II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu
Penelitian oleh Rendi, Tubagus dan Helvi (2014) berjudul Persepsi Petani Terhadap Program SL-PHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu) dalam Meningkatkan Produktivitas dan Pendapatan Usahatani Kakao (Studi Kasus Petani Kakao di Desa Sukoharjo 1 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu) dan Penelitian oleh Eko, Totok dan Hanifah (2013) berjudul Persepsi Petani Terhadap Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) Di Desa Jati Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar memiliki kesamaan tujuan penelitian yang mengkaji mengenai persepsi petani terhadap program yaitu program SL-PHT kakao dan GP3K.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.
Penelitian oleh Tinjung, Maria dan Yuliawati (2007) berjudul Persepsi Petani Terhadap Informasi Pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi kebutuhan informasi untuk tiap jenis usahatani dan menentukan jenis informasi yang paling diinginkan petani, melakukan identifikasi tingkat kepuasan pemenuhan informasi dan sumber informasi untuk tiap jenis usahatani. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang bersifat komparatif dengan membandingkan perbedaan fenomenan antara 4 jenis usahatani.
Penelitian oleh Lalis Yulianan Sultika (2010) berjudul Analisis Pendapatan dan Persepsi Masyarakat Terhdap Hutan Rakyat (Studi Kasus : Hutan Rakyat di Desa Sidamulih Kecamatan Pamarican dan Desa Bojong Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pendapatan total dan pendapatan hutan rakyat dengan faktor sosial ekonomi petani dan mengetahui persepsi petani dan hubungannya dengan faktor-faktor sosial ekonomi petani. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan statistik menggunakan uji regresi.
6
Tabel. 3 Penelitian Terdahulu yang Terkait
Penelitian Terdahulu Persamaan Perbedaan Rendi, Tubagus dan
Helvi (2014) Persepsi Petani Terhadap Program SL-PHT dalam Meningkatkan Produktivitas Dan Pendapatan Usahatani Kakao (Studi Kasus Petani Kakao di Desa Sukoharjo 1 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu)
a. Penelitian ini dan penelitian yang akan dilakukan sama sama menganalisis
mengenai persepsi petani terhadap suatu program
a. Penelitian terdahulu menggunakan studi kasus sedangkan penelitian ini menggunakan
teknik survei
Tinjung, Maria dan Yuliawati (2007) Persepsi Petani Terhadap Informasi Pertanian
a. Penelitian ini dan penelitian yang akan dilakukan sama sama menganalisis mengenai persepsi petani
a. Penelitian terdahulu deskriptif yang bersifat komparatif sedangkan
penelitian ini bukan komparatif
Eko, Totok dan Hanfah (2013) Persepsi Petani Terhadap Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) Di Desa Jati Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar
Sultika, Lalis Yulianan (2010)Analisis Pendapatan dan Persepsi Masyarakat Terhdap Hutan Rakyat (Studi Kasus : Hutan Rakyat di Desa Sidamulih Kecamatan Pamarican dan Desa Bojong Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat)
a. Penelitian ini dan penelitian yang akan dilakukan sama sama menganalisis mengenai faktor- faktor pembentuk persepsi
b. Penelitian ini dan penelitian yang akan dilakukan sama sama menggunakan teknik survei
a. Penelitian ini dan penelitian yang akan dilakukan sama sama menganalisis mengenai persepsi
a. Penelitian terdahulu menganalisi
perseptual, persepsi dan hubungan faktor-faktor
persepsi
a. Penelitian terdahulu menganalisis
pendapatan dan persepsi
masyarakat
b. Penelitian terdahuu menggunakan studi kasus sedangkan penelitian ini menggunakan
survei Sumber: Analisis Data Sekunder, 2018
B. Tinjauan Pustaka
1. Pembangunan Pertanian
Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang disengaja atau disadari untuk mencapai suatu arah yang positif bagi anggota masyarakat secara keseluruhan. Pembangunan meliputi semua aspek kehidupan termasuk juga pertanian. Strategi pembangunan pertanian dikenal dengan revolusi hijau (green revolution), bertujuan untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat dengan melalui peningatan output dan pendapatan (Damsar dan Indriyani, 2016). Dalam pembangunan pertanian, dibutuhkan perencanaan pembangunan, karena pemerintah mempunyai keperluan pembangunan yang tak terbatas sedang sumber- sumber dana yang tersedia terbatas maka perencanaan berarti proses pengambilan keputusan untuk memilih kebijakan dan program yang didahulukan pengerjaannya (Rochaeni, 2014).
Hadisapoetro (1975) dalam Yuwono (2011) mengemukakan bahwa pembangunan pertanian menghasilkan perubahan-perubahan : (1) dalam susunan kekuatan dalam masyarakat, (2) dalam produksi, produktivitas dan pendapatan, (3) dalam alat-alat ddan bahan produksi, (4) dalam tujuan ekonominya dari subsisten ke koemersial, dan (5) dalam corak sosial dan tertutup ke arah terbuka. Jadi pembangunan pertanian berkepentingan pada perubahan pertanian dalam hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat, baik masyarakat pertanian ataupun masyarakat umum.
Pembangunan pertanian adalah suatu proses modernisasi usaha- usaha tani melalui perubahan teknologi yang digunakan (Mellor, 1966), yaitu suatu proses usahatani (yang dengan penerapan teknologi baru) bergerak atau berubah dari usahatani yang subsisten (mandiri) menuju usahatani yang bersifat komersial (Wharton,1961). Selaras dengan proses perubahan sifat usahatani tersebut, di dalam pembangunan pertanian berlangsung perubahan-perubahan moral ekonomi petani, yaitu dari moral ekonomi subsisten yang mengutamakan selamat (Scott,1976) berubah kea rah moral ekonomi yang rasional (Popkin, 1979).
Menurut Mardikanto (1993) pembangunan pertanian di Indonesia saat ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan petaninya, terutama untuk usaha pertanian yang meliputi pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan serta perikanan. Pembangunan pertanian memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan industri dalam negeri.
Berdasarkan Suryana (2005) peta potensi lahan untuk pengembangan komoditas pertanian Indonesia menginformasikan kesesuaian lahan untuk 13 komoditas, yaitu padi sawah, padi gogo, kedelai, jagung, bawang merah, jeruk, pisang, tebu, kelapa, kelapa sawit, kakao, karet, dan cengkih.
Pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) merupakan implementasi dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang bertujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani secara luas. Hal ini dilakukan melalui peningkatan produksi pertanian, dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Pembangunan pertanian dilakukan secara seimbang dan disesuaikan dengan daya dukung ekosistem sehingga kontinuitas produksi dapat dipertahankan dalam jangka panjang (Salikin, 2003).
Pemahaman konsep pembangunan pertanian seperti meletakkan konsep pembangunan bersifat netral dan tidak etnosentris terhadap terhadap suatu arah tertentu dari perkembangan masyarakat (Yuwono, 2011). Data atau informasi sumber daya tanah dan iklim merupakan salah satu komponen penting dalam menunjang pembangunan pertanian suatu wilayah, khususnya dalam menyusun perencanaan pengembangan wilayah melalui pemilihan daerah-daerah yang berpotensi. Pembangunan pertanian pada pulau-pulau kecil hendaknya didasarkan pada karakteristik sumber daya lahan dan sosial, budaya serta ekonomi masyarakat agar pembangunan pertanian dapat berkelanjutan (Wahyunto et al. 1994).
Berdasarkan Yuwono (2011) setiap wilayah pembangunan memiliki keadaan khusus sehingga masalahnya bersifat khas (unique), sehingga
tidak mudah memindahkan pengalaman pembangunan pertanian yang berhasil di suatu tempat ke tempat lain. Jadi, tidak mudah membuat resep pembangunan pertanian yang bersifat umum. Keberhasilan kebijakan pembangunan pertanian hanya dapat dimulai dalam hubungannya dengan keadaan setempat. Mempelajari keadaan setempat dengan segala kaitannya dan kebijakan akan sangat bermanfaat, teknologi pertanian, varietas tanaman dan cara penyuluhan tidak dapat begitu saja dipindahkan dengan hasil baik tanpa percobaan dan penyesuaian dengan keadaan setempat.
