• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biografi Talcott Parsons

N/A
N/A
Novenda Pramukti

Academic year: 2025

Membagikan "Biografi Talcott Parsons"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENDAHULUAN

Talcott Parsons atau Parsons merupakan tokoh sosiologi kontemporer yang berkebangsaan Amerika Serikat. Ia lahir di Colorado Springs, Amerika Serikat pada tahun 1902. Ia berasal dari keluarga religius dan dari kalangan intelektual. Ayahnya adalah seorang pendeta dan professor kemudian menjadi rektor di salah satu perguruan tinggi (Parsons, 1975). Parsons memulai studi sarjana S1 pada tahun 1920 di Amherts College, Massachusetts. Kemudian Parsons meneruskan studinya ke sekolah ekonomi kelembagaan, di mana berfokus pada ilmu yang mempelajari mengenai ekonomi politik, ilmu tentang konsekuensi-konsekuensi sosial dari proses-proses ekonomi.

Kemudian Parsons melanjutkan studi program magister di London School of Economics. Di perguruan tingginya tersebut, ia mempelajari mengenai ilmu antropologi yang kemudian menyebabkan ia tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenai pendekatan-pendekatan fungsionalisme. Ia dahulu memiliki ketertarikan terhadap ilmu biologi dan bercita-cita ingin menjadi seorang dokter atau ahli biologi, sehingga pendekatan fungsionalisme akan ia analisis dengan menggunakan perspektif baik ilmu biologi maupun ilmu sosiologi. Setelah menyelesaikan studi magister S2, lalu dia pindah ke Heidelberg, Jerman untuk melanjutkan studi program doktor S3. (Jeffrey, 1981). Di karya tugas akhir disertasinya menuliskan mengenai Perbandingan antara Argumen Max Weber dan Argumen dari Sombart yang Menjelaskan tentang Kebangkitan Kapitalisme dengan judul “A Comparison of Weber’s and Sombart’s Explanation of The Rise of Capitalism”. Selain membuat tugas akhir disertasi, ia juga menerjemahkan buku Max Weber mengenai Etika Protestan dan Semangat Kapitalism e dengan judul “Protestan Ethicand Spirit of capitalism”. Selain itu, ia juga menerbitkan sebuah buku yang berjudul “The Structure Social Action”. Di buku tersebut, ia tidak hanya memperkenalkan pemikiran sosiolog Max Weber kepada beberapa sosiolog, tetapi juga dasar teori sosiologi yang dikembangkan oleh Talcott Parsons. (Buxton, 1985).

(3)

Pada tahun 1927, Parsons mulai bekerja menjadi pengajar atau dosen di perguruan tinggi di Harvard. Ia tidak memperoleh gelar jabatan sebagai profesor hingga tahun 1939. Meskipun sebelumnya karirnya tidak berjalan lancar dan pesat, namun mulai pada tahun 1944 karirnya berjalan dengan lancar dan berkembang pesat.

(Stingl, 2009). Hal ini terbukti dengan terpilihnya ia menjadi Ketua Jurusan Sosiologi di Harvard tahun 1944. Setelah itu, ia mendirikan Departemen Hubungan Sosial yang tidak hanya merekrut sosiolog, tetapi juga merekrut sarjana ilmu sosial lain. (Camic, 1990). Kemudian Parsons juga dinobatkan menjadi Presiden The American Sociological Association pada tahun 1949. (Stingl, 2009). Dengan diterbitkannya buku yang berjudul The Social System pada tahun 1951, Parsons kemudian menjadi tokoh sosiologi yang dominan dalam lingkup Sosiologi Amerika. (Turner, 2001).

Karya-karya Talcott Parsons antara lain ia menuliskan buku berjudul “The Structure of Social Action (1937), Toward A General Theory of Action (1951), dan The Social System (1951).

Terdapat tiga hal yang memengaruhi pendekatan teori sosiologis menurut Parsons. Pertama yaitu perhatian Parsons terhadap masalah kemanusiaan dalam lingkungan sosial masyarakat barat. Ia memandang dari perspektif seorang protestan.

Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh dari ayah Parsons yang merupakan seorang pendeta. Parsons kemudian mengambil gagasan dasar bahwa tindakan manusia dibutuhkan adanya bantuan analisis nilai karena tindakan manusia yang tidak dapat dipahami secara ilmiah. Terdapat dua pertanyaan yang memengaruhi pemikirannya dari perspektif seorang protestan. Pertanyaan pertama yaitu “Apa saja yang dikontribusikan oleh budaya kristiani terhadap evolusi peradaban Eropa?” dan pertanyaan kedua adalah “Sejauh mana nilai-nilai kristiani yang berkurang karena adanya dominasi pertumbuhan instansi-instansi kapitalis sejak akhir abad keenam belas?” Hal ini Parsons menganggap bahwa nilai-nilai kristiani telah membentuk peradaban kapitalis barat melalui penekanan terhadap tanggung jawab individual, rasionalisme, perenungan, serta pemisahan antara kerohanian dan politik. Kedua

(4)

adalah ketertarikan Parsons pada ilmu kedokteran. Misalnya profesi kedokteran merupakan isu utama yang dibahas dalam bukunya yang berjudul The Social System, di mana di dalam buku tersebut dijelaskan mengenai nilai-nilai kedokteran yang menggambarkan dari kegiatan sosial yang tidak didominasi oleh kepentingan secara pribadi, melainkan didominasi oleh kepentingan secara kolektif/ bersama. Pemikiran Parsons juga dipengaruhi oleh teori-teori psikoanalitik yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Dalam teori tersebut, Parsons menjelaskan tentang bagaimana hubungan antara dokter dan pasien. Ketiga adalah sifat-sifat ekonomi sebagai kajian ilmiah. Parsons memiliki ketertarikan terhadap ilmu ekonomi pertama kali saat berada di bawah pengaruh Walter Hamilton yang mengajar di Amherst. Namun, ketika ia berada di Jerman, perhatian intelektualnya benar-benar muncul.

Penulisan paper ini bertujuan untuk mengetahui konsep pemikiran Talcott Parsons mengenai Teori Fungsionalisme Struktural. Sehingga, dengan hal ini dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana konsep pemikiran Talcott Parsons mengenai Teori Fungsionalisme Struktural?

2. Bagaimana kritik atas pemikiran Talcott Parsons mengenai Teori Fungsionalisme Struktural?

3. Bagaimana contoh penerapan Teori Fungsionalisme Struktural?

(5)

PEMBAHASAN

a. Konsep Pemikiran Talcott Parsons

(TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL)

Talcott Parsons telah melahirkan pemikiran teori sosiologi yang bernama teori fungsionalisme struktural. Dalam teori fungsionalisme struktural tersebut, beliau menganalisis fenomena sosial pada masyarakat dengan menggunakan perpektif ilmu sosiologi dan ilmu biologi, di mana ia melihat adanya perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat sama halnya seperti pertumbuhan pada makhluk hidup (Susilo dan Rahmat, 2008).

Dalam Teori Fungsionalisme Struktural, Talcott Parsons berasumsi bahwa masyarakat terintegrasi dengan berdasarkan kesepakatan dari para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tersebut. Masyarakat dilihat sebagai sistem yang terintegrasi secara fungsional dalam suatu keseimbangan. Oleh karena itu, masyarakat dapat diartikan sebagai penggabungan dari subsistem-subsistem sosial yang saling berkaitan dan saling ketergantungan. (Grathoff, 1978). Di mana antar subsistem atau bagian tersebut saling terhubung kemudian membentuk sistem sosial.

Dalam teori fungsionalisme struktural, terdapat empat persyaratan fungsional yang wajib ada supaya sistem sosial dapat berjalan dan bertahan dengan baik. Keempat persyaratan fungsional tersebut meliputi Adaptasi, Pencapaian Tujuan, Integrasi, dan Pemeliharaan Pola atau dikenal dengan sebutan paradigma “AGIL” (Adaptation, Goal, Integration, Latency).

Berikut beberapa paradigma AGIL yang terdiri dari 4 persyaratan fungsional antara lain:

1. Adaptasi (Adaptation)

(6)

Adaptasi merujuk pada bagaimana makhluk hidup bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya entah seperti apa kondisi yang dialaminya. Seperti halnya masyarakat yang harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses adaptasi setiap anggota masyarakat berbeda-beda, tergantung pada faktor internal maupun faktor eksternal masing-masing. Semakin besar kemampuan adaptasi yang diupayakan, maka semakin dapat menguasai kondisi perubahan yang terjadi di sekitarnya.

