PEMANFAATAN POLEN SEBAGAI BARANG BUKTI TINDAK KEJAHATAN
ABSTRAK
Botani forensik dapat diaplikasikan untuk mengungkap suatu kasusu kejahatan dengan memanfaatkan bagian dari tanaman salah satunya menanfaatkan polen. Polen dapat bermanfaat untuk menghubungkan antara objek atau seseorang dengan waktu atau tempat terjadinya suatu kejadian, memungkinkan untuk dilakukan pelacakan secara spasial, dapat dikoleksi dalam jangka waktu yang cukup lama untuk mendukung studi forensik. Untuk mengidentifikasi polen dapat menggunakan DNA barcoding atau dengan mengamati morfologi polen dengan menggunakan mikroskop.
Kata kunci : Botani Forensik, Identifikasi, Polen
PENDAHULUAN
Botani forensik merupakan aplikasi dari teknologi ilmiah untuk mengungkap suatu kasus kejahatan dengan menggunakan informasi secara akurat dan objektif yang dapat mencerminkan suatu tindak kejahatan. Spesies tumbuhan yang umumnya terdapat dimana- mana dapat berperan dalam banyak aspek investigasi kriminal. pemanfaatan botani forensic dapat membantu untuk menentukan asal geografis dari suatu sampel, memberikan hubungan antara TKP dan individu, uji alibi, memastikan kepemilikan, atau memastikan suatu perdagangan spesies terlarang atau sudah terancam punah. Penerapan botani forensik dapat memanfaatkan penggunaan bagian tumbuhan seperti polen, biji, daun, bunga, kayu, dll.
Polen merupakan salah satu bagian tumbuhan sebagai alat perkembangbiakan generative sehingga di lingkungan luar memungkinkan mudah ditemukan karena tersebarnya tumbuhan dilingkungan. Polen dapat memberikan informasi tentang sumber barang dan karakteristik lingkungan dari sumber asal polen. Selain itu polen juga mudah terambil oleh permukaan benda seperti pakaian dan mudah dipindahkan dari suatu tempat ketempat pembawa polen tanpa memberikan informasi visual apapun kepada tersangka. Sehingga polen dapat mendukung studi botani forensik.
Karakter Polen
Polen umumnya memiliki beberapa karakter seperti memiliki ukuran yang sangat kecil sekitar 25-40 µm, mudah melekat pada pakaian, rambut. Selain itu banyak tumbuhan yang menghasilkan polen dalam jumlah besar pada saat musim berbunga dan tahan terhadap degradasi kimiawi maupun biologis (Mildenhall, 2006).
Polen dapat berpindah dari suatu lokasi ke lokasi lain dengan beberapa cara seperti dengan adanya kontak fisik antara sesorang/benda dengan tumbuhan atau suatu permukaan yang terdapat polen atau melalui udara yang membawa polen dan menempel pada seseorang, permukaan benda, umumnya polen yang terbawa oleh udara dapat berpindah tempat hingga 2 km dari tanaman induknya. Jarak perpindahan polen oleh udara tergantung pada ketinggian polen dilepaskan, kecepatan dan arah angin, ukuran, massa, serta bentuk aerodinamis dari polen (Kelley et al, 2020; Walsh dan Horrocks, 2008).
Polen Sebagai Barang Bukti Tindak Kejahatan
Penggunaan polen dalam studi forensic dapat digunakan sebagai bukti yang menghubungkan antara objek atau seseorang dengan waktu atau tempat terjadinya suatu kejadian. Hal tersebut dapat terjadi karena polen umumnya selalu terdapat dilingkungan, pada lokasi geografis yang berbeda memiliki kumpulan polen yang berbeda sehingga memungkinkan untuk dilakukan pelacakan secara spasial, tanaman memiliki waktu berbunga yang berbeda, polen dapat bertahan lama dilingkungan dan dapat bertahan selama puluhan tahun setelah polen dikoleksi untuk studi forensik. Polen juga dapat bertahan pada usus orang selama 21 hari sehingga dapat polen penting untuk mendukung studi botani forensik (Arguelles et al, 2015; Bell et al, 2016)
Penggunaan polen dalam mengungkap suatu tidak criminal memiliki beberapa keuntungan maupun kerugian. Keuntungan dengan menggunakan polen yaitu persebaran polen yang sesuai dengan ukurannya yang kecil, polen dapat menempel dengan mudah pada benda seperti kulit, lipatan pakaian dan permukaan benda lainnya. Selain itu polen memiliki struktur yang tahan terhadap keadaan keadaan lingkungan eksternal seperti panas, dingin, tahan terhadap pencucian, noda dan degradasi. Penggunaan polen sebagai barang bukti
forensic juga memiliki beberapa kelemahan seperti kurang lengkapnya informasi, lokasi, dan Teknik pengambilan sampel yang diperlukan untuk melakukan investigasi dan masih terbatasnya ahli palynology (Alotaibi et al, 2020).
