• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Tuberculosis atau TB masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Tiongkok dengan penderita tuberculosis (TB) terbesar di dunia.

Tuberculosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia.

dan salah satu dari sepuluh penyebab kematian di dunia. 60% kasus TB di seluruh dunia ada di dalam 6 negara yaitu Cina, India, Nigeria, Pakistan, South Afrika, termasuk Indonesia yang menjadi peringkat ke dua dunia dan 10,4 juta orang jatuh sakit akibat TB dan 1,8 juta meninggal akibat TB di tahun 2015.

Menurut Depkes RI (2006), tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).

Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013 terdapat 9 juta penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB (WHO, 2014). Pada tahun 2014 terdapat 9,6 juta penduduk dunia terinfeksi kuman TB (WHO, 2015). Pada tahun 2014, jumlah kasus TB paru terbanyak berada pada wilayah Afrika (37%), wilayah Asia Tenggara (28%), dan wilayah Mediterania Timur (17%) (WHO, 2015).

1

(2)

Menurut hasil Riskesdas 2013, prevalensi TB berdasarkan diagnosis sebesar 0,4% dari jumlah penduduk. Menurut provinsi, prevalensi TB paru tertinggi berdasarkan diagnosis yaitu Jawa Barat sebesar 0,7%, DKI Jakarta dan Papua masing-masing sebesar 0,6%.

Sedangkan Provinsi Riau, Lampung, dan Bali merupakan provinsi dengan prevalensi TB paru terendah berdasarkan diagnosis yaitu masing-masing sebesar 0,1%.

Di Indonesia, prevalensi TB paru dikelompokkan dalam tiga wilayah, yaitu wilayah Sumatera (33%), wilayah Jawa dan Bali (23%), serta wilayah Indonesia Bagian Timur (44%) (Depkes, 2008). Penyakit TB paru merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta nomor satu untuk golongan penyakit infeksi. Korban meninggal akibat TB paru di Indonesia diperkirakan sebanyak 61.000 kematian tiap tahunnya (Depkes RI, 2011).

Dalam rangka peningkatan kualitas manusia dan pencapaianIndeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam bidang kesehatan, maka angka kesembuhan penyakit menular seperti tuberkulosis paru menjadi salah satu tujuan yang ditetapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) di tahun 2015. Dalam laporan MDGs tahun 2008 disebutkan bahwa saat ini prevalensi tuberkulosis paru di Indonesia masih tinggi, yaitu sebesar 262 per100.000 penduduk atau setara dengan 582.000 kasus setiap tahunnya.

Obat merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit. Oleh sebab itu,

(3)

pasokan obat dan distribusinya harusnya menjadi agenda publik dan mendapatkan perhatian yang proporsional. Pada tahun 1994, Indonesia mengadopsi strategi DOTS (directly observed treatment short-course) untuk penanggulangan TB, dalam mendukung peranan strategi DOTS disediakan obat anti TB bagi penderita dewasa maupun anak. Untuk mendukung ketersediaan obat anti tuberculosis pemerintah pusat (Kementrian Kesehatan) menerbitkan surat keputusan nomor 1190/menkes/SK/2004 tentang pemberian gratis obat Anti TB.

Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam Rencana Global 2006-2015 adalah untuk meningkatkan dan memperluas pemanfaatan strategi untuk menghentikan penularan TB dengan cara meningkatkan akses terhadap diagnosis yang akurat dan pengobatan yang efektif dengan akselerasi pelaksanaan DOTS. Disamping itu juga untuk mencapai target global dalam pengendalian TB dan meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas obat anti TB

Dalam upaya untuk mencapai target global yaitu meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas obat anti TB perlu dilakukan pengelolaan logistik obat anti TB secara efektif dan efisien. Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut aspek perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat yang dikelola secara optimal untuk menjamin tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan farmasi dan alat kesehatan. Kemudian dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia seperti tenaga, dana, sarana

(4)

dan perangkat lunak (metoda dan tata laksana) dalam upaya mencapai tujuan yang ditetapkan di berbagai tingkat unit kerja.

Pengelolaan logistik TB dilaksanakan secara terintegrasi antara pengelola program TB, pengelola kefarmasian dan BPOM, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Perencanaan kebutuhan dilaksanakan dari dan oleh tim perncanaan terpadu dinas kesehatan kabupaten/kota, pengadaan oleh Kemenkes, Dinas Kesehatan Provinsi, kabupaten/kota, dana bantuan dan swasta lainnya. Distribusi dilaksanakan secara berkala dan berjenjang. Penyimpanan oleh bagian farmasi sesuai one gate policy sedangkan sistem informasi ketersediaan logistik dilaksanakan secara berjenjang dan berkala mulai dari kabupaten/kota ke provinsi dan ke pusat.

Menurut Depkes RI (2011) dalam pedoman nasional penanggulangan TB, organisasi pelaksanaan program penangulangan TB dibagi beberapa tingkat yaitu tingkat pusat, tingkat propinsi, tingkat kabupaten/kota,

Pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten/kota merupakan tulang punggung dalam program pengendalian TB. Setiap kabupaten/kota memiliki sejumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan (FPK) primer berbentuk Puskesmas, terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM), puskesmas Satelit (PS) dan Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM). Pada saat ini Indonesia memiliki 1.649 PRM, 4.140 PS dan 1.632 PPM. Selain puskesmas, terdapat pula fasilitas pelayanan rumah sakit, rutan/lapas, balai

(5)

pengobatan dan fasilitas lainnya yang telah menerapkan strategi DOTS.

Pada tingkat Kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program kesehatan, termasuk perencanaan, pembiayaan dan pemantauan pelayanannya,pemantauan program, register dan ketersediaan obat. Dalam penelitian ini tempat yang digunakan untuk penelitian yaitu tingkat dinas kesehatan kota yaitu Dinas Kesehatan Kota Bandung. Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di jawa barat sekaligus menjadi ibu kota provinsi jawa barat, Kota Bandung sebagai ibu kota provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di tengah- tengah provinsi sehingga mempunyai nilai strategis terhadap daerah- daerah di sekitarnya. Secara administratif Kota Bandung berbatasan dengan daerah kabupaten/kota lainnya yaitu :

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

2. Sebelah barat berbatasan dengan Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat

3. Sebelah timur dan selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung

Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan diperlukan kerjasama dengan ketiga kabupaten/kota tersebut karena masalah-masalah kesehatan tidak mengenal batas wilayah kerja. Kota Bandung sebagai kota besar juga memiliki 6 fungsi kota yaitu sebagai berikut :

a. Pusat pemerintahan Jawa Barat

(6)

b. Kota ekonomi dan perdagangan c. Kota pendidikan

d. Kota budaya dan wisata e. Kota industri

f. Etalase Jawa Barat

Jumlah kasus baru penderita tuberculosis di Kota Bandung tahun 2015 secara klinis dan laboratoris sesuai wilayah administrasinya sebanyak 2,149 kasus, Case Notificasion Rate TB adalah 86,28 per 100.000 penduduk. Sedangkan pada 2016 jumlah pasien yang baru tercatat sebesar 2.400 pasien yang menderita penyakit TB

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kota Bandung kepada petugas program TB bahwa pelaksanaan logistik obat TB dilaksanakan berdasarkan usulan dari Fasyankes yang ada di Kota Bandung. Kemudian fasilitas pelayanan kesehatan tidak menghitung jumlah kebutuhan obat yang dibutuhkan untuk tahun berikutnya, tetapi dari dinas kesehatan sendiri yang menghitung kebutuhan obat dengan berdasarkan pada laporan pasien yang menderita TB yang tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. selain itu masalah yang ditemukan yaitu pada proses penyimpanan obat TB di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung yaitu masih adanya obat yang kadaluarsa dan juga proses pendistribusian obat yang lama dari dinas kesehatan provinsi jawa barat yang mengakibatkan kurangnya stok untuk di distribusikan ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan.

(7)

Distribusi obat untuk fasilitas pelayanan kesehatan tidak langsung diberikan sesuai dengan jumlah permintaan tetapi dikonfirmasi dengan bagian farmasi terkait dengan jumlah stock obat yang ada di gudang farmasi. Jumlah ketersedian logistik program TB di dinas kesehatan tahun 2017 yaitu fixed-doses combination (FDC) anak : 126 paket, fixed-doses combination (FDC) kategori. I : 2551 paket dan fixed-doses combination (FDC) kategori. II : 118 paket.

Pelaksanaan logistik obat TB perlu mendapat perhatian atau pelaksanaan yang efektif dan efisien guna tercapainya ketersediaan keterjangkauan dan kualitas dari obat TB tersebut dan memenuhi kebutuhan untuk pengobatan penyakit TB yang sedang meningkat khususnya di Indonesia. Maka berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk menganalisis logistik obat TB di Dinas Kesehatan Kota Bandung .

B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa angka kejadian penyakit TB di Indonesia masih tinggi dan sesuai dengan rencana global dengan akselerasi DOTS pemerintah menjamin dengan adanya obat anti TB (OAT) gratis dan menjamin ketersediaannya. Oleh karena itu maka diperlukan pengelolaan logistik obat TB yang efektif dan efisien khususnya organisasi tingkat kabupaten/kota karena sebagai tulang punggung dalam pengendalian penyakit TB tersebut dalam hal ini dinas kesehatan kota sebagai penanggung jawab program. Oleh karena itu

(8)

penulis mencoba merumuskan masalah sebagai berikut: bagaimana pelaksanaan dalam mengelola logistik obat TB di Dinas Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan dalam mengelola logistik obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung tahun 2017.

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk:

a. Untuk mengetahui proses perencanaan kebutuhan obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

b. Untuk mengetahui proses pengadaan obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

c. Untuk mengetahui proses penyimpanan obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

d. Untuk mengetahui proses pendistribusian obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

e. Untuk mengetahui proses penghapusan obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

f. Untuk mengetahui proses pelaporan obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

(9)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Untuk menambah pengetahuan dan informasi tentang kegiatan logistik obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Dinas Kesehatan Kota Bandung

Diharapkan hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka meningkatkan upaya pengelolaan logistik obat TB agar lebih efektif dan efisien.

b. Bagi Institusi Pendidikan

Menjadi sumbangan referensi bagi para dosen dan mahasiswa mengenai pengelolaan logistik obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya agar dapat meneliti dengan fenomena yang lain tentang pelaksanaan logistik obat TB Dinas Kesehatan Kota Bandung.

E. Ruang Lingkup Penelitian 1. Tempat

Penelitian ini akan dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kota Bandung jl.Supratman no 73 Kota Bandung dan Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung. Selain itu penelitian ini akan dilaksanakan

(10)

di dua puskesmas yaitu UPT Puskesmas Garuda dan UPT Puskesmas Cinambo Kota Bandung.

2. Waktu

Dilaksanakan pada bulan April 2017- Juni 2017 3. Materi

Penelitian ini di fokuskan pada materi yang berhubungan dengan manajemen logistik obat TB di Dinas Kesehatan Kota Bandung.

4. Informan

a. Pemegang program TB (Tuberculosis) Dinas Kesehatan Kota Bandung

b. Bagian Farmasi Dinas Kesehatan Kota bandung

c. Pemegang program TB (Tuberculosis) UPT Puskesmas Garuda d. Pemegang Program TB(Tuberculosis) UPT Puskesmas Cinambo

Referensi

Dokumen terkait

The extended relationship of sharīʿah- compliant fintech adoption and income sustainability also presents a significant and positive relationship in which sharīʿah-compliant

Selain itu juga yang menjadi masalah yang di hadapi pada saat proses belajar mengajar adalah efikasi diri pada siswa masih cukup rendah hal ini dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu