• Tidak ada hasil yang ditemukan

BukuAjarPerencanaanBerbasisMitigasiBencana

N/A
N/A
Petrus Carba

Academic year: 2024

Membagikan "BukuAjarPerencanaanBerbasisMitigasiBencana"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/356281916

PERENCANAAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

Book · November 2021

CITATIONS

0

READS

3,706

3 authors:

Fahmi Aulia Syiah Kuala University 2PUBLICATIONS   0CITATIONS   

SEE PROFILE

Putra Rizkiya Syiah Kuala University 7PUBLICATIONS   9CITATIONS   

SEE PROFILE

Evalina Zuraidi Syiah Kuala University 18PUBLICATIONS   47CITATIONS   

SEE PROFILE

(2)

Perencanaan wilayah dan kota memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan aman dari bencana. Perencanaan tata ruang sering digunakan sebagai salah satu instrumen penting untuk mitigasi dampak bencana. Fungsinya untuk mengatur pemanfaatan ruang dalam jangka panjang melalui strategi pengelolaan ruang dengan regulasi dan petunjuk teknis yang tepat diyakini dapat meminimalkan risiko terpapar bahaya. Oleh karena itu, buku ajar perencanaan berbasis mitigasi bencana ini ditulis agar perencanaan wilayah dan kota dapat merespon bencana dan meminimalkan dampak bencana dengan menerapkan konsep- konsep mitigasi yang sesuai dengan linkungan dan jenis bencana tertentu. Buku ini merujuk dari berbagai sumber terkait yang mencakup konsep dasar kebencanaan, siklus manajemen bencana, kebijakan berbasis mitigasi bencana, bagaimana mitigasi bencana dalam proses perencanaan, dan isu-isu strategis dalam perencanaan kebencanaan.

PERENCANAAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

Langugop, Syiah Kuala Banda Aceh, Provinsi Aceh

Email: [email protected] www. Bandarpublishing.com

PERENCANAAN

BERBASIS MITIGASI BENCANA

BUKU AJAR

(3)

BUKU AJAR

PERENCANAAN BERBASIS MITIGASI

BENCANA

EVALINA Z.

FAHMI AULIA PUTRA RIZKIYA

PERENCANAAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

Copyright @2021, Penulis & Penerbit Penulis: Evalina Z., Fahmi Aulia, Putra Rizkiya ISBN: 978-623-5669-08-3

Layout & Sampul: Evalina Z.

Diterbitkan Oleh:

Bandar Publishing

Jl. Teungku Lamgugop, Syiah Kuala Banda Aceh Provinsi Aceh, Hp.

08116880801 IG. Bandar.publishing TW. @bandarbuku FB. Bandar Publishing Anggota IKAPI

Dicetak Oleh:

Percetakan Bandar di Lamgugop Banda Aceh (Isi diluar tanggung jawab percetakan) Cetakan Pertama, 2021

Halaman: viii +106 hlm. 18 x 25 cm

Undang-Undang No. 19 tahun 2002 Tentang Hak Cipta

1. Barang siapa sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal (2) Ayat (1) atau pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dendapaling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah)

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak ciptaan atau hak terkait sebagai pada Ayat (1) dipidanan dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah)

(4)

PRAKATA

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T., akhirnya buku ajar ini dapat diselesaikan.

Buku ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang berjudul ‘Studi Masyarakat Tangguh Bencana Berbasis Nilai Islami Untuk Mendukung Perencanaan Tata Ruang Kota Berkelanjutan”. Penelitian ini dibiayai Universitas Syiah Kuala, Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset Dan Teknologi, sesuai dengan surat perjanjian penugasan, pelaksanaan penelitian lektor tahun anggaran 2021, Nomor: 172/ UN11/ SPK/ PNBP/

2021 tanggal 22 Februari 2021.

Buku ini berisi tentang bahan rujukan bagi mahasiswa terkait perkuliahan Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana. Di dalam buku ini akan disajikan teori dan informasi yang dapat melatih kemampuan pemecahan masalah perencanaan. Buku ini juga tidak lepas dari banyak kekurangan baik dari segi penulisan, pemaparan dan isi. Oleh karna itu penulis berharap masukan yang konstruktif dari para pembaca.

Akhirnya, semoga buku ajar ini bermanfaat. Selamat belajar dan semoga sukses.

Banda Aceh, Oktober 2021 Penulis

DAFTAR ISI

PRAKATA ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

1. PENGANTAR ... 1

2. KONSEP BAHAYA, RESIKO, KERENTANAN, DAN KAPASITAS ... 13

2.1 Bahaya (Hazard) ... 17

2.2 Risiko (Risk) ... 27

2.3 Kerentanan (Vulnerability) ... 35

2.4 Kapasitas (Capacity) ... 36

2.5 Ketangguhan (Resilience) ... 49

3. SIKLUS MANAJEMEN BENCANA ... 57

3.1. Fase Mitigasi (Mitigation) ... 59

3.2. Fase Kesiapsiagaan (Preparedness) ... 61

3.3. Fase Tanggap Darurat (Emergency response) 63 3.4. Fase Pemulihan (Recovery) ... 66

(5)

4. KEBIJAKAN BERBASIS MITIGASI BENCANA ... 72

4.1. Level Internasional ... 72

4.2. Level Nasional ... 77

4.3. Level Lokal ... 80

5. MITIGASI BENCANA DALAM PROSES PERENCANAAN ... 83

5.1 Identifikasi Isu ... 84

5.2 Penetapan Tujuan ... 87

5.3 Pengumpulan Data ... 87

5.4 Analisis dan Interpretasi Data ... 90

5.5 Perumusan Rencana ... 94

5.6 Implementasi ... 96

5.7 Monitoring ... 97

6. ISU-ISU STRATEGIS DALAM PERENCANAAN KEBENCANAAN ... 98

6.1. Isu Sektoral... 98

6.2. Isu Spatial ... 99

6.3. Isu Temporal ... 101

KESIMPULAN ... 104

BIOGRAFI PENULIS ... 105

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Peta Tektonik Indonesia ... 2

Gambar 1. 2 Peta Indeks Rawan Bencana Indonesia .. 3

Gambar 2. 1 Gempa Terdahsyat Dalam Sejarah ... 15

Gambar 2. 2 Degg’s Model ... 19

Gambar 2. 3 Proses terjadinya gempa bumi ... 21

Gambar 2. 4 Proses terjadinya tsunami ... 23

Gambar 2. 5 Proses gunung berapi Meletus ... 24

Gambar 2. 6 Tanah longsor ... 25

Gambar 2. 7 Matrik Hubungan Antara Resiko Bahaya Lingkungan Fisik Dengan Kerentanan Bencana ... 31

Gambar 2. 8 Latihan evakuasi ... 46

Gambar 2. 9 Perlengkapan untuk evakuasi darurat . 47 Gambar 2. 10 Peta sebaran sirine tsunami yang dipasang di 18 Provinsi di Indonesia ... 48

Gambar 2. 11 Hubungan antara Resiko, Kerentanan, Kapasitas dan Ketangguhan ... 54

Gambar 4. 1 Sendai Framework untuk pengrangan resiko bencana ... 77

Gambar 4. 2 Kedudukan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana dalam system perencanaan nasional ... 79

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. 1 Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Mata Kuliah Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana ... 6

1. PENGANTAR

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia.

Jumlah pulau di Indonesia adalah 13.466 pulau, luas daratan adalah 1.922.570 Km2 (37,1%), dan luas perairan adalah 3.257.483 Km2 (62,9%), hingga total luas Indonesia adalah 5.180.053 Km2 . Garis pantainya kurang lebih sepanjang 81.000 Km (Badan Informasi Geospasial (BIG), 2013). Pulau-pulau Indonesia terbentuk tiga lempeng tektonik dunia yaitu lempeng Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia.

