• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Pedoman Tatalaksana COVID-19 Edisi 3

N/A
N/A
Klinik Pratama Aisyiyah

Academic year: 2023

Membagikan "Buku Pedoman Tatalaksana COVID-19 Edisi 3"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

Lima organisasi profesi yaitu Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Persatuan Dokter Anestesiologi dan Perawatan Intensif Indonesia (PERDATIN) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Perawatan Intensif Indonesia (PERDATIN) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah berkolaborasi dan sepakat untuk menerbitkan Panduan Penanganan COVID-19 Edisi ke-3. Dalam hal ini, kami dari 5 organisasi profesi telah menerbitkan kembali Panduan Penanganan COVID-19 Edisi ke-3.

Tanpa gejala

Klaster COVID-19 didefinisikan sebagai sekelompok individu yang bergejala (memenuhi kriteria klinis A dan B untuk kasus suspek), dilihat dari aspek waktu, tempat, dan paparan yang sama.

Ringan

Sedang

Pedoman Penatalaksanaan COVID-19 7 kamar ATAU Anak: pasien dengan gejala klinis pneumonia tidak berat (batuk atau sesak napas + napas cepat dan/atau tarikan dinding dada) dan tidak ada tanda-tanda pneumonia berat).

Berat /Pneumonia Berat

Kritis

Apabila pemeriksaan hari pertama positif maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan lagi pada hari kedua, bila pemeriksaan hari pertama negatif maka perlu dilakukan pemeriksaan pada hari berikutnya (hari kedua). Untuk PCR lanjutan pada kasus berat dan kritis dapat dilakukan setelah sepuluh hari setelah mendapat hasil usap positif.

TANPA GEJALA

Apabila terjadi demam segera lapor kepada Petugas Pengawasan/FKTP atau keluarga. Anggota keluarga yang melakukan kontak erat dengan pasien harus ke FKTP/RS.

DERAJAT RINGAN

Obat-obatan penunjang baik tradisional (Fitopharmaka) maupun modern asli Indonesia (OMAI) yang terdaftar di BPOM dapat dipertimbangkan untuk diberikan, namun tetap memperhatikan perkembangan kondisi klinis pasien. 13 Pedoman Penatalaksanaan COVID-19 yang terdaftar BPOM dapat menjadi pertimbangan pemberiannya, namun tetap memperhatikan perkembangan kondisi klinis pasien.

DERAJAT SEDANG

DERAJAT BERAT ATAU KRITIS a. Isolasi dan Pemantauan

Tingkatkan terapi oksigen dengan alat High Flow Nasal Cannula (HFNC) jika perbaikan klinis tidak terjadi dalam waktu 1 jam atau jika terjadi perburukan klinis. Memulai terapi oksigen dengan perangkat HFNC; laju aliran 30 L/menit, FiO2 40% berdasarkan kenyamanan pasien dan dapat mempertahankan target SpO2 92-96%.

Gambar 1. Alur Penentuan Alat Bantu Napas Mekanik
Gambar 1. Alur Penentuan Alat Bantu Napas Mekanik

BANTUAN HIDUP DASAR PADA HENTI JANTUNG Pada kondisi berat dan kritis pasien dapat mengalami henti jantung

Penelitian lain di 7 rumah sakit di Tiongkok memberikan plasma konvalesen kepada pasien COVID-19 yang parah atau mengancam jiwa dengan dosis 4–13 mL/kgBB. Penelitian mengenai terapi plasma konvalesen untuk COVID-19 masih terus dilakukan, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

KRITERIA SELESAI ISOLASI, SEMBUH, DAN PEMULANGAN

Apabila pasien mengalami gejala selama 2 hari, maka pasien dapat dikeluarkan dari ruang isolasi setelah 10 hari + 3 hari = 13 hari sejak gejala pertama kali muncul atau timbulnya gejala. Apabila pasien sudah merasakan gejala selama 14 hari, maka pasien dapat keluar dari ruang isolasi setelah 14 hari + 3 hari = 17 hari setelah tanggal timbulnya gejala pertama kali. Apabila pasien sudah merasakan gejala selama 30 hari, maka pasien dapat keluar dari ruang isolasi setelah 30 hari + 3 hari = 33 hari setelah tanggal timbulnya gejala pertama kali.

