See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/376828596
Metodologi Penelitian Kesehatan
Book · November 2023
CITATIONS
2
READS
18,686
17 authors, including:
Agustiawan Imron
Institut Kesehatan Helvetia Medan 42PUBLICATIONS 25CITATIONS
SEE PROFILE
Heryyanoor Heryyanoor Stkes Intan Martapura 15PUBLICATIONS 25CITATIONS
SEE PROFILE
Ahmad Syamil
Bina Nusantara (Binus) University, Bandung and Jakarta, Indonesia 85PUBLICATIONS 545CITATIONS
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Ahmad Syamil on 26 December 2023.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
COVER
BUNGA RAMPAI
METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN
UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap:
i Penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual;
ii Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan;
iii Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan
iv Penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN
Syamsul Ishak Risza Choirunissa
Agustiawan Yati Purnama Viyan Septiyana Achmad
Estelle Lilian Mua Heryyanoor Ahmad Syamil Ina Debora Ratu Ludji
Robi Adikari Sekeon Aditya Wardhana Yuliana Dafroyati
Aliyah Fahmi Yuldensia Avelina
Nurbaety Meilin Anggreyni Halimatussakdiyah Lubis
Penerbit
CV. MEDIA SAINS INDONESIA Melong Asih Regency B40 - Cijerah
Kota Bandung - Jawa Barat www.medsan.co.id
Anggota IKAPI No. 370/JBA/2020
METODOLOGI PENELITIAN KESEHATAN
Syamsul Ishak Risza Choirunissa
Agustiawan Yati Purnama Viyan Septiyana Achmad
Estelle Lilian Mua Heryyanoor Ahmad Syamil Ina Debora Ratu Ludji
Robi Adikari Sekeon Aditya Wardhana
Yuliana Dafroyati Aliyah Fahmi Yuldensia Avelina
Nurbaety Meilin Anggreyni Halimatussakdiyah Lubis Editor:
Syaiful Bahri Tata Letak:
Dessy
Desain Cover:
Manda Aprikasari Ukuran:
A5 Unesco: 15,5 x 23 cm Halaman:
viii, 263 ISBN:
978-623-195-643-9 Terbit Pada:
November 2023
Hak Cipta 2023 @ Media Sains Indonesia dan Penulis
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit atau Penulis.
PENERBIT MEDIA SAINS INDONESIA (CV. MEDIA SAINS INDONESIA) Melong Asih Regency B40 - Cijerah Kota Bandung - Jawa Barat www.medsan.co.id
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga buku kolaborasi dalam bentuk buku dapat dipublikasikan dan dapat sampai dihadapan pembaca. Buku ini disusun oleh sejumlah akademisi dan praktisi sesuai dengan kepakarannya masing-masing. Buku ini diharapkan dapat hadir memberi kontribusi positif dalam ilmu pengetahuan khususnya terkait dengan Metodologi Penelitian Kesehatan.
Sistematika buku Metodologi Penelitian Kesehatan ini mengacu pada pendekatan konsep teoritis dan contoh penerapan. Buku ini terdiri atas 17 bab yang dibahas secara rinci, diantaranya: Pengantar penelitian kesehatan;
Kode etik dalam penelitian kesehatan; Masalah penelitian kesehatan; Tinjauan pustaka, kerangka berpikir, dan kerangka konsep; Hipotesis penelitian; Metode penelitian klinis; Metode penelitian eksperimen; Pendekatan penelitian kualitatif; Populasi dan sampel penelitian kuantitatif dan kualitatif; Variabel dan hubungan antar variabel; Instrumen penelitian kuantitatif dan kualitatif;
Teknik pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif;
Analisis data kuantitatif dan kualitatif; Validitas dan reliabilitas penelitian kuantitatif dan kualitatif;
Penyusunan proposal penelitian kuantitatif dan kualitatif;
Tata cara penulisan kutipan/ referensi; dan Penulisan laporan penelitian.
Kami menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnaan dan masih terdapat banyak kekurangan, sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Yang Kuasa. Oleh sebab itu, kami tentu menerima masukan dan saran dari pembaca demi penyempurnaan lebih lanjut.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung dalam proses penyusunan dan penerbitan buku ini, secara khusus kepada Penerbit Media Sains Indonesia sebagai inisiator buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Bandung, 21 September 2023 Editor
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
1 PENGANTAR PENELITIAN KESEHATAN ... 1
Penelitian ... 1
Konsep Penelitian ... 6
Berbagai Metode Penelitian ... 7
Metode Sejarah ... 8
Metode Deskriptif ... 9
Metode Kasus ... 10
Metode Eksperimen ... 10
Metode Eks Post Fakto ... 10
Metode Partisipatori ... 11
Grounded Research ... 11
Penelitian Survai ... 12
Sejarah Penelitian Kesehatan ... 12
Abad Kesembilan Belas ... 13
Tujuan Kesehatan Masyarakat ... 14
2 KODE ETIK DALAM PENELITIAN KESEHATAN ... 17
Pengertian Etika Penelitian Kesehatan ... 17
Prinsip–Prinsip Etika Penelitian Kesehatan ... 21
Kode Etik dalam Penelitian Kesehatan ... 22
Penerapan Kode Etik dalam Penelitian Kesehatan ... 25
3 MASALAH PENELITIAN KESEHATAN ... 33
Pendahuluan ... 33
Mengenal Rumusan Masalah ... 34
iii
Fungsi Rumusan Masalah ... 37
Contoh Rumusan Masalah ... 38
4 TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN KERANGKA KONSEP ... 45
Pendahuluan ... 45
Tinjauan Pustaka ... 46
Tinjauan Pustaka yang Baik ... 47
Fungsi Tinjauan Pustaka ... 48
Langkah-Langkah Menyusun Tinjauan Pustaka ... 50
Teknik Melakukan Tinjauan Pustaka ... 51
Kerangka Berpikir ... 53
Kerangka Konsep ... 54
5 HIPOTESIS PENELITIAN ... 59
Pengertian Hipotesis ... 59
Tujuan Hipotesis ... 60
Misi dari Hipotesis ... 60
Syarat Hipotesis ... 61
Merumuskan Hipotesis Penelitian ... 62
Jenis Hipotesis ... 62
Perbedaan Hipotesi Statistik dengan Hipotesis Penelitian ... 64
Arah atau Bentuk Hipotesis ... 66
Kesalahan Pengambilan Keputusan ... 67
Menentukan Tingkat Kemaknaan (Level Of Significance) ... 68
Pemilihan Jenis Uji Parametrik Atau Non Parametrik ... 68
Prosedur/Langkah Uji Hipotesis ... 69
iv
6 METODE PENELITIAN KLINIS ... 73
Pendahuluan ... 73
Pengertian ... 74
Tujuan ... 74
Seleksi ... 74
Desain ... 75
Langkah-Langkah Pelaksanaan Penelitian Klinik... 78
Pemantauan Selama Penelitian ... 83
Pencatatan Data ... 84
Kesimpulan ... 85
7 METODE PENELITIAN EKSPERIMEN ... 89
Pengertian ... 89
Tujuan Penelitian Eksperimen ... 90
Variabel dalam Penelitian Eksperimen ... 90
Metode Penelitian Eksperimen ... 92
Karakteristik Penelitian Eksperimen ... 92
Desain Metode Penelitian Eksperimen ... 92
Tahapan Melakukan Penelitian Eksperimen ... 101
8 PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF ... 105
Pendahuluan ... 105
Jenis-Jenis Penelitian Kualitatif ... 107
Filosofi Penelitian Kualitatif ... 109
Pemilihan Sampel ... 111
Validitas dan Kepercayaan dalam Penelitian Kualitatif ... 112
Validitas Internal melalui Triangulasi Data dalam Penelitian Interaksi Pasien-Dokter ... 112
v
Kepercayaan dan Transferabilitas Temuan
dalam Konteks Penelitian Kesehatan ... 113
Analisis Data Kualitatif dalam Kesehatan ... 114
Pendekatan Induktif dan Deduktif ... 114
Pemanfaatan Perangkat Lunak Khusus untuk Membantu Analisis Temuan ... 115
Etika dalam Penelitian Kualitatif Kesehatan ... 115
Interpretasi dan Pelaporan Temuan ... 116
Penyajian Hasil Penelitian melalui Kutipan dan Narasi Ilustratif ... 117
Penutup ... 117
9 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF ... 121
Pendahuluan ... 121
Populasi ... 122
Kriteria Populasi ... 123
Sampel dan Sampling ... 124
Besar Sampel ... 126
Estimasi... 127
Satu Populasi (Estimasi) ... 129
Satu Populasi (Estimasi) ... 130
Sampling ... 131
Probability Sampling ... 131
Sampling Non Probabilistik (Non Random) ... 133
10 VARIABEL DAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL ... 139
Pengertian ... 139
Jenis-Jenis Variabel... 140
vi
Skala Pengukuran Variabel ... 144
Cara Mengontrol Variabel Perancu ... 147
Hubungan Antar Variabel ... 149
Pengubah Efek ... 152
Kesimpulan ... 152
11 INSTRUMEN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF ... 157
Pengertian Instrumen Penelitian ... 157
Jenis-Jenis Instrumen Kuantitatif ... 158
Jenis-Jenis Instrumen Kualitatif ... 164
12 TEKNIK PENGUMPULAN DATA KUALITATIF DAN KUANTITATIF ... 175
Pendahuluan ... 175
Teknik Pengumpulan Data... 175
Teknik Pengumpulan Data Kuantitatif ... 177
Teknik Pengumpulan Data Kualitatif ... 181
Kesimpulan ... 185
13 ANALISIS DATA KUANTITATIF DAN KUALITATIF ... 189
Pendahuluan ... 189
Analisis Data Kuantitatif ... 190
Ciri-Ciri Analisis Data Kuantitatif ... 192
Kelebihan Analisis Data Kuantitatif ... 192
Kekurangan Analisis Data Kuantitatif ... 193
Teknik Analisis Data Kuantitatif ... 193
Analisis Data Kualitatif ... 195
Model Analisis Data Kualitatif ... 197
Karakteristik Metode Kualitatif ... 198
vii
Kelebihan Metode Kualitatif ... 199
Kekurangan Metode Kualitatif ... 199
Teknik Analisis Data Kualitatif ... 200
14 VALIDITAS DAN RELIABILITAS PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF ... 205
Validitas dan Reliabilitas Penelitian Kuantitatif Pengertian Validitas ... 205
Tujuan Validitas ... 206
Jenis-Jenis Validitas Penelitian Kuantitatif ... 206
Validitas Kriteria Pembanding (Criterion Related Validity) ... 207
Validitas Konstruk (Construct Validity) ... 208
Besar Sampel untuk Dilakukan Uji Validitas ... 208
Pengertian Reliabilitas ... 208
Tujuan Reliabilitas ... 208
Cara Menentukan Tingkatan Uji Reliabilitas ... 209
Validitas dan Reliabilitas Penelitian Kualitatif ... 212
Teknik Pencapaian Validitas ... 213
Reliabilitas Penelitian Kualitatif ... 216
Teknik Pencapaian Reliabilitas Penelitian Kualitatif ... 216
Uji Reliabilitas Koding (Inter Coder Reliability) ... 217
15 PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF ... 221
Penelitian Kuantitatif ... 221
Penyusunan Proposal Penelitian Kuantitatif ... 221
Pengajuan Masalah (BAB I) ... 222
Kajian Pustaka (BAB II) ... 225
viii
Metode Penelitian (BAB III) ... 226
Penelitian Kualitatif ... 229
Penyusunan Proposal Penelitian Kualitatif ... 229
16 TATA CARA PENULISAN KUTIPAN/ REFERENSI ... 237
Pendahuluan ... 237
Pengertian Kutipan ... 238
Manfaat dan Tujuan Kutipan ... 240
Jenis-Jenis Kutipan ... 241
Cara Menulis Kutipan Langsung: ... 242
Cara Menulis Kutipan Tidak Langsung ... 244
Cara Menulis Kutipan yang Pernah Dikutip ... 247
Cara Menulis Kutipan dari Internet ... 247
17 PENULISAN LAPORAN PENELITIAN ... 251
Sistem Penulisan Laporan Penelitian ... 251
Bagian Utama ... 252
Bagian Akhir ... 255
Lampiran ... 256
Daftar Riwayat Hidup ... 256
Langkah-Langkah Penulisan Laporan Penelitian ... 256
Aturan Penulisan Laporan Penelitian ... 259
Kode Etik Penulisan Karya Ilmiah Atau Penelitian ... 260
1
1
PENGANTAR PENELITIAN KESEHATAN
Syamsul Ishak, S.K.M., M.Kes.
Universitas Karya Dharma Makassar
Penelitian
Manusia diciptakan oleh Tuhan serba ingin tahu sehingga Paull Lady menyebutnya the men is a curius anial.
Keingintahuan manusia dapat diperoleh dengan berbagai upaya yaitu Bertanya kepada orang lain yang dianggap lebih tahu (punya otoritas), Melalui akal sehat, Intuisi dan Prasangka (coba-coba) cara tersebut tentu saja tidak melalui penalaran, hingga jawaban atau pemecahannya bukan pengetahuan ilmiah atau disebut dengan metode non-ilmiah (unscientific).
1. Pendekatan Unscientific
Dalam sejarah umat manusia, usaha untuk menjawab dorongan keingintahuan dalam mencari kebenaran, bermula dari pendekatan ini. Berarti sebelum orang menggunakan pendekatan scientific research, pendekatan unscientific suda digunaan dalam waktu yang cukup lama. Pada pendekatan unscientific biasanya orang mulai bekerja menjawab dorongan keingintahuan dan mencari kebenaran, melalui yaitu Secara kebetulan, Secara trial and error, Melalui otoritas seseorang.
Tidak ada sumber pasti yang menjelaskan tentang ketiga cara di atas digunakan oleh umat manusia untuk menemukan kebenaran, namun menurut
2
logika sejarah ketiga cara diatas bertahap digunakan orang untuk mencari kebenaran, hal ini menandakan bahwa sejarah pemburuan kebenaran ilmiah telah dimulai dari kegiatan-kegiatan yang sederhana dan secara bertahap meningkat mencapai kegiatan yang rumit dengan melibatkan orang lain.
2. Pendekatan Secara Kebetulan
Manusia pada awalnya selalu kebingungan untuk memecahkan persoalan hidupnya, dan alam sekitarnya. Orang tidak tahu harus berbuat apa terhadap dorongan keingintahuannya untuk mengungkapkan misteri kehidupan di sekitarnya.
Karena tingkat pengetahuan manusia amat rendah pada waktu itu, maka manusia cenderung pasif terhadap dorongan tersebut.
Mulanya orang tidak dapat berbuat apa-apa terhadap wabah malaria di mana-mana. Namun, setelah seorang yang menderita demam dengan panas yang tinggi, secara tidak sengaja jatuh dalam sebuah sungai kecil yang airnya telah berwarna hitam. Tanpa disengaja orang itu meminung air sungai tersebut.
Ternyata diketahui, bahwa air sungai yang berwarna hitam itu disebabkan karena sebatang pohon kina yang tumbang di sungai itu. Dari kejadian ini, kemudian orang baru mengetahui bahwa pohon kina dapat dijadikan obat penyakit malaria.
Kelemahan yang terkandung dalam penemuan- penemuan secara kebetulan ini, bahwa orang akan bersikap pasif terhadap dorongan ingin tahunya karene semuanya terjadi secara kebetulan, dan akibatnya pengetahuan berkembang menurut hukum alam dan secara evolusi membentuk kehidupan yang menurut alam adalah yang terbaik.
3. Penemuan Secara Trial and Error
Kelemahan penemuan secara Trial and Error atau kebetulan, membuat banyak orang mulai tidak percaya bahwa perubahan yang lebih cepat dapat dihasilkan dengan penemuan secara kebetulan.
3
Perkembangan masyarakat yang terasa cepat menyebabkan manusia harus aktif mencari kebenaran, meski sarana pengetahuan untuk mencapainya masih sangat tidak memadahi. Namun untuk memotong lingkaran ini, masyarakat harus memulai sesuatu dengan cara mencoba-coba (trial and error) walau tanpa kepastian.
Untuk mencapai suatu pengetahuan atau kebenaran tertentu, seseorang harus melalui berbagai usaha sampai pada akhirnya ia menemukan suatu permulaan dari kejelasan atau dari frustrasi lalu meninggalkan pekerjaan itu. Sehingga trial and error terlalu banyak menghabiskan waktu, membuat spekulasi dalam ketidak pastian.
4. Penemuan Melalui Otoritas
Kaum Skolastik yang begitu fanatik dengan Aristoteles, begitu kagum dengan semua pernyataan Aristoteles, sehingga sedikitpun tidak menaru curiga akan kelemahan pernyataannya. Sampai-sampai mengiyakan saja apa yang dikatakan Aristoteles bahwa gigi wanita lebih banyak dari gigi laki-laki.
Padahal secara objektif jumlah gigi-gigi itu dapat dihitung sendiri. Kemudian pada kesempatan lain, kaum Skolastik serta merta menolak undangan Galileo untuk melihat bulan dan dari Yupiter melalui teropong. Hal tersebut karena dalam ilmu astronomi Aristoteles, tidak pernah menyebut-nyebutkan bahwa bulan itu dapat dilihat. Cerita-cerita di atas itu adalah contoh dari pendekatan otoritas dalam menemukan kebenaran. Memang pendekatan ini lebih praktis bila dibandingkan dengan pendekatan lainnya.
Namun juga sangat terbuka untuk suatu kesalahan yang fatal. Berbeda dengan pendekatan kebetulan dan trial and error, menemukan kebenaran melalui otoritas membutuhkan orang lain yang dapat dijadikan subjek otoritas, karena sadar ataupun tidak, pada pendekatan ini telah mengakui ketidak mampuan rasio seseorang untuk memecahkan problem kebenaran yang sedang dihadapinya.
4
Otoritas membuat orang tergantung kepada orang yang memiliki otoritas tersebut dan membuat dirinya takjup dan tanpa disadari telah membekukan kreativitas manusia dan usaha seseorang untuk berikhtiar.
Penelitian ilmiah pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia dan dinyatakan dalam bentuk pernyataan-pernyataan atau permasalahan.
Setiap pernyataan atau permasalahan memerlukan jawaban atau pencatatan, sehingga didapat pengetahuan baru yang dianggap benar. Pengetahuan yang benar adalah apa yang bisa diterima oleh akal dan berdasarkan fakta empiris. Pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau hukum yang menjadi kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Aplikasi dari logika disebut “penalaran”, sehingga pengetahuan yang benar disebut juga “pengetahuan ilmiah(ilmu)” atau
“sains’. Penalaran dilaksanakan dengan dua macam prosedur logika, yaitu:
a. Prosedur Deduktif: berpangkal dari suatu proposisi umum yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini (self evident), dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
b. Prosedur Induktif: berpangkal dari proposisi khusus sebagai hasil pengamatan empiris dan berakhir pada kesimpulan pengamatan baru yang bersifat umum.
Untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah, kedua prosedur logika tersebut digunakan secara interaktif dan saling mengisi bukan berdiri sendiri secara diametral, oleh karena itu pengetahuan ilmiah adalah interelasi yang logis dari fakta-fakta. Penelitian merupakan metode ilmiah yang harus taat kepada hukum-hukum logika.
Pengertian penelitian diterjemahkan dari kata ”Research”
yaitu re kembali dan to search (mencari) atau mencari kembali yang kemudian para ahli menerjemahkannya sebagai riset. Dari berbagai ahli yang mencoba membuat
5
defenisi penelitian yang tepat, pada dasarnya penelitian adalah suatu proses penyelidikan atau pencarian sesuatu fakta dan prinsip-prinsip yang dilakukan secara sistematis, hari-hari, kritis (critical thinking) dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut, penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran, sehingga penelitian merupakan metode berpikir secara kritis.
Penelitian (riset) sebagai metode untuk memperoleh pengetahuan ilmiah, yaitu suatu proses yang terdiri dari eksperimental (observasi) untuk memperoleh fakta-fakta dan pemberian argumentasi atau postulat yang telah diterima untuk menyatakan interaksi antara fakta, serta hubungan antara fakta dengan body of knowledge.
Penelitian (research) re dan to search artinya “mencari kembali” adalah suatu proses yang berbentuk siklus bersusun yang berkesinambungan yang tanpa batas.
Dimulai dari hasrat ingin tahu (permasalahan), penelahaan landasan teoritis dalam kepustakaan (hipotesis) rancangan penelitian, pengumpulan fakta/
data, pengujian hipotesis melalui analisis data, kesimpulan sebagai jawaban permasalahan (Semmaila Baharudding & Ahli Reza aril, 2017).
Karya tulis ilmiah adalah hasil laporan tertulis yang dimaksudkan unutk memajukan ilmu pengetahuan melalui riset dan penelitian. Karya tulis ilmiah ditulis dengan cara tertentu yang melibatkan aturan-aturan umum yang harus ilmiah, perlu diperhatikan langkah- langkah penulisan sesuai dengan kaidah yang digunakan.
Menulis karya ilmiah adalah tentang bagai mana suatu penelitian diproses untuk dapat memecahkan suatu masalah. Dalam hal ini, merumuskan masalah adalah unsur yang paling penting dalam menulis karya tulis ilmiah. Masalah yang dirumuskan harus dibatasi agar penelitian tetap terfokus pada suatu hal yang akan dipecahkan (Purnomo Windhu & Bramantoro Taufan, 2018).
6 Konsep Penelitian
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terlepas dari aktivitas dunia penelitian, demikian juga di bidang pendidikan dan kesehatan. Perkembangan ataupun kemajuan di berbagai hal kedua bidang tersebut sangat dipengaruhi oleh aktivitas atau keberhasilan penelitian di bidangnya masing-masing.
Tidak sedikit mahasiswa termasuk peneliti pemula yang enggan untuk memulai membuat proposal karena mereka masih belum paham bagai mana memulai sebuah penelitian, bagai mana memulai sebuah penelitian proposal penelitian, apa yang harus disiapkan terlebih dahulu dalam membuat usulan penelitian. Terkait hal tersebut, maka pada bagian kedua ini penulis memulai mengulas secara urut bagian-bagian dari proposal penelitian agar lebih mudah dipahami oleh para pembaca.
a). Pengalaman dan tatanan klinik (Pengalaman klinis petugas kesehatan termasuk perawat, bidan, dokter, dan lain-lain adalah sumber ide-ide riset atau sumber dari masalah penelitian), b) Literatur (Proyek penelitian terkadang datang dari membaca literatur bidang keperawatan atau bidang kesehatan lainnya, c) Isu sosial (Masalah penelitian bisa didapatkan dari isu sosial terutama yang terkait dengan pelayanan kesehatan komunitas atau masyarakat), d) Teori (Masalah penelitian dapat bersumber dari teori yang suda ada), e) Ide dari orang lain (Saran secara langsung yang didapatkan dari orang lain atau oleh dosen), f) Hasil penelitian sebelumnya atau penelitian terkait (Pada bagian ini peneliti dapat menyampaikan hasil penelitian sebelumnya yang telah dipublikasikan, terutama yang sudah dipublikasikan melalui jurnal, dan akan jauh lebih baik apabila ditemukan hasil penelitian yang telah dimuat di jurnal internasional), g) Pentingnya penelitian (Penelitian menyampaikan kenapa penelitian ini harus dilakukan, dimana pentingnya penelitian ini, kaitkan dengan permasalahan yang diangkat dengan menyampaikan fakta yang ada dan didukung oleh data yang akurat), h) Dampak dari masalah tersebut (Sampaikan apakah akibat atau dampak yang bisa muncul apabila masalah tersebut
7
tidak ditangani dengan baik sehingga sangat diperlukan untuk dilakukan penelitian), (Swarjana I Ketut, 2015).
Berbagai Metode Penelitian
Pemilihan metode penelitian tergantung kapada maksud dan tujuan penelitian. Tujuan-tujuan penelitian dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Penelitian yang bersifat menjajah, dengan tujuan untuk memperdalam pengetahuan mengenai gejala tertentu. Dapat pula bertujuan untuk memperoleh ide-ide baru mengenai suatu gajala, dengan maksud untuk merumuskan masalahnya secara lebih rinci atau untuk menurunkan hipotesa-hipotesa belum ada referensi untuk menduduki hippotesa.
2. Penelitian yang bersifat deskriftif, bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau hal-hal yang khusus dalam masyarakat.
3. Penelitian yang bersifat menerangkan, bertujuan untuk menguji hipotesa-hipotesa tentang adanya hubungan sebab akibat antara berbagai variabel yang diteliti.
Penelitian yang bersifat menjelajah sering dianggap tidak ilmiah atau dianggap remeh terutama oleh kelompok- kelompok yang sangat menyukai analisis kuantitatif.
Sebenarnya informasi tentang segala sesuatu yang pada awalnya tidak/belum diketahui, sangat penting artinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian jenis ini biasanya dilaksanakan dengan metode sejarah, metode kasus, metode komparatif, dan metode “grounded research”.
Penelitian deskriktif berusaha untuk memberikan gambaran yang cermat dan lengkap tentang objek yang diteliti. Biasanya suda banyak referensi yang dapat dipakai sebagai panduan untuk menurunkan hipotesa- hipotesa, tetapi bisa gejalanya belum membentuk sesuatu pola berfikir yang sistematik. Dalam hal yang terakhir
8
perlu adanya ketegasan mengenai definisi dari konsep- konsep yang akan diamati.
Penelitian yang bersifat menerangkan dapat dilakukan bila pengetahuan tentang objek yang diteliti suda cukup, artinya sudah ada beberapa teori sebagai hasil dari generalisasi empiris. Dengan demikian tujuan peneliti adalah menguji beberapa hipotesa untuk memperkuat penerimaan terhadap teori, dalil atau hukum tertentu yang menjadi landasan berfikir yang telah diuraikan dalam kerangka berpikir teoritis.
Penelitian yang bersifat menerangkan ditandai dengan adanya hubungan sebab akibat, karena biasanya penelitian tersebut bertujuan pula untuk membuat permasalahan-permasalahan bagi masa mendatang.
Metode eksperimen merupakan metode yang paling populer untuk penelitian yang bermaksud menerangkan sebab akibat. Untuk penelitian ilmiah kadang tidak mungkin diterapkan, karena kesulitan dalam membuat kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Untuk jelasnya hal ini akan diuraikan pada metode penelitian.
Sebagai mana telah diuraikan bahwa pengelompokan jenis metode penelitian ada yang didasarkan pada prosedur atau alat yang dipergunakan. Dalam ilmu sosial terutama sosiologi atau antropologi penamaan metode penelitian banyak yang didasarkan pada alat yang dipergunakan misalnya metode quesioner, metode wawancara, metode dokumentasi/ sejarah, metode pengalaman individu dan metode “projective test” dan metode partisipatori. Bidang ekonomi telah banyak memakai metode-metode kasus, metode survei, metode komparatif dan metode-metode deskriptif lainnya serta metode ekspostfacto.
Metode Sejarah
Penelitian dengan metode sejarah bertujuan untuk melihat pengalaman dan perkembangan di masa lampau dengan mencoba membuat interpretasi terhadap data dari sumber-sumber keterangan tersebut. Ada beberapa ciri khusus dari metode sejarah, yaitu data dari bahan-bahan
9
fisik misalnya peninggalan materi berupa alat perkakas, perhiasan-perhiasan kuno, bangunan kuno, candi, dan benda budaya lainnya serta dokumen (karena itu metode sejarah juga dinamakan metode dokumen) berupa laporan-laporan yang di tulis.
Metode sejarah ataupun metode dokumentasi dikategorikan sebagai metode ilmiah karena langkah- langkah dan alat yang dipergunakan logis dan sistematik.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Mendefinisikan/merumuskan masalah.
2. Mengumpulkan bahan-bahan sumber informasi.
3. Menyusun fakta secara sistematis.
4. Menginterpretasikan fakta.
5. Membuat sumbernya yang ada dan menuliskannya dalam bentuk laporan.
Metode Deskriptif
Metode deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematik, faktual dan akurat mengenai fenomena atau hubungan antara fenomena yang disediakan. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai mana halnya metode ilmiah yaitu: a) Memilih dan merumuskan masalah dan menjelaskan pentingnya pemecahan masalah tersebut, b) Menentukan tujuan yang diturunkan dari perumusan- perumusan masalah, c) Membuat batasan scope atau lingkup penelitian, d) Membuat kerangka berfikir teoritis untuk menurunkan hipotesa-hipotesa yang akan di uji, e) Hipotesa-hipotesa tertentu dapat dijabarkan dalam bentuk persamaan-persamaan matematis sehingga memudahkan dalam melaksanakan langkah-langkah selanjutnya, f) Sampai langkah ini peneliti selain tergantung pada kepakarannya sendir juga bergantung pada sumber kepustakaan yang tersedia, g) Langkah selanjutnya berupa pengumpulan data dengan mempergunakan data yang sesuai dengan tujuan penelitian atau dengan hipotesa yang akan di uji. Banyak pertimbangan dalam pemilihan teknik pengambilan
10
contoh (sampling techniques), h) Membuat analisis data dengan menggunakan metode statistik atau teknik komputasi yang sesuai, i) Menafsirkan dan membuat prediksi-prediksi, j) Membuat saran dan implikasi.
Metode Kasus
Pada hakekatnya, metode kasus sama saja dengan metode survei, yang membedakan adalah bila metode survei dikehendaki informasi untuk memproleh gambaran umum dari objek yang diteliti sedangkan dalam metode kasus ingin mendapatkan informasi yang mendalam tentang objek yang diteliti. Dalam metode kasus peneliti tidak perluh membuat kesimpulan untuk populasi dari contoh yang tidak representatif diwakili oleh kasus yang dipilih, tetapi pada metode survei dapat dibuat kesimpuan tentang populasi tergantung dari teknik pengambilan contohnya. Langkah-langkah penelitian dalam metode ilmiah semua hampir sama saja, hanya karena dalam metode kasus peneliti hanya berkeinginan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apa, bagaimana dan mengapa, maka biasanya belum ada hipotesa- hipotesa saja.
Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah cara kerja peneliti dengan membuat kondisi buatan degan mengadakan manipulasi terhadap objek yang diteliti. Ciri khusus dari metode eksperimen manipulasi adalah adanya kontrol untuk mengamati ada tidaknya hubungan sebab akibat dari fenomena, yang mengamati kontrol dengan percobaan.
Metode eksperimen banyak dipakai dalam ilmu eksakta.
Metode Eks Post Fakto
Metode eks post fakto sering juga dikatakan metode kausal komparatif. Dalam metode ini kita menyadari sekali bahwa variable sosial ekonomi sering tidak dapat di manipulasi sebagai mana halnya variable dalam metode eksperimen. Dimana metode eks post fakto subjek-subjek yang diteliti mengelompokkan diri dalam kelompok dengan karakteristik yang ditetapkan, misalnya petani
11
dengan luasan garapan berbeda-beda. Jadi peneliti dapat memanipulasi variable bebas melalui subjek yang diteliti sesuai dengan variable yang diteliti.
Metode Partisipatori
Metode ini semakin populer saat ini, terutama untuk tujuan pembangunan. Beberapa perinsip yang harus dipenuhi dalam metode partisipatori, antara lain: Metode yang dipergunakan dalam penelitian harus mempunyai implikasi-implikasi ideologi, Proses penelitian harus segera memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dari pada hanya sekedar karya akdemik, Proses penelitian harus melibatkan semua partisipan dalam proses penelitian, mulai dari formulasi masalah tersebut dan bagai mana penemuan-penemuan akan ditafsirkan, Bila tujuan penelitian diubah, anggota-anggota tim peneliti harus disusun kembali dengan melibatkan peneliti dan orang-orang yang mewakili semua elemen dalam situasi itu. Hal ini harus dilakukan sebagai akibat dari pengaruh tujuan tersebut, Partisipasi penelitian harus melihat proses penelitian sebagai keseluruhan pengalaman masyarakat dimana kebutuhan-kebutuhan masyarakat dibangun, dan kesadaran serta kesepakatan dalam masyarakat dapat ditingkatkan, Partisipan penelitian harus melihat proses penelitian sebagai dialog sepanjang waktu, dan bukan gabaran statistik yang terjadi dari waktu tertentu, Tujuan proses penelitian sama seperti tujuan proses pendidikan yang harus membebaskan potensi kreatifitas manusia sebagai sumberdaya dalam memecahkan masalah-maslah sosial.
Grounded Research
Grounded research adalah penelitian dengan metode yang didasarkan pada pengumpulan fakta kemudian menganalisisnya berdasarkan analisis perbandingan dengan tujuan untuk membuat generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep dan mengembangkan teori dimana pengumpulan data analisis data berjalan pada waktunya yang bersamaan. Langkah-langkah penelitian terdiri dari: penentuan masalah yang ingin di teliti,
12
pengumpulan data, penentuan kelompok-kelompok atau individu-individu yang penting dan akan diperbandingkan, menentukan perbedaan dan persamaan antar kelompok, kemudian menentukan kategori-kategori berdasarkan persamaan-persamaan atau perbedaan- perbedaan yang terdapat dalam kelompok atau individu, memilih ciri-ciri penting dari setiap kategori untuk dipakai menyusun hipotesa-hipotesa.
Penelitian Survai
Penelitian survai merupakan pendekatan kuantitatif yang dibatasi pada penelitian yang dikumpulkan dari sampel atau populasi untuk mewakili seluruh populasi.
Pengumpulan data yang pokok dengan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner), penelitian survei dapat digunakan untuk maksud Penjajagan (eksploratif), Deskriptif, Penjelasan (explanatory atau comfirmatory), yakni untuk menjelaskan hubungan kausal dengan pengujian hipotesa, Evaluasi, Prediksi atau meramalkan kejadian tertentu di masa yang akan datang, Penelitian oprasional, Pengembangan indikator-indikator sosial (Semmaila Baharudding & Ahli Reza aril, 2017).
Sejarah Penelitian Kesehatan
Salah satu kemajuan dibidang kedokteran, terjadi diakhir abad ke-18, layak disebutkan karena maknanya bagi kesehatan masyarakat. Pada tahun 1796, Dr. Edward Jenner berhasil memperagakan proses vaksinasi sebagai perlindungan terhadap penyakit cacar. Temuan Dr.
Jenner tetap menjadi salah satu temuan terbesar sepanjang zaman baik bagi dunia kedokteran maupun kesehatan masyarakat.
Diakhir abad ke-18, kaum muda AS berhadapan dengan berbagai masalah penyakit, termasuk berlanjutnya KLB cacar, kolera, demam tifoid, dan yellow fever. KLB yellow fever biasanya menyerang kota-kota pelabuhan, seperti Charleston, Baltimore, New York, dan New Orleans, tempat merapatkan kapal dari wilayah tropis Amerika.
Epidemi terbesar penyakit yellow fever di Amerika terjadi
13
di Philadelphia tahun 1793, dengan perkiraan sekitar 23.000 kasus, termasuk 4.044 korban meninggal dalam populasi yang diperkirakan hanya berjumlah 37.000 jiwa.
Untuk mengatasi epidemi yang berlanjut itu dan banyak masalah kesehatan lainnya, misalnya kebersihan dan perlindungan terhadap persediaan air, dibentuk beberapa lembaga kesehatan pemerintah.
Abad Kesembilan Belas
Selama paruh pertama abad ke-19, terjadi beberapa kemajuan luar biasa di bidang kesehatan masyarakat.
Kondisi kehidupan di Eropa dan Inggris tetap tidak saniter dan industrialisasi menyebabkan semakin banyak penduduk berada di kota. Namun, metode pertanian yang lebih baik menyebabkan perbaikan gizi bagi banyak orang.
Epidemi masih berlanjut di kota-kota besar Eropa dan Amerika. Tahun 1849, epidemi kolera meyerang London.
Dr. John Snow mempelajari epidemi ini dan mengajukan hipotesis bahwa penyakit ini desebabkan oleh konsumsi air dari pompa Broad Street. Dia memperoleh izin untuk melepas pegangan pompa, dan epidemi pun selesai.
Tindakan Snow sangat luar biasa karena berlangsung sebelum penemuan bahwa mikroorganisme dapat menyebabkan penyakit. Teori yang dominan saat itu tentang penyakit menular adalah “teori miasmas”.
Menurut teori ini, uap atau bau tak sedap (miasmas) yang keluar dari tanah merupakan sumber dari banyak penyakit. Teori miasmas tetap terkenal hampir disepanjang abad ke-19.
Ilmuan Jerman Robert Koch merupakan orang yang mengembangkan kriteria dan prosedur-prosedur penting untuk membuktikan pendapat bahwa mikroba tertentu, dan bukan mikroba lain, yang menyebabkan penyakit tertentu. Demonstrasi pertamanya dengan basilus antraks berlangsung pada tahun 1876 sampai akhir abad ke-19, identitas sejumalah agen penyakit bakterial berhasil dipastikan, termasuk di antranya penyebab gonorrhea, tifus, lepra, tuberculosis, kolera, difteri, tetanus, pneumonia, pes, dan disentri. Periode ini (1875-
14
1900) lebih dikenal dengan julukan priode bakteriologis kesehatan masyarakat.
Kemajuan ini sejalan dengan kemajuan yang dicapai lembaga pemerintah. Merine Hospital Service diubah namanya menjadi Public Health and Marine Hospital Service pada tahun 1902 untuk mengikuti penambahan beban tanggung jawab di rumah sakit tersebut. Pada tahun 1912, lembaga tersebut diubah menjadi U.S. Public Health Service (James F. Mckenzie et al., 2014).
Tujuan Kesehatan Masyarakat
Tujuan kesehatan masyarakat yang meliputi bidang promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif adalah sebagai berikut:
1. Setiap warga masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya secara mandiri, baik fisik, mental maupun sosial sehingga mampu mencapai taraf kehidupan dan menjamin pemeliharaan kesehatan yang sempurna.
2. Mempertinggi nilai kesehatan, mencegah timbulnya penyakit dan memperpanjang hidup manusia.
3. Meningkatkan pemahaman individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang konsep sehat sakit.
4. Meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan.
5. Terlayani/tertangani kelompok keluarga khusus, keluarga rawan yang memerlukan penanganan tindak lanjut di layanan kesehatan (Khotimah et al., 2021).
15 Daftar Pustaka
James F. Mckenzie, Robert R. Pinger, & Jerome E. Kotecki.
(2014). Kesehatan Masyarakat suatu pengentar : Vol.
edisi 4. buku kedokteran EGC.
Khotimah, Pangaribuan, S. M., Simamora, J. P., Sinaga, S. I., Sinaga, L. R. V., Doloksaribu, G. L., Budiaty, W.
O. S., Widodo, D., Purnawinadi, I. G., Irfandi, A., Wahyuni, S., Ashari, E. A., Sianturi, E., Heriyati, &
Siregar, R. N. (2021). Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat (R. Watrianthos, Ed.; Ronal Watrianthos).
Yayasan Kita Menulis.
Purnomo Windhu, & Bramantoro Taufan. (2018).
Pengantar Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan.
Airlangga University Press.
Semmaila Baharudding, & Ahli Reza aril. (2017).
Metodologi Penelitian Kuantitatif. Arus Timur.
Swarjana I Ketut. (2015). Metodologi Penelitian Kesehatan (Bandatu Monica, Ed.; Revisi). Andi Offset.
16 Profil Penulis Syamsul Ishak
Penulis dilahirkan di Kelurahan Bambaloka Kecamatan Baras Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat pada tanggal 06 Januari 1992. Merupakan anak ke-4 dari pasangan H.
Ishak dan Ibu Hj. Ramlah. Penulis menempuh pendidikan dimulai dari SDN Majene Desa Singgani, melanjutkan ke SMPN dan SMAN 01 Bulutaba, penulis juga aktif diberbagai macam kegiatan internal maupun eksternal sekolah hingga mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan lomba. Penulis menyelesaikan program Strata Satu (S1) di Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Karya Dharma Makassar lulus tahun 2015 dan menyelesaikan Strata Dua (S2) di Program Pascasarjana Universitas Universitas Karya Dharma Makassar Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat lulus tahun 2019. Penulis pernah menjadi asisten dosen di Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Karya Dharma Makassar.
Penulis juga aktif dalam kegiatan ilmiah dan berbagai organisasi.
Email Penulis: [email protected]
17
2
KODE ETIK DALAM PENELITIAN KESEHATAN
Risza Choirunissa S,SiT., MKM Universitas Nasional
Pengertian Etika Penelitian Kesehatan
Etika penelitian kesehatan adalah sebuah konsep yang digunakan untuk menilai moralitas dan integritas dalam penelitian kesehatan. Etika penelitian kesehatan mengacu pada seperangkat nilai, prinsip dan norma yang digunakan untuk membimbing praktik penelitian kesehatan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan cara yang aman, efektif, dan adil bagi semua pihak yang terlibat.
Penelitian kesehatan merupakan suatu metode ilmiah untuk mengembangkan pengetahuan dan meningkatkan kesehatan manusia. Penelitian kesehatan mencakup berbagai jenis studi, seperti kajian terhadap penyakit, uji klinis obat-obatan, survei kesehatan, penelitian epidemiologi dan lain-lain. Sebagai kegiatan yang melibatkan subjek penelitian, para peneliti harus memperhatikan etika dalam penelitian kesehatan. Etika penelitian kesehatan melibatkan banyak aspek seperti hak asasi manusia, privasi, kerahasiaan, dan perlindungan terhadap risiko atau bahaya
Penerapan etika penelitian kesehatan mencakup prinsip- prinsip yang harus diikuti oleh para peneliti. Prinsip- prinsip tersebut meliputi: beneficence (kebaikan), non- maleficence (tidak merugikan), autonomy (kebebasan), dan justice (keadilan). Beneficence berarti bahwa peneliti
18
harus memperhatikan kesejahteraan subjek penelitian dan harus bertindak untuk kebaikan mereka. Non- maleficence berarti bahwa peneliti harus berusaha untuk tidak menimbulkan kerugian atau bahaya bagi subjek penelitian. Autonomy berarti bahwa subjek penelitian harus memiliki kebebasan untuk membuat keputusan mereka sendiri dan harus diberikan informasi yang memadai. Justice berarti bahwa peneliti harus memperlakukan subjek penelitian secara adil dan tidak membedakan mereka berdasarkan karakteristik pribadi.
Etika penelitian kesehatan juga menyangkut prosedur- prosedur yang harus diikuti oleh para peneliti dalam melaksanakan penelitian. Hal ini meliputi mendapatkan persetujuan etis dari komite etik penelitian, mendapatkan persetujuan tertulis dari subjek penelitian, memastikan kerahasiaan data dan informasi subjek penelitian, dan mengevaluasi risiko dan manfaat yang terkait dengan penelitian.
Etika penelitian kesehatan juga membahas masalah- masalah seperti penggunaan sampel manusia, penelitian pada anak-anak atau orang yang tidak dapat memberikan persetujuan mereka, dan penelitian yang melibatkan kelas sosial atau ras yang rentan. Penerapan etika penelitian kesehatan diharapkan dapat meminimalkan risiko dan kerugian bagi subjek penelitian dan memberikan hasil penelitian yang dapat dipercaya dan dapat diterapkan pada pengembangan kesehatan masyarakat.
Dalam kaitannya dengan pengembangan teknologi kesehatan, etika penelitian kesehatan juga menjadi semakin pent g penting. Pengembangan teknologi kesehatan seperti vaksin, obat-obatan, dan terapi genetik harus dilakukan dengan memperhatikan etika penelitian kesehatan. Hal ini meliputi uji klinis yang dilakukan dengan melibatkan manusia sebagai subjek penelitian.
Para peneliti harus memperhatikan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi integritas dan kredibilitas hasil penelitian, seperti bias penelitian, konflik kepentingan, dan kebijakan regulasi.
19
Sebagai tambahan, etika penelitian kesehatan juga mencakup aspek komunikasi dan publikasi hasil penelitian. Para peneliti harus memastikan bahwa hasil penelitian yang diterbitkan dapat dipercaya dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Hal ini meliputi keterbukaan terhadap data dan informasi penelitian, pelaporan hasil penelitian secara jujur dan obyektif, serta menghindari pernyataan atau klaim yang tidak terbukti oleh data.
Dalam konteks penelitian kesehatan global, etika penelitian kesehatan juga menjadi penting karena melibatkan banyak negara dengan perbedaan budaya, bahasa, dan norma etik. Hal ini menuntut para peneliti untuk memahami perbedaan-perbedaan tersebut dan memperhatikan aspek lokal dalam penelitian mereka.
Etika penelitian kesehatan global juga menyangkut pertimbangan tentang pemilihan subjek penelitian, pemerataan manfaat, dan keterlibatan komunitas dalam penelitian.
Dalam rangka menerapkan etika penelitian kesehatan, para peneliti harus memperoleh pelatihan dan sertifikasi etika penelitian kesehatan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa para peneliti memahami prinsip- prinsip etika penelitian kesehatan dan dapat mengaplikasikannya dalam praktik penelitian mereka.
Selain itu, para peneliti juga harus memperhatikan adanya panduan etika penelitian kesehatan yang diterbitkan oleh organisasi-organisasi seperti Dewan Etik Penelitian dan Komite Etik Penelitian. Dalam kesimpulannya, etika penelitian kesehatan merupakan suatu konsep yang penting dalam melaksanakan penelitian kesehatan yang aman, efektif, dan adil. Etika penelitian kesehatan mencakup nilai, prinsip, dan norma yang harus diikuti oleh para peneliti dalam melaksanakan penelitian kesehatan. Penerapan etika penelitian kesehatan memerlukan perhatian terhadap hak asasi manusia, privasi, kerahasiaan, dan perlindungan terhadap risiko atau bahaya. Para peneliti harus memperoleh pelatihan dan sertifikasi etika penelitian kesehatan dan memperhatikan panduan etika penelitian
20
kesehatan yang diterbitkan oleh organisasi-organisasi yang terkait.
Selain prinsip-prinsip etika penelitian kesehatan yang telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa prinsip lain yang dapat menjadi panduan dalam pelaksanaan penelitian kesehatan. Salah satunya adalah prinsip perlakuan yang adil dan menghormati terhadap subjek penelitian, terlepas dari status sosial, jenis kelamin, agama, atau ras mereka. Hal ini penting untuk meminimalkan diskriminasi dalam penelitian dan memastikan bahwa semua subjek penelitian diperlakukan dengan setara dan adil.
Prinsip transparansi dan akuntabilitas juga sangat penting dalam etika penelitian kesehatan. Para peneliti harus terbuka mengenai tujuan dan hasil penelitian serta cara mereka mendapatkan dana dan dukungan untuk penelitian tersebut. Hal ini akan membantu mempromosikan integritas dan kredibilitas hasil penelitian.
Selain itu, prinsip keberlanjutan juga semakin menjadi perhatian dalam etika penelitian kesehatan. Para peneliti harus mempertimbangkan dampak jangka panjang dari penelitian mereka terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Mereka harus mencari cara untuk mengurangi dampak negatif dan mempromosikan manfaat positif dari penelitian tersebut.
Dalam konteks penelitian kesehatan internasional, ada juga prinsip-prinsip etika yang berkaitan dengan penghormatan terhadap kebudayaan dan adat istiadat setempat. Para peneliti harus memahami nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat tempat penelitian dilakukan dan bekerja sama dengan para pemimpin lokal dan komunitas untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan menghormati nilai-nilai setempat.
Dalam melakukan penelitian kesehatan, para peneliti harus memahami dan menerapkan prinsip-prinsip etika penelitian kesehatan dengan baik. Prinsip-prinsip etika ini harus diintegrasikan dalam semua tahap penelitian, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga publikasi
21
hasil penelitian. Hal ini akan membantu memastikan bahwa penelitian kesehatan dilakukan dengan cara yang etis dan berkelanjutan serta menghasilkan manfaat bagi subjek penelitian dan masyarakat luas.
Prinsip–Prinsip Etika Penelitian Kesehatan
Etika penelitian kesehatan adalah seperangkat prinsip dan nilai yang harus ditaati oleh para peneliti dalam melakukan penelitian kesehatan. Prinsip-prinsip etika penelitian kesehatan dirancang untuk melindungi hak- hak subjek penelitian, memastikan integritas dan kredibilitas hasil penelitian, dan mempromosikan nilai- nilai etis dalam praktik penelitian.
Beberapa prinsip etika penelitian kesehatan yang paling umum digunakan adalah prinsip otonomi, keadilan, dan tidak-malefikensi. Prinsip otonomi mengacu pada hak individu untuk membuat keputusan yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Dalam konteks penelitian kesehatan, prinsip ini berarti bahwa para subjek penelitian harus diberikan informasi yang cukup mengenai tujuan dan risiko penelitian serta memberikan persetujuan secara sukarela dan tanpa paksaan.
Prinsip keadilan berfokus pada distribusi manfaat dan kerugian yang adil dalam penelitian kesehatan. Hal ini melibatkan pertimbangan tentang siapa yang harus menjadi subjek penelitian dan bagaimana manfaat dan risiko penelitian harus didistribusikan. Prinsip ini menuntut agar para peneliti memperhatikan keseimbangan antara kepentingan kelompok subjek penelitian dan manfaat yang diperoleh dari penelitian tersebut.
Prinsip tidak-malefikensi mengacu pada kewajiban para peneliti untuk meminimalkan risiko dan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh penelitian. Hal ini meliputi perencanaan penelitian yang cermat dan memperhatikan aspek keselamatan, privasi, dan kerahasiaan subjek penelitian.
22
Selain prinsip-prinsip di atas, ada juga prinsip-prinsip lain dalam etika penelitian kesehatan, seperti prinsip verifikasi, integritas, kerahasiaan, dan pengawasan.
Prinsip verifikasi menuntut keabsahan dan keotentikan data penelitian, prinsip integritas menekankan pada kejujuran dan kredibilitas para peneliti, prinsip kerahasiaan menuntut perlindungan privasi dan kerahasiaan subjek penelitian, dan prinsip pengawasan menuntut adanya pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan penelitian.
Penerapan prinsip-prinsip etika penelitian kesehatan tidak hanya bertujuan untuk melindungi subjek penelitian, tetapi juga untuk memastikan bahwa hasil penelitian yang diperoleh dapat dipercaya dan digunakan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan kesehatan masyarakat.
Kode Etik dalam Penelitian Kesehatan
Kode etik dalam penelitian kesehatan adalah seperangkat aturan dan prinsip yang ditetapkan untuk membimbing para peneliti dalam melakukan penelitian yang etis dan berkelanjutan. Kode etik ini dibuat untuk melindungi hak dan kepentingan subjek penelitian, menjaga integritas dan kredibilitas penelitian, serta mempromosikan manfaat bagi masyarakat.
Salah satu kode etik penting dalam penelitian kesehatan adalah prinsip informed consent atau persetujuan yang diberikan dengan penuh kesadaran dan kehendak bebas oleh subjek penelitian. Para peneliti harus menjelaskan dengan jelas tujuan, prosedur, dan manfaat dari penelitian kepada subjek penelitian serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menolak atau menarik diri dari penelitian kapan saja. Hal ini penting untuk melindungi hak-hak subjek penelitian dan memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan etika dan integritas.
Selain prinsip informed consent, ada beberapa prinsip etika penelitian kesehatan lainnya yang harus dipatuhi oleh para peneliti, seperti prinsip non-maleficence atau tidak merugikan, prinsip beneficence atau melakukan
23
kebaikan, prinsip keadilan, prinsip transparansi, dan prinsip perlakuan yang adil. Prinsip non-maleficence menuntut para peneliti untuk meminimalkan risiko dan merugikan subjek penelitian. Sedangkan prinsip beneficence menuntut para peneliti untuk memaksimalkan manfaat dan melakukan kebaikan bagi subjek penelitian.
Prinsip keadilan menuntut bahwa semua subjek penelitian harus diperlakukan dengan setara dan adil, tanpa diskriminasi berdasarkan status sosial, jenis kelamin, ras, atau agama. Sedangkan prinsip transparansi menuntut para peneliti untuk terbuka dan jujur mengenai tujuan dan hasil penelitian serta sumber dana dan dukungan untuk penelitian tersebut. Hal ini akan membantu mempromosikan integritas dan kredibilitas penelitian.
Prinsip perlakuan yang adil menuntut para peneliti untuk menghormati hak-hak dan martabat subjek penelitian serta memperlakukan mereka dengan etika dan rasa hormat. Para peneliti juga harus mempertimbangkan dampak jangka panjang dari penelitian mereka terhadap lingkungan dan masyarakat setempat serta berusaha mengurangi dampak negatif dan mempromosikan manfaat positif dari penelitian tersebut.
Selain itu, kode etik dalam penelitian kesehatan juga mengatur mengenai penggunaan hewan percobaan dan data serta publikasi hasil penelitian. Para peneliti harus mematuhi aturan-aturan dan prinsip etika yang berkaitan dengan hal tersebut untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan cara yang etis dan berkelanjutan serta menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Dalam melakukan penelitian kesehatan, para peneliti harus memahami dan menerapkan kode etik dalam penelitian kesehatan dengan baik. Kode etik ini harus diintegrasikan ke dalam seluruh aspek penelitian kesehatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan hasil penelitian. Selain itu, para peneliti juga harus memastikan bahwa penelitian mereka memenuhi
24
standar etika dan peraturan yang ditetapkan oleh lembaga-lembaga yang berwenang.
Salah satu contoh kode etik dalam penelitian kesehatan adalah Deklarasi Helsinki, yang merupakan sebuah dokumen yang mengatur prinsip etika penelitian pada manusia yang diterbitkan oleh World Medical Association.
Dokumen ini menetapkan beberapa prinsip etika dasar dalam penelitian kesehatan, seperti persetujuan yang diberikan dengan sukarela, tidak adanya tekanan atau paksaan pada subjek penelitian, serta perlindungan hak- hak subjek penelitian.
Selain Deklarasi Helsinki, ada juga beberapa kode etik lainnya yang digunakan dalam penelitian kesehatan, seperti Kode Etik Penelitian Kesehatan Nasional Indonesia, Kode Etik Penelitian Kesehatan Dunia WHO, dan Kode Etik Penelitian Kesehatan Amerika Serikat.
Setiap kode etik memiliki perbedaan dan penekanan pada prinsip etika tertentu, namun tujuan utamanya adalah untuk membimbing para peneliti dalam melakukan penelitian yang etis dan berkelanjutan.
Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi yang cepat, penting bagi para peneliti untuk terus mengikuti perkembangan terbaru dalam etika penelitian kesehatan dan memperbarui pengetahuan mereka tentang kode etik yang berlaku. Dengan mematuhi kode etik yang tepat, para peneliti dapat melindungi hak-hak subjek penelitian, memastikan integritas dan kredibilitas penelitian, serta mempromosikan manfaat bagi masyarakat secara luas.
Dalam melakukan penelitian kesehatan, para peneliti juga harus memperhatikan perspektif budaya dan sosial dari subjek penelitian dan komunitas sekitarnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan menghargai dan mempertimbangkan nilai-nilai lokal, serta meminimalkan risiko negatif dan memaksimalkan manfaat positif dari penelitian tersebut.
Dalam kesimpulannya, kode etik dalam penelitian kesehatan merupakan seperangkat aturan dan prinsip yang sangat penting untuk membimbing para peneliti dalam melakukan penelitian yang etis dan berkelanjutan.
25
Dalam menerapkan kode etik ini, para peneliti harus memastikan bahwa hak-hak dan kepentingan subjek penelitian dilindungi, integritas dan kredibilitas penelitian terjaga, dan manfaat bagi masyarakat tercapai.
Penerapan Kode Etik dalam Penelitian Kesehatan Penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan sangatlah penting untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan cara yang etis dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dalam penerapan kode etik, para peneliti harus memperhatikan beberapa prinsip utama, seperti persetujuan yang diberikan dengan sukarela, perlindungan privasi dan kerahasiaan subjek penelitian, serta penggunaan metode penelitian yang aman dan efektif.
Pertama-tama, persetujuan yang diberikan dengan sukarela adalah prinsip utama dalam penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan. Hal ini berarti bahwa subjek penelitian harus memberikan persetujuan secara sukarela dan tanpa paksaan untuk berpartisipasi dalam penelitian tersebut. Para peneliti juga harus memberikan informasi yang jelas dan lengkap tentang tujuan, metode, dan risiko potensial dari penelitian kepada subjek penelitian, serta memberikan kesempatan bagi subjek penelitian untuk menanyakan pertanyaan sebelum mereka memberikan persetujuan.
Kedua, perlindungan privasi dan kerahasiaan subjek penelitian juga merupakan prinsip penting dalam penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan. Para peneliti harus memastikan bahwa informasi yang dikumpulkan dari subjek penelitian disimpan secara aman dan tidak terungkap kepada pihak yang tidak berwenang. Para peneliti juga harus mempertimbangkan kemungkinan risiko identifikasi subjek penelitian, terutama jika data yang dikumpulkan sangat sensitif.
Ketiga, penggunaan metode penelitian yang aman dan efektif juga sangat penting dalam penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan. Para peneliti harus memastikan bahwa metode yang digunakan dalam
26
penelitian tidak merugikan subjek penelitian dan memenuhi standar etika yang ditetapkan oleh lembaga- lembaga yang berwenang. Selain itu, para peneliti juga harus memastikan bahwa data yang dikumpulkan akurat dan dapat diandalkan, serta tidak digunakan untuk tujuan yang tidak bermanfaat bagi subjek penelitian atau masyarakat secara luas.
Selain ketiga prinsip utama tersebut, penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan juga harus memperhatikan perspektif budaya dan sosial dari subjek penelitian dan komunitas sekitarnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan menghargai dan mempertimbangkan nilai-nilai lokal, serta meminimalkan risiko negatif dan memaksimalkan manfaat positif dari penelitian tersebut.
Dalam kesimpulannya, penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan sangat penting untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan cara yang etis dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Para peneliti harus memperhatikan prinsip utama seperti persetujuan yang diberikan dengan sukarela, perlindungan privasi dan kerahasiaan subjek penelitian, serta penggunaan metode penelitian yang aman dan efektif. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, para peneliti dapat menjamin bahwa penelitian yang mereka lakukan tidak merugikan subjek penelitian dan masyarakat secara luas, serta memberikan manfaat yang positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan.
Penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan juga dapat membantu para peneliti untuk memperoleh dukungan dan kepercayaan dari publik, pemerintah, dan lembaga-lembaga yang berwenang. Hal ini sangat penting untuk mendukung kelangsungan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
Namun, penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan juga memiliki beberapa tantangan. Misalnya, beberapa penelitian mungkin menghadapi masalah dalam mendapatkan persetujuan dari subjek penelitian,
27
terutama jika penelitian tersebut melibatkan subjek yang rentan atau memiliki keterbatasan dalam memberikan persetujuan. Selain itu, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam penelitian kesehatan juga dapat menimbulkan masalah privasi dan keamanan yang harus diatasi dengan hati-hati.
