Pengelolaan BMN
PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA (BMN), ALIH
STATUS & SERAHTERIMA ASET,
MANAJEMEN RESIKO, DAN PEMELIHARAAN ASET
Disampaikan oleh :
Mhd. Ansor Lubis, SH.,MH
SUB POKOK BAHASAN
1.
DASAR HUKUM PENGELOLAAN BMN
2.
LINGKUP PENGELOLAAN BMN
3.
KEBIJAKAN PENGELOLAAN BMN KEM. PUPR
4.
PENATAUSAHAAN BMN
5.
PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN BMN (ALIH STATUS PENGGUNAAN)
6.
PEMANFAATAN BMN
7.
PEMINDAHTANGANAN BMN (SERAHTERIAM ASET )
8.
PENGHAPUSAN BMN
9.
PENGAMANAN BMN
10.
PENATAUSAHAAN PERSEDIAAN
11.
PEMELIHARAAN BMN
12.
MANAJEMEN RESIKO
13.
MEMPERTAHANKAN OPINI WTP
Dasar Hukum
UU 17/2003
PP 27/2014
Permen PU 02/PRT/M/200
7
UU 1/2004
2.Perbendaharaa n Negara
4.Tata Cara Pelaksanaan Penghapusan BMN
1.Keuangan Negara
3.
Pengelolaan BMN/D
5.Tata Cara Pelaksanaan Pemanfaatan BMN
PMK 78/2014
3
PMK 50/2014
6. Pedoman Pelaksanaan Penetapan Status
Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan
Pemindahtang anan BMN
Kebijakan menteri Keuangan
• 1. Kepmenkeu No 229/KM.6/2016, tentang Pelimpahan sebagian wewenang Menkeu yg telah dilimpahkan kepada Dirjen.KN, kepada
Pejabat di Lingkungan DJKN untuk dan atas nama Menkeu Menandatangani surat dan/atau Kep
Menkeu.
• 2. PMK No 111/PMK.06/2016 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemindahtanganan BMN
• 3. PMK No 57/PMK.06/2016 Tentang Tata cara Pelaksanaan Sewa BMN
4
4. PMK No 4/2015 ttg Pendelegasian
Kewenangan& Tanggungjawab tertentu dari Pengelola Barang ke Pengguna Barang
Kewenangan yg didelegasikan :
1. Penetapan status Penggunaan BMN
2. Pemberian persetujuan Penggunaan sementara BMN 3. Pemberian Persetujuan atas permohonan
Pemindahtanganan BMN meliputi penjualan dan Hibah BMN, kecuali thd BMN yg berada pd Pengguna Barang yg memerlukan persetujuan Presiden/ DPR (untuk BMN yg tdk memiliki Bukti Kepemilikan dg nilai ≤ Rp
100jt/unit/satuan
5
AMANAT UNDANG UNDANG 17/2003 tentang Keuangan Negara
Pasal 9 : Menteri/pimpinan lembaga sebagai Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang
kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya mempunyai tugas sebagai berikut :
f. Mengelola barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab kementerian negara /lembaga yang dipimpinnya;
g. Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan kementerian negara /lembaga yang dipimpinnya;
6
AMANAT UU No 1 /2004
Tentang PERBENDAHARAAN NEGARA
BAB VII
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH Pasal 42
1. Menteri Keuangan mengatur pengelolaan barang milik negara.
2. Menteri/pimpinan lembaga adalah Pengguna Barang bagi kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya.
3. Kepala kantor dalam lingkungan kementerian
negara/lembaga adalah Kuasa Pengguna Barang dalam lingkungan kantor yang bersangkutan.
7
PRESIDEN:
PEMEGANG KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN
NEGARA
PRESIDEN:
PEMEGANG KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN
NEGARA
MENTERI KEUANGAN
PENGELOLA BARANG
MENTERI KEUANGAN
PENGELOLA BARANG MENTERI/PIMP.LBG
PENGGUNA BARANG
MENTERI/PIMP.LBG
PENGGUNA BARANG
GUB/BUPT/WALKOTA
PEMEGANG KEKUASAAN PENGELOLAAN BMD
GUB/BUPT/WALKOTA
PEMEGANG KEKUASAAN PENGELOLAAN BMD
DISERAHKAN DISERAHKAN DIKUASAKAN
DIKUASAKAN
KEPALA KANTOR KUASA PENGGUNA BMN
KEPALA KANTOR
KUASA PENGGUNA BMN SEKRETARIS DAERAH PENGELOLA BMD SEKRETARIS DAERAH
PENGELOLA BMD KEPALA SKPD PENGGUNA BMD
KEPALA SKPD PENGGUNA BMD
KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB
Penyederhanaan Birokrasi
Pendelegasian kewenangan Pengelola BMN kepada Pengguna BMN (PP 27 Tahun 2014 Pasal 4 ayat (3))
Pendelegasian kewenangan Pengguna BMN kepada Kuasa Pengguna
Barang (PP 27 Tahun 2014 Pasal 6 ayat (3)) Slide 8
TUGAS PENGGUNA BARANG
Unit Penatausahaan Kuasa Pengguna Barang
(UPKPB)
bertugas menyelenggarakan penatausahaan BMN pada Kuasa Pengguna Barang, meliputi :1) Membuat Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP), meliputi : a) DBKP Persediaan
b) DBKP Tanah
c) DBKP Gedung dan Bangunan d) DBKP Peralatan dan Mesin - DBKP Alat Angkutan Bermotor - DBKP Alat Besar
- DBKP Alat Persenjataan - DBKP Peralatan lainnya
e) DBKP Jalan, Irigasi, dan Jaringan f) DBKP Aset Tetap lainnya
g) DBKP Konstruksi Dalam Pengerjaan h) DBKP Barang Bersejarah
i) DBKP Aset Lainnya.
Barang Milik Negara meliputi :
1. barang yg dibeli/diperoleh atas beban APBN
2. barang yg berasal dari perolehan lain yg sah.
Perolehan lainnya yg sah meliputi barang :
1. hibah/sumbangan atau yg sejenis.
