• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II irma

N/A
N/A
Wida Andina

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II irma"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi sudah muncul ketika para pendiri bangsa (the founding fathers) yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945 bersidang untuk merumuskan UUD negara yang akan dibentuk. Saat itu Muhammad Yamin mengusulkan suapaya Mahkamah Aguung RI dilengkapi dengan wewenang untuk membanding undang-undang. Usul Yamin tidak langsung terkait dengan pembentukan Mahkamah Konstitusi, tetapi wewenang

“membanding undangundang” merupakan salah satu kewenangan yang biasanya diberikan kepada Mahkamah Konstitusi. Namun usul Yamin itu tidak berlanjut karena disanggah oleh Soepomo, dengan Alasan:

Konsep dasar yang dianut dalam UUD yang tengah disusun bukan konsep pemisahan kekuasaan melainkan konsep pembagian kekuasaan; Tugas hakim adalah menerapkan undangundang, bukan menguji undang-undang; dan Kewenangan hakim untuk

melakukan pengujian undang-undang bertentangan dengan konsep supremasi Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Dalam pasal 24 C ayat (2) perubahan ketiga Undang-Undang Dasar 1945 di nyatakan bahwa: “Kekuasaaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan lain yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.” Berdasarkan rumusan tersebut diatas kekuasaan kehakiman menganut sistem bifurkasi, dimana kekuasaan kehakiman terbagi dalam dua cabang, yaitu cabang peradilan biasa (ordinary court) yang berpuncak pada Mahkamah Agung dan cabang peradilan konstitusi yang mempuyai wewenang untuk melakukan konstitusional review atas produk perundang-undangan yang dijalankan oleh Mahkamah Konstitusi.

(2)

Kekuasaan pemerintahan dipegang oleh Presiden Republik Indonesia1, sehingga tata cara pemberhentian Presiden/atau Wakil Presiden hanya dapat dilakukan setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menyetujui proses ketatanegaraan. Pengadilan inilah yang akan mempertimbangkan, mengadili dan memutuskan. tentang komentar. Dewan Perwakilan Rakyat tentang apakah Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa makar, korupsi, tindak pidana berat lainnya, melakukan kesalahan atau tidak lagi memenuhi syarat-syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Indonesia telah menggulingkan presiden dua kali dalam Sejarah

konstitusionalnya.2 Pengalaman sejarah ini menimbulkan kontroversi mengenai proses, mekanisme, dan alasan yang digunakan untuk menggulingkan seorang presiden.3 Dari proses jatuhnya kedua presiden Indonesia dan penyebab-penyebabnya digunakan dalam berbagai dialektika negara. Secara administratif, ditinjau dari sistem pemerintahan yang dianut Indonesia, terdapat kerancuan antara sistem pemerintahan presidensial dan sistem parlementer. sistem pemerintahan.4 Sidang pemakzulan terhadap Presiden RI untuk kedua kalinya, saat ini Presiden Soekarno dan Presiden Abdurrahman Wahid.

Dua eksekusi pemakzulan yang terjadi di Indonesia menimbulkan kerancuan konstitusi dari segi hukum dan seringkali menimbulkan kerugian materil dan immateriil dari segi sosial. Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia menerapkan aturan dan mekanisme (rules of the game) yang jelas terhadap berbagai prosedur administrasi negara,

khususnya dalam kasus pemakzulan. Berdasarkan uraian umum yang diuraikan di atas, maka permasalahan yang penulis rumuskan adalah sebagai berikut: Bagaimana

pemakzulan diatur dalam sistem ketatanegaraan Indonesia dan prosedur hukum dalam mekanisme pemakzulan. Apa yang terjadi sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945? Detailnya akan dijelaskan nanti di bab ini.

1 Pasal 4 Ayat (1) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia

2 Eko Noer Kristianto, “Pemakzulan Presiden Republik Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945”, Jurnal Rechtsvinding, Vol. 2, No. 3, Dec. 2013, Jakarta:BPHN.

3 Hananto Widodo, “Politik Hukum Interpelasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia”, Jurnal Rechtsvinding, Vol. 1 No. 3, Dec. 2012, Jakarta: BPHN.

