• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an Al-Karim Buku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DAFTAR PUSTAKA Al-Qur'an Al-Karim Buku"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an Al-Karim

Buku:

Anggito, Albi dan Johan Setiawan. 2018. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jawa Barat: CV. Jejak.

Aprianto ,Iwan, et al., eds. 2020. Etika dan Konsep Manajemen Bisnis Islam.Yogyakarta: CV. Budi Utama.

Badroen, Faisal, et al., eds. 2015. Etika BIsnis dalam Islam.Jakarta: Prenadamedia Group.

Cahyani, Tinuk Dwi. Hukum Perkawinan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2020.

Fasa, Muhammad Iqbal, et al., eds. 2020. .Eksistensi Bisnis Islam di Era Revolusi Industry 4.0.Bandung: Widina Bhakti Persada Bandung.

Harun. Fiqih Muamalah. Surakarta: Muhammadiyah University Pres, 2017.

Helmy, Muhammad Irfan. Cermin Muslimah. Margomulyo: Maghza Pustaka, 2020.

Huda, Nurul. Ekonomi Makro Islam : Pendekatan Teoritis. Jakarta : Kencana, 2009.

Huda, Qomarul. Fiqih Muamalah. Yogyakarta: Teras, 2011.

Latifah, Eny. Pengantar Bisnis Islam. Jawa Tengah: CV. Sanu Untung, 2020

Latumaresa, Julius R. Perekonomian Indonesia dan Dinamika Ekonomi Global.Jakarta: Mitra Wacana Media, 2015.

Maryati. Modul Pembelajaran Mata Kuliah Kewirausahaan. Cirebon: CV.Syntax Computama, 2020.

Muhammad. Etika Bisnis Islami. Yogyakarta: Akademi Menejemen Perusahaan YKPN, 2004.

Prasetyo, Yoyok. Ekonomi Syariah. Bandung: Aria Mandiri Grup, 2018.

Rahmawati, Fitri dan Syahrul Amar. 2020. Evaluasi pembelajran sejarah. NTB:

Universitas Hamzanwadi Press.

Rangkuti, Freddy. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2016.

(2)

II

Samad, Mukhtar. Etika Bisnis Syariah: Berbisnis Sesuai dengan Moral Islam.

Yogyakarta: Percetakan Sunrise, 2016.

Setiawan, Ketut Okta. Hukum Perdata. Jakarta: Sinar Grafika, 2016.

Soeroso, R. Perjanjian dibawah Tangan. Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Soimin, Soedharjo. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jakarta: Sinar Grafika, 2015.

Sugiarti, Eggi Fajar Andalas dan Arif Setiawan. 2020. Desain Penelitian Kualitatif Sastra. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Supramono, Gatot. Perjanjian Utang-Piutang. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2013.

Syafe’ I, Rachmat. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia, 2001.

Tim Laskar Pelangi. Metodologi Fiqih Muamalah. Aghitsna Publisher, 2020.

Warmansyah, Julio. Metode Penelitian dan Pengelolahan Data.Yogyakarta: CV.

Budi Utama, 2020.

Zamzam, Fakhry dan Havis Aravik. 2020. Etika Bisnis Islam: Seni Berbisnis Keberkahan. Yogyakarta: CV Budi Utama.

Skripsi:

Andriyani,Amelia. 2017. “Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktik Utang Piutang Bersyarat”. Skripsi; Lampung: UIN Raden Intan.

Annisa, Zulfi Wahida. 2019. “Utang Bersyarat dalam Bentuk Pemberian Modal pada Sektor Pertanian Perspektif Etika Bisnis Islam (Studi di Desa Cirebon Kecamatan Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah)”. Skripsi; Jurusan Ekonomi Syariah: Metro.

Enes, Vreda. 2020. “Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktik Utang Piutang antara Nelayan dengan Pengepul”. Skripsi; program studi muamalah: Semarang.

Ilham, Rahmad. 2019. “Utang Bersyarat untuk Modal Usaha Kayu Kulit Manis di Kenagarian Barulak Kec.Tanjung Baru Kab.Tanah Datar Ditinjau dari Fiqih Muamalah”. Skripsi; Jurusan Hukum Ekonomi Islam: Pekanbaru.

