BAHAN AJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 18U00001
2 SKS
PUSAT PENGEMBANGAN KURIKULUM, INOVASI PEMBELAJARAN, MKU, DAN MKDK.
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2020
VERIFIKASI BAHAN AJAR
Pada hari ini Senin tanggal 25 Agustus 2020 Bahan Ajar Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam, telah diverifikasi oleh Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum, Inovasi Pembelajaran, MKU, dan MKDK.
Semarang, 25 Agustus 2020
Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum, Tim Penulis Inovasi Pembelajaran, MKU dan MKDK
Dr. Saiful Ridlo, M.Si. Tim Dosen
NIP. 196604191991021002
PRAKATA
Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt., karena rahmat, nikmat, taufik dan hidayahnya-Nyalah buku “ISLAM: Rahmatan Lil’alamin” dapat kami selesaikan. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada Baginda Rosul Muhammas Saw., para keluarga, para sahabar, pera pengikut, serta umatnya yang setia dengan ajarannya.
Maksud dan tujuan Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi adalah untuk memperkuat iman dan takwa kepada Allah Swt., serta memperluas wawasan hidup beragama mahasiswa dengan mengedepankan budi pekerti luhur, berpikir filosofis, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas, ikut serta dalam kerja sama antarumat beragama dalam mengembangkan dan memanfaatkan ilmu dan teknilogi serta seni untuk kepentingan manusia. Selain itu, maksud tujuan tersebut diarahkan pada peningkatan kualitas SDM melalui rumah ilmu yaitu Universitas Negeri Semarang.
Atas dasar itulah buku ini disusun sebagai sarana menggapai maksud dan tujuan tersebut. Tentunya buku ini bukanlah satu-satunya buku referensi atau rujukan, akan tetapi mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran.
Pada buku ini disajikan materi-materi dalam BAB, meliputi: (1) Aqidah, (2) Konsep Manusia, (3) Hukum Islam, (4) Akhlah dalam Islam, (5) Islam dan Globalisasi, (6) Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni, (7) Islam Rahmatan Lil’alamin, dan (8) Munakahat.
Kepada para pembeca kami mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif demi kesempurnaan buku ini, karena kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan.
Semarang, 25 Agustus 2020 Tim Penulis
DESKRIPSI MATAKULIAH
Mata kuliah ini menyajikan bahasan tentang konsep aqidah Islam, konsep manusia, hukum, konsep akhlak, IPTEKS, masyarakat, politik, globalisasi, radikalisme atas nama Agama, perlindungan anak, dan pernikahan dalam perspektif Islam.
BAB I AQIDAH
A. KONSEPSI AQIDAH 1. Pengertian Aqidah
Secara etimologis, aqidah berarti berakar dari kata ‘aqada – ya’qidu –
‘aqidatan. Aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah terbentuk menjadi ‘aqidah berarti keyakinan. Relevansi antara arti kata '‘aqdan dan '‘aqidah berarti keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.
Secara terminologis, terdapat beberapa definisi ‘aqidah antara lain : Menurut Hassan al-Banna dalam kitab Majmu’ al-Rasail :
“Aqa’id (bentuk jamak dari aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan”.
Sedangkan menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy dalam kitab Aqidah al- Mukmin :
Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan di dalam hati serta diyakini kesalihan dan keberadannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.
Dari dua definisi di atas terdapat beberapa hal yang mesti diperhatikan secara seksama agar mendapat pemahaman yang proporsional.
Pertama, setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran, indera untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan wahyu untuk menjadi pedoman dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Dalam beraqidah hendaknya manusia menempatkan fungsi masing-masing instrumen tersebut pada posisi yang sebenarnya.
Kedua, keyakinan yang kokoh itu mengandaikan terbebas dari segala pecampuradukan dengan keragu-raguan walaupun sedikit. Keyakinan hendaknya bulat dan penuh, tiada berbaur dengan syak dan kesamaran. Oleh karena itu untuk sampai kepada keyakinan itu manusia harus memiliki ilmu; yakni sikap menerima suatu kebenaran dengan sepenuh hati setelah meyakini dalil- dalil kebenarannya.
Ketiga, aqidah tidak boleh tidak harus mampu mendatangkan ketentraman jiwa kepada orang yang meyakininya. Dengan demikian, hal ini mensyaratkan adanya keselarasan dan kesejajaran antara keyakinan yang bersifat lahiriyah dan keyakinan yang bersifat bathiniyah. Sehingga tidak didapatkan padanya suatu pertentangan antara sikap lahiriah dan bathiniyah.
Keempat, apabila seseorang telah meyakini suatu kebenaran, konsekwensinya ia harus sanggup membuang jauh-jauh segala hal yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya itu.
Dalam bahasa Arab ada beberapa istilah lain yang semakna atau hampir semakna dengan istilah aqidah, yaitu : iman dan tauhid. Sedang kan yang semakna dengan ilmu aqidah adalah ushuluddin, ilmu kalam dan fikih akbar.
2. Ruang Lingkup Aqidah
Hassan al-Banna pernah membuat sistematika ruang lingkup pembahasan aqidah, yaitu :
1) Ilahiyat: Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ilah (Allah), seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah, perbuatan-perbuatan (Af’al) Allah dan lain-lain.
2) Nubuwat: Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk pembicaraan mengenai Kitab-Kitab Allah, Mukjizat, Keramat dan sebagainya.
3) Rukhaniyat: Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, jin iblis, setan, roh dan lain sebagainya.
4) Sam’iyat: Yaitu pembahasan tentang segal sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i, yakni dalil naqli berupa al-Qur’an dan al-Sunnah, seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga, neraka dan seterusnya.
Di samping sistematika di atas, pembahasan aqidah bisa juga mengikuti sistematika arkanul iman yaitu: iman kepada Allah SWT., iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada nabi dan rasul Allah, iman kepada hari akhir dan iman kepada qadha dan qadar Allah.
a. Iman Kepada Allah Swt.
Iman kepada Allah adalah suatu keniscayaan. Inti dari iman kepada Allah Swt. Adalah tauhid : mengesakan Allah baik dalam zat, sifat dan af’al-Nya.
Disamping itu Allah memiliki al-asma’ al-husna dan ash-shifah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya sebanyak 99 (sembilan puluh sembilan) macam, dan semua ini menunjukkan kemaha sempurnaan-Nya. Oleh karena itu, di sini kita mengenal ada dua metode untuk mengimani asma’ al-husna dan ash-shifah Allah yaitu 1) metode itsbat; mengimani bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat yang
menunjukkan kemahasempurnaan-Nya, misalnya Allah maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui, maha bijkasana dll, dan 2) metode nafy; menafikan atau menolak segala nama-nama dan sifat yang menunjukkan ketidaksempurnaan-Nya, misal menafikan adanya makhluk yang menyerupai Allah, menolak anggapan bahwa Allah memiliki anak atau orang tua dan lain-lain.
Oleh karena itu Islam sangat menganjurkan kepada ummatnya agar berdoa dan memohon kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang agung (Q.S. al-A’raf:18). Dalam masalah ini pula kita mengetahui adanya larangan untuk mentamsilkan atau mentasybihkan (menyerupakan) Allah dengan sesuatu (Q.S. asy-Syura: 11). Dengan usaha ini maka ummat Islam akan beriman kepada Allah dengan semurni-murninya dan sutuh-utuhnya iman.
b. Iman kepada Malaikat-malaikat Allah.
Makhluk Allah dapat dikelompokkan menjadi dua macam; makhluk ghaib dan makhluk syahadah (nyata). Yang membedakan keduanya adalah dapat dan tak dapat dijangkau oleh panca indera manusia.
Iman kepada malaikat termasuk salah satu perkara beriman kepada yang ghaib. Untuk mengetahui dan mengimani makhluk yang ghaib ini ditempuh dua cara: 1) melalui berita atau akhbar dari Rasulullah baik berupa wahyu al-Qur’an maupun sunnah dan 2) melalui bukti-bukti nyata di alam semesta, seperti kematian adalah bukti nyata bahwa malaikat maut itu ada.
Malaikat merupakan makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah dari cahaya (nur) dengan wujud dan sifat-sifat tertentu. Malaikat sangat taat kepada Allah, tak pernah membangkang dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya (Q.S. at-Tahrim : 6). Adapun beberapa malaikat yang patut diketahui dna diimani beserta tugasnya antara lain :
1) Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul (Q.S. al-Baqoroh : 97)
2) Malaikat Mikail bertugas mengatur hal-hal yang berhubungan dengan alam (Q.S. al-Baqoroh :98)
3) Malaikat Israfil bertugas meniup terompet di hari kiamat dan kebangkitan (Q.S. al-An’am :73)
4) Malaikat Maut bertugas mencabut nyawa manusia dan makhluk hidup (as- Sajada :11)
5) Malaikat Raqib dan ‘Atid bertugas mencatat amal perbuatan manusia (Q.S.
al-Infithar : 10-12)
6) Malaikat Munkar dan Nakir bertugas menayai mayat dalam kubur (Q.S.
Ibrahim : 27)
7) Malaikat Ridwan bertugas menjaga syurga (Q.S. az-Zumar : 73) 8) Malaikat Malik bertuga menjaga neraka (Q.S. az-Zumar : 71) 9) Malaikat pemikul Arasy (Q.S. al-Mukminun : 7)
10) Malaikat penggerak hati manusia untuk berbuat kebaikan dan kebenaran;
Malaikat yang bertugas mendoakan orang-orang mukmin (Q.S. al-Mukminun : 7 – 9)
c. Iman Kepada Kitab-kitab Allah.
Al-Kitab atau kitab Allah adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi dan rasul, meliputi kitab yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Maupun kitab-kitab yang diturunkan pada para nabi dan rasul sebelumnya. Kitab-kitab yang patut diimani keberadaannya adalah kitab al- Qur’an sendiri (Q.S. al-Baqoroh : 2), Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as, (Q.S. al-Maidah : 27), Kitab Taurat yang diturunkan yang diturunkan kepada Nabi Musa as. (Q.S. al-Maidah: 44) dan kitab Zabur yang turun kepada Nabi Daud as. (Q.S. an-Nisa : 163). Di samping kitab-kitab di atas, dikenal juga dua buah shuhuf, yaitu shuhuf Nabi Ibrahim as., dan shuhuf Nabi Musa as. (Q.S. al- A’la : 18-19). Shuhuf ini hany berbentuk lembaran-lembaran.
Al-Qur’an sebagai kitab Allah yang terakhir memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dipunyai kitab-kitab atau shuhuf-shuhuf lainnya, antara lain; Kitab al-Qur’an berlaku secara universal untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman (Q.S. al-Furqon:1) Kitab al-Qur’an masih terpelihara secara utuh dan murni hingga sekarang (Q.S. al-Hijr : 9). Ajaran al-Qur’an mencakup segala permasalahan dan aspek kehidupan (Q.S. al-An’am : 38). Al-Qur’an mudah untuk dipahami, dihapal dan diamalkan (Q.S. al-Qomar: 17). Al- Qur’an berfungsi sebagai nasikh (penghapus) lafadz dan hukum dalam kitab-kitab sebelumnya,
muhaimin (batu ujian) terhadap kebenaran kitab-kitab sebelumnya dan mushaddiq (pembenar) atas kitab-kitab terdahulu (Q.S. al-Maidah : 48) dan al- Qur’an menjadi mukjizat bagi Nabi Muhammad saw.
Dalam al-Qur’an secara eksplisit memang hanya disebutkan 4 nama kitab suci dan 2 shuhuf. Namun demikian al-Qur’an juga menerangkan bahwa seorang muslim hendaknya tetap beriman kepada seluruh kitab suci Allah, baik yang disebutkan nama dan penerimanya maupun yang tidak disebutkan (Q.S. an-Nisa : 136)
Dalam masalah mengimani kitab-kitab Allah ini tentunya ada perbedaan cara dan konsekuensi. Kepada kitab-kitab Allah sebelum al-Qur’an seorang muslim hanya diwajibkan mengimani keberadaan dan kebenarannya semata.
Sedangkan kepada al-Qur’an disamping mengimani keberadaan dan kebenarannya juga diwajibkan mempelajari, menghayati, mengamalkan serta mendakwahkan atau mengajarkannya.
d. Iman Kepada Nabi dan Rasul
Pada hakekatnya nabi dan rasul adalah manusia biasa seperti umumnya.
Yang membedaknnya adalah karena ia menerima wahyu dari Allah (Q.S. al- Kahfi: 110). Apabila ia tidak dibebani kewajiban untuk menyampaikan wahyu itu maka disebut Nabi. Jika ia diikuti dengan tanggung jawab menyampaikan wahyu maka ia disebut Rasul. Jadi Nabi belum tentu rasul, sedangkan rasul sudah pasti nabi.
Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah nabi dan rasul secara keseluruhan. Yang jelas setiap umat manusia dalam kurun waktu tertentu diutus seorang nabi dan atau rasul (Q.S. Yunus : 47). Al-Quran hanya menyebutkan sejumlah 25 orang saja dalam ayat-ayatnya. Nabi dan rasul itu tersebar di beberapa surat seperti : al-An’am : 83-86 sebanyak 18 orang, 7 orang lagi disebutkan di ayat yang terpisah; Hud : 50, Hud : 84, Ali Imran : 33, al-Anbiya’ : 85, dan al-Fath : 29. Sekalipun secara pasti hanya tersebut 25 orang saja di dalam al-Qur’an, umat Islam tetap diwajibkan meyakini semua keberadaan nabi dan rasul yang diterangkan di dalamnya, dan sebagian lagi dan ini yang terbanyak tidak diceritakan di dalamnya (Q.S. al-mukmin : 78)
Seluruh rasul yang diutus pada tiap zaman dan tempat pada dasarnya mengemban tugas berat yang sama, yakni menegakkan kalimah tauhid la ilaha illa Allah (Q.S. al-Anbiya : 25). Dalam mengemban tugas ini ternyata tidak semua rasul memiliki kesabaran yang sangat tinggi, kecuali mereka yang diberi gelar ulul azmi; para rasul yang sangat sabar, teguh hati dan tabah dalam menjalankan misinya (Q.S. al-Ahqof : 35). Mereka itu adalah Muhammad, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (Q.S. al-Ahzab : 7)
Umat Islam yang hidup di zaman ini tentu wajib mengimani Rasulullah Muhammad Saw. sebagai rasul terakhir. Dia adalah utusan Allah untuk menyempurnakan risalah-risalah yang pernah disampaikan oleh rasul-rasul terdahulu. Risalah penyempurna itu adalah Islam (Q.S. al-Maidah : 3). Maka hanya Islamlah yang akan diterima sebagai agama yang diridhai di sisi Allah (Q.S. ali-Imran : 19). Oleh karena itu kecintaan dan ketaatan kepadanya harus ditunjukkan bagi siapa saja yang ingin selamat di dunia dan akhirat (Q.S. ali- Imran : 31, al-Ahzab : 21).
e. Iman Kepada Hari Akhir.
Hari akhir adalah kehidupan kekal dan abadi setelah kehidupan dunia yang fana ini. Al-Quran menyebut hari akhir dengan berbagai sebutan; yaumul qiyamah, berakhirnya seluruh kehidupan; Yaumul Ba’ats, kebangkitan seluruh umat manusia dari alam kubur; Yaumul Hasyr, hari dikumpulkannya umat manusia dipadang Mahsyar; Yaumul Hisab atau Yaumul Mizan, hari perhitungan seluruh amal manusia selama hidup didunia; Yaumud din, hari pembalasan bagi seluruh amal manusia dengan syurga dan neraka dan masih banyak lagi sebutan untuk hari akhir ini.
Proses kehancuran dunia dan digantikan dengan alam akherat tentu saja melalui masa transisi, yakni alam kubur. Alam kubur dikenal juga dengan sebutan alam barzakh. Di alam inilah manusia akan menyaksikan kebenaran adanya malaikat Munkar dan Nakir yang bertugas menanyai manusia. Di alam ini juga manusia akan melihat bagaimana Allah kuasa untuk membangkitkan kembali tubuh yang telah mati dan hancur sekalipun. Kenikmatan dan
kesengsaraan di alam kubur akan menjadi kenyataan (Q.S. Ibrahim : 27, al- Mukmin : 45-46).
Lalu kapan kiamat itu akan terjadi ? Al-Qur’an menegaskan tak ada seorang pun yang mengetahuinya, termasuk para nabi dan rasul, kecuali Allah semata (Q.S. al-A’raf : 187). Allah hanya memberikan tanda-tanda kiamat, baik kecil maupun besar.
Ketika kiamat datang maka terjadilah kebinasaan total, kemudian dengan tiupan kedua terompet Malaikat Israfil terjadilah kebangkitan (Q.S. az-Zumar : 68). Setelah itu manusia dikumpulkan di Mahsyar untuk dihisab amalnya melalui perhitungan dan penimbangan yang akan menentukan nasib manusia di akhirat (Q.S. al-Insyiqaq : 7-12), (Q.S. al-Haaqah : 19-26). Di sini mereka akan menemukan pembalasan yang setimpal atas perbuatannya sendiri (Q.S. al- Qoriah : 6-9) (Q.S. al-Bayyinah : 6-8).
Beriman kepada hari akhir merupakan keimanan yang pokok, setelah beriman kepada Allah Swt. (Q.S. al-Baqarah : 62 dan 177). Sebab bila Allah adalah tempat asal muasal segala makhluk, maka harus ada suatu masa tempat perjumpaan dan kembali semua makhluk itu kepada asalnya. Dengan demikian hari akhir merupakan bukti bagi kenyataan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir. Hari akhir merupakan konsekuenis logis dari perintah moral yang dibebankan kepada manusia di dunia, agar mereka melihat bagaimana hasil pekerjaan mereka.
f. Iman Kepada Qadha dan Qadar Allah
Iman kepada qhada dan qadar Allah berarti meyakini akah kehendak, ketetapan dan ketentuan Allah terhadap segala sesuatu. Allah Swt. berkuasa untuk menentukan ukuran, susunan, aturan, undang-undang terhadap segala sesuatu, termasuk hukum kausalitas yang berlaku bagi segala yang ada baik yang hidup maupun yang mati (Q.S. al-Ra’du :8) (Q.S. al-Hijr : 21) (Q.S. al- Qamar : 49) (Q.S. al-Hasyr : 3) Iman kepada qhada dan qadar meliputi empat hal :
1) al-Ilmu; Keyakinan bahwa Allah Swt. Maha Mengatahui atas segala sesuatu.
Dia mengetahui segala hal yang telah, sedang dan akan terjadi. Tak ada
sesuatupun yang luput dari ilmu-Nya (Q.S. al-Hajj: 70) (Q.S. al-Hasyr : 22) (Q.S. al-An’am : 59).
2) Al-Kitabah ; keyakinan bahwa Allah Swt. Telah menuliskan segala sesuatu di Lauh Mahfudz tentang apa saja yang terjadi di masa lalu, sekarang dan akan datang (Q.S. al-Hajj : 70) (Q.S. al-Hadid : 22)
3) Al-Masyi’ah ; keyakinan bahwa Allah Swt. Memiliki kehendak penuh atas segala sesuatu yang ada di alam semsta. Kehendak-Nya bersifat mutlak (Q.S. al-Insaan : 30) (Q.S.at-Takwir : 28-29)
4) Al-Khalq ; Keyakinan bahwa Allah Swt. Telah menciptakan segala sesuatu.
Di luar Allah Yang Maha Pencipta adalah makhluk (Q.S. az-Zumar : 62) (Q.S. al-Furqan : 2) (Q.S. ash-Shaffat : 96)
Ada dua hal yang harus dipahami kaitannya dengan keberadaan manusia dalam masalah ini. Manusia adalah makhluk musayyar dan mukhayyar. Sebagai makhluk musayyar manusia tidak mempunyai kebebasan untuk menolak atau menerima ketentuan Allah, seperti tidak dapat menolak mengapa ia dilahirkan sebagai perempuan atau laki-laki, warna kulit, kelahiran dan kematiannya. Dan sebagai makhluk mukhayyar manusia mempunyai kebebasan untuk menolak dan menerima. Ia memiliki kekuatan untuk berbuat baik atau buruk (Q.S. al-Baqarah : 222) (Q.S. at-Taubah : 46).
Kemudian bagaimanakah dengan perbuatan baik dan buruk yang dilakukan manusia? Apakah semua itu juga karena qhada dan qadar Allah?
untuk menjawab pertanyaan ini maka kita harus memahaminya dari keberadaan manusia sebagai makhluk musayyar dan mukhayyar-nya sekaligus. Allah Swt.
hanyalah menciptakan kecendrungan yang baik dan buruk pada manusia (Q.S.
asy-Syam : 8) dan sama sekali tidak menciptakan perbuatan baik atau buruk tersebut. Adapun kecenderungan baik atau buruk itu akan terwujud sangat tergantung pada kebebasan manusia untuk memilih melakukannya. Dengan demikian manusia harus bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah dilakukannya karena semua berdasarkan pilihannya. Dengan kata lain pertanggung jawaban yang diminta oleh Allah adalah keberadannya sebagai makhluk mukhayyar. Dan Allah tidak meminta pertanggung jawaban tentang keberadaannya sebagai makhluk musayyar.
B. KONSEPSI TAUHID
1. Tauhid sebagai Poros Aqidah Islam
Ajaran Islam tidak hanya memfokuskan iman kepada wujud Allah sebagai suatu keharusan fitrah manusia, namun lebih dari itu memfokuskan aqidah tauhid yang merupakan dasar aqidah dan jiwa keberadaan Islam. Islam datang di saat kemusyrikan sedang merajalela di segala penjuru dunia. Tak ada seorangpun yang menyembah Allah kecuali segelintir manusia dari golongan hunafa’
(pengikut nabi Ibrahim as.) dan sisa-sisa penganut ahli kitab yang selamat dari pengaruh tahayul animisme dan paganisme yang telah menodai agama Allah.
Sebagai contoh bangsa Arab jahiliyah telah tenggelam jauh ke dalam paganisme, sehingga Ka’bah yang semula dibangun untuk menyembah Allah telah dikelilingi oleh 360 berhala. Dan bahkan setiap rumah penduduk Makkah ditemukan berhala sesembahan penghuninya.
Imam Bukhari sempat merekam suatu peristiwa yang ditelusurinya lewat Abu Raja’ al-Atharidy :
“Kami pernah menyembah batu, bila kami menemukan batu yang lebih baik daripadanya, kami buang batu itu dan mengambil batu yang lain. Bila kami tidak menemukan batu maka kami menumpukan debu kemudian mengambil seekor kambing untuk diperas susunya di atas (tumpukan debu itu) kemudian kami thawaf mengelilinginya”.
Oleh karena itu, al-Qur’an mencela paganisme maupun politheisme yang merupakan simbol dari segmentasi masyarakat. Bahkan secara keseluruhan risalah-risalah yang diturunkan Allah Swt. pada para nabi dan rasul pada dasarnya memiliki kesatuan hidayah atau misi, the unity of guidance, yakni menyeru umat manusia agar mengesakan Allah. Karenanya tauhid merupakan tugas utama para nabi dan rasul untuk menegakkan dan menjunjung tinggi paham monotheisme. Hal ini sudah tercermin dalam beberapa ayat yang merekam inti tugas para nabi tersebut. Berikut adalah gambaran inti dakwah para nabidan rasul :
a. Inti dakwah nabi Nuh as :
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata) : “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab yang sangat menyedihkan. (Q.S. Hud : 25-26)
b. Inti dakwah nabi Hud as :
“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud. Ia berkata :
“hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.
Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Q.S. al-A’raf : 65) c. Inti dakwah nabi Yusuf as. :
“kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Yusuf : 40)
d. Inti dakwah nabi Shaleh as :
“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata : “hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan dibumi dan janganlah kamu menganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu ditimpa siksaan yang pedih. Q.S. al-A’raf : 73)
e. Inti dakwah nabi Syu’aib as :
“Dan (kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka Syu’aib. Ia berkata : hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan selain-nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti nyata dari Tuhanmu.
Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhanmu memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu betul-betul orang yang beriman”.
Q.S. Al-A’raf : 85)
f. Inti dakwah nabi Ibrahim as :
“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (Q.S. al-Ankabut : 16)
g. Inti dakwah nabi Isa as :
Sesungguhnya telah kafir orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam”, padahal al-Masih sendiri berkata: “hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya prang yang mempersekutukan Allah , maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. (Q.S. al-Maidah : 72
h. Inti dakwah nabi Muhammad SAW :
Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. (Q.S.
ali Imran : 64)
Dari kedelapan ayat diatas semuanya mengarah pada penegakan poros tauhid sebagai acuan utama kehidupan. Allah menciptakan manusia agar mereka menyembah-Nya semata (Q.S. adz-Dzariyat : 56) dan menghindarkan diri dari thagut (Q.S. an-Nahl : 36). Hanya Allah yang patut disembah dan jangan sampai kita menyekutukan Allah dengan sesuatu (Q.S. an-Nisa’ : 36), karena menyekutukan Allah adalah sesuatu yang diharamkan bagi manusia (Q.S. al- An’am: 151. Inilah tauhid, merupakan perintah Allah yang tertinggi dan terpenting dibuktikan oleh kenyataan adanya janji Allah untuk mengampuni dosa kecuali pelanggaran terhadap tauhid, karena pelanggaran ini merupakan dosa besar (Q.S. an-Nisa’ : 48). Oleh karena itu tauhid menjadi pranata yang tertinggi dan menjadi penyebab kebaikan dan pahala terbesar (Q.S. al-An’am : 82).
2. Makna Kalimat Syahadat
Secara tradisional dan dalam ungkapan yang sederhana, tauhid adalah keyakinan dan kesaksian bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah“, la ilaha illa Allah. Kalimat ini merupakan lambang tauhid. Kalimah ini biasa disebut kalimah tauhid. Kalimat yang agung ini terdiri dari dua makna yakni :
a. la ilah atau makna nafi (negasi) yang berarti peniadaan semua ketuhanan lain selain Allah.
b. illa Allah atau makna itsbat (afirmasi) yang berarti pernyataan bahwa ketuhanan itu semata-mata hanya untuk Allah. Dia-lah satu-satunya Tuhan yang sebenarnya sedangkan tuhan-tuhan lain yang disembah manusia adalah tuhan-tuhan palsu dan batil, yang diciptakan oleh kejahilan dan takhayul.
Kalimat ini dimulai dengan pengingkaran la ilaha (tiada tuhan) dan disusul oleh illa Allah (kecuali Allah). Pencari kebenaran akan menemui kebenaran itu apabila ia berusaha menyingkirkan terlebih dahulu segala macam ide, teori dan data yang tidak benar dari benaknya, persis seperti yang dilakukan oleh pengucap syahadah tersebut.
Kalimah tauhid disebut juga kalimah thayyibah atau kalimah ikhlas.
Kalimah la ilah illa Allah ini mencakup pengertian komprehensif sebagai berikut : a. La Khaliqa illa Allah (tiada pencipta selain Allah).
b. La Raziqa illa Allah (tiada pemberi rizki selain Allah).
c. La Khafidza illa Allah (tiada pemelihara selain Allah).
d. La Mudabbira illa Allah (tiada pengatur selain Allah).
e. La Malika illa Allah (tiada penguasa selain Allah).
f. La Waliya illa Allah (tiada pemimpin kecuali Allah).
g. La Hakima illah Allah (tiada Hakim selain Allah)
h. La Ghayata illa Allah (tiada yang maha menjadi tujuan selain Allah).
i. La Ma’buda illa Allah (tiada yang maha disembah selain Allah)
Tauhid menjadi landasan dasar dan inti ajaran Islam, yang membedakan manusia menjadi muslim atau kafir, musrik atau dahriyyin (orang yang tidak percaya adanya tuhan). Tetapi perbedaan antara yang percaya dan yang tidak percaya bukan hanya terletak pada kalimah syahadah. Kekuatan sesungguhnya terletak pada penerimaan secara sadar dan mutlak terhadap ajaran Islam dan penerapannya di dalam kehidupan nyata. Tanpa itu manusia tidak akan dapat menyadari pentingnya ajaran Islam. Jika manusia mengerti makna tauhid, maka
akan membuat manusia dapat menghindari setiap bentuk keingkaran, atheisme dan polytheisme.
Maka tauhid adalah merupakan pengetahuan, kesaksian, keyakinan dan keimanan manusia terhadap ke-esaan tuhan dengan segala sifat kesempurnaan dan ke-Esaan, diikuti dengan keyakinan bahwa ia tidak berpasangan, sempurna tiada tara, penyandang atribut ke-Tuhanan dan kekuasaan mutlak atas seluruh makhluk.
3. Tingkatan Tauhid
Tauhid menurut Islam ialah tauhid I’tiqad-‘ilmi (keyakinan teoritis) dan tauhid amali-suluki (tingkah laku praktis). Dengan kata lain ketauhidan antara yang teoritis dan praktis tak dapat dipisahkan satu dari yang lain; yakni tauhid dan bentuk makrifat (pengetahuan). Itsbat (pernyataan), I’tiqad (keyakinan), qasd (tujuan) dan iradah (kehendak). Dan ini semua tercermin dalam empat tingkatan atau tahapan tauhid.
a. Tauhid Rububiyah.
Secara etimologis kata rububiyah berasal dari akar kata rabb. Kata rabb ini sebenarnya mempunyai banyak arti antara lain menumbuhkan, mengembangkan, mencipta, memelihara, memperbaiki, mengelola, memiliki dna lain-lain. Maka secara terminologis Tauhid Rububiyah ialah keyakinan bahwa Allah Swt. adalah Tuhan pencipta semua makhluk dan alam semesta. Dialah yang memelihara makhluk-Nya dan memberikan serta mengendalikan segala urusan. Dialah yang memberikan manfaat dan mafsadat, penganugerah kemuliaan dan kehinaan. Tauhid Rububiyah ini tergambar dalam ayat-ayat al- Qur’an antara lain:
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan
sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui” (Q.S. al-Baqoroh :21-22)
“katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb manusia” (Q.S. an-Naas : 1) coba perhatikan juga urat Luqman : 25 dan Fathir : 3 dan masih banyak yang lainnya.
b. Tauhid Mulkiyah.
Kata mulkiyah berasal dari akar kata malaka. Isim failnya dapat dibaca dengan dua macam cara 1) Malik dengan huruf mim dibaca panjang ; berarti yang memiliki. 2) Malik dengan huruf mim dibaca pendek; yang menguasai.
Syekh Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa kata malik dengan huruf mim panjang berati yang memiliki adalah lebih sempit maknanya dari pada kata malik dengan huruf mim pendek, berarti yang menguasai. Karena memiliki belum tentu mengasai, sedangkan menguasai sudah barang tentu juga memiliki.
Maka secara terminologis Tauhid Mulkiyah adalah suatu keyakinan bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya Tuahn yang memliki dan menguasai seluruh makhluk dan alam semesta. Oleh karena itu Allah disebut sebagai Raja alam semesta. Ia berhak dan bebas melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap alam semsta tersebut. Keyakinan Tauhid Mulkiyah terekam dalam ayat- ayat al-Qur’an seperti berikut ini :
“Yang mengauasai hari pembalasan” (Q.S. al-Fatihah : 4)
“Tidaklah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah ? Dan bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong” (Q.S. al-Baqarah : 107).
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu “ (Q.S. al-Maidah: 120).
Dan apabila manusia meyakini bahwa Allah sebagai pemilik dan Penguasa alam semesta ini maka konsekuensinya ia harus menjadikan Allah
sebagai Pemimpin yang memiliki wewenang untuk menentukan sesuatu. Firman Allah :
“ Allah Pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir pemimpinya adalah taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.
(Q.S. al-Baqarah : 257).
At-Taghut dalam ayat di atas adalah segala sesuatu yang dipertuhan selain Allah Swt. dan dia suka diperlakukan sebagai Tuhan tersebut. Sayyid Quthub dalam tafsir Fi Dzilal al-Qur’an menerangkan bahwa yang dimaksud dengan at-Taghut adalah segala sesuatu yang menentang kebenaran dan melanggar batas yang telah digariskan oleh Allah Swt. untuk hamba-Nya. At- Taghut itu bisa berbentuk pandangan hidup, peradaban dan lain-lain yang tidak berlandaskan ajaran Allah.
c. Tauhid Uluhiya
Kata uluhiyah adalah mashdar dari kata alaha yang mempunyai arti tentram, tenang, lindungan, cinta dan sembah. Namun makna yang paling mendasar adalah ‘abada, yang hamba sahaya (‘abdun), patuh dan tunduk (‘ibadah), yang mulia dan agung (al-ma’bad), selalu mengikutinya (‘abada bih).
Jadi seseorang yang menghambankan diri kepada Allah maka ia harus mengikuti, mengagungkan, memuliakan, mematuhi dan tunduk kepada-Nya serta bersedia untuk mengorbankan kemerdekaannya. Dengan demikian Tauhid Uluhiyah merupakan keyakinan bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya Tuhan yang patut dijadikan ilah yang harus dipatuhi, ditaati, diagungkan dan dimuliakan.
Hal ini tersurat dalam ayat-ayat berikut ini :
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu” (Q.S. at-Thaha : 14).
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin, laki- laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu’ (Q.S. Muhammad : 19)
d. Tauhid Ubudiyah.
Kata ubudiyah berasal dari akar kata ‘abada yang berarti menyembah, mengabdi, menjadi hamba sahaya, taat, patuh, memuja, yang diagungkan (al- ma’bud). Dari akar kata di atas maka diketahui bahwa Tauhid ubudiyah adalah suatu keyakinan bahwasannya Allah Swt. merupakan Tuhan yang patut disembah, ditaati, dipatuhi, dipuja manusia melainkan Allah semata. Dia adalah tempat semua makhluk menghambakan diri dan beribadah kepada-Nya. Tauhid Ubudiyah ini tercermin dalam ayat-ayat di bawah ini :
“hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkau (pula) kami mohon pertolongan” (Q.S. al-Fatihah : 5).
“dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah dan jauhilah taghut itu, maka di antara
umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antara orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul)’. (Q.S. an-Nahl : 36)
Kemudian untuk memahami keterkaitan keempat tingkatan tauhid di atas, maka berlaku dua teori atau dalil : 1) Dalil at-Talazum; kemestian. Artinya bahwa seseorang yang meyakini Tauhid Rububiyah semestinya ia meyakini Tauhid Mulkiyah, dan meyakini Tauhid Mulkiyah sudah semestinya meyakini Tauhid Uluhiyah, dan meyakini Tauhid Uluhiyah juga semestinya meyakini Tauhid Ubudiyah. Dengan kata lain Tauhid Ubudiyah adalah konsekuensi dari Tauhid Uluhiyah, Tauhid Uluhiyah adalah konsekuensi dari Tauhid Mulkiyah, dan Tauhid Mulkiyah adalah konsekuensi dari Tauhid Rububiyah. 2) Dalil at-Tadhamun;
ketercakupan. Maksudnya setiap orang yang sudah sampai ke tingkat Tauhid
Ubudiyah tentunya sudah melalui tiga tingkatan sebelumnya. Mengapa ia beribadah kepada Allah semata ? Karena Dia adalah ilah yang patut diagungkan.
Mengapa Dia adalah ilah yang patut diagungkan ? Sebab Dia adalah pemilik dan penguasa alam semesta yang harus ditaati dan dijadikan pimpinan ? Tiada lain karena Dia adalah Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam semesta beserta segala isinya..
Apabila kita menyimak ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan tauhid selalu bergandengan dengan syirik yang merupakan kontradiksi dari tauhid. Hal ini menandakan bahwa al-Qur’an sendiri langsung turun tangan untuk membimbing umat manusia agar menjauhi syirik ini sejauh-jauhnya. Jika daikatakan bahwa tauhid adalah sumbu dalam menggapai ridha Allah, maka syirik merupakan pemicu keengganan Allah meridhai hambanya. Hal lain yang dapat dipetik dari permasalahan tersebut adalah bahwa jika kita membicarakan masalah tauhid maka kita secara reflek harus menjauhkan dari sikap syirik ini.
Itulah makanya gandengan itu menjadi sangat penting dimunculkan.
4. Tauhid dan Pembebasan Diri
Huston Smith pernah menyinggung permasalahan bahwa keengganan manusia untuk menerima kebenaran ialah antara lain karena sikap menutup diri yang timbul dari refleks agnostik atau keengganan untuk tahu tentang kebenaran yang diperkirakan justeru akan lebih tinggi nilainya daripada apa yang sudah ada pada kita. Padahal kalau saja kita membuka diri untuk kebenaran itu maka mungkin kita akan memperoleh kebaikan dan energi yang kita perlukan.
Halangan kita menerima kebenaran ialah keangkuhan kita sendiri dan belenggu yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri.
Belenggu itu ialah apa yang kita kenal dengan sebutan “hawa nafsu” yang berarti ‘keinginan diri sendiri’. Inilah sumber pribadi untuk penolakan kebenaran, kesombongan dan kecongkakan. Kita menghadapi hal-hal dari luar yang kita rasakan tidak sejalan dengan kemauan atau pandangan kita sendiri, betapapun benarnya hal dari luar itu. Hawa nafsu juga menjadi sumber pandangan- pandangan subyektif dan biased, yang juga menghalangi kita dari kemungkinan melihat kebenaran. Gambaran ini terlihat jelas pada redaksi ayat al-Qur’an :
“Pernahkah engkau (Muahammad) saksikan orang yang menjadikan keinginan (hawa nafsu) nya sendiri sebagai Tuhannya, kemudian Allah membuat mereka sesat secara sadar, lalu Dia tutup pendengaran dan hatinya, dan dikenakan oleh- Nya penutup pada pandangannya ?! Maka siapa yang sanggup memberi petunjuk selain Allah ? Apakah kamu tidak merenungkan hal itu ?. (Q.S. al- Jatsiyah : 23).
Seorang disebut menuhankan dirinya sendiri jika dia memutlakkan diri dan pandangan atau pikirannya sendiri. Biasanya orang seperti itu mudah terseret kepada sikap-sikap tertutup dan fanatik, yang amat cepat bereaksi negatif kepada sesuatu yang datang dari luar, tanpa sempat bertanya atau mempertanyakan kemungkinan segi kebenarannya dalam apa yang datang dari luar itu. Inilah salah satu bentuk kungkungan atau perbudakan oleh tiranivested interest. Gambaran tentang ini dari masa lalu dapatkan dalam firman Allah:“….Apakah setiap kali datang kepadamu sekalian seorang rasul (pembawa kebenaran) dengan sesuatu yang tidak disukai oleh dirimu sendiri, kamu menjadi congkak, sehingga sebagian (dari para rasul itu) kamu dustakan, dan sebagian lagi kamu bunuh ?! Mereka (yang menolak kebenaran) itu bertanya, “hati kami telah tertutup (dengan ilmu) !. Sebaliknya, Allah telah mengutuk mereka karena penolakan mereka (terhadap kebenaran), maka sedikit saja mereka percaya”.
(Q.S. al-Baqarah: 87).
Meskipun ayat suci itu menggambarkan kelakuan kalangan tertentu dari Bani Israil (bangsa Yahudi), namun “the moral behind the story” jelas berlaku untuk semua golongan. Pelajaran moral itu berada disekitar bahaya penolakan kebenaran (kufr) karena kecongkakan (istikbar) dan sikap tertutup karena merasa telah penuh berilmu (ghulf). Hanya dengan melawan itu semua melalui proses pembebasan diri (self liberation) seseorang akan mampu menangkap kebenaran itu seseorang akan dapat berproses untuk pembebasan dirinya. Inilah sesungguhnya salah satu makna esensial kalimat syahadat yang bersusunan negasi-konfirmasi “la ilah illa Allah” itu dipandang dari sudut efeknya kepada peningkatan harkat dan martabat kemanusiaan pribadi seseorang.
Pembebasan pribadi yang diperolehnya yang membuat seorang manusia merdeka sejati, akan menghilangkan dari dirinya sendiri setiap halangan untuk
melihat yang benar adalah benar dan yang salah sebagai salah. Bentuk-bentuk subyektifisme, baik yang positif ataupun negatif, yaitu perasaan senang ataupun benci kepada kepada sesuatu atau seseorang, tidak akan menjadikan pandangannya kabur dan kehilangan wawasan tentang apa yang sungguh- sungguh benar atau salah, dan yang baik atau buruk. Orang yang serupa itu mampu mengalahkan kekuatan tiranik (taghut), terutama kecenderungan tiranik diri sendiri pada saat ia menjadi sombong karena merasa tidak perlu kepada orang lain (Q.S. al-Alaq : 7). Orang yang terbebas itu juga selalu sanggup kembali kepada yang benar, tanpa terlalu peduli dari mana datangnya kebenaran itu. Maka ia termasuk yang mendapatkan “kabar gembira” (kebahagiaan) dan dinamakan ‘Ulul Albab”, ‘mereka yang berakal pikiran’ atau kaum terpelajar
Konsep keesaan tuhan atau tauhid di dalam Islam mempunyai kedudukan tersendiri yang sangat penting. Ia mempunyai implikasi yang sangat luas terhadap konsep dan ajaran Islam yang lain. Untuk dapat memahami hak ini, kita harus memahami kedudukan tuhan dalam Agama Islam, berdasarkan pada keterangan dari kitab al-Qur’an.
Paling tidak terdapat tiga pokok pikiran yang mendasar, sebagai landasan pijak dalam memahami sentralisasi posisi tuhan dalam ajaran al-Qur’an.
Pertama bahwa segala sesuatu selain tuhan, termasuk keseluruhan alam semesta dengan segala aspek metafisis dan moral adalah tergantung kepada tuhan. Tuhan adalah pangkal yang sekaligus ujung dari keberadaan alam raya ini. Yang mencipta alam ini dengan firman-Nya : “jadilah” (Q.S. 2 : 117; 3 : 47, 59;
6 : 73; 16 : 40; 19 : 35; 36 : 82; 40 : 68). Dalam menciptakan alam, tuhan sudah menetapkan ukuran, qadar, dari masing-masing ciptaannya. Yang dengan itu alam berjalan mengikuti aturan main tertentu yang sangat rapi. Sehingga seringkali al-Qur’an mengatakan bahwa alam semesta itu bersifat tunduk, muslim kepada tuhan (Q.S. 7 : 206; 13 : 15; 18 : 55; 15 : 16; 21 : 19; 49 : 22; 57 : 1; 59 : 1; 61 : 1). Keterangan alam yang seakan cacat itu juga tergantung kepada daya dan kekuasaan tuhan, tanpa pemeliharaan dari tuhan alam semesta itu akan hancur berantakan (13 : 22; 34 : 9; 50 : 6; 51 : 47, dan lain-lain).
Kedua, bahwa tuhan Yang maha Kuasa dan Maha Pencipta tadi adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia memelihara alam
ciptaannya dengan belas kasihnya, sebab alam ini diciptakan dengan tujuan yang tertentu dan bukan sekedar iseng atau main-main (Q.S. 3 : 191; 38 : 27), sebab : “Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada diantaranya sebagai permainan; jika kami menginginkan permainan maka kami dapat melakukannya sendiri (tanpa memalui penciptaan kami)- jika kami menghendaki (Q.S. 21 : 16 – 17).
Ketiga , bahwa aspek-aspek tersebut tentu saja mensyaratkan hubungan yang tepat diantara tuhan dan manusia, hubungan antara yang diper-Tuhan dengan hamba-Nya dan sebagai konsekuensinya juga memerlukan hubungan yang tepat antara manusia dengan sesamanya. Karena tuhan yang menciptakan alam semesta sekaligus tempat kembali, sedangkan alam semesta ini tunduk mutlak kepada tuhan dan hanya manusia yang mampu melawan hukum tuhan –hukum alam bagi manusia bersifat imperatif—maka manusia juga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan tuhan.”Apakah kalian berpikir bahwa kalian kami ciptakan dengan sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada kami ? Maha Tinggi Allah” (Q.S.
25 : 115), juga “Apakah manusia mengira bahwa ia dibiarkan begitu saja (dengan sekehendak hatinya)” (Q.S. 75 : 36).
Konsep tentang keesaan tuhan ini, selanjutnya menurunkan konsep tentang kesatuan ummat manusia sebagai sebuah komunitas yang tunggal.
Berulang kali al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia seluruhnya adalah berasal dari satu keturunan, yang tentu saja mengisyaratkan bahwa seantero umat manusia sebenarnya adalah saudara. Umat manusia itu pada hakekatnya adalah satu (Q.S. 2 : 213), meskipun secara lahiriah kondisi manusia sangat beragam. Perbedaan yang terdapat bukan saja antar individu, melainkan juga antar suku, ras dan antar bangsa-bangsa. Namun segala macam perbedaan tersebut bukanlah menjadi halangan bagi kesatuan umat manusia , justeru, menurut al-Qur’an sendiri, merupakan salah satu tanda kekuasaan tuhan yang harus dijadikan sebagai jalan menuju persatuan (Q.S. 30 : 22). Sebab , bagaimanapun juga perbedaan yang ada hanyalah faktor luas, yang perkembangannya lebih banyak disebabkan karena lingkungan yang ditempati.
Kesatuan dan persaudaraan ini kemudian mensyratkan adanya kesatuan hukum moral. Karena manusia itu secara keseluruhan adalah satu, dan punya kedudukan primordial yang sejajar di hadapan tuhan maka ukuran-ukuran moral yang diberlakukan di kalangan umat manusia, seharusnya adalah sama. Itulah sebabnya mengapa Islam sangat menekankan kesamaan derajad antar umat manusia. Tidak ada orang yang mempunyai derajad lebih tinggi dibanding yang lain di sisi Allah karena tingkat ketaqwaannya. Kelebihan-kelebihan berupa wajah, harta, keturunan, kekuasaan dan lain sebagainya tidak menjadikan hakekat kemanusiaan seseorang menjadi lebih baik.
Demikianlah, karena kedudukan tuhan dalam Agama Islam adalah sentral, maka doktrin tentang keesaan tuhan menjadi makna yang sangat mendasar. Keseluruhan bangunan ajaran Islam menjadi ‘Tuhan sentris’, sebab tuhanlah yang menjadi tempat asal segala sesuatu dan tempat kembalinya.
Konsekuensi logis dari ajaran Islam tersebut adalah segala bentuk penyimpangan terhadap prinsip dasar ini adalah sebuah kesalahan yang mendasar. Islam menyebut penyimpangan terhadap prinsip keesaaan keesaan tuhan itu sebagai syirik, yaitu menduakan terhadap tuhan. Syirik bisa berbentuk tindakan langsung, yaitu dengan mengakui adanya sesuatu yang mempunyai kedudukan, kekuasaan ataupun peran sejajar dengan tuhan. Namun bisa juga dalam wujud tindakan yang tidak langsung, berupa segala macam penyimpangan terhadap aturan-aturan, prinsi-prinsip dan tatanan nilai yang merupakan rumus turunan konsep dasar tentang keesaan tuhan. Dan al-Qur’an menyatakan bahwa syirik adalah ‘unvorgiven sin’ (dosa yang tak termaafkan).
5. Bentuk-Bentuk Syirik kepada Allah dalam al-Qur’an
kalau dikaji ayat-ayat al-Qur’an maka perbuatan syirik merupakan kontradiksi dari ajaran tauhid (ke-Esaan Tuhan). Dalam al-Qur’an kata syirik digunakan dalam arti persekutuan Tuhan lain dari Allah, baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya dan af’al-Nya, maupun seluruh aspek kehidupan dan aktifitas yang dirujukkan selain daripada-Nya. Al-Qur’an menerangkan bahwa syirik merupakan perbuatan dosa besar yang paling berat sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an berikut ini :
“Dan ingatlah tatkala Luqman berkata kepada putranya, dikala dia mengajarinya : Hai anakku ! janganlah mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah sebesar-besar aniaya”. (Q.S. Luqman : 13)
Dalam surat Luqman ayat 13 tersebut diterangkan bahwa dia telah diberi kemuliaan oleh Tuhan berupa hikmah sehingga ia terlepas dari bahwa kesesatan. Bahwa ini hikmah yang diberikan kepadanya disampaikan kepada anaknya sebagai pedoman utama dalam kehidupan yaitu : ajaran tauhid (mengesakan Allah karena tidak ada tuhan selain Allah), karena selain Allah yang ada dalam alam ini semua ciptaan, dan dalam penciptaan tersebut tuhan tidak bekerjasama dengan apapun juga.
Diakhir ayat 13 Allah menerangkan, “sesungguhnya mempersekutukan itu adalah aniaya yang sangat besar”. Memang aniaya yang sangat besar atas diri manusia, sebab tuhan mengajak manusia agar membebaskan dirinya dari segala sesuatu selain Allah. Jiwa manusia adalah mulia. Manusia dijadikan Allah sebagai khalifa-Nya di muka bumi, sebab itu hubungan manusia dengan Allah hendaklah langsung. Apabila jiwa yang dipenuhi tauhid adalah jiwa merdeka.
Apabila manusia mempertuhankan selain Allah, maka manusia sendirilah yang menjadikan jiwanya sebagai budak. Di dalam surat as-Sajadah : 9. Allah menerangkan bahwa roh/jiwa adalah Tuhan sendiri yang punya, mengapa roh begitu mulia dapat ditundukan oleh selain Allah. Firman Allah :“Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuhnya) roh (ciptaan- Nya) dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit sekali dari kamu yang bersyukur”. (Q.S. as-Sajadah : 9)
Juga lihat firman Allah :
“Sesungguhnya Allah tidak memberi ampun bagi orang yang mempersekutukan-Nya. Dan Dia akan memberi ampun selain yang demikian bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang mempersekutukan Allah, sesungguhnya dia telah berbuat dusta dan dosa yang besar”. (Q.S. an- Nisa’ : 48)
Dosa-dosa yang bukan syirik dalam pernyataan Allah tersebut masih bisa diampuni bagi yang dikehendaki-Nya. Biasanya seseorang mengerjakan
dosa besar, karena syirik telah bersarang dalam jiwanya. Nabi Muhammad SAW.
pernah mengisyaratakan dalam sabdanya : “Tidaklah mencuri seorang pencuri, melainkan karena musyrik. Tidaklah berzina seorang penzina, melainkan karena dia syirik”. Kenapa pencuri mencuri penzina berzina, karena ingatannya tidak satu lagi kepada Allah, telah diduakannya keinginannya yang jahat, sehingga hawa nafsunyalah yang memerintah dan larangan Allah tiada berarti bagi dirinya, karena azab Tuhan tidak lagi berpengaruh lagi bagi dirinya.
Walaupun demikian kalau benar-benar bertaubat, dosa syirik sekalipun dapat diampuni oleh Allah, seperti yang terjadi pada para sahabat. Maka ayat ini memberi pengertian bahwa perbuatan syirik terlebih dahulu harus disingkirkan, sebab apabila dosa syirik telah hilang dan jiwa raga sepenuhnya tertuju kepada Allah, kebaikan, perintah-perintah Allah akan terlaksana dan larangan- larangannya akan ditinggalkan dengan sendirinya.
Apabila tauhid telah dipegang teguh maka terbukalah hati untuk menerima wahyu tuhan. Karena tauhid merupakan jalan kelepasan jiwa dari segala ikatan dan bebas dari pengaruh alam, juga perhambaan secara total kepada sang pencipta Rabbul ‘Alamin. Sedangkan syirik merupakan pandangan yang mengakui adanya kekuasaan selain tuhan, jiwa budak. Maka setiap masa diutus para rasul untuk meluruskan tauhid umat manusia agar terbebas dari dosa besar seperti Ibrahim menghadapi Namrudz, Musa mengahdapi Fir’aun dan sebagainya.