4 Putusan Mahkamah Konstitusi No. 23-26 / PUU-VII / 2010 bagian keterangan ahli, Saldi Isra, hal. 47

(3)

Salah satu dinamika ketatanegaraan yang secara jelas menunjukkan eratnya keterkaitan antara proses hukum dan politik adalah proses pemberhentian Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Proses pemecatan seorang presiden dari jabatannya dikenal dalam praktik ketatanegaraan di banyak negara, yang biasa disebut dengan impeachment. Menurut Mahmud MD, ada dua model pemakzulan presiden dan/atau wakil presiden: pemakzulan politik dan pemecatan oleh pengadilan khusus. forum (previli-giatum). Bagian 7A dan 7B mencakup model dakwaan dan model pra-litigasi. Pemberhentian oleh MPR merupakan bentuk dakwaan dan putusan Mahkamah Konstitusi merupakan bentuk pra-peradilan.

Intervensi Konstitusional Mahkamah sedang melakukan proses pemakzulan terhadap presiden dengan harapan pemakzulan terhadap presiden tidak hanya dilakukan karena alasan politik tetapi juga karena alasan hukum. Pemakzulan merupakan salah satu mekanisme konstitusional yang diatur dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk menggantikan presiden dan/atau wakil presiden dalam masa

jabatannya apabila ditemukan pelanggaran hukum. Pemakzulan Presiden diketahui oleh para ahli sebagai peristiwa politik yang tidak biasa dalam sistem pemerintahan

presidensial. Pemakzulan merupakan sanksi hukum yang berdasarkan bukti-bukti yang sah. Berbeda dengan pemakzulan, pemakzulan adalah proses di mana seorang pejabat terpilih dituduh melakukan tindakan ilegal.

Proses politik keluarnya pendapat DPR untuk membuktikan presiden dan/atau wakil presiden melanggar hukum Mahkamah Konstitusi adalah proses pemakzulan, sedangkan konsep pemakzulan adalah putusan memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden karena pelanggaran yang telah terjadi.5 Berdasarkan Pasal 7A Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan oleh MPR selama masa jabatannya atas usul MPR Dewan Perwakilan Rakyat. terbukti melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan DPR berupa makar, korupsi, penyuapan, tindak pidana, atau perbuatan tidak senonoh lainnya. dan apakah ia memenuhi syarat untuk menjabat sebagai presiden dan/atau

5 M. Ilham Hermawan and Dian Purwaningrum, “Mekanisme Pemberhentian Presiden (Impeachment) dan Kritik Substansi Pengaturannya Di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum Amanna Gappa, Vol. 20, No. 2, June 2012, Makasar: Faculty of Law Universitas Hasanuddin

(4)

wakil presiden juga. Ayat (1) Pasal 7B UUD NRI 1945 menunjukkan bahwa proses pemakzulan pasca amandemen UUD NRI 1945 melibatkan tiga lembaga negara, yaitu DPR, Konstitusi Mahkamah, dan MPR. Keberadaan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga peradilan dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia merupakan implementasi gagasan ketatanegaraan dan penguatan mekanisme kontrol.6

Sejarah ketatanegaraan Indonesia telah menyaksikan dua kali pemakzulan presiden, yaitu Presiden Soekarno dan presiden abdurrohman wahid. Presiden

Abdurrahman Wahid memimpin pemerintahan dengan pandangan dan kebijakan yang kontroversial. Situasi ini menyebabkan kekuatan politik yang dibawa Presiden

Abdurrahman Wahid beralih ke aksi protes. Perselisihan antara Presiden Abdurrahman Wahid bermula ketika DPR meminta Presiden Abdurrahman Wahid mendanai Bulog Yanatera sebesar Rs. 35 M dan Sultan Brunei Darussalam memberikan bantuan sebesar US$2 juta.13 Tuduhan tersebut ditanggapi DPR dengan mengusulkan penggunaan hak penyidikan yang disetujui pada sidang paripurna DPR ke-55 pada 28 Agustus 2000.

yang kemudian disusul dengan pembentukan pansus pada tanggal 5 September 2000.