(3)

Musakkir. 2019. “Praktik Permodalan Bersyarat di Desa Samaenre Kecematan Mattirosompe Kabupaten Pinrang (Analisi Hukum Islam)”. Skripsi; Program Studi Muamalah: Parepare.

Wafa, Muhammad Nizar Ali. 2018. “Utang Benih Bawang Merah Bersyarat dalam Pandangan Tokoh Agama”. Skripsi; Jurusan Hukum Bisnis Islam: Malang.

Jurnal:

Erni Mahmudah, “Bargaining Position Petani dalam Menghadapi Tengkulak”, Jurnal: Paradigma Volume 02 Nomor 01 Tahun 2014.

Purwanto, Eko dan Hanifah Permatasari.“Sistem Informasi Utang Piutang”. Jurnal;

Vol. 06, No. 1, 2020.

Internet:

KBBI Online.“Utang”.Http://Kkbi.Web.Id/Cari.Html. Diakses 14 Januari 2021

(4)
(5)

III

(6)

IV

L A M

P

I

R

A

N

(7)

V NAMA MAHASISWA :HERNAWATI

NIM :17.2300.025

FAKULTAS :EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

PRODI :PERBANKAN SYARIAH

JUDUL :EVALUASI ETIKA BISNIS ISLAM TERHADAP

PERJANJIAN SIPAKAINDANAN BERSYARAT PADA SEKTOR PERTANIAN DI DESA BASSEANG PINRANG.

PEDOMAN WAWANCARA Wawancara untuk Petani yang Berutang

1. Apakah kegiatan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak/Ibu lakukan sudah berlangsung sejak lama ?

2. Faktor apa yang mendorong Bapak/Ibu untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak/Ibu lakukan ?

4. Bagaimana bentuk perjanjian/kesepakatan yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak/Ibu?

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

Jl. Amal Bakti No. 8 Soreang 91131 Telp. (0421) 21307

VALIDASI INSTRUMEN PENELITIAN PENULISAN SKRIPSI

(8)

VI

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak/Ibu ? apa syaratnya ?

6. Menurut Bapak/Ibu syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

7. Bagaimana cara Bapak/Ibu menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

8. Apa keuntungan yang Bapak/Ibu dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

9. Apa kerugian yang Bapak/Ibu dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak/Ibu gagal panen ? Wawancara untuk Pemodal yang Memberikan Utang

1. Sudah berapa lama Bapak/Ibu menjalankan usaha sebagai pemberi modal kepada petani ?

2. Bagaimana sistem pembayaran yang Bapak/Ibu terapkan, apakah secara tunai atau dengan utang ?

3. Faktor apa yang mendorong Bapak/Ibu untuk melakukan sistem pembayaran secara utang?

4. Bagaimana bentuk perjanjian/kesepakatan yang Bapak/Ibu tawarkan kepada petani ?

5. Apakah dalam pemberian modal yang Bapak/Ibu lakukan ada syarat tertentu ? Apa syaratnya ?

6. Bagaimana cara Bapak/Ibu menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dengan petani yang berutang ?

7. Apa keuntungan yang Bapak/Ibu dapatkan dalam memberikan modal kepada petani?

8. Apa kerugian yang Bapak/Ibu dapatkan dalam memberikan modal kepada petani?

(9)

VII

9. Jika terjadi gagal panen, apa solusi yang Bapak/Ibu berikan kepada petani yang berutang ?

Wawancara untuk Pemerintah Setempat (Kepala Desa)

1. Apakah Bapak mengetahui bahwa praktik sipakaindanan yang terjadi pada petani diberikan syarat ? Apa tindakan dari Bapak selaku pemerintah desa terhadap praktik tersebut ?

2. Bagaimana tanggapan Bapak terkait praktik perjanjian sipakaindanan bersyarat yang terjadi di desa ini ?

3. Apakah ada aturan tersendiri yang dibuat oleh Bapak terkait praktik sipakaindanan tersebut, jika ada apakah aturan tersebut dalam bentuk tulisan atau lisan ?

4. Jika praktik sipakaindanan bersyarat yang terjadi pada petani berdampak buruk, maka apa solusi yang dapat diambil Bapak terhadap petani yang berhutang ? 5. Jika praktik sipakaindanan bersyarat yang terjadi pada petani berdampak baik,

maka apakah Bapak memberikan tindakan yang sifatnya membangun atau tetap pada praktik yang berlaku saat ini ?