2. pelaksanaan perjanjian/ kontrak;
3. berdasarkan ketentuan undang-undang;
4. berdasarkan putusan pengadilan yg telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Pengertian
10
11
POTRET NILAI BMN & OPINI BPK
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM& PR POTRET NILAI BMN & OPINI BPK
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM& PR
Nilai (dalam triliun Rupiah)
Catatan : Nilai BMN dari 1.321 Satker di lingkungan Kementerian
Pekerjaan Umum . Nilai Aset Kem PUPR 2015 Rp 800 T hasil audit WDP ;
Nilai Aset PUPR 2016 Rp 1 TRILLYUN,-
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
- 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00
51.06 63.86 82.94 113.83
225.08
312.77
552.20
729.03
679.21
736.03
Nilai BMN (Rp)
WTP
DPP WT
P WDP-WDP-WDP WTP
DISCLAIMER
SIMAK DGN
DEPRESIA SI
SIMAK BMN
SABM N
Perencanaan kebutuhan dan
penganggaran;
Perencanaan kebutuhan dan
penganggaran;
Pengadaan;
Pengadaan;
Penggunaan;
Penggunaan;
Pemanfaatan;
Pemanfaatan;
Pemeliharaan;
Pemeliharaan;
Penilaian;
Penilaian;
Penghapusan;
Penghapusan;
Pemindahtanga nan;
Pemindahtanga nan;
Penatausahaan;
Penatausahaan;
Pengawasan/
pengendalian.
Pengawasan/
pengendalian.
Lingkup Pengelolaan BMN
SIKLUS PENGELOLAAN
BMN/D
Kebijakan Pengelolaan Barang Milik Negara Kementerian Pekerjaan Umum &PR
Penerapan aplikasi SIMAK-BMN secara menyeluruh dan konsisten sesuai dengan kaidah-kaidah yang diamanatkan PMK 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
Penerapan aplikasi SIMAK-BMN secara menyeluruh dan konsisten sesuai dengan kaidah-kaidah yang diamanatkan PMK 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat
Penuntasan penyelesaian pelaksanaan Inventarisasi dan Penilaian (IP) sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 17 tahun 2007 dan Peraturan Menteri Keuangan No.
403/KMK.06/2013
Penuntasan penyelesaian pelaksanaan Inventarisasi dan Penilaian (IP) sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 17 tahun 2007 dan Peraturan Menteri Keuangan No.
403/KMK.06/2013
Pengamanan aset tanah Kementerian Pekerjaan Umum Pengamanan aset tanah Kementerian Pekerjaan Umum
Perkuatan hak dan sertifikasi tanah Kementerian Pekerjaan Umum Perkuatan hak dan sertifikasi tanah Kementerian Pekerjaan Umum
Tertib pemanfaatan sesuai dengan prosedur yang dituangkan dalam PMK 96/PMK.06/2007 dan Permen PU 02/PRT/M/2009 serta Inmen PU 05 tahun 2011 tentang Pengamanan dan Penatausahaan Barang Persediaan Tertib pemanfaatan sesuai dengan prosedur yang dituangkan dalam PMK 96/PMK.06/2007 dan Permen PU 02/PRT/M/2009 serta Inmen PU 05 tahun 2011 tentang Pengamanan dan Penatausahaan Barang Persediaan
Bagian 1
Penatausahaan BMN
15
Penatausahaan BMN
(PMK 120/PMK.06/2007)
Pembuku an
Pembuku
an Inventaris asi
Inventaris
asi Pelaporan Pelaporan
Sasaran Penatausahaan
a. Semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN.
b. Semua barang yang berasal dari
perolehan lainnya yang sah.
Pembukuan (PMK 120/2007)
a. Merupakan kegiatan pendaftaran dan pencatatan BMN/D ke dalam daftar barang menurut penggolongan dan kodefikasi barang.
b. Penggunaan/Kuasa Pengguna Barang harus menyimpan dokumen kepemilikan BMN/D selain tanah dan/atau bangunan yang berada dalam pengawasannya.
c. Pengelola Barang harus menyimpan
dokumen kepemilikan tanah dan/atau
bangunan yang berada dalam
pengelolaannya.
Inventarisasi
Merupakan kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan BMN/D, meliputi:
a. Pengguna barang sekurang-kurangnya sekali dalam 5 tahun (kecuali berupa persediaan dan konstruksi dalam pengerjaan, dilakukan setiap tahun).
b. Pengguna Barang menyampaikan laporan hasil inventarisasi tersebut kepada pengelola barang selambat-lambatnya 3 bulan setelah selesainya inventarisasi.
c. Pengelola Barang khusus berupa tanah dan
bangunan yang berada dalam penguasaannya
sekurang-kurangnya sekali dalam 5 tahun.
Pelaporan
Penggunaan barang menyusun Laporan Barang Pengguna yang terdiri atas:
a. Laporan Barang Pengguna Semesteran
Menyajikan posisi BMN pada awal dan akhir suatu semester serta mutasi yang terjadi selama semester tersebut, dan menyampaikannya kepada UPPB-W, UPPB-E1 atau UPPB dengan tembusan kepada KPKNL.
b. Laporan Barang Pengguna Tahunan
Menyajikan posisi BMN pada awal dan akhir
tahun serta mutasi yang terjadi selama tahun
tersebut, dan menyampaikannya kepada UPPB-
W, UPPB-E1 atau UPPB dengan tembusan
kepada KPKNL.
Penyajian BMN
dalam Laporan Keuangan
• Neraca
– Aset Lancar
• Persediaan
– Aset Tetap
• Tanah
• Peralatan dan Mesin
• Gedung dan Bangunan
• Jalan, Irigasi dan Jaringan
• Aset Tetap Lainnya
• Konstruksi Dalam Pengerjaan
– Aset Lainnya
• Aset Tak Berwujud
• Aset Tetap yang Dihentikan dari Penggunaan Aktif Pemerintah
• Catatan atas Laporan Keuangan
– Aset Bersejarah – Ekstrakomptabel
– Penjelasan atas BMN yang disajikan di Neraca
Penerapan SIMAK-BMN
Berdasarkan PMK 171/PMK.05/2007
1. K/L sebagai Pengguna Barang
2. Penyusunan laporan BMN sudah computerized dan dilakukan berjenjang, mulai dari tingkat satker (UAKPB) Wilayah (UAPPB-W) satminkal (UAPPB-E1) Kementerian (UAPB).
3. Laporan BMN Semesteran, Tahunan, & Lima Tahunan
4. Tersedia Aplikasi Persediaan
5. Konsolidasi & Rekonsiliasi Internal dan berjenjang
6. Nilai BMN dengan nilai wajar.
Pelaksanaan IP BMN
Dilakukan Penilaian terhadap BMN yang diperoleh sd. 31-Desember- 2004 guna memperoleh nilai wajar Dilakukan Penilaian terhadap BMN yang diperoleh sd. 31-Desember- 2004 guna memperoleh nilai wajar IP IP
Keputusan Menteri Keuangan No.
