• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bah an Aj ar Mata Ku li ah , 2018 - Perpustakaan Pusat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Bah an Aj ar Mata Ku li ah , 2018 - Perpustakaan Pusat"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

Tujuan penyusunan panduan ini adalah untuk membantu mahasiswa memahami konsep antikorupsi yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa dan sebagai lulusan bidan yang berkarakter dalam menjalankan tugas dan kehidupannya di masyarakat dengan tetap menjaga nilai-nilai antikorupsi. . Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran unit 1, diharapkan memahami kebijakan nasional tentang pencegahan dan pemberantasan korupsi. Kata “korupsi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penggelapan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan) dan sebagainya untuk kepentingan pribadi atau orang lain.

Dengan demikian, dengan memahami keterkaitan faktor budaya, kita dapat memahami mengapa upaya pemberantasan korupsi di Indonesia jarang mencapai hasil yang memuaskan. Setelah menyelesaikan Kegiatan Pembelajaran Unit 3 diharapkan memahami sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia dan peraturan perundang-undangan mengenai tindak pidana korupsi di Indonesia. Tindak Pidana Korupsi dalam Hukum Indonesia 1) Ketetapan Dewan Perwakilan Rakyat (MPR) 2) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1993 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Penyebab Korupsi

  • FAKTOR PENYEBAB KORUPSI
  • FAKTOR POLITIK
  • FAKTOR HUKUM
  • FAKTOR EKONOMI
  • FAKTOR ORGANISASI
  • PENYEBAB KORUPSI DALAM PERSPEKTIF TEORETIS
  • FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL PENYEBAB KORUPSI
  • FAKTOR INTERNAL, MERUPAKAN FAKTOR PENDORONG KORUPSI DARI DALAM DIRI, YANG DAPAT DIRINCI MENJADI
  • FAKTOR EKSTERNAL, PEMICU PERILAKU KORUP YANG DISEBABKAN OLEH FAKTOR DI LUAR DIR PELAKU

Secara umum faktor penyebab korupsi dapat terjadi karena faktor politik, hukum dan ekonomi, seperti dalam buku Peran Parlemen dalam Pemberantasan Korupsi (ICW: 2000) yang mengidentifikasi empat faktor penyebab korupsi yaitu faktor politik, faktor hukum. , faktor ekonomi dan birokrasi, serta faktor transnasional. Substansi hukum yang buruk mudah ditemukan dalam peraturan yang diskriminatif dan tidak adil; susunan kata yang tidak jelas (non lext certa) sehingga menimbulkan multitafsir, kontradiksi dan tumpang tindih dengan peraturan lain (yang setara dan lebih tinggi). Sanksi yang tidak setara dengan perbuatan yang dilarang, sehingga tidak tepat sasaran dan dirasa terlalu ringan atau terlalu berat; Penggunaan konsep yang berbeda untuk hal yang sama memungkinkan suatu peraturan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada sehingga tidak fungsional atau produktif dan mengalami resistensi.

Fakta ini menunjukkan bahwa korupsi kemungkinan besar disebabkan oleh aspek peraturan perundang-undangan yang lemah atau hanya menguntungkan segelintir pihak. Selain masih minimnya produk hukum yang dapat menjadi penyebab terjadinya tindak pidana korupsi, praktik penegakan hukum juga masih melihat berbagai permasalahan yang menyimpangkan hukum dari tujuannya. Mengenai faktor ekonomi dan terjadinya korupsi, banyak pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan akar permasalahan korupsi.Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena korupsi banyak dilakukan oleh para pemimpin Asia dan Afrika dan mereka tidak tergolong miskin. rakyat.

Dari keinginan pribadi untuk mendapatkan keuntungan yang tidak adil, ketidakpercayaan terhadap sistem peradilan, hingga ketidakstabilan identitas nasional, ada banyak faktor yang memotivasi orang-orang yang berkuasa, anggota parlemen termasuk warga negara biasa, untuk terlibat dalam perilaku korupsi. Aspek korupsi dari sudut pandang organisasi antara lain: (a) kurangnya role model dari manajer (b) kurangnya budaya organisasi yang baik, (c) sistem akuntabilitas di instansi kurang memadai, (d) manajemen cenderung menutup-nutupi organisasi. Teori lain yang menjelaskan terjadinya korupsi adalah teori solidaritas sosial yang dikembangkan oleh Emile Durkheim, teori ini meyakini bahwa sifat manusia sebenarnya pasif dan dikendalikan oleh masyarakat.

Kebutuhan, sikap mental yang tidak pernah merasa cukup, selalu penuh dengan kebutuhan yang tidak ada habisnya. Eksposur, yaitu hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana korupsi yang tidak menimbulkan efek jera bagi pelakunya atau orang lain.

