• Tidak ada hasil yang ditemukan

Geologi Regional Lembar Pangkajene dan Watampone Bagian Barat, Sulawesi Selatan

N/A
N/A
Sulis Rianny Hamnur

Academic year: 2023

Membagikan "Geologi Regional Lembar Pangkajene dan Watampone Bagian Barat, Sulawesi Selatan"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

Formasi Tonasa tebalnya kurang lebih 3000 m dan tersebar cukup luas pada batuan vulkanik Miosen Tengah di sebelah barat. Sepuluh sampel dari penggalian B.32 (a-f) dan B.54 (a-c dan RR.10), daerah Tanetteriaja dan satu dari penggalian tanah liat terdekat di Tonasa mengandung fosil mikroflora berikut: Acritarchs sp., Anacolosites sp., Anno daceae sp . Retikutcbensis (VENKATCHALA & KAR. 1968), Sapotaceoidacpollenites sp., Sterculiaceae sp., Syncolporate pollen, Tetraporina sp., Tricolpate pollen, Tricolpate verrucate pollen, Triporate pollen.

Trilobus (REUSS), Orbulina universa D'ORBIGNY, Biorbulina bilobata (D'ORBIGNY), Operculina sp., Cycloclypeus sp., Hastigerina Praesiphonifera BLOW, Sphaeroidinellopsis seminulina (SCEWAGER), Sp. Orbulina universa D'ORBIGNY, Hastigerina aequilateralis (BRADY), Sphaeroidinellopsizs seminulina (SCHWACER), Ep. PARKER & JONES), Amphistegina sp., dan Operculina sp. Satuan batuan ini tebalnya tidak kurang dari 1250 m pada lempeng Ujungpandang, Benteng, dan Sinjai, setelah bagian selatan lembaran ini menutupi batuan vulkanik tak selaras Formasi Camba (Tmcv); mungkin berumur Pliosen Akhir.

Di sekitar Bantimala dan Tanetteriaja trachyte menerobos batugamping Formasi Tonasa, dan di utara Soppeng terjadi terobosan batuan vulkanik Soppeng (Tmsv).

Keterangan dan Peta Geologi Lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai, Sulawesi

Kedua wilayah dengan topografi terjal ini dipisahkan oleh pegunungan yang tersusun dari batuan vulkanik Miosen hingga Pliosen. Pada masa Miosen Awal, tampak endapan batuan vulkanik di wilayah timur yang terdiri dari Batuan Vulkanik Kalamiseng (Tmkv). Formasi ini tersusun atas batuan sedimen laut yang diselingi dengan klastit vulkanik, yang kemudian berubah menjadi batuan vulkanik dominan (Tmcv).

Formasi ini tebalnya tidak kurang dari 1500 m, sebagai kelanjutan daerah lembaran Pangkajene dan Watampone bagian barat ke arah utara; ditindih secara tidak selaras oleh batuan Formasi Walanae dan dibatasi oleh sesar dan batuan vulkanik Tmkv. Formasi ini mempunyai tebal sekurang-kurangnya 1.750 m, ditindih secara tidak selaras oleh Batuan Vulkanik Propilisasi (Tpv) dan ditindih oleh Formasi Camba (Tmc); Batuan vulkanik ini mempunyai Anggota Batu Kapur (Tomc) yang ditindih oleh Formasi Riu (Tmr) yang terdiri dari batugamping dan napal.

Batuan vulkanik Talaya terdiri atas breksi, lava dan tufa berstruktur andesit-basal serta mempunyai anggota Beropa Tuff (Tmb).

Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar Palopo, Sulawesi

Satuan tertua pada lembaran ini adalah Batuan Malihan (TR w) yang terdiri atas sekis, gen, filit, dan serpih. Satuan ini dapat disamakan dengan Kompleks Wana pada Lembaran Pasangkayu yang diyakini berumur lebih tua dan berumur Kapur serta ditindih secara tidak selaras oleh Formasi Latimojong (Kls). Formasi Toraja menindih Formasi Latimojong secara tidak selaras, dan ditindih tidak selaras oleh batuan vulkanik Lamasi (Toml), yang terdiri atas batuan vulkanik, sedimen vulkanik, dan batugamping berumur Oligo-Miosen atau Oligosen Akhir - Miosen Awal.