Kondisi tersebut menyebabkan Negara Indonesia menjadi salah satu negara mempunyai potensi tinggi terhadap bencana gempabumi, tsunami, letusan gunungapi dan gerakan tanah (tanah longsor).

Posisi wilayah Indonesia yang berada di garis Khatulistiwa dan berbentuk Kepulauan menimbulkan potensi tinggi terjadinya berbagai jenis bencana hidrometeorologi, yaitu banjir, banjir bandang, kekeringan, cuaca ekstrim (angin puting beliung), abrasi, gelombang ekstrim dan kebakaran lahan dan hutan. Fenomena perubahan iklim memberikan kontribusi terhadap peningkatan bencana hidrometeorologi (BNPB, 2021).

(7)

Gambar 1. 1 Peta Tektonik Indonesia Sumber: http://balai3.denpasar.bmkg.go.id/tentang-

gempa

Bencana, termasuk letusan gunung berapi baru- baru ini, gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, dan sebelumnya bencana termasuk Tsunami Samudra Hindia 2004, telah merenggut sejumlah besar nyawa dan menghancurkan kehidupan masyarakat Indonesia.

Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) BNPB (http://dibi.bnpb.go.id/) menunjukkan bahwa jumlah kejadian bencana dan korban meninggal per jenis kejadian bencana dalam periode antara tahun 1815- 2021 terus meningkat. Dapat dikatakan bahwa dalam dua abad terakhir ini Indonesia telah mengalami ribuan bencana geologis maupun hidrometeorologis

yang menimbulkan ratusan ribu korban jiwa manusia.

Negara ini mengalami rata-rata 290 signifikan bencana alam setiap tahun selama 30 tahun terakhir, termasuk Tsunami Samudra Hindia 2004 yang membunuh sekitar 220.000 orang di empat negara, 167.000 di Indonesia saja, dan biaya sekitar $ 10 miliar dalam kerusakan. Sebagai daerah yang rawan bencana, sudah sepantasnya upaya mitigasi dilakukan secara maksimal di wilayah ini.

Gambar 1. 2 Peta Indeks Rawan Bencana Indonesia Sumber: https://bnpb.go.id/potensi-ancaman-bencana

Berkaitan dengan perencanaan wilayah dan kota, hampir semua Kabupaten/Kota di Indonesia telah memiliki dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah sebagai alat pengaturan, pengendalian dan pengarahan pemanfaatan ruang. Akan tetapi belum menunjukkan hasil yang optimal dalam pengurangan resiko bencana. Memperhatikan kondisi wilayah

(8)

Indonesia yang rawan bencana dan tren kejadian bencana yang terus meningkat tersebut, maka dipandang perlu bagi setiap lulusan sarjana perencanaan wilayah dan kota untuk memahami bagaimana perencanaan terkait dengan aspek mitigasi bencana yang dapat dipelajari pada salah satu mata kuliah di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota yaitu Mata Kuliah Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana.

Mata kuliah Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana mendukung pemahaman mahasiswa dalam memahami aspek perencanaan dalam upaya mengurangi resiko bencana. Mahasiswa diharapkan dapat memahami peran manajemen kebencanaan dan isu-isu terkait dengan perencanaan dan kebijakan di tiap tahapan dari manajemen bencana.

Buku ini berisi tentang bahan rujukan bagi mahasiswa terkait perkuliahan Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana. Di dalam buku ini akan disajikan materi kuliah yang dibagi menjadi 5 topik utama yang masing-masingnya akan dipaparkan dalam bab dan sub bab. Bab pertama dari buku ajar ini merupakan pengantar dan penjelasan mengenai deskripsi mata kuliah dan struktur dari bahan ajar ini. Kemudian di bab kedua, membahas topik terkait konsep bahaya,

resiko, kerentanan, dan kapasitas. Bab ketiga selanjutnya menjelaskan tentang siklus manajemen bencana. Bab keempat membahas tentang topik kebijakan berbasis mitigasi bencana. Dan bab kelima dari buku ini menjelaskan tentang bagaimana mitigasi bencana dalam proses perencanaan. Bab keenam sebagai bab terakhir membahas tentang isu-isu strategis dalam perencanaan kebencanaan.

Selain berisi materi pembelajaran terkait topik mitigasi bencana dalam perencanaan wilayah dan kota, buku ini juga menyediakan soal-soal latihan yang dapat melatih kemampuan pemecahan masalah bagi mahasiswa. Dan juga, menyediakan daftar rujukan yang bisa dijadikan sumber bacaan lebih lanjut bagi mahasiswa, dengan harapan untuk lebih memudahkan mereka dalam menyelesaikan capaian pembelajaran pada mata kuliah ini.

Rencana Pembelajaran Semester (RPS) mata kuliah Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana diuraikan dalam tabel 1.1.

(9)

Tabel 1. 1 Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Mata Kuliah Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana

No Kemampuan Akhir Yang Diharapkan

Bahan Kajian (Materi Pelajaran)

Strategi

Pembelajaran Waktu

Belajar Kriteria Penilaian (Indikator)

(1) (2) (3) (4) (5) (7)

1

Mahasiswa mampu memahami faktor apa saja yang membentuk risiko, identifikasi bahaya, hal- hal yang menimbulkan kerentanan, serta upaya meningkatka n resiliensi masyarakat.

Klasifikasi Bahaya dan Sumberny a. Sub Pokok Bahasan:

Jenis bahaya:

bencana alami dan bencana buatan Karakteris tik bencana alam dan non alam

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

2

Menghitu ng kerentana n: Sosial, ekonomi, dan politik.

Kajian kerentana n sosial Kajian kerentana n ekonomi

Pendekatan:

pemecahan masalah.

Metode : diskusi presentasi, penugasan.

Model : kooperatif.

2 x 50 Tes tertulis.

Keterampi lan.

Sikap:

kerjasama .

Kajian kerentana n politik

3

Meningka tkan kapasitas masyarak at.

Kapasitas masyarak at saat terjadi bencana Menguran gi risiko dengan kapasitas

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

4

Kajian risiko terkait bahaya, kerentana n, dan kapasitas.

Menghitu ng risiko Hubungan risiko dengan bahaya, kerentana n dan kapasitas

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

5

Mahasiswa dapat memahami konteks perencanaan berbasis mitigasi

Kebijakan kebencan aan Indonesia.

Produk hukum kebencan

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

(10)

bencana dan memahami hirarki, sistem, aktor, kebijakan, dan politik perencanaan kebencanaan di Indonesia maupun Dunia

aan Indonesia Aturan perencan aan kebencan aan

Model : PBL. tepat

waktu, tanggung jawab, kerjasama

6

Level perencan aan tingkat lokal, pulai, nasional, dan internasio nal.

Aktor perencan aan kebencan aan Hirarki perencan aan kebencan aan

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

7

Resiliensi.

Memaha mi arti resiliensi Upaya meningka tkan resiliensi

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

9

Mahasiswa mampu memahami siklus manajemen bencana yang mejadi dasar keluaran produk perencanaan kebencanaan

Perencana an kesiapsiag aan.

Definisi kesiapsiag aan Produk perencan aan fase kesiapsiag aan:

Rencana Kontijensi

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

10

Perencana an tanggap darurat.

Definisi tanggap darurat Produk perencan aan fase tanggap darurat:

Rencana Operasi

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

11

Perencana an pemuliha n.

Definisi pemuliha n Produk perencan aan fase pemuliha

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab,

(11)

n:

Rencana Rekontruk si dan Rehabilita si

kerjasama

12

Perencana an mitigasi.

Definisi mitigasi Produk perencan aan fase mitigasi:

Rencana Aksi

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

13

Mahasiswa mampu memahami isu strategis perencanaan kebencanaan di nasional maupun internasional.

Manajem en komunika si tanggap darurat.

Jaringan komunika si tanggap darurat lintas sector.

Efisiensi jalur komunika si

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

14

Manajem en kolaborasi dan koordinasi kebencan

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok,

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

aan.