Berbagai macam bentuk syirik yang diungkap oleh al-Qur’an, bentuk penyembahan berhala adalah yang paling dicela, disebabkan adanya kenyataan bahwa penyembahan terhadap berhala adalah bentuk syirik yang paling mengerikan dan paling merajalela pada waktu datangnya Islam. Berhala bukan hanya disembah juga dianggap bisa mendatangkan kemalangan dan keuntungan. Firman Allah :
“Ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik), dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan mereka supaya mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”, “sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka
tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan sangat ingkar”. (Q.S. az-Zumar : 3)
Pada zaman sekarang, sebagian kaum menyembah berhala modern juga mengemukakan dalih seperti di atas, mereka berkata patung itu hanya digunakan untuk memusatkan perhatian (konsentrasi). Artinya dengan menghadap patung itu ia dapat memusatkan pikiran dalam tafakurnya kepada Tuhan. Di samping penyembahan kepada berhala, al-Qur’an juga melarang memberikan sesaji dengan anggapan bahwa sesaji itu akan sampai kepada Tuhan, padahal sebenarnya tidak sampai, melainkan hanya kepada berhala-berhala itu. Firman Allah :
“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Alla, lalu mereka berkata sesuai dengan perkiraan mereka : “ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sajian yang diperuntukkan berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah dan sesajen yang disampaikan kepada Allah, maka sajian itu hanya sampai kepada berhala- berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka”. (Q.S. al-An’am : 136).
Bentuk syirik yang lain juga diungkapkan dalam al-Qur’an, ialah penyembahan terhadap benda-benda alam. Firman Allah :
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan-Nya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (Q.S. Fushilat : 37)
al-Qur’an melarang penyembahan terhadap matahari dan bulan, ini bukan saja berlaku bagi benda-benda langit, melainkan bagi semua kekuatan alam yang sebenarnya sering diungkapkan oleh al-Qur’an untuk melayani kembutuhan manusia, sebagai khalifah di bumi.
Bentuk syirik yang lain dikecam oleh al-Qur’an ialah bahwa Allah mempunyai anak laki-laki atau perempuan. Kaum Arab Jahiliyah mengaku
bahwa Allah mempunyai anak perempuan, sedang agama Nasrani mengajarkan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki . Seperti firman Allah :
“Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak laki-laki)’. (Q.S. an-Nahl : 57).
Itulah sebabnya al-Qur’an pada awalnya tidak memperkenalkan Tuhan kepada nabi Muhammad Saw. bukan sebagai Allah., tetapi sebagai Rabbuka.
Hal ini untuk menggaris bawahi wujud Tuhan Yang Maha Esa, yang dapat dibuktikan melalui ciptaan atau perbuatan-Nya. Lebih jauh lagi, tidak digunakannya kata “Allah” pada pada wahyu-wahyu pertama itu adalah dalam rangka meluruskan keyakinan kaum musyrik, karena mereka juga menggunakan kata “Allah” untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan mereka tentang Allah berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh Islam.
Mereka misalnya beranggapan bahwa ada hubungan antara “Allah”
dengan jin (Q.S. ash-Shafaat : 158), dan bahwa Allah memiliki anak-anak wanita (Q.S.al-Isra’ : 40) serta manusia tidak mampu berhubungan dan berdialog dengan Allah, karena Dia demikian tinggi dan suci, sehingga para malaikat dan berhala-berhala perlu disembah sebagi perantara-perantara mereka dengan Allah (Q.S. az-Zumar : 3)
6. Hubungan Manusia dengan Tuhan
Al-Qur’an memiliki konsep dalam rangka untuk mencapai masyarakat, bangsa, manusia dan dunia sejahtera menuru versi Islam adalah sejahtera lahiriyah bathiniyah, materiil dan spirituil, manusia yang utuh secara totalitas, sebagaimana firman Allah :
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’’ ada tanda (kekuasaan tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri (kepada mereka dikatakan) : “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu)
adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah tuhan Yang Maha Pengampun”
(Q.S. as-Saba’ : 15)
Pada surat al-Baqarah : 201 lebih ditegaskan lagi,
Dan diantara mereka ada yang berdo’a : Ya tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.
Dapat hidup damai, santai dan bebas dari rasa takut dan cemas, termasuk disinggung oleh al-Qur’an sebagai unsur sejahtera yang harus diusahakan, sebagaimana firman Allah :
……Berjalanlah kamu dalam negara itu baik malam maupun siang dalam keadaan aman, sentosa, bebas dari rasa takut dan dengan aman (Q.S. Saba’ : 18).
Bila kita kumpulkan unsur-unsur sejahtera menurut versi al-Qur’an diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Ketentuan rohani karena cukup kesempatan (waktu, tempat, kebebasan) untuk bakti kepada Allah (hablum Minallah) di jelaskan dalam surat az- Zumar : 23.
b. Adanya kemampuan dan fasilitas untuk mengerjakan ibadah kepada tuhan termasuk menunaikan ibadah haji dan zakat.
c. Keserasian hubungan antar individu, antar keluarga, masyarakat dan bangsa. Firman Allah, “Ya Allah jadikanlah kehidupanku dengan isteriku/suamiku dan anak-anakku qurrata a’yun (ketentraman mata, kesejukan pandangan dan suasana)”.
d. Sehat jasmani dan rohani.
e. Cukup sandang dan pangan. “Sungguh Allah melimpahkan rizkinya (pangan) yang melimpah ruah (Q.S. Nuh: 11)
f. Adanya jaminan hukum dan hak asasi, “Allah akan memantapkan landasan hukum dalam kamu beragama dan hendaknya dibebaskan tiap-tiap manusia
dari rasa takut dan jaminan hukum sebebas-bebasnya dalam ibadah kepada-Ku”. (Q.S. an-Nur : 55)
g. Keleluasaan tersedianya fasilitas pendidikan dan adanya kesempatan kerja yang seuai dengan bakatnya tanpa diskriminasi. “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu memberikan amanat (kesempatan kerja kepada orang-orang yang berhak (mampu) melaksanakannya) (Q.S. an-Nisa' :’58).
Norma-norma di atas bukanlah konseptual utopis, bukan khayalan, bukan juga barang yang diharapkan jatuh dari langit, tetapi al-Qur’an memberikan syarat dalam usaha mencapai target konsepsi masyarakat sejahtera tersebut melalui cara-cara ilmiah rasional.
7. Hubungan Manusia dengan Manusia.
Islam dengan ajaran yang dibawanya, bertujuan menwujudkan kesejahteraan (kemashlahatan) hidup dan kehidupan manusia. Kesejahteraan yang dikehendakinya itu, adalah kesejahteraan yang utuh, material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi baik bagi individu maupun kehidupan kolektif masyarakat.
Oleh karena itu, keadailan sebagai sentral terwujudnya kesejahteraan merupakan salah satu tema yang berulangkali diserukan dalam al-Qur’an.
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah menjadi saksi dengan adil, janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Maidah : 8)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila hendak menetapkan suatu hukum diantara manusia suapaya kamu menetapkan dengan adil . Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Q.S. an-Nisa’
: 58).
Memang, keadilan merupakan permasalahan yang mendasar dan langsung menyentuh status, eksistensi, harkat dan hak-hak sosial bagi hidup dan kehidupan manusia. Karena itu, seberapa jauh keadilan itu dapat ditegakkan atau justeru diacuhkan, maka sejauh itu pula kesejahteraan atau penderitaan sosial akan dirasakan. Nabi Muhammad SAW yang oleh Allah dinyatakan sebagai rahmat bagi seluruh alam (Q.S. al-Anbiya” : 107), meletakkan kesejahteraan yang memperoleh perhatian cukup intents di dalam al-Qur’an sebagai sesuatu yang sangat diutamakan. Realitas kehidupan yang diluputi ketidakadilan pada masyarakat Mekkah jahiliyah, jelas telah meruntuhkan nilai- nilai kemanusiaan, kesejahteraan dan keadilan sosial mereka. Muhammad SAW dengan kemampuan intelektual, kebersihan jiwa, keluhuran budi pekerti, selalu berfikir dan berusaha untuk menemukan jalan keluarnya. Sejarah mencatat, bahwa pada periode tersebut beliau banyak sekali mencurahkan waktu, pikiran dan upaya untuk kepentingan tersebut.
