• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELAJAR TENTANG KAMPUNG CODE

N/A
N/A
venn

Academic year: 2023

Membagikan "BELAJAR TENTANG KAMPUNG CODE"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

KAMPUNG CODE

Kota Yogyakarta memiliki banyak sekali destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi, diantaranya ada sebuah kampung hasil restorasi mengagumkan dari kampung yang awalnya hanyalah sebuah kampung biasa. Kampung ini awalnya adalah tempat pembuangan sampah dihuni oleh masyarakat kurang mampu, masyarakat yang dianggap sebagai masyarakat strata terbawah, seperti PSK, pencopet, atau gelandangan. Kampung ini bernama Kampung Code, kampung yang berada di bantaran Kali Code, Yogyakarta. Kampung Code awalnya merupakan tempat pembuangan sampah, kemudian penduduk miskin di Yogyakarta mulai membangun rumah di sana. Rumah-rumah dibangun dari apa pun yang bisa mereka selamatkan. Kebanyakan terbuat dari karton yang dilapisi terpal plastik, sehingga tidak tahan lama saat hujan deras. Selama bertahun-tahun, Kampung Code merupakan daerah kumuh yang terkenal buruk. Kondisi kehidupan buruk dan kejahatan merajalela. Kemudian, pada tahun 1983, pemerintah berencana menghancurkan seluruh desa. Proyek ini dihentikan oleh tokoh masyarakat Willi Prasetya dan mantan pastor Katolik Yousef B. Mangunwijaya atau sering dipanggil Romo Mangun.

Kisah Romo Mangun dengan Kampung Code

Kisah ini bermula pada tahun 1980-an, saat itu bantaran Kali Code di pusat kota Yogyakarta dipenuhi gubuk-gubuk kardus ilegal. Penghuninya berubah dan tidak diakui oleh otoritas setempat.

Konon penggusuran terjadi berkali-kali namun tidak pernah berhasil, kabin-kabin baru dibangun kembali dan diperbanyak dengan lebih cepat. Kampung Code sempat terancam digusur oleh pemerintah

setempat pada tahun 1980an. Penggusuran ini dikarenakan Kampung Code dianggap sebagai kawasan kumuh yang menjadi tempat tinggal para pendatang. Warga Desa Code saat itu tinggal di bangunan semi permanen yang hanya terbuat dari kardus bekas yang dilapisi plastik, berlantai tanah dan tidak ada lampu listrik pada malam hari. Berkat kehadiran Romo Mangunwijaya alias Romo Mangun, kawasan Code tidak tergusur. Romo Mangun adalah seorang sarjana, arsitek, budayawan dan pendeta yang tinggal di wilayah Code. Pastor Mangun menata kembali desa Code agar lebih bersih dan sehat bagi warganya. Pembangunan kembali dimulai pada tahun 1984. Bangunan-bangunan di Desa Code kemudian dimodifikasi menjadi berbentuk A berdasarkan usaha Romo Mangun. Romo Mangun juga membangun sejumlah fasilitas umum seperti toilet, ruang pertemuan (paseban), dan sarana belajar mengajar. Dalam proses ini, Romo Mangun tidak bekerja sendiri, ia bersama masyarakat bahu membahu memperbaiki wajah Desa Code. Bahkan, tampilan baru Code Village mendapat penghargaan bergengsi Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992. Sampai saat ini, penghargaan Aga Khan masi bisa ditemukan wisatawan di paseban Kampung Code.

Dinamika Budaya pada Kampung Code

Perubahan budaya pada masyarakat penghuni Kampung Code dimulai pada tahun 1980 – 1992 hal ini dipengaruhi oleh kehadiran Romo Mangun. Romo Mangun sangatlah mampu dalam menggerakan masyarakat Kampung Code. Adaptasi budaya pada masyarakat kampung code didasari oleh lingkungan dan cara pandang sesuai dengan pengalaman yang mereka alami. Romo Mangun mengawali inisiasi penataan permukiman di kampung ini. Romo Mangun digambarkan sukses membangun mental

(2)

penduduk Bantaran Kali Code. Dia mendampingi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan saat dalam kesusahan. Romo Mangun saat itu percaya diri bisa mengubah citra negatif Kali Code, asalkan penduduknya mendukung dan bisa merawat pemukimannya. Budaya Kampung Code lekat dengan budaya masyarakat yakni gotong royong dan mengedepankan sosial serta jiwa kekeluargaan antar penduduk.

Implementasi Budaya pada Bangunan Kampung Code

Arsitektur Tradisional

Sebagian besar bangunan yang ada di Kampung Code mempunyai desain arsitektur tradisional Jawa. Pada perkampungan ini banyak rumah-rumah joglo dengan

menggunakan atap limasan dan pintu serta jendela memiliki ukiran yang merupakan contoh arsitektur tradisional yang umum dijumpai di kawasan ini.