Pasien terkonfirmasi tanpa gejala, gejala ringan, gejala sedang, dan gejala berat/kritis akan dinyatakan sembuh setelah memenuhi kriteria selesai isolasi dan dikeluarkan surat pernyataan selesai pemantauan, berdasarkan penilaian dokter di rumah sakit. institusi kesehatan tempat pemantauan dilakukan atau oleh DPJP.

PERSISTEN POSITIF COVID-19

Khusus pasien konfirmasi gejala berat/kritis yang sudah keluar dari rumah sakit, agar tetap melakukan isolasi minimal 7 hari agar bisa pulih dan mewaspadai munculnya gejala COVID-19 serta tetap mematuhi protokol kesehatan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa meskipun masih terdapat angka positif, viral load yang terdeteksi ternyata menurun seiring berjalannya waktu. Berdasarkan hal tersebut, penentuan apakah seorang pasien benar-benar menyelesaikan pengobatan bergantung pada penilaian klinis oleh dokter dibantu RT-PCR yang dilakukan sebagai penunjang.

Pasien yang tetap positif dengan viral load rendah tetap disarankan untuk melakukan isolasi mandiri dan mengikuti protokol medis hingga hasil RT-PCR dikonversi.

KASUS REINFEKSI

FENOMENA LONG COVID-19

Beberapa gejala yang terlibat dalam fenomena ini antara lain batuk, sesak napas, anosmia, ageusia, sakit kepala, nyeri badan, diare, mual, kelelahan, nyeri perut dan badan, serta gejala neurologis. Sebuah penelitian menemukan bahwa pada kelompok usia 18-34 tahun, 20% pasien mengalami gejala jangka panjang. Beberapa ahli juga menyatakan bahwa gejala jangka panjang ini bersifat jangka panjang, dengan gejala berupa brain fog atau kesulitan berpikir, sesak napas, aritmia, bahkan hipertensi.

Hal ini kemudian harus diwaspadai oleh tenaga medis, karena dengan gejala yang berkepanjangan, tidak menutup kemungkinan kualitas hidup pasien akan menurun dan tidak menutup kemungkinan kondisi pasien akan semakin memburuk.

RANGKUMAN TERAPI DAN ALGORITMA

TANPA GEJALA

DERAJAT RINGAN

Azitromisin 500 mg/24 jam/oral (selama 3 hari) Bila tidak ada, dapat menggunakan Levofloxacin 750 mg/24 jam (5 hari) jika mencurigai adanya infeksi bakteri sambil menunggu hasil tes usap. Berobat di rumah sakit/rumah sakit rujukan sampai memenuhi kriteria keluar dari rumah sakit. Pemeriksaan laboratorium PCR usap nasofaring pada hari ke-1 dan ke-2 dengan selang waktu >24 jam sesuai Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Halaman 86.

Kasus pasien suspek dan probable yang diduga mengidap COVID-19 dan memenuhi kriteria tingkat keparahan penyakit dalam kategori sedang, berat, atau kritis (lihat bagian definisi kasus) diperlakukan sebagai pasien terkonfirmasi COVID-19 hingga terbukti sebaliknya.

Strategi Ventilasi Mekanik

  • Terapi awal O 2
  • Pengaturan Ventilasi Mekanik - Ventilatory setting
  • Perawatan Pasca Intubasi
  • Penyapihan Ventilasi Mekanik a. Syarat penyapihan

Penggunaan obat penenang mungkin digunakan bila pasien memerlukan sedasi lebih dalam, misalnya pada kasus ventilasi mekanis asinkron. Penggunaan obat pelemas otot dapat digunakan jika pasien mengalami asinkroni yang persisten setelah pemberian analgesik dan sedasi. Strategi sedasi seimbang dengan menggunakan pelemas otot dapat diterapkan untuk meminimalkan efek samping obat dosis tinggi.

Hal ini terkait dengan peningkatan angka kematian pada pasien yang mendapat obat pelemas otot lebih dari 48 jam selama dirawat di ICU.

