• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI Gorys Keraf

N/A
N/A
Nurul Nadira

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II KAJIAN TEORI Gorys Keraf"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Gaya Bahasa

Gorys Keraf (1998:112) Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata latin stilus.

Karena perkembangan, gaya bahasa atau style menjadi masalah atau bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasaatau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu. Sebabitu, persoalan gaya bahasa meliputi semua hirarki kebahasaan. Akhirnya style atau gaya bahsa dapat di batasi sebagai cara memngungkapkan pikiran mlalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa.

Menurut Gorys Keraf (Diksi dan Gaya Bahasa, 1988:113) bahwa gaya bahasa di bagi menjadi dua menurut fungsinya:

1. Sendi dan gaya bahasa 2. Jenis-jenis gaya bahasa

(2)

2.1.1 Sendi dan Gaya Bahasa

Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut:

yang diajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Dengan cara menyampaikan kejujuran, sopan- santun, dan menarik. Kejujuraan dalam bahasa berarti mengikuti aturan-aturan yang baik dan benar dalam berbahasa.

Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak berarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidak jujuran.

Sedangkan Sopan-santun yang di maksut disini adalah memberi penghargaan atau menghormati orang sesuatu secara jelas, kejelasan dengan demikian akan diukur dalam kaidah berikut, yaitu Kejelasan dalam tatanan kata dan kalimat, kejelasan dalam pengungkapan fakta, Kejelasan dalam megutarakan ide secara logis dan Kejelasan dalam penggunaan perbandingan.

Gaya bahasa bisa di katakan Menarik dapat diukur melalui beberapa komponen seperti variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas) dan penuh daya khayal (imajinasi). Penggunaan variasi akan mengindari monotoni dalam nada, struktur dan pilihan kata.

2.2 Jeni-jenis Gaya Bahasa

2.2.1 gaya bahasa segi Non Bahasa

Gaya bahasa dapat ditinjau dari bermacam-macam sudut pandangan. Yaitu dari segi bahasa dari segi non bahasa dan

(3)

bahasa.Dalam jenis-jenis bahasa dari segi non bahasa dapat di bagi atas lima pokok, yaitu berdasarkan pengarang, berdasarkan masa, berdasarkan tempat, berdasarkan hadirin dan berdasarkan tujuan Gorys Keraf,1998:115).

a. Berdasarkan pengarang

Pengarang yang kuat dapat mempengaruhi orang-orang sehingga dapat membentuk sebuah aliran.

b. Berdasarkan masa

Gaya bahasa yang didasarkan pada masa, misalnya ada gaya lama, gaya klasik, gaya modern dan sebagainya.

c. Berdasarkan medium

Setiap bahasa karena struktur dan situasi sosial pemakainnya dapat memiliki corak tersendiri, misalnya karya tulis dalam bahasa jerman akan memiliki corak tersendiri bila di tulis dalam bahasa indonesia.

d. Berdasarkan tempat

Gaya ini mendapat namanya dari lokasi georafis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekspresi bahasannya.

Ada gaya Jakarta, gaya Jogya, ada gaya Medan, Ujung Padnag dan sebagainnya.

(4)

e. Berdasarkan hadirin

seperti halnya dengan subyek, maka hadirin atau jenis pembaca juga mempengaruhi gaya yang dipergunakan seorang pengarang.

Ada juga gaya intim (familiar) yang cocok digunakan untuk lingkungan keluarga atau orang yang akrab.

f. Berdasarkan tujuan

Gaya yang di sampaikan oleh pengarang, tujuannya adalah mencurahkan gejolak emotifnya. Ada gaya yang sentimental, adagaya sarkastik, gaya diplomatis, gaya agung atau luhur, gaya teknis atau informasional, dan gaya humor.

Dilihat dari sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan, maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, yaitu Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana, gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat.

2.2.2 Gaya Bahasa Segi Bahasa

a. Gaya Berdasarkan Pilihan Kata

Berdasarkan gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu. Dalam bahasa standar ( bahasa baku) dapat dibedakan: gaya bahasa resmi ( bukan

(5)

bahasa resmi), gaya bahasa tak resmi dan gaya bahasa percakapan (Gorys Keraf,1998:117).

