BAB I PENDAHULUAN
A. Rasionalisasi Pentingnya Critical Book Review
Critical Journal Review adalah tulisan tentang isi sebuah artikel, tetapi lebih menitikberatkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi dan analisis) mengenai keunggulan dan kelemahan artikel tersebut, apa yang menarik dari artikel tersebut, bagaimana isi artikel tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir kita dan menambah pemahaman kita terhadap suatu bidang kajian tertentu.
Dengan kata lain, melalui critical journal review kita menguji pikiran pengarang/penulis berdasarkan sudut pandang kita berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Salah satu alasan penulis juga melakukan critical journal review adalah mengembangkan budaya membaca, berpikir sistematis dan kritis serta mengekspresikan pendapat.
B. Tujuan Penulisan Critical Journal Review
Tujuan penulisan critical journal review sebagai berikut:
1. Mengembangkan budaya membaca, berpikir sistematis dan kritis serta mengekspresikan pendapat.
2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam jurnal.
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh jurnal terkait.
C. Manfaat Critical Journal Review
Manfaat dari critical journal review antara lain:
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Statistika Inferensial 2. Mengembangkan pemikiran yang sistematis dan kritis.
3. Dapat mengekspresikan pendapat penulis.
4. Dapat menambah wawasan penulis.
BAB II
RINGKASAN ISI ARTIKEL
Banyak penelitian yang dilakukan di berbagai negara dan pada tingkat pengajaran Geometri yang berbeda baik menengah, menengah, dan bahkan perguruan tinggi, semua membuktikan perlunya perubahan dalam kurikulum dan di kelas sehingga siswa dapat meningkatkan tingkat pemikiran mereka ke deduksi informal dan formal ketika mempelajari geometri.
Salah satu penelitiannya: “Pengembangan Penalaran Geometri di Sekolah Menengah: Hasil Uji Coba Kegiatan Pembelajaran di Kelas”. Laporan dari Southampton/Hampshire Group ke Qualifications and Curriculum Authority - Margaret Brown, Keith Jones & Ron Taylor - November 2003 (Penelitian ini dilakukan pada siswa sekolah menengah).
Definisi Penelitian Tindakan: “Penelitian tindakan adalah bagian alami dari pengajaran. Guru terus mengamati siswa, mengumpulkan data dan mengubah praktik untukmeningkatkan pembelajaran siswadan lingkungan kelas dan sekolah. Penelitian tindakan menyediakan kerangka kerja yang memandu energi guru menuju pemahaman yang lebih baik tentang mengapa, kapan, dan bagaimana siswa menjadi pembelajar yang lebih baik.” A. Christine Miller (2007).
Menurut Miller, ada lima fase penelitian tindakan:
1. Memilih Area atau Fokus
Memecahkan masalah Matematika pada siklus 3 (Tingkat kelas: G7, G8, dan G9)
Dua Contoh dianggap dengan judul yang sama: "Segmen tertentu dalam segitiga"
Masalah Satu: Geometri adalah bagian wajib dari Aritmatika ke Aljabar Prasyarat: Properti dalam Segitiga sebagai:
• Jumlah sudut dalam segitiga adalah 180◦
• Pengertian sudut luar.
• Garis bagi, median, dan tinggi dalam segitiga apa pun.
a) Pendekatan Numerik:
Diberikan: Segitiga ABC, AC > AB
[AD] adalah garis bagi sudut A pada segitiga ABC [AH] adalah tinggi dalam segitiga ABC
n> ^^ m
Dibutuhkan
Menentukan: ( n− ^^ m¿
Menghitung ^x sudut antara tinggi dan garis bagi melalui titik sudut A Solusi Pertama:
^A+ ^B+ ^C = =92+56+32 = 180◦ (jumlah sudut dalam segitiga) n^ =56+46 = 102◦ (sudut luar segitiga ABD)
m^ =32+46 = 78◦ (sudut luar segitiga ADC) n− ^^ m =102-78 = 24◦
n+ ^^ m+90=180 (jumlah sudut pada segitiga AHD), maka
^x=90−^m=90−78=12 , sehingga
^x=24 2 =12°
Solusi kedua
^A+ ^B+ ^C =92+56+32 = 180◦ (jumlah sudut pada segitiga ABC) n^ + 46 + 32 =180◦ (jumlah sudut pada segitiga ADC)
m^ +46+56 = 180◦ (jumlah sudut pada segitiga ABD) n^ + 46 + 32 = m^ +46+56 , maka
n− ^^ m =46+ 56 - 46 -32 = 24◦
^x+ ^m +90 =180◦ (jumlah sudut pada segitiga AHD), maka
^x = 90 −^m =90-78 = 12◦ , sehingga
^x=24 2 =12°
b) Pemodelan melalui perhitungan literasi
n= ^^ a+2b^ (sudut luar segitiga ABD);
m=^^ a+2c^ ( sudut luar segitiga ACD); Kemudian, n− ^^ m=^a+2b^−(a+2^ c^)=2b+^ 2c^
^x=90−^m (dalam segitiga AHD);
n= ^^ x+90 (sudut luar ke segitiga AHD), maka 90=^n− ^x
^x=( ^n−^x)−^m ,
2x^=^n− ^m=2b−2^ c^ ;̂karena itu,
^x=^b−^c atau ^x=1
2(2c−2^ c^)=1
2( ^n−^m)
Model: Dalam setiap segitiga ABC (dari sudut yang sesuai ^A ,B^ dan C^ .) sedemikian sehingga AC > AB, sudut antara garis-bagi dan tinggi di
titik A atau sudut ^A selalu sama dengan 1
2( ^B− ^C) .