Taman dan Halaman

Banyak bangunan di Kampung Code ini memiliki taman yang dirawat dengan baik.

Sebagian besar taman dihiasi dengan patung-patung kecil dan tanaman tropis. Patung- patung yang ada rata rata menggambarkan budaya Jawa.

Seni Dinding

Dinding rumah tinggal yang ada pada Kampung Code memiliki seni dinding seperti mural yang menggambarkan cerita-cerita tradisional atau berisikan budaya Jawa.

Gapura

Pintu gerbang yang ada sebagai ikon mencolok Kampung Code. Gapura ini dihiasi dengan ukiran, warna-warni cerah, dan simbol-simbol keberuntungan.

Ukiran Kayu

Bangunan di Kampung Code sering dihiasi dengan ukiran kayu buatan tangan yang terbilang rumit. Motif yang sering digunakan dalam ukiran-ukiran yang ada adalah motif budaya Jawa seperti bunga, binatang, atau tokoh-tokoh legendaris. Ukiran pada kayu ini memberikan sentuhan seni dan keindahan pada bangunan

Perubahan Budaya di Kampung Code

Banyak sekali kebudayaan yang menjadi satu di Kampung Code ada beberapa contoh antara lain :

Pertunjukan Seni Campuran

Di Kampung Code, dapat ditemukan pertunjukan seni yang mencampurkan budaya Jawa Tradisional dengan elemen – elemen kontemporer. Contohnya yaitu tarian atau

pertunjukan gamelan tradisional yang disertai penggunaan music modern dengan panggung yang terkesan menggunakan desain modern

(3)

Kuliner

Terdapat berbagai hidangan kuliner di Kampung Code, mulai dari hidangan tradisional Jawa, hingga hidangan yang menggabungkan cita rasa lokal dengan pengaruh

internasional. Kombinasi ini menciptakan variasi kuliner yang sangat menarik dan juga unik

Bahasa

Bahasa utama pada tempat ini adalah Bahasa Jawa. Namun, penggunaan kata-kata atau frasa Bahasa Indonesia atau bahasa asing juga umum digunakan, mengingat kini tempat ini merupakan tempat wisata sehingga besar kemungkinan datangnya pelancong yang berasal dari luar negeri

Agama dan Kepercayaan yang beragam

Kampung Code memiliki beragam kepercayaan dan agama. Meskipun mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Islam, ada juga komunitas Kristen dan Budha di kawasan ini. Pencampuran elemen-elemen agama dan kepercayaan juga dapat terjadi dalam upacara atau perayaan tertentu.

Pada proses penggabungan budaya yang ada ini terjadi proses pengenalan budaya berupa Inkulturasi (Inkulturasi adalah budaya asing menyesuaikan diri dengan budaya yang ada untuk dapat berinteraksi dan bergabung dengan budaya setempat). Proses pengenalan budaya dengan metode Inkulturasi terdapat pada bagian pertunjukan seni dan juga kuliner. Terdapat metode pengenalan lain berupa Asimilasi (Asimilasi adalah suatu perubahan budaya yang terjadi karena adanya individu atau kelompok yang memiliki latar belakang berbeda yang hidup di lingkungan atau suatu daerah yang sama) proses ini terdapat pada poin bahasa dan agama.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini bahwa Kampung Kemlayan merupakan Kampung Kuno yang menyimpan sejarah budaya yang masih ada sampai sekarang yaitu berupa bangunan kuno, wisata

Tradisi dan kebudayaan pada era sekarang sudah tidak lagi eksis dikarenakan tercampurnya budaya asing dan budaya lokal, Data yang didapatkan tentang Kampung Dukuh

Aspek yang paling banyak mengalami transformasi di Kampung Sekayu yaitu aspek fisik seperti perubahan pemanfaatan lahan dan fungsi bangunan, serta aspek ekonomi yaitu

Arahan perturan Bupati Kabupaten Bandung yang mengarahkan Kampung Seni dan Budaya Jelekong sebagai desa wisata seni dan budaya tidak lepas dari nilai industri kreatif

Kampung Cina kota Bengkulu dapat dikatakan bahwa bangunan ini merupakan salah satu cerminan kebudayaan perdagangan, hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunan rumah

a) Program sekolah berbasis kearifan lokal Sekolah dapat membuat program yang berbasiskan pada seni dan budaya lokal yang ada misalnya ukiran kayu/bambu, membatik

Kalau memasuki kampung kuno seperti kampung Kauman, banyak dijumpai rumah kauman yang telah dipengaruhi beberapa budaya.. Kebudayaan

Konsep Pusat Kampung Seni dan Budaya Sumber : Analisis Penulis,2019 Sementara, di wilayah RW 03 dan RW 02 yang menjadi pusat seni dan budaya memiliki konsep pengembangan berbasis