1. Gaya Bahasa Resmi

Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang di harapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa resmi ini biasa di gunakan dalam acara seperti upacara, wisuda, dan acara keagamaan.

2. Bahasa tak resmi

Gaya bahasa tak resmi juga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang formal.

Bentuknya tidak terlalu konservatif. Bahasa tak resmi biasanya di gunakan dalam acara yang lebih santai, seperti acara reoni, seminar, acara ulang tahun.

3. Gaya Bahasa Percakapan

Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Namun disini harus ditambahkan segi-segi morfologi dan sintaksis, yang secara bersama –sama membentuk gaya bahasa percakapan ini. Bahasa

(6)

percakapan ini di gunakan sehari-hari ketika berkomunikasi dengan orang lain.

b. Gaya Bahasa Berdasarkan Nada

Gayabahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Sugesti ini akan lebih nyata kalau diikuti dengan sugesti suara dari pembicara.

Gaya bahasa berdasarkan nada di kelompokan menjadi tiga yaitu Gaya bahasa sederhana, Gaya bahasa mulia bertenaga dan gaya menengah (Gorys Keraf,1998:121).

1. Gaya sederhana

Gaya ini digunakan secara efektif, pembicara harus memiliki kepandaian dan pengetahuan yang cukup. Seperti ketika dosen mengajar di depan mahasiswa dan mahasiswinya maka gaya bicara berdasarkan nadanya akan sederhana, namun yang diucapkan harus bersumber dari pengetahuan yang tinggi.

2. Gaya mulia dan Bertenaga

Sesuai dengan namanya, gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, dan biasanya dipergunakan untuk menggerakan sesuatu.

Menggerakan sesuatu tidak saja mempergunakan tenaga dan vitalitaspembicara, tetapi juga dapat mempergunakan nada

(7)

keagungan dan kemuliaan . gaya dengan bernada mulia dan bertenaga ini di gunakan oleh komandan upacara.

3. Gaya Menengah

Gaya menengah adalah gaya yang biasanya mempergunakan metafora bagi pilihan katanya. Gaya yang tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat lembut-lembut,dan mengandung humor yang sehat.

c. Gaya Bahasa Berdasarakan Struktur Kalimat

Berdasarkan struktur kalimat maka dapat di peroleh gaya-gaya bahasa sebagai berikut:

1. Klimaks

Gaya bahasa Klimaks yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam Gaya Bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnnya. Klimaks di sebut sebagai gradasi.

2. Anti klimaks

Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa yang gagasan- gagasannya diurutkan dan yang terpenting berturut-turut ke gagasan-

(8)

gagasan yang kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang penting di tempatkan pada awal klimaks sehinggga pembaca atau pendengar tidak lagi member perhatian pada bagian-bagianberikutnya dalam kalimat itu.

2.3 Penyiar radio

Penyiar radio adalah orang yang mampu mengkomunikasikan gagasan, konsep, dan ide serta bertugas membawakan atau menyiarkan suatu program acara di radio. Dalam hal ini penyiar radio bertanggung jawab terhadap acara yang sedang di bawakannya sehingga dapat berlangsung dengan lancar. Penyiar adalah narasumber dan sumber segala informasi yang diberikan kepada pendengar. Dalam sebuah siaran radio,fungsi penyiar bisa diibaratkan sebagai ujung tombak, etalase dan filter terakhir karena penyiar yang mengkomunikasikan pesan, baikiklan lagu dan lain sebagainnya. Itulah penyiar tampil sebagai wakil radio di tempat dia bekerja (Yulia, 2010, p.17).

Menurut Romli (2009) ada dua teknik siaran yang harus dikuasai oleh seorang penyiar.Pertama teknik Ad Libitum, yaitu teknik siaran dengan cara berbicara santai dan enjoy tanpa beban atau atau tanpa tekanan, sesuai dengan selerannya (Ad Libitum Means to Speak, as one wishes, as one desires) dan tanpa naskah. Kedua, teknik membaca naskah siaran yang sudah disusun sendiri atau dengan bantuan script writer (p.39).