Identifikasi Polen
Identifikasi polen dapat dilakukan dengan metode tradisional yaitu dengan mengidentifikasi fenotipe yang didasarkan pada hasil pengamatan morfologi polen dengan menggunakan mikroskop, baik dengan menggunakan mikroskop cahaya atau scanning electron microscopy (SEM). Ciri morfologi yang dapat diamati yaitu ukuran, bentuk, dan stuktur dindingnya. Untuk melihat morfolonginya diperlukan pembersihan dari lapisan luar polen, metode yang dapat digunakan yaitu asetolisis dengan prinsip melisiskan dinding sel polen pada kondisi asam (Kelley et al, 2020). Penggunaan metode tradisional membutuhkan keahlian dan memakan waktu yang cukup lama. Metode lain yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan DNA barcoding. DNA barcoding merupakan metode identifikasi suatu spesies dengan menggunakan potongan DNA pendek dari standar genom. Keuntungan dari penggunaan barcoding DNA yaitu memungkinkan untuk identifikasi taksonomi bagian dari organisme yang tidak menunjukkan morfologi dan karakter. DNA barcoding memiliki tiga elemen utama yang pertama yaitu set penanda genetic intuk replikasi dan sekuensing.
Terdapat lima penanda untuk DNA barcoding dari polen, diantaranga subunit dari ribulosa- bifosfat karboksilase (rbcL), maturase K (matK), internal transcribed spacer 2 (ITS2), bagian intron dari gen tRNA kloroplas (trnL), dan kloroplas intergenic spacer. Yang kedua yaitu metode isolasi dan pengurutan DNA termasuk High Troughput Sequencing (HTS) yang memberikan pembacaan dari sampel DNA barcoding (Alotaibi et al, 2020).
\
Studi Kasus
Kasus pembunuhan yang terjadi di Brisbane, Australia, dimana seorang suami membunuh istrinya. Kemuadian suami membawa istri sejauh 50 km dari tempat pembunuhan
menuju taman pantai yang terpencil dan menyembunyikan istrinya di semak belukar (Akasia).
Setelah Kembali ke rumahnya, suami telah mencuci baju yang digunakan untuk membunuh.
Saat suami telah menjadi tersangka, polisis mengmpulkan barang bukti salah satunya pakaiannya yang digunakan untuk uji forensik. Meskipun tersangka telah mencuci baju yang digunakan untuk membunuh, masih ditemukan adanya polen dari dua spesias akasia yang berbeda di pakaiannya. Jenis akasia yang pertama merupakan salah satu spesies yang cukup umum terdapat di Australia Timur, akan tetapi spesies ke dua merupakan spesies yang kedua bukan spesies asli dan telah diimpor ke taman pantai didekat semak Akasia asli (spesies pertama). Polen yang telah ditemukan di mobil tersangka dan juga pakaian tersangka menunjukkann bahwa tersangka telah membunuh istrinta kemudian membawanya ke taman pantai yang terpencil dengan menggunakan mobil dan menyembunyikan mayak di antara semak Akasia dan tersangka menyentuk kedua spesies Akasia ditaman tersebut sehingga polen menempel pada pakaian tersangka (Bryant and Bryant, 2019).
KESIMPULAN
Polen merupakan salah satu bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai barang bukti kejahatan. identifikasi polen dapat dilakukan dengan baik dengan melihat morfologi polen menggunakan mikroskop maupun dengan menggunakan DNA barcoding. Sifat polen yang berukuran, mudah menepel pada permuaan benda dan dapat bertahan dalam konsisi lingkungan yang cukup ekstrim seperti pencucian dapat membantu untuk mengungkan suatu tindak kejahatan
DAFTAR PUSTAKA
Alotaibi, S. S., S. M. Sayed, M. Alosaimi, R. Alharthi, A. Banjar, N. Abdulqader and R. Alhamed.
2020. Pollen molecular biology: Applications in the forensic palynology and future prospects: A review. Saudi Journal of Biological Sciences.
Arguelles, P., K. Reinhard and D. H. Shin. 2015. Forensic palynological analysis of intestinal contents of a Korean mummy. The Anatomical Record. 298(6): 1182-1190.
Bell, K. L., N. De Vere, A. Keller, R. T. Richardson, A. Gous, K. S. Burgess and B. J. Brosi. 2016.
Pollen DNA barcoding: current applications and future prospects. Genome. 59 (9):
629-640.
Bryant, V. M. and M. K. Bryant. 2019. The Role of Palynology in Forensic Archaeology.
In Forensic Archaeology. Springer, Cham.
Kelley, L., E. Rose, B. McCullough, M. Martinez and M. Baudelet. 2020. Non-destructive DNA analysis of single pollen grains. Forensic Chemistry. 20, 100275.
Mildenhall, D. C. 2006. An unusual appearance of a common pollen type indicates the scene of the crime. Forensic science international. 163(3): 236-240.
Walsh, K. A. and M. Horrocks. 2008. Palynology: its position in the field of forensic science. Journal of forensic sciences. 53(5): 1053-1060.