• Tidak ada hasil yang ditemukan

Catatan koas Radiologi

N/A
N/A
Anik Indarwati

Academic year: 2023

Membagikan "Catatan koas Radiologi"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

radiologi

Randy Richter

(2)

Catatan Koas | Radiologi

 Warna pada CT Scan :

- Hiperdens  lebih putih (perdarahan  trauma atau stroke perdarahan)

- Hipodens  lebih hitam (iskemia atau infark)

 Penggunaan kontras :

- Tanpa kontras  perdarahan dan trauma kepala - Dengan kontras  infeksi dan tumor

 White matter lebih gelap dibanding grey matter pada CT Scan  didominasi oleh akson yang termielinisasi (lipid rich substance)

 Indikasi CT Scan Kepala : - Canadian CT Head Rule - The New Orleans Criteria

 Struktur Kepala (luar ke dalam) :

- SCALP  Skin, Connective tissue, Aponeurosis, Loose areolar tissue, Pericranium

- Osteum  tabula eksterna, diplo, tabula interna - Parenkim  duramater, araknoid, piamater

 Cara membaca CT Scan Kepala (dalam ke luar) :

- Struktur midline  kesimetrisan dan apakah ada midline shift (melihat pada falx cerebri)

- Ventrikel  apakah ada perdarahan atau tidak (hiperdens)

- Parenkim otak  apakah ada infark (hipodens) atau perdarahan (hiperdens)

- Sulcus dan gyrus  sulcus (saluran/got) dan gyrus (tonjolan), normal sulcus hipodens jika ada perdarahan maka hiperdens (SAH)

- Tulang  apakah ada fraktur atau tidak - Soft tissue  misalnya subgaleal hematoma

 Level CT Scan Kepala : - Korteks

- Ventrikel Lateral - Ganglia Basalis

- Mesencephalon / Midbrain - Pons

- Medulla Oblongata

(3)

Canadian CT Head Rule

The New Orleans Criteria

(4)

Falx cerebri

Sinus sagitalis superior

Level Cortex

Lobus frontal

Lobus parietal

Ventrikel Lobus frontal Lobus parietal Lobus oksipital Corpus callosum

Corona radiata

Level Ventrikel Lateral

Ventrikel Lobus frontal Lobus parietal

Lobus temporal Lobus oksipital

Putamen

Level Ganglia

Basalis

(5)

Lobus frontal Lobus temporal

Lobus oksipital Midbrain

Serebelum Sisterna

Level Mesencephalon

Pentagon sisterna basalis

Pons

Lobus frontal

Lobus temporal

Serebelum

Level Pons

Pons

Serebelum

Level Medulla

Oblongata

(6)

Epidural Hematoma

 Lesi hiperdens bikonveks (cembung)

 Lucid interval (periode tidak sadar

 sadar  tidak sadar)

 Perdarahan diantara tabula interna dan duramater

 Robeknya a. meningeal media

 Lebih sering coup

Subdural Hematoma

 Lesi hiperdens bikonkaf /

crescent shape / semilunar shape (bulan sabit)

 Perdarahan diantara duramater dan araknoid

 Robeknya bridging vein

 Lebih sering countercoup

Subarachnoid Hemorrhage

 Lesi hiperdens pada sulcus

 Perdarahan diantara araknoid dan pia mater

 Thunderclap headache

 Stroke hemorrhagik

 Meningeal sign (+)

(7)

Intracerebral Hemorrhage

 Lesi hiperdens pada parenkim otak

 Perdarahan dibawah pia mater

 Stroke hemorrhagik

 Meningeal sign (-)

Intraventricular Hemorrhage

 Lesi hiperdens pada ventrikel

 Perdarahan pada ventrikel

(8)

 Warna pada foto X-ray :

- Radioopaque  lebih putih - Radiolusent  lebih gelap

 Foto thorax :

- Sistem respirasi

- Sistem kardiovaskular (jantung)

 Proyeksi foto :

- Proyeksi PA  sinar datang dari belakang, film di depan pasien (paling baik digunakan)

- Proyeksi AP  sinar datang dari depan, film di belakang pasien (jika pasien tidak bisa duduk, berdiri, sesak napas berat, tidak sadar) - Proyeksi lateral  pasien menghadap kekiri, baru sinar datang dari

samping

 Beda proyeksi PA dan AP :

- PA  clavicula berbentuk seperti huruf Y, ukuran jantung normal- normal saja, perbedaan pada posterior ribs

- AP  clavicula berbentuk seperti huruf T, jantung tampak relatif membesar, perbedaan pada anterior ribs

 Cara membaca foto thorax :

- Pertama  identitas dan marker foto

- Kedua  harus inspirasi cukup  diafragma setinggi thorakal X (costa 9-10 posterior) atau costa 6 anterior memotong diafragma (costa dibelakang)

- Ketiga :

1. Airway  menilai trakea (apakah normal atau deviasi)

2. Bone  menilai fraktur (vertebra, costa anterior dan posterior, skapula dan clavicula)

3. Costophrenic angle  menilai sudut kostofrenikus (normal tajam)

4. Diafragma  menilai diafragma (kanan lebih tinggi 1,5 corpus vertebra dibanding kiri)

5. Edge of heart  menilai jantung 6. Field of lung  menilai paru-paru

7. Gastric bubble  udara dalam lambung 8. Hilum  arteri, vena dan KGB pulmo

9. Instrument  menilai apakah ada selang NGT

(9)

 Menilai paru-paru : - Hitam (radiolusent)

a. Bentuk tidak lubang

 Emfisema  kedua lapang paru lusent

 Pneumothorax  satu sisi lapang paru lusent + trauma b. Bentuk lubang

 Kavitas TB  puncak paru

 Abses  air-fluid level

 Bronkiektasis  honeycomb appearance - Putih (radioopaque)

a. Efusi pleura  pada costophrenic angle + meniscus sign

b. Pneumonia  dalam paru-paru + batas tak jelas + air bronchogram (+)

c. Bronkopneumonia  dalam paru-paru + batas tak jelas + air bronchogram (-)

d. Metastasis  dalam paru-paru + batas jelas + bentuk koin

e. Atelektasis  dalam paru-paru + batas jelas + memenuhi lobus + tanda penarikan

f. Milier TB  dalam paru-paru + batas jelas + bentuk milier (bintik- bintik)

g. Edema paru  dalam paru-paru + batas jelas + bentuk garis + kerley lines atau batwing appearance

h. Tumor paru jinak  dalam paru-paru + batas jelas + tepi reguler i. Tumor paru ganas  dalam paru-paru + batas jelas + tepi ireguler

(10)

 Menilai jantung

- Cardiac Thoracic Ratio (CTR) : a. Proyeksi PA (normal <50%) b. Proyeksi AP (normal <60%) - Segmen arkus aorta :

a. Elongasi (ditarik garis vertikal dari clavicula ke apex aorta, normal <2 cm)

b. Dilatasi (ditarik garis horizontal dari sternum ke apex aorta, normal <4 cm)

- Segmen pulmonal dan arteri pulmonal (normal tidak cekung dan tidak cembung)

- Pinggang jantung  menggambarkan atrium kiri (normal cekung, jika datar  atrium kiri membesar)

- Ventrikel kiri  apex jantung tertanam / grounded  LVH

- Ventrikel kanan  harus dilihat dengan foto lateral untuk melihat pembesaran  apex jantung terangkat / rounded  RVH

- Atrium kanan  normal < 1/3 panjang hemithorax

(11)
(12)

 LAE  gambaran double contour + peninggian bronkus kiri

 RAE  pelebaran batas jantung kanan

 LVH  apex jantung tertanam

 RVH  apex jantung terangkat

CTR =𝑎+𝑏 𝑐

Batwing appearance

Kerley lines

(13)

Honeycomb appearance

Gambaran cincin-cincin lusen hemithorax, corakan bronkovaskuler

kasar

Air-fluid level

Kavitas pada lapangan tengah paru dinding

tebal, tepi regular Dahak sputum 3 lapis

Penarikan trakea

Radioopaque homogen batas tegas, penyempitan sela iga, penarikan trakea di sisi yang sama dengan proses penyakitnya (ipsilateral)

(14)

Meniscus sign

Costophrenic angle tumpul

Tampak perselubungan homogen, jika efusi pleura masif (perdorongan

trakea / kontralateral lesi) Suara napas friction rub (+)

Air bronchogram (+)

Tampak perselubungan/infiltrat homogen, batas tidak tegas

disertai konsolidasi paru Ronkhi basah halus

(15)

Air bronchogram (-)

Bercak infiltrat dengan batas tidak tegas

TB Primer

Pembesaran KGB Hilum

TB tidak aktif / TB post primer

Adanya fibrosis atau kalsifikasi

(16)

TB aktif

Adanya kavitas / bercak berawan

TB aktif

Adanya bercak granuler

TB milier

Millet seed sign

(17)

Gambaran radiolusen seluruh hemithorax

Disertai pelebaran sela iga, diafragma rendah dan jantung

pendulum (teardrop)

Gambaran radiolusen satu sisi hemithorax

Disertai pelebaran sela iga, pendorongan mediastinum dan

avascular pattern

Coin lesion + tepi ireguler

(18)

 Warna pada foto polos abdomen : - Radioopaque  lebih putih - Radiolusent  lebih gelap

 Proyeksi foto : - AP Supine - AP Erect

- LLD (Left Lateral Decubitus)

 Dalam kegawatdaruratan abdomen  dianjurkan foto USG FAST, kalau tidak ada bisa memakai foto polos abdomen

 Cara membaca foto polos abdomen :

- Preperitoneal fat line dan psoas line (jika hilang  curiga peritonitis) - Pola udara saluran cerna (udara normal ada di lambung, usus (2-3

loop, tak ada distensi dan diamter <3 cm) dan rektum) - Udara bebas

- Kalsifikasi - Tulang

(19)

(20)

 Ileus  gangguan pada pasase usus

 Ileus obstruktif  bising usus meningkat + udara pada rektum dan sigmoid (-)

- Obstruksi pada usus halus  gambaran Valvula Coniventes - Obstruksi pada usus besar  gambaran haustra (Valvula Bauhini) - Gambaran berdasarkan proyeksi :

a. AP supine  herring bone appearance + coil spring appearance

b. AP erect atau LLD  step ladder pattern atau air fluid level

 Ileus paralitik  bising usus menurun + udara pada rektum dan sigmoid (+)

- Ileus lokal (sentinel loop)  2-3 pembesaran loop - Ileus generalisata  multipel pembesaran loop

(21)

Single bubble

Dilatasi lambung

(22)

Double bubble

Dilatasi lambung + duodenum

Triple bubble

Dilatasi lambung + duodenum + usus dibawah ligamentum

Treitz

(23)

Distensi dan dilatasi dari usus besar dan usus halus (ada

bagian usus aganglion) Trias  pengeluaran mekonium terlambat (>24

jam), muntah hijau dan distensi abdomen

Sausage shape, dance sign dan air fluid level

BAB berdarah dan berlendir + pemeriksaan abdomen teraba

massa

(24)

Hilangnya preperitoneal fat line dan psoas line Defans muskular (perut seperti

papan)

Coffee bean sign

(25)

 Warna pada foto polos abdomen : - Radioopaque  lebih putih - Radiolusent  lebih gelap

 Pemeriksaan yang sering digunakan  Foto polos abdomen (melihat batu kalsium oksalat  radioopaque)

 Pemeriksaan untuk mengetahui jenis batu yang lain pada sistem urogenital  CT Scan (CT Stonography)  radiolusent (Gold standard)

(26)

Cara membaca USG :

 Hiperekoik  lebih putih

 Hipoekoik  lebih gelap

Nefrolithiasis

Hiperekoik + acoustic shadow

Ada gambaran cortex ginjal

Vesicolithiasis

Hiperekoik + acoustic shadow Ada bentuk seperti

lingkaran

Sistitis

Penebalan dinding vesica urinaria

(27)

 IVP  Foto polos abdomen + kontras (injeksi iodin water-soluable)

 Indikasi  gross hematuria, renal dan ureter calculi, fistula ureter, ISK

 Kontraindikasi : - Absolut  alergi

- Relatif  hipotensi dan kehamilan

 Persiapan puasa 4 jam, pembatasan cairan dan pemberian pencahar

 Dosis media kontras  1 cc/kgBB dengan konsentrasi 350 mg/ml

 Penilaian :

- Nefrogram  menit ke 1-5 (menilai kontur ginjal  hidronefrosis dan fungsi ekskresi)

- Pyelogram  menit ke 5-15 (menilai ureter)

- Cystogram  menit ke 30-45 (menilai vesica urinaria, dinding tidak rata  sistitis, filling defek  vesicolithiasis, filling defek + tepi ireguler  tumor buli)

- Post miksi  sehabis kencing (melihat fungsi pengosongan, normal isi buli <200 cc, jika >200cc  retensio urine)

Hidronefrosis

Radioopaque multipel berbatas tegas di ginjal kanan setinggi lumbal 1-3 

grade II (flattening)

Grade Hidronefrosis : I  tumpul (blunting) II  datar (flattening) III  menonjol (clubbing)

IV  menggembung (balooning)

(28)

 Gold standard  foto X-ray

 Cara membaca muskuloskeletal :

- Alignment  lurus pada sumbu atau tidak (untuk mengetahui apakah ada dislokasi, subluksasi atau fraktur)

- Bone  apakah ada fraktur, infeksi dan tumor

- Cartilage  celah sendi (tulang rawan)  deposit kalsium yang rendah

- Soft tissue

 Syarat foto muskuloskeletal (rule of two) : - 2 view  AP dan lateral

- 2 joint  dua sendi terfoto (distal dan proximal) - 2 side  bandingkan sisi yang sakit dan normal

 Penilaian fraktur :

- Lokasi (tulang kanan/kiri, bagian dari tulang misalnya tibia, bagian diafisis misalnya 1/3 proximal, 1/3 medial, atau 1/3 distal)

- Jenis fraktur

 Komplit  garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui korteks tulang

 Inkomplit  garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang (hairline fracture, buckle fracture, greenstick fracture) - Arah fraktur (transversalis, spiral, oblique, comminuted, segmental) - Alignment dan aposisi

 Displacement  pergeseran  medial/lateral (fragmen distal terhadap proximal)

 Angulasi  membentuk sudut  valgus/varus

 Rotasi  perputaran  interna/eksterna

 Shortening  pemendekan

 Ujung fragmen  overlapping atau distraksi (menjauh)

 Cara interpretasi fraktur  “Fraktur spiral tibia 1/3 proximal tertutup grade II”

(29)

Fraktur Colles

Fraktur os radius bagian distal dengan angulasi atau dislokasi

fragmen distal ke DORSAL

Dinner fork deformity

Fraktur Smith

Fraktur os radius bagian distal dengan angulasi atau dislokasi

fragmen distal ke ANTERIOR

Garden spade deformity

(30)

Fraktur ulna proximal + dislokasi kaput radii pada sendi radioulnar proximal

Fraktur radius distal + dislokasi ulna distal pada

sendi radioulnar distal

(31)

Foto Waters

Menilai sinus maxillaris, arkus zygoma dan os nasal

Foto Schedel AP dan lateral

Menilai sinus frontalis, sfenoid dan ethmoid

Foto Schuller

Menilai mastoiditis dan kolesteatoma

Gambar

Foto Schedel AP  dan lateral
Foto Schuller
Foto Waters

Referensi

Dokumen terkait