2. Pencapaian Tujuan (Goal-Attainment)

Suatu sistem harus mampu menentukan arah tujuan yang jelas sehingga tujuan akan mudah tercapai dengan diimbangi oleh adanya modal sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu, masyarakat harus berusaha untuk mencapai tujuan tersebut, di mana tujuan yang dimaksud adalah tujuan secara kolektif.

3. Integrasi (Integration)

Integrasi adalah penyatuan dari beberapa komponen bagian dan fungsi, di mana sistem harus mengatur hubungan komponen bagian tersebut agar dapat berfungsi dengan optimal. Bagian satu dengan bagian lainnya harus saling terhubung. Dalam hal ini, nilai-nilai menjadi sangat penting sebagai pengintegrasi sistem sosial.

4. Pemeliharaan Pola (Latency)

Pemeliharaan Pola merujuk pada tindakan untuk melestarikan apa yang sudah menjadi norma-norma dan nilai-nilai yang ditaati bersama di kalangan anggota masyarakat. Setiap masyarakat senantiasa harus melestarikan dan memperbaiki nilai-nilai kemasyarakatan yang meliputi budaya, norma, aturan dan sebagainya.

Parsons berasumsi bahwa masyarakat terbentuk atas sebuah sistem. Oleh karena itu, terdapat persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem antara lain:

sistem harus tersistematis supaya keberlangsungan hidup terjaga dan harus terintegrasi dengan sistem lain, sistem harus saling memberi dukungan satu sama lain, sistem harus mampu mengakomodasi para aktornya secara proporsional, sistem harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para aktornya, sistem harus mampu

(7)

mengontrol perilaku yang berpotensi menghambat tujuan bersama, apabila terjadi konflik yang menimbulkan kekacauan maka dituntut harus dapat dikendalikan dan diminimalisasi, sistem harus memiliki bahasa aktor dan sistem sosial.

Sistem Tindakan

Dalam sistem tindakan, Parsons bertumpu pada teori aksi yang menunjuk titik pusat dari konsep perilaku voluntaristik, yang dijelaskan bahwa setiap anggota masyarakat mempunyai kemampuan untuk menentukan cara dari berbagai alternatif upaya dalam rangka mencapai tujuan (Susilo & Rahmat, 2008).

Sistem Tindakan berdasarkan orientasi motivasi antara lain : 1. Kognitif

Kognitif memiliki definisi bahwa tindakan aktor dalam menghadapi kondisi tertentu dalam terminologi kepentingannya, di mana didorong oleh sesuatu apa yang diketahui oleh obyek.

2. Katektik

Katektik merupakan pengujian aktor dalam bertindak untuk memenuhi kepuasannya yang merupakan tanggapan atas obyek.

3. Evaluatif

Evaluatif merujuk pada keputusan sang aktor dan sistemnya untuk memilih suatu upaya alternatifnya yang dilakukan dengan cara obyek tersebut dinilai dan diurutkan satu sama lain agar dapat saling menyerang.

Terdapat empat sistem dalam teori milik Talcott Parsons mengenai sistem tindakan antara lain :

1. Sistem Biologis

Kesatuan yang paling mendasar dalam sistem biologis yaitu aspek fisik dari manusia yang meliputi lingkungan fisik di mana manusia tersebut hidup.

2. Sistem Kepribadian

(8)

Kesatuan yang paling dasar dari sistem ini adalah seseorang individu yang menjadi aktor atau pelaku tindakan. Analisis ini berfokus pada kebutuhan- kebutuhan, motif-motif, dan sikap-sikap, misalnya motivasi untuk memperoleh kepuasan. Sistem kepribadian dapat dikendalikan oleh sistem sosial dan sistem budaya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa sistem kepribadian ini tidak memiliki kebebasan, sebabnya adalah karena kepribadian yang bersifat independen di mana individu yang berperan sebagai aktor dapat mengendalikan tindakan baik melalui dengan dirinya sendiri atau melalui pengalaman-pengalaman hidup yang unik.

3. Sistem Sosial

Sistem sosial adalah interaksi yang tidak hanya terjalin antara seorang individu atau lebih, tetapi juga mencakup interaksi antara kelompok dengan kelompok, intansi dengan instansi, dan organisasi-organisasi. Sistem sosial selalu terarah pada keseimbangan dan terbentuk atas konsensus nilai dalam masyarakat. Hal yang paling penting dalam sistem sosial adalah norma-norma sosial yang kemudian membentuk struktur sosial.