2. Budidaya Pisang
Salah satu komoditas hortikultura dari kelompok buah - buahan yang saat ini cukup diperhitungkan adalah tanaman pisang. Pengembangan komoditas pisang bertujuan memenuhi kebutuhan akan konsumsi buahbuahan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dimana pisang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Selain rasanya lezat, bergizi tinggi dan harganya relatif murah, pisang juga merupakan salah satu tanaman yang mempunyai prospek cerah karena di seluruh dunia hampir setiap orang gemar mengkonsumsi buah pisang (Komaryati dan Adi, 2012).
Buah pisang mengandung gizi cukup tinggi, kolesterol rendah serta vitamin B6 dan vitamin C tinggi. Zat gizi terbesar pada buah pisang masak adalah kalium sebesar 373 miligram per 100 gram pisang, vitamin A 250- 335 gram per 100 gram pisang dan klor sebesar 125 miligram per 100 gram pisang. Pisang juga merupakan sumber karbohidrat, vitaminn A dan C, serta mineral. Komponen karbohidrat terbesar pada buah pisang adalah pati pada daging buahnya, dan akan diubah menjadi sukrosa, glukosa dan fruktosa pada saat pisang matang (15-20 %) (Ismanto, 2015).
Pisang merupakan komoditi yang cukup menarik untuk dikembangkan dan ditingkatkan produksinya, jika ditinjau dari aspek perdagangan internasional. Namun, Indonesia yang tercatat sebagai negara produsen ranking keenam dunia, belum tercatat sebagai eksportir buah
pisang. Sedangkan beberapa negara importir justru tercatat juga sebagai negara eksportir, contohnya yang menonjol dari negara-negara importir buah pisang yang juga menjadi eksportir adalah Belgia, Amerika Serikat, Jerman, dan Francis (Rusdiansyah, 2013).
Varietas unggul pisang diharapkan memiliki produktivitas tinggi, mutu baik, umur genjah, tahan terhadap hama penyakit tertentu dan toleran terhadap cekaman lingkungan. Untuk menghasilkan varietas unggul yang diinginkan diperlukan keanekaragaman yang tinggi. Di Indonesia keanekaragaman pisang cukup tinggi, namun belum banyak diketahui karakteristiknya. Untuk menunjang perakitan varietas unggul pisang, baik untuk konsumsi segar maupun olahan, perlu dilakukan evaluasi terhadap plasma nutfah yang ada. Informasi yang diperoleh dari evaluasi tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai materi perbaikan karakter melalui program pemuliaan tanaman (Radiya, 2013) Keragaman populasi tanaman pisang sangat diperlukan dalam penyusunan strategi pemuliaan guna mencapai perbaikan varietas pisang secara efesien di masa yang akan datang (Wijayanto et al., 2013).
Syarat tumbuh pisang meliputi terkait Iklim adalah : 1) Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan. 2) Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. 3) Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak tergenang. (Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Corp. , 2015)
Media tanam pisang Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah berat. Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus dengan pemupukan. 2) Air
harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50-200 cm, di daerah setengah basah 100 - 200 cm dan di daerah kering 50 – 150 cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07% dan Tanaman ini toleran akan ketinggian dan kekeringan. Di Indonesia umumnya dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon, nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl. Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi MIG Corp. , 2015) 3. Presepsi
Berdasarkan Scifmann dan Kanuk (2002) persepsi adalah cara orang memandang dunia ini. Persepsi seseorang akan berbeda dengan orang lainnya. Berdasarkan Van Den Ban dan Hawkins (1999) Persepsi adalah proses menerima informasi atau stimuli dari ligkungan dan mengubahnya ke dalam kesadaran psikologis.
Perception is the process by which we receive information or stimuli from our environtment and transform it into psychological awareness. Morgan describes perception as
“the process of discriminating among stimuli and interpretating their meanings. It intervenes between sensory processes, on the one hand, and behavior, on the other. Being and intervening process it is not directly observable.”
Persepsi adalah proses bagaimana kita menerima informasi atau rangsangan dari lingkungan kita dan mengubahnya menjadi kesadaran psikologis. Morgan menjelaskan persepsi sebagai “proses yang membedakan antara rangsangan dan interpretasi terhadap makna tersebut.
Hal tersebut merupakan campur tangan antara proses sensori, di satu sisi, dan perilaku, di pihak lain. Menjadi proses campur tangan tidak langsung yang dapat diamati (Hawkins et al., 1982)
Prinsip umum persepsi adalah realitvitas, selektivitas, organisasi dan arah.
a. Relatif: Persepsi bersifat relatif, walaupun suatu objek tidak dapat diperkirakan tepat tetapi ada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Persepsi orang lain tehadap suatu objek ditentukan oleh pesan yang mendahului tentang objek tersebut. Persepsi jug dipengaruhi oleh lingkungan di sekelilingnya.
b. Selektivitas: Persepsi seseorang bersifat selektif, panca indera yang menerima stimuli dari lingkungan sekitar dan faktor fisik dan psikologis seseorang. Pengalaman masa lampau juga mempengaruhi pilihan terhadap persepsi. Contoh: peternak yang telah berpengalaman akan lebih mengetahui perbedaan-perbedaan kecil dibandingkan orang awam. Latihan juga merupakan pengalaman terorganisisr dan teratur dalam mempengaruhi persepsi.
c. Organisasi: persepsi seseorang bersifat terorganisir, bahwa pengalaman sesorang disusun kemudia menjadi penuh arti dan menjadikannya ke dalam bentuk yang bermakna hingga kemudian terbentuklah suatu penafsiran arti.
d. Arah : melalui pengamatan seseorang dapat memilih dan mengatur serta menafsirkan pesan melalui stimulus yang diterimanya.
Persepsi merupakan pandangan individu terhadap waktu obyek stimulus. Persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus bisa berupa benda, isyarat, informasi, maupun situasi dan kondisi tertentu (Langevelt 1966 dalam Harihanto 2001).
Persepsi sangat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap lingkungannya. Seseorang yang mempunyai persepsi yang benar terhadap lingkungannya, kemungkinan orang tersebut akan berperilaku positif terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan (Surata 1993 dalam Widawari 1994).
Thoha (1988) dalam Harihanto (2001) mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif dalam memahami informasi tentang lingkungan yang dapat diperoleh melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan maupun penciuman. Persepsi merupakan penafsiran unik
terhadap suatu situasi, bukan merupakan suatu pencarian yang sebenarnya dari situasi tersebut. Menurut Calhoun dan Acocella (1990), persepsi yang kita kenal memiliki tiga dimensi yang menandai konsep diri, yaitu pengetahuan, pengharapan dan penilaian. (Myers, 2002) mengemukakan bahwa kesimpulan evaluatif berdasar pada peristiwa-peristiwa tertentu membawa pada konsekuensi penilaian yang sama untuk keseluruhan peristiwa lain.
Kartono (1987) mendefinisikan persepsi sebagai proses dimana seseorang menjadi sadar segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera yang dimiliki, pengetahuan lingkungan yang diperoleh melalui interpretasi data indera. Berdasarkan Twikromo (1995) terbangunnya persepsi tersebut mendorong manusia dalam usaha mendekati atau mencapai suatu kondisi kehidupan sesuai dengan gambaran hidup sejahtera yang ada dalam konsepsi manusia. Van den Ban dan Hawkins (2011) menyatakan bahwa prinsip umum dari persepsi adalah relativitas, selektivitas dan organisasi.
Robbins, Steepens (2006) persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek). Gibson (1989) juga menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, menurut Irwanto (2002) setiap individu memberikan arti kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama.
Cara individu melihat situasi seringkali lebih penting daripada situasi itu sendiri. Proses diterimanya ransang (objek, kualitas, hubungan antara gejala maupun peristiwa) sampai ransang itu disadari dan dimengerti disebut persepsi.