Soal Dua: Demonstrasi Geometris - Analisis Masalah dan Generalisasi Prasyarat:
• Teorema titik tengah dalam Geometri.
• Median dalam segitiga Diberikan:
Segitiga ABC apa saja
[AD] adalah median dalam segitiga ABC
Gambarlah setengah garis melalui B dan perpanjang ke sisi berpotongan [AC] di titik F sedemikian rupa sehingga [BF] memotong [AD] di titik tengahnya E.
Tunjukkan bahwa AF = AC
Petunjuk:
1- Reproduksi gambar yang diberikan dan tentukan sifat [BE] dalam segitiga ABD.
2- Ada kebutuhan untuk membagi [AC] menjadi 3 bagian yang sama.
3- Gambar garis semi [DL) sejajar dengan (BF); [DL) memotong sisi [AC] di titik G.
4- Tentukan posisi segitiga wrt G BFC
5- Pertimbangkan dua segitiga: ADG dan BFC
6- Terapkan teorema titik tengah dalam segitiga ADG dan BFC Solusi :
Terapkan teorema titik tengah :
Segitiga BFC: CD CB=CG
CF=1 2 Segitiga ADG: AE
AD=AF AG=1
2 Maka AF = FG = GC atau AF = 1
3 AC
2. Mengumpulkan Data
3. Data pengorganisasian
Dua kesimpulan dari persentase yang dikumpulkan:
• Sulit untuk berpindah dari aritmatika ke aljabar, dan Geometri adalah kebutuhan
• Sebagian besar siswa gagal memecahkan masalah matematika tanpa petunjuk.
4. Menganalisis dan menafsirkan data-Mempelajari literatur profesional Dua teori pendukung untuk pendekatan kami:
• Pierre M. Van Heile (Belanda)
• Alain Kuzniak (Perancis)
Pierre M. Van Hiele Model Perkembangan Pertumbuhan Geometris
Menurut M.Crowley :
1. Visualisasi yaitu Konsep geometris sehubungan dengan pelajar adalah bentuk holistic tanpa detail atau aturan.
2. Analisis yaitu pada tingkat ini, analisis konsep geometris dimulai dimana gambar memiliki bagian atau elemen dan bukan hanya keseluruhan atau bentuk.
3. Pengurangan informal yaitu pada tingkat ini peserta didik dapat membangun keterkaitan sifat-sifat-sifat baik dalam satu gambar maupun di angka yang berbeda.
4. Deduksi yaitu Pada tingkat ini, pembelajar dapat menggunakan deduksi untuk menetapkan teori geometris tertentu dalam sistem aksiomatik. Ada pemahaman tentang perbedaan, hubungan antara, dan peran istilah, aksioma, postulat, definisi, teorema, dan bukti.
5. Kelakuan yaitu Pada tahap ini pelajar dapat bekerja dalam sistem aksiomatik yang berbeda, seperti geometri non-Euclidean dan dapat membandingkan antara sistem yang berbeda. Geometri diangkat ke tingkat abstraknya.
Properti Model Van Hiele :
1. Berurutan Ini adalah prosedur linier di mana pelajar mengikuti urutan tertentu.
2. Kemajuan Van Hiele menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk mengajarkan
"kemampuan murid yang terampil di atas tingkat yang sebenarnya, seperti seseorang dapat melatih anak-anak kecil dalam aritmatika pecahan tanpa memberi tahu mereka apa arti pecahan, atau anak-anak yang lebih tua dalam
Visualization Informal
Deduction
Rigor Deduction
Analysis
membedakan dan mengintegrasikan meskipun mereka tidak tahu. apa hasil bagi diferensial dan integral".
