1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tahun-tahun pertama kehidupan manusia merupakan periode yang sangat penting dan kritis. Keberhasilan tumbuh kembang anak di tahun- tahun pertama akan sangat menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun kalau tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, apalagi yang tidak terdeteksi akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak di kemudian hari. Dengan demikian dalam mencetak anak dikemudian hari yang berkualitas dan sehat perlu peran orang tua yang maksimal dalam mendidik dan menjaga Kesehatan anak ( Mona, 2015).
Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi anak maka akan terbentuk imun anak yang kuat ( Catur, 2013).
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan.
Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga.
Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrat suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu
terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak ( Zakiyah, 2012)
Kesehatan anak dapat dipengaruhi oleh perilaku dan aktifitas maupun rutinitas orang tua dalam menjaga keluarganya. Perilaku dan aktifitas maupun rutinitas orang tua biasanya dipengaruhi oleh tingkat pemahaman dan pengetahuan orang tua itu sendiri. Secara sederhana orang tua yang memiliki pemahaman dan pengetahuan terkait kebiasaan buruk bagi anak tentu akan mengajarkan kepada anak agar dapat menghindari hal tersebut sehingga anak dapat terjaga kesehatannya ( Retno, 2017)
Berbagai macam penyakit dapat mudah menjangkit anak anak.
Penyakit tersebut di antara lain seperti demam, penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan hingga penyakit berat lainnya. Dalam mencegah terjangkitnya seorang anak maka dibutuhkan peran orang tua yang baik agar anak dapat tetap sehat di sepanjang harinya. Hingga dengan saat ini beberapa penyakit tersebut masih menjadi permasalahan bagi keluarga di dunia. Indonesia pun merupakan negara yang masih belom terbebas dari permasalahan ini. Infeksi saluran pernapasan pada anak masih menjadi penyakit yang belum dapat terselesaikan secara optimal. Tentunya permasalahan ini di akibatkan oleh beragai macam factor yang ada.
Infeksi saluran pernapasan akut atau sering disebut ISPA merupakan penyakit menular yang menjadi permasalahan di berbagai negara. Infeksi
saluran pernapasan akut telah mengakibatkan lebih dari tiga juta orang meninggal dunia. Mayoritas dari korban meninggal akibat infeksi saluran pernapasan akut terinfeksi pada bagian saluran pernapasan bawah. Angka pengidap infeksi saluran pernapasan terjadi umumnya pada anak anak walaupun penyakit ini tidak menutup kemungkinan menjangkit kaum lansia. Fenomena terkait mewabahnya infeksi saluran pernapasan akut juga dihadapi oleh negara dengan pendapatan perkapia mengenah kebawah (Simoes EAF,2006).
Menurut World health organization organisasi kesehatan terbesar didunia, infeksi saluran pernapasan akut merupakan wabah penyakit yang pada saluran pernapasan seseorang. Adanya infeksi pada saluran pernapasan diakibatkan oleh agen infeksius yang menimbulkan sebuah gejala tanda tanda dalam kurun waktu tertentu. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut di tularkan melalui droplet. Penularan infeksi saluran pernapasan akut juga dapat melalui adanya kontak dengan permukaan yang terkandung penyakit sebelumnya (WHO, 2007)
Pada tahun 2019 telah terjadi lebih dari seratus lima puluh juta kasus infeksi saluran pernapasan akut di dunia. Sembilan puluh enam persen kasus terjadinya infeksi saluran pernapasan akut terjadi di negara negara berkembang. Dibandingkan dengan negara maju yan hanya mengalami seperempat kasus daripada jumlah kasus pada negara berkembang (Kemenkes, 2019).
Indonesia merupakan negara berkembang dengan pendapatan perkapita lima puluh enam juta berdasarkan badan pusat statistic tahun 2018. Indonesia sebagai negara berkembang tidak terbebas dari wabah infeksi saluran penapasan akut. 1 dari 4 kematian bayi yang ada di akibatkan oleh infeksi saluran pernapasan akut. 41,7 persen kejadian infeksi saluran pernapasan akut terjadi di Nusa tenggara Timur. Kasus serupa terjadi di kota Padang yang mencapai serratus lima belas ribu tiga ratus enam puluh satu kasus terjadinya infeksi saluran pernapasan (RISKESDAS, 2018).
Indonesia nampaknya masih belum seutuhnya mampu terbebas dari fenomena infeksi saluran pernapasan. Berbagai macam factor mengakibatkan tingginya angka terjangkitnya infeksi saluran pernapasan akut di Indonesia. Fenomena yang terjadi tidak hanya menjangkit pada anak-anak, namun infeksi saluran pernapasan akut juga dapat menjangkit lansia (Yusrina, 2017). Hal mendasar yang menjadi factor pendorong tingginya angka terjangkit infeksi saluran pernapasan adalah masih minimnya angka kesadaran masyarakat terkait pencegahan diri dan keluarga khususnya bagi anak anak dilingku keluarga untuk mengantisipasi penyakit ini. Status social serta perekonomian yang berada pada taraf rendah juga menjadi salah satu factor pemicu terjangkitnya seseorang akan penyakit ISPA itu sendiri (Prajapati, 2011).
Peningkatan fenomena infeksi saluran pernapasan akut perlu diwaspadai dan di cegah melalui tindakan pencegahan dan pendendalian infeksi yang mumpuni. Dalam mencegah adanya penyebaran infeksi saluran
pernapasan perlu diketahui gejala atau tanda tanda umum pada seseorang yang mengalami infeksi saluran pernapasan. Secara mudah kita bisa mengenali infeksi saluran pernapasan dengan gejala demam tinggi hingga tiga puluh delapan derajat dalam kurun waktu lama. Selain itu gejala pada infeksi saluran pernapasan yaitu batuk yang menggangu dan sesak napas yang membuat komplikasi pada terduga pengidap penyakit infeksi saluran pernapasan akut (Elyana, 2013).
Kurangnya pemahaman dan sikap abai orang tua terhadap pemberian ASI perlu ditekan sehingga angka kesadaran terhadap pemberian ASI kepada bayi dapat maksimal. Dukungan keluarga dan orang tua menjadi peran penting termasuk penyuluhan dan Pendidikan pasca melahirkan terkait pemberian dan pentingnya ASI bagi seorang bayi.
Tentunya minimnya asupan gizi dari ASI seorang bayi akan membuat bayi tersebut lebih rentan terhadap penyakit dan virus yang datang. Kekebalan tubuh bayi pun akan menurun dan tdak terpenuhinya kebutuhan gizi pokok bagi bayi. Kebutuhan gizi bayi terhadap ASI berbeda dengan pemberian susu formula yang dijual dipasaran (Mufdillah, 2017).
Di Wilayah Pabuaran Subang tercatat data penderita ISPA anak tahun 2018 sampai dengan tahun 2019 mencapai 208 pnemonia data ini berdasarkan hasil rekapitulasi dinas Kesehatan yang menggambarkan adanya angka kasus kejadian ISPA pada anak di wilayah Pabuaran Subang ( Dinkes, 2019).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan terkait penyakit infeksi saluran pernapasan (ISPA) dan paparan terkait fenomena yang terjadi maka ditarik sebuah rumusan masalah untuk memfokuskan penelitian dengan rumusan masalah yaitu : “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Tentang ISPA Pada Orang Tua Anak Dengan Penderita ISPA di Puskesmas Pabuaran Subang ?”. Dengan digambarkan sebuah rumusan masalah tersebut maka peneliti dapat menganalisis focus masalah secara terarah.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi terkait pengetahuan tentang ISPA pada orang tua anak dengan penderita ISPA di puskesmas Pabuaran Subang.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi terkait pengetahuan orang tua tentang ISPA dari mulai penyebab, Gejala, Penyembuhan serta lain nya.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat akademis
Sebuah karya tulis memiliki manfaat bagi para akademisi dan manfaat bagi para praktisi dibidangnya masing masing. Sejalan dengan itu penelitian yang akan di laksanakan akan memberikan manfaat secara
akademis bagi para akademisi dikemudian hari. Penelitian ini memberikaan manfaat bagi para akademisi untuk menambah bahan kajian dalam mempelajari pengetahuan orang tua terhadap infeksi saluran pernapasan ( ISPA).
Peneltian ini juga bermanfaat untuk memberikan pemahaman terkait infeksi saluran pernapasan (ISPA). Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini maka penelitian selanjutnya akan lebih mudah dalam mengkaji dan meneliti pengetahuan orang tua terhadap infeksi saluran pernapasan secara kompleks dan komprehensif.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini memberikan manfaat praktis bagi para praktisi dibidangnya. Dengan adanya penelitian ini para praktisi mampu mengambil tindakan dan keputusan secara lebih matang dalam memberikan arahan dan penyuluhan terkait kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang tua terhadap kejadian atau kasus infeksi saluran pernapasan.
E. Ruang Lingkup Penelitian
1. Lokasi penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Pabuaran Subang sebagai tempat keberadaan informan dalam penelitian yang akan dilakukan.
2. Subjek penelitian
Subjek penelitian ini yaitu orang tua anak dengan penderita ISPA.