Oleh karena itu, para peneliti harus selalu memperhatikan dan memperbarui pengetahuan mereka tentang kode etik dalam penelitian kesehatan, serta bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti lembaga etika penelitian, komite etik, dan pihak-pihak yang berwenang dalam bidang kesehatan dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, para peneliti dapat memastikan bahwa penelitian yang mereka lakukan dilakukan dengan cara yang etis, aman, dan bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat.
Dalam kesimpulannya, penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan sangat penting untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan cara yang etis dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Hal ini meliputi persetujuan yang diberikan dengan sukarela, perlindungan privasi dan kerahasiaan subjek penelitian, serta penggunaan metode penelitian yang aman dan efektif. Penerapan kode etik juga harus mempertimbangkan perspektif budaya dan sosial dari subjek penelitian dan komunitas sekitarnya. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, para peneliti dapat menjamin bahwa penelitian yang mereka lakukan tidak merugikan subjek penelitian dan masyarakat secara luas, serta memberikan manfaat yang positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan.
Selain itu, penerapan kode etik juga dapat membantu meningkatkan kualitas penelitian, dengan memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan standar yang tinggi dan metodologi yang tepat. Kode etik juga dapat membantu mengurangi risiko kontaminasi dan kesalahan dalam penelitian, serta mendorong para peneliti untuk melaporkan hasil penelitian mereka secara akurat dan terbuka.
28
Dalam konteks penelitian kesehatan, penerapan kode etik juga dapat membantu dalam pengembangan kebijakan dan peraturan yang terkait dengan kesehatan masyarakat. Hasil penelitian yang dilakukan dengan cara yang etis dan sesuai dengan standar yang ditetapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan kebijakan kesehatan yang lebih baik dan efektif.
Namun, penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan juga harus memperhatikan keterbatasan dan tantangan yang mungkin dihadapi oleh para peneliti. Misalnya, beberapa penelitian mungkin menghadapi masalah dalam mengakses subjek penelitian yang tepat atau memperoleh sampel yang cukup untuk penelitian mereka. Selain itu, beberapa penelitian mungkin juga memerlukan penggunaan teknologi atau peralatan yang mahal atau tidak tersedia di wilayah penelitian, yang dapat menyulitkan para peneliti untuk melaksanakan penelitian mereka dengan cara yang aman dan efektif.
Oleh karena itu, para peneliti perlu memperhatikan keterbatasan dan tantangan ini, dan mengembangkan strategi yang sesuai untuk mengatasi masalah yang muncul. Misalnya, mereka dapat bekerja sama dengan lembaga dan organisasi lokal untuk memperoleh akses yang lebih baik ke subjek penelitian, atau menggunakan metode pengambilan sampel yang lebih efektif dan efisien.
Dalam kesimpulannya, penerapan kode etik dalam penelitian kesehatan sangat penting untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan cara yang etis dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kode etik membantu memastikan persetujuan sukarela dari subjek penelitian, perlindungan privasi dan kerahasiaan subjek penelitian, dan penggunaan metode penelitian yang aman dan efektif. Penerapan kode etik juga dapat membantu meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan kebijakan kesehatan yang lebih baik dan efektif. Namun, para peneliti harus memperhatikan keterbatasan dan tantangan yang mungkin dihadapi dalam penelitian kesehatan, dan mengembangkan strategi yang sesuai untuk mengatasi masalah yang muncul.
29 Daftar Pustaka
Beauchamp, T. L., & Childress, J. F. (2019). Principles of biomedical ethics (8th ed.). New York: Oxford University Press.
Council for International Organizations of Medical Sciences. (2016). International Ethical Guidelines for Health-related Research Involving Humans.
https://cioms.ch/wp-
content/uploads/2017/01/WEB-CIOMS- EthicalGuidelines.pdf
Emanuel, E. J., Wendler, D., & Grady, C. (2000). What makes clinical research ethical? JAMA, 283(20), 2701- 2711.
Institute of Medicine. (2002). Responsible conduct of research. Washington, D.C.: National Academies Press.
Kasim, R., Wulandari, L. P., & Fitria, R. (2020).
Implementasi Kode Etik Penelitian Kesehatan:
Tantangan dan Solusinya. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 5(2), 92-101.
Levy, D. A. (2015). Ethics in Clinical Research. In International Encyclopedia of Public Health (Second Edition) (pp. 395-401). Elsevier.
National Institutes of Health. (2016). Belmont Report:
Ethical Principles and Guidelines for the Protection of Human Subjects of Research. Retrieved from https://www.hhs.gov/ohrp/regulations-and-
policy/belmont-report/index.html
National Institutes of Health. (2018). NIH Policy and Guidelines on the Inclusion of Individuals Across the Lifespan as Participants in Research Involving Human Subjects.
https://grants.nih.gov/grants/guide/notice- files/NOT-OD-18-116.html
30
National Institutes of Health. (2020). Ethical Principles and Guidelines for the Protection of Human Subjects
of Research. Retrieved from https://www.hhs.gov/ohrp/regulations-and-
policy/belmont-report/index.html
Papadimitriou, D. (2018). Ethical issues in health research: a literature review. European Journal of Public Health, 28(suppl_1), cky213-009.
World Health Organization. (2016). Global health ethics:
Key issues. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2016). WHO Ethical and Safety Recommendations for Intervention Research on
Substance Use Disorders.
https://www.who.int/substance_abuse/research_too ls/ethical_recommendations/en/
World Medical Association. (2013). Declaration of Helsinki:
Ethical principles for medical research involving human subjects. JAMA, 310(20), 2191-2194.
World Medical Association. (2013). World Medical Association Declaration of Helsinki: Ethical principles for medical research involving human subjects. JAMA, 310(20), 2191-2194.
https://doi.org/10.1001/jama.2013.281053
31 Profil Penulis Risza Choirunissa
Ketertarikan penulis terhadap ilmu kesehatan dimulai pada tahun 2007 silam. Hal tersebut membuat penulis memilih studi untuk masuk ke D3 Kebidanan, dilanjutkan dengan Sarjana Kebidanan, dan berhasil menyelesaikan Magister Kesehatan Masyarakat di tahun 2014, saat ini penulis sedang melanjutkan studi Doktoral di Doktor Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah, penulis juga sebagai dosen tetap di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional Jakarta.
Penulis memiliki kepakaran dibidang Kesehatan masyarakat, Promosi kesehatan Dan untuk mewujudkan karir sebagai dosen profesional, penulis pun aktif sebagai peneliti dibidang kepakarannya tersebut. Beberapa penelitian yang telah dilakukan didanai oleh internal perguruan tinggi. Selain peneliti, penulis juga aktif menulis jurnal dan buku dengan harapan dapat memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara yang sangat tercinta ini
Email Penulis: [email protected]
32
33
3
MASALAH PENELITIAN KESEHATAN
dr. Agustiawan, MKM, FRSPH Institut Kesehatan Helvetia Medan
Pendahuluan
Riset atau penelitian dilakukan pada dasarnya untuk membuktikan suatu peristiwa, baik itu yang berupa gap yang ada pada penyataan dan teori ataupun untuk melakukan verifikasi terhadap suatu peristiwa. Hal ini menjadikan penelitian sebagai sesuatu yang harus dilakukan dengan metode yang runut agar terjamin validitas, bermanfaat informasi yang diberikan, serta dapat diaplikasikan atau bermanfaat untuk orang yang membaca atau menggunakannya.
Penelitian yang baik tentunya harus memiliki dasar pemikiran yang baik pula. Hal ini dapat dijelaskan atau ditunjukkan oleh masalah yang akan dibahas oleh sang peneliti. Semua peneliti akan membuat rumusan masalah sebelum memulai penelitian apapun (Notoatmodjo, 2005).
Beberapa laporan akademis telah menyoroti pentingnya perumusan masalah dalam penelitian. Hal ini dilakukan agar dapat membantu peneliti untuk menentukan tujuan penilaian, untuk mengidentifikasi hasil kesehatan apa yang akan dievaluasi, dan untuk menentukan jenis evaluasi yang akan dilakukan (Sumantri, 2015).
Secara teori, salah satu Langkah awal yang harus dijalankan ketika ingin memulai penelitian adalah mendefinisikan atau/dan memberikan batasan terhadap masalah penelitian (research problem). “Masalah