Terdapat beberapa batasan dalam sistem sosial antara lain :

a. Sistem sosial merupakan jaringan yang menghubungkan antara aktor satu dengan aktor lainnya atau disebut dengan jaringan hubungan interaktif.

b. Pandangan aktor mengenai alat dan tujuan diperoleh dari situasi kondisi serta dibentuk oleh kepercayaan dan norma.

c. Aktor tidak menghadapi situasi kondisi sebagai individu, tetapi berperan secara sosial, di mana menyediakan perilaku yang sesuai serta berhubungan dengan peran-peran sosial yang lainnya.

d. Sistem sosial memberikan kerangka konsep untuk menghubungkan tindakan dalam situasi yang berbeda-beda setiap aktor.

(9)

Dalam sistem sosial, Parsons menekankan pentingnya peran aktor, di mana ia tidak memandang aktor sebagai kenyataan struktural, melainkan kenyataan fungsional. Hal ini memang harus ada integrasi pola nilai dalam sistem antara aktor dengan struktur sosialnya, di mana dapat terjadi melalui dua cara yaitu internalisasi dan sosialisasi. Di sini terdapat pengalihan norma dan nilai sistem sosial pada aktor dalam sistem sosial. Dalam proses sosialisasi yang berhasil, norma dan nilai itu diinternalisasikan pada kesadaran aktor. Sehingga, aktor dalam mengejar kepentingannya, aktor harus mengabdikan diri pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. Proses sosialisasi juga mempelajari mengenai nilai dan norma dalam masyarakat, tidak hanya persoalan tentang mengajarkan seseorang untuk bertindak saja.

4. Sistem Budaya

Sistem budaya meliputi unit analisis kepercayaan agama, bahasa, dan lain-lain.

Sistem budaya merupakan unsur kekuatan yang mengikat berbagai unsur dalam dunia sosial. Budaya merupakan kekuatan yang mengikat sistem tindakan, menengahi interaksi antar aktor, mengintegrasikan kepribadian, dan menyatukan sistem sosial. Budaya memiliki kapasitas untuk menjadi komponen sistem yang lain.

Budaya adalah sistem simbol yang terpola, di mana dapat menjadi sasaran tujuan para aktor dalam menginternalisasikan aspek-aspek kepribadian dan pola-pola yang telah terlembagakan dalam sistem sosial. Budaya bersifat subjektif dan simbolik.

Oleh karena itu, budaya mudah untuk ditukarkan dan dipindahkan dari satu sistem sosial ke sistem sosial yang lain baik dengan metode penyebaran (difusi), dan ataupun dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain melalui proses belajar dan sosialisasi.

Dari keempat sistem tindakan tersebut, masing-masing memiliki fungsi antara lain:

(10)

a. Sistem biologis, berkaitan dengan fungsi adaptasi yaitu aktor dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mengubah lingkungan tersebut sesuai dengan kebutuhan.

b. Sistem kepribadian, berkaitan dengan fungsi pencapaian tujuan dengan memanfaatkan sumber daya untuk mencapai tujuan.

c. Sistem sosial berkaitan dengan fungsi integrasi dengan mengendalikan unsur- unsur pembentuk masyarakat.

d. Sistem kebudayaan, berkaitan dengan fungsi pemeliharaan pola-pola atau struktur-struktur yang ada dengan berpedoman pada norma-norma dan nilai-nilai sebagai alat kontrol tindakan aktor.

Tindakan-tindakan aktor tersebut kemudian membentuk skema yang dikenal dengan

“Skema Tindakan”.

Adapun komponen-komponen pembentuk skema tindakan adalah sebagai berikut:

a. Aktor yang terdiri atas individu ataupun kolektif. Dalam pandangannya, Parsons menganggap aktor-aktor ini termotivasi untuk memperoleh tujuannya.

b. Tujuan atau goal, tujuan yang ingin dicapai biasanya selaras dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

c. Situasi, tindakan untuk mencapai tujuan ini biasanya terjadi dalam situasi. Hal- hal yang termasuk dalam situasi ini adalah prasarana dan kondisi.

d. Standar-standar normatif adalah skema tindakan yang terpenting menurut Parsons. Aktor harus memenuhi sejumlah standar atau aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan.

(11)

b. Kritik atas Pemikiran Talcott Parsons tentang Teori Fungsionalisme Struktural Pendekatan dari teori Sosiologi milik Talcott Parsons berpengaruh mulai pada tahun 1950. Selain itu, teori Parsons memperoleh kritikan yang tajam dari beberapa tokoh Sosiologi. Terdapat tiga penolakan kritis terhadap teori “fungsionalisme struktural” (Alexander 1987). Pertama, adanya kritik etnometodologis dari para pengikut Harold Garfinkel, bahwa sistem sosial didasarkan pada aturan-aturan praktis dalam kehidupan sehari-hari yang ditopang oleh praktik berkelanjutan dari anggota yang berpengetahuan. Kedua, penganut interaksionisme simbolik, mengikuti karya Erving Goffman juga menentang apa yang mereka anggap sebagai pandangan fungsionalis Parsons tentang sistem sosial. Ketiga, ia dianggap sebagai pemikir konservatif, di mana teori sosialnya tidak dapat dijelaskan baik perubahan sosial atau konflik sosial, sebagian karena ia menyangkal atau mengabaikan kepentingan materi, yang pada hubungannya terkait dengan perpecahan mendasar dalam struktur sosial (seperti kelas sosial).

Penekanan pada nilai-nilai dan norma-norma dilakukan untuk menghalangi pemahaman yang tepat tentang peran kekuatan material, teknologi dan kelas sosial dalam membentuk struktur sosial. Oleh karena itu, kesulitan Parsons menjelaskan perubahan sosial yang disertai kekerasan (misalnya revolusi), dan hanya dapat mengkonseptualisasikan perubahan dalam istilah evolusioner sebagai diferensiasi sistem internal sosial sebagai penyesuaian adaptif terhadap lingkungan. Lebih lanjut dikatakan bahwa Parsons hanya dapat menjelaskan pertentangan dalam masyarakat dalam bentuk penyimpangan dari kumpulan norma-norma utama.

Para ahli teori konflik juga berpendapat bahwa ada sejumlah masalah teknis dalam skema analitis Parsons yang memperparah masalah ini. Pertama, terdapat masalah konvensional di mana Parsons merasa sulit untuk merekonsiliasi perspektif tindakan (seperti dalam Struktur Aksi Sosial) dan sebuah sistem perspektif (seperti pada Sistem Sosial) (Scott 1963). Kedua, pada kenyataannya sulit untuk

(12)

mengidentifikasi “sistem sosial”, dan mendefinisikan “sistem sosial” dalam kaitannya dengan “masyarakat”. Parsons memperlakukan hubungan sosial antara dua aktor sosial (dokter dan pasien) sebagai suatu sistem sosial, namun yang jelas Inggris Raya juga merupakan suatu sistem sosial, yang terdiri dari beberapa masyarakat (Inggris, Skotlandia, dan Wales). Apakah negara-bangsa (Prancis misalnya) merupakan suatu masyarakat atau beberapa masyarakat? Karena keberadaan negara-bangsa yang sah biasanya diperebutkan (misalnya, status Lituania di Uni Soviet), maka tidak ada persamaan yang naif mengenai negara-bangsa, masyarakat, atau sistem sosial. Ketiga, teori Parsons tentang sistem sosial (struktural-fungsionalisme) mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi sumber-sumber perubahan sosial, mengajukan pertanyaan tentang hubungan antara penjelasan sosiologis dan sejarah. Parsons sering menyebut

“ketegangan sosial” (1963b) sebagai penjelasan atas perubahan sosial (seperti dalam tulisannya yang terkenal tentang McCarthyisme), atau dalam esainya tentang Fasisme, ia melihat warisan sistem kelas Jerman dalam kaitannya dengan birokrasi militer sebagai hal yang sangat penting.

(13)

c. Contoh Penerapan Teori Fungsionalisme Struktural

Di sini penulis mengambil contoh pada mantan pekerja pabrik PT. Tyfountex Indonesia yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada masa pandemi Covid- 19 di Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Setelah mantan pekerja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), kondisi perekonomian keluarga berubah secara signifikan. Sebab, mantan pekerja tidak lagi memiliki pekerjaan sehingga berdampak pada ketiadaan pendapatan. Hal ini membuat mantan pekerja dituntut dapat beradaptasi dari situasi tersebut. Jika dianalisis menggunakan teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons berparadigma AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency) maka dapat dianalisis sebagai berikut:

Pertama, adaptasi (adaptation). Mantan pekerja setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mengalami kesulitan beradaptasi. Awalnya mereka mengalami kebingungan dan kecemasan karena kondisi yang membuatnya tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun, kemudian mengambil keputusan untuk beralih pekerjaan pekerjaan menjadi pedagang dikarenakan kesulitan dalam mencari pekerjaan. Terlebih persyaratan usia dan kemampuan (skill) menjadi hambatan utama dalam memperoleh pekerjaan. Selain itu, pada masa pandemi Covid-19 banyak terjadi PHK besar-besaran di sebagian besar perusahaan-perusahaan, sehingga tidak banyak yang membuka lowongan pekerjaan. Dengan beralihnya pekerjaan menjadi pedagang, mereka akhirnya memperoleh pendapatan meskipun tergolong hanya sedikit.

