DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK JOURNAL READING FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN JANUARI 2025 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
Increased Incidence of Haemolytic Anaemia in COVID-19 Pandemic Time? A Cross-Sectional Study
Aisyah Ekaputri Sam 70700124044
Pembimbing:
dr. Andi Tihardimanto, Sp.JP
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK PROGRAM PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2025
DATA JURNAL
Judul :Increased Incidence of Haemolytic Anaemia in COVID-19 Pandemic Time? A Cross- Sectional Study
Penulis: Demet Acar, Nazlı Kenan Karakuş, Fatih Cemal Tekin
Tahun : 2024 Jurnal : Via Medica
ABSTRAK
Studi ini meneliti tren peningkatan anemia hemolitik selama masa pandemi COVID-19. Data retrospektif dari 591 pasien yang datang ke IGD dan didiagnosis anemia antara September 2020 – September 2023 dianalisis. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada insiden anemia hemolitik (HA) dibanding anemia kronik (CA) dan anemia karena perdarahan (BLA).
Namun, keterbatasan dalam uji laboratorium membuat etiologi spesifik, seperti autoimun,
belum dapat dipastikan. Studi ini membuka peluang untuk penelitian lanjutan terkait hubungan
antara COVID-19 dan penyakit autoimun.
CRITICAL APPRAISAL 1. Latar Belakang
Anemia adalah kelainan hematologi paling umum di dunia. WHO memperkirakan bahwa sekitar 24,8% populasi global mengidap anemia. Dalam konteks pandemi COVID-19, terdapat bukti yang menunjukkan peningkatan aktivitas autoimun yang menyebabkan lonjakan
diagnosis penyakit seperti anemia hemolitik autoimun (AIHA). Artikel ini penting karena membahas potensi hubungan antara pandemi dan peningkatan insidensi anemia hemolitik, dengan meneliti data pasien IGD selama 3 tahun.
2. Tujuan Penelitian
Menilai apakah terdapat peningkatan insiden anemia hemolitik (HA) selama dan setelah pandemi COVID-19, dibandingkan dengan jenis anemia lainnya yang juga banyak dijumpai di IGD (chronic anemia/CA dan blood loss anemia/BLA).
3. Kelayakan Metodologi
Penelitian ini menggunakan desain retrospektif cross-sectional dengan data dari 591 pasien anemia berusia 18–65 tahun. Populasi dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan etiologi: CA, BLA, dan HA.
• Kriteria eksklusi mencakup pasien usia <18 dan >65 tahun, kehamilan, trauma, kanker, dan data yang tidak lengkap.
• Diagnosis HA tidak dikonfirmasi dengan tes seperti Coombs atau haptoglobin, tetapi melalui peningkatan LDH dan bilirubin tidak langsung.
• Data dianalisis menggunakan ANOVA dan koreksi Welch (karena data tidak homogen), serta uji proporsi tahunan dengan koreksi Holm.
4. Hasil Penelitian
• Peningkatan signifikan jumlah kasus HA, terutama tahun 2022 dan 2023.
• Nilai Hb, Hct, MCH, MCHC, MCV lebih tinggi pada pasien HA dibanding CA dan BLA.
• 100% pasien HA menunjukkan peningkatan LDH dan bilirubin tidak langsung.
• Semua pasien HA adalah kasus baru, yang mengindikasikan kemungkinan besar penyebabnya adalah diperoleh (acquired) bukan herediter.
• Tidak semua pasien diuji COVID-19 secara eksplisit, meskipun periode studi mencakup masa pandemi.
5. Kekuatan Penelitian
• Studi dilakukan pada populasi besar (591 pasien) dengan klasifikasi yang sistematis.
• Desain dan analisis statistik sesuai dengan jenis data dan tujuan studi.
• Periode observasi yang mencakup tiga tahun memungkinkan identifikasi tren yang valid.
• Dapat menjadi dasar pembahasan hubungan COVID-19 dan penyakit autoimun seperti HA.
6. Keterbatasan Penelitian
• Tidak ada uji konfirmasi spesifik untuk HA (Coombs test, retikulosit, haptoglobin).
• Hubungan kausal dengan COVID-19 tidak dapat dibuktikan langsung karena tidak semua pasien dites COVID.
• Studi bersifat retrospektif dan dilakukan di satu rumah sakit saja, membatasi generalisasi hasil.
• Tidak tersedia data pembanding sebelum pandemi (pre-2020) secara eksplisit.
7. Implikasi Klinis
Studi ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan diagnosis HA terutama selama dan setelah pandemi COVID-19. Dokter IGD disarankan untuk mencurigai HA pada pasien dengan anemia dan hasil LDH serta bilirubin tidak langsung yang tinggi. Studi ini juga menekankan perlunya kolaborasi dengan hematologi untuk evaluasi lanjutan.
8. Kesimpulan
Jurnal ini memberikan bukti awal adanya peningkatan anemia hemolitik selama pandemi COVID-19. Meskipun keterbatasan diagnostik melemahkan hubungan sebab-akibat langsung, studi ini tetap bernilai tinggi sebagai indikator awal dan pemicu penelitian prospektif lanjutan mengenai dampak jangka panjang COVID-19 terhadap sistem imun dan hematologi.