.
Masih belum diketahui apa penyebab kerancuan data tersebut, kemungkinannya adalah kesalahan input data. Jadi pembahasan untuk Tingkat Kematangan Telur belum bisa dilakukan secara maksimal.
4.4 Kebiasaan Makan dan Cara Makan Ikan 4.4.1 Jenis Pakan yang Terdapat Di Perairan
Jenis pakan yang terdapat di perairan, disajikan dalam bentuk grafik dibawah ini:
0200 400600
Jenis Pakan yang Terdapat Di Perairan
Gambar 14. Grafik jenis pakan
Adapun jenis pakan yang terdapat di perairan berdasarkan tabel pengamatan, diantaranya fitoplankton sebanyak 570 spesies, zooplankton 50 spesies, bagian hewan sebanyak 230, bagian tumbuhan sebanyak 120, dan detritus 50.
4.4.2 Indeks Preponderan
Kebiasaan makanan dianalisis dengan menggunakan indeks preponderan (Effendie 1979). Indeks preponderan adalah gabungan moted frekuensi kejadian dan volumetrik. Dalam indeks preponderan ini kita dapat mengetahui kebiasaan makan dari populasi ikan dan dapat mengelompokan pakan apa saja yang cocok untuk ikan tersebut. Ada lima pengelompokan pakan yaitu fitoplankton, zooplankton, bagian tumbuhan, bagian hewan dan detritus.
Cyanophycae 0.00%
10.00%
20.00%
30.00%
40.00%
0.00%
31.71%
2.09%2.09%0.44%0.09%1.92%2.61%1.39%
0.00%
3.22%
10.63%
0.00%
26.31%
14.20%
3.31%
0.00%
Indeks Propenderan Ikan Mas
` IP
Gambar 15. Grafik indeks propenderan ikan mas
Dari grafik dia atas bisa bisa diketahui bahwa ikan mas memiliki pakan utama yaitu dari fitoplankton kelas yaitu Chlorophyceae, karena pada grafik persentase paling tinggi yaitu dari kelompok fitoplankton sebesar 31,71% sesuai dengan penyataan dari Nikolsky (1963) bahwa setiap kelompok pakan dapat dikategorikan berdasarkan nilai indeks preponderan (IP) yaitu sebagai kelompok pakan utama bagi ikan apabila IP lebih besar dari 25%, pakan pelengkap apabila 5% ≤ IP ≤ 25% dan pakan tambahan apabila IP kurang dari 5%.
4.4.3 Indeks Pilihan
Indeks pilihan merupakan perbandingan antara organisme pakan ikan yang terdapat dalam lambung dengan organisme pakan ikan yang terdapat dalam perairan. Nilai indeks pilihan ini berkisar antara +1 sampai -1, apabila 0 < E < 1 berarti pakan digemari, dan jika nilai -1 < E < 0 berarti pakan tersebut tidak digemari oleh ikan. Jika nilai E=0 berarti tidak ada seleksi oleh ikan terhadap pakannya (Effendi 1979).
Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pakan yang digemari dari oleh ikan mas ada sembilan kelas yaitu, Bacillariophycae, Desmidiacae, Rhizopoda, Entomostraca, Copepoda, Nemata, Platyhelmintes, bagian hewan, dan bagian tumbuhan. Sembilan kelas ini merupakan pakan yang digemari karena sesuai dengan teori indeks pilihan yang dihasilkan yaitu 0 < E < 1 sedangkan ada delapan kelas yang tidak digemari yaitu dari kelas Cyanophycae,Chlorophycae, Chrysophycae, Rotatoria, Tardigrada, Bhentos, Detritus, dan Ikan. Karena indeks pilihan yang dihasilkan yaitu -1 < E < 0 dapat diartikan bahwa pakan tersebut tidak digemari oleh ikan mas. Dapat disimpulkan bahwa ikan mas merupakan ikan yang bersifat omnivora atau pemakan segala karena dari hasil tersebut terdapat fitoplankto, zooplankton, bagian hewan, dan bagian tumbuhan.
4.4.4 Tingkat Trofik
Tingkat trofik ikan dikategorikan menjadi tingkat trofik 2 yaitu untuk ikan yang bersifat herbivora, tingkat 2,5 untuk ikan yang bersifat omnivora dan tingkat trofik 3 atau lebih untuk ikan yang bersifat karnivora (Caddy dan Sharp 1986 dalam Tjahjo 2001 dalam Nugraha 2011).
Berdasarkan pengamatan terhadap isi lambung ikan mas, diperoleh makanan yang ditemukan di dalam isi lambung ikan mas yang terdiri dari Bacillariophycae, Desmidiacae, Rhizopoda, Entomostraca, Copepoda, Nemata, Platyhelmintes, bagian hewan, bagian tumbuhan Cyanophycae,Chlorophycae, Chrysophycae, Rotatoria, Tardigrada, Bhentos, Detritus, dan Ikan. Dari hasil pengamatan praktikum dihasilkan tingkat tropik 2,1188 sehingga dapat