3. Intrinsik dan Ekstrinsik Obyek-obyek yang melekat pada satu level menjadi objek kajian pada level berikutnya.
4. Linguistik "Setiap tingkat memiliki simbol linguistiknya sendiri dan sistem hubungan sendiri yang menghubungkan simbol-simbol ini".
5. Ketidakcocokan: Jika pelajar berada pada satu tingkat dan instruksi berada pada tingkat yang berbeda, perolehan pengetahuan yang diinginkan mungkin tidak tercapai.
Pendapat Kuznizk dalam klasifikasi pembelajaran geometri : 1. Geometri I (Geometri Alam)
Dalam tingkat Geometri ini, penalaran didasarkan pada pengalaman dan intuisi; itu didasarkan pada kenyataan. Pada tingkat ini pembelajar beroperasi sesuai dengan persepsi langsungnya kemudian bereksperimen dan menyimpulkan setelah bertindak pada objek material dan penggunaan instrumen. Contohnya Buatlah sebuah segitiga dengan panjang sisi-sisinya 4 cm, 8 cm, dan 10 cm.
2. Geometri II (Geometri Aksiomatik Alami)
Pada tingkat ini, siswa dapat membenarkan keabsahan keberadaan berdasarkan hukum deduktif hipotetis dalam sistem aksiomatik. Sistem aksioma yang diperlukan harus sedekat mungkin dengan intuisi atau kenyataan di sekitar pelajar. Contoh : Segitiga tertentu dapat terlihat aneh atau bahkan tidak ada untuk kombinasi panjang 4cm, 4cm, dan 10cm. Di sini muncul gagasan korelasi aksioma antara panjang tiga sisi untuk sebuah segitiga ada.
3. Geometri III ( Geometri Aksiomatik Formalis)
Pada level ini terjadi pemutusan antara realitas dan aksioma. Sistem aksioma tidak dapat memiliki hubungan dengan kenyataan. Dalam fase Abstraksi Geometri ini dicapai dengan menggunakan penalaran yang mirip dengan
Geometri II tetapi tidak bergantung pada validitas atau keberadaan atau aplikasi dalam kehidupan nyata. Ide yang mengatur adalah tidak adanya kontradiksi atau konsistensi. Contoh : hubungan antara panjang sisi untuk sebuah segitiga sekarang dapat digantikan oleh hubungan vektor teorema Chasles yang tidak hanya berlaku untuk segitiga.
Kesimpulannya yaitu :
Geometri I meliputi: visualisasi, analisis, dan deduksi informal.
Geometri II meliputi: transisi dari deduksi informal ke level deduksi.
Geometri III meliputi: transisi dari tingkat deduksi ke tingkat abstrak atau rigor.
BAB III PEMBAHASAN
A. Kelebihan Jurnal
1. Dari aspek ruang lingkup isi jurnal sudah baik karena menurut saya jurnal telah memaparkan poin-poin penting yang seharusnya ada dalam jurnal seperti telah memaparkan mengenai tujuan dari penelitiannya, menjelaskan latar belakang dari penelitiannya, yakni memaparkan apa yang menjadi masalah yang ingin diteliti olehnya. Itu dapat dilihat dalam pemaparannya didalam pendahuluan dalam jurnal ini. Jika dilihat dari segi isinya sudah baik dimana penulis menyertakan metode penelitian dengan jelas, serta teknik analisis serta pengumpulan data dengan jelas.
2. Dilihat dari aspek tata bahasa jurnal tersebut menurut saya jurnal tersebut cukup mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang sederhana.
3. Untuk penyelesaian masalah dilakukan secara jelas dan bertahap.
B. Kekurangan Jurnal
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Jurnal Demonstration in Euclidean Geometry yang ditulis oleh Dr. Naim Rouadi dan Noha Husni telah mencakup secara umum informasi yang diperlukan, yaitu seperti:
Topik dalam jurnal
Topik dalam jurnal tersebut menarik
Judul jurnal sudah spesifik karena sudah menunjukkan maksud dan tujuan penelitian yaitu untuk meningkatkan pemecahan masalah siswa.
Abstrak dalam jurnal tersebut singkat, padat dan jelas dan di dalam abstrak tersebut terdapat tujuan, metode penelitian dan hasil penelitian.
Bahasa yang digunakan mudah dipahami.
Penjelasan dasar dari setiap materi disajikan dengan sangat baik dan jelas.
Penyajian data hasil penelitian model pembelajaran berbasis masalah disajikan dengan jelas dalam bentuk tabel sehingga memudahkan pembaca melihat hasil dari penerapan model pembelajaran tersebut.
B. Saran
Makalah CJR ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penyajian bahan maupun dalam segi penulisan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca agar pembuatan maklah ini bisa berguna bagi pembaca hususnya bagi pendidikan di Indonesia.