Setelah mencermati instrumen dalam penelitian skripsi mahasiswa sesuai dengan judul di atas, maka instrumen tersebut dipandang telah memenuhi kelayakan untuk digunakan dalam penelitian yang bersangkutan.

Parepare, 27 Mei 2021 Mengetahui,

Pembimbing Utama

(Dr. Muhammad Kamal Zubair, M.Ag.) NIP. 19571231 199102 1 004

Pembimbing Pendamping

(Dr. Hj. Marhani, Lc., M.Ag.) NIP. 19761118 200501 1 002

(10)

VIII

HASIL WAWANCARA Petani yang Berutang:

Nama : Muh. Syukur

Alamat : Pasaparang, Desa Basseang Pekerjaan : Petani

1. Apakah Bapak pernah melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat, apakah transaksi yang Bapak lakukan ini sudah berlangsung sejak lama ?

Jawaban: “Ia pernah, Belum lama”.

2. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kebutuhan keluarga”.

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak lakukan?

Jawaban: “Cara pelunasannya yaitu bisa cash jika ada uang, namun jika tidak ada bisa setelah panen, yang sering saya pilih yaitu pelunasan utang setelah panen”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

Jl. Amal Bakti No. 8 Soreang 91131 Telp. (0421) 21307

VALIDASI INSTRUMEN PENELITIAN PENULISAN SKRIPS

(11)

IX

Jawaban: “ Bentuk perjanjian di awal transaksi, saya dan pemodal sama-sama sepakat untuk saling membantu dimana pemodal memberikan saya benih tanaman dan mengurus pemasarannya akan tetapi ada banyak keuntungan lain yang diperoleh si pemodal baik keuntungan dari benih yang saya pinjam juga keuntungan mengangkut hasil panen saya dan memasarkannya. ”.

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

apa syaratnya ?

Jawaban: “ Syarat di awal transaksi tentu ada, tidak mungkin kami selaku petani diberikan pinjaman secara cuma-cuma, syarat yang paling sering diberikan adalah bahwa kami tidak boleh memberikan hasil panen kami kepada pembeli lainnya jika sudah panen, jika itu terjadi maka kami tidak akan diberikan pinjaman untuk kedua kalinya.”.

6. Menurut Bapak syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

Jawaban: “Menurut saya itu memberatkan, karena seharusnya kami bebas memilih kepada siapa kami ingin menjual hasil panen persoalan hutang benih yang kami pinjam bisa kami bayar dikemudian hari”.

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Cara menyelesaikan masalah yang menyebabkan perselisihan yaitu dengan melalui jalur adat namun jika tidak bisa selesai di jalur ini maka akan dibawah ke jalur hukum”.

(12)

X

8. Apa keuntungan yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Keuntungan yang didapatkan tergantung berapa banyak dan luasnya kebun yang ditanami benih jagung, jika sedikit maka ini hanya akan menutupi hutang benih, racun dan pupuk yang dipinjam sehingga terkadang kami mendapatkan kerugi”.

9. Apa kerugian yang Bapak/Ibu dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kerugiannya itu tadi, jika benih yang ditanam sedikit maka hanya cukup untuk membayar hutang benih, racun dan pupuk yang kami pinjam, bahkan terkadang hasil panen tidak cukup untuk membayar utang”.

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak gagal panen ?

Jawaban: “ Jika gagal panen maka utang bisa ditambah untuk pengambilan benih kembali dan dibayar setelah panen, bisa juga dibayar menggunakan hasil dari pertanian lainnya”.

Nama : Nangsar

Alamat : Sudu, Desa Basseang Pekerjaan : Petani

1. Apakah Bapak pernah melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat, apakah transaksi yang Bapak lakukan ini sudah berlangsung sejak lama ?

(13)

XI

Jawaban: “Ia pernah, te’ transaksi maittami dipamulai jio wattunna ma’ dale na totau”.

2. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kurang i to doi jadi iya ramo te jalanna mesa to mongindan”.

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak lakukan?

Jawaban: “Carana baja’ indan tu o iyato assele pole jomai yuma didai i topaindanni tau bibi’na”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

Jawaban: “Ia to kesepakatanki biasanna napaura ko, daina dau sule asselena te’

mutanan dauna tau laen mu dai”.

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

apa syaratnya ?

Jawaban: “ Syara’na tu o iyamo to assele dale njo’ kowadding i didai pangalli laen kedenne peta’dai”.

6. Menurut Bapak syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

Jawaban: “ Keyaku njo kua mabandak i saba’ nabantu tomoi nadai bibi yaku kubantu toi na dengan keuntunganna na ala ke iya kudai sule asselena to kutanan”.

(14)

XII

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Taen laenna inning iyada to lalan cege dijaka biasanna nakua tumatua sipakatau, sipakala’bi iyamo te’ kami caraki selesaikanni to isanga kagajaran, nasaba’ iyake kagajaran di jakaran matalalan gaja e tatta i gaja toi polena”.

8. Apa keuntungan yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Buda sitonganna sa iya damo te e ki putuo to assele pole yumakki, iya toda ki pake passikolah i anakki”.

9. Apa kerugian yang Bapak/Ibu dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kerugianna ke bagi yaku taen deen, canning atinnada to deen doina na baliki berusaha bertani, njo ko deen lainna”.

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak gagal panen ?

Jawaban: “Ia ke gagal panen i tau njo’ ko napassaki baja’ indan, biasanna nakuara ladi apai kegagal i tannia ko ditungga i, kedengan mo doi bajami indanta assala taingaranni”.

(15)

XIII Nama : Musri

Alamat : Kalosi, Desa Basseang Pekerjaan : Petani

1. Apakah Bapak pernah melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat, apakah transaksi yang Bapak lakukan ini sudah berlangsung sejak lama ?

Jawaban: “ Ia pernah, Sudah sejak lama dan ini merupakan transaksi yang paling sering dilakukan oleh semua petani di Desa Basseang”.

2. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Faktor ekonomi keluarga”.

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak lakukan?

Jawaban: “Pelunasan dilakukan setelah panen raya”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

Jawaban: “Perjanjiannya saya akan membayar utang setelah panen dan hasil panen diberikan kepada pemodal”.

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

apa syaratnya ?

Jawaban: “Ada, hasil panen harus dijual kembali ke pemilik modal”.

6. Menurut Bapak syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

(16)

XIV

Jawaban: “Tidak, karena selain sebagai alternatif untuk mencari modal juga sebagai pemasok hasil panen”.

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “ jika terjadi perselisihan maka akan diselesaikan lewat jalur bermusyawarah”.

8. Apa keuntungan yang Bapak/Ibu dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Keuntungan yang diperoleh adalah sebagai solusi cepat untuk modal usaha dan pemenuhan ekonomi keluarga”.

9. Apa kerugian yang Bapak/Ibu dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kerugian itu ketika gagal panen”.

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak gagal panen ? Jawaban: “ Utang harus tetap dibayar ”.

Nama : Agus. T

Alamat : Sudu, Desa Basseang Pekerjaan : Petani

1. Apakah Bapak pernah melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat, apakah transaksi yang Bapak lakukan ini sudah berlangsung sejak lama ?

(17)

XV

Jawaban: “Pernah, Berdasarkan yang saya lakukan itu sudah sekitar 3 tahun berlangsung”.

2. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Faktor modal belum mencukupi dan memudahkan karena tidak dibayar pada saat itu juga”.

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak lakukan?

Jawaban: “Kita ambil barang dulu nanti setelah panen kita bayar”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

Jawaban: “Hasil tani diberikan kepada pemodal”.

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

apa syaratnya ?

Jawaban: “Syarat yang diberikan hanya persoalan hasil tani yang tidak boleh diberikan kepada pembeli lainnya”.

6. Menurut Bapak syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

Jawaban: “Tidak, karena kita saling memahami satu sama lain dan saling membantu, saya diberikan pinjaman bibit untuk mempermudah dalam bertani, pemodal mendapatkan keuntungan dari hasil tani saya juga mendapatkan keuntungan”.

(18)

XVI

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kita membicarakan secara kekeluargaan”.

8. Apa keuntungan yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kita dapat untung cuman disini kita bagi dua di karenakan untuk membayar modal bibit dan sewa pengantaran hasil panen”.

9. Apa kerugian yang Bapak/Ibu dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kerugiannya pada saat musim kemarau dan hasil dari pertanian tidak memuaskan”.