Strategi Tata Laksana Syok

Diabetes Mellitus

Pasien Covid-19 dengan gejala ringan dengan peningkatan glukosa ringan hingga sedang dapat menggunakan obat antidiabetes non-insulin (umumnya isolasi saja sudah cukup). Prinsip pengelolaan diabetes rawat jalan pada pasien Covid-19 mengikuti prinsip pengelolaan hari sakit bagi penderita diabetes. Prinsip penatalaksanaan diabetes dengan infeksi Covid-19 di rumah sakit mengikuti kaidah penatalaksanaan hiperglikemia di rumah sakit.

SGLT-2i Tidak dianjurkan untuk pasien Covid-19 dengan gejala sedang hingga berat karena risiko dehidrasi dan ketosis.

Geriatri

Pedoman penatalaksanaan penyakit COVID-19 61 juga meningkatkan kemungkinan terjadinya badai sitokin ketika terpapar penyakit Covid-19 karena subjek geriatri mengalami keadaan immunosenescence (menurunnya kekebalan tubuh di usia tua).

Autoimun

Penyakit Ginjal

Pasien Covid-19 juga harus diberi jarak minimal 6 kaki (1,8 meter) dari mesin pasien terdekat ke segala arah. Perawatan pasien COVID-19 dengan CKD memerlukan penyesuaian dosis obat uji yang digunakan. Pada pasien yang selain diare, juga mengalami gejala gastrointestinal, virus COVID-19 juga dapat ditemukan pada tinja.

Belum lagi pasien COVID-19 mengalami gangguan penciuman dan pengecapan yang akan memperburuk nafsu makannya.

Tabel 7.  Kriteria DIC berdasarkan The International Society of          Thrombosis Haemostasis (ISTH)  7
Tabel 7. Kriteria DIC berdasarkan The International Society of Thrombosis Haemostasis (ISTH) 7

Tromboprofilaksis

Hal lain yang perlu diperhatikan sebelum pemberian antikoagulan adalah adanya penyakit penyerta seperti kelainan ginjal, atau pasien memerlukan evaluasi lebih lanjut, sebaiknya pasien berkonsultasi dengan dokter SpPD-KHOM, Dokter Spesialis Jantung (SpJP/SpPD-KKV) dan/ atau subspesialis terkait lainnya dengan komplikasi pada pasien tersebut. Selama pemberian antikoagulan, pemeriksaan laboratorium hemostasis rutin tidak diperlukan kecuali terdapat efek samping perdarahan atau perburukan DIC atau pertimbangan klinis khusus. Jika kondisi pasien membaik, dapat dimobilisasi secara aktif, dan penilaian ulang tidak menunjukkan risiko tinggi terjadinya trombosis, antikoagulan profilaksis dapat dihentikan, kecuali pada beberapa pasien yang berisiko mengalami trombosis, antikoagulan profilaksis dapat dilanjutkan setelah pengobatan rawat jalan.

Tromboemboli vena (emboli paru dan trombosis vena dalam)

Antikoagulan oral, seperti DOAC (antikoagulan oral langsung) atau antagonis vitamin K, tidak direkomendasikan untuk digunakan pada pasien COVID-19 sebagai tromboprofilaksis atau pada pasien COVID-19 dengan EP/DVT yang sedang dirawat dan mungkin mengalami perburukan atau ketidakstabilan. . Setelah pengobatan rawat jalan, antikoagulan oral dapat dipertimbangkan jika tidak ada interaksi dengan obat yang diberikan kepada pasien COVID-19, seperti obat antivirus, antibiotik (makrolida), steroid, dan obat lain. Jika EP dialami, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter SpPD-KHOM, Dokter Spesialis Paru (SpP)/Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Pulmonologi (SpPD-KP) atau konsultan terkait lainnya seperti Radiologi Intervensi.

Jika pasien COVID-19 dengan gangguan koagulasi merupakan pasien dengan penyakit penyerta khusus seperti CAD pada terapi dual antiplatelet, fibrilasi atrium pada terapi warfarin, gangguan ginjal, hamil, penyakit autoimun, atau mengalami komplikasi kompleks, disarankan untuk melakukan konseling dan penatalaksanaan dalam tim. bersama. dengan dokter ahli/subspesialis yang sesuai, sehingga antikoagulan dan terapi lainnya dapat diberikan secara bijaksana dan aman.

Tabel 10. Dosis Modifikasi Heparin Berdasarkan Nilai APTT  APTT (detik)  Dosis Modifikasi
Tabel 10. Dosis Modifikasi Heparin Berdasarkan Nilai APTT APTT (detik) Dosis Modifikasi

Cedera Miokardium pada Infeksi COVID-19

Pemeriksaan paling awal yang dapat digunakan ketika diduga ada pasien COVID-19 dengan keterlibatan kerusakan miokard adalah kelainan EKG. Tidak terdapat perbedaan bermakna pemeriksaan rontgen dada antara pasien COVID-19 dengan atau tanpa cedera miokard. Strategi pengobatan gagal jantung akut yang sama dapat diterapkan pada pasien dengan dan tanpa COVID-19.

Risiko infeksi COVID-19 mungkin lebih tinggi pada pasien gagal jantung kronis karena usia lanjut dan adanya berbagai penyakit penyerta.

Hipertensi

Terapi medis yang direkomendasikan oleh pedoman (termasuk beta-blocker, ACEI, ARB, dan antagonis reseptor mineralokortikoid) harus dilanjutkan pada pasien dengan gagal jantung kronis, terlepas dari ada atau tidaknya infeksi COVID-19. Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko independen terhadap komplikasi serius atau kematian akibat infeksi COVID-19. Terapi antihipertensi mungkin perlu dihentikan sementara pada pasien rawat inap dengan infeksi akut yang mengalami hipotensi atau cedera ginjal akut akibat infeksi COVID-19 yang parah.

Tidak ada bukti bahwa penggunaan kortikosteroid inhalasi atau oral (ICS) untuk PPOK harus dihindari pada pasien PPOK selama pandemi COVID-19.

Tuberkulosis

Pasien tetap mendapatkan pengobatan anti tuberkulosis (OAT) sesuai standar pasien suspek, probable, dan konfirmasi COVID-19. Pasien akan mendapat pengobatan sesuai penanganan COVID-19 dengan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari sambil menunggu tes usap COVID-19. Pasien TBC resistan obat yang belum terkonfirmasi COVID-19 namun masih menjalani terapi suntikan diharapkan tetap melakukan kunjungan harian.

Terdapat bukti COVID-19 (berupa RT-PCR, tes antigen positif, atau serologi positif) atau kemungkinan besar kontak dengan pasien COVID-19.

Tabel 11. Klasifikasi klinis
Tabel 11. Klasifikasi klinis

Tanpa gejala terkonfirmasi, suspek/probable/terkonfirmasi ringan

Algoritma pengobatan ARDS pada anak dengan infeksi COVID-19 (dimodifikasi dengan persetujuan Komite Konsensus PEMVECC 2020). Pedoman Penanganan COVID-19 129 Subkomite Ilmiah Asosiasi Internasional untuk Trombosis dan Hemostasis (ISTH) untuk Koagulasi Intravaskular Diseminata (DIC).

Tabel 12. Jenis – jenis obat pada COVID-19
Tabel 12. Jenis – jenis obat pada COVID-19

MSHS. MSHS COVID ANTICOAGULATION PROTOCOL

Cardiac injury is associated with mortality and critically ill pneumonia in COVID-19: A meta-analysis [Internet]. Treatment of children with COVID-19: position paper of the Italian Association of Pediatric Infectious Diseases Italian Journal of Pediatrics. Effect of hydrocortisone on 21-day mortality or respiratory support among critically ill patients with COVID-19: A randomized clinical trial.

Effect of hydrocortisone on mortality and organ support in patients with severe COVID-19: REMAP-CAP COVID-19 Corticosteroid Domain Randomized Clinical Trial.

Gambar

Gambar 1. Alur Penentuan Alat Bantu Napas Mekanik
Gambar 2. Algoritme BHD pada kasus henti jantung untuk                     pasien terduga atau terkonfirmasi COVID-19
Tabel 4. Pilihan terapi dan rencana pemeriksaan untuk pasien terkonfirmasi
Gambar 3.   Algoritma penanganan pasien COVID-19
+7

Referensi

Dokumen terkait

 Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dengan

1) Bagi peserta seleksi yang telah terkonfirmasi positif COVID-19 dan sedang menjalani isolasi diwajibkan melaporkan kepada Instansi yang dilamar, kemudian Instansi tersebut

Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dengan ditambah minimal 3 hari