Perencana an multiaktor Sistematis kolaborasi lintas sektor

presentasi.

Model : PBL. Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

15

Perencana an mengguna kan teknologi geospasial .

Teknik ArcGIS dalam menentuk an rencana mitigasi bencana

Pendekatan:

ketrampilan proses.

Metode : diskusi kelompok, presentasi.

Model : PBL.

2 x 50 Tes tertulis:

Menganali sis Ketrampil an:

Afektif:

tepat waktu, tanggung jawab, kerjasama

(12)

REFERENSI

http://balai3.denpasar.bmkg.go.id/tentang-gempa BNPB (2021), (http://dibi.bnpb.go.id/)

https://bnpb.go.id/potensi-ancaman-bencana Prodi PWK USK (2021), Pedoman Kurikulum Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Syiah Kuala.

2. KONSEP BAHAYA, RESIKO, KERENTANAN, DAN

KAPASITAS

Bencana merupakan bagian dari kehidupan.

Bencana tercatat telah ada sejak catatan sejarah diperkenalkan, bahkan mungkin lebih lama dari masa sebelum manusia mengenal tulisan. Manusia telah mengalami berbagai kejadian bencana besar, menanggulanginya dan kemudian kembali melanjutkan hidup. Dalam berbagai kitab suci, bencana sering ditunjukkan sebagai representasi hukuman Tuhan untuk berbagai kerusakan yang dibuat manusia di bumi.

Salah satu gempa dahsyat pertama yang pernah tercatat dalam sejarah manusia adalah gempa bumi yang menimpa Kota Antioch, sebuah kota dari Imperium Byzantium, pada tahun 526 Masehi. Gempa ini menyebabkan kematian hingga 250.000 ribu jiwa dan bahkan diduga melebihi angka tersebut karena terjadi saat Kota Antioch sedang ramai dikunjungi oleh berbagai turis (Thurn eds, 2000). Setelah itu, peradaban manusia mencatat

(13)

berbagai bencana alam dahsyat seperti Gempa Aleppo pada tahun 1138 yang menewaskan 230.000 jiwa (Ibn Taghribirdi, dalam Ambraseys, 2004).

Sejarah manusia modern sendiri mencatat beberapa gempa besar lain seperti gempa Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 yang menghasilkan tsunami yang menghancurkan wilayah pesisir di 14 negara dengan korban tercatat 227.898 jiwa. Selain itu, juga ada gempa Haiti yang terjadi pada 12 Januari 2010, yang mengakibatkan krisis berkepanjangan di negara tersebut. Kejadian gempa lain yang mendapat perhatian besar dari masyarakat dunia adalah gempa Tohoku, Jepang, pada 11 Maret 2011, yang diikuti dengan tsunami dan tragedi bocornya reaktor nuklir Fukushima Daichi sehingga kota tersebut harus ditinggalkan akibat bahaya radiasi.

UU No 24 Tahun 20017 tentang Penanggulangan Bencana mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Gambar 2. 1 Gempa Terdahsyat Dalam Sejarah Sumber: dream.co.id

The United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) mendefinisikan bencana sebagai gangguan serius terhadap fungsi suatu komunitas atau masyarakat yang menyebabkan kerugian manusia, material, ekonomi, atau lingkungan yang luas, yang melebihi kemampuan komunitas atau masyarakat yang terkena dampak untuk mengatasinya dengan menggunakan sumber dayanya sendiri. Sementara World Health Organization (WHO) mendefinisikan bencana sebagai setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia, memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan, dalam skala yang cukup untuk memerlukan respon yang luar biasa dari luar komunitas atau daerah yang terkena.

(14)

Dampak bencana dapat mencakup hilangnya nyawa, cedera, penyakit, dan efek negatif lainnya pada kesejahteraan fisik, mental dan sosial manusia, bersama-sama dengan kerusakan properti, kehancuran aset, hilangnya layanan, gangguan sosial dan ekonomi, dan degradasi lingkungan. Bencana menimbulkan dampak multidimensi yang tidak hanya mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi dan politik, tetapi juga kondisi mental dan budaya daerah yang terkena bencana (Srivastava 2010).

Bencana dapat mengganggu kehidupan normal masyarakat sehari-hari seperti kehidupan sekolah, kegiatan bisnis, dan layanan pemerintah.

Dampaknya melampaui kapasitas lokal dalam penanganannya (IJMES Quarentelly 1987). Dari definisi diatas, dapat dilihat bahwa bencana merupakan kejadian yang memberikan dampak besar dan perlu direspon dengan tindakan yang luar biasa.

Untuk memahami bencana secara lebih dalam, maka mahasiswa perlu mengetahui beberapa konsep dasar terkait kebencanaan yaitu bahaya, risiko, kerentanan, kapasitas dan ketangguhan.

2.1 Bahaya (Hazard)

Terjadinya bencana memerlukan sebuah prasyarat yaitu adanya bahaya (hazard) Bahaya adalah situasi atau kejadian yang memiliki kapasitas untuk membawa kerusakan pada kehidupan, properti dan lingkungan. UNISDR 2004 mendefinisikan bahaya sebagai suatu peristiwa fisik, fenomena atau aktivitas manusia yang berpotensi merusak yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa atau cedera, kerusakan properti, gangguan sosial dan ekonomi atau degradasi lingkungan. Bahaya juga dapat didefinisikan sebagai peristiwa alam atau buatan manusia yang dapat menyebabkan kerusakan fisik, kerugian ekonomi atau mengancam kehidupan dan kesejahteraan manusia jika terjadi di daerah pemukiman manusia kegiatan pertanian atau industri. Dengan demikian, bahwa merupakan suatu peristiwa alam/geofisik yang dianggap berpotensi mengancam jiwa dan harta benda (whittow).

Bahaya merupakan kondisi laten yang dapat menyebabkan ancaman di masa depan. Bahaya dapat berasal dari alam maupun proses yang melibatkan manusia. Bahaya dari alam bisa disebabkan oleh fenomena-fenomena geologis seperti gempa yang diakibatkan oleh pergerakan

(15)

lempeng bumi, hidrometeorologi seperti badai yang disebabkan oleh kondisi cuaca, dan biologis seperti wabah belalang yang mengakibatkan gagalnya panen dan mendorong bencana kelaparan.

Sementara bahaya yang dipicu oleh proses yang melibatkan manusia antara lain degradasi lingkungan dan bahaya teknologi, seperti reaktor nuklir dan kebocoran minyak.

Keterkaitan antara hazard dengan bencana dan populasi diperlihatkan dalam Degg’s Model.

Model diperkenalkan oleh Dr. Howard Degg. Model ini menunjukkan bahwa bencana terjadi hanya saat bahaya mengenai populasi yang rentan. Dengan demikian, tidak ada bencana yang terjadi jika tidak ada populasi yang rentan yang terkena. Dengan definisi ini dapat dikatakan bahwa jika sebuah gunung berapi meletus di sebuah pulau yang jauh dan tidak mengakibatkan kerusakan pada manusia dan atau lingkungan, maka hal itu tidak dapat dikategorikan sebagai bencana. Namun, jika sebuah gunung berapi meletus di sebuah pulau yang jauh namun mengakibatkan kerusakan secara langsung maupun tidak langsung, baik dalam skala kecil maupun global, maka kejadian itu dapat dikategorikan sebagai bencana. Degg’s model ditampilkan dalam gambar berikut:

Gambar 2. 2 Degg’s Model Sumber: Dunn, Cameron (2016)

Model Degg’s sekaligus menunjukkan bahwa istilah natural disaster (bencana alam) tidak tepat untuk menggambarkan potensi bahaya seperti gempa, banjir atau tsunami mengingat disaster (bencana) merupakan hasil dari irisan bahaya dan kerentanan. Gempa, banjir dan tsunami lebih tepat disebut sebagai merupakan bahaya alam (natural hazard). Bahaya dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu bahaya alam, bahaya buatan manusia, dan bahaya kombinasi atau disebut juga bahaya sosio- natural.