271/KMK.06/2011 Jo. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 403/KMK.06/2013
Keputusan Menteri Keuangan No.
271/KMK.06/2011 Jo. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 403/KMK.06/2013
Tindak Lanjut IP
Tindak
Lanjut IP
Bagian 2
Penetapan Status
Penggunaan BMN
24
Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK 246/PMK.02/2014
Tentang
Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan Barang Milik Negara
Pertimbangan / Alasan
Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan
pemerintahan Kementerian Negara/Lembaga
Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan
pemerintahan Kementerian Negara/Lembaga
1) 1)
Untuk dioperasionalkan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas dan fungsi
Kementerian Negara/Lembaga
Untuk dioperasionalkan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas dan fungsi
Kementerian Negara/Lembaga
2) 2)
Subyek & Obyek PSP
1. Tanah/bangunan.
2. Selain tanah/bangunan:
• Memiliki bukti kepemilikan, atau
• Perolehannya >
Rp100jt.
3. BMN yg dari awal
pengadaan untuk PMPP atau hibah.
Selain Tanah/bangunan:
• Tidak memiliki bukti kepemilikan; atau
• Perolehannya ≤ Rp100jt/unit.
PENGGUNA BARANG
28
Penetapan Status Penggunaan BMN
oleh Pengelola Barang
Objek Penetapan Status BMN
• Objek penetapan status Penggunaan BMN meliputi seluruh BMN.
• BMN yang dikecualikan Penetapan statusnya:
a. Barang persediaan;
b. Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP);
c. Barang yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk dihibahkan;
d. Barang yang berasal dari dana dekonsentrasi dan dana penunjang tugas pembantuan, yang direncanakan untuk diserahkan;
e. Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS);
dan
f. Aset Tetap Renovasi (ATR).
29
Persyaratan
30
Tanah
• Fotokopi Sertipikat
• Untuk BMN yang belum memiliki sertipikat, dapat diganti dengan:
• Fotokopi AJB,Girik, Letter C, dll.
• SPTJM yang menyatakan BMN digunakan dalam penyelenggaraan tusi.
• Surat keterangan dari lurah/camat; jika ada
• Surat permohonan pendaftaran hak atas tanah; jika ada
Bangunan
• Fotokopi IMB
• Fotokopi Dokumen Perolehan
• Fotokopi dokumen lainnya (mis. BAST)
• Dalam hal IMB, dokumen perolehan dan BAST tidak dimiliki, dapat diganti dengan SPTJM yang menyatakan BMN digunakan dalam penyelenggaraan tusi.
Tanah dan Bangunan
• Fotokopi Sertipikat
• Fotokopi IMB
• Fotokopi Dokumen Perolehan
• Fotokopi dokumen lainnya (mis. BAST)
• Untuk BMN yang belum memiliki sertipikat, IMB, dokumen perolehan dan BAST tidak dimiliki, dapat diganti dengan:
• Fotokopi AJB,Girik, Letter C, dll.
• Surat keterangan dari lurah/camat; jika ada
• Surat permohonan
pendaftaran hak atas tanah;
jika ada
• SPTJM yang menyatakan BMN digunakan dalam penyelenggaraan tusi
Pengajuan
• Permohonan penetapan status Penggunaan BMN diajukan secara tertulis oleh Pengguna Barang kepada Pengelola Barang paling lama 6 (enam) bulan sejak BMN diperoleh.
• Seluruh fotokopi dokumen harus disertai dengan surat keterangan dari pejabat struktural yang berwenang pada Kementerian/Lembaga bersangkutan yang menyatakan kebenaran forokopi dokumen tersebut.
• Surat Keterangan dan Surat Pernyataan Tanggungjawab Mutlak disusun sesuai sebagaimana Lampiran I dan II PMK 246/PMK.06/2014.
31
Penetapan Status Penggunaan Tanpa Didahului Usulan
32
- Adanya sengketa di pengadilan;
- Adanya sengketa di Badan Pertanahan Nasional;
- Penetapan BMN yang berasal dari perolehan lainnya yang sah;
- Penetapan BMN yang berasal dari pengalihan status Penggunaan BMN.
- Adanya sengketa di pengadilan;
- Adanya sengketa di Badan Pertanahan Nasional;
- Penetapan BMN yang berasal dari perolehan lainnya yang sah;
- Penetapan BMN yang berasal dari pengalihan status Penggunaan BMN.
Pengelola Barang dapat menetapkan status Penggunaan BMN pada Pengguna Barang tanpa didahului usulan oleh Pengguna Barang
Keputusan Pengelola Barang
33
Penetapan Status Penggunaan BMN
oleh Pengguna Barang
Penetapan Status Penggunaan oleh Pengguna Barang
34
Selain tanah dan/atau bangunan
dengan nilai perolehan sampai
dengan Rp100.000.000,- dan/atau alutsista
Didahului permohonan dari Kuasa Pengguna Barang, dalam hal BMN berada dalam penguasaan Kuasa
Pengguna Barang
Tanpa Didahului permohonan dari Kuasa Pengguna Barang, dalam hal
BMN berada dalam penguasaan Pengguna Barang
Proses Penetapan Status Penggunaan oleh Pengguna Barang
35
Permohonan
• Kuasa Pengguna Barang
mengajukan permohonan secara tertulis kepada
Pengguna Barang.
Penelitian
• Pengguna Barang melakukan penelitian terhadap permohonan Kuasa Pengguna Barang.
Penetapan
• Berdasarkan hasil
penelitian. Penggguna Barang melakukan penetapan status penggunaan BMN dengan keputusan Pengguna Barang.
• Keputusan sekurang- kurangnya memuat:
pertimbangan, BMN yang ditetapkan,
Pengguna Barang dan tindak lanjut.
Keputusan penetapan status Pengguna Barang yang diterbitkan oleh Pengguna Barang, dilaporkan kepada Pengelola Barang paling lama 1 (satu) bulan sejak ditetapkan.
PENGGUNA BARANG PENGELOLA BARANG
PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN PENETAPAN STATUS
PENGGUNAAN PERSIAPAN
PERSIAPAN
PENGAJUAN USULAN PENGAJUAN USULAN
PENDAFTARAN, PENCATATAN, PENYIMPANAN
DOKUMEN PENDAFTARAN,
PENCATATAN, PENYIMPANAN
DOKUMEN PENDAFTARAN,
PENCATATAN, PENYIMPANAN
DOKUMEN PENDAFTARAN,
PENCATATAN, PENYIMPANAN
DOKUMEN
Prosedur Penetapan Status Penggunaan Tanah/Bangunan
36
NO URAIAN Satker Eselon-I Menteri PU Menteri Keuangan
1.
Usulan2.
Ditolak3.
Diterima4.
PencatatanFlowchart/Alur Proses PSP
Data/Dokumen Pendukung usulan:
No. Dokumen Pendukung T/B Selain
T/B
1. Dokumen/Bukti Kepemilikan √ √
2. KIB √ √
3. Lokasi √ -
4. Jenis dan Spesifikasi BMN √ √
5. Nilai Perolehan BMN √ √
KEPUTUSAN MENTERI PUPR NO. 548/KPTS/M/2015
TENTANG
PELIMPAHAN KEWENANGAN DAN
TANGGUNG JAWAB TERTENTU DALAM
PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA DI KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN
PERUMAHAN RAKYAT
39
MATERI MUATAN
KEPUTUSAN MENTERI PUPR NO. 548/KPTS/M/2015 TGL 1 Desember 2015
PENDELEGASIAN KEWENANGAN PENGGUNA BARANG KEPADA : a. Sekretaris Jenderal; Diktum KESATU
b. Pimpinan Tinggi Madya (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan); Diktum KEDUA
c. Kuasa Pegguna Barang (Kepala Satuan Kerja); Diktum KETIGA
FORMAT SURAT DAN KEPUTUSAN TERLAMPIR Diktum KEEMPAT PEMBERLAKUAN KEPUTUSAN MENTERI PUPR Diktum KELIMA
40
KESATU
Melimpahkan Kewenangan dan Tanggung Jawab Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kepada Sekretaris Jenderal :
a. untuk dan atas nama Menteri melaksanakan penetapan dan memberikan persetujuan/penolakan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Huruf A, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini;
b. melaksanakan pengajuan usulan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Huruf B, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini.
41
LAMPIRAN I huruf A
42
a. Menerbitkan Surat Keputusan Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Negara (BMN), untuk BMN selain tanah dan/atau bangunan yang tidak memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai perolehan diatas Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp 100.000.000,00 per unit/satuan.
b. Memberikan persetujuan/penolakan atas usulan Penggunaan Sementara BMN oleh Pengguna Barang Lain, untuk BMN selain tanah dan/atau bangunan yang tidak memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp 100.000.000,00 per unit/satuan.
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
1. PENETAPAN STATUS PENGGUNAAN DAN PENGGUNAAN SEMENTARA
43
Lanjutan …..
a. selain tanah dan/atau bangunan, yang tidak memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan;
b. bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
3. PERSETUJUAN/PENOLAKAN ATAS USULAN PEMINDAHTANGANAN BERUPA HIBAH
a. BMN yang dari awal perolehan dimaksudkan untuk dihibahkan dalam rangka kegiatan pemerintahan, yang meliputi tetapi tidak terbatas pada:
1) BMN yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk dihibahkan, yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN;
2) BMN yang berasal dari Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan;
3) BMN yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
4) BMN yang diperoleh sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
b. BMN selain tanah dan/atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp100.000.000,00 per unit/satuan;
c. bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).
2. PERSETUJUAN/PENOLAKAN ATAS USULAN PEMINDAHTANGANAN BERUPA PENJUALAN
44
Lanjutan …..
a. Persediaan;
b. Aset Tetap Lainnya berupa hewan, ikan dan tanaman;
c. selain tanah dan/atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan;
d. bongkaran BMN karena perbaikan (renovasi, rehabilitasi, atau restorasi).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
4. PERSETUJUAN/PENOLAKAN ATAS USULAN PEMUSNAHAN BMN
5. PERSETUJUAN/PENOLAKAN ATAS PERMOHONAN PENGHAPUSAN BMN
a. Persediaan;
b. Aset Tetap Lainnya berupa hewan, ikan dan tanaman;
c. selain tanah dan/atau bangunan, yang tidak mempunyai dokumen kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan.
45
LAMPIRAN I huruf b
1. Usulan Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Negara (BMN) pada Pengguna Barang, dan Usulan Penggunaan Sementara BMN oleh Pengguna Barang Lain, untuk BMN berupa:
a. tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari nilai buku*) BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah); dan
b. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan jumlah nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
*) Nilai buku adalah nilai yang tercatat dalam daftar barang pengguna/kuasa pengguna atau laporan barang pengguna/kuasa pengguna.
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
PENGAJUAN USULAN KEPADA MENTERI KEUANGAN / DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
46
Lanjutan …..
2. Usulan Pengalihan Status Penggunaan BMN, untuk BMN berupa:
a. tanah dan/atau bangunan, dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari nilai buku*) BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah); dan
b. selain tanah dan/atau bangunan, dengan nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
3. Usulan Penetapan Status Penggunaan BMN Untuk Dioperasikan Oleh Pihak Lain Dalam Rangka Melaksanakan Pelayanan Umum Sesuai Dengan Tugas Pokok Dan Fungsi Kementerian Negara/Lembaga, untuk BMN berupa:
c. tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang dihitung secara proporsional dari nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah); dan
d. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
PENGAJUAN USULAN KEPADA MENTERI KEUANGAN / DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
47
Lanjutan …..
4. Usulan Pemanfaatan BMN dan perpanjangannya, dalam bentuk:
a. Sewa untuk BMN berupa:
1) tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan disewakan dihitung secara proporsional dari nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);
2) selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai buku BMN yang akan disewakan per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
b. Pinjam Pakai untuk BMN berupa:
3) tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dipinjamkan dihitung secara proporsional dari nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah);
4) selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai buku BMN yang akan dipinjamkan per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
c. Kerjasama Pemanfaatan untuk BMN berupa:
1) tanah dan/atau bangunan dengan nilai BMN yang akan dipinjamkan dihitung secara proporsional dari nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah);
2) selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai buku BMN yang akan dipinjamkan per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
d. Bangun Guna Serah/Bangun Serah Guna (BGS/BSG) untuk BMN dengan nilai tanah yang akan dimanfaatkan dihitung secara proporsional dari nilai buku tanah per usulan lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
PENGAJUAN USULAN KEPADA MENTERI KEUANGAN / DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
48
Lanjutan …..