Kedua, pencapaian tujuan (goal-attainment). Tujuan utama seseorang bekerja adalah untuk memperoleh pendapatan guna memenuhi kebutuhan ekonomi.

Seperti halnya mantan pekerja yang bekerja sebagai pedagang adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga tentunya dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Sumber daya yang dimaksud di sini adalah sumber daya modal yang diperoleh dari sebagian uang pesangon yang diperoleh dari tempatnya bekerja serta bantuan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Dari sumber daya tersebut dapat digunakan sebagai modal berdagang. Dengan adanya sumber daya modal, maka tujuan dapat mudah tercapai.

(14)

Ketiga, integrasi (integration). Di dalam keluarga mantan pekerja, antara anggota keluarga satu sama lain saling memahami dan mendukung apa yang telah menjadi keputusan bersama. Di sini, anggota keluarga mantan pekerja bahu membahu membantu dalam bentuk membantu berdagang, berusaha mencari pekerjaan.

Tujuannya yang tak lain adalah untuk membantu memperbaiki kondisi perekonomian keluarga. Oleh karena satu sama lain bekerja sama dengan baik, maka sistem sosial dapat terintegrasi dengan baik.

Keempat, pemeliharaan pola (latency). Keluarga mantan pekerja terus menjunjung tinggi dan mempertahankan nilai-nilai yang sudah disepakati bersama bahwa harus berperilaku hemat dan memprioritaskan kebutuhan primer dibandingkan kebutuhan sekunder. Syarat fungsional ini berhasil apabila ketiga syarat tersebut terpenuhi. Dengan demikian, pemeliharaan pola pada keluarga mantan pekerja dapat dikatakan berhasil karena berhasil melakukan adaptasi dengan baik, dapat menentukan tujuan yang jelas, serta antara anggota satu sama lain dapat terintegrasi dengan baik.

(15)

KESIMPULAN

Dari pemaparan paper yang telah dijelaskan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

a. Salah satu konsep pemikiran Talcott Parsons adalah teori fungsionalisme struktural dengan paradigma AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency) atau adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola.

b. Talcott Parsons memperoleh kritikan dari beberapa tokoh Sosiologi antara lain:

Pertama, kritik etnometodologis dari para pengikut Harold Garfinkel, bahwa sistem sosial didasarkan pada aturan-aturan praktis dalam kehidupan sehari-hari yang ditopang oleh praktik yang berkelanjutan dari anggota yang berpengetahuan. Kedua, penganut interaksionisme simbolik, mengikuti karya Erving Goffman juga menentang apa yang mereka anggap sebagai pandangan fungsionalis Parsons tentang sistem sosial. Ketiga, ia dianggap sebagai pemikir konservatif, di mana teori sosialnya tidak dapat dijelaskan baik perubahan sosial atau konflik sosial, sebagian karena ia menyangkal atau mengabaikan kepentingan materi, yang pada hubungannya terkait dengan perpecahan mendasar dalam struktur sosial (seperti kelas sosial).

c. Contoh Penerapan Teori Fungsionalisme Struktural adalah pada mantan pekerja pabrik PT. Tyfountex Indonesia setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada masa pandemi Covid-19 di Desa Gumpang, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Setelah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mantan pekerja mengalami kesulitan perekonomian karena tidak memiliki pekerjaan. Sehingga, adaptasi yang dilakukan adalah dengan beralih pekerjaan menjadi pedagang dengan mengoptimalkan sumber daya untuk mencapai tujuannya yaitu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan solidaritas yang tinggi antar anggota keluarga serta menjunjung tinggi dan mempertahankan nilai-nilai yang telah disepakati bersama, maka hal ini sistem dapat berjalan dengan baik dan terintegrasi.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Buxton, William. 1985. Talcott Parsons and the Capitalist Nation-State: Political Sociology as a Strategic Vacation. Toronto: University of Toronto Press. Page 235.