(16)

a) Bahaya Alam

Bahaya alam merupakan fenomena alam yang menimbulkan ancaman atau menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan harta benda. Contoh bahaya alam adalah gempa, topan, gelombang badai, banjir lahar, kekeringan, dan kebakaran hutan.

a. Gempa bumi adalah peristiwa tergelincirnya atau bergeraknya sebagian kerak bumi secara tiba-tiba disertai dan diikuti oleh serangkaian getaran. Dalam skala yang besar, getaran ini bisa merusak bangunan dan gedung di permukaan bumi, terutama bangunan yang tidak memiliki struktur bangunan yang kuat.

b. Tsunami adalah serangkaian gelombang yang tercipta ketika badan air, seperti lautan, berpindah dengan cepat. Tsunami dapat diakibatkan oleh gempa bumi, pergerakan massa di atas atau di bawah air, letusan gunung berapi dan ledakan bawah air lainnya dan tanah longsor. Hantaman benda angkasa yang besar ke permukaan laut juga berpotensi menimbulkan tsunami. Tsunami

merupakan gelombang air berkecepatan tinggi. Kerusakan yang ditimbulkan tsunami sebagian besar disebabkan oleh ombak yang kuat serta puing-puing yang mengapung.

Gambar 2. 3 Proses terjadinya gempa bumi Sumber: https://www.ayoksinau.com/proses-

terjadinya-gempa-bumi/

Tsunami terjadi dalam empat fase, yaitu:

1. Initiation, fase yang terjadi setelah tumbukan patahan di bawah laut menyebabkan potensi energi merambat

(17)

dari dasar laut ke permukaan laut dan menyebabkan gelombang.

2. Split, fase dimana gelombang di permukaan menuju dua arah, yaitu ke tengah lautan dan ke arah pesisir.

3. Amplification, fase dimana gelombang tsunami menuju permukaan. Di fase ini, amplitudo gelombang bertambah sementara panjang gelombang menurun.

Fase ini juga ditandai dengan menurunnya air laut, yang merupakan salah satu tanda datangnya tsunami.

4. Run-up, yaitu fase dimana gelombang tsunami tetap ketika mencapai area dekat pesisir dan kemudian menuju pesisir daratan. Run-up diukur dari tinggi permukaan laut yang dijadikan referensi.

Setelah gelombang run-up, fase berikutnya yaitu fase retreat, dimana tsunami turun kembali ke laut. Di fase ini, tsunami membawa serta puing-puing yang telah hancur.

Gambar 2. 4 Proses terjadinya tsunami Sumber:

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia- 45742383

c. Letusan gunung berapi adalah kejadian di mana gunung berapi menjadi aktif dan melepaskan lava dan gas beracun ke udara.

Letusan ini bisa membentuk awan abu dan uap bersuhu tinggi yang dapat merambat menuruni lereng gunung dengan kecepatan tinggi. Letusan gunung berapi bisa berupa letusan kecil setiap hari hingga letusan luar biasa yang bisa menyebabkan bencana di tingkat global, seperti letusan gunung berapi Tambora (1815) dan Krakatau (1883).

(18)

Gambar 2. 5 Proses gunung berapi Meletus Sumber:

https://www.gurupendidikan.co.id/gunung-berapi/

d. Tanah longsor merupakan kejadian dimana unsur-unsur tanah, termasuk batu, pohon, bagian dari rumah, dan hal lain tersapu dari tempat yang lebih tinggi. Tanah longsor dapat disebabkan oleh gempa bumi, letusan gunung berapi, atau ketidakstabilan umum di tanah sekitarnya.

e. Banjir adalah luapan hamparan air yang menenggelamkan daratan. Banjir dipicu oleh volume air di dalam badan air, seperti sungai atau danau yang melebihi kapasitas total badan air sehingga sebagian air mengalir atau berada di luar batas normal badan air.

Gambar 2. 6 Tanah longsor Sumber:

https://www.beritasatu.com/nasional/307048/rawan- banjir-dan-lonsor-pengendara-jalur-gunung-paro-

diminta-waspada

b) Bahaya Buatan Manusia

Bahaya buatan manusia merupakan bahaya yang terjadi akibat adanya peran manusia. Bahaya ini termasuk konflik sipil, terorisme deforestasi, pencemaran lingkungan, bahaya teknologi industri seperti kebocoran limbah beracun, tumpahan minyak, kebocoran nuklir, ledakan gas, kontaminasi kimia, kebakaran gedung dan banjir yang diakibatkan oleh perbuatan manusia.

(19)

Gambar 2. 7 Bahaya buatan manusia Sumber:

http://doukas.civil.auth.gr/iag_sc41_sg41/Anthropo genic_Disasters.html

c) Bahaya Kombinasi atau Sosio-natural

Bahaya sosio-natural adalah bahaya yang ditimbulkan intervensi manusia dan faktor alam.

Sebagian besar bahaya adalah kombinasi dari faktor alam dan buatan manusia. Contohnya adalah banjir bandang yang diakibatkan oleh kombinasi curah hujan yang tinggi dan deforestasi.

Gambar 2. 8 Bencana banjir Sumber:

https://www.kbknews.id/2021/04/05/banjir- bandang-dan-longsor-di-lembata-akibatkan-akses-

jalan-telepon-dan-internet-terputus/

2.2 Risiko (Risk)

Risiko bisa didefinisikan sebagai kemungkinan sebuah kejadian atau kondisi terjadi (Mileti). Risiko juga bisa diartikan sebagai distribusi kemungkinan yang bisa diketahui atau tidak diketahui dari sebuah kejadian (Alwang et al). Sementara Pinkowski mendefinisikan risiko sebagai hasil fisik dari keputusan membuat manusia atau propertinya terhampar bahaya, baik diketahui maupun tidak diketahui.

(20)

Penilaian resiko dan manajemen risiko selain terkait dengan dua hal yaitu keyakinan individu dan lingkungan masyarakatnya serta kompleksitas dari kehidupan sosial yang luas. Dalam masyarakat, umumnya individu akan membuat keputusan dan bertindak terkait bahaya didasarkan pada persepsi personalnya terhadap asosiasi resiko. Misalnya, orang yang tidak mengetahui cara menghidupan sebuah kompor gas akan lebih takut karena mengetahui kejadian meledaknya kompor gas. Di sisi lain, warga yang tidak mengetahui juga bisa tidak bertindak menjauh dari bahaya karena tidak mengetahui resiko dari bencana, misalnya yang orang-orang yang merasa aman tinggal di area rawan longsor karena tidak tahu tentang longsor.

Ketidaktahuan tentang risiko masih sering menjadi dasar tinggalnya manusia di area yang sangat rawan bencana. Selain itu, pengalaman bencana juga tidak bisa menjadi indikasi kesadaran akan resiko karena memori manusia tentang bencana yang pernah dihadapi bisa tereduksi. Hal ini mengakibatkan pengalaman bencana generasi sebelumnya sulit diwariskan pada generasi setelahnya. Oleh karena itu, peran pendidikan untuk meningkatkan rasionalitas dan pengetahuan sangat penting dalam

meningkatkan kapasitas dalam menilai resiko serta mengurangi risiko.

Persepsi risiko sendiri bisa dibagi dalam tiga kategori, yaitu:

1. Determinism, yaitu masyarakat menolak sifat acak dari bencana dengan mencoba mencari- cari pola dari suatu bencana dari bencana- bencana atau kejadian terkait.

2. Dissonance, yaitu masyarakat menolak adanya risiko dengan menganggap kejadian bencana sebelumnya tidak akan terjadi lagi.

Hal ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang banyak propertinya berada di area rawan bencana.