Dampak korupsi

Korupsi merupakan salah satu permasalahan yang memberikan dampak negatif terhadap perekonomian suatu negara, dan dapat berdampak pada rusaknya simpul-simpul. Korupsi dapat melemahkan investasi dan pertumbuhan ekonomi (Mauro, 1995, dalam Pendidikan Anti Korupsi untuk Pendidikan Tinggi, 2011). Dampak korupsi dari sudut pandang ekonomi adalah distribusi sumber daya yang salah, sehingga perekonomian tidak optimal (Ariati, 2013) Macam-macam dampak korupsi dalam aspek ekonomi adalah sebagai berikut.

Korupsi membawa dampak buruk terhadap kehidupan sosial di masyarakat, kekayaan negara yang dikorupsi oleh segelintir orang dapat menggoyahkan stabilitas perekonomian negara yang. Dampak korupsi di bidang kesehatan antara lain tingginya biaya kesehatan, tingginya angka kematian ibu hamil dan ibu menyusui, buruknya tingkat kesehatan, dan lain sebagainya. Secara makro, angka kematian ibu dan anak merupakan salah satu parameter kualitas kesehatan masyarakat di suatu negara (KPK, 2013).

Sedangkan dampak korupsi yang menghambat berfungsinya pemerintah sebagai pengawal kebijakan negara dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Korupsi dapat berdampak pada lemahnya sistem pertahanan dan keamanan negara, negara yang korup dapat memiskinkan rakyat. , dan masyarakat miskin sangat rentan dan mudah diintervensi oleh pihak-pihak yang ingin melemahkan pemerintah. Kerusakan lingkungan hidup akan menimbulkan bencana yang sebenarnya disebabkan oleh manusia, seperti banjir, banjir bandang, kerusakan lahan, kekeringan, kelangkaan air dan menurunnya kualitas air dan udara, tingginya tingkat pencemaran pada perairan sungai sehingga sangat beracun, dan.

Akibat dampak rusaknya lingkungan sosial di masyarakat, maka lapisan sosial masyarakat pun semakin luas; yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin sulit hidup layak bahkan kesulitan memperoleh kebutuhan pokok akibat mahalnya harga. Kerusakan yang terjadi di perairan, seperti pencemaran sungai dan laut, juga berdampak pada penurunan kualitas hidup.

Upaya Pemberantasan Korupsi

Untuk memberantas korupsi, sangat penting mengingat karakteristik berbagai pihak yang terlibat. Rencana Strategis Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi telah merumuskan enam (6) strategi nasional untuk mewujudkan pemerintahan yang bebas korupsi, didukung kapasitas pencegahan dan penindakan, serta penanaman nilai-nilai budaya integritas. Komisi Pemberantasan Korupsi dalam bukunya Pedoman Pemberantasan Korupsi Secara Mudah dan Nyaman mengelompokkan strategi pemberantasan korupsi ke dalam 3 strategi berikut.

Pada bagian ini akan diuraikan upaya-upaya yang merupakan perwujudan dari strategi represif, yaitu upaya penegakan hukum. Upaya represif atau upaya melalui jalur pidana adalah upaya yang menitik beratkan pada sifat represif setelah terjadinya tindak pidana korupsi. Dengan strategi represif, aparat misalnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyeret koruptor ke pengadilan, membacakan tuntutan, menghadirkan saksi dan bukti-bukti yang menguatkan. 5) Eksekusi putusan pengadilan (penegakan) 6) Tindak pidana korupsi.

Pencegahan bertujuan untuk mempersempit peluang terjadinya tindak pidana korupsi pada pemerintahan dan masyarakat, dalam kaitannya dengan pelayanan publik dan penanganan perkara yang bebas dari korupsi. Berikut fokus kegiatan prioritas pencegahan korupsi untuk jangka panjang dan jangka menengah sebagaimana diuraikan dalam Rencana Strategi Nasional Pemberantasan Korupsi.

Nilai-nilai dan prinsip-prinsip antikorupsi dalam mencegah dan mengatasi terjadinya korupsi

Kepedulian dapat diungkapkan terhadap lingkungan dan berbagai hal yang berkembang di dalamnya.Nilai kepedulian sebagai pembelajar dapat diwujudkan dengan berusaha memantau kemajuan proses pembelajaran. Kemandirian dianggap sebagai suatu hal penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin karena tanpa kemandirian seseorang tidak dapat memimpin orang lain. Penerapan nilai tanggung jawab dapat diwujudkan dalam bentuk belajar dengan sungguh-sungguh, lulus tepat waktu dengan nilai bagus, menyelesaikan tugas akademik dengan baik, menjaga dan memelihara rasa percaya diri, dan lain-lain.