5. Usulan Penghapusan BMN yang mengharuskan dilakukannya Pemusnahan atau karena sebab-sebab lain yang secara normal dapat diperkirakan wajar menjadi penyebab penghapusan, antara lain hilang, kecurian, terbakar, susut, menguap, mencair, terkena bencana alam, kadaluwarsa, dan mati/cacat berat/tidak produktif untuk tanaman/hewan/ternak, serta terkena dampak dari terjadinya force majeure, berupa:
a. tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai buku BMN per usulan lebih Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah);
b. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan nilai buku per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
6. Usulan pemindahtanganan BMN, meliputi penjualan atau hibah, untuk BMN berupa:
c. tanah dan/atau bangunan serta BMN yang memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
d. selain tanah dan/atau bangunan dengan nilai perolehan lebih dari Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per unit/satuan, dengan nilai buku BMN per usulan lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
KEWENANGAN SEKRETARIS JENDERAL
PENGAJUAN USULAN KEPADA MENTERI KEUANGAN / DIREKTUR JENDERAL KEKAYAAN NEGARA
Kewenangan menteri pupr/ Sekjen MENGAJUKAN USULAN kepada menteri keuangan/ dirjen kekayaan negara
DENGAN NILAI BUKU
49
KEWENANGAN SEKJEN MENGAJUKAN USULAN KEPADA DIRJEN KEKAYAAN
NEGARA /PKNSI DENGAN NILAI BUKU
KEdua
Melimpahkan Kewenangan dan Tanggung Jawab Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kepada Pimpinan Tinggi Madya (Sekretaris Jenderal/Inspektur Jenderal/Direktur Jenderal/Kepala Badan) :
a. untuk dan atas nama menteri melaksanakan penetapan dan memberikan persetujuan/penolakan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II huruf A yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini;
b. melaksanakan pengajuan usulan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini.
50
LAMPIRAN II huruf A
51
Menerbitkan Surat Keputusan Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Negara (BMN), untuk BMN selain tanah dan/atau bangunan yang tidak
memiliki bukti kepemilikan, dengan nilai perolehan sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) per unit/satuan.
KEWENANGAN PERSETUJUAN YANG DILIMPAHKAN KEPADA PIMPINAN TINGGI
MADYA A.N. MENTERI
LAMPIRAN II huruf b
52
KEWENANGAN PENGAJUAN USULAN YANG
DILIMPAHKAN KEPADA PIMPINAN TINGGI MADYA
ATAU PIMPINAN TINGGI PRATAMA YANG DITUNJUK
UNTUK MENGAJUKAN USULAN A.N. PIMPINAN
TINGGI MADYA
PENGAJUAN USULAN KEPADA KEPALA KANTOR WILAYAH DI LINGKUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA.
(NILAI BUKU PER USULAN)
UT PEMANFAATAN , PENGHAPUSAN/
PEMUSNAHAN &
PEMINDAHTANGANAN MEMERLUKA IZIN PRINSIP DARI MENTERI
KETIGA
Melimpahkan Kewenangan dan Tanggung Jawab Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kepada Kuasa Pengguna Barang :
a. untuk melaksanakan pengajuan usulan sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini;
b. menerbitkan surat keputusan penghapusan Barang Milik
Negara setelah beralihnya kepemilikan, terjadinya
pemusnahan, atau penghapusan karena sebab lain yang
telah memperoleh persetujuan Pengelola Barang/ Sekretaris
Jenderal a.n. Menteri sesuai kewenangannya.
53LAMPIRAN IIi
54
KEWENANGAN PENGAJUAN USULAN YANG DILIMPAHKAN
KEPADA KUASA PENGGUNA BARANG
PENGAJUAN USULAN KEPADA KEPALA KANTOR PELAYANAN
KEKAYAAN NEGARA DAN LELANG
(NILAI BUKU PER USULAN)
UT PEMANFAATAN , PENGHAPUSAN/
PEMUSNAHAN &
PEMINDAHTANGANAN MEMERLUKA IZIN PRINSIP DARI MENTERI
KEempat
Keputusan dan Surat Persetujuan atas Pengelolaan Barang Milik Negara sebagaimana ditetapkan dalam diktum KESATU, diktum KEDUA, dan diktum KETIGA mengikuti bentuk dan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini.
55
1. Keputusan Menteri tentang pengelolaan BMN yang ditandatangani Pimpinan Tinggi Madya atas nama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menggunakan format sebagai berikut : a. ukuran kertas adalah F4 (21,59cm x 33,02cm);
b. huruf menggunakan Bookman Old Style ukuran 12;
c. menggunakan kop Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
2. Surat persetujuan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang pengelolaan BMN yang ditandatangani Sekretaris Jenderal atas nama Menteri menggunakan format sebagai berikut : d. ukuran kertas adalah A4 (21cm x 29,7cm);
e. huruf menggunakan Arial ukuran 11 atau 12;
f. menggunakan kop Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
LAMPIRAN Iv
FORMAT SURAT DAN KEPUTUSAN DAPAT DILIHAT PADA SURAT
KEPUTUSAN MENTERI PUPR NO. 548/KPTS/M/2015
56
57
Penggunaan BMN Untuk
Dioperasikan oleh Pihak Lain
Prinsip Umum
• Dapat dilakukan terhadap BMN yang telah ditetapkan status penggunaannya pada Pengguna Barang.
• Penggunaan BMN oleh pihak lain dilakukan dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas dan fungsi.
• Biaya pemeliharaan BMN selama jangka waktu Penggunaan untuk dioperasikan oleh pihak lain dibebankan pada pihak lain yang mengoperasikan.
• Pihak yang mengoperasikan BMN, dilarang melakukan pengalihan atas pengoperasian BMN kepada pihak lainnya.
• Jika ada keuntungan bagi pihak lain yang mengoperasikan BMN, keuntungan dimaksud disetor seluruhnya ke rekening Kas Umum Negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak.
58
Pihak Lain Yang Dapat Mengoperasikan BMN
59
• Dilakukan untuk penyelenggaraan kepentingan umum.
• Jangka waktu paling lama 5 tahun dan dapat diperpanjang
Badan
Usaha Milik Negara
• Dilakukan untuk penyelenggaraan kepentingan umum.
• Jangka waktu paling lama 5 tahun dan dapat diperpanjang
Koperasi
• Digunakan sebagai fasilitas umum, dengan mempertimbangkan hubungan baik antar negara.
• Dilakukan untuk BMN berupa tanah dan/atau bangunan.
• Paling lama 99 tahun.
Pemerintah
negara lain
Pihak Lain Yang Dapat Mengoperasikan BMN
60
• Organisasi bilateral atau multilateral yang secara resmi diikuti oleh Indonesia sebagai anggotanya.
• Dilakukan untuk melaksanakan kesepakatan yang telah tertuang dalam perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan organisasi internasional bersangkutan.
• Dilakukan untuk BMN berupa tanah dan/atau bangunan.
• Jangka waktu pelaksanaan sesuai dengan perjanjian.
Organisasi internasiona
l
• Dilakukan untuk penyelenggaraan kepentingan umum.
• Jangka waktu paling lama 5 tahun dan dapat diperpanjang
Badan
hukum
lainnya
Proses Penggunaan BMN Untuk Dioperasikan oleh Pihak Lain
61
• Permohonan
• Kelengkapan Permohonan
Pengguna Barang
• Penelitian
• Penetapan
Pengelola Barang
• Perjanjian antara Pengguna dengan pihak lain
• Memuat: objek, para pihak, peruntukan, jangka waktu, dll
• Dilaksanakan setelah terbitnya keputusan Pengelola Barang
Perjanjian
Persyaratan Penggunaan BMN Untuk Dioperasikan oleh Pihak Lain
62
Permohonan
• Data BMN
• Pihak lain yang akan mengoperasikan BMN
• Jangka waktu
• Penjelasan serta pertimbangan
• Materi yang diatur dalam perjanjian
• Perhitungan estimasi biaya
operasional dan besar pungutan, dalam hal pihak lain melakukan pungutan pada masyarakat
Kelengkapan Dokumen
• Fotokopi keputusan penetapan status Penggunaan BMN
• Fotokopi surat permintaan
pengoperasian dari pihak lain yang akan mengiperasikan BMN kepada Pengguna Barang
• Surat pernyataan
Berakhirnya Penggunaan BMN Untuk Dioperasikan oleh Pihak Lain
63
Jangka waktu berakhir
Pengakhiran perjanjian secara sepihak oleh Pengguna barang
• Tidak memenuhi kewajiban
• Terjadi kondisi yang
mengakibatkan pengakhiran sebagaimana dituangkan dalam perjanjian
Ketentuan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Terhadap pengakhiran pengoperasian BMN oleh pemerintah negara lain secara sepihak , Pengguna barang meminta pertimbangan Pengelola Barang
Hal-Hal Lain
• Perpanjangan waktu pengoperasian BMN oleh pihak lain, diajukan kepada Pengelola Barang paling lambat tiga bulan sebelum berahirnya jangka waktu penggunaan BMN
• Permohonan, penelitian, dan penetapan mutatis mutandis sebagaimana proses pertama kali
• Pengguna barang bertanggungjawab penuh atas kebenaran formil dan materil
• Penetapan/persetujuan oleh Pengelola Barang bukan merupakan pengakuan/pengesahan (endorsement) atas kebenaran dan keabsahan data dan dokumen
• BMN diserahkan kembali kepada Pengguna Barang setelah jangka waktu berakhir dengan Berita Acara Serah Terima (BAST) antara pihak lain dengan Pengguna Barang
• Pengguna Barang melaporkan berakhirnya Penggunaan BMN untuk dioperasikan pihak lain kepada Pengelola Barang 1 bulan sejak ditandatanganinya BAST dengan melampirkan fotokopi BAST
64
65
Penggunaan Sementera BMN
Prinsip Umum
• BMN yang telah ditetapkan statusnya dapat digunakan sementara oleh Pengguna Barang lain tanpa mengubah kepemilikan dan status Penggunaan BMN.
• Dilakukan setelah mendapatkan persetujuan Pengelola Barang.
• Biaya pemeliharaan BMN selama jangka waktu dibebankan kepada K/L yang menggunakan sementara BMN bersangkutan.
• Dituangkan dalam perjanjian antara Pengguna Barang.
• Pada saat Penggunaan sementara berakhir:
– BMN dikembalikan kepada Pengguna Barang; atau
– Dialihkan status Penggunaannya kepada Pengguna Barang yang menggunakan sementara BMN, setelah mendapat persetujuan Pengelola Barang
• Dalam hal penggunaan sementara akan diperpanjang, permohonan diajukan kepada Pengelola Barang paling lambat 3 bulan sebelum jangka waktu Penggunaan sementara berakhir.
66
Jangka Waktu
67
Tanah dan/atau Bangunan 5 Tahun
dan dapat diperpanjang
Selain Tanah dan/atau Bangunan
2 Tahun
dan dapat diperpanjang
Penggunaan sementara yang dilakukan dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan tidak memerlukan
persetujuan pengelola barang, biaya pemeliharaan dibebankan sesuai perjanjian antar Pengguna Barang.
DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA KEMENTERIAN KEUANGAN
Proses Penggunaan Sementara
Direktorat Barang Milik Negara 68
• Permohonan diajukan secara tertulis oleh Pengguna Barang kepada Pengelola Barang
• Permohonan memuat data BMN, Pengguna Barang yang akan menggunakan sementara, jangka waktu, dan
pertimbangan.
• Permohonan dilengkapi dengan fotokopi keputusan Penetapan status BMN dan fotokopi surat permintaan Penggunaan sementara BMN dari Pengguna Barang yang akan menggunakan sementara.
Permohona n
• Dilakukan oleh Pengelola Barang terhadap
kelengkapan dan kesesuaian dokumen.
• Pengelola dapat meminta keterangan kepada Pengguna Barang yang mengajukan , dan konfirmasi dan klarifikasi terhadap Pengguna Barang yang akan menggunakan sementara.
Penelitian
• Persetujuan dituangkan dalam surat persetujuan yagn
didasarkan pada hasil penelitian
• Persetujuan sekurang- kurangnya memuat:
• Data BMN
• Pengguna Barang yang akan menggunakan sementara
• Kewajiban Pengguna Barang yang menggunakan
sementara
• Jangka waktu
• Pembebanan biaya pemeliharaan
• Kewajiban untuk meindaklanjuti dengan perjanjian.
Persetujuan
69
Pengalihan Status Penggunaan BMN
Prinsip Umum
• BMN dapat dialihkan status penggunaannya antar dari Pengguna Barang kepada Pengguna Barang lainnya untuk penyelenggaraan tusi.
• Dilakukan antar Pengguna Barang setelah permohonan dari Pengguna Barang lama dan disetujuai oleh Pengelola Barang.
• Pengalihan status Penggunaan BMN dapat dilakukan berdasarkan inisiatif dari Pengelola Barang dengan terlebih dahulu memberitahukan maksudnya kepada Pengguna Barang.
• Pengalihan status Penggunaan BMN dilakukan terhadap BMN yang masih berada dalam penguasaan Pengguna Barang yang tidak digunakan lagi.
• Pengalihan status Penggunaan dilakukan tanpa kompensasi dan tidak diikuti dengan pengadaan BMN pengganti.
• BMN yang dialihkan status penggunaanya ditatatusahakan dan dipelihara oleh Pengguna Barang baru.
70
Proses Pengalihan Status Penggunaan BMN
71
• Permohonan diajukan secara tertulis oleh Pengguna Barang kepada Pengelola Barang
• Permohonan memuat data BMN (jenis, nilai perolehan, lokasi, luas dan tahun perolehan), calon Pengguna Barang baru, serta penjelasan dan
pertimbangan.
• Permohonan dilengkapi dengan fotokopi keputusan Penetapan status BMN dan fotokopi surat pernyataan yang ditandatangani calon Pengguna Barang baru yang menyatakan bersedia menerima pengalihan BMN.
Permohona n
• Dilakukan oleh Pengelola Barng terhadap
kelengkapan dan kesesuaian dokumen.
• Pengelola dapat meminta keterangan kepada Pengguna Barang yang mengajukan , dan konfirmasi dan klarifikasi terhadap Pengguna Barang baru.
Penelitian
• Persetujuan dituangkan dalam surat persetujuan yagn
didasarkan pada hasil penelitian
• Persetujuan sekurang- kurangnya memuat:
• Data BMN
• Pengguna Barang lama dan Pengguna Barang baru.
• Kewajiban Pengguna Barang untuk melakukan serah terima BMN yang dituangkan dalam BAST.
• Kewajiban Pengguna Barang lama untuk melakukan penghapusan BMN dengan menerbitkan keputusan penghapusanngan perjanjian.
Persetujuan
Tindak Lanjut Persetujuan
72
Pengelola Barang
Menerbitkan keputusan penetapan status Penggunaan BMN kepada Pengguna Barang baru.
Pengguna Barang Baru
Melakukan pembukuan berdasarkan surat persetujuan, BAST, dan keputusan penghapusan Pengguna Barang lama
Pengguna Barang Lama
Melakukan serah terima yang dituangkan dalam BAST paling lama 1 bulan sejak persetujuan Pengelola Barang
Melakukan Penghapusan atas BMN dengan menetapkan keputusan penghapusan BMN paling lama 2 bulan sejak BAST.
BAST dan keputusan penghapusan oleh Pengguna Barang lama disampaikan kepada Pengelola Barang dengan tembusan ke Pengguna Barang baru paling lama 1 bulan sejak keputusan penghapusan diterbitkan
Pengalihan Status Penggunaan Dalam Rangka KSPI
73
Permohonan Diajukan oleh:
- Pengguna Barang.
- Pengguna Barang yang ditunjuk sebagai koordinator.
- Penanggung Jawab Proyek kerjasama (PJPK) pelaksanaan Kerja Sama Penyediaan
Infrastruktur.
Permohonan dilengkapi dengan : - fotokopi keputusan Penetapan
status BMN,
- surat pernyataan yang
ditandatangani Pengguna Barang memuat kesediaan untuk
mengalihkan status Pengunaan BMN kepada Pengguna Barang baru dalam rangka pelaksanaan KSPI,
- fotokopi surat pernyataan yang ditandatangani calon Pengguna Barang baru yang menyatakan bersedia menerima pengalihan BMN.
Permohonan, penelitian, dan penetapan pengalihan status Penggunaan BMN dalam rangka KSPI mutatis mutandis sebagaimana proses pengalihan status Penggunaan BMN.
74
Pengaturan Lain
Penatausahaan, Pengawasan dan Pengendalian
75
Penatausahaan dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang- undangan di bidang penatausahaan BMN
Pengawasan dan Pengendalian dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang- undangan di bidang
Pengawasan dan
Pengendalian BMN
Ketentuan Lain-lain
76
• Pengguna Barang dapat melakukan pengalihan BMN antar Kuasa Pengguna Barang dalam lingkungannya yang dilakukan berdasarkan BAST yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Barang yang melakukan pengalihan tersebut.
• Pengalihan BMN antar Kuasa Pengguna Barang dalam Pengguna Barang yang sama tidak memerlukan persetujuan Pengelola Barang.
• BMN Idle yang telah diserahkan kepada Pengelola Barang dapat ditetapkan kembali status penggunaannya kepada Pengguna Barang lain.
Ketentuan Peralihan
77
Yang masih diproses
• Diproses selanjutnya dengan PMK
246/PMK.06/2014
Yang sudah disetujui
• Tetap berlaku
Yang belum diajukan
• Diajukan
berdasarkan PMK 246/PMK.06/2014
PMK 246 /2014 TTG TATA CARA PELAKSANAAN PENGGUNAAN BMN
Penutup
78
PMK 96/PMK.06/2007 sepanjang mengatur mengenai pelaksanaan Penggunaan BMN dicabut
dan dinyatakan tidak
berlaku.
Bagian 3
Pemanfaatan BMN
79
Pemanfaatan BMN
Sewa
Pinjam Pakai
Kerjasama Pemanfaatan
Bangun Guna Serah / Bangun Serah Guna
Kerjasama Penyediaan Infrastruktur
(KSPI)
80DEFINISI DAN KETENTUAN POKOK
Merupakan pendayagunaan BMN yang tidak dipergunakan sesuai tugas pokok dan fungsi
kementerian negara/lembaga dalam bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan dan bangunb guna serah/bangun serah guna, KSPI dengan tidak mengubah status kepemilikan.
KETENTUAN POKOK:
Dilakukan terhadap BMN yang tidak digunakan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi
Dapat dilakukan terhadap sebagian BMN yang tidak dipergunakan pengguna barang, sepanjang
menunjang tugas pokok dan fungsi
Tidak mengubah status kepemilikan
PE M A NF A AT A N
81
Sub bahasan 1
Sewa BMN
82
Definisi
Sewa adalah pemanfaatan BMN oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai.
83
Pertimbangan Sewa BMN
Optimalisasi BMN yg belum/tidak dipergunakan dalam pelaksanaan tupoksi penyelenggaraan
pemerintahan.
Menunjang pelaksanaan tupoksi
kementerian/lembaga.
Mencegah
penggunaan oleh
pihak lain secara tidak sah.
Optimalisa si
Penunjan g
Pengaman an
84
Subjek & Objek Sewa BMN
1. Sebagian tanah/
bangunan yg status penggunaannya ada pada Pengguna
Barang;
2. Selain
tanah/bangunan.
Tanah/banguna n yang berada pada Pengelola Barang
PENGGUNA BARANG PENGELOLA BARANG
dengan persetujuan Pengelola Barang
85
Pihak Penyewa
BUMN BUMN BUMD BUMD
Badan Hukum Lainnya
Badan Hukum Lainnya
Perorangan Perorangan
86
Ketentuan Pokok Sewa BMN BMN yang belum atau tidak digunakan
Pengguna Barang atau Pengelola Barang.
Jangka waktu sewa PALING LAMA 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang.
Jangka waktu sewa DAPAT LEBIH LAMA 5 (lima)tahun dan dapat diperpanjang, Untuk KSPI, atau kegiatan dg karakteristik usaha yg memerlukan waktu sewa lebih dari 5 tahun, atau ditentukan lain dalam UU.
Pembayaran uang sewa dilakukan sekaligus paling lambat pada saat penandatanganan kontrak.
Penyewa hanya dapat mengubah bentuk tanpa mengubah kontruksi, dan bagian yang
ditambahkan menjadi BMN.
87Formulasi Tarif Sewa
1.Tanah Kosong
Keterangan:
St = Sewa tanah (Rp/tahun) Lt = Luas tanah (m
2)
Nilai tanah berdasarkan hasil penilaian dengan estimasi terendah menggunakan NJOP (per m
2).
St = 3,33 % x (Lt x Nilai tanah)
88
Formulasi Tarif Sewa
2.Tanah & Bangunan
Keterangan:
Stb = Sewa tanah & bangunan (Rp/tahun) Lb = Luas lantai Bangunan (m
2)
Hs = Harga satuan bangunan standar dalam keadaan baru (Rp/m
2)
Nsb = Nilai sisa bangunan (%)
• Penyusutan bangunan permanen = 2 % / tahun
• Penyusutan bangunan semi permanen = 4 % / tahun
• Penyusutan bangunan darurat = 10 % / tahun Catatan: penyusutan bangunan maksimal 80 %
Stb = (3,33% x Lt x Nilai tanah) +(6,64% x Lb x Hs x Nsb)
89
Formulasi Tarif Sewa
3.Prasarana Bangunan
Keterangan:
Sp = Sewa Prasarana Bangunan (Rp/tahun)
Hp = Harga prasarana Bangunan dalam keadaan baru (Rp)
Nsp = Nilai sisa prasarana bangunan (%)
• Penyusutan pekerjaan halaman = 5 % / tahun
• Penyusutan mesin/instalasi = 10 % / tahun
• Penyusutan furniture/elektronik = 25% / tahun Catatan: penyusutan maksimal 80 %
Sp = 6,64% x Hp x Nsp
90
Formulasi Tarif Sewa
4.Selain Tanah/Bangunan
Formulasi tarif sewa BMN berupa selain tanah/bangunan ditetapkan oleh masing- masing Pengguna Barang berkoordinasi dengan instansi teknis terkait
91
Prosedur Sewa Tanah/Bangunan pada Pengelola Barang
PENGELOLA BARANG PIHAK KETIGA
PENELITIAN
PENETAPAN T/B
PERSETUJUAN
PERPANJANGAN
PENYERAHAN BMN KEMBALI
SEWA SELESAI PENYETORAN SEWA
PERJANJIAN
PERJANJIAN PEMBENTUKAN TIM
PENILAIAN
PENATAUSAHAAN
92
Prosedur Sewa Sebagian Tanah/Bangunan &
Selain Tanah/Bangunan pada Pengguna Barang
PENGGUNA BARANG PENGELOLA BARANG PIHAK KETIGA
PENGAJUAN USULAN PENELITIAN
PERSETUJUAN KEPUTUSAN
PELAKSANAAN SEWA
PENYETORAN SEWA
PERJANJIAN PERJANJIAN
PERPANJANGAN
PENYERAHAN BMN KEMBALI
SEWA SELESAI LAPORAN
93
Data/Dokumen Pendukung Permohonan Penyewaan BMN, antara lain:
Untuk sebagian tanah dan bangunan:
1. Pertimbangan penyewaan;
2. Bukti kepemilikan;
3. Gambar lokasi;
4. Luas yang akan disewakan;
5. Nilai perolehan dan NJOP tanah dan atau bangunan;
6. Data transaksi sebanding dan sejenis;
7. Calon penyewa;
8. Nilai sewa;
9. Jangka waktu penyewaan.
Untuk selain tanah dan bangunan:
1. Pertimbangan mengenai calon penyewa;
2. Hasil penelitian mengenai kelayakan kemungkinan penyewaan barang milik negara selain tanah
dan/atau bangunan dimaksud;
3. Nilai sewa;
4. Jangka waktu penyewaan.
94
Sub bahasan 2
Pinjam Pakai
95
Pengertian
Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan BMN antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu berakhir, BMN diserahkan kembali kepada Pemerintah Pusat.
96
Pertimbangan
Optimalisasi BMN yg belum/tidak
dipergunakan dalam pelaksanaan tupoksi penyelenggaraan pemerintahan pusat.
Menunjang pelaksanaan
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Optimalisasi
Penunjang
97
Subjek & Objek
1. Sebagian tanah/
bangunan yg status penggunaannya ada pada Pengguna
Barang;
2. Selain
tanah/bangunan.
Tanah/bangunan yang berada pada Pengelola Barang
PENGGUNA BARANG PENGELOLA BARANG
dengan persetujuan Pengelola Barang
98
Ketentuan Pokok
Pihak peminjam: Pemerintah Daerah.
BMN dalam kondisi belum atau tidak digunakan Pengguna Barang atau Pengelola Barang untuk tugas pokok dan fungsi.
Jangka waktu pinjam pakai paling lama 5 (tahun) dan dapat diperpanjang satu kali.
Dalam hal akan diperpanjang, permintaan perpanjangan diajukan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum jangka waktu berakhir.
99
Tanah dan/atau bangunan yang dipinjam pakaikan, harus dipergunakan sesuai perjanjian dan tidak diperkenankan untuk diubah bentuk bangunan.
Pemeliharaan dan biaya yang timbul selama masa pinjam pakai,menjadi tanggungjawab peminjam.
Setelah masa pinjam pakai berakhir, peminjam harus mengembalikan Barang Milik Negara yang dipinjam dalam kondisi sesuai dengan perjanjian.
Ketentuan Pokok
100