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak gagal panen ?

Jawaban: “Kita disini membuat perjanjian baru untuk membayar modal sedikit demi sedikit dari hasil panen tanaman pokok lainnya”.

Nama : Beni

Alamat : Sudu, Desa Basseang Pekerjaan : Petani

1. Apakah Bapak pernah melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat, apakah transaksi yang Bapak lakukan ini sudah berlangsung sejak lama ?

Jawaban: “Ia pernah, sudah cukup lama kami melakukan transaksi sipakaindanan, dimulai sejak adanya usaha pertanian jagung”.

(19)

XVII

2. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Faktor yang paling mendasar mengapa kami kemudian melakukan transaksi sipakaindanan itu karena kurangnya biaya untuk bertani jagung”.

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak lakukan?

Jawaban: “Cara yang kami lakukan untuk pembayaran transaksi sipakaindanan ini yaitu setiap hasil panen akan diambil pemodal, ia yang akan menjual hasil panen itu dan seluruh modal akan dihitung nantinya dan jika ada sisah dari hasil panen kami itulah yang menjadi milik kami”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

Jawaban: “perjanjian kami adalah bahwa jika gagal panen maka kami akan membayar modal dihasil panen selanjutnya”.

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

apa syaratnya ?

Jawaban: “Tidak ada syarat-syarat tertentu, hanya saja kami harus membayar modal yang diberikan kepada kami setelah panen”.

6. Menurut Bapak syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

(20)

XVIII

Jawaban: “Tidak memberatkan karena setiap permodalan yang diberikan kepada kami itu tidak ada batas waktu pembayarannya dan penekanan bahwa besok kami harus bayar semua modal yang di pinjam”.

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Ketika didalam transaksi sipakaindanan itu terjadi perselisihan maka kami akan bicarakan secara baik-baik bahwa jalur apa yang harus ditempuh untuk menyeselaikan hal tersebut ”.

8. Apa keuntungan yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Keuntungan bagi kami adalah setiap modal yang kami ambil itu tidak memiliki bunga persenan berapapun yang dipinjam”.

9. Apa kerugian yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Menurut saya tidak ada kerugian bagi kami selaku petani yang mengambil modal tersebut karena di sini kami mengambil modal tanpa dibatasi waktu untuk pengembalian modal yang digunakan”.

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak gagal panen ?

Jawaban: “Jika kami gagal panen dipermodalan hari ini maka kami masi memiliki kesempatan untuk membayar utang dipermodalan selanjutnya”.

(21)

XIX Nama : Dacong

Alamat : Sudu, Desa Basseang Pekerjaan : Petani

1. Apakah Bapak pernah melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat, apakah transaksi yang Bapak lakukan ini sudah berlangsung sejak lama ?

Jawaban: “Ia, sudah sejak lama”.

2. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kurang mampu dalam menjalankan kegiatan pertanian”.

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak lakukan?

Jawaban: “Dengan cara dicicil”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

Jawaban: “Bentuk perjanjiannya harus dilunasi sebelum waktu yang telah ditentukan si pemilik modal, waktu yang dimaksud adalah setelah panen”.

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

apa syaratnya ?

Jawaban: “Tidak ada karena yang memberikan modal adalah saudara saya”.

6. Menurut Bapak syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

Jawaban: “Tidak memberatkan”.

(22)

XX

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Dengan cara, kepala dingin atau secara baik-baik”.

8. Apa keuntungan yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Mendapatkan modal dengan mudah tanpa harus melalui bank dan jenis peminjaman lainnya”.

9. Apa kerugian yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Menurut saya tidak ada kerugian dalam transaksi ini ”.

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak gagal panen ?

Jawaban: “Meminta kepada si pemodal tambahan waktu untuk melakukan pembayaran utang ”.

Nama : Takko

Alamat : Buttu Tangnga, Desa Basseang.

Pekerjaan : Petani

1. Apakah Bapak pernah melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat, apakah transaksi yang Bapak lakukan ini sudah berlangsung sejak lama ?

Jawaban: “ Pernah, ia sudah berlangsung sejak lama, ketika memasuki musim tanam para petani mencari pemberi modal untuk berhutang bibit, racun dan pupuk”.

