1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam konteks negara berkembang maupun negara industri, penggunaan teknologi senantiasa menjadi kunci untuk menghasilkan kegiatan dan produk ekonomi yang inovatif. Terlebih, saat ini Indonesia tengah menghadapi revolusi industri 4.0, dimana semua proses dilakukan dengan sistem digitalisasi dan otomatisasi, hal mana yang memaksa sektor usaha untuk memutar otak dan terus berinovasi untuk bisa bertahan. Berdasarkan analisis Mckinsey Global Institute, Industri 4.0 menghasilkan dampak yang sangat massif dan signifikan pada aspek sosial dan ekonomi manusia, terutama pada sektor lapangan kerja dan mulai mensubtitusi peranan manusia1. Perkembangan teknologi internet semakin berkembang dan tidak hanya menghubungkan manusia ke seluruh dunia namun juga menjadi suatu basis digitalisasi keuangan terutama di sektor investasi. Platform investasi digital di Indonesia mulai berkembang di pertengahan 2000-an. Salah satu yang mengawalinya yaitu PT. Indo Premier Sekuritas dengan meluncurkan ekosistem keuangan berbasis teknologi, IPOT (Indo Premier Online Technology)
1Asriati dan Sumiati, “Investasi Online Reksadana: Aspek Hukum dan Perlindungan Bagi Investor selaku Konsumen, Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia,2021, Vol 10., No, 1., Hal., 39.
pada 2007. Platform lain kemudian bermunculan seperti Bareksa, Bukalapak, Bibit, Pluang, hingga Nanovest yang baru diluncurkan akhir 2021. Dengan dominasi penduduk berusia muda dan gemar bermain ponsel, Indonesia merupakan pasar potensial bagi platform investasi digital. Chief Operating Officer (COO) Buka Investasi Bersama Dhinda Arisyiya mengatakan sepanjang 2019-2020 terdapat pertumbuhan investor milenial 26 % di aplikasi mereka2. Investasi secara umum menurut Salim HS, Investasi adalah penanaman modal yang dilakukan dalam berbagai bidang usaha yang terbuka untuk investasi oleh investor, baik investor yang berasal dari luar negeri (asing) maupun investor yang berasal dari dalam negeri, dan tujuan agar mendapatkan laba3. Investasi di definisikan oleh Black Law Dictionary sebagai: an expendiure to acquire property or assets o prodce revenue;
a capital outplay. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, investasi diartikan sebagai penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek dengan tujuan memperoleh keuntungan. Sornarajah merumuskan penamaan modal sebagai: the transfer of tangible or intangible assets from one country into another for the purpose of their use in that country to guarantee wealth under the total or partial control of the owner of the asset4.
Investasi online adalah proses penanaman modal yang akan digunakan untuk mendanai sebuah perusahaan. Penanaman modal tersebut bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Karena dilakukan secara online, sehingga pengawasan
2https://katadata.co.id/maesaroh/indepth/620fac8e5e112/masa-depan-platform-investasi- digital-di-tangan-para-milenial
3 Mas Rahmah, Hukum Investasi, Jakarta Timur,Kencana,2020. Hal., 1.
4 H Salim HS, Hukum Investasi Di Indonesia, Depok, RajaGrafindo Persada,2018. Hal., 26.
pun bisa dilakukan secara online. Melakukan investasi secara online ini dapat dilakukan melalui smartphone melalui aplikasi. Anda dapat melakukan registrasi berupa data diri serta nomor telepon yang bisa dihubungi. Setelah melakukan proses registrasi tersebut, Ada banyak fitur untuk melakukan proses investasi secara online, beserta dengan penjelasannya. Fitur-fitur tersebut akan sangat membantu bahkan untuk para investor pemula sekalipun. Dengan demikian, penggunaannya lebih mudah dan praktis. Investasi merupakan cara lain untuk melakukan untuk mendapatkan keuntungan sekaligus perencanaan keuangan, yang dahulu seringkali dilakukan dengan cara menabung atau deposito. Namun karena perkembangan teknologi, maka investasi secara online pun saat ini mulai banyak dilirik5. Investasi Online atau Digital adalah Investasi berbentuk Digital yang dianggap lebih efisien baik dari segi waktu, cara penggunaan bahkan untuk mendapatkan keuntungan dan merupakan Investasi dengan terobosan baru dengan menerapkan unsur digital didalamnya6. Terdapat beberapa jenis Investasi Online, yaitu : Reksadana; Saham;
Tabungan Emas secara Online; Forex; Surat Berharga Negara; Tabungan Berjangka7.
Dengan semakin majunya perkembangan teknologi informasi, masyarakat dapat semakin mudah untuk berinvestasi secara online atau Investasi Digital. Ini ditandai dengan bermunculannya platform investasi dan pinjaman berbasis digital
5https://accurate.id/ekonomi-keuangan/hal-yang-harus-anda-pahami-saat-investasi-online/
6 Josua Halomoan Napitupulu(2021), Tinjauan Yuridis Perlindungan Hukum Korban Investasi “Fiktif” Melalui Media Online Berdasarkan Undangundang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Vol.
7, No.1, Hal., 2
7https://rangkulteman.id/berita/investasi-online-pengertian-jenis-contoh-dan- tipsnya#Apa_itu_investasi_online
yang dapat diakses melalui website ataupun aplikasi berbasis telepon seluler.
Kemunculan platform investasi dan pinjaman berbasis digital yang lebih dikenal dengan istilah Financial Technology atau Fintech, disambut baik oleh masyarakat yang selama ini ingin berinvestasi. akan tetapi terkendala dengan prosedur yang rumit, terkendala oleh waktu dan tempat maupun masih bingung untuk menginvestasikan uangnya dalam bentuk apa. Salah satu kemudahan yang ditawarkan oleh Fintech adalah kemudahan akses melalui smartphone. Fintech menawarkan berbagai bentuk investasi dalam bentuk online kepada masyarakat berupa trading valuta asing, trading komoditi, jual beli surat berharga, investasi modal pembangunan properti, kredit online, uang digital, dan bahkan pinjaman tunai online8. Investasi dalam teknologi digital sebagaimana yang berkembang dewasa ini, pada umumnya dilakukan secara konvensional dan sekarang beralih melalui website atau aplikasi secara online9. Adanya investasi digital memudahkan masyarakat untuk menginvestasikan harta kekayaannya, cukup dengan mengakses situs-situs yang menawarkan investasi. Hal ini dirasa lebih praktis dibandingkan dengan investasi secara langsung atau offline. Meskipun demikian, pemanfaatan perkembangan teknologi internet untuk melakukan investasi online mempunyai dampak negatif pada konsumen. Mengingat investasi digital dilakukan tanpa adanya tatap muka langsung dan tidak saling mengenal antara subjek yang akan berinvestasi (investor) dengan perusahaan yang menawarkan investasi, atau dengan
8 Muldri Pudamo James Pasaribu(2021), Tinjauan Yuridis terhadap Kedudukan Fintech Yang Tidak Terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum, Vol. 8, No.1 . Hal., 51.
9 I Gusti Made Aditya Permana dan I Gede Artha, Perlindungan Hukum Terhadap Investor Dalam Reksadana Secara Online, Program Kekhususan Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana. Hal., 2.
kata lain dapat dikatakan bahwa investasi online ini hanya didasarkan atas rasa kepercayaan dari para pihak10.
Istilah Konsumen berasal dan alih bahasa dari kata consumer secara harfiah arti kata consumer adalah setiap orang yang menggunakan barang. Black's Law Dictionary mendefinisikan konsumen sebagai berikut: a person who buys goods or service for pesonal, family, or house-hold use, with no intention or resale; a natural person who use products for personal rather than business purpose. Inosentius Samsul menyebutkan konsumen adalah pengguna atau pemakai akhir suatu produk, baik sebagai pembeli maupun di-peroleh melalui cara lain, seperti pemberian, hadiah, dan undangan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyebutkan; Konsumen adalah setiap orang yang memakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,keluarga, orang lain maupun mahluk hidup lainnya dan tidak untuk diperdagangkan11. Menurut Az Nasution definisi hukum konsumen ialah keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/atau jasa konsumen, di dalam pergaulan hidup. Adapun hukum perlindungan konsumen juga merupakan bagian dari hukum konsumen yang mengatur asas-asas atau kaidah- kaidah yang mengatur dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen, menyatakan bahwa perlindungan konsumen adalah, Segala supaya yang menjamin adanya
10 Kadek Desy Pramita, Kadek Diva Hendrayana(2021), “Perlindungan Hukum Terhadap Investor Sebagai Konsumen dalam Investasi Online” Jurnal Pacta Sunt Servanda,Vol. 2, No.1 , Hal., 2. 11 Zulham Zamrun, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta, Kencana,2013.hal. 17.
kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen12. Dalam dunia investasi digital, investor dapat dikategorikan juga sebagai konsumen yang dimana sangat perlu mendapat perlindungan dari negara. Berdasarkan Pasal 19 Undang- Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyatakan “Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan”. Hal itu juga terdapat pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dimana berdasarkan di dalam ketentuan Menurut Pasal 1365 KUHPerdata, setiap orang yang melakukan perbuatan melanggar hukum diwajibkan untuk mengganti kerugian yang timbul dari kesalahannya tersebut.
Selain itu dalam Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pasal 18 menyatakan, Transaksi Elektronik yang dituangkan ke dalam Kontrak Elektronik mengikat para pihak.
Keterkaitan UU-ITE dengan Investasi digital terdapat pada Transaksi Elektronik, yang mana menurut pasal 1 angka 2 UU ITE No. 11 tahun 2008 menyatakan bahwa transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya. Berdasarkan pasal tersebut, maka suatu tindakan Investasi yang dilakukan melalui jaringan elektronik bisa dikatakan sebagai tindakan Transaksi Elektronik.
12Rosmawati, Pokok-Pokok Hukum Perlindungan Konsumen, Depok, Predanamedia,2018.
hal. 32
Seperti contoh kasus kerugian dalam investasi digital yang disebabkan oleh kelalaian penyedia platform berikut . Awalnya terdakwa RIKI SP.d Bin PANDI bergabung dengan bisnis investasi online yang dikelola oleh ABDUL HALIM (yang perkaranya dilakukan penuntutan secara terpisah) yang tidak dilengkapi dengan perijinan dan kantor resmi dan dari bisnis tersebut terdakwa dan RIKI SP.d Bin PANDI memperoleh bagian sebesar 5% perbulan dari modal investor ; Bahwa untuk meyakinkan investor terdakwa bersama RIKI SP.d Bin PANDI mempresentasikan/menjelaskan kepada para investor mengenai investasi online forek (jual beli mata uang asing) yang dikelolanya, kemudian investor yang telah menanamkan modalnya diberikan surat perjanjian kerjasama yang diberi cap stempel HnR (Halim dan Riki) yang ditandatangan oleh pihak kesatu selaku investor dan pihak kedua selaku pengelola investasi online yang isinya para investor akan mendapat keuntungan sebesar 10% dari modal yang diinvestasikan untuk tiap bulannya, kemudian para investor dapat mengambil uang modalnya dalam waktu dua minggu sehingga para investor tertarik untuk mengikuti investasi tersebut, namun ketika para investor akan mengambil modalnya, terdakwa tidak dapat mengembalikan modalnya13.
Berdasarkan kasus dari Putusan Nomor 107 / PID.B / 2017.PN.KNG mengenai investasi online tersebut menunjukkan kelalaian penyedia platform sebagai penyedia investasi yang ditunjukkan tidak bisanya mengembalikan pinjaman pihak penyedia platform sehingga para investor yang menginvestasikan modalnya dirugikan karena modal tersebut tidak bisa dikembalikan. Para investor
13 Putusan Nomor 107 / PID.B / 2017.PN.KNG.
dalam menanam modal atau investasi online dirugikan dikarenakan pihak penyedia platform selaku tidak bertanggungjawab dengan modal yang sudah di investasikan oleh investor sehingga timbul kelalaian dalam mengelola dana publik.
Selain itu juga terdapat kasus robot trading, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mendapatkan sejumlah laporan robot trading aplikasi Fahrenheit.
Sejumlah korban melaporkan kasus tersebut ke Bareskrim, termasuk aktor Chris Ryan. Chris mendatangi Bareskrim Polri untuk melaporkan tindak pidana penipuan yang dialaminya melalui platform Fahrenheit pada Selasa (15/3/2022). Pihak Fahrenheit diduga sengaja menghilangkan uang yang dimasukkan para anggota aplikasi. Menurut Chris, uang yang hilang secara total mencapai Rp 5 triliun.
"Mereka dengan sengaja selama satu jam me-margin call-kan, me-loss-kan, semua investasi hilang dan itu diduga sampai Rp 5 triliun (dari keseluruhan korban)," ucap Chris Ryan saat ditemui di Bareskrim Polri, Selasa. Chris Ryan mengungkapkan alasannya bermain robot trading Fahrenheit. Ia mengaku melihat peluang pemasukan tambahan untuk memenuhi kebutuhan di tengah pandemi Covid-19.
Secara terpisah, kuasa hukum Chris bersama korban lainnya, Sukma Bambang Susilo, menyatakan bahwa kliennya merugi sekitar Rp 40 miliar. Menurut dia, jumlah korban yang ditanganinya sekitar 80 orang. "Untuk nilai kerugian yang saya tangani lebih kurang Rp 40 miliar," ujar pengacara para korban, Sukma Bambang Susilo, kepada Kompas.com, Jumat (18/3/2022). Hal itu membuat dana yang telanjur diinvestasikan mengalami trading yang tak bisa dihentikan dan membuat dana milik korban yang telah masuk ke dalam robot trading ludes. "Para korban kemudian tidak bisa melakukan withdraw dan kemudian pada tanggal 7 Maret
terjadi trading yang tanpa bisa dicegah atau disetop oleh para korban," kata Sukma kepada Kompas.com, Jumat (18/3/2022). "Sehingga, seluruh dana yang diinvestasikan habis atau istilahnya margin call," imbuhnya.14.
Karena hal tersebut investor selaku konsumen yang mengalami kerugian dalam mempercayakan modal investasi tersebut kepada Penyedia Platform memerlukan perlindungan hukum. Perlindungan hukum investor yang ada merupakan hal yang diperlukan untuk memberikan kepastian dan jaminan hukum terhadap investor saat berinvestasi. Sering kali investor yang mengalami kerugian tidak mendapatkan ganti rugi yang sesuai dikarenakan kurang jelasnya aturan mengenai bentuk dan besaran ganti ruginya. Berdasarkan kasus di diketahui bahwa perlindungan hukum dalam investasi online di Indonesia masih memiliki kelemahan.
Maka berdasarkan uraian masalah dan kasus tersebut Penulis ingin membahas bagaimana Perlindungan Hukum bagi Investor pada Investasi Online.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah :
Bagaimana Perlindungan Hukum bagi Investor pada Investasi Online pada Putusan No. 107/PID.B/2017/PNG KNG tersebut ?
14https://nasional.kompas.com/read/2022/03/19/13135971/kasus-robot-trading-fahrenheit- tipu-anggota-dalam-1-jam-total-kerugian?page=all
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menemukan, menggambarkan (mendeskripsikan), dan menganalisis Perlindungan Hukum bagi Investor pada Investasi Online.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat diadakannya penelitian hukum ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis yang diharapkan dari penelitian dan penulisan hukum ini adalah sebagai berikut. Memberikan kontribusi berupa kaidah, asas-asas maupun konsep-konsep dan makna atau pengertian bagi ilmu hukum, yang bernama Penulis meneliti Perlindungan Hukum bagi Investor pada Investasi Online.
2. Manfaat Praktis
Sedangkan manfaat praktis yang diharapkan dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Memberi masukan bentuk-bentuk dalam rumusan kaedah hukum konkret yang baru bagi masyarakat. Dimaksudkan dengan masyarakat di sini, yaitu terutama para penegak hukum. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat memperkenalkan bentuk, jenis, sifat-sifat dari kaidah hukum baru terkait penulisan Perlindungan Hukum bagi Investor pada Investasi Online. Dengan cara demikian, diharapkan para penegak hukum dan badan hukum akan mendapatkan masukan- masukan baru sebagai pedoman hukum dalam penegakkan peraturan perundang- undangan
E. Metode Penelitian
Berikut di bawah ini diuraikan struktur penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1. Jenis Penelitian 2. Pendekatan Masalah 3. Sumber Bahan Hukum.
1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian normatif. Pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan perundang-undangan (Statute Approach), pendekatan konseptual (Conseptual Approach), dan pendekatan kasus.
2. Pendekatan Masalah
Metode pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan konseptual yaitu mengelaborasi beberapa konsep umum, teori hukum, asas-asas hukum, maupun doktrin-doktrin hukum yang relevan guna memecahkan atau menjawab isu hukum atau permasalahan yang ada15.
3. Sumber Bahan Hukum
Sebagai suatu penelitian hukum, maka bahan hukum penelitian ini bersumber dari bahan-bahan hukum, yaitu:
a. Bahan hukum primer yang terdiri atas:
1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
2) Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,
15Rudyanti Dorotea Tobing, Hukum Perjanjian Kredit , Yogyakarta, Laksbang Grafika,2014, hal. 33.
3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan
4) Putusan Nomor 107 / PID.B / 2017.PN.KNG ;
b. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari buku-buku dan jurnal dalam bidang ilmu hukum yang berisi mengenai teori-teori dasar ilmu hukum dan pandangan atau pengertian para ahli dan sarjana yang berkualifikasi tinggi. Dalam penelitian ini buku dan jurnal yang Penulis digunakan berkaitan dengan Perlindungan Hukum dan Investasi Online.
F. Sistematika Penulisan
Hasil penelitian ini dituangkan dalam suatu laporan penelitian yang berbentuk karya tulis skripsi. skripsi dimaksud terdiri atas tiga bagian besar.
bagian pertama, adalah:
a. Bab I yaitu bab pendahuluan skripsi yang terdiri dari: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metode penelitian.
b. Sedangkan dalam Bab II dikemukakan Kajian Pustaka, dan Teori yang berisi tentang konsep dan teori perlindungan hukum pada investasi online dan pengaturan hukum investasi online.
c. Bab III dikemukakan Analisis atau Pembahasan yang berisi pembahasan mengenai penelitian Perlindungan Hukum bagi Investor pada Investor dalam Investasi Online yang dilakukan Penulis.
d. Bab IV adalah Bab Penutup Skripsi yang terdiri dari Kesimpulan, dan saran yang berisi kesimpulan dari isi penelitian ini serta saran dari penulis.