Secara umum, persepsi sosial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pemahaman oleh seseorang terhadap orang lain atau proses pemahamana seseorang terhadap suatu realitas sosial (Starbuck dan Mezias, 1996). Hal ini sejalan dengan Robbins (1989) bahwa persepsi sosial adalah proses dalam diri seseorang yang menunjukkan organisasi
dan interpretasi terhadap kesan-kesan inderawi, dalam usaha untuk memberi makna terhadap objek. (Stephan dan Stephan, 1990) mengungkapkan bahwa kesan-kesan yang tersusun secara teratur dan relative menetap ke dalam persepsi tersebut akan memberikan pengaruh dalam perilaku sosial seseorang.
Zanden (1984) bahwa dalam rangka adaptasi sosial, persepsi adalah jembatan yang menghubungkan antara manusia dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Berdasarkan Umstot (1988) mengemukaakan bahwa persepsi sosial, individu cenderung untuk memahami objek persepsi ke dalam sisstem yang bersifat logis, teratur dan runtut. Pemahaman sistematik semacam itu biasa disebut organisasi perseptual. Apabila seseorang menerima informasi maka ia mencoba untuk menyesuaikan informasi itu ke dalam pola-pola yang telah ada.
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
Persepsi terbentuk melalui proses psikologis yaitu diawali dengan penerimaan stimulus mengenai suatu objek melalui alat indera, stimulus tersebut oleh syaraf sensori diteruskan ke otak untuk diorganisir, dianalisis dan diinterpretasikan. Buss (Purwati, 1992) mengemukakan bahwa persepsi terbentuk karena adanya stimulus atau objek, saraf sensori dan otak sebagai pengolah informasi yang diterima indera untuk diinterpretasikan. Dalam melakukan interpretasi tersebut seseorang akan dipengaruhi oleh sifat kepribadian, pengalaman serta situasi lingkungannya.
Dalam proses persepsi seseorang, memori akan merinci masukan (input) stimulus dalam usaha menemukan ciri-ciri tertemtu yang sesuai dengan spesifikasi suatu konsep. Dalam proses persepsi itu terjadi organisasi ciri ciri utama yang bersifat teratur, dampak gema (halo effect), efek awal (primary effect), dan efek akhir (recency effect), serta kualitas objek yang dipersepsi. Efek awal adalah suatu cara untuk menunjukkan bahwa informasi awal akan mewarnai persepsi untuk informasi-informasi
berikutnya. Efek akhir akan membawa perseptor akan menghasilkan persepsi yang beragam Alcock (1997)
Berdasarkan Walgito (2004) proses terjadinya persepsi yaitu objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau perseptor.
Keadaan menunjukkan bahwa individu tidak hanya dikenai satu stimulus saja, melainkan berbagai macam stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan sekitar, akan tetapi tidak semua stimulus itu mendapat respon individu, hanya beberapa stimulus yang menarik yang akan diberikan respon. Hal ini karena individu mengadakan seleksi stimulus mana yang dipilih oleh individu, individu menyadari dan memberikan respon sebagai reaksi terhadap stimulus tersebut.
Brockman dan Merriem (1973) dalam Yusri (1999) menyatakan faktor-faktor tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk pola persepsi masyarakat terhadap objek yang ada di sekelilingnya. Walgito (2004) mengemukakan faktor – faktor yang berperan dalam persepsi adalah objek yang dipersepsi, alat indera atau reseptor dan perhatian. Robbin (1989) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang memberi pengaruh terhadap pembentukan persepsi yaitu faktor penerima (the perceiver), situasi (situation), dan objek sasaran (the target).
Pourteus (1977) dalam Murniati (2008), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi persepsi seseorang, yaitu umur dan jenis kelamin, latar belakang, pendidikan, penghasilan dan kemampuan fisik dan intelektual.
a. Vacca dan Walker dalam Mardikanto (1993) mengatakan bahwa dengan bertambahnya umur, seseorang akan menumpuk pengalaman yang merupakan sumber daya yang berguna. Soekartawi (1988) menyatakan bahwa semakin muda petani mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang mereka belum ketahui sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan perubahan terhadap
inovasi baru walaupun mereka belum berpengalaman dalam inovasi tersebut.
b. Semakin tinggi tingkat pendidikan (formal dan non formal), diharapkan pola berpikir semakin rasional (Prayitno, 1986). Bebaucher dalam Mardikanto (1993) mengungkapkan bahwa pendidikan juga merupakan suatu proses dengan potensi –potensi atau kemampuan manusia yang mudah dipengaruhi kebiasaan dan diarahkan utuk kebiasaaan yang baik, dengan media yang disusun sedemikian rupa dan dikelola manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
c. Pendapatan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang perekonomian keluarga. Tingkat pendapatan merupakan salah satu indikasi sosial ekonomi seseorang di masyarakat di samping pekerjaan, kekayaan dan pendidikan. Persepsi sesorang dipengaruhi oleh sumber daya dan kemampuan dalam diri individu, jenis pekerjaan dan tingkat pengeluaran seseorang juga menentukan tingkat kesejahteraan dalam status sosial ekonomu seseorang (Hernanto, 1984). Berdasarkan (Prayitno dan Arsyad, 1987) pendapatan rumah tangga petani berasal dari kegiatan usaha tani baik usaha tani sendiri maupun usahatani orang lain sebagai penggarap atau pembagi dan dari luar usahatani. Dalam pengertian ekonomi, pendapatan berhubungan dengan uang, barang- barang dan jasa yang diterima atau diperoleh selama periode waktu tertentu,seperti bulan atau tahun (Olsen dan Kenedy 1978 dalam Attar 1999).
d. Kemampuan fisik seseorang dipengaruhi oleh umur dan respon terhadap hal-hal yang baru. Tingkat umur memmpunyai pengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan dan mempersepsikan objek berdasarkan pengalaman yang telah dilalui (Hermanto, 1984).
Sedangkan, faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah keadaan lingkungan sosial dan budaya. :
a. Lingkungan sosial
Berdasarkan Hariyani, Mardikanto dan Ihsaniyati (2013) Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi petani untuk bisa menerima inovasi baru atau informasi baru yang mampu menambah pengetahuan dan wawasan petani tentang usahataninya. Lingkungan sosial mampu membentuk petani untuk menjadi petani yang lebih maju dan modern, sehingga petani dapat meningkatkan produktivitas usahataninya. Lingkungan sosial juga berpengaruh terhadap keputusan yang akan diambil oleh petani.
Berdasarkan Damsar dan Indriyani (2016) Faktor lingkungan bersifat ekstra sosiologis, dengan kata lain adalah faktor yang berasal dari luar masyarakat. Adapun faktor lingkungan terdiri dari keterisolasian daerah dan cuaca :
a) Keterisolasian daerah dapat dilihat sebagai dua sisi, sisi yang pertama menjadi penghambat dalam melakukan partisipasi, Misalnya suatu komunitas tersebar berjarak karena sungai, ngarai, bukit, lembah dan ainnya maka masyarakat akan terhambat dalam mengikuti kegiatan dan program yang dilakuakan. Sisi lainnya, keterisolasian daerah menyebabakan para anggota masyarakat terkonsentrasi pada suatu lokasi sehingga segala informasi tentang kegiatan dan program yang dikonstruksi dalam masyarakat dapat diikuti oleh semua anggota masyarakat.
b) Cuaca sebagai faktor penghamabat maupun faktor pelancar bagi partisipasi dari anggota masyarakat. Ketika cuaca cerah maka pertisipasi masyarakat tinggi terhadap program, sebaliknya jika cucara buruk maka partisipasi masyarakat terhadap program juga rendah.
b. Budaya
Budaya jika dirujuk pada bahasa asing, bahasa Latin misalnya berakar dari kata colere, berarti mengolah atau mengerjakan, dalam hal ini mengolah tanah atau bertani. Kemudian berkembang menjadi
culture, yang bermakna segala kegiatan menusia untuk mengolah dan mengbah alam. Sistem budaya sebagai rangkaian gagasan, konsepsi, norma, adat istiadat yang menata tingkah laku manusia dalam masyarakat dan yang merupakan wujud ideologis kebudayaan (Koentjaraningrat, 1965). Kebudayaan sebagai segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat (Horton dan Hunt, 1987)
Sistem sosial dan sistem budaya memperlihatkan suatu hubungan yang saling ketergantungan antara satu dan lainnya.
Demikian pula dengan sistem kepribadian dan sistem organisme perilaku. Sistem budaya merupakan abstraksi dari sistem sosial.
gejalanya hanya dapat ditangkap pada gejala sistem sosialnya saja, baik pada masyarakat sebagai keseluruhan maupun pada perseorangan sebagai produk dari masyarakatnya yang kemudian membentuk suatu persepsi terhadap lingkungannya (Rahman dan Yuswadi, 2005).
Terdapat tiga unsur dalam membentuk perseps petani dalam sistem sosial pedesaan yaitu gagasan, nilai dan norma :
a. Gagasan merupakan suatu konstruksi pemikiran yang dibangun secara sosial diantara pengemban kebudayaan dalam menyikapilingkungan dana lam sekitarnya. Gagasan tersebut kemudian berujung menjadi nilai, norma, pengetahuan dan teknologi. Hal inilah yang pada akhirnya akan membentuk sebuah persepsi berdarsarkan lingkungan dan relasinya terhadap alam sekitarnya.
b. Nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman berarti, berharga, bernilai dan pantas atau tidak berarti, tidak berharga, tidak bernilai dan tidak panta. Gagasan seperti ini dikenal sebgai nilai, yang terbentuk dari sistem sosial budaya masyarakat. Nilai ini akan mempengaruhi ideologi seseorang dalam memberikan persepsi terhadap suatu objek yang dipahami selama ini dalam sistem sosial budaya (Willliam, 1970).
c. Norma merupakan aturan-aturan yang diyakini dalam lingkungan sosial masyarakat yang kemudian menjadi ideology yang dipegang sebagai pedoman hidup seseorang. Berdasarkan Lawang (2004) bahwa sebuah norma mempengaruhi interaksi sosial dalam lingkungan yang kemudian berkembang menjadi pemahaman yang dianut dan akan membentuk sebuah persepsi.
Menurut Gibson, Ivancevich, dan Donnely (1996) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu Faktor Internal (fisiologis, perhatian, minat, kebutuhan yang searah, pengalaman dan ingatan, suasana hati) dan Faktor Eksternal (Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus, warna dari obyek-obyek, keunikan dan kekontrasan stimulus, Intensitas dan kekuatan dari stimulus). Sedangkan, berdasarkan Solomon (1999) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi adalah faktor internal yaitu : pengalaman, kebutuhan saat itu, nilai-nilai yang dianutnya dan ekspektasi pengharapannya. Faktor eksternal adalah : tampakan produk (objek), sifat- sifat stimulus dan situasi lingkungan. Jadi, reaksi individu terhadap suatu stimulus akan sesuai dengan pandangannya terhadap dunia ini atau versi subyektifnya terhadap realitas yang dibentuk dari faktor-faktor tersebut.
5. Perspektif dalam persepsi
Perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang suatu hal, dengan perspektif orang akan memandang suatu hal berdasarkan cara-cara tertentu. Perspektif adalah kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang mempengaruhi perspektif manusia, sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu. Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yang relevan dengan fenomena yang terpilih dari konsep-konsep tertentu untuk dipandang secara rasional (Sugihardjo et al., 2013).
Pada perkembangannya, terdapat tiga perspektif dalam persepsi yaitu perspektif behaviourisme, perspektif kognitif dan perspektif humanisme (fenomenologis) :
a. Perspektif Behaviourisme
Behaviourisme ilmiah berkeyakinan kalau perilaku dapat dipelajari dengan baik tanpa harus mengacu pada konsep kebutuhan, insting ataupun motif. Melekatkan motivasi kepada perilaku manusia sama saja melekatkan kehendak bebas kepada fenomena alam. Sebuah respons terhdap lingkungan yang sama namun belum pernah mendapat pengutan sebelumnya disebut pembangkitan stimulus (stimulus generalization). Perilaku manusia dibentuk oleh tiga kekuatan yaitu : 1) Sejarah penguatan pribadi individu
Menurut Skinner (1987) penguatan (reinforcement) memiliki 2 efek yaitu : memperkuat perilaku dan menghargai pribadi yang melakukannya. Penguatan dibagi menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif merupakan stimulus apapaun yang ketika ditambahkan pada siuasi tertentu dapat menungkatkan probabilitas kemunculan perilaku yang diinginkan. Penguatan negatif adlah penghilangan stimulus yang berkebalikan dari suatu situasi dapat meningkatkan probabilitas perilaku sebelumnya akan muncul (Skinner, 1953).
2) Seleksi alam
Kepribadian manusia adalah produk dari sejarah evolusi yang panjang. Sebagai individu, perilaku kita ditentukan oleh komposisi ggenetik khsusnya oleh sejarah pribadi penguatan- penguatan kita. Namun sebagai spesies, maka didorong untuk bertahan hidup. Seleksi alam memankan respon penting dalam kepribadian manusia. Perilaku individu yang mengutkan cenderung diulang, artinya tidak mudah untuk menyusut (Skinner, 1974).
3) Evolusi pratik-praktik budaya.
Skinner (1987) membahas pentingnya budaya membentuk kepribadin manusia. Praktik-praktik budaya seperti pembuatan alat dan perilaku berbahasa. Akhirya praktik budaya mengembangkan
apa yang dapat menguatkan kelompok meski tidak begitu dibutuhkan oleh individu.
Secara teknis, manusia tidak membangkitkan respons terhadap suatu situasi ke situsasi lain namun, mereka bereaksi terhadap situasi baru dengan cara sama seperti mereka bereaksi seperti sebelumnya karena kedua situasi memiliki elemen yang identik. Skinner (1954) menyatakan “penguatan sebuah respons meningkatkan probabilitas semua respons yang mengundang elemen yang sama”. Berdasarkan (Tohrndike, 1931) bahwa pembelajaran terjadi umumnya karena mengikuti suatu respons, yang kemudian disebutnya sebagai hukum efek (law of effect). Hukum efek memiliki dua bagian yaitu bagian pertama menyatakan bahwa respons-respons terhadap stimuli yang langsung diikuti rasa kecewa cenderung dilekatkan dalam diri, sementara bagian kedua menyatakan bahwa respons-respons terhadap stimuli yang langsung diikuti rasa kecewa. Skinner (1954) mengakui bahwa hokum efek sangat krusial untuk mengontrol perilaku dan sudah menjadi tugasnya untuk memastikan juga kondisi bagi kemunculan optimal efek bagi pembelajaran dalam membentuk perilaku.
Berdasarkan perspektif behaviourisme maka akan berfokus pada persepsi petani dari aspek ekonomi. Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang sampai sekarang sekitar 70 persen penduduk menggantungkan hidup dari sektor pertanian atau mempunyai mata pencaharian sebagai petani, akan tetapi nasib petani dari hari ke hari kian terpuruk. Tingkat kesejahteraannya tidak membaik seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi yang semestinya dinikmati bersama. Petani semakin terpuruk disertai posisi tawar mereka lemah sehingga masalah yang dihadapi ibarat sebuah lingkaran yang tak berujung pangkal.Salah satu faktor penting yang sering disebut-sebut dalam pembahasan di berbagai pustaka; seminar; lokakarya dan sejenisnya, mengapa petani menerima harga komoditas pertanian yang rendah, adalah rendahnya kekuatan tawar-menawar petani (bargaining power). Berkaitan dengan
bargaining power petani, Muchtar (2003); Nainggolan dan Rachmat (2003) menyatakan bahwa salah satu permasalahan utama yang sering dihadapi para petani produsen.
Berdasarkan pendapat Lincolin, et al., (2011) menjelaskan bahwa di negara agraris, sektor pertanian memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam pembangunan perekonomian, antara lain ialah : 1) sebagai penghasil pangan dan bahan baku bagi sektor pertanian itu sendiri, bagi penduduk nonpertanian dan bagi pengembang industri, 2) sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja yang paling besar, 3)sektor pertanian yang baik akan menciptakan permintaan akan produkproduk non pertanian yang merupakan prasyarat bagi ekspansi sektor sekunder dan tersier, 4) sektor pertanian dapat menjadi penghasil devisa dari hasil ekspor produk-produk pertanian komersial.
Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu daerah otonom di provinsi Jawa Tengah, yang memberikan sumbangan kontribusi PDRB Jawa Tengah terbesar peringkat ketujuh dibandingkan dengan kabupaten/kota yang lain di Jawa Tengah memberikan andil terbesar peringkat ketujuh terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah dengan kontribusi sebesar 3,49 persen (BPS, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu kabupaten yang masih mempunyai peranan dominan dalam perekonomian di Jawa Tengah.
Berdasarkan Renstra Kementan tahun 2015-2019 Ppembangunan sektor pertanian tahum (2015-2019) akan mengacu pada Paradigma Pertanian untuk Pembangunan (Agriculture for Development) yang memposisikan sektor pertanian sebagai penggerak transformasi pembangunan yang berimbang dan menyeluruh mencakup transformasi demografi, ekonomi, intersektoral, spasial, institusional, dan tatakelola pembangunan. Paradigma tersebut memberikan arah bahwa sektor pertanian mencakup berbagai kepentingan yang tidak saja
untuk memenuhi kepentingan penyediaan pangan bagi masyarakat tetapi juga kepentingan yang luas dan multifungsi. Selain sebagai sektor utama yang menjadi tumpuan ketahanan pangan, sektor pertanian memiliki fungsi strategis lainnya termasuk untuk menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan dan sosial (kemiskinan, keadilan dan lain-lain) serta fungsinya sebagai penyedia sarana wisata (agrowisata).
Memposisikan sektor pertanian dalam pembangunan nasional merupakan kunci utama keberhasilan dalam mewujudkan Indonesia yang Bermartabat, Mandiri, Maju, Adil dan Makmur
Pengembangan produk pertanian ke tingkat yang lebih tinggi pada industrial ladder, dikenal sebagai agroindustri. Sektor pertanian tidak akan pernah lepas dari fungsinya sebagai sumber utama untuk penyediaan bahan pangan. Meningkatkan ketahanan pangan adalah tantangan besar saat ini adalah konsumsi masih bertumpu pada beras.
Strategi baru yang dikembangkan adalah penerapan social engineering terhadap konsumen dengan mencoba mengubah budaya dan perilaku makan beras, menjadi budaya mengkonsumsi pangan yang memenuhi standar gizi (Atmadja, 2010).
Permasalahan yang dihadapi petani pada umumnya adalah lemah dalam hal permodalan. Akibatnya tingkat penggunaan saprodi rendah, inefisien skala usaha karena umumnya berlahan sempit, dan karena terdesak masalah keuangan posisi tawar ketika panen lemah.
Selain itu, produk yang dihasilkan petani relatif berkualitas rendah, karena umumnya budaya petani di pedesaan dalam melakukan praktik pertanian masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga, dan belum berorientasi pasar. Selain masalah internal petani tersebut, ketersediaan faktor pendukung seperti infrastruktur, lembaga ekonomi pedesaan, intensitas penyuluhan, dan kebijakan pemerintah sangat diperlukan, guna mendorong usaha tani dan meningkatkan akses petani terhadap pasar (Saragih, 2002).
b. Perspektif Kognitif
Teori belajar sosial kognitif Jullian Rotter dan Walter Mischel sama-sama berdiri diatas asumsi bahwa faktor-faktor kognitif membantu manusia membentuk reaksi terhadap kekuatan lingkungan.
Rotter yakin bahwa perilaku diprediksi paling baik dengan memahami interaksi antar manusia dan lingkungannya. Teori sosial kognitif Mischel percaya bahwa faktor-faktor kognitif seperti ekpektasi, persepsi subjektif, nilai, tujuan dan standar pribadi berperan pentig dalam membentuk kepribadian (Feist, 2006).
Variabel-variabel kepribadin mengubah sudut pandang dari apa yang dimiliki seseorang (sifat-sifat umum) menjadi apa yang diperbuat seseorang pada situasi tertentu dan ini lebi dari sekedar tindakan : dia mencakup juga kualitas-kualitas kognitif dan afektif, seperti berpikir, berencana, merasa dan mengevaluasi. Dengan kata lain unit-unit afektif-kognitif mengandung semua aspek psikologis, sosial, dan fisiologis manusia yang membuat mereka saanggup berinteraksi dengan lingkungan dalam pola variasi yang relative stabil (Mischel, 2004).
“Perception is concerned with the way in which information reaches the cognitive system. In order to understand this, we need to understand the perceptual system, and how we interpret sensory signal. Stimuli can be of several different types or modalities. Once information has reached the cognitive system it must be processed int other forms. There are four chapters on memory, outlining structure, processing and storage, remembering and forgetting.”
Berdasarkan Gavin (1998) menyatakan bahwa sebuah persepsi mengacu pada ketercapaian sebuah informasi berdasarkan sistem kognitf. Dalam memahami hal ini, kita harus memahami mengenai cara mempersepsikan dan bagaimana menterjemahkan rangsangan sensorik.
Stimulus (rangsangan) dapat dibagi menjadi beberapa macam dan model-model. Pertama, ketika informasi telah diperoleh oleh sistem kognitif maka akan di proses ke dalam bentuk lainnya. Dalam sistem kognitif terdapat tiga memori yaitu menggarisbawahi struktur,
memproses dan menyimpan serta mengingat dan melupakan.
Perspektif kognitif mengenai persepsi dalam penelitian ini akan berfokus pada sisi ekologis petani.
Kata ekologi berasal dari oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal dan logos yang berarti telaaah atau studi. Jadi ekologi adala ilmu tentang rumah atau tempat tinggal organisma atau rumah tangga makhluk hidup. Ekologi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisma dengan sesamanya dan dengan benda-benda mati disekitarnya (lingkungannya).
Ekologi pertama kali diperkenalka oleh Ernest Hackel, seorang ahli Biologi Jerman pada tahun 1869. Ekologi adalah dasar pokok ilmu lingkungan (Soerjaatmadja, 1981).
Ekologi kadangkala disebut juga ilmu lingkungan, hanya saja cakupan ilmu lingkungan lebih luas daripada ekologi. Sebagai bagian dari makhluk hidup, peranan dan perilaku manusia secara khusus dalam ekologi manusia (Soerjani, 1985). Konsep ekosistem menempati kedudukan yang sentral dalam ekologi, sebagaimana sistem yang lain, di mana ekosistem terdiri atas komponen-komponen yang saling berinteraksi merupakan suatu kesatuan. Dimensi ekologi pada penelitian Ruhimat, (2015) hasil analisis menunjukkan terdapat lima leverage faktor pengungkit utama pada dimensi ekologi yang berpengaruh terhadap tingkat keberlanjutan usahatani yaitu 1) produktivitas lahan 2) pemupukan lahan 3) tingkat serangan hama penyakit tanaman 4) ketersediaan teknologi pembuatan pupuk organik dan 5) penggunaan pestisida. Atribut pengungkit yang memengaruhi keberlanjutan dimensi ekologi.
Dimensi ekologi berdasarkan Suwarno (2011) terdiri dari sembilan atribut yang diduga berpengaruh terhadap tingkat keberlanjutan usahatani yaitu tingkat serangan hama penyakit tanaman, tingkat pemahaman petani dalam konservasi tanah dan air, tindakan konservasi lahan, ketersediaan teknologi pembuatan pupuk organik,
ketersediaan sumber bahan organik, produktivitas hasil, pemupukan lahan, pengolahan tanah dan penggunaan pestisida. Selain itu, inovasi teknologi inovasi yang menyangkut aspek sosial, ekonomi dan ekologi.
Oleh karena itu, paket teknologi pengelolaan seharusnya disusun dari beberapa inovasi teknologi baik teknis, sosial, ekonomi maupun ekologi.
Berdasarkan Geertz (1983) Ekologi desa pertanian Indonesia meliputi :
1) Persawahan menyebabkan hubungan atra masyarakat desa Indoneisa dengan lingkungan alam, dalam hal ini sawah telah mneghasilkan kearifan dan pengetahuan lokal yang terkait dengan tata kelola air seperti subak Bali, Kincir di Minangkabau dan Jawa, teknologi panen dan seterusnya
2) Ladang, dalam pandangan Geertz (1983) adalah suatu sistem dimana “hutan alam diubah menjadi hutan yang dapat dinikmati hasilnya” dnegan cara bercocok tanam berpindah-pindah (Shifting cuktivation) ataud dengan tebang bakar (slash and burn).
Keseimbangan sistem hutan yang dinikmati ini jauh lebih ringkih dibandingkan dengan hutan alami.
c. Perspektif Humanisme (fenomenologis)
Humanisme menurut Syariati (1992) berkaitan dengan eksistensi manusia, bagian dari aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok dari segala sesuat adalah kesempurnaan manusia. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah makhluk mulia yang semua kebutuhan pokok diperuntukkan untuk memperbaiki spesiesnya.
Anggapan para ahli tertentu mengartikan bahwa fenomenologi sebagai suatu metode dalam mengamati, memahami, mengartikan dan memaknakan sesuatu sebagai pendirian atau suatu aliran filsafat.
Berdasarkan tokoh Edmund Hussel (1859-1938) berpendapat bahwa kebenaran utnuk semua orang, dan manusia dapat mencapainya dengan meyakini bahwa diberi kesempatan untuk berbicara tentang
hakikat dirinya. Ada dua reduksi yang ditempuh utnuk mencapai realitas fenomenon dalam pendekatan fenomenologi yaitu :
1) Reduksi fenomenologis adalah kebiasaa, pandangan yang telah membentuk pikiran kita memandang sesuatu (fenomena), sehingga yang timbul di dalam kesadaran adalah fenomena itu sendiri.
2) Reduksi esidetis adalah pemyaringan atau penempatan realitas fenomena. Dalam reduksi ini meunjukkan bahwa pengamatan- pengamatan yang beruntun terhadap objek harus dapat disatukan.
Salah satu penelitian studi kasus Wahono (2004) yang menggunakan fenomenologis adalah Kasus Gunung Kidul : Membebaskan Diri dari Kemiskinan dengan Penuh Martabat. Gerakan Cindelaras untuk pemberdayaan masyarakat bermula dari organisasi di Layar (pseudonym) di suatu dusun miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1987. Cindelaras menggunakan metode dengan melihat, mendengarkan, berdialog dan membiarkan mereka bertindak sesuai cara mereka. Setelah dua tahun terbentuk paguyuban bulak berspesialisasi dalam pertanian sayur-mayur. Hingga pada akhirnya tecipta diskusi dialogis dengan LIPI dan dari Departemen Pertanian.
Masyarakat lokal tidak menyukai adanya program tanah percontohan untuk monokultur papaya di tanah milik mereka. Mereka memprotes pemerintah lokal, tetapi tidak ada faedahnya karna pihak LIPI tetapi pada akhirnya salah pemasaran dan harganya sangat anjlok.
Akhirnya, orang-orang LIPI pergi meninggalakan dengan papaya busuk dimana-mana yang kemudian oleh masyarakat dibuang dan tanaman papaya yang masih ada dicabuti. Masyarakat tahu pasti pasar lokal di Wonosari tidak dapat membeli satu hektar monokultur papaya tetapi selalu membeli bermacam-macam sayuran lengka untuk konsumsi rumah tangga. Logikanya, papaya tidak dapat menggantikan amkanan pokok yang telah dikonsumsi bertahun-tahun.
Dalam peneltian ini melalui perspektif Humanisme (fenomenologis) akan mengambil dua aspek yaitu mengenai kelembagaan petani dan keberlanjutan program.
1) Kelembagaan Petani
Kelembagaan didefinisikan sebagai pola-pola ideal, organisasi, dan aktivitas yang berpusat di sekeliling kebutuhan dasar seperti kehidupan keluarga, negara, agama dan mendapatkan makanan, pakaian, dan kenikmatan serta tempat perlindungan. Suatu lembaga dibentuk selalu bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia sehingga lembaga mempunyai fungsi. Selain itu, lembaga merupakan konsep yang berpadu dengan struktur, artinya tidak saja melibatkan pola aktivitas yang lahir dari segi sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga pola organisasi untuk melaksanakannya (Anantanyu, 2011).
Kehidupan komunitas petani, posisi dan fungsi kelembagaan petani merupakan bagian pranata sosial yang memfasilitasi interaksi sosial dalam komunitas (Suradisastra, 2008). Urgensi keberadaan kelembagaan petani ini kemudian dijelaskan Anantayu (2011), yang menyebutkan bahwa keberadaan kelembagaan petani di pedesaan mempunyai kontribusi. Akselerasi pengembangan sosial ekonomi dan aksesibilitas informasi petani.
Esman dan Uphoff (1984) menjelaskan peran kelembagaan petani adalah (1) Memediasi masyarakat dan negara yang termasuk tugas di dalam organisasi (interorganizational tasks), (2) Memobilisasi sumber daya lokal dan pengelolaannya dalam tugas pemberdayaan (resource tasks), (3) Melayani dan mengkoordinasi permintaan masyarakat dalam tugas pelayanan (service tasks), (4) Menangani birokrasi atau organisasi luar masyarakat dalam tugas antar organisasi (extra-organizational tasks). Studi lain dilakukan oleh Wiyono et all (2012) kelembagaan petani akan mendorong
kinerja petani, membentuk pola pikir petani agar dalam kegiatan usaha tani mereka mendapatkan hasil yang lebih baik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Cahyono dan Tjokropandono (2012) menyebutkan bahwa kelembagaan petani mempunyai peran dalam mendukung keberlanjutan pertanian khusunya untuk memberikan masukan dan pertimbangan bagi pelaku pembangunan dalam rangka pengembangan ekonomi lokal.
Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menguatkan kelembagaan antara lain: (1) Memberikan dorongan dan bimbingan kepada petani agar mampu berkerjasama di bidang ekonomi secara berkelompok; (2) Meningkatkan fasilitasi bantuan dan akses permodalan, meningkatkan posisi tawar, meningkatkan fasilitasi dan pembinaan kepada organisasi kelompok dan peningkayan efisiensi dan efektivitas usahatani, serta; (3) Meningkatkan kapasitas SDM petani melalui berbagai kegiatan pendampingan efisiensi dan efektivitas usahatani, serta; (3) Meningkatkan kapasitas SDM petani melalui berbagai kegiatan pendampingan dan latihan yang dirancang khusus bagi pengurus dan anggota (Hermanto dan Swastika, 2011).
Kelembagaan petani memiliki titik strategis (entry point) dalam mengerakkan sistem agribisnis di pedesaan. Untuk itu segala sumberdaya yang ada di pedesaan perlu diarahkan/ diprioritaskan dalam rangka peningkatan profesionalisme dan posisi tawar petani (kelompok tani) (Parma, 2014). Terkait dengan aktivitas kelembagaan petani, beberapa penelitian menyebutkan bahwa permasalahan yang biasa terjadi pada kelembagaan petani diantaranya: (a) Kurangnya wawasan dan pengetahuan petani, terutama masalah manajemen produksi dan jaringan pemasaran; (b) Kurangnya keterlibatan petani dalam kegiatan agribisnis, dan; (c) Kurangnya peran dan fungsi kelembagaan petani (Dimyati, 2007)
2) Keberlanjutan Program
Pada umumnya, konsep pertanian berkelanjutan didasarkan kepada kerangka segitiga pembangunan berkelanjutan (environtmentally sustainable development triangle) yang disampaikan oleh Munasinghe dari Bank Dunia yaitu pembangunan yang berorientasi kepada tiga dimensi keberlanjutan yang saling mendukung dan terkait yaitu dimensi ekonomi, sosial dan ekologi (Novita, 2012). Berdasarkan hasil analisis prospektif maka terdapat empat faktor kunci yang berpengaruh terhadap sistem usahatani yaitu tiga faktor kunci yang mempunyai pengaruh kuat antar faktor dengan ketergantungan rendah yaitu eksistensi kelompok tani, peranan pemerintah dan ketersediaan paket teknologi dan satu faktor kunci yang mempunyai pengaruh kuat antar faktor dengan ketergantungan tinggi yaitu peranan penyuluh (Suwarno, 2011)
Eksistensi kelompok tani merupakan faktor keempat yang berpengaruh terhadap keberlanjutan usahatani kebun campuran.
Eksistensi kelompok tani yang dibangun oleh kerjasama yang erat antar anggota diperlukan dalam keberlanjutan usahatani , hal ini dikarenakan kelompok tani agroforestry telah memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap program pembangunan per tanian secara umum. Keberadaan kelompok tani sangat efektif sebagai sarana sosialisasi program pembangunan pertanian, pemupukan jiwa kerja sama di antara anggota kelompok, bentuk keber samaan dalam menyelesaikan permasalahan usahatani, menjadi wadah pemersatu kegiatan anggota dan peningkatan posisi tawar petani (Hermanto & Swastika, 2011).
Peningkatan peran dan pembinaan kelompok tani merupakan suatu hal yang harus diperhatikan. Pentingnya pembinaan kelompok tani juga dikemukakan oleh Mosher (1987) bahwa salah satu syarat pelancar pembangunan pertanian adalah adanya kegiatan petani yang tergabung dalam kelompok tani. Pembinaan kelompok tani
diharapkan dapat membantu menggali potensi, memecahkan masalah usahatani anggotanya secara lebih efektif, dan memudahkan dalam mengakses informasi, pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya
Pengelolaan terhadap keempat faktor. Penyuluh memegang peranan penting dalam keberlanjutan sistem kebun campuran. Hal ini disebabkan karena penyuluh merupakan aktor utama dalam proses transfer informasi, baik yang menyangkut ilmu pengetahuan, teknologi maupun berbagai program pemberdayaan masyarakat kepada kelompok sasaran terutama petani dan kelompok tani (Suwarno, 2011). Oleh karena itu, pengelolaan terhadap faktor peran penyuluh merupakan faktor kunci pertama yang berpengaruh kuat terhadap keberlanjutan program pertanian. Peran penyuluh sebagai mediator dimaksudkan sebagai aktivitas penyuluh untuk menjembatani para pihak dalam pengelolaan usahatani dengan cara memberi saran, memberi pertimbangan dan memberi pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi (Suprayitno et al., 2011).
Terdapat tiga peran pemerintah dalam keberlanjutan usahatani di Kecamatan Rancah, agroforestry yaitu menjamin ketersediaan sarana dan prasarana penelitian dalam proses perakitan paket teknologi, membuat kebijakan yang komprehensif dan integratif men inergikan berbagai kegiatan serta yang dilakukan oleh para stakeholder pengembangan sistem berkelanjutan program (Rahimat, 2015). Berdasarkan Renstra Kementan 2015-2019 Fakta dan pandangan bahwa pertanian sebagai salah satu sektor yang antara lain kurang menjanjikan bagi peningkatan perekonomian dan kesejahteraan hidup, kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, lahan pertanian yang semakin berkurang, sangat menentukan terhadap minat generasi muda untuk memilih pertanian sebagai masa depannya. Rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian ini menyebabkan senjang regenerasi di sektor
pertanian. Hilangnya minat generasi muda cerdas terdidik dari dunia pertanian Indonesia akan menyulitkan sektor pertanian dalam melaksanakan mandat menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Degenerasi minat terhadap sektor pertanian khususnya remaja akan berdampak pada produktivitas sektor pertanian yang semakin menurun, menurut Sembara (2009) rendahnya minat pemuda dalam kegiatan pertanian adalah; (a) hilangnya regenerasi pengelola pertanian dimasa depan, (b) keterbatasan sumberdaya berkualitas dan tenaga ahli di bidang pertanian, (c) ketergantungan petani pada pihak asing; dan (d) muncul dampak lanjutan yaitu krisis pangan. Sehingga, dibutuhkan sebuah sistem pendidikan yang mampu menumbuhkan minat guna meningkatkan regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian
6. Pemberdayaan Masyarakat berdasarkan need assessment
Berdasarkan (Pranarka, 2004) Pemberdayaan masyarakat merupakan konsep yang berasal dari kata ‘daya’ (power). Sedangkan pemberdayaan berasal dari kata ‘empower’ dimana dalam Merriam Webster dan Oxford English Dictionary menyatakan bahwa power mempunyai dua arti.
Pertama, power berarti to give power or authority yang berarti
‘memberikan kekuasaan, mengalihkan kekuasaan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain’. Pengertian kedua adalah ‘to give ability or to enable’ yang bisa diartikan sebagai usaha untuk memberikan kemampuan atau pemberdayaan’.
Pengembangan kapasitas merupakan suatu pendekatan pembangunan yang berbasis pada kekuatan-kekuatan dari bawah secara nyata. Dimana kekuatan tersebut meliputi kekuatan sumber daya alam, sumber daya ekonomi dan sumber daya manusia sehingga akan menjadi kapasitas lokal Maskun dalam Fahrudin (2011). Dalam proses pemberdayaan masyarakat diharapkan terbentuk kegiatan keseharian yang berpola dan menjadi embrio terjadinya kemandirian masyarakat. Institusi lokal ini dapat
dimanfaatkan sebagai : (1) sarana untuk memfasilitasi tindakan bersama, dan (2) peningkatan kekuasaan bersama. Kedua fenomena tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa dimasa depan akan terjadi peningkatan kapasistas masyarakat dalam mewujudkan kemandirianya (Soetomo, 2009 dan 2011).
Proses pemberdayaan menurut Parson et al., (1994) dalam Mardikanto (2010) lebih ditekankan pada upaya pemberian : (pengetahuan), (2) keterampilan, (3) kekuasaan untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.
Proses pemberdayaan masyarakat memerlukan : (1) pengembangan sumberdaya lokal, (2) tindakan secara bersama dan (3) pengembangan jejaring kemitraan (Supriyanto dan Subejo, 2004). Pentingnya jejaring kemitraan sebab tidak ada satu actor pemberdaya yang mampu melakukannya sendirian (Ife et al., 2008 dalam Mardikanto, 2010)
Berdasarkan Renstra Kementan 2015-2019 penataan dan pemberdayaan kelembagaan perbenihan hortikultura akan berdampak terhadap perwujudan industri perbenihan untuk menghasilkan benih bermutu dari varietas unggul secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu pengelolaan atau penataan komponen-komponen prasarana dan sarana pendukung secara harmonis. Komponen-komponen dimaksud meliputi seluruh unsur yang tergabung dalam sistem perbenihan yang mencakup kegiatan pemuliaan dan pengembangan varietas, produksi dan processing benih, penyimpanan, pengawasan mutu dan sertifikasi benih, distribusi dan pemasaran, promosi dan sosialisasi penggunaan benih bermutu kepada petani/konsumen.
Pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kekuasaan orang- orang yang lemah atau tidak beruntung (Ife, 1995 dikutip Suharto, 2010).
Ada tiga strategi pemberdayaan yang harus direalisasikan kepada masyarakat, pemberdayaan secara politis, sosial, dan ekonomi yang diharapkan dapat meminimalisir dampak-dampak negatif dari agenda neoliberalisme untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan (Suparjan dan Hempri, 2007). Widjaja (2011) menyatakan bahwa
pemberdayaan adalah upaya meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat sehingga masyarakat dapat mewujudkan jati diri, harkat dan martabatnya secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri baik dibidang ekonomi, sosial, agama dan budaya.
Menurut Kartasasmita (1997) pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Pemberdayaan masyarakat sendiri memerlukan suatu proses. Pengertian pemberdayaan sebagai suatu
”proses” menunjuk pada serangkaian tindakan atau langkah-langkah yang dilakukan secara kronologis sistematis yang mencerminkan tahapan untuk mengubah pihak yang kurang atau belum berdaya menuju keberdayaan (Sulistiyani, 2004).
Pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan sesuai dengan analisis kebutuhan yang ada di masyarakat. Salah satu langkah mengetahui kebutuhan masyarakat adalah melalui analisis need assessment. Definisi dari needs Assesment adalah sebuah proses mengidentifikasi kemampuan berdasarkan kebutuhan dan kemudian memprioritaskan apa yang dibutuhkan (Kaufman, 1986) dalam (Rothwell dan Kazaans, 2004).
Dalam pernyataan lain, sebuah kemampuan dibutuhkan antara apa yang harus didahulukan dan dikesampingkan, atau apa yang harus disingkiran dana pa uyang harus dilakukan (Altschuld, 2004). Kemampuan melakukan apa yang harus dilakukan adalah termasuk ke dalam kemampuan terbaik dari setiap individu sebagai tokoh penggerak utama dalam dirinya, ini tidak mudah akan tetapi melalui proses. Seorang praktisi menerjemahkan kebutuhan memiliki dampak yang besar dalam kemampuan mengatasi masalah (Nolan, 1996). Analisis kebutuhan berasal dari permasalahn yang dihadapi, hingga berada pada titik mampu membuat kategori dalam menyelesaiakn permasalahan yang ada dan menganalisis kebutuhannya untuk dipenuhi ( Renard dan Sinnock, 1990)
C. Kerangka Berpikir
Berdasarkan penelitian pendahuluan diketahui bahwa Kecamatan Jenawi merupakan wilayah yang potensial dalam mengembangkan budidaya pisang..
Program pengembangan tersebut pertama kali dilakukan pada tahun 2014 oleh Dinas Pertanian Karanganyar, kemudian sudah berkembang dan melibatkan akademisi dari Unversitas Sebelas Maret khususnya fakultas pertanian sebagai mitra dalam mendukung berkembangnya sentra pengembangan pisang di Kecamatan Jenawi. Selanjutnya, ditindaklanjuti MoU antara pihak Universitas Sebelas Maret dengan pihak kabupaten Karanganyar untuk lebih memajukan Kecamatan Jenawi sebagai sentra pisang dengan beberapa agenda yang dilakukan terkait program.
Guna mengetahui keberjalanan program terhadap kesejahteraan petani maka peneliti hendak melakukan penelitian mengenai persepsi petani terhadap program sentra penegmbangan pisang. Persepsi sendiri dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi : (1) umur, (2) pendidikan, (3) penghasilan, (4) kemampuan fisik, dan (5) intelektual. Adapun dipengaruhi juga oleh faktor eksternal meliputi : (1) lingkungan sosial, dan (2) budaya. Persepsi petani terhadap program akan dilihat dari tiga perspektif berbeda, yaitu : (1) persepktif behaviourisme yang berfokus pada kegiatan budidaya tanaman pisang (2) perspektif kognitif yang berfokus pada perekonomian petani dan (3) perpektif humanisme (fenomenologis) yang berfokus pada kondisi kelembagaan petani dan keberlanjutan program.
Berdasarkan persepsi petani tersebut maka akan diketahui kebutuhan dan keinginan petani yang sesungguhnya terhadap program pengembangan sentra pisang di Kecamatan Jenawi kemudian dianalisis melalui needs assessment.
Berdasarkan analisis needs assessment, maka akan menghasilkan upaya pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan petani. Selanjutnya, untuk menjawab pemberdayaan petani yang sesuai berdasarkan need assessment petani terhadap Program pengembangan sentra pisang di Kecamatan Jenawi maka kerangka pikir penelitian disajikan pada gambar 1 :
Keterangan :
: Terdapat Hubungan
: Terdapat Hubungan dan saling mempengaruhi
Gambar 2.1. Skema Kerangka Berpikir Persepsi Petani Terhadap Pengembangan Program Sentra Pisang
D. Pembatasan Masalah
Adapun pembatasan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Informan pada penelitian ini adalah petani pisang yang merupakan objek utama program, penyuluh pertanian lapang (PPL) sebagai fasilitator program dan kepala BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) Kecamatan Jenawi sebagai key informan
2. Data diambil di Kecamatan Jenawi sebagai wilayah sentra pengembangan pisang di Kabupaten Karanganyar dengan aspek on farm.
Program Sentra Pisang di Kecamatan Jenawi
Persepsi Petani Terhadap Program : 1. Perspektif
Behaviourisme 2. Perspektif
Kognitif 3. Perspektif
Humanisme (Fenomenologis)
Need accessment petani terhadap
program
Pemberdayaan program sentra pisang berdasarkan need
accessment Faktor Internal
Persepsi Petani : 1. Umur
2. Pendidikan 3. Pendapatan 4. Kemampuan fisik
Faktor Eksternal Persepsi Petani:
1. Lingkungan Sosial 2. Budaya
E. Dimensi Penelitian
Adapun dimensi penelitian dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Program pengembangan pisang merupakan program yang diinisiasi oleh Dinas Pertanian Karanganyar sejak tahun 2014, kemudian berkembang menjalin mitra dalam memajukan sentra penembangan pisang dengan pihak akademisi yaitu dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam hal teknologi budidaya berupa bantuan alat kultur jaringan dan publikasi terhadap program sentra pengembangan pisang.
2. Persepsi petani terhadap program akan dilihat dari tiga perspektif, yaitu : (1) persepktif behaviourisme (2) perspektif kognitif, dan (3) perpektif humanisme (fenomenologis). Pada perspektif behaviourisme penelitian akan berfokus pada keadaan ekonomi petani sebelum adanya program dan sesudah adanya program. Perspektif kognitif penelitian akan befokus pada aspek ekologis di Kecamatan Jenawi, kemudian dari Perspektif humanism (fenomenologis) penelitian akan berfokus pada aspek kelembagaan petani dan keberlanjutan program.
3. Persepsi petani merupakan hasil dari pengalaman yang terbentuk dari keterlibatan program pengembangan pisang di Kecamatan Jenawi. Persepsi petani dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk pola persepsi masyarakat terhadap objek yang ada di sekelilingnya Persepsi petani dilihat dari 4 aspek yaitu : (1) ekologis, (2) ekonomi, (3) regenerasi dan (4) kelembagaan petani
4. Fakor Internal merupakan faktor yang berasal dari diri petani itu sendiri.
Faktor internal yang mempengaruhi persepsi petani meliputi : (1) umur, (2) pendidikan, (3) pendapatan petani, (4) kemampuan fisik
5. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar yang melibatkan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Adapun faktor eksternal meliputi : (1) lingkungan sosial, dan (2) budaya.
6. Need Accessment petani yang sesungguhnya terhadap program pengembangan sentra pisang terbentuk dari persepsi berdasarkan tiga perspektif, sehingga diketahui keinginan petani yang sebenarya terhadap program dan kebutuhan petani yang dapat direalisasikan untuk menyukseskan program sentra pengembangan pisang di Kecamatan Jenawi.
7. Pemberdayaan Program Pengembangan Pisang berdasarkan need accessment merupakan rancangan pemberdayan sesuai dengan persepsi petani terhadap sentra pengembangan pisang serta kebutuhan dan keinginan petani agar program sentra pengembangan pisang dapat lebih berkembang serta berjalan dengan efektif.