3. Probabilism, yaitu persepsi bahwa bencana akan terjadi secara acak. Probabilism bisa berkembangan menjadi pemikiran fatalistic yang melihat bahwa tindakan respon terhadap risiko tidak penting karena menganggap bencana adalah tindakan Tuhan sehingga membuat individu berpikir untuk tidak melakukan apapun untuk mengurangi resiko.

(21)

Pemahaman terhadap risk bisa dijadikan dasar untuk pengurangan kerawanan dengan pendekatan pengurangan risiko sehingga bisa melindungi manusia, properti dan infrastruktur.

Secara kuantitatif, resiko dirumuskan sebagai:

Risk (R) = H xV/ C

Keterangan:

R: Resiko Bencana H: Bahaya

V: Kerentanan C: Kapasitas

Risiko sangat terkait pada kerentanan dan tingkat ancaman. Hubungan tingkat ancaman dengan kerentanan dapat ditampilkan dalam gambar berikut:

Gambar 2. 7 Matrik Hubungan Antara Resiko Bahaya Lingkungan Fisik Dengan Kerentanan

Bencana Sumber:

Dari grafik diatas, dapat dirumuskan:

1. Area dengan tingkat ancaman rendah dan kerentanan rendah merupakan lingkungan yang tangguh (ideal).

2. Area dengan ancaman rendah dan kerentanan tinggi merupakan area yang berbahaya, karena persepsi bahaya yang rendah membuat manusia melakukan hal yang mengancam keselamatannya.

(22)

3. Area dengan ancaman tinggi dan masyarakat yang tidak rentan merupakan area yang tidak berbahaya.

4. Area dengan ancaman tinggi dan masyarakat yang rentan merupakan area dengan risiko tinggi.

Penilaian risiko secara kuantitatif bisa dijadikan sebagai pijakan untuk mengakses orang-orang yang rentan sehingga bisa mereduksi kerusakan, yang merupakan tujuan utama dari pengelolaan risiko.

Hal ini diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan bahaya serta menentukan untung-rugi dari pengelolaan risiko. Meskipun demikian, penilai risiko memiliki kesulitan besar yaitu siapa yang diuntungkan dari pengelolaan risiko, penganggaran, serta kelembagaan untuk pengelolaan risiko. Namun demikian, penilaian kuantitatif ini tidak bisa menggambarkan keseluruhan bahaya lingkungan karena ketidakpastian yang tinggi. Selain itu, penilaian secara teknis ini belum tentu sejalan dengan persepsi risiko masyarakat. Area yang berbahaya berdasarkan penilaian teknis bisa dianggap tidak berbahaya oleh masyarakat.

Risiko dapat dibagi dalam dua jenis yaitu:

1. Involuntary risk, yaitu risiko bahaya yang di luar kendali manusia, seperti gempa.

2. Voluntary risk, yaitu risiko bahaya yang lahir dari sesuatu yang dibawah kendali manusia, seperti untuk mencegah kebakaran, telah ada standar pencegahan kebakaran. Namun, akibat kelalaian terjadi kebakaran.

Penilaian risiko terdiri dari tiga tahapan yaitu:

1) Identifikasi karakteristik bahaya yang bisa menjadi bencana,

2) Perkiraan karakteristik sejumlah kejadian dan kemungkinan yang terjadi,

3) Evaluasi konsekuensi sosial dari bahaya serta dampaknya.

Pengelolaan risiko meliputi dua fase yaitu fase pra- bencana dan pasca bencana.

1) Tahapan pada masa pra-bencana yaitu penilaian resiko, mengukur mitigasi dan persiapan untuk mengurangi kerusakan.

2) Tahapan pada masa pasca bencana meliputi:

a. periode gawat-darurat, yaitu golden time dalam beberapa jam dan hari yang menentukan upaya korban untuk bertahan hidup,

(23)

b. periode rehabilitasi yang berlangsung beberapa minggu atau bulan, yang memprioritaskan pada upaya memulai kehidupan seperti bangunan-bangunan penampungan,

c. fase rekonstruksi yaitu fase upaya mengembalikan pada kondisi semula yang berlangsung dalam beberapa bulan atau tahun. Di fase rekonstruksi, dapat dibuat perencanaan berbasis mitigasi bencana agar daerah tersebut bertahan jika kejadian berulang. Resistance- ketahanan: kemampuan dari struktur dan infrastruktur untuk bertahan dari ancaman (hazard) serta mampu meminimalkan kerusakan. Misal: building code, teknologi bangunan tahan bencana.

Resilience: kemampuan individu dan masyarakat untuk merespon dan pulih berdasarkan pada kesiapsiagaan (preparedness) dan tindakan lainnya. Risiko (risk), kerawanan (vulnerability) beserta ketahanan (resistance) dan ketangguhan (resilience) saling berinteraksi dan berpengaruh satu sama lain.

2.3 Kerentanan (Vulnerability)

Kerentanan/vulnerability merupakan salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya risiko.

Kerentanan adalah kapasitas seseorang atau kelompok untuk mengantisipasi, mengatasi, bertahan dan pulih dari dampak bencana.

Kerentanan bisa ada pada masyarakat, properti, layanan esensial, lingkungan dan ekonomi.

Bentuk-bentuk kerentanan ini bisa mencakup:

1. kerentanan fisik, seperti struktur bangunan yang tidak tahan gempa.

2. Sosial, misalnya rendahnya pengetahuan terhadap bencana.

3. demografi, seperti proporsi penduduk yang besar di area pesisir membuat banyak warga lebih rentan pada bahaya tsunami,

4. ekonomi, masyarakat berpenghasilan rendah cenderung lebih rentan karena lebih sulit pulih dari dampak bencana akibat kurang tabungan,

5. lingkungan, seperti lingkungan yang rusak lebih rentan terhadap bencana,

(24)

6. Manajemen gawat darurat yang rendah membuat warga lebih rentan terhadap dampak bencana.

2.4 Kapasitas (Capacity)

UNISDR mendefinisikan kapasitas sebagai semua kekuatan, atribut dan sumberdaya yang tersedia dalam suatu komunitas, organisasi atau masyarakat untuk mengelola dan mengurangi risiko bencana dan memperkuat ketangguhan. Negara yang andal dan akuntabel, didukung oleh masyarakat sipil yang efektif dan sektor swasta yang terlibat, sangat diperlukan untuk pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan.

Untuk membangun masyarakat yang tangguh maka diperlukan upaya pembangunan kapasitas. Kapasitas terkadang digambarkan sebagai kebalikan dari kerentanan, tetapi ini mengabaikan fakta bahwa bahkan orang miskin dan rentan pun memiliki kapasitas(Wisner et al., 2012; Shepard et al., 2013). Seperti kerentanan, kapasitas bergantung pada aset sosial, ekonomi, politik, psikologis, lingkungan dan fisik dan rezim tata kelola yang lebih luas. Titik awal untuk pembangunan kapasitas

adalah pengetahuan, kekuatan, atribut dan sumber daya yang dimiliki individu, organisasi atau masyarakat yang ada.

Kapasitas dapat mencakup infrastruktur, institusi, pengetahuan dan keterampilan manusia, dan atribut kolektif seperti hubungan sosial, kepemimpinan, dan Manajemen (UNISDR, 2017).

Coping capacity/kapasitas mengatasi adalah kemampuan orang, organisasi, dan sistem, untuk menggunakan keterampilan dan sumberdaya yang tersedia, untuk mengelola kondisi, risiko, atau bencana yang merugikan.

Coping capacity membutuhkan membutuhkan kesadaran yang berkelanjutan, sumberdaya dan manajemen yang baik, baik di saat normal maupun saat krisis atau kondisi buruk.

