• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Bahan Kuliah Material Kekuatan dan Bahan Studi Hadits

Muhammad Zulfan

Academic year: 2024

Membagikan "Buku Bahan Kuliah Material Kekuatan dan Bahan Studi Hadits"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU MATERIAL & BAHAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Tengah Semester 4 Mata Kuliah : Material Kekuatan Dan Bahan

Studi Hadits Dosen Pengampu:

Disusun Oleh: Fajar Putra Pratama (1420210014) Faishal Listio (140210020)

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK MESIN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH 2023

(2)

Kata Pengantar

Puji syukur diucapkan kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun sampai selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materi.

Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami.

Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 20 Februari 2021 Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR……….. i

DAFTAR ISI……….. ii

DAFTAR TABEL………. iii

DAFTAR LAMPIRAN……… … iv

BAB I PENDAHULUAN… A. Latar Belakang ……….… 1

B. Rumusan Masalah……….… 3

C. Tujuan dan Manfaat Kegiatan………...… 3

D. Tempat dan Waktu Magang……….…. 4

E. Sistematika Penulisan Laporan………. 4

BAB II LANDASAN TEORI A. Piutang……… 6

1. Pengertian Piutang……… 6

2. Klasifikasi Piutang ……….. 9

3. Pengakuan Piutang……… 12

4. Penghapusan Piutang……… 17

5. Mengestimasi Piutang Tak Tertagih………. 19

6. Pengakuan Wesel Tagih……… 20

B. Pengendalian internal terhadap piutang……….. 23

C. Penyajian Piutang dalam Neraca………. 24

BAB III GAMBARAN UMUM PERUM BULOG DIVRE SUMBAR A. Sejarah Perum Bulog……….……… 26

B. Struktur Organisasi Perum Bulog ………. 30

1. Divisi Regional……… 30

(4)

2. Sub Divisi Regional……….…… 36

C. Kegiatan Umum Unit Bagian Perum Bulog ……….……. 38

D. Peralatan Penunjang Aktivitas Usaha Perum Bulog ………. 41

E. Kendala dan Solusi ………...…….. 41

F. Tata Kerja Perum Bulog……….. 41

G. Pengendalian Internal Piutang Perum Bulog ……….. 42

1. Klasifikasi Piutang Perum Bulog Divre Sumbar…………. ….. 42

2. Kebijakan Penjualan Kredit………. …. 43

3. Periode Kredit……… 47

4. Potongan Tunai………... 44

5. Prosedur Penjualan Kredit………. 44

6. Pencatatan Akuntansi………. 47

7. Analisa Pengendalian Piutang……….... 48

8. Pengendalian Terhadap Penerimaan Piutang……….. 51

9. Pengawasan Terhadap Karyawan Terkait……… 54

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………... 55

B. Saran……… 56 DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(5)
(6)

Ada begitu banyak material di sekitar kita yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Tetapi sebelum memanfaatkannya, diperlukan pemahaman terhadap sifat-sifat mekanis material yang akan membantu menjelaskan respon suatu bahan terhadap deformasi yang terjadi dan beban yang bekerja. Berikut ini 8 sifat mekanis material yang wajib diketahui.

1. Kegetasan atau brittleness

Sifat ini menunjukkan tidak ada deformasi plastis sebelum suatu material mengalami kerusakan. Material getas secara mendadak rusak tanpa munculnya tanda-tanda terlebih dahulu. Material dengan sifat kegetasan ini tak memiliki titik mulur atau proses penampang yang mengecil dan kekuatan patah. Beberapa contoh material yang memiliki sifat kegetasan antara lain semen cor, batu, besi cor. Material seperti ini menggunakan uji tekan untuk menentukan kekuatannya.

2. Ketangguhan atau toughness

Sifat material ini memiliki keistimewaan yakni mampu menahan beban impact tinggi atau beban kejut. Ketika sebuah material mendapatkan beban impact, maka yang terjadi adalah sebagian energi dipindahkan dan sebagian energi diserap. Pengukuran ketangguhan ditentukan berdasarkan luasan di bawah kurva tegangan regangan dari titik asal hingga ke titik patah.

3. Kekuatan atau strength

Sifat material yang satu ini ditentukan berdasarkan tegangan paling besar saat material mampu renggang sebelum akhirnya rusak. Material dengan sifat seperti ini tidak mempunyai nilai tertentu yang bisa mendefinisikan kekuatannya. Sebab perilaku material berbeda baik terhadap pembebanan maupun beban.

4. Keuletan atau ductility

Material dengan sifat keuletan memiliki kemampuan deformasi terhadap beban

tarik sebelum akhirnya patah. Material yang mempunyai sifat ulet adalah material

yang bisa ditarik menjadi kawat tipis panjang dengan gaya tarik tanpa mengalami

kerusakan. Keliatan material ditandai dengan persentase perpanjangan panjang

ukur material selama melakukan uji tarik dan persentase pengurangan luas

penampang.

(7)

5. Kekakuan atau stiffness

Sifat material ini mempunyai kemampuan renggang pada tegangan tinggi dengan tidak diikuti regangan yang besar. Kemampuan inilah yang disebut ketahanan terhadap deformasi. Kekakuan material adalah fungsi dari modulus elastisitas dengan simbol E. Material dengan nilai modulus elastisitas yang tinggi berdeformasi lebih kecil terhadap beban jika dibandingkan dengan material dengan modulus elastisitas lebih rendah. Baja adalah salah satu contoh material dengan modulus elastisitas tinggi. Sedangkan kayu adalah contoh material dengan modulus elastisitas rendah.

6. Elastisitas atau elasticity

Material yang mempunyai sifat elastisitas adalah material yang dapat kembali ke dimensi awal sesudah beban dilepaskan atau dihilangkan. Tetapi sangat sulit untuk dapat menentukan nilai yang tepat untuk sifat elastisitas ini. Pengukuran yang dilakukan hanya untuk menentukan batas elastisitas ataupun rentang elastisitas sebuah material.

7. Kelenturan atau resilience

Sifat kelenturan ditandai dengan kemampuan material dalam menerima beban impact yang tinggi tanpa mengakibatkan tegangan lebih pada batas elastis.

Keadaan ini menunjukkan, energi yang diserap selama masa pembebanan disimpan dan dikeluarkan saat material tidak lagi dibebani. Pengukuran terhadap kelenturan suatu material sama seperti pengukuran terhadap ketangguhan suatu material.

8. Kelunakan atau malleability

Sifat kelunakan yang dimiliki oleh suatu material membuat material tersebut mampu mengalami deformasi plastis terhadap beban tekan sebelum akhirnya patah. Pada umumnya, material yang sangat liat juga mempunyai sifat cukup lunak.

Selain memahami sifat-sifat mekanis material, perlu diketahui pula pengelompokan material untuk memudahkan pemanfaatannya. Dalam bidang tehnik, material-material dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yakni material campuran, material non logam, dan material logam.

Material logam dengan sifat-sifatnya yang khas adalah salah satu kelompok material yang paling banyak dipakai pada bidang teknik dan juga industri.

Material logam ini sesungguhnya masih dibedakan lagi ke dalam dua golongan

yakni material logam ferro dan material logam non ferro. Material logam ferro

seperti besi cor, besi dan baja adalah material logam yang mengandung ferro

(8)

atau besi. Sementara material logam non ferro adalah material logam yang tidak mengandung unsur besi. Misalnya saja tembaga, magnesium, dan aluminium.

Meskipun material logam yang paling banyak digunakan dalam bidang industri dan teknik, bukan berarti jenis material lainnya diabaikan begitu saja. Sekali lagi dengan memperhatikan sifat-sifatnya, material non logam digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh sifat-sifat material logam.

Material non logam adalah material-material yang tidak memiliki kandungan logam di dalamnya. Misalnya saja kaca, polimer dan keramik. Kaca digunakan karena memiliki sifat yang unik yakni transparan, tidak bereaksi terhadap bahan kimia, keras dan kuat. Sedangkan contoh material polimer antara lain plastik dan karet. Sementara contoh material keramik yaitu ubin, gerabah hingga komponen- komponen elektronik.

Secara khusus, ada disiplin ilmu yang mempelajari tentang material. Disiplin ilmu ini disebut material science atau ilmu material. Ilmu material ini mempelajari hubungan antara sifat-sifat material dengan struktur material. Selanjutnya berbekal ilmu material tersebut dapat dilakukan rekayasa material. Rekayasa material hanya bisa dilakukan dengan mengetahui dasar hubungan struktur dan sifat bahan. Rekayasa material ini bertujuan untuk memperoleh sifat-sifat material yang diinginkan.

Nah, dengan memahami sifat-sifat mekanis material dan pengelompokkan material, maka kita bisa memilih serta memakai material untuk keperluan yang tepat. Kekeliruan dalam pemilihan material pun bisa dihindari. Selain itu, memadukan beberapa material yang berbeda juga menjadi lebih mudah dilakukan.

Sumber Sifat Mekanis Material yang Perlu Anda Ketahui https://strong- indonesia.com/artikel/sifat-mekanis-material/#ixzz8G1K33BGH

Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial No Derivatives

(9)

Voltase (klasifikasi) Klasifikasi sistem voltase adalah sebagai berikut:

a) voltase ekstra rendah (VER) – voltase dengan nilai setinggi-tingginya 50 V a.b. atau 120 V a.s.;

CATATAN Voltase ekstra rendah ialah voltase yang aman bagi manusia.

b) voltase rendah (VR) – voltase dengan nilai setinggi-tingginya 1000 V a.b. atau 1500 V a.s.; c) voltase di atas 1000 V a.b. yang mencakup: 1) voltase menengah (VM) – voltase lebih dari 1 kV sampai dengan 35 kV a.b., digunakan khususnya dalam sistem distribusi; Medium voltage 2) voltase tinggi (VT) – voltase lebih dari 35 kV a.b. PUIL 2000 Voltase ekstra rendah, ELV Voltase yang tidak melebihi batas voltase yang relevan dari rentang I yang ditetapkan dalam IEC 60449. Extra-low voltage IEV 826-12-30 Voltase elektrode Voltase antara elektrode dan titik acuan yang ditetapkan, biasanya katode. CATATAN Kecuali jika dinyatakan lain, voltase elektrode diukur pada terminal yang tersedia.

ABSTRACT

Thereinforced concrete structures has been used more of structureswhere the compressive force was endured by concrete coused compressive stress and steel has tensile strength so it be coused tensile stress be holded by steel.The compressive strength concrete is usually obtained from cylinders with a hight to diameter ratio of 2. The cylinders are loaded longitudinally at a slow strain rate to reach maximum stress in 2 0r 3 minutes. The stress-strain curves obtained from concrete cylinders loaded in uniaxial compression in a test conducted over several minutes. The stress-strain relationships can be showed at stress-strain curve , where this curve can be obtained from cylinders test with uniaxial compressive test, biaxial compressive test and triaxial compressive test, with high intensity repeated axial compressive cycle loading. The axial stress-strain curve obtained by Richart at all for compression test conducted on concrete cylinders. The cyliders confined laterally by fluid pressure. For each curve the fluid pressure held constant while the axial compressive stress was increased to failure and the axial strain measured.The tensile strength of concrete generally less than 20 % of compressive strength, can be obtained direcly from tension specimens. Tensile strength of concrete may be measured indirectly in term of the computed stress at wich a cylinder placed horizontally in a testing machine and loading along the loaded diameter will split, and can be also be evaluated by means of bending test conducted on

(10)

plane concrete beams.The tension stress-strain relationships can be obtained from those testings. Key Words: Stress - Strain Relationships

PENDAHULUAN

Beton merupakan bahan konstruksi yang banyak digunakan, baik untuk bangunan ringan maupun bangunan berat, karena beton mempunyai kuat tekan yang besar sedangkan gaya tarik sangat kecil. Jika dilihat dari komposisi beton terdiri dari campuran agregat, semen dan air atau bahan tambahan lainnya, bahan-bahan tersebut menjadi padat dan keras karena semen dan air mengalami proses kimia mengikat agregat sampai menjadi sangat keras. Dalam struktur bangunan, beton dipercayakan untuk menahan gaya tekan sedangkan gaya tarik ditahan oleh tulangan baja, maka beton yang diberi tulangan disebut beton bertulang (reinforced concrete). Beton yang mengalami gaya tekan tentunya menimbulkan tegangan (stress)di dalam beton. Tegangan ini menyebabkan bahan beton mengalami regangan (strain), sehingga perlu kiranya untuk mengetahui hubungan antara tegangan dan regangan pada beton. Sifat Tegangan Satu arah (Uniaxial Stress Bihavior) Dalam praktek beton jarang menunjukkan tegangannya dalam satu arah (uniaxial stress), untuk ini banyak dari konstruksi beton structural, tegangan yang yang terjadi bersamaan dengan arah gaya yang diberikan, dengan kata lain suatu uniaxial stress dapat terjadi dalam segala arah. Sifat Tegangan Tekan (Compressive Stress Behavior) Kekuatan tekan dari beton biasanya diperoleh dari contoh (sumple) berbentuk silinder dengan ketinggian dan diameter berbanding:

1 : 2, sehingga sampel tersebut dibebani dalam arah memanjang secara pelan-pelan, sehinggatercapai

(11)

tegangan maksimum dalam 2 atau 3 menit.Umumnya bentuk standar dari silinder, tinggi = 12 inchi ( 305 mm), diamerter = 6 inchi (152 mm) dan kekuatan tekan diperoleh setelah beton berumur 28 hari adalah lebih kurang 80 % dari kuat tekan maksimum beton Lentera Vol. 14. No. 10, Nopember 2014 39 tersebut,yaitu antara 2000 dan 8000 psi (13,3- 55,2 N/mm²). Untuk ukuran silinder yang lebih kecil atau kubus juga digunakan khususnya untuk mengontrol kekuatan tekan dan ternyata khubus memperoleh penyimpangan dari hasil testing diperoleh kekuatan lebih besar. Dengan memperhatikan faktor perbandingan dari kedua bentuk sampel tersebut, diperolehlah suatu hasil sehingga dapat menentukan bentuk standar dari sampel yang mempunyai kekuatan yang hampir sama. Gambar: 1, menunjukkan macam-macam kurva : tegangan-regangan diperoleh dari hasil test sampel silinder yang dibebani satu arah (uniaxial) dalam bebe-rapa menit. Kurva-kurva tersebut mendekati garis lurus kira-kira 1 ± 1/2 kekuatan tekan. Puncak kurva untuk beton bermutu tinggi berbentuk agak tajam, sedangkan untuk beton bermutu lebih rendah, bentuk kurva- nya agak tumpul.Dari berat nominan beton, Ec dapat diambil: Ec = 57.000 SVLF (N/mm2 ) Gambar 1

Kurva tegangan-regangan untuk beton pada sampel silinder dengan gaya satu arah (uniaxial) Besar regangan (strain) pada tegangan (stress) maksimum ± 0.002, regangan semakin besar jika tegangan maksimum dilampaui, tegangannya masih ada walaupun dalam arah parallel dengan arah gaya menjadi lebih nyata. Untuk test plastisitas beton digunakan mesin test yang lebh besar, jika beton tidak dapat mempertahankan gaya regangan dari mesin test, ketika tegangan beton maksimum dilewati, sehingga sampel menjadi hancur (failuare). Medulus elastisitas dari beton : Ec = W1,5 . 33¬ F (psi) Dimana : W = dencity beton (lb/ft3 ) F = kekuatan tekan sampel W diambil antara 90 ± 155 lb/ft3 , ditentukan oleh:

Pauw dengan test pembebanan sementara: Ec pada stress ± Test yang dilakukan oleh Rusch, menunjukkan bahwa bentuk kurva : tegangan - regangan sebelum tegangan maksimum, tergantung dari kekuatan beton (lihat Gambar 2).

Gambar 2 Hubungan antara tegangan dan regangan untuk beton yang berbeda mutu. Bagaimanapun pada umumnya digunakan suatu perkiraan untuk bentuk dari kurva Stress-strain sebelum stress maksimum adalah bentuk para bola yang kedua. Contoh: Penelitian yang sering dilakaukan oleh;

Hognestard, tentang curva: tegangan ± regangan (Stress±strain) ditunjukkan dalam gambar 3, dimana:

IF¥DGDODKWHJDQJDQPDksimum yang dicapai dalam beton.

(12)

Gambar 3 Kurva tegangan-reganganstandar untuk beton dengan beban satu arah Setelah tegangan maksimum dilewati, sumpel mengalami retak yang besarnya tergantung dari batas ketahanan regangan Lentera Vol. 14. No. 10, Nopember 2014 40 beton. Tegangan tekan maksimum yang dicapai oleh beton yang mengalami lenturan yimpang dari hasil testing kekuatan beton yang berbentuk silinder Ketika beban diberikan pada suatu batang yang mempunyai regangan yang tetap, kedua dari modulus elastisitas dan kekuatan beton bertambah, hal ini telah diketahui bahwa untuk besar regamgam 0,001 mm/sec, kekuatan beton bertambah 17 %. Pada pemberian gaya tekan yang besar secara berulang, menghasilkan suatu histerissis effekdari kurva tegangan ± regangan (stress-strain).

(Gambar. 4)

Gambar 4 Kurva stress-strain untuk silinder beton dengan intensitas tinggi pembebananaksial secara berulang (Compressive cylicloading) Oleh Shinka, Gerstle dan Tulin, untuk perubahan regangan yang lambat. Test merekan dan Karsan & Jirsa, menunjukkan bahwa the empelope curve hampir sama dengan kurva yang diperoleh dari sustu pembebanan yang tetap. Rusch yang telah menggabungkan antara test dengan pembebanan tetap, telah diperoleh bahwa kekuatan tekan untuk pembebanan tetap hanya diperoleh 80 % dari kekuatan untuk menahan beban sementara. Dimana pembebanan sementara memberikan kekuatan lebih besar untuk sampel yang sama, yang mana pembebanan tersebut diberikan sampai betonnya hancur dalam waktu 10 menit. Dalam praktek kekuatan beton diperhatikan dalam perencanaan konstruksi, biasanya berdasarkan pada pembebanan pada umur beton mencapai 28 hari dengan beban sementara. Kekuatan beton berkurang jika beton tersebut dibebani dengan pembebanan tetap dan maka dapat diingatkan bahwa, kekuatan beton berkurang apabila dibebani dengan muatan tetap dan mutu dari beton untuk memcapai kekuatan yang lebih besar , pada saat umur beton lebih lama. Hal ini juga kapasitas factor reduksi adalah hasil ketika tegangan tekan beton mencapai titik kritis.

Regangan karena pembebanan tetap sering kali menyebabkan perubahan dalam bentuk kurva stress ± strain. Beberapa kurva diperoleh oleh Rusch untuk bermacam muatan

(Gambar. 5) yang menun-jukkan bahwa, dengan mengurangi besarnya regangan, harga dari tegangan maksimum tercapai, maka regangan berkurang perlahan-lahan, tetapi penurunan ujung dari kurva agak lebih lambat, regangan pada tegangan maksimum bertambah.

Gambar 5 Stress ± Strain curve dengan bermacam-macam besarnya beban axial. Sifat Tegangan Tarik (Tensile Stress Behavior) Tegangan tarik beton lebih kecil dari 20 % tegangan tekanbeton, ini dapat diperoleh langsung dari percobaan dengan ditarik pada kedua ujungnya. Bagaimanapun sukarnya untuk memegang sumpel pada kedua ujung waktu ditarik, tentunya juga menimbulkan tegangan-tegangan skundaer yang disbabkan oleh alat pemegang. Test tarik secara langsung jarang dilakukan terkecuali untuk maksud riset. Tegangan tarik beton diukur, waktu menghitung tegangan tarik dengan meletakkan sebuah sampel (silinder) beton pada arah horizontal mesin test yang kemudian dibebani sampai diameter sampel putus, Cara pelaksanaan testing,berkurangnya tegangan sepanjang diameter sama dengan yang didapat dari teori elastis yang terlukis pada gambar 6 .

Lentera Vol. 14. No. 10, Nopember 2014 41 Tegangan tarik pada penampang putus diperoleh dari hubungan 3åKG Dimana: P = gaya tarik yang diberikan h = panjang sampel (silinder) d = diameter silinder

(13)

Tegangan tarik beton dapat juga dieveluasi dengan test lenturan pada suatu balok beton, Balok tersebut biasanya berukuran ¥ ¥ atau 15/15 (cm). Tegangan tarik pada lentutan murni dapat diketahui dari modulus of ropture fc dari rumus : Fc = M / Z Dimana: M = Momen lentur maksimum Z = section modulus dari penampang. Tegangan tarik maksimum dari sampel silinder berkisar dari 50 - 75 % dari modulus of Rupture. Perbedaan ini kemungkinan besar karena adanya distribusi tegangan dalam betonakibat lenturan tidak linear ketika runtuh. Suatu pendekatan dari modulus of ruptune: ) F = SVL

(14)

Dimana: F = kekuatan sampel (silinder) (psi) K = 7 dan 15 untuk pasir dan kerikil Biasanya K diambil = 7,5 Hal tersebut menunjukkan bahwa kenaikan tegangan tekan tidak disertai oleh perbandingan naiknya Modulus of Rupture. Karena tegangan tarik dari beton sangat kecil, maka tegangan tarikan dari beton tidak diperhitungkan dalam perencanaan. Jika tegangan tarik diperhitungkan maka bagaimanapun kurva Stress-Strain untuk tarikan boleh dianggap sebagai garis lurus sampai batas tegangan tarik maksimum.

Besaran dari Modulus of Elasticity (E) dalam tarikan dapat disimpulkan sama dengan tekan (compression). Gambar. 6 ,Test membelah silinder untuk kekuatan tarik. R Perbandingan antara regangan arah melintang dan regangan arah gaya Ratio, yang besarnya antara: 0,15 ± 0,20 untuk beton. Walaupun begitu, harga 0,10 ± 0,30 telah ditetapkan. Banyak keterangan-keterangan yang diberikan, kurang dapat dipercaya V Ratio tergantung dari sifat beton itu sendiri, makin tinggi mutu beton makin kecil nya. Pada tegangan tekan yang besar regangan arah melintang menjadi lebih besar sampai kelihatan memulainya membesar volume dari sampel. Reganganregangan diukur pada sampel yang ditest sampai hancur (failure), dilukiskan pada gambar: 7.

Selama muatan diberikan volume dari sampel mengecil, tetapi pada saat tegangan mencapai maksimu m, regangan melintang mulai membesar sehingga volume sampel membesar, ini menunjukkan batas kekuatan beton. Keruntuhan sampel yang dibebani satu arah (uniaxial), biasanya disertai oleh belahan dalam arah sejajar dengan arah beban, dan volume sampel membesar. Sifat Penggabungan Tegangan (Combined Stress Bihavior) Pada banyak situasi dari konstruksi beton yang dibebani langsung akan menimbulkan tegangan geser kesegala arah. Dengan memperhatikan keseimbangan gaya. Lentera Vol.

14. No. 10, Nopember 2014 42 Gambar 7 Pengukuran regangan beton yang dibebani dengan beban tekan satu arah yang terdapat pada suatu elemen dari beton Menunjukkan bahwa tiap kondisi hubungan tegangan dapat dikurangi menjadi tiga tegangan normal yang bekerja bersamaan dan tegak lurus pada bidang. Ketiga tegangan normal ini adalah tegangan utama tegangan geser yang bekerja pada bidang tersebut menjadi nol. Dalam suatu riset yang terus menerus dan menjengkelkan, diperoleh suatu teori yang belum bisa dipercayai dan belum dikembangkan untuk kehancuran kekuatan beton secara umum dalam tiga demensi. Perbaikan dari teori-teori kompensional tentang kekuatan material telah dicoba, tetapi tidak ada satu teori yang cocok digunakan untuk semua masalah. Dalam banyak penerapan, bagaimana pun satu dari teori-teori yang sederhana tentang kahancuran memberikan hasil yang cukup akurat. Sifat Tegangan dua arah (Biaxial Stress Behavior) Suatu kondisi tegangan dua arah terjadi jika tegangan utama bekerja hanya dalam dua arah, yaitu teganagan-tegangan bekerja pada satu bidang dan tegangan utama yang ke tiga sama dengan nol.

Gambar 8, menunjukkan kombinasi dari tegangan langsung dalam dua arah yang menyebabkan kehancuran seperti diperoleh oleh Kupfer,Hilsdorf dan Rusch. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kekuatan beton yang dibebani dalam dua arah (biaxial) diperoleh kekuatannya 27 % lebih besar dari satu arah. Dengan cara yang sama tegangan tekan dalam dua arah, kekuatan meningkat lebih kurang 16 %.

Kekuatan yang disebabkan tekanan dua arah adalah lebih kurang sama dengan kekuatan yang disebabkan oleh tekanan satu arah. Catatan: namun begitu dengan menggabungkan gaya tarik dan gaya tekan dalam waktu yang sama, dapat mengurangi tegangan tarik dan tegangan tekan pada saat hancur(Failure). Gambar 8 Kekuatan beton dua arah, fu = kekuatan satu arah Pada bidang yang lain yaitubidanggaya geser dengan disertai tegangan geser.Theori Mohr tentang kehancuran telah digunakan untuk ramalan kekuatan pada keadaangabungan teganganregangan.tersebut. Gambar 9 Kekuatan beton dalan 2 demensi system tegangan. Gambar 9 menunjukkan bagaimana sekumpulan lingkaran Mohr menggambar-kan kondisi kehancuran akibat tarikan, tekanan dan kombinasi yang lain, adalahtertutup

(15)

oleh selimut kurva.Setiap kombinasi tegangan mempunyai sebuah lingkaran Mohr yang bersinggungan tegak lurus atau memotong yang dapat dipandang sebagai kondisi hancur. Sebuahkurva yang hancur (failure curve) untuk sebuah elemen dengan tegangan langsung dan tegangan geser dikombinasikan dalam satu arah seperti dilakukan oleh Bresler dan Pister, dilukiskan pada gambar 10.

Lentera Vol. 14. No. 10, Nopember 2014 43 Gambar 10 Kombinasi tegangan dan geser yg menyebabkan kehancuran beton. Kurva menunjukkan bahwa kekuatan tekan dalam beton berkurang akibat adanya tegangan geser.contoh percobaan ini menunjukkan bahwa kekuatan beton pada daerah tekan pada balok dan kolom dipengaruhi oleh adanya geser. Sifat Tegangan Tekan dalam TigaArah / Demensi (Triaxial Compressive Stress Behavior) Kekuatan dan keliatan beton meningkat sangat besar pada saat gaya tekan diberikan dalam tiga demensi. Richart, Brandtzacg, dan Brown mendapatkan hubungan sebagai berikut untuk sampel beton berbentuk silinder yang dibebani secara aksial sampai hancur dimana subject dibatasi dengan tekanan zat cair. + 4,1 fl Dimana cc = tegangan tekan aksial dari sampel yang dibatasi = Kekuatan uniaxial yang sampel yang dibatasi. Fl = tekanan sisi samping dari zat cair. (lateral pressure).

Test-test yang lain oleh Balmer telah memberikan tegangan pada sisi luar yang besarnya 4,5 dan 7,0 dengan harga rata-rata 5,6 , sedikit lebih besar dari 4,1 yang diperoleh oleh Richard dan kawan-kawan.

Harga yang besar diperoleh pada tekanan sisi samping yang kecil.

Gambar 11 Kurva tegangan±regangan dari test tekanan tiga arah pada silinder beton.(Triaxial comprssion test on concrete cylinder Gambar 11, menunjukkan kuva teganagan-regangan oleh Richrart dankawan- kawan silinder beton. Silinder tersebut dimasuk-kan dalam zar cair, sehingga sisi luar silinder dibatasi/ditahan oleh zar cair. Untuk tiap silinder teksnsn zat cair yang bekerja pada sisinya dijaga konstan.Walaupun tegangan tekan dinaikkan sampai silinder hancur dan regangan aksial diukur. Test ini dilakukan dalam waktu cepat. Itu ternyata bahwa setiap adanya kenaikan tekanan pada sisi luar, dapat menambah keliatan (ductility) dan juga kekuatan beton. Hal ini disebuakan karena adanya tekanan pada sisi luar (dinding) yang membatasi beton sehingga mengurangi keretakan dan pembesaran volume sebelum hancur.

(16)

DAFTAR PUS TAKA

Lembaga Penyelidikan Masalah Beton, Peraturan Beton. Indonesia, 1971, NI-2, Depart. Pekerjaan Umum, Bandung Park. R and Paulay.T. Reinforced Concrete Stractures, A Wiley Intercience Publication John Wiley

&6RQ¶V NewYork. London,Sydney, Toronto, 1975. Ramakrishnan V, Arthur P. D, Ultimate Strength Design for Structure Concrete, Wheeler Publishing, 1977, Delhi. Ronald C.S, Principles and Practice of Heavy Construction, PrenticeHall Inc. New York, 1967. Roosseno. R. Ir, Beton Tulang , Cetakan ke empat, Yayasan Pembangunan, 1965, Jakarta. Lentera Vol. 14. No. 10, Nopember 2014

Referensi

Dokumen terkait

DIKTAT BAHAN PENGAJARAN MATA KULIAH.. BAHASA

koleksi buku di Perpustakaan USU untuk bahan ajar mata kuliah utama program. studi akuntansi berdasarkan kajian terhadap daftar bacaan yang ada

Salah satu landasan penyusunan buku ajar adalah keilmuan mata kuliah tertentu. Pertanyaan yang harus diajukan ketika merancang buku ajar adalah mata kuliah berada

Tujuan penelitian ini adalah (1) Menghasilkan produk bahan ajar online mata kuliah micro teaching berbasis lesson study yang layak untuk digunakan program

Telah dihasilkan bahan ajar cetak pada mata kuliah fisika matematika pokok bahasan bilangan kompleks di Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sriwijaya yang

Buku jawaban ujian mata kuliah Hukum Lingkungan untuk semester 2023/2024

Ini adalah makalah mata kuliah Ulumul Hadits dengan judul "Hadits Shohih" yang disusun oleh mahasiswa semester 2 prodi PAI FITK UIN Raden Fatah

Ringkasan isi buku untuk memenuhi tugas mata kuliah Perspektif