Presiden Abdurrahman Wahid mengambil tindakan politik dengan

mengeluarkan keputusan presiden yang menyatakan memberhentikan DPR dan MPR, mempersiapkan lembaga-lembaga untuk pemilihan umum dalam waktu satu tahun, dan melakukan reformasi menyeluruh. elemen orde baru. bekukan komplotan Golongan Karya. Keppres ditolak DPR dan dilanjutkan sidang luar biasa dengan tugas

membatalkan agenda presiden dengan Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2001 tentang Pengangkatan Wakil Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarno-putri sebagai Presiden Republik Indonesia. Pemakzulan Presiden Abdurrahman Wahid dinilai inkonstitusional dan hanya dipengaruhi kekuatan politik, tanpa prosedur hukum. Dua alasan utama mengapa Presiden Abdurrahman Wahid dimakzulkan adalah karena ia melakukan tindakan yang melanggar kebijakan negara sehingga menghambat proses ketatanegaraan karena tidak bersedia hadir dan tidak bersedia memberikan laporan pada sidang luar biasa MPR.

6 Lihat Misranto, “Mahkamah Konstitusi dalam Konstruksi Penerapan Sistem Peradilan ”, Jurnal Perspektif, Vol. XIX, No. 3, September 2014, Surabaya: UWKS.

(5)

Oleh karena itu, proses pemakzulan penuh dengan nuansa politik dan jelas melemahkan arti penting Indonesia sebagai negara hukum (rechtsstaat). Untuk menghindari terulangnya proses pemakzulan karena alasan politik, maka pada

Amandemen Ketiga UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dibentuk lembaga negara baru yaitu Mahkamah Konstitusi.7 Gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusi merupakan bagian dari administrasi publik modern yang muncul pada abad ke-20.8 Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengenai proses pemakzulan berdasarkan Pasal 7B jo. Pasal 24C ayat (2).

Berdasarkan Pasal 7B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemakzulan tidak hanya didasarkan pada pertimbangan politik tetapi juga logika hukum (yudisial). kewajaran dan tanggung jawab. Mahkamah Konstitusi dalam rangka acara pemakzulan wajib memutuskan pendapat DPR atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. Mahkamah Konstitusi

mempertimbangkan dan memutus pendapat DPR terhadap kegiatan Presiden dan/atau Wakil Presiden yang dianggap sesuai dengan Pasal 7A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pertimbangan yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi Mahkamah Konstitusi merupakan suatu lembaga peradilan yang menghasilkan suatu putusan yang berupa putusan yang adil.

Berdasarkan Pasal 83 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Konstitusi dapat mengeluarkan tiga putusan yang dapat menyatakan permohonan tidak dapat diterima, dengan menegaskan bahwa hal tersebut menegaskan pandangan DPR. Permintaan perwakilan dan negara ditolak. Pada tingkat pengambilan keputusan, terserah kepada Presiden dan/atau Wakil Presiden

7 Pembentukan Mahkamah Konstitusi berkaitan dengan teori organ (organ dibentuk dengan peran dan fungsinya). Pembentukan Konstitusi dipengaruhi oleh efektivitas kerja jumlah anggota parlemen yang ada, yang mengisi masalah, integritas, dan mekanisme kerja lainnya. Masalah pengisian muncul ketika banyak manipulasi terjadi di mekanisme pemilihan anggota parlemen, saat itu tidak menjadi masalah lagi, masalah integritas muncul dari anggota parlemen dan menjadi sebuah kendala. Lihat Agung Laksono, “Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Pasca Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 ”, Jurnal Majelis, Vol. 1 No.1. Agustus 2009, Jakarta: Sekretariat Jenderal Majelis

Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia

8 Bambang Sutiyoso, “Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden Di Indonesia”, Jurnal Konstitusi, Vol. 7 No. 1 February 2010, Jakarta: Sekjen dan Kepaniteraan MK

(6)

apakah melanggar atau tidak melanggar hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pada saat sidang paripurna Kongres. DPR tentu saja memperhitungkan faktor politik. cukup berpengaruh karena proses pemakzulan bisa terus berjalan tergantung kepentingan politik anggota DPR. Menurut Pasal 7B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kedudukan DPR yang dinyatakan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden bertentangan dengan undang-undang atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden.

dan/atau Wakil Presiden menjalankan fungsi pengawasan DPR. Fungsi pengawasan menurut Pasal 20 A ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 meliputi kewenangan interogasi, penyidikan, dan penyampaian pendapat.