Di dalam menghadapi kultur sosial kehidupan jahiliyah yang sudah merasuk ke seluruh aspek dan jaringan kehidupan masyarakat Makkah ketika itu, Islam yang menjadikan kesejahteraan umat manusia sebagai tujuan kehadirannya, mengangkat pertama kali sebagai fokus permasalahannya yang serius ialah, masalah keberagamaan dan sistem sosial (khususnya di bidang ekonomi). Kedua aspek tersebut merupakan kunci-kunci penentu dan sentral bagi terwujudnya atau tidaknya kesejahteraan hidup manusia. Karena itu periode awal kenabian Muahmmad SAW, al-Qur’an mencela dua macam aspek yang saling berhubungan erat di dalam masyarakat tersebut : 1. polyteisme yang merupakan gejala segmentasi masyarakat dan 2. ketimpangan perekonomian yang ditimbulkan oleh serta yang menyuburkan perpecahan yang sangat tidak diinginkan diantara sesama manusia. Memang terhadap permasalahan yang menyangkut harta benda (ekonomi), al-Qur’an memberi perhatian khusus. Dalam masalah harta warisan misalnya, al-Qur’an menyajikan sedemikian rinci seperti dalam surat an-Nisa’ : 10-12 dan 176 bila dibandingkan dengan dan memperhatikan keseluruhan ajaran (ayat-ayat) yang dibawanya lebih banyak
bersifat global. Di dalam surat al-Fajr yang tergolong dalam kelompok Makkiyah, dikatakan :
“Manusia, apabila tuhan memujinya dengan dimuliakan dan dengan kesenangan, maka dia berkata:”Tuhanku telah memuliakan aku.”Sedang apabila tuhan mengujinya dengan membatasi rizkinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakan aku.”sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim ; dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampuradukkan (yang hak dan yang bathil); dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebih-lebihan”. (Q.S. al-Fajr : 15-20).
Kecintaan yang berlebih-lebihan terhadap harta benda yang dikecam d dalam surah tersebut di atas, karena selain bisa menimbulkan keserakahan dan ketidak pedulian sosial, terutama akan menempatkan posisi harta benda tersebut sebagai yang dicntai, setidaknya-tidaknya sejajar dengan bahkan bisa melebihi dibandingkan dengan keharusan kecintannya kepada tuhan. Bila demikian, maka permasalahan persoalan sosial ekonomi yang dengan adanya atau tidak adanya kesejahteraan hidup manusia, bukan sekedar permasalahan sosial atau moral, tetapi langsung terkait dan sangat erat mengacu pada permasalahan teologis. Di situlah terdapat hubungan erat antara sikap beragama dan masalah sosial.
Karena itu al-Qur’an dengan tegas mencela polyteisme dan ketimpangan perekonomian, sebagaimana diungkapkan di atas. Lebih dari itu terdapat keserakahan dan ketidakpedulian sosial, al-Qur’an memandangnya sebagai sikap mendustakan agama sekalipun terhadap-orang-orang yang tekun dan konstan melaksanakan shlat (Q.S. 107: 1-7). Namun sebagaimana kita ketahui Islam sama sekali tidak melarang untuk berusaha dan mencari kekayaan.
Bahkan Islam mendorong umatnya agar giat bekerja dan memandang kekayaan sebagai karunia dan kebaikan dari Allah (Q.S. 62: 10; 22 : 11)
Kesejahteraan umat Islam sebagai yang dituju oleh Islam, yang akan terealisisr dengan adanya sikap dan prilaku adil dan keadilan, adalah kesejahteraan dalam arti seluruhnya dan bukan dalam keadilan, adalah kesejahteraan dalam arti seluruhnya dan bukan dalam keadilan ekonomi saja.
Jadi, kalau di atas dibicarakan masalah keadilan sosial ekonomi, hal itu hanya merupakan salah satu aspek saja dan al-Qur'an memang berulangkali menyorotinya secara tajam. Permasalahan ekonomi merupakan permasalahan sensitif serta menimbulkan sikap keserakahan dan ketidakpedulian sosial.
Karena itu al-Qur’an menganjurkan menempatkan status, peranan dan fungsi harta benda ke tempat yang sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan kecintaan yang berlebihan dibandingkan dengan kecintaannya kepada tuhan.
Keadilan memang mencakup seluruh aspek kehidupan dan keberadaan manusia. Dengan tegaknya keadilan, manusia baik sebagai individu maupun bersama-sama akan memperoleh hak dan kebebasan, selain kewajiban- kewajibannya tentunya sebagai potensi diri yang dianugerahkan tuhan kepadanya. Karena itu, perbudakan, tindakan mengeksploitasi orang-orang lemah, ketidakpedulian terhadap anak yatim dan orang-orang miskin serta yang senafas dengan itu, sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam. Dengan kata lain, keadilan menghendakinya adanya persamaan antara sesama manusia. Karena itu, di dalam upaya mengadakan pengkajian nilai-nilai teologis terhadap hubungan manusia dengan sesamanya, barangkali harus berangkat dari suatu postulat, bahwa manusia adalah umat yang satu dan berada dalam kesatuan atau keesaan (ummatan wahidah). Yakni, manusia berada dalam keesaan kemanusiaan, keesaan penciptaan, keesaan dalam memperoleh petunjuk (agama) dan keesaan tujuan (dalam memperoleh kesejahteraan yang diridhai Allah). Bila demikian, maka keadilan merupakan syarat mutlak dan modal utama bagi keberhasilan pembangunan manusia seutuhnya.
Tuhan, manusia dan alam semesta, merupakan kesatuan konsepsi teologis. Manusia sebagai abdi-Nya harus hidup utuh tauhidi. Karena itu, manusia sebagai abdi sekaligus dinyatakan sebagai khalifah-Nya (Q.S. al- Baqarah: 30) dan (Q.S. al-An’am : 165) dan sebagainya. Manusia harus tetap konsisten berkeimanan di dalam seluruh aktivitasnya agar harta benda dan anak keturunan tidak menjadikan manusia lupa untuk berzikir kepada-Nya (Q.S. al- Munafiqun: 9). Lebih dari itu manusia di dalam giat mencari kekayaan harta benda serta menikmatinya, jangan sampai melebihi daripada keharusan kecintannnya kepada tuhan (Q.S. al-Baqarah : 165). Dari beberapa pokok
pembicarann ayat-ayat di atas dapat diambil pengertian, bahwa aktivitas manusia tidak terlepas dari nilai ke-Tuhanan, baik dalam proses, pengelolaan maupun penggunaannya.
Selanjutnya, manusia dalam hubungan dengan antar sesamanya dinyatakan, bahwa manusia itu sama, kecuali karena sikap ketaqwaannya (Q.S.
al-Hujurat : 13). Memang, manusia adalah sama dan satu serta berada dalam kesatuan (keesaan) yaitu keesaan penciptaan, keesaan kemanusiaan, keesaan dalam memperoleh petunjuk (agama) dan keesaan tujuan (tujuan memperoleh kesejahteraan yang diridhoi Allah). Dengan demikian berarti, bahwa manusia tidak beradu otoritas sesamanya, kecuali hanya tunduk dan taat kepada tuhan.
Kalau dikatakan manusia yang satu berbeda dengan manusia lainnya, bukan berarti karena kemanusiaannya, melainkan karena kelebihan yang satu daripada yang lain, dengan ketaqwaan dan ilmu pengetahuannya. Di atas dasar-dasar inilah, agama menekankan adanya keadilan, sebagai modal utama bagi terwujudnya kesejahteraan ummat manusia. Karena itu, pembangunan yang tetap berlandaskan nilai ke-Tuahanan, adalah pembangunan yang berkeadilan, baik dalam proses, pengelolaan maupun pemerataan hasil-hasilnya.
Jadi kalau di atas diungkapkan mengenai keesaan aqidah, keesaan ibadah dan keesaan mu’amalah, adalah segala aktifitas manusia, baik dengan sesamanya maupun dengan lingkungannya, yang di dalamnya selalu berlandaskan kepada ajaran dan diyakini adanya hubungan dengan tuhan.
Dengan keesaan mu’amalah dalam beraktivitas sosial itulah tentunya segala sesuatu yang dihasilkan tidak menghilangkan (mengaburkan) tujuan dan hikmah tuhan menciptakan ciptaan-ciptaan-Nya. Selain itu, kalau diakui manusia bebas dari otoritas sesamanya dan berada dalam keadilan dan kebaikan, maka keterbelakangan, kebodohan dan kemelaratan yang terdapat di sementara umat, hal itu bukan kehendak (yang dikehendaki) dan perbuatan tuhan, melainkan karena manusia itu sendiri, serta penyebabnyapun dicari di dalam kehidupan antar sesamnya. Oleh karena itu, pembangunan adalah pembangunan yang berkeadilan dengan segala perwujudannya.
Akhirnya, kalau manusia dikatakan sebagai khalifah di atas bumi, dengan tugas sebagai pemakmuran dan dalam hubungannya dengan keesaan