Formasi Sekala terdiri dari rumput hijau, batupasir hijau, napal dan batugamping berselang-seling dengan tufa dan lava berstruktur andesit-basal; Miosen Tengah - zaman Pliosen; bersentuhan dengan batuan vulkanik Talaya. Umumnya dianggap Pliosen karena menerobos batuan vulkanik Walimbong yang berumur Mio-Pliosen, dan jika dibandingkan dengan batu granit pada lempeng Pasangkayu yang berumur 3,35 juta tahun adalah (Sukamto, 1975a). Di sebelah selatan, di bagian barat Anggota Pangkajene dan Watampone (Sukamto. 1982), batupasir semakin mendominasi dan berselingan dengan batulanau.

TPL ANGGOTA FORMASI LAMPONE WALANAE: Batugamping karang dengan ketebalan kurang dari 100 m, terdapat di bagian atas atau sebagai lensa di bagian atas Batuan Vulkanik Walimbong (Tmpv). Batuan yang sejenis dan berumur sama di Lempeng Pangkajene dan Watampona bagian barat (Sukamto, 1982) disebut Anggota Tacipi Formasi Walanae, dan di Lempeng Enrekang (Sukido. 1997) disebut Formasi Tacipi. Pada Lempeng Mamuju (Ratman dan Atmawinata, 1993), formasi ini juga terdiri dari batupasir hijau, napal, dan lava bantal, serta beberapa batuan bercirikan endapan turbidit.

Formasi ini menindih Formasi Latimojong secara tidak selaras dan ditindih secara tidak selaras oleh batuan vulkanik Lamasi. Tetl ANGGOTA FORMASI Mercusuar TORAJA: batugamping berwarna abu-abu sampai putih, beberapa lensa besar mengandung numulit berumur Eosen dengan lingkungan pengendapan laut dangkal, tebal sekitar 500 m; dalam lembaran Mamuju disebut Rantepao Anggota Formasi Toraja (Ratman dan Atmawinata, 1993). Gandang menemukan mineralisasi tembaga, timbal, seng dan besi pada batuan vulkanik dan breksi.

Adanya perubahan seperti kloritisasi dan silisifikasi pada batuan vulkanik Lamas juga menjadi indikator mineralisasi. Pada tahun 1972, pada proyek yang sama, dilakukan survei geologi pada lembar ini dan hasilnya berupa laporan terbuka (Apandi drr., 1982).

Geologi Lembar Mamuju, Sulawesi

Ratman dan (and) S. Atmawinata

Morfologi ini terdapat di bagian barat daya Selamat, yaitu di daerah antara Teluk Lebani dan Teluk Mamuju. Di bagian tenggara Lem tersingkap Tuff Barupu (Qbt) yang terdiri dari tufa, tufa lapili dan lava, umumnya tersusun dari dasit dan diyakini berumur Pleistosen. Sedangkan Formasi Budong-budong (Qb) tersingkap di bagian barat laut, terdiri atas konglomerat, batupasir, batulempung; dan Batu Kapur Karang (Ql).

Satuan ini biasanya terdapat pada lereng yang mempunyai batuan vulkanik dan batuan beku (andesit, basalt dan granit). Singkapan ditemukan di bagian tenggara Selamat di daerah Tandung dan Litke. Lumpur kalsium, warna abu-abu muda, cukup keras; berlapis tebal dan dari beberapa cm sampai 20 cm. Di timur laut berlanjut ke Lempeng Pasangkayu di utara dan Lempeng Malili di timur.

Formasi ini tersingkap di sudut tenggara Selamat yaitu Zona Rantepao dan di bagian tengah lembaran yaitu Zona S. Satuan ini tersingkap di bagian tenggara lembaran yaitu Zona Rantepao dan sedikit di bagian tengah lembaran, dan sebaliknya di dekat Galumpang. Penyebarannya terutama di sekitar Rantepao dan berlanjut ke Selamat Majena dan Palopo di bagian selatan dan timur.

Formasi ini tersebar luas di bagian tenggara lembaran yaitu sebelah barat Rantepao, dan di bagian tengah lembaran. Formasi ini tersebar di sekitar Mamuju dan Tapalang pada lembaran bagian barat daya, berasosiasi dengan batuan vulkanik Adang, tebal ± 500 m. Satuan ini tersebar luas pada bagian tengah, utara dan timur lembaran, bertumpang tindih secara tak selaras pada Formasi Toraja dan bertumpang tindih selaras pada Formasi Sekala.

Batuan ini terdapat pada lembaran bagian timur laut dan menyebar ke arah timur menuju lembaran Malili yang diperkirakan berumur Oligosen-Miosen awal dan terletak tidak selaras di atas Formasi Latimojong (Simandjuntak drr., 1991). Satuan ini diyakini merupakan anggota bagian bawah Batuan Vulkanik Talaya, sehingga umurnya diperkirakan Miosen Tengah. Satuan ini tersebar luas di bagian barat daya Selamat, yaitu daerah antara Tapalang dan Mamuju;

Sebarannya berada di bagian tenggara Selamat yaitu di kawasan Kawalean, selatan Bulu Malimongan, dan barat Rantepao.

Geologi Lembar Malili, Sulawesi

Sungai-sungai yang berhulu di daerah pegunungan mengalir melalui daerah ini dan berlanjut ke dataran dan bermuara di Teluk Bone. Adanya pola aliran subdendritik dengan air terjun di beberapa tempat terutama di daerah pegunungan, arus sungai yang deras, serta dengan mempertimbangkan dataran yang agak luas di bagian selatan peta dan adanya kelokan sungai besar, semuanya menandakan kematangan. morfologi. Batuan teknis ini tersingkap baik di daerah Wasuponda maupun di daerah Ensa, Koro Mudi dan Petumbea dan diperkirakan terbentuk sebelum zaman Tersier (Simandjuntak, 1980).

Di daerah Palopo, batuan granit berumur Miosen Akhir menerobos Formasi Latimojong dan Formasi Toraja serta menghasilkan mineralisasi hidrotermal. Batuan termuda di kawasan ini merupakan alluvium yang terdiri dari endapan sungai, danau, dan pantai. Berdasarkan penanggalan batuan basaltik di daerah Palopo (Sukamto, 1975) dan korelasi dengan batuan vulkanik di daerah Biru (van Leeuwen, 1979) dan daerah Bantimala (Sukamto, 1982), satuan ini diperkirakan berumur Paleogen adalah .

Berdasarkan hasil penggalian celah granit di daerah Palopo, umur batuan tersebut adalah 8,10 juta tahun (Sukamto, 1975) atau Miosen Akhir. Barat Laut Desa Sabbang terlihat gejala keruntuhan tektonik dengan batuan dan Formasi Latimojong di daerah Rampi, satuan ini menyusup ke Satuan Vulkanik Tinemba yang menunjukkan gejala alterasi dan mineralisasi. Gen, abu-abu hingga abu-abu hingga hijau; tekstur heteroblastik, xenomorfik, dan granular, terdiri dari mineral granoblastik berbutir halus hingga sedang.

Daerah tersebut terdapat sesar dorong, sesar penutup, sesar mendatar, dan sesar dorong yang diyakini mulai terbentuk sejak masa Mesozoikum. Lipatan pada daerah ini dapat digolongkan menjadi lipatan lemah, lipatan tertutup, dan lipatan tumpang tindih. Perkembangan tektonik dan sejarah pengendapan batuan sedimen di kawasan ini nampaknya berkaitan erat dengan perkembangan Mendale Banggai-Sula yang bersifat keratonik pada akhir Paleozoikum.

Selama Kapur Akhir, lempeng samudera yang bergerak ke arah barat menunjam ke bawah batas benua dan/atau ke dalam wilayah busur vulkanik. Mineral yang ditemukan pada wilayah yang dipetakan antara lain nikel, bijih besi, kromit, emas, batu kapur, granit, basal, andesit, batu bara, pasir, dan kerikil. Bijih nikel saat ini ditambang oleh PT. Di kawasan ini selain sudah tersedia sarana transportasi, tanahnya juga cukup subur dan sangat bagus untuk persawahan sehingga sangat cocok untuk pemukiman pemukiman.

Saat ini proyek transmigrasi telah dilaksanakan di daerah Bone-bone dan Wotu yang dimulai pada masa Belanda (1930).

Geologi Lembar Bungku, Sulawesi

Purbo-Hadiwidjojo dan (and) R. Sukamto

Mendala Banggai-Sula termasuk Formasi Tokala (TR Jt) yang terdiri dari batugamping klastik dengan intrusi batupasir selingan, diperkirakan berumur Trias-Jura Awal. Batugamping klastik, abu-abu muda, abu-abu sampai merah muda, berbutir halus, sangat kohesif, dan berlapis baik, dengan sambungan berisi urat kalsit putih kotor. Batupasir sedang, berukuran halus hingga kasar, berwarna abu-abu kehijauan hingga merah kecoklatan dengan lempung dan oksida besi lunak, padat lokal, dengan sedikit kuarsa, dilaminasi dengan baik.

Serpih dan napal, berwarna abu-abu sampai abu-abu tua, mempunyai lapisan yang bagus, ketebalan lapisan antara 10 - 20 cm. Tanah liat berpasir, berwarna abu-abu sampai kecoklatan, berlapis baik, tebal lapisan antara 1 - 10 cm diselingi batuan yang disebutkan sebelumnya. Batupasir mika, warnanya merah kecoklatan, berbutir halus sampai kasar, berkerikil lokal, berlapis baik dengan lempung dan oksida besi, padat, ketebalan lapisan bervariasi antara 3 - 30 cm.

Batupasir berwarna abu-abu sampai coklat, berbutir halus sampai kasar, padat, lapisannya cukup baik, tebalnya mencapai 10 cm. Batupasir berwarna abu-abu sampai coklat, berbutir halus sampai sedang; terkompresi; berlapis dengan baik, dengan ketebalan tiap lapisan mencapai 20 cm. Berdasarkan kandungan fosil Heterohelix sp., pada batugamping, dan Radiolaria pada rijang, maka Formasi Matano diduga berumur Kapur Akhir (Budiman, 1980, diketik link);

Batupasir, kuning sampai coklat, abu-abu sampai coklat, kerikil berbutir halus sampai kasar, berlapis baik, di beberapa tempat tebalnya sampai 30 cm, kurang padat sampai padat, komponen pecahan batuan, mineral kuarsa dan hitam; daerah setempat itu mudah. Batu apung, berbutir halus sampai sedang, berwarna abu-abu muda sampai abu-abu tua, kurang padat sampai padat, lapisannya cukup baik, tebal tiap lapisan mencapai 15 cm. Harzburgite, berwarna hijau sampai hitam, padat secara lokal dan keras dengan sifat mineral; tersusun atas mineral halus hingga kasar yang terdiri dari olivin (sekitar 55%), dan piroksen (sekitar 35%), serta mineral serpentin hasil alterasi piroksen dan olivin (sekitar 10%).

Diabase, abu-abu, abu-abu kehijauan hingga hitam kehijauan, padat dan keras, berbutir halus hingga sedang, kristal lokal sepenuhnya. Pada akhir masa Miosen hingga Pliosen, batuan klastik halus hingga kasar dan Formasi Tomata bagian bawah mulai diendapkan pada lingkungan laut dangkal dan terbuka.

Referensi

Dokumen terkait