(23)

XXI

2. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “ Kurangnya dana untuk kebutuhan bertani”.

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak lakukan?

Jawaban: “Caranya yaitu setelah panen saya memberikan hasil panen kepada pemodal, selanjutnya pemodal memasarkan hasil panen saya, setelah itu hasil dari pemasaran ini dipotong sesuai dengan berapa banyak utang saya”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

Jawaban: “Pemilik modal memberikan perjanjian bahwa saya harus memberikan hasil panen saya dikemudian hari”.

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

apa syaratnya ?

Jawaban: Ia ada, syaratnya adalah saya harus memberikan kembali hasil panen kepada si pemodal, saya tidak boleh memberikan kepada pembeli lainnya”.

6. Menurut Bapak syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

Jawaban: “Sebenarnya dengan adanya syarat dalam pemberian hutang tersebut bukan suatu paksaan karena syarat tersebut tidak memberatkan petani yang meminjam, menurut saya itu tidak memberatkan dan justru

(24)

XXII

meringankan karena saya tidak perlu mencari pembeli setelah panen”.

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Alhamdulillah, selama saya melakukan transaksi ini belum pernah timbul perselisihan dan kalaupun ini terjadi dikemudian hari maka cara yang akan saya pilih untuk menyelesaikan masalah yaitu lewat jalur kekeluargaan sebab yang memberikan pinjaman modal juga keluarga”.

8. Apa keuntungan yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Keuntungan yang saya dapatkan dan mungkin sebagian besar masyarakat di Desa Basseang ini yaitu bisa mendapatkan modal tanpa bunga atau tambahan dengan mudah”.

9. Apa kerugian yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kerugian yang saya dapatkan yaitu terletak pada benih yang dipinjamkan karena terkadang benih tersebut tidak tumbuh memuaskan, kadang hanya ada beberapa yang tumbuh sehingga saya harus menanam kembali”.

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak gagal panen ?

(25)

XXIII

Jawaban: “Jika gagal panen maka pembayaran utang juga ditunda, karena pemodal juga mengerti bahwa saya tidak punya uang yang cukup untuk membayar utang saya”.

Nama : Ancu

Alamat : Sudu, Desa Basseang Pekerjaan : Petani

1. Apakah Bapak pernah melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat, apakah transaksi yang Bapak lakukan ini sudah berlangsung sejak lama ?

Jawaban: “Pernah, sudah sejak lama”.

2. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Kekurangan modal”.

3. Bagaimana cara pembayaran atau pelunasan transaksi sipakaindanan bersyarat yang Bapak lakukan?

Jawaban: “Dengan cara dibagi dua dalam pembayaran, kadang saya hanya mampu membayar setengah dari utang saya”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

Jawaban: “Secara lisan dan Bersyarat, hasil tani harus diberikan kepada si pemodal”.

5. Apakah ada syarat tertentu yang diberikan oleh pemilik modal kepada Bapak?

apa syaratnya ?

(26)

XXIV

Jawaban: “Ada, syaratnya untuk mengambil bibit atau modal yaitu hasil panen harus diberikan kembali karena itu sebagai jaminan kesepakatan di awal transaksi”.

6. Menurut Bapak syarat yang diberikan oleh pemodal memberatkan atau tidak ? Alasannya ?

Jawaban: “Tidak karena sebagai peminjam, harus tau diri dan syaratnya itukan hanya sebagai jaminan”.

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dalam transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Diselesaikan dengan cara kekeluargaan”.

8. Apa keuntungan yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Menambah modal usaha bertani dan memudahkan dalam peminjaman”.

9. Apa kerugian yang Bapak dapatkan dalam melakukan transaksi sipakaindanan bersyarat tersebut ?

Jawaban: “Rugi jika gagal panen”.

10. Bagaimana sistem pembayaran jika Bapak gagal panen ?

Jawaban: “Biasanya pemodal memahami apa yang terjadi sehingga diberikan keringanan untuk sistem pembayaran bisa bertahap bisa juka melakukan peminjaman modal dua kali dan untuk pembayarannya bisa dilakukan sekaligus”.