Sesuai dengan isi Pasal 7B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, fungsi pengawasan yang disebutkan dalam pasal ini adalah hak untuk menyatakan pendapat. melihat. Namun demikian, untuk memberhentikan

Presiden dan/atau Wakil Presiden dari jabatannya karena melanggar hukum, maka pelaksanaan hak menyatakan pendapat harus mendahului pelaksanaan hak penyidikan untuk menentukan apakah Presiden dan/atau Wakil Presiden atau Wakil Presiden.

benar-benar melanggar hukum atau tidak. telah melanggar hukum. hukum. Kewenangan penyidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Dewan

Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Provinsi merupakan hak DPR untuk melakukan penyidikan terhadap

pelaksanaan undang-undang dan/atau Pemerintahan. kebijakan yang berkaitan dengan permasalahan penting, strategis, dan mempunyai dampak luas terhadap masyarakat, bangsa, dan negara diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Fungsi kekuasaan penyidikan dalam hal ini merupakan bentuk kontrol DPR terhadap Presiden. Kontrol yang dilakukan DPR terhadap Presiden merupakan salah satu bentuk mekanisme check and balance antar lembaga negara, seperti pepatah Lord Acton: “Kekuasaan cenderung korup, kekuasaan cenderung korupsi. Korupsi justru sebaliknya.” Apabila Presiden terbukti melakukan pelanggaran, maka kewenangan penyidikan tersebut dapat dilaksanakan lebih lanjut dalam Pendapat Ekspres, yaitu

(7)

suatu bentuk pendapat formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendapat Ekspres tentang Hak tersebut akan disampaikan kepada Mahkamah Konstitusi untuk dipertimbangkan dan

diputuskan, apabila Mahkamah Konstitusi memutuskan Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti melanggar hukum, maka DPR selanjutnya akan memberikan rekomendasi kepada MPR.

Putusan Mahkamah Konstitusi hanya mengikat DPR dalam kedudukannya sebagai pihak yang meminta pemakzulan, sebagaimana diatur dalam Pasal 19 ayat (5) Peraturan Mahkamah Konstitusi. Nomor 21 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Penanganan Kasus Pelanggaran dalam Pemberitahuan DPR Terkait Dugaan Pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. Peraturan Mahkamah Konstitusi dengan jelas menyatakan bahwa “keputusan pengadilan bersifat final dan mengikat DPR jika

berlaku. » Persoalannya, putusan MK hanya mengikat DPR, sehingga MPR tidak terikat dengan putusan MK.

Keterlibatan Mahkamah Konstitusi dalam proses pemakzulan bervariasi dari satu negara ke negara lain, tergantung pada sistem pemerintahan yang digunakan oleh negara tersebut dan kewenangan yang diberikan Konstitusi kepada Mahkamah

Konstitusi dalam proses pemakzulan.

Impactment Presidensial

Alasan Pemberhentian Presiden Pasca Amandemen UUD 1945 UUD 1945

Pasca amandemen mengatur lebih tegas mengenai alasan-alasan pemberhentian Presiden dan mekanisme pemberhentian Presiden dalam masa jabatannya yaitu dalam Pasal 7A UUD 1945, berbunyi; Presiden dan atau Wakil Presiden dapat di berhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas Usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila telah melakukan pelangaran hukum, berupa

penghianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela mapun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, dapat di ketahui ada dua alasan Presiden dapat di berhentikan dalam masa jabatannya:

(8)

(1) Melakukan pelangaran hukum; penghianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela;

(2) Terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden.