Coping capacity juga tergantung pada aset rumah tangga yang memadai dan hubungan sosial dan pemerintahan yang mendukung dan dapat dianggap sebagai komponen pengembangan kapasitas yang lebih luas untuk pengurangan risiko bencana. Di tingkat rumah tangga, kapasitas seringkali bersifat internal (endogen) bagi masyarakat (Wisner et al., 2012). Oleh karena itu, daripada mencoba

(25)

mengurangi kerentanan, membangun kapasitas mungkin lebih mudah strategi untuk individu, karena banyak pendukung kerentanan tidak dipengaruhi oleh rumah tangga melainkan oleh kondisi ekonomi dan politik, misalnya pemerintahan (Wisner et al., 2004).

Di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, dampak bencana biasa (risiko ekstensif) sering dihadapi oleh rumah tangga berpenghasilan rendah, sehingga membuat mereka tetap dalam kemiskinan dan melemahkan hasil pembangunan.

Peningkatan kapasitas menawarkan masyarakat rentan kesempatan untuk mengurangi risiko bencana mereka, mengembangkan dan beradaptasi dengan bencana.

Kapasitas dapat dibagi dalam beberapa tingkat yaitu kapasitas individu, organisasional dan institusional.

a. Kapasitas Individu.

Kapasitas di tingkat individu berkaitan dengan keterampilan, pengalaman dan pengetahuan orang-orang yang bisa diterapkan. Penilaian kapasitas pada tingkat ini biasanya dilaksanakan oleh penelitian organisasi non-pemerintah yang bekerja di tingkat lokal, serta oleh beberapa

pemerintah tingkat lokal. Namun, kapasitas individu harus dipahami dalam konteks tingkat organisasi dan lingkungan yang mendukung.

Kapasitas di tingkat individu mencakup keterampilan, pengetahuan dan motivasi/sikap.

Keterampilan merupakan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan dan tugas tertentu.

Pengetahuan bisa berasal dari pemahaman terhadap informasi dan bisa juga berasal dari pengalaman. Sementara motivasi/sikap adalah faktor internal yang mendorong sebuah sikap.

b. Kapasitas Organisasi

Kapasitas ditingkat organisasi (organizational capacity) berkaitan dengan struktur internal, kebijakan, sistem dan prosedur yang menentukan efektivitas dan kemampuan organisasi untuk melaksanakan mandatnya dan memungkinkan individu untuk bekerja sama (UNDP, 2009). Kapasitas tingkat organisasi membantu mengembangkan dan menerapkan kebijakan, pengaturan, prosedur, dan kerangka kerja internal, yang diperlukan untuk menyampaikan mandat organisasi. Kapasitas tingkat organisasi membantu organisasi dalam mengembangkan dan menerapkan kebijakan,

(26)

pengaturan, prosedur, dan kerangka kerja internal, yang diperlukan untuk menyampaikan mandat organisasi (UNDP, 2010). Tidak hanya tentang keterampilan, tetapi juga insentif dan tata kelola. Individu Dan organisasi dapat memiliki dorongan yang kuat atau lemah untuk berubah, berkembang, dan belajar, sebagai akibat dari lingkungan atau faktor internal mereka (Datta et al., 2012).

c. Kapasitas Lingkungan

Pada tingkat lingkungan (institutional/ societal/

enabling environment) yang memungkinkan berhubungan dengan sistem yang lebih luas mana individu dan organisasi berfungsi (UNDP, 2009). Kapasitas pada tingkat lingkungan yang mendukung berhubungan dengan semua aturan, undang-undang dan perundang-undangan, kebijakan, hubungan kekuasaan dan norma- norma social (UNDP, 2009). Oleh karena itu, pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta memiliki peluang dan kewajiban untuk bekerjasama demi masa depan yang lebih aman(UNISDR, 2015a), dan oleh karena itu kapasitas keterlibatan mereka dapat dinilai di semua sektor (misalnya perubahan iklim,

keuangan, perencanaan) dan tingkat (misalnya usaha kecil dan menengah, petani, asuransi).

Dalam pengelolaan bencana, bentuk kapasitas ini bisa berupa fisik, sosial, ekonomi dan attitudinal.

a. Kapasitas Fisik

Kapasitas fisik termasuk adanya bangunan dan infrastruktur kebencanaan hingga alat-alat komunikasi. Kapasitas fisik suatu komunitas atau wilayah meliputi peralatan yang tersedia, sarana komunikasi, infrastruktur yang tersedia di wilayah tersebut seperti jembatan, jalan, rumah sakit, sekolah, drainase, bangunan evakuasi, rute evakuasi. Ketersediaan Sumber Air baru untuk minum, irigasi, dan keperluan lainnya juga dapat diperhitungkan. Dalam Kapasitas Fisik, keterampilan teknik dan konstruksi masyarakat setempat untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur juga merupakan bagian dari kapasitas fisik.

b. Kapasitas Sosial

Kapasitas sosial termasuk kemampuan berinteraksi sosial dan mengorganisasi masyarakat. Kapasitas ekonomi mencakup

(27)

kemampuan entrepreneurship serta adanya tabungan, pendapatan dan keterampilan yang dapat didayagunakan serta kapasitas sikap, yang mencakup sikap menerima perubahan dan pendekatan kerjasama. Kapasitas Sosial Mencakup Hubungan Interpersonal dan intrapersonal dalam komunitas, hubungan dan motivasi di antara orang-orang dan jumlah interaksi antara orang-orang. Selama Dan setelah bencana terjadi di suatu daerah, kemampuan masyarakat setempat untuk mengambil tindakan dan menjamin keberlanjutan proyek yang sedang berjalan. Di beberapa daerah masyarakat telah mengorganisir diri mereka di tingkat lorong atau desa dan telah membangun organisasi kecil untuk membantu jika terjadi bencana atau melakukan kegiatan kesejahteraan lainnya di daerah tersebut secara sukarela, mis. CSO, organisasi pemuda, CBO dll.

c. Kapasitas Ekonomi

Kapasitas ekonomi terdiri dari pendapatan masyarakat atau daerah, tabungan, pendapatan, produksi, kegiatan usaha dan ketersediaan lapangan kerja dan mata pencaharian. Kapasitas

Ini Juga mencakup keterampilan yang dapat dipekerjakan seperti pertambangan, tenun, dll.

PDB/GNP suatu daerah menggambarkan kapasitas ekonominya.

d. Kapasitas Attitudinal

Kapasitas attitudinal mencakup cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Orang-orang melawan dan menolak rencana dan strategi yang tidak sejalan dengan budaya, ideologi atau agama mereka dan ini dapat membatasi kapasitas mereka dan meningkatkan kerentanan mereka terhadap bencana. Memiliki Sikap Positif Terhadap Keterlibatan Perempuan dalam pengambilan keputusan masyarakat, kesadaran yang tinggi tentang isu-isu sosial dan motivasi yang tinggi untuk proyek-proyek yang saling menguntungkan bagi seluruh masyarakat dapat dianggap sebagai kapasitas sikap masyarakat.

Pembangunan kapasitas (Capacity building) mengacu pada tahap awal membangun atau menciptakan kapasitas. Pengembangan kapasitas adalah sebuah konsep yang memperluas istilah pembangunan kapasitas untuk mencakup semua aspek dalam menciptakan dan mempertahankan

(28)

pertumbuhan kapasitas dari waktu ke waktu (UNDP, 2008).

Pengembangan kapasitas (Capacity development) adalah proses dimana orang, organisasi, dan masyarakat secara sistematis merangsang dan mengembangkan untuk mencapai tujuan sosial dan ekonomi, termasuk melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, sistem, dan institusi (UNISDR, 2017). Pengembangan kapasitas melibatkan pembelajaran dan berbagai jenis pelatihan, tetapi juga upaya berkelanjutan untuk mengembangkan institusi, kesadaran politik, sumber daya keuangan, sistem teknologi, dan lingkungan pendukung sosial dan budaya yang lebih luas(UNISDR, 2009a).

Lebih lanjut, pengembangan kapasitas umumnya mengacu pada proses yang didorong daripada dan dimulai dari aset kapasitas yang ada. Bagian integral dari pengembangan kapasitas adalah membawa transformasi: mengubah pola pikir dan sikap daripada hanya melakukan tugas. Namun, mengukur perubahan dan hasil secara konkret tetap menjadi tantangan utama (UNDP, 2009).

Elemen dalam pembangunan kapasitas bisa mencakup:

a. Edukasi

Edukasi tentang pencegahan dan tanggap bencana, yaitu mendidik masyarakat rentan serta penduduk negara tentang kemungkinan bahaya dan dampaknya di wilayah mereka. Juga Mencakup Langkah- langkah pencegahan dan strategi respons jika terjadi bencana yang muncul ke permukaan.

b. Pelatihan

Pelatihan untuk masyarakat rentan, mencakup pelatihan dasar pengelolaan bencana bagi masyarakat renatan. Tujuan yaitu mengajari cara bertahan dan menolong orang lain.

c. Kolaborasi

Kolaborasi dengan lembaga bantuan, mencakup kolaborasi antara berbagai lembaga pemerintah dan nonpemerintah yang terlibat dalam pekerjaan bantuan

(29)

melalui negara bagian untuk semua jenis bencana

d. Latihan Evakuasi (Mock drill)

Metode berlatih proses evakuasi sebuah bangunan jika terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya. Biasanya, sistem alarm kebakaran gedung yang ada diaktifkan dan gedung evakuasi seolah-olah keadaan darurat telah terjadi.

Gambar 2. 8 Latihan evakuasi Sumber:

https://www.liputan6.com/health/read/4113388/ke nali-wilayah-sendiri-latih-warga-pilih-jalur-evakuasi-

aman-saat-bencana

e. Persiapan Rumah Tangga

Mencakup Persiapan menyimpan semua barang berharga di tas tahan air, menjaga pakaian minimal, dan siap dengan rencana evakuasi.

Gambar 2. 9 Perlengkapan untuk evakuasi darurat Sumber: https://www.realestate-tokyo.com/living-

in-tokyo/emergency-disaster/emergency-bag/

f. Memahami Pesan Peringatan

Memahami pesan peringatan/ peringatan, sosialisasi/ diseminasi EWS (Early Warning System) kepada masyarakat rentan adalah

(30)

48 tugas berikutnya yang dapat dicapai melalui pelatihan yang lebih baik dan keterlibatan semua pemangku kepentingan

Gambar 2. 10 Peta sebaran sirine tsunami yang dipasang di 18 Provinsi di Indonesia

Sumber:

https://regional.kompas.com/read/2018/10/13/094 73941/18-provinsi-rawan-tsunami-di-indonesia-

telah-dipasangi-sirene.

g. Kesiapsiagaan Pertolongan Pertama

Kesiapsiagaan pertolongan pertama, menyiapkan sebuah kotak P3K untuk kecelakaan dan luka kecil.

49

2.5 Ketangguhan (Resilience)

Ketangguhan dapat didefinisikan sebagai ukuran kapasitas sistem untuk menyerap dan pulih dari peristiwa bencana atau kemampuan untuk merespon dan pulih. Ketangguhan mencakup kemampuan individu dan komunitas untuk merespons dan memulihkan diri berdasarkan kesiapsiagaan/preparedness dan tindakan lainnya.

Tangguh terhadap bencana berarti suatu daerah dapat bertahan dari peristiwa alam yang ekstrem dengan tingkat kerugian yang dapat ditoleransi dan tanpa bantuan luar yang signifikan.

Karakteristik ketangguhan:

a) Jumlah perubahan yang dapat dialami sistem dan masih mempertahankan kontrol yang sama pada fungsi dan struktur.

b) Sejauh mana sistem mampu mengatur diri sendiri/self-organization

c) Kemampuan untuk membangun dan meningkatkan kapasitas untuk belajar dan mengadopsi.

Ketangguhan masyarakat adalah kemampuan komunitas yang berkelanjutan untuk bertahan,

(31)

beradaptasi, dan pulih dari kesulitan. Ketangguhan masyarakat adalah ukuran kemampuan berkelanjutan dari komunitas untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk merespon, bertahan, dan pulih dari situasi yang merugikan.

Istilah ketangguhan masyarakat digunakan untuk menggambarkan jaringan sistem yang saling berhubungan yang secara langsung berdampak pada masyarakat manusia di tingkat komunitas akar rumput, termasuk lingkungan sosial ekonomi, ekologi, dan binaan.

Menurut Arbon et al. (2012), suatu masyarakat dikatakan tangguh ketika:

1) Anggota populasi terhubung satu sama lain dan bekerja sama, sehingga mereka dapat berfungsi dan mempertahankan sistem yang esensial, bahkan di bawah tekanan;

2) Beradaptasi dengan perubahan lingkungan fisik, sosial atau ekonomi;

3) Mampu mandiri jika sumber daya eksternal terbatas atau terputus; dan

4) Belajar dari pengalaman untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Ketangguhan individu, keluarga, atau organisasi tertentu merupakan komponen kunci dari

ketangguhan masyarakat, secara keseluruhan masyarakat yang tangguh lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya (Parker, 2010). Artinya sistem yang tangguh adalah sistem yang lengkap, kompleks, dan saling berhubungan yang berisi "lebih banyak tautan daripada yang dapat kita pahami dengan model sebab dan akibat yang sederhana"

(Cork, 2010).

Menurut buckle et al., faktor yang memungkinkan individu, keluarga, dan masyarakat untuk meminimalkan dampak bencana dan meningkatkan ketangguhan bencana:

a) Nilai-nilai, aspirasi, dan tujuan bersama masyarakat;

b) Infrastruktur sosial yang mapan;

c) Tren sosial ekonomi yang positif;

d) Keberlanjutan kehidupan sosial dan ekonomi;

e) Kemitraan;

f) Komunitas yang menarik;

g) Jaringan yang sudah mapan;

h) Dan sumber daya dan keterampilan.

Arti penting ketangguhan bencana muncul dari kesadaran masyarakat bahwa:

a) Mereka dihadapkan pada ancaman serius.

(32)

b) Bencana atau bahaya memiliki sifat yang tidak pasti sehingga sulit untuk dicegah.

c) Mereka harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk memperkuat kapasitas untuk menyerap guncangan dan mengembangkan pola pikir untuk pulih secepat mungkin.

d) Memahami, mengukur, dan menilai ketangguhan masyarakat membutuhkan kesadaran yang tajam tentang hubungan dan hubungan antara berbagai skala tata kelola dan sistem berbeda yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi masyarakat.

e) Mengembangkan strategi untuk membangun dan meningkatkan ketangguhan masyarakat memerlukan pemahaman bahwa kerentanan di tingkat mana pun berarti peningkatan kerentanan di area lain dari sistem yang lebih besar.

Negara yang aman dan tangguh dengan kemampuan yang dibutuhkan seluruh masyarakat untuk mencegah, melindungi, mengurangi, merespons, dan pulih dari ancaman dan bahaya yang menimbulkan risiko terbesar” (DHS, 2011).

Untuk mencapai tingkat ketangguhan, ada

kebutuhan bagi pemerintah dan lembaga manajemen darurat untuk mengintegrasikan pembangunan ketangguhan masyarakat ke dalam bisnis inti mereka dan menemukan cara untuk melibatkan semua orang secara bermakna dalam proses manajemen darurat.

Risiko, kerentanan, resistensi, dan ketangguhan mempengaruhi tingkat kerentanan kita dengan cara yang kompleks. Sebagai contoh, pilihan lokasi yang berisiko dapat diperburuk oleh konstruksi yang tidak memperhitungkan ketangguhan bencana. Kerentanan kita karena faktor politik dan ekonomi dapat membatasi ketangguhan kita (atau kemampuan untuk merespons dan pulih) setelah bencana terjadi.

