Clinical Guideline dan Clinical Governance
Prof. Dr. dr. Herlina Dimiati, Sp. A (K) Nama : dr. Muzzammil
Nim : 2307601090012
Prodi : Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
I. Definisi
Clinical guideline atau pedoman klinis telah menjadi bagian penting dalam praktik kedokteran modern. Clinical guideline didefinisikan sebagai rekomendasi sistematis yang dibuat untuk membantu praktisi kesehatan dan pasien dalam pengambilan keputusan tatalaksana yang sesuai, dengan tujuan meningkatkan kualitas perawatan kesehatan . Perkembangan clinical guideline didorong oleh variasi praktik klinis yang besar di antara dokter dalam menangani kondisi yang sama, sehingga muncul kebutuhan standarisasi berbasis bukti ilmiah terkini.
Pedoman klinis dikembangkan oleh organisasi profesi medis bekerja sama dengan pakar melalui systematic review terhadap literatur terbaru. Rekomendasi yang dihasilkan mencakup diagnosis, terapi, tatalaksana, pencegahan, prognosis, serta indikator mutu layanan kesehatan. Dengan mengadopsi clinical guideline yang telah tervalidasi, diharapkan dokter dapat memberikan perawatan yang lebih efektif dan efisien kepada pasien Meskipun bersifat anjuran, penerapan clinical guideline terbukti mampu menurunkan angka kematian dan komplikasi pasien. 1,2
Clinical governance merupakan framework yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan klinis dan keselamatan pasien di rumah sakit. Clinical governance mencakup sejumlah elemen kunci seperti pendidikan medis berkelanjutan, manajemen risiko klinis, audit klinis, penelitian klinis, serta pemantauan indikator kinerja klinis. Dengan menerapkan clinical governance, rumah sakit dapat memastikan bahwa staf medis memberikan perawatan berkualitas tinggi berdasarkan bukti ilmiah terkini dan terjaga keselamatan pasiennya. 1
Clinical governance dan clinical guideline merupakan dua konsep yang saling terkait dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien. Clinical governance adalah kerangka kerja yang dirancang
untuk mengelola kualitas layanan klinis di fasilitas kesehatan. Sementara clinical guideline merupakan rekomendasi tatalaksana medis berbasis bukti ilmiah yang bertujuan untuk standardisasi praktik klinis. 2,3
II. Hubungan Clinical Guideline dan Clinical Governance
Dalam kerangka clinical governance, dan clinical guideline berperan penting sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan peningkatan mutu dan keselamatan pasien. Clinical guideline memberikan acuan praktik klinis terkini yang dapat dijadikan standar proses perawatan pasien. Penerapan clinical guideline secara konsisten telah terbukti mampu menurunkan risiko kesalahan medis dan mengoptimalkan outcome klinis. Sebaliknya, clinical governance mendorong diseminasi dan implementasi guideline di lingkungan klinis melalui strategi seperti audit dan umpan balik kinerja dokter. 4
Studi menunjukkan rumah sakit dengan clinical governance yang kuat cenderung lebih sukses menerapkan clinical guideline oleh Baker et al., 2010.
Koordinasi yang erat antara program pengembangan guideline dengan mekanisme clinical governance memastikan rekomendasi terbaru benar-benar diadopsi praktik dokter sehari-hari. Dengan demikian kualitas pelayanan meningkat dan risiko pasien berkurang. 2,4
Dalam implementasinya, tantangan yang sering muncul adalah resistensi perubahan perilaku dokter. Beberapa hambatan adopsi clinical guideline antara lain faktor waktu, kurangnya motivasi, serta perbedaan sudut pandang dengan pengembang clinical guideline. Oleh karena itu, rumah sakit perlu menerapkan strategi multidimensi dalam clinical governance untuk memastikan kepatuhan pada clinical guideline, antara lain dengan melibatkan dokter dalam penyusunan clinical guideline, sosialisasi yang efektif, umpan balik kinerja, insentif yang sesuai, hingga pengembangan budaya keselamatan pasien. Koordinasi dan komunikasi yang baik antara berbagai divisi rumah sakit juga diperlukan agar implementasi guideline berjalan optimal. Dengan penerapan clinical governance yang komprehensif, diharapkan rekomendasi dalam clinical guideline dapat diadopsi secara menyeluruh sehingga kualitas pelayanan kesehatan dan outcome pasien meningkat. 1,3
Namun, clinical guideline juga memiliki keterbatasan. Perkembangan ilmu kedokteran yang cepat menyebabkan guideline perlu diperbarui secara berkala.
Selain itu, clinical guideline seringkali bersifat umum sehingga dokter tetap memerlukan pertimbangan klinis individual dalam menerapkan rekomendasi pada pasien tertentu. Oleh karena itu, clinical guideline sebaiknya digunakan sebagai acuan, bukan menggantikan peran penilaian profesional dokter. Dengan penerapan yang bijak, clinical guideline diharapkan dapat menjadi alat mutakhir untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. 5
III. Pelaksanaan Clinical Guideline dan Clinical Governance
Penerapan clinical guideline dalam aktivitas sehari-hari melibatkan penggunaan pedoman klinis untuk memandu praktik klinis sehari-hari. Pedoman ini mencakup langkah-langkah diagnostik, pengobatan, dan tindak lanjut untuk kondisi medis tertentu. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa perawatan pasien didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terbaik dan praktik-praktik terkini.
Penerapan Clinical Guidelines dalam praktik kesehatan dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut: 3,5
a. Pengembangan Guidelines: Guidelines dapat dikembangkan berdasarkan bukti-bukti (evidence-based) dan desain yang sesuai dengan kebutuhan.
b. Diseminasi Guidelines: Setelah pengembangan, guidelines perlu didiseminasikan kepada para praktisi kesehatan melalui metode komunikasi yang aktif.
c. Implementasi Guidelines: Implementasi guidelines di rumah sakit memerlukan kesadaran akan faktor-faktor yang memengaruhi implementasi, seperti budaya, sumber daya, dan informasi.
d. Evaluasi Guidelines: Evaluasi guidelines dilakukan melalui proses seperti diskusi kelompok, kajian eksternal, dan pemaparan laporan untuk memastikan kemampuan implementasi dan penggunaannya untuk masa depan.
Penerapan Clinical Guideline bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, mengurangi biaya, dan memastikan pelayanan yang tepat dalam situasi yang spesifik. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan
bahwa clinical guideline benar-benar terintegrasi dalam praktek kesehatan dan memberikan manfaat yang optimal. 6
Penerapan clinical governance memerlukan kerja sama seluruh jajaran di rumah sakit. Kepemimpinan yang kuat dan budaya keselamatan pasien yang positif sangat penting agar implementasinya berhasil. Dengan clinical governance yang efektif, rumah sakit dapat memberikan perawatan berkualitas tinggi dan menjaga kepercayaan masyarakat. Secara konseptual, adanya 4 komponen utama dari clinical governance antara lain : 1,4
1. High Quality Standard of Care yang mengharuskan bahwa setiap upaya pelayanan kesehatan harus berstandar tinggi secara profesional.
2. Adanya pelayanan kesehatan yang terjamin terhadap mutu pelayanan kesehatan.
3. Accountability yang berarti bahwa tindakan medik harus dapat dipertanggung jawabkan secara etik, ilmiah dan moral yang didasari oleh bukti ilmiah yang terpecaya atau berdasarkan (evidence based medicine).
4. Continuous Quality Improvement yang berarti bahwa setiap pelayanan medik harus dilaksanakan secara komprehensif, tersistematik, dan terus berkesinambungan.
Tujuan akhir dari dari clinical governance adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan agar dapat terselenggara dengan baik berdasarkan standar tinggi serta dikerjakan dalam profesionalitas yang tinggi. Terdapat adanya 3 elemen utama yang berperan dalam strategi peningkatan mutu clinical governance yaitu : 6
1) Standar Kualitas Nasional
2) Sistem-sistem yang secara efektif dapat memantau pelaksanaan kesehatan yang bermutu.
3) Mekanisme yang dapat menjamin agar terselenggara pelayanan medik tinggi melalui proses clinical governance
Implementasi clinical Governance di rumah sakit diharapkan dapat memperhatikan nilai-nilai konsumen dan kinerja klinis Clinical governance merupakan kerangka kerja untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan menjaga
standar perawatan pasien. Komponen penting dari clinical governance adalah clinical effectiveness, yang mencakup audit klinis dan pedoman klinis. 2,4
Penerapan clinical guideline dan clinical governance dalam aktivitas sehari-hari melibatkan penggunaan pedoman klinis dan kerangka kerja organisasional untuk meningkatkan kualitas dan keselamatan perawatan pasien.
Clinical governance mencakup berbagai elemen seperti audit klinis, penerapan kedokteran berbasis bukti, dan upaya medis terbaik untuk hasil pasien yang optimal. Hal ini melibatkan pemantauan dan peningkatan terus-menerus terhadap layanan kesehatan berdasarkan bukti terbaik yang tersedia. Clinical governance juga memastikan adanya sistem untuk memantau dan mengelola risiko klinis serta memastikan akuntabilitas dan transparansi dalam pelayanan kesehatan. 5
Daftar Pustaka
1. Willis, T.A., Hollis, S., & O’Connor, S. (2022). The impact of clinical governance activities on guideline implementation in healthcare organisations: A systematic review. International Journal for Quality in Health Care, 34(3), mzc110.
2. Shaw, J., Shaw, S., Wherton, J., Hughes, G., & Greenhalgh, T. (2021).
Studying scaled-up healthcare interaction work in institutional settings:
The methodological challenges. BMC Health Services Research, 21(1), 1- 12.
3. 3Machingaidze, S., Zani, B., Abrams, A., Durao, S., Louw, Q., Kredo, T.,
& Grimmer, K. (2019). Series: Clinical Epidemiology in South Africa.
Paper 5: Quality and reporting standards of South African primary care clinical practice guidelines. Journal of Clinical Epidemiology, 113, 31-36.
4. Chhina, H.K., Bhole, V.M., Goldsmith, C., & Hall, W. (2019).
Effectiveness of academic detailing to optimize medication prescribing behaviour of family physicians. Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 22(1), 231-251.
5. 5. Shaw, J., Shaw, S., Wherton, J., Hughes, G., & Greenhalgh, T. (2018).
Achieving scale, depth and disruption through telehealth project
evaluation and implementation: The whole systems demonstrator cluster randomised trial. BMC Health Services Research, 18(1), 1-12.
6. Shaw, J., Shaw, S., Wherton, J., Hughes, G., & Greenhalgh, T. (2018).
Studying scale-up and spread as social practice: Theoretical introduction and empirical case study. Journal of Medical Internet Research, 20(7), e10414.