Target jumlah undang-undang yang disahkan pada tahun 2012 sebanyak 69 undang-undang, sehingga terdapat selisih 39 undang-undang yang tidak terealisasi. Selain itu, hampir seluruh undang-undang yang disahkan pada tahun 2012 merupakan undang-undang baru yaitu sebanyak 29 undang-undang, sedangkan undang-undang perubahannya hanya satu yaitu undang-undang no. Pada tahun 2012, mayoritas undang-undang yang dibuat merupakan usulan inisiatif DPR, yakni sebanyak 18 undang-undang (60%), sedangkan usulan pemerintah hanya sebanyak 12 undang-undang (40%).
Memang, aspek kuantitatif yang ditandai dengan banyaknya undang-undang yang disahkan tidak serta merta menjamin kinerja legislatif akan meningkat.
Tiga Peraturan Internal DPR: Terobosan yang Berhadapan dengan Kompleksitas
Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyusunan Program Legislasi Nasional (disahkan pada Rapat Paripurna tanggal 30 Maret 2012); Peraturan DPR RI Nomor 2 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyusunan Rancangan Undang-Undang (disahkan dalam Rapat Paripurna tanggal 11 September 2012); Dan. Peraturan DPR RI Nomor 3 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pencabutan RUU (disahkan dalam Rapat Paripurna tanggal 11 September 2012).
Peraturan DPR tentang Tata Cara Penyusunan Program Legislatif (Prolegnas) merupakan penjabaran dari Pasal 21 ayat (5) UU Nomor. Sebagian besar materi dalam Peraturan DPR tentang Tata Cara Penyusunan Program Legislatif Nasional memiliki kesamaan dengan peraturan terkait seperti sebagaimana Undang-Undang Nomor Melalui Peraturan DPR tentang Tata Cara Penyusunan RUU, keberadaan naskah akademik semakin diperkuat dengan serangkaian tahapan antara lain pemeriksaan umum dan batasan waktu yang lebih rinci.
Peraturan DPR tentang tata cara penyusunan rancangan undang-undang tidak memuat persetujuan rancangan undang-undang yang diusulkan dan disiapkan oleh (individu) anggota DPR. Dalam peraturan DPR tentang tata cara penyusunan undang-undang, kemungkinan kunjungan kerja ke luar negeri masih terbuka, sebagaimana diatur dalam Pasal 15(1)(1)(d). Peraturan DPR tentang tata cara penarikan rancangan undang-undang mengatur bahwa rancangan undang-undang tersebut dapat ditarik kembali karena melebihi batas waktu pembahasan setelah perpanjangan (Pasal 4 huruf c).
Evaluasi Laporan Kinerja: Menggeser Praktik Laporan Evaluasi Kinerja Anggota DPR?
Di satu sisi, UU MD3 mengharuskan adanya evaluasi terhadap kinerja anggota partai, yang kemudian dilaporkan ke publik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, namun jika evaluasi kinerja anggota fraksi tidak dilakukan dan hanya mengandalkan laporan kinerja tahunan DPR, maka secara tidak langsung publik justru sedang dimanipulasi secara sistematis. Sulit bagi masyarakat – terutama di daerah pemilihan – untuk mengetahui dan memperoleh informasi yang lengkap dan spesifik mengenai apa yang dilakukan wakilnya di Senayan.
Memang, selain sebagai sarana penyampaian informasi kepada masyarakat – khususnya pemilih, laporan penilaian kinerja anggota DPR merupakan salah satu bentuk pengendalian kualitas fraksi terhadap kinerja anggotanya, mulai dari kedisiplinan hingga kontribusi yang diberikan dalam legislatif, pengawasan. dan kerja anggaran, termasuk perannya, mereka memperjuangkan kepentingan rakyat. Laporan evaluasi kinerja anggota DPR juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi ketidakjelasan makna dan mekanisme representasi yang selama ini cenderung bersifat artifisial dan bersifat sementara. Laporan evaluasi kinerja anggota DPR memudahkan masyarakat melakukan koreksi terhadap apakah kewenangan tersebut telah dijalankan, apakah amanah telah disalahgunakan, atau sebaliknya.