Kebijakan yang meningkatkan kerentanan karena preferensi budaya juga dapat membahayakan upaya untuk memanfaatkan teknologi dan membangun ketangguhan terhadap bencana.

Hubungan antara resiko, kerentanan, kapasitas dan ketangguhan dapat dilihat dalam gambar berikut:

(33)

Gambar 2. 11 Hubungan antara Resiko, Kerentanan, Kapasitas dan Ketangguhan

Sumber: Angelo Jonas Imperiale, Frank Vanclay, 2021

Infrastruktur yang rentan risiko dapat menurunkan ketangguhan individu dan masyarakat karena tidak mampu menahan kekuatan bahaya yang kuat. Kebijakan yang membuat masyarakat rentan terhadap bencana seringkali mengakibatkan pemindahan risiko yang disengaja atau tidak disengaja. Masyarakat yang tidak tangguh karena kegagalannya untuk merencanakan bencana secara memadai, akan kesulitan mempromosikan

ketangguhan juga selama recovery. Oleh karena itu, risiko dan kerentanan, serta resistensi dan ketangguhan, sering berinteraksi dengan cara yang saling memperkuat.

REFERENSI

Dunn, Cameron (2016). Edexcel A level Geography Book 1 Third Edition. Hodder Education.

pp. Chapter 2, Page 2. ISBN 9781471856013.

Ambraseys, Nicholas N. (2004), The 12th century seismic paroxysm in the Middle East:a historical perspective

Canada, I. B. (2012). Managing the Risks : International Level and Integration across Scales.

Center for Excellence in Disaster Management and Humanitarian Assistance (CFE-DM). (2018).

Indonesia Disaster Management Reference Handbook.

Government of Indonesia. Disaster Management Law No. 24. , (2007).

Indonesian Government. (2008). PP RI No. 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penangulangan Bencana. Jakarta.

(34)

IBN TAGHRIBIRDI, Abu al-Mahasin Yusuf, Al-Nujum

‘al-zahirah fi muluk Misr wa-’al-Qahirah, edited by F.M. SHALTUT et al., 16 vols., Cairo 1929- 1972

Meier, Mischa, 2007, Natural Disasters in the Chronographia of John Malalas: Reflections on their Function-An Initial Sketch, The Medieval History Journal, 10, 1&2 (2007): 237–266, SAGE Publications, Los Angeles/London/New

Delhi/Singapore, DOI:

10.1177/097194580701000209

Thurn, Ioannes (ed.). 2000. Ioannis Malalae Chronographia, Berlin/New York.

UNISDR. (2015). Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030, United Nations International Strategy for Disaster Reduction.

Geneva, Switzerland.

3. SIKLUS MANAJEMEN BENCANA

Siklus pengelolaan bencana menunjukkan proses berkelanjutan yang melibatkan individu, kelompok, dan masyarakat dalam mengelola bahaya dalam upaya untuk menghindari atau mengurangi dampak bencana yang dihasilkan dari bahaya/hazard.

Di dunia dikenal beberapa model yang menjelaskan siklus manajemen bencana. Namun, pada umumnya model-model ini memiliki pentahapan yang sama. Siklus pengelolaan bencana sering terlihat linier.

Namun, dalam kenyataannya siklus ini sangat kompleks.

Dalam pelaksanaannya, siklus ini bisa memunculkan krisis sekunder bahkan dalam kasus bencana besar di beberapa negara model ini menjadi semrawut dan gagal dilaksanakan sehingga menjadi krisis yang berkepanjangan.

Penerapan dan tindakan yang diambil dalam siklus pengelolaan bencana sangat bergantung dari persepsi risiko populasi yang terpapar. Manajemen darurat yang efektif bergantung pada integrasi yang komprehensif dari rencana darurat di semua tingkat

(35)

keterlibatan pemerintah dan nonpemerintah. Aktivitas pada setiap tingkat (individu, kelompok, masyarakat) mempengaruhi tingkat lainnya. Di sektor swasta, pengelolaan bencana kadang-kadang disebut sebagai manajemen kelangsungan bisnis/business continuity management.

Secara umum, siklus pengelolaan bencana mencakup empat fase yaitu mitigasi (mitigation), kesiapsiagaan (preparedness), darurat (emergency response) dan pemulihan (recovery).

Gambar 3. 1 Siklus manajemen bencana Sumber:

https://www.kompasiana.com/acehmenulis/581750c15 59773d02ae93f8c/suka-atau-tidak-pengetahuan-

bencana-itu-penting?page=2&page_images=1

3.1. Fase Mitigasi (Mitigation)

Mitigasi merupakan segala aktivitas yang bertujuan untuk mencegah/menghindari bencana serta upaya untuk mengurangi dampak negatifnya. Dalam UU no 24 Tahun 2007, mitigasi didefinisikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Cara terbaik untuk mengatasi bencana adalah dengan bersikap proaktif melalui berbagai tindakan pencegahan (prevention). Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi potensi bahaya dan merancang perlindungan untuk mengurangi dampaknya.

Kemampuan pemecahan masalah juga sangat berharga dalam menyusun strategi untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan peristiwa bencana. Kegiatan pencegahan bertujuan untuk mencegah terjadinya bencana di masa depan dan atau mengurangi ancaman bencana, seperti membangun tanggul atau bendungan untuk mengendalikan banjir. Dalam tahap ini, dilakukan berbagai langkah-langkah permanen yang dapat membantu meminimalkan risiko bencana. Meskipun demikian, masyarakat perlu menyadari bahwa bencana

(36)

tidak selalu dapat dicegah. Oleh karena itu, perlu dilakukan mitigasi.

Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak bencana jika pencegahan tidak memungkinkan.

Dalam mitigasi, perlu dilakukan upaya untuk meminimalkan jumlah korban yang akan diakibatkan oleh suatu bencana. Upaya mitigasi terbagi dua yaitu mitigasi struktural dan non-struktural.

Tindakan mitigasi struktural mencakup berbagai upaya yang melibatkan perubahan karakteristik fisik bangunan atau lingkungan untuk mengurangi dampak bencana. Misalnya, merencanakan kota dengan prinsip meminimalkan risiko banjir dengan membangun bendungan dan memperbesar saluran drainase hingga menyiapkan generator untuk cadangan energi di masa darurat.

Sementara mitigasi non-struktural melibatkan berbagai upaya non fisik seperti membuat kebijakan building code untuk konstruksi bangunan yang tahan gempa. Upaya lainnya seperti sosialisasi meningkatkan kesadaran bencana, mengajari warga tentang berbagai persiapan menghadapi bencana, menerapkan rencana evakuasi di sekolah dan memutuskan lokasi titik temu keluarga di saat evakuasi. Tidak tinggal di area rawan bencana merupakan salah satu contoh mitigasi di

tingkat individu. Mitigasi di tingkat keluarga misa

Gambar

Gambar 1. 1  Peta Tektonik Indonesia  Sumber:
Gambar 1. 2 Peta Indeks Rawan Bencana Indonesia  Sumber: https://bnpb.go.id/potensi-ancaman-bencana
Tabel 1. 1 Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Mata  Kuliah Perencanaan Berbasis Mitigasi Bencana
Gambar 2. 1  Gempa Terdahsyat Dalam Sejarah  Sumber: dream.co.id
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil identifikasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan mata pencaharian masyarakat berkelanjutan pada ekosistem mangrove di Wonorejo adalah masyarakat desa

Pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia di

5. Usaha mempromosikan kesehatan kepada masyarakat. Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,keluarga, kelompok dan masyarakat. Setiap individu berhak

Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan

Sistem pengelolaan sampah dengan tabungan sampah melalui bank sampah juga melibatkan peran serta masyarakat untuk secara bersama-sama mengelola sampah.. Suwerda

Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan

Komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespons dan menciptakan pesan untuk

Manajemen Pemulihan  Manajemen Pemulihan adalah pengaturan upaya penanggulangan bencana dengan penekanan pada faktor-faktor yang dapat mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan