• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Menarche

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Menarche"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

Selama lebih dari setengah abad, rata-rata usia menarche mengalami perubahan, dari 17 tahun menjadi 13 tahun, biasanya menstruasi pertama terjadi pada usia 11-16 tahun. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, rata-rata usia Menarche pada wanita usia 10-59 tahun di Indonesia adalah 13 tahun dengan kejadian lebih awal kurang dari 9 tahun. Hal ini berkaitan karena tingkat sosial ekonomi suatu keluarga akan mempengaruhi kemampuan keluarga dalam hal ketersediaan pangan rumah tangga, sehingga mempengaruhi kecukupan gizi keluarga, khususnya gizi anak perempuan dalam keluarga, sehingga dapat mempengaruhi usia menarche.

Paracada et al melakukan penelitian di Kosovo antara usia menarche dengan status sosial ekonomi dan menemukan perbedaan yang signifikan, terdapat hubungan antara usia menarche. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Bagga juga memperoleh hasil penelitian serupa yaitu terdapat hubungan antara usia menarche remaja putri di India dengan status sosial ekonomi keluarganya, dimana status ekonomi keluarga yang rendah berhubungan dengan usia menarche terlambat. Hasil penelitian diatas sesuai dengan hasil penelitian Amaliah dkk (2012) pada Badan Teknologi, Penelitian dan Pengembangan Intervensi Kesehatan Masyarakat, dimana rata-rata usia menarche responden berdasarkan status sosial ekonomi menunjukkan bahwa usia rata-rata menstruasi pada responden dengan status sosial ekonomi tinggi adalah 1 tahun, lebih cepat dibandingkan dengan responden dengan status ekonomi sedang dan rendah setiap tahunnya.

Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan usia menarche pada ketiga kelompok status sosial ekonomi responden. Asupan serat yang rendah dan asupan lemak yang berlebihan diyakini berhubungan dengan penurunan menarche pada remaja putri. Asupan protein hewani juga berhubungan dengan penurunan usia menarche, sedangkan asupan protein nabati berhubungan dengan keterlambatan menarche karena mengandung isoflavon.

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia menarche ibu adalah 12,57 tahun dan rata-rata usia menarche anak perempuan adalah 11,71 tahun.

Faktor Resiko Mioma Uteri a. Umur

Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa pada wanita penderita fibroid rahim, pengguna akseptor hormon progestin lebih banyak dibandingkan akseptor hormon gabungan, yaitu 83,3%. Hal ini terkait dengan konversi hormon androgenik menjadi estrogen oleh enzim aromatase di jaringan adiposa. Hasilnya adalah peningkatan jumlah estrogen dalam tubuh, yang mungkin menjelaskan hubungannya dengan peningkatan penyebaran dan pertumbuhan fibroid rahim.

Survei wanita Ghana tahun 2016 yang dilakukan oleh Sarkodie dkk menemukan bahwa 37% wanita yang didiagnosis menderita fibroid kelebihan berat badan dan obesitas. Survei yang dilakukan Kurniasari (2010) menunjukkan bahwa kasus fibroid rahim terbanyak yaitu 46,49% terjadi pada wanita dengan indeks massa tubuh ≥ 25. Fibroid rahim lebih sering terjadi pada wanita hamil atau wanita yang hanya memiliki satu anak.

Hal ini menunjukkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sarkodie dkk, 2016 bahwa 64% wanita yang didiagnosis menderita fibroid rahim adalah nulipara. Berbeda dengan wanita yang belum pernah hamil atau melahirkan, estrogen yang ada di dalam tubuhnya merupakan estrogen murni yang diproduksi oleh ovarium, yang semuanya digunakan untuk pertumbuhan jaringan rahim. Mengenai faktor rahim, Heffner (2008) menjelaskan bahwa wanita dengan infertilitas terkadang dapat mengalami leiomioma uterus atau yang biasa disebut fibroid rahim atau fibroid, yaitu tumor otot polos jinak.

Tumor ini merupakan tumor yang sering ditemukan pada wanita dan dapat terletak dimana saja pada dinding rahim atau dapat bergantung pada tangkai yang berisi suplai darah pada tumor tersebut. Leiomioma yang mengubah bentuk rongga rahim atau menyumbat saluran tuba kemungkinan besar menyebabkan berkurangnya kesuburan. Parker (2007) menyatakan bahwa menarche dini (<10 tahun) meningkatkan risiko terjadinya mioma uteri (1,24 kali) dan menarche terlambat (>16 tahun) dapat menurunkan risiko terjadinya mioma uteri (0,68 kali).

Wanita dengan siklus menstruasi lebih awal diyakini akan meningkatkan jumlah pembelahan sel miometrium selama menstruasi Sibagariang (2010) menyatakan terdapat pengaruh antara usia menarche dengan usia terjadinya menopause pada wanita menopause. Penelitian Baird di Amerika yang dilakukan terhadap perempuan kulit hitam dan perempuan kulit putih menunjukkan bahwa perempuan kulit hitam 2,9 kali lebih mungkin menderita fibroid rahim.

Patofisiologi Terjadinya Mioma Uteri

Sarang fibroid di dalam rahim bisa berasal dari leher rahim, hanya saja sisanya berasal dari badan rahim. Fibroid ini dapat menyebabkan menstruasi yang berat, lama dan intens sehingga menyebabkan anemia yang persisten. Fibroid subserosum juga dapat menempel pada jaringan lain, misalnya pada ligamen atau omentum, kemudian terlepas dari rahim, itulah sebabnya disebut fibroid pengembara/parasit. Ketika fibroid dibelah, tampak bahwa fibroid terdiri dari kumpulan otot polos dan jaringan ikat yang tersusun dalam sanggul/pusaran air (mirip pola), dengan. pseudocapsule terdiri dari jaringan ikat longgar yang tertekan oleh tumbuhnya sarang mioma.

Inisiasi dan pertumbuhan mioma uterus tampaknya mengikuti rantai inisiasi tumor dan promotor tumor yang berbeda. Wanita dengan fibroid rahim mungkin mengalami siklus pendarahan menstruasi yang teratur dan tidak teratur. Menoragia atau metorrhagia sering terjadi pada penderita mioma uteri, perdarahan abnormal ini dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.

Hal ini terjadi akibat berkurangnya sirkulasi darah pada sarang fibroid, yang disertai dengan nekrosis dan peradangan lokal. Tekanan pada rektum tidak terlalu besar dan terkadang menyebabkan konstipasi atau nyeri saat buang air besar (Decherney, 2007). Infertilitas dapat terjadi jika sarang mioma menutup atau menekan pars interstitialis tuba, sedangkan mioma submukosa dapat memudahkan terjadinya aborsi akibat distorsi rongga rahim.

Gambar 2.1 Patofisiologi Mioma Uteri  2.2.5  Gejala
Gambar 2.1 Patofisiologi Mioma Uteri 2.2.5 Gejala

Diagnosa

Berdasarkan pemeriksaan, diagnosis mioma uteri dapat ditegakkan dengan terapi lebih lanjut yaitu konservatif, bedah dan hormonal.

Komplikasi

Di Amerika Serikat, antara 22 dan 63% wanita menjalani perawatan bedah, sementara yang lain menjalani perawatan jangka pendek dengan agonis dan antagonis hormon. Tindakan konservatif dilakukan bila ukuran tumor sama dengan atau kurang dari 5 cm atau ukuran fibroid tidak melebihi usia kehamilan 10-12 minggu. Kegagalan terapi konservatif diikuti dengan histerektomi jika teridentifikasi, keluhan perdarahan hebat, keluhan komplikasi, dan keluhan tekanan pada fungsi organ.

Analog hormon pelepas gonadotropin (GnRH) seperti buserelin dan goserelin, modulator reseptor estrogen selektif (SERM) seperti raloxifene, modulator reseptor progesteron selektif (SPRM) seperti ulipristal, dan antagonis progesteron seperti Pemberian obat-obatan ditujukan untuk terapi atau mengecilkan miom sehingga memudahkan dalam melakukan miomektomi dan mengurangi perdarahan. Histerektomi dilakukan jika mioma mencapai ukuran kehamilan 14 minggu disertai indikasi adanya tekanan – pembesaran, perdarahan, dan dapat disertai komplikasi.

Histerektomi selalu dilakukan ketika ukuran mioma telah mencapai ukuran kehamilan 14 minggu, karena sulitnya mendeteksi massa adneksa dengan adanya rahim yang besar dan karena pertumbuhan lebih lanjut dapat menyebabkan tekanan pada struktur saluran kemih. .

Kerangka Konsep

Hipotesis Penelitian

Referensi

Dokumen terkait