Keberanian dapat diwujudkan dalam bentuk berani mengatakan dan membela kebenaran, berani mengakui kesalahan, berani bertanggung jawab, dan lain sebagainya. Semua lembaga bertanggung jawab menjalankan fungsinya sesuai aturan main, baik dalam bentuk konvensi (de facto) maupun konstitusi (de jure), baik pada tataran budaya (individu dan individu) maupun pada tataran kelembagaan. Keberadaan kebijakan berkaitan dengan nilai, pemahaman, sikap, persepsi dan kesadaran masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan antikorupsi.

Korupsi di berbagai tingkatan masih terjadi seolah-olah sudah menjadi bagian dari kehidupan kita bahkan lumrah. Hal ini mungkin merupakan indikasi bahwa penerapan nilai dan prinsip antikorupsi sebagaimana telah dijelaskan di atas masih sangat jauh dari harapan. Banyak nilai-nilai yang terabaikan dan tidak benar-benar dihayati, sehingga penyimpangan terhadap nilai-nilai tersebut merupakan hal yang lumrah.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembentukan nilai dan prinsip antikorupsi harus diajarkan kepada seluruh masyarakat luas sejak dini. Untuk langkah yang lebih serius, pemantapan nilai dan prinsip antikorupsi hendaknya tidak hanya diterapkan di lingkungan perguruan tinggi saja, namun juga dilakukan secara merata di berbagai kalangan masyarakat, sehingga hasil yang diperoleh juga bisa sama-sama maksimal.

Peran dan keterlibatan mahasiswa dalam pemberatasan korupsi

Keterlibatan mahasiswa dalam gerakan antikorupsi mencakup empat bidang, yaitu di lingkungan keluarga, di kampus, di masyarakat sekitar, dan di tingkat lokal/nasional.

Tata kelola pemerintah yang baik dan bersih (clean and good governance)

Pengelolaan pemerintahan yang baik dan bersih (clean and goodmanagement).. 2) Visi dan Misi Reformasi Birokrasi. Secara umum tujuan reformasi birokrasi adalah mewujudkan pemerintahan yang baik, didukung oleh penyelenggara publik yang profesional, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme, serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga tercapai pelayanan prima. Terwujudnya birokrasi yang profesional, netral, dan sejahtera, yang mampu memposisikan diri sebagai aparatur sipil negara dan aparatur sipil negara guna mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik.

Memberikan pelayanan kepada masyarakat yang lebih efisien dan efektif dengan ramah dan santun, diwujudkan dalam pelayanan prima. Pelayanan publik berbasis teknologi informasi seperti seleksi pendaftaran pegawai secara online dalam rekrutmen calon pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai tidak tetap (PTT). Pelaksanaan LHKPN di lingkungan Kementerian Kesehatan didukung oleh Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 03.01/Menkes/066/I/2010, tanggal 13 Januari 2010.

Dibentuknya unit pengendalian kepuasan berdasarkan Keputusan Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan No. 01.TPS tanggal 30 Juli 2010. Penerapan SPI pada unit kerja dilaksanakan dengan menjunjung tinggi nilai integritas dan etika, komitmen terhadap kompetensi, mendorong kepemimpinan, . pembentukan struktur organisasi sesuai dengan kebutuhan, pendelegasian wewenang dan pengembangan sumber daya manusia yang sehat, kesadaran akan peran pengendalian internal pemerintah yang efektif dan hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait. Dalam hal ini pimpinan instansi pemerintah dan seluruh pegawai harus menciptakan dan memelihara lingkungan di seluruh organisasi yang menciptakan perilaku positif dan mendukung pengendalian internal dan manajemen yang baik.

Penilaian risiko adalah kegiatan mengevaluasi kemungkinan terjadinya peristiwa yang mengancam pencapaian maksud dan tujuan badan negara. Informasi tersebut diberikan dalam bentuk tertentu dan dengan cara tertentu serta tepat waktu, sehingga memungkinkan kepala badan negara secara bertahap menjalankan kendali dan tanggung jawab.

Lembaga penegak hukum, pemberantasan dan pencegahan korupsi

DAFTAR PUSTAKA

Kelemahan Kegiatan Pemerintahan Rawan Korupsi' pada Seminar Pencegahan Korupsi Bidang Kesehatan, Rabu 22 Mei 2013 yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada Fakultas Kedokteran Yogyakarta (Kagama Kedokteran).

Referensi

Dokumen terkait