(9)

2.3.1 Peran penyiar

Peran penyiar sangatlah penting maka dengan itu bahasa bagaimana seorang penyiar melakukan aktifitas siaran khususnya dalam bertutur sehingga pendengar merasa nyaman untuk selalu mendengarkan.

Menurut yulia (2009) beberapa contoh peran penyiar adalah:

1. Libatkan pendengar dalam program acara.untuk menarik perhatian pendengar, tidak cukup hanya memiliki golden voice (suara yang menarik dan mempesona). Penyiar radio harus melibatkan para pendengar dalam setiap program acara yang dibawakannya. Inilah yang menjadi tantangan penyiar, bagaimana daya tariknya bisa memaksa pendengar untuk stay tune di program dan tujuan program itu sampai langsung ke pendengar. Beberapa cara supaya penyiar bisa melibatkan pendengar dalam acara adalah dengan memamerkan kekuatan program itu baik secara langsung atau tersamar. Rumusnya adalah “Radio adalah kerja tim” jadi program radio adalah, hasil perpaduan antara programer, penata musik, penata informasi, dan penyiar, jangan sampai peran mata rantai ini dihilangkan.

2. Maksimalkan ekspresi tubuh ke suara. Penyiar radio hanya bekerja melalui suara. Jadi, suara benar benar menjadi mediautama komunikasi penyiar dengan pendengar. Oleh karena itu, seluruh

(10)

energi ekspresi komunikasi penyiar harus tergambar melalui suara.

Penyiar yang baik adalah orang yang dapat menyalurkan emosinya, ekspresinya, dan memberi “nyawa” pada suaranya.

3. Empati Penyiar radio adalah sahabat bagi para pendengarnya.

Menurut pakar komunikasi Kris Cole, empati adalah kemampuan untuk melihat situasi dari sisi orang lain. Artinya, siaran selalu bermula dari memahami kebutuhan pendengar.

4. Penyiar adalah “Etalase” radio. Penyiar diibaratkan sebagai etalase radio, atau citra radio. Semakin cantik peforma penyiar maka akan tergambar juga kecantikan dari kerja sama.

Manajemen, dan standarisasi siaran yang diterapkan radio itu.

5. Jadilah pendengar yang baik. Penyiar tidak boleh hanya sekedar sadar dengan kemampuan bicaranya yang baik, tapi juga harus mendengar. Karena dengan mendengar, penyiar bisa menyerap banyak hal (p.22-23).

Referensi

Dokumen terkait

Masyarakat beranggapan Pasar Induk Cianjur hanya menjadi tempat jual beli saja, namun apabila dilihat dari sudut pandang pembelajaran ekonomi, Pasar Induk Cianjur memiliki

Sudut pandang yang digunakan dalam wacana iklan pada majalah wanita adalah sudut pandang personal yang meliputi sudut pandang orang pertama, sudut pandang

Dari pendapat di atas dapat dilihat pada dasarnya campur kode adalah suatu peristiwa tutur yang menggunakan bahasa lebih dari satu dan saling memasukkan

Penelitian yang dilakukan tersebut menguraikan tentang struktur karya sastra yang berbentuk puisi tradisional meliputi kode bahasa dan sastra, ragam bahasa, gaya bahasa dan

Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa adalah penyisipan unsur frasa dari suatu bahasa ke dalam sebuah kalimat pada bahasa yang digunakan sehingga kalimat

Di dalam sebuah drama, dialog merupakan situasi bahasa utama, namun pengertian penggarapan bahasa di sini bukanlah.. tentang dialog itu sendiri, melainkan bagaimana bahasa

pada suatu titik tertentu pada citra, maka akan diperoleh banyak respon tapis untuk titik tersebut sesuai dengan jumlah frekuensi dan sudut orientasi yang digunakan.. Setiap

Pada contoh di atas campur kode bentuk kata dapat dilihat pada kata game yang berarti „permainan‟ dan merupakan unsur dari bahasa asing, yaitu bahasa