Penghianatan terhadap Negara

Sebutkan bentuk penghianatan Peristiwa pengkhianatan PKI tahun 1965, merupakan bentuk pengkhianatan yang dilakukan oleh oknum pemimpin negara terhadap bangsa dan rakyatnya sendiri. Sebab, negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Korupsi dan Penyuapan Definisikan

Terjerat pidana berat contohkan

Melakukan perbuatan tercela Bentuknya apa

Terbukti tidak memenuhi syarat sebagai presiden Jelaskan

Mekanisme Pemberhentian Presiden Pasca Amandemen UUD 1945

Proses Hukum dalam Mekanisme Pelaksanaan Sebelum dan Sesudah

Amandemen Sebelum Amandemen UUD 1945, Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan karena alasan politik tetapi tidak karena alasan hukum. Hal ini biasa terjadi di negara-negara dengan sistem pemerintahan presidensial. Oleh karena itu, Amandemen Ketiga UUD 1945 memuat ketentuan pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya semata-mata karena alasan yang sah dan hanya mengacu pada ketentuan yang bersifat konstitusional. Selain itu, prosedur pencabutan hanya dapat dilakukan setelah disahkan oleh Mahkamah Konstitusi. Pengadilan ini mempertimbangkan, mengadili, dan memutus menurut pendapat Dewan Perwakilan

(9)

Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum berupa makar, korupsi, penyuapan, dan tindak pidana lainnya, pelanggaran berat lainnya, perbuatan tercela, atau tidak lagi melakukan pelanggaran berat lainnya.

memenuhi syarat menjadi presiden atau wakil presiden.

Kemungkinan pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden pada masa jabatannya di MPR atas usul DPR secara teknis disebut dengan istilah pemakzulan.

Namun permasalahan selanjutnya adalah ketentuan pemakzulan dalam UUD tidak mengatur hal teknis lainnya sehingga saat ini belum ada rumusan pastinya. Parlemen akan menggunakan mekanisme pemakzulan untuk mengadili pejabat tinggi dan orang- orang berkuasa yang terlibat dalam korupsi atau hal-hal lain di luar yurisdiksi

pengadilan.

Sebenarnya, Dewan Perwakilan Rakyat bertindak sebagai dewan juri yang memutuskan apakah akan memakzulkan seorang pejabat atau tidak. Jika pejabat itu didakwa, DPR akan mengadilinya. Jika terbukti bersalah, petugas polisi tersebut akan diancam sesuai aturan, termasuk sesuai fungsinya. Memang benar, proses pemakzulan merupakan alat untuk mencegah dan memperbaiki penyalahgunaan kekuasaan oleh mereka yang memegang kekuasaan. Ketika Konstitusi ditulis pada tahun 1787 di Philadelphia, Pennsylvania, para pemimpin Amerika mencatat adanya kecenderungan para pemimpin menjadi korup setelah berkuasa.

Selain korupsi, para pemimpin juga berusaha untuk tetap memegang kendali selama mungkin. Oleh karena itu, proses pemakzulan di Indonesia langsung melalui proses di tiga lembaga negara, yang pertama dilakukan di DPR dengan menyatakan presiden dan/atau wakil presiden melakukan makar atau suap, alkohol atau tindak pidana berat lainnya. berperilaku atau memalukan, DPR bahkan berhak menyatakan presiden atau wakil presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai pemimpin negara.

Melalui pengawasannya, DPR mengusut dugaan tindakan tersebut merupakan pemakzulan, karena setelah proses DPR selesai, rapat paripurna DPR sepakat untuk menyatakan presiden atau wakil presiden mengambil tindakan. untuk dijadikan dasar penuntutan, maka putusan sidang paripurna harus dibawa ke hadapan Konstitusi Mahkamah.

(10)

Sebelum proses pemakzulan pada akhirnya diproses oleh MPR untuk

memperoleh keputusan akhir yang menentukan nasib Presiden dan/atau Wakil Presiden.

Kondisi ini bermula dari adanya permintaan DPR kepada Mahkamah Konstitusi setelah didukung oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Dewan DPR (Pasal 7 ayat B (3) UUD). Lebih lanjut, menurut Pasal 80 ayat (2) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, dakwaan DPR harus dicantumkan dalam

permohonan mengenai dugaan Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran. kejahatan. untuk pelanggaran. hukum berupa: Negara; 2. korupsi dan penyuapan; 3. tindak pidana berat atau perbuatan tercela lainnya; 4. dan / atau Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan / atau Wakil Presiden berdasarkan Undang-Undang Dasar. Dewan Perwakilan Rakyat dalam permohonannya wajib mencantumkan putusan DPR Dewan Perwakilan Rakyat dan proses pengambilan keputusan tentang pendapat DPR DPR, risalah dan / atau risalah DPR, disertai bukti dakwaan yang terungkap dalam berita acara pendapat Dewan Perwakilan Rakyat.

Mahkamah Konstitusi mengajukan permohonan yang sudah tercatat di Buku Perkara Konstitusi Pendaftaran kepada Presiden dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah aplikasi dicatat dalam Buku Pendaftaran Perkara Konstitusi Jika Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan / atau Wakil Presiden memiliki tidak terbukti melanggar Undang-undang berupa makar negara, korupsi, suap, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela dan / atau terbukti tidak lagi

memenuhi syarat sebagai Keputusan Presiden dan / atau Wakil Presiden menyatakan permintaan DPR ditolak (Pasal 83 ayat (3) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003).

Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa, mendengar, dan memutuskan seadil-adilnya pendapat Dewan Perwakilan Rakyat di dalamnya 90 (sembilan puluh) hari sejak

permohonan dicatat dalam Pendaftaran Konstitusi Kasus Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Pendapat Rakyat Dewan Legislatif diserahkan kepada Parlemen dan Presiden dan / atau Wakil Presiden.

Di sisi lain, jika Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan / atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum, perbuatan tercela, dan atau terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan / atau Wakil Presiden, menurut

(11)

Parlemen sidang paripurna untuk meneruskan usulan pemberhentian Presiden dan / MPR (Pasal 7 B ayat (5) Konstitusi Indonesia). MPR wajib menyelenggarakan rapat untuk memutuskan usul DPR paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak usulan tersebut diterima (Pasal 7 B 96 UUD RI). Keputusan MPR mengenai usul pemberhentian ketua dan/atau wakil ketua diambil dalam sidang paripurna MPR, yang dihadiri oleh

sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh MPR. .setidaknya disetujui oleh 2/3 dari jumlah anggota. hadir, setelah Presiden dan/atau Wakil Presiden mendapat kesempatan menyampaikan penjelasan dalam sidang paripurna MPR (Pasal 7 B ayat (7) UUD RI).

Keputusan MPR memberhentikan presiden dan/atau wakil presiden dalam masa jabatannya merupakan keputusan politik (politieke beslissing) dan bukan keputusan peradilan (judicial vonnis). Pemberhentian presiden dan/atau wakil presiden pada masa jabatannya merupakan kewenangan konstitusional MPR dan bukan kewenangan lembaga peradilan (rechspraak). Sekalipun Mahkamah Konstitusi telah mengambil keputusan berdasarkan pandangan DPR terhadap terbukti adanya pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden, namun MPR tetap dapat mengambil keputusan yang berbeda dengan pasal tersebut. ) dalam rapat paripurna MPR menerima dua penafsiran yang diberikan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden agar rapat dilihat dari sudut pandang Presiden dan/atau Wakil Presiden.

Presiden tidak perlu diberhentikan dari jabatannya. Rapat MPR memberikan kesempatan kepada Presiden dan/atau Wakil Presiden untuk memberikan penjelasan sebelum sidang paripurna mengambil keputusan (lihat Pasal 7 B ayat (7) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945). Penjelasan yang disebutkan dalam ketentuan

konstitusi pada hakikatnya merupakan tindakan defensif yang dilakukan oleh presiden dan/atau wakil presiden.

Hal ini tidak berarti bahwa putusan MPR membatalkan keputusan konstitusional Mahkamah, namun pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya efektif konstitusional MPR. Sedangkan rapat paripurna MPR untuk memberhentikan ketua dan/atau wakil ketua hanya sebatas memberhentikan ketua dan/atau wakil ketua. Ketua Pegawai Negeri Sipil Kepala Pemerintahan Negara,

(12)

sepanjang ia diberhentikan dari jabatannya, tidak termasuk dalam lingkup penyidikan dan penuntutan pidana terhadap Presiden dan/atau Wakil Presiden yang diberhentikan dari jabatannya karena jabatannya. Aturan politik (kebijakan eksklusif) bukan bagian dari proses penyidikan (protes) dan penuntutan.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu melengkapi ketentuan Pasal 24C ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dengan jelas menyebutkan bahwa putusan mahkamah konstitusi mengenai perbuatan yang melanggar ketentuan Keputusan Legislatif yang Dinyatakan Keputusan Presiden dan/atau Wakil Presiden bersifat final dan mengikat tidak hanya terhadap DPR sebagaimana tercantum dalam PMK Nomor 21 Tahun 2009, tetapi juga terhadap MPR, karena putusan

Mahkamah Konstitusi bersifat erga omnes, artinya akibat hukumnya adalah mengikat semua orang.

Partisipasi Kongres dalam Konstitusi. Putusan pengadilan harus tercermin pada ayat (5), (6), dan (7) Pasal 7B, yang mana UUD telah diubah menurut UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk membolehkan/mendukung putusan konstitusi.

Dengan demikian, menunjukkan tanggung jawab hukum kepada presiden atas pelanggaran tidak dapat dipisahkan dari proses politik itu sendiri. Hal ini perlu

dilakukan untuk meminimalisir apa yang berlaku di Indonesia sebagai negara hukum, sehingga unsur-unsur pokok perkara pemakzulan politik terhadap presiden melanggar hukum.

Pemakzulan berdasarkan UUD NRI 1945 dilakukan karena terdapat pelanggaran hukum dan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh Presiden dan / atau Wapres, oleh karena itu penyelesaian pemakzulan harus melalui pertanggungjawaban hukum, bukan pertanggungjawaban politik. Putusan MK dalam Pasal 24C ayat (2) UUD NRI 1945 dapat diberikan legitimasi yang kuat sebagai otoritas Mahkamah Konstitusi yang diatur dalam Pasal 24C ayat (1) UUD NRI 1945, yang menunjukkan bahwa putusan MK adalah terakhir. Demikian putusan Mahkamah Konstitusi harus opini kelembagaan Parlemen no lagi proposal yang diambil di rapat paripurna MPR.

(13)

Rapat paripurna MPR harus menjadi pengesahan proposal Parlemen forum yang terbukti melanggar melalui keputusan tersebut Mahkamah Konstitusi. Oleh karena itu, sistem kuorum dalam rapat paripurna MPR harus diabaikan karena perbedaan konteks rapat paripurna yang lain, untuk meminimalkan proses politik ke dalam proses hukum.

Ini sesuai dengan Pasal 1 (3) UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum (rechtstaat) bukan negara yang berdasarkan kekuasaan semata

(machtstaat).9

9 Compare to Lisdhani Hamdan Siregar, “Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi dalam

Pemakzulan Presiden dan/ atau Wakil Presiden di Indonesia”, Jurnal Konstitusi, Vol. 9, No. 2, June 2012, Jakarta: Sekjen Kepaniteraan MK, page 290.

Referensi

Dokumen terkait

Mahakamah Konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat DPR bahwa presiden dan/ atau wakil presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan

Kesimpulan dalam skripsi ini adalah proses pemakzulan dimulai dengan pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum sesuai yang

Mahkamah konstitusi wajib memberi putusan atas pendapat DPR bahwa Prsiden dan/atau Wakil Presiden yang diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa penghianatan

(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa

(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap

Kekuatan mengikat Putusan Mahkamah Konstitusi dalam konteks pemakzulan presiden dalam prinsip negara hukum, bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan mengikat

mahkamah Knstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum beruppa pengkhiyanatan

Dalam proses pemberhentian presiden posisi mahkamah konstitusi bersifat pasif, yaitu hanya menunggu pengajuan permintaan pendapat (pendapat hukum) dari DPR, tentang