Terkait dengan lintasan fungsi legislasi, laporan kinerja DPR mendokumentasikan tahapan pembentukan undang-undang, mulai dari tahap perencanaan melalui Prolegnas hingga diundangkan, tujuan yang dicapai, dan berbagai faktor yang mempengaruhi proses kinerja. Isi laporan kinerja DPR perlu mendapat catatan kritis karena tidak menyentuh akar permasalahan yang selama ini mengganggu fungsi legislasi. Laporan kinerja hanya menggambarkan berbagai penyebab yang terjadi di tingkat hilir, padahal sebenarnya ada faktornya.
Relasi DPR dan Pemerintah: Masih Berkutat pada Proses Koordinasi yang Pelik?
Meski hubungan DPR dan pemerintah telah dilengkapi sejumlah mekanisme atau prosedur pembentukan undang-undang, namun keduanya masih menghadapi situasi pelik. Dalam artian, hubungan DPR dan pemerintah menemui jalan buntu, yang sebenarnya disebabkan oleh faktor yang sudah lama didiagnosis oleh PSHK, yakni perencanaan legislasi yang bermasalah. Contoh lain yang menunjukkan rumitnya koordinasi antara DPR dan pemerintah adalah ketika seluruh fraksi di DPR sepakat membahas RUU Percepatan Pembangunan Daerah Kepulauan.
Perbedaan posisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai alasan mengapa RUU Percepatan Pembangunan Daerah Kepulauan (atau dengan nama lain RUU Perlakuan Khusus bagi Provinsi Kepulauan dengan nomor urut 152) masih dimasukkan pada saat penyusunan RUU tersebut. Prolegna. Selain fungsi legislasi, bagian ini juga mencakup hubungan DPR dan Pemerintah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan. Ketika fungsi pengawasan dilakukan melalui serangkaian rapat di DPR atau observasi lapangan, kelemahan-kelemahan tersebut ditemukan pada tahap tindak lanjut oleh Pemerintah.
Tidak mengherankan jika dalam rapat-rapat aparat DPR dengan mitra kerja (pemerintah dan lembaga pemerintah nonkementerian) kesimpulan yang disepakati seringkali masih sama; mengulangi perjanjian sebelumnya. Pada tahun ketiga DPR, masa keberadaan Sekretariat Bersama (Setgab) masih mempengaruhi hubungan DPR dan pemerintah. Meski tidak terjadi pada setiap peristiwa atau isu, Setgab selalu menjadi pilihan ketika DPR dan pemerintah menghadapi gangguan komunikasi atau risiko politik lainnya.
Relasi DPR dan DPD: Ubah Strategi Penguatan Kewenangan Sebelum Masuk Tahun Politik Politik
Berbagai kajian dan diskusi kerap dilakukan DPD dan kelompok masyarakat pengamat DPR RI untuk memperjuangkan penguatan kewenangan DPD. Upaya DPD untuk melobi dan terus menjalankan “sisa” kewenangan yang ada, sambil berharap DPR memberikan pintu untuk memperkuat kewenangan DPD, ternyata tidak berhasil. Bahkan, Anggota DPD I Wayan Sudirta menyatakan dalam salah satu kegiatan pembahasan kenegaraan bertajuk "Berbagi Ruang dalam Perundang-undangan" bahwa pada tahun 2012 ada 36 usulan RUU dari DPD yang tidak ditindaklanjuti DPR. 3 Pernyataan tersebut merupakan bentuk kekecewaan sekaligus bukti. Terlihat jelas adanya pola hubungan sumbang antara DPD dan DPR.
Di luar itu, upaya mewujudkan Amandemen Kelima UUD 1945 semakin sulit karena semakin banyak pihak yang berkepentingan yang terlibat. Solusi yang diajukan DPD untuk mengubah UUD 1945 harus diselesaikan terlebih dahulu, baik dari segi isi maupun pemahaman antar pihak yang terlibat. Hal ini penting mengingat isi UUD 1945 tidak hanya menyangkut kewenangan DPD, tetapi juga mengatur hak-hak dasar seluruh warga negara Indonesia.
Selain di bidang legislatif, DPD dan DPR juga saling terhubung ketika melakukan sidang gabungan DPR-DPD. Pertama, Presiden membacakan pidato pembukaan APBN pada Sidang Paripurna Luar Biasa DPR.6 Kedua, Presiden kembali menyampaikan pidato perayaan HUT RI di hadapan Sidang Paripurna DPR.7 Ketiga, Pidato Presiden di hadapan Sidang Paripurna Khusus DPD dengan topik Otonomi Provinsi.8 . Kegiatan sidang gabungan DPR-DPD berlangsung pada tahun 2012, sama seperti tahun-tahun sebelumnya pasca pemberlakuan UU MD3.
Relasi DPR dan MK: Menjaga Independensi
8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD tentang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Revisi undang-undang tersebut merupakan koreksi terhadap kepentingan politik yang mendominasi desain penyelenggaraan pemilu dalam UU Pemilu. Jumlah tersebut tiga kali lipat dari pemotongan anggaran MK yang dilakukan DPR pada tahun sebelumnya sebesar Rp 20 miliar. Salah satu dampak pemotongan anggaran tersebut adalah Mahkamah Konstitusi tidak mendapat alokasi anggaran untuk sosialisasi, publikasi putusan, dan pendidikan ketatanegaraan.
Hasilnya, MK berhasil memulihkan kewenangannya yang coba dibatasi dan dialihkan ke DPR.11 Upaya perebutan kekuasaan terus berlanjut dengan pemotongan anggaran MK. DPR bertugas melakukan pengurangan anggaran untuk menyetujui usulan anggaran yang diajukan kementerian/lembaga. Misalnya, pemotongan anggaran yang dilakukan DPR menghilangkan dana untuk sosialisasi keputusan dan pendidikan ketatanegaraan.
Relasi DPR dan MA: Ancaman Independensi Peradilan
Bisa jadi pemotongan anggaran tersebut merupakan upaya untuk melemahkan kedudukan Mahkamah Konstitusi dalam praktik ketatanegaraan. Salah satu dalil penolakan Panja yang menonjol adalah dugaan adanya upaya Komisi III untuk campur tangan dalam proses hukum yang terjadi di Mahkamah Agung. Salah satu ketentuan khusus tersebut adalah pemberian upaya diversi (penyelesaian perkara di luar sistem peradilan formal) dan waktu penahanan serta kerahasiaan identitas pelaku kejahatan anak.24.
Diketahui, dalam berbagai ketentuan terkait pemidanaan hakim, terdapat berbagai ketentuan pidana dalam undang-undang tersebut, yakni Pasal 96, Pasal 100, dan Pasal 101 UU Peradilan Anak. Sementara itu, salah satu dalil Pemohon (IKAHI) adalah ketentuan undang-undang memberikan tekanan kepada hakim dalam menjalankan fungsi peradilannya dan membatasi kebebasan hakim untuk mengambil keputusan secara adil. Gagasan independensi kekuasaan kehakiman mengacu pada independensi hakim dalam memutus suatu perkara berdasarkan fakta yang ada dan hukum yang berlaku.
Hal ini sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 96, Pasal 100, dan Pasal 101 yang mengatur tentang ketidaktaatan hakim dalam melaksanakan ketentuan acara UU Sistem Peradilan Anak. Namun, terlepas dari argumentasi mengenai proporsionalitas sanksi antara kesalahan yang dilakukan hakim dan ancaman sanksi, produk UU SPA jelas menggambarkan adanya persoalan ancaman terhadap independensi peradilan di Indonesia. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam data PSHK, PDSH secara sadar dan sistematis berusaha mengatasi batas-batas independensi kekuasaan kehakiman.
Relasi DPR dan KPK: Beribu Sekam Terbaring Antara Kuningan-Senayan
Dari segi dinamika, Aziz Syamsudin dari Komisi III DPR menyatakan pihaknya telah mengajukan usulan revisi UU KPK di Baleg pada 4 Juli 2012. Namun, Komisi Revisi UU KPK kembali menyatakan partainya baru menerima usulan revisi tersebut pada rapat paripurna pertama, 13 September 2012. Sebagai pengusul, Komite III menolak membahas revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi dengan alasan bahwa pembahasan telah habis dan kembali kewenangan berdiskusi dengan Baleg.
Misalnya, Honing Sani (FPDIP) yang masih menginginkan agar DPR melakukan revisi undang-undang tersebut agar lebih meningkatkan kualitas KPK dan tidak terjebak dalam perkembangan opini masyarakat.29 Pada akhirnya, Baleg memutuskan mundur. revisi tersebut. Undang-Undang tentang Komite Pemberantasan Korupsi. Perlu diketahui, alasan penarikan usulan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi tidak memenuhi syarat Pasal 3 Peraturan DPR No. Artinya, inisiatif DPR Bale menghentikan rencana revisi UU KPK bisa dianggap sebagai preseden politik.
Usai pembahasan revisi UU KPK, fragmen selanjutnya yang muncul antara KPK dan DPR adalah pembentukan penyidik independen. Rencana revisi Undang-Undang Pemberantasan Korupsi pada Program Legislatif Nasional periode 2009-2014 tidak ditarik oleh DPR dengan alasan penyusunannya dilakukan bersama-sama dengan pemerintah sehingga diperlukan persetujuan kedua belah pihak. Pada akhirnya, meski terdapat perbedaan pendapat, namun dalam penetapan prioritas Prolegnas 2013, pemerintah dan DPR memutuskan bahwa revisi undang-undang pemberantasan korupsi tidak menjadi prioritas pada tahun 2013.
Sejak DPR melakukan proses seleksi pejabat publik yang lebih masif pasca reformasi, banyak sekali data yang tersedia, baik data seleksi pejabat publik pada tingkat konsep hingga proses pemilihan pejabat publik pada tahap pelaksanaan. Telah disebutkan di atas bahwa DPR berwenang melaksanakan seleksi pejabat publik berdasarkan amanat UUD 1945 dan undang-undang yang secara tegas memberikan kewenangan tersebut. Banyak perintah pemilihan pejabat publik yang menjadi kewenangan DPR menggunakan istilah yang berbeda satu sama lain.
Selain itu, belum ada peraturan yang secara khusus menjelaskan konsep seleksi pejabat publik di DPR – termasuk jenis-jenisnya dan cara pelaksanaannya. Sebagai lembaga politik, bukan berarti DPR tidak bisa memiliki standar dalam pelaksanaan seleksi pejabat publik. Pertimbangan politik ideologi tentu menjadi domain masing-masing pihak dalam menilai pejabat publik yang akan dipilih.
Misalnya, apakah keterlambatan dalam proses seleksi pejabat pemerintah merupakan suatu pelanggaran yang dapat dihukum karena seringkali DPR terlambat dalam proses pelaksanaannya. Hal ini membuat tertundanya proses seleksi pejabat di kedua komisi negara tersebut menjadi tanggung jawab DPR dan pemerintah bersama. Jika tidak ada persyaratan, hal ini sama saja “melegalkan” kelalaian pemerintah dan DPR karena terlambat memproses seleksi pejabat pemerintah sesuai waktu yang ditentukan undang-undang.