(27)

XXV Pemodal/Pemberi Pinjaman

Nama : Rineng

Alamat : Buttu Tangnga, Desa Basseang Pekerjaan : Pemodal

10. Apakah Ibu pemberi modal kepada petani, sudah berapa lama Ibu menjalankan usaha sebagai pemberi modal ?

Jawaban: “Ia, saya menjalankan usaha ini sudah lama”.

11. Bagaimana sistem pembayaran yang Ibu terapkan, apakah secara tunai atau cicil ?

Jawaban: “Bisa dibilang dua-duanya saya terapkan, secara tunai jika petani/peminjam mampu membayar pada saat transaksi diawal dan cicil jika petani/peminjam tidak punya modal yang cukup, namun yang paling sering diterapkan itu sistem pembayaran secara cicil, karena ini memudahkan bagi petani ”.

12. Faktor apa yang mendorong Ibu untuk melakukan sistem pembayaran secara cicil?

Jawaban: “Faktor yang menjadi alasan saya memberikan sistem pembayaran secara cicil yaitu melihat kondisi petani yang kurang mampu dan saya berfikir bahwa dengan memberikan pinjaman akan membantu dan menolong petani”.

13. Bagaimana bentuk perjanjian/kesepakatan yang Ibu tawarkan kepada petani ? Jawaban: “Kesepakatan yang saya tawarkan kepada petani yaitu petani boleh

meminjam modal kepada saya jika hasil taninya diberikan kembali

(28)

XXVI

kepada saya, ini kesepakatan yang digunakan hampir secara keseluruhan oleh pemodal yang ada disini, jadi kami membuat kesepakatan dalam bentuk kerjasama dan saling membantu, saya membantu dengan modal dan petani membantu saya mendapatkan keuntungan dari hasil taninya yang saya pasarkan”.

14. Apakah dalam pemberian modal yang Ibu lakukan ada syarat tertentu ? Apa syaratnya ?

Jawaban: “Ada, syaratnya itu hanya berupa pernyataan bahwa petani harus memberikan hasil taninya kepada saya dan ini juga menjadi jaminan diantara kami”.

15. Bagaimana cara Ibu menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dengan petani yang berutang ?

Jawaban: “Di selesaikan dengan cara baik-baik dan sampai saat ini belum ada kasus perselisihan yang sampai ke jalur hukum semuannya diselesaikan dengan baik”.

16. Apa keuntungan yang Ibu dapatkan dalam memberikan modal kepada petani?

Jawaban: “Keuntungan saya sebenarnya hanya sedikit untuk setiap petani akan tetapi ada banyak yang meminjam dan semakin banyak yang meminjam kepada saya maka keuntungan yang diperoleh juga semakin banyak”.

17. Apa kerugian yang Ibu dapatkan dalam memberikan modal kepada petani?

(29)

XXVII

Jawaban: “Kerugiannya itu kalau petani menunda-nunda pembayarannya padahal mereka sudah menjual hasil panennya dan memiliki cukup uang untuk membayar utang, namun mereka memilih untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti membangun rumah, membeli kendaraan dan sebagainnya. Ada juga petani yang gagal panen, ini mengakibatkan kerugian yang besar kepada saya, karena tidak ada keuntungan yang saya dapatkan ditambah lagi petani pasti melakukan peminjaman benih untuk penanaman selanjutnya, jadi hutangnya bertambah dua kali lipat”.

18. Jika terjadi gagal panen, apa solusi yang Ibu berikan kepada petani yang berutang ?

Jawaban: “Untuk yang gagal panen tentunya saya memberikan keringanan dalam pembayaran utang dimana solusinya, bisa dibayar dengan cicil bisa juga dibayar setengah dan bisa dibayar setelah panen selanjutnya”.

Nama : Hamsa

Alamat : Buttu Tangnga, Desa Basseang Pekerjaan : Pemodal

1. Apakah Bapak pemberi modal kepada petani, sudah berapa lama Bapak menjalankan usaha sebagai pemberi modal ?

Jawaban: “Ia benar saya pemberi modal kepada petani di desa ini, saya menjalankan usaha ini sudah sangat lama”.

(30)

XXVIII

2. Bagaimana sistem pembayaran yang Bapak terapkan, apakah secara tunai atau cicil ?

Jawaban: “Saya menerapkan sistem pembayaran secara tunai ”.

