• Tidak ada hasil yang ditemukan

aspek psikososial pada penderita kanker payudara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "aspek psikososial pada penderita kanker payudara"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

Karakteristik responden dan karakteristik kanker payudara tidak berhubungan dengan depresi, kecemasan, dan stres, namun terdapat hubungan antara pendidikan dengan kecemasan (p=0,041). Utami, dkk., Aspek Psikososial Penderita Kanker Payudara 71 berpendapat bahwa mereka tetap memikul tanggung jawab.

Tabel 1. Distribusi  Responden menurut Pendidikan, Pekerjaan, dan Penghasilan
Tabel 1. Distribusi Responden menurut Pendidikan, Pekerjaan, dan Penghasilan

DUKUNGAN ATASAN DAN TEMAN SEJAWAT MEMENGARUHI EKSPEKTASI PERAWAT DALAM PENERAPAN JENJANG KARIR

Pendahuluan

Penerapan jenjang karir di rumah sakit tidak dapat terlaksana tanpa dukungan organisasi dan pimpinan keperawatan. Hal ini menandakan bahwa fenomena dukungan organisasi, atasan dan sejawat perlu diidentifikasi agar dapat menjadi sumber informasi mengenai harapan perawat dalam penerapan jalur karir di rumah sakit.

Metode

Rumah Sakit X di Kabupaten Bogor merupakan rumah sakit tipe B yang belum menerapkan sistem jalur karir. Manajer rumah sakit telah berkomitmen untuk menerapkan sistem jalur karir untuk meningkatkan kinerja perawat, namun hal ini belum dapat diterapkan.

Hasil

Perempuan memiliki ekspektasi yang lebih tinggi dan pendidikan D3 keperawatan memiliki ekspektasi yang lebih tinggi mengenai jalur karir, namun tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik perawat dengan ekspektasi perawat mengenai penerapan jalur karir di rumah sakit. Hasil pada Tabel 3 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan rekan kerja dengan harapan perawat terhadap jenjang karir (p= 0.000 dan p= 0.023; α= 0.05).

Tabel  2  menunjukkan  perawat  masing-masing  penjenjangan  hasil  mapping  mempunyai   eks-pektasi  yang  rendah  terhadap  penerapan   jen-jang karir
Tabel 2 menunjukkan perawat masing-masing penjenjangan hasil mapping mempunyai eks-pektasi yang rendah terhadap penerapan jen-jang karir

Pembahasan

Komponen kedua dari hasil penelitian ini adalah harapan perawat mengenai penerapan jalur karir yaitu penampilan kerja. Komponen harapan perawat yang keenam mengenai penerapan jalur karir yang ditemukan dalam penelitian ini adalah kolaborasi.

Tabel 3. Hubungan Faktor Pendukung dengan Ekspektasi
Tabel 3. Hubungan Faktor Pendukung dengan Ekspektasi

Kesimpulan

Informasi mengenai jalur karir yang baik tersedia di setiap ruangan sehingga setiap perawat dapat mengetahui jalur karir tersebut. Koordinasi tim bimbingan karir dengan komite keperawatan dan pimpinan rumah sakit juga harus dilakukan secara intensif.

Apabila diperlukan, rumah sakit dapat melakukan studi banding dan menyepakati lembaga pendidikan atau rumah sakit lain sebagai mitra terbaik dalam pelaksanaan program jenjang karir di rumah sakit (MS, MK, TN). Faktor yang berhubungan dengan upaya pengembangan karir perawat di Rumah Sakit Bhayangkara Mappa Oudang Makassar.

DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES ORANG DENGAN HIV/AIDS

Penelitian yang dilakukan Casale dan Wild (2013) menemukan bahwa dukungan sosial dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan mental penderita HIV/AIDS. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan tingkat stres penderita HIV/AIDS di wilayah Kota Depok. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kusuma (2011) pada pasien HIV/AIDS di RSCM yang menemukan bahwa rata-rata usia responden adalah 30,43 tahun.

Hal ini hampir sama dengan penelitian Widyanti (2008) yang menunjukkan bahwa dukungan sosial yang dirasakan oleh penderita HIV/AIDS relatif tinggi. Berdasarkan dukungan materi, penelitian ini juga menemukan hubungan yang kuat antara dukungan materi dengan tingkat stres pada pasien HIV/AIDS. Hal ini didukung oleh penelitian Tang (2001) yang mensurvei 410 orang pengidap HIV/AIDS dan juga menemukan hubungan yang kuat antara dukungan materi dan tingkat stres.

Terkait dukungan informasi, terlihat tidak ada hubungan antara dukungan informasi dengan tingkat stres yang dialami pasien HIV/AIDS. Berdasarkan dukungan pertemanan, penelitian ini menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan pertemanan dengan tingkat stres pasien HIV/AIDS. Mekanisme dan strategi coping Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dalam menghadapi stres akibat penyakitnya di Yogyakarta (Tesis, tidak dipublikasikan).

Tabel 1. Distribusi Dukungan Sosial berdasarkan Bentuk Dukungan
Tabel 1. Distribusi Dukungan Sosial berdasarkan Bentuk Dukungan

KEJADIAN EXCESSIVE DAYTIME SLEEPINESS (EDS) DAN KUALITAS TIDUR PADA MAHASISWA KESEHATAN

Bambangsafira, dkk., Terjadinya kantuk berlebihan di siang hari (EDS) dan kualitas tidur 95 durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur,. Sedangkan analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan kejadian EDS dengan kualitas tidur. Berdasarkan karakteristik gender, perempuan cenderung memiliki waktu tidur yang lebih buruk dibandingkan laki-laki.

Bambangsafira, dkk., Kejadian kantuk berlebihan di siang hari (EDS) dan kualitas tidur 99 terbangun antara SMA dan. Kualitas tidur berdasarkan karakteristik responden menunjukkan bahwa responden perempuan cenderung mengalami kualitas tidur yang buruk. Selain itu, responden yang tinggal di asrama/asrama juga cenderung memiliki kualitas tidur yang buruk.

Mahasiswa yang tinggal di dalam kampus cenderung memiliki kualitas tidur yang buruk dibandingkan dengan mahasiswa yang tinggal di luar kampus. Pada tabel 5 terlihat responden yang mengalami EDS memiliki jumlah yang sama dan tidak mengalami EDS dengan kualitas tidur yang buruk. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa prevalensi EDS dan kualitas tidur yang buruk cukup tinggi.

Tabel  1  menunjukkan  jumlah  responden  yang  tidak  mengalami  EDS  sedikit  lebih  banyak,
Tabel 1 menunjukkan jumlah responden yang tidak mengalami EDS sedikit lebih banyak,

KEMAMPUAN SPIRITUALITAS DAN TINGKAT STRES PASIEN DIABETES MELLITUS DI RUMAH PERAWATAN

STUDI PENDAHULUAN

Suciani, dkk., Kemampuan Spiritual dan Tingkat Stres Penderita Diabetes Mellitus 103 Pasien Menurut Federasi Diabetes Internasional. Lebih dari 50 persen pasien kronis mengalami stres ringan hingga sedang, hal ini sejalan dengan beberapa temuan penelitian mengenai tingkat stres pada pasien penyakit kronis (Sandra, Dewi, & Dewi, 2012; Sofiana, Elita, & Utomo, 2012). Penelitian yang menghubungkan kemampuan spiritual dan tingkat stres perlu dilakukan pada pasien diabetes.

Sejauh ini, penelitian mengenai spiritualitas dan tingkat stres pada pasien diabetes masih bersifat independen, dan penelitian terhadap pasien diabetes yang dirawat di panti jompo belum dilakukan dalam konteks Indonesia. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kemampuan spiritual dengan tingkat stres pada pasien diabetes. Responden dengan tingkat stres normal paling banyak diantara tingkatan lainnya dengan rata-rata kemampuan spiritual 46,79.

Suciani, dkk., Kemampuan Spiritual dan Tingkat Stres Penderita Diabetes Melitus 107 kemampuan spiritual pada setiap tingkat stres. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan yang hanya melibatkan sejumlah kecil responden dan tidak melakukan uji korelasi terhadap faktor lain yang mungkin berhubungan dengan tingkat stres pasien diabetes di panti jompo, baik faktor internal maupun eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan spiritualitas dengan tingkat stres pasien diabetes melitus di panti jompo, namun secara klinis penelitian ini cukup signifikan karena responden dengan tingkat stres normal mempunyai nilai rata-rata kemampuan spiritualitas yang lebih tinggi dibandingkan responden dengan tingkat stres normal. dalam kategori tingkat rendah stres lainnya.

Tabel 1. Karakteristik Responden
Tabel 1. Karakteristik Responden

Ucapan Terima Kasih

Gambaran stres pada pasien gagal ginjal terminal yang menjalani perawatan hemodialisis di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.

MODEL KOLABORASI GURU, SISWA, DAN KELUARGA (KOGUSIGA) MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN GURU

TENTANG KEAMANAN MAKANAN ANAK SEKOLAH

KOGUSIGA menekankan program keamanan pangan untuk membangun budaya di mana makanan sehat dan aman dipilih, dikelola dan dikonsumsi melalui kolaborasi antara pendidik, siswa dan keluarga. Dalam penelitiannya, Lee, dkk (2016) melibatkan guru dalam memilih pendidikan nutrisi dan keamanan pangan yang tepat untuk siswa. Pengetahuan guru tentang menyimpan makanan di tempat yang bersih, nilai gizi makanan, cara penyajian makanan yang aman, dan bahaya penggunaan plastik hitam secara umum meningkat setelah pemberian intervensi model KOGUSIGA.

Model KOGUSIGA mengadopsi model keyakinan kesehatan dengan mempersiapkan anak usia sekolah untuk meningkatkan keterampilannya dalam menentukan pilihan pangan yang aman. Dalam model ini, kami berupaya memberikan pengetahuan pangan yang aman untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat yang dirasakan ketika guru, siswa, dan keluarga memenuhi kebutuhan gizi yang aman. Hasil analisis angket pengukuran pengetahuan post-test menunjukkan bahwa seluruh guru setuju bahwa “makanan yang disimpan di tempat yang bersih adalah makanan yang aman” dan.

Sebelum intervensi jumlah guru yang menjawab benar pernyataan “makanan yang disajikan dengan bungkus hitam tidak aman dikonsumsi” sebanyak 40%, setelah intervensi jumlahnya meningkat menjadi 93,3%. Siswa sekolah akan cenderung memilih makanan yang disediakan di kantin sekolah, sehingga makanan yang disediakan di kantin harus memenuhi standar pangan yang seimbang dan aman. Pasca intervensi model KOGUSIGA, keterampilan guru meningkat dalam memberikan edukasi kepada siswa tentang dampak negatif junk food, edukasi makanan sehat bagi pedagang kantin, mengkomunikasikan kebutuhan gizi siswa kepada keluarga, mengkomunikasikan permasalahan kesehatan perkembangan gizi siswa dengan orang tua, komunikasi dengan orang tua. rakyat. Orang tua menyiapkan makanan yang mengandung makanan seimbang dan aman untuk anaknya.

PILIHAN PENGOBATAN PASIEN KANKER PAYUDARA MASA KEMOTERAPI: STUDI KASUS

Permasalahan yang dihadapi pasien kanker payudara, baik dalam diagnosis maupun pemilihan terapi, bersifat multidimensi, dengan banyak pertimbangan baik permasalahan fisik, sosial, psikis, spiritual, dan tentu saja finansial. Populasi penelitian ini terdiri dari pasien yang menjalani perawatan rawat inap atau rawat jalan di rumah sakit dan terdiagnosis kanker payudara. Rahayuwati, dkk., Pilihan pengobatan pasien kanker payudara selama kemoterapi 123. dengan sesama pasien kanker baik di ruang kemo maupun di luar ruang kemo.

Kos-kosan ini juga menjadi tempat bertukar pikiran dan berbincang dengan sesama penderita kanker payudara, yang biasanya datang ditemani suami atau kerabat lainnya. Mengingat besarnya kebutuhan pasien kanker payudara terhadap terapi komplementer, kami berharap perawat mampu melakukan pendekatan terhadap pasien secara holistik (bio, psiko, sosial, budaya, spiritual) ketika mempertimbangkan penggunaan terapi. Oleh karena itu, diharapkan perawat dapat menentukan terapi medis alternatif atau komplementer mana yang lebih sesuai dengan keyakinan dan memberikan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan pasien kanker payudara (Potter & Perry, 2009).

Penderita kanker payudara selalu dipahami sebagai suatu kondisi di mana seseorang bersifat kompleks, terdiri dari keterikatan pada tubuh fisik, serta aspek lain seperti psikologi, sosial budaya, dan spiritualitas. Oleh karena itu, kehidupan seorang penderita kanker payudara sebagai pengalaman penyakitnya selalu mencakup unsur fisik, psikologis, sosial budaya, dan spiritual. Faktor yang berhubungan dengan pencarian pelayanan kesehatan pada pasien kanker payudara di RSUP Dr.

PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF DAPAT MENURUNKAN INDEKS MASSA TUBUH LANSIA DI PSTW WILAYAH DKI JAKARTA

Penurunan berat badan seringkali menjadi perhatian penting pada lansia dengan demensia stadium akhir (Ebersole, et al., 2014). Penelitian lain yang dilakukan oleh Khater dan Abouelezz (2011) menunjukkan bahwa kelompok lansia dengan gangguan kognitif ringan lebih banyak mengalami malnutrisi dibandingkan kelompok lansia dengan fungsi kognitif normal. Kemudian hasil penelitian Boscatto, Duarte, Coqueiro dan Barbosa (2013) juga menunjukkan bahwa fungsi kognitif berhubungan positif dengan status gizi.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini mengkaji hubungan fungsi kognitif dengan indeks massa tubuh pada lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) wilayah DKI Jakarta. Desain ini digunakan untuk mengetahui hubungan fungsi kognitif dengan indeks massa tubuh lansia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) wilayah DKI Jakarta. Hasil analisis bivariat pada Tabel 2 menunjukkan terdapat hubungan antara fungsi kognitif dengan indeks massa tubuh lansia dengan p-value sebesar 0,0001 (α= 0,05).

Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara fungsi kognitif dengan indeks massa tubuh lansia sebagai pengukur status gizi. Layla, dkk., Berkurangnya fungsi kognitif dapat menurunkan indeks massa tubuh lansia pada 134 lansia berusia antara 80 hingga 100 tahun yang tinggal di komunitas di Brazil, menunjukkan bahwa fungsi kognitif berhubungan positif dengan status gizi. Selain itu, hasil penelitian ini juga mungkin disebabkan oleh peningkatan laju metabolisme basal (BMR) pada lansia dengan gangguan kognitif.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Lansia
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Lansia

Referensi

Dokumen terkait