Camic, Charles. 1990. An Historical Prologue. American Journal of Sociology. 55:

313-319.

Grathoff, Richard. 1978. The Correspondence between Alfred Schutz and Talcott Parsons: The Theory of Social Action. Bloomington and London: Indiana University Press. Page 67-87.

Jeffrey C, Alexander. 1981. "Revolution, Reaction, and Reform: The Change Theory of Parsons's Middle Period". Sociological Inquiry 51: 267-268.

Parsons, Talcott. 1975. “The Present Status of “Structural-Functional” Theory in Sociology.” In Talcott Parsons, Social Systems and The Evolution of Action Theory. New York: The Free Press.

Parsons, Talcott & Turner, Bryan S. 1991. “The Social System” (Preface). London:

Routledge. Pages 10-12.

Ritzer, George & Goodman, Douglas J. 2008. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Stingl, Alexander. 2009. The Biological Vernacular from Kant to James, Weber, and Parsons. Lampeter: Mellen Press. Pages 54-70.

Susilo, Rachmat K. Dwi. 2008. 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biografi Para Peletak Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Turner, Jonathan. 2001. Handbook of Sociological Theory. New York: Kluwer Academic/Plenum Publishers. Page 76.

Referensi

Dokumen terkait

Menerapkan konsep, hukum, dan teori fisika untuk menjelaskan fenomena biologi, kimia, dan atau bidang IPA lainnya.. Menganalisis fenomena alam dalam kehidupan sehari-hari dengan

Sedangkan teori yang digunakan untuk menganalisis adalah adalah teori dari ilmu sosiologi, yaitu teori Social Institution (lembaga kemasyarakatan) dan Continuity

Menggunakan rentang tersebut, dan dengan menggunakan berbagai perspektif atau teori ilmu sosial (ilmu komunikasi, sosiologi dan psikologi), kita dapat melihat dengan jelas

a) Bagi penulis dapat menambah ilmu pengetahuan dan memperdalam teori-teori yang telah dipelajari dengan melihat fakta dan kasus yang ada di lapangan mengenai fenomena yang

Robert J. Clements melihat sastra bandingan sebagai disiplin akademis yang memiliki pendekatan yang mencakup aspek (1) tema, (2) jenis/bentuk, (3) gerakan/trend, (4) keterhubungan sastra dengan disiplin dan media seni lain, dan (5) sejarah teori sastra. Obyek (1), (2), (3) dan (5) sebenarnya merupakan wilayah sastra. Teori-teori sastra dapat dimanfaatkan, terutama teori struktural, formalisme, semiotik, untuk membandingkan beberapa karya sastra. Yang diharapkan, kelak dapat menyusun pula sejarah sastra, kritik sastra, dan teori baru tentang sastra. Adapun obyek (4) merupakan analisis yang terkait dengan interdisipliner sastra. Bangunan teoritik yang dikehendaki merupakan studi sastra dalam multidisiplin. Sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain, serta ciri-ciri yang dimilikinya (dalam Endraswara, 2011: 192). Pendapat ini lebih menekankan bahwa penelitian sastra bandingan harus berasal dari negara yang berbeda sehingga mempunyai bahasa yang berbeda pula. 3. Sapardi Djoko Damono Menurut Damono (2009:1) sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori tersendiri. Boleh dikatakan teori apapun bisa dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan juga disebut sebagai studi dan kajian. Dalam langkah-langkah yang dilakukannya, metode perbandinganlah yang utama. Lanjut Damono (2009:1) perbandingan yang sebenarnya merupakan salah satu metode juga selalu dilaksanakan dalam penelitian seperti halnya memberikan dan menguraikan, tetapi dalam sastra bandingan metode itu merupakan langkah utama. Jadi menurut Damono, sastra bandingan bukan hanya sekedar mempertentangkan dua sastra dari dua negara atau bangsa. Sastra bandingan juga tidak terpatok pada karya-karya besar walaupun kajian sastra bandingan sering kali berkenaan dengan penulis-penulis ternama yang mewakili suatu zaman. Kajian penulis baru yang belum mendapat pengakuan dunia pun dapat digolongkan dalam sastra bandingan. Batasan sastra bandingan tersebut menunjukkan bahwa perbandingan tidak hanya terbatas pada sastra antarbangsa, tetapi juga sesama bangsa sendiri, misalnya antarpengarang, antargenetik, antarzaman, antarbentuk, dan