Bedah Substansi Green Business Oleh Mutamimah
Green menjadi topik hangat yang menarik diperbincangkan akhir-akhir ini. Di banyak Negara, termasuk Indonesia, dan di beberapa kota, banyak sekali kegiatan bertemu green.
Virus green menyebar ke masyarakat melalui stiker mobil, spanduk, dan billboard di tepi jalan terpampang tulisan misalnya Indonesia go green, green economy, green business, green society, green budgeting, green banking, green ICT, green campus, dan sebagainya. Apa makna yang tersirat pada fenomena tersebut?
Isu kerusakan lingkungan, polusi udara, banjir, sulitnya air bersih, mahalnya harga kebutuhan pokok, banyaknya jajanan anak-anak mengandung pewarna sintetis, dan makin banyaknya pemakaian Styrofoam sebagai wadah makanan dan minuman yang mengancam kesehatan konsumen, telah menyadarkan masyarakat akan arti pentingnya hidup sehat, serta kebutuhan produk dan jasa yang ramah lingkungan.
Green business merupakan salah satu aktivitas untuk mewujudkan green economy. Saat ini, green business masih dipahami sangat sempit dan diimplementasikan secara terpotong- potong, baru terbatas pada aktivitas ramah lingkungan jangka pendek dan hanya setiap ada event. Misalnya kampanye tidak membuang sampah sembarangan, gerakan efisiensi pemakaian energy listrik, dan lain-lain. Bahkan banyak perusahaan yang membranding produk atau institusinya sebagai green company, green factory atau mengklaim sudah memproduksi green product. Namun secara substansi, belum menyentuh esensi sebenarnya.
Green business tidak akan mencapai tujuan yang hakiki, jika hanya dipahami dan diimplementasikan secara sepotong-sepotong. Green business diwujudkan melalui bagaimana memilih dan mentransformasi input menjadi output yang ramah lingkungan, hemat energy, minim gas karbon, bagaimana menantarkannya kepada konsumen dengan kemasan cantik dan mudah didaur ulang sehingga punya nilai lebih.
Implementasi strategi bisnis ini harus didukung inovasi dan teknologi informasi, tergambarkan dengan jelas bagaimana sebuah perusahaan mendesain dan mengatur buangan limbah, mengemas produk, mendaur ulang sampah, mengurangi penggunaan bahan baku dan energi, serta mengolah kembali kemasan untuk dijadikan produk baru yang lebih bermanfaat.
Inilah yang dimaksud holistic green business.
Komitmen stakeholder
Green input menunjukkan bahwa perusahaan harus menggunakan bahan baku yang aman bagi kesehatan konsumen, ramah lingkungan, dan efisien energy. Sony Ericson mengeluarkan ponsel model greenheart yang bahan bakunya memiliki emisi karbon lebih rendah 15% dari model lainnya, serta menggunakan kemasan yang lebih kecil, dan plastik daur ulang.
Perusahaan dalam hal ini bias bekerja sama dengan pemasok untuk menyediakan bahan baku terstandar yang ramah lingkungan, dan dapat didaur ulang. Contoh green process seperti
dilakukan perusahaan IBM yang menemukan metode mendaur ulang lapisan silicon yang sering menjadi limbah dalam produksi chip dan menjadikan sebagai bahan yang digunakan untuk menciptakan panel surya.
Green marketing adlaah bagaimana membungkus produk dengan bahan yang efisien (green packaging), bagaimana mempromosikan produk, serta mengantarkannya ke konsumen dengan cara efisien enegri, efisien penggunaan kertas, dan ramah lingkungan. Misalnya perusahaan mengiklankan produknya melalui internet, dan sebagainya.
Jadi, green business tidak hanya sekadar slogan, tulisan iklan, atau angan-angan namun kita harus mengimplementasikan secara holistic. Green business harus menjadi jiwa dan napas dalam aktivitas bisnis, dan hal itu memerlukan keseriusan serta komitmen semua stakeholder untuk mengimplementasikannya. Misalnya dukungan pemerintah melalui aturan produk yang boleh dijual dengan standar green, dukungan dan kesadaran masyarakat, perusahaan, serta perbankan. Namun jika berbagai pihak yang terkait dalam bisnis tidak memanfaatkan momentum ini dengan baik maka berbagai peluang atas potensi green business terbuang sia- sia.