3. Faktor apa yang mendorong Bapak untuk melakukan sistem pembayaran secara tunai?

Jawaban: “Saya melakukan sistem pembayaran secara tunai karena pembayaran utang yang dilakukan oleh petani itu nanti setelah selesai panen, petani berutang kepada saya dan hasil panen diberikan kepada saya dan saya bertugas mengurus pemasarannya setelah semua selesai maka hasilnya dipotong langsung dengan jumlah pinjaman dari petani”.

4. Bagaimana bentuk perjanjian/kesepakatan yang Bapak tawarkan kepada petani ? Jawaban: “Kesepakatan diantara kami secara lisan yaitu utang dibayar setelah

panen dan hasil panen harus diberikan kepada saya sebagai pemodal”.

5. Mengapa hasil tani harus diberikan kepada bapak ?

Jawaban: “Ini sebagai jaminan dalam memberikan pinjaman kepada petani, agar nantinya mereka bertanggujawab untuk melunasi utangnya, ini juga merupakan bentuk kerja sama yang kami lakukan, sebab dari hasil tani yang saya pasarkan juga memberikan keuntunga”.

6. Apakah dalam pemberian modal yang Bapak lakukan ada syarat tertentu ? Apa syaratnya ?

(31)

XXIX

Jawaban: “Tentu ada, syaratnya adalah hasil panen tidak boleh diberikan kepada pemodal lainnya dan pembeli yang masuk untuk meminta hasil panen dikemudian hari”.

7. Bagaimana cara Bapak menyelesaikan permasalahan, apabila timbul perselisihan dengan petani yang berutang ?

Jawaban: “Jika terjadi perselisihan maka kami selesaikan dengan cara baik-baik lewat jalur kekeluargaan, karena yang melakukan transaksi ini tidak lain adalah keluarga, alangkah tidak baiknya jika kami saling menuntut dan menyelesaikan masalah langsung ke jalur hukum, padahal transaksi yang kami lakukan ini tujuannya saling membantu dan menolong satu sama lain”.

8. Apa keuntungan yang Bapak dapatkan dalam memberikan modal kepada petani?

Jawaban: “Dalam memberikan modal kepada petani keuntungan yang saya dapatkan ada pada sewa angkut hasil tani dan pemasarannya, selain itu saya juga mendapatkan keuntungan dari benih, pupuk dan racun yang menjadi utang petani”.

9. Apa kerugian yang Bapak dapatkan dalam memberikan modal kepada petani?

Jawaban: “Dalam memberikan modal kepada petani kerugian yang saya dapatkan itu ketika terjadi gagal panen, karena tentunya petani tidak dapat membayar utangnya dan akan kembali melakukan peminjaman benih, racun dan pupuk lagi”.

(32)

XXX Pemerintah Setempat (Kepala Desa) Nama : Edy

Alamat : Buttu Tangnga

Pekerjaan : Kepala Desa Basseang

6. Apakah Bapak mengetahui bahwa praktik sipakaindanan yang terjadi pada petani diberikan syarat ? Apa tindakan dari Bapak selaku pemerintah masyarakat ?

Jawaban: “Saya selaku pemerintah di desa ini mengetahui praktik tersebut dan mengenai syarat yang diberikan itu saya juga tahu, tindakan yang saya ambil yaitu memberikan dukungan dan membolehkan sebab tidak melanggar hukum juga tidak memaksakan kehendak sepihak, transaksi ini dilakukan atas dasar saling tolong menolong antara petani dan pemodal”.

7. Bagaimana tanggapan Bapak terkait praktik perjanjian sipakaindanan bersyarat yang terjadi di desa ini ?

Jawaban: “Saya sangat apresiasi dan merespon dengan baik apa yang memudahkan untuk pemenuhan kebutuhan warga desa, perlu diketahui bahwa warga yang ada disini hampir semuannya bekerja sebagai petani dan alhamdilillah, hasil tani yang ada di desa ini juga mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Transaksi antara pemodal dan petani saling menguntungkan satu sama lain sehingga petani maju begitu pula dengan pemodal yang bertugas untuk memberikan pinjaman dan memasarkan hasil pertanian warga”.

(33)

XXXI

8. Apakah ada aturan tersendiri yang dibuat oleh Bapak terkait praktik sipakaindanan tersebut, jika ada apakah aturan tersebut dalam bentuk tulisan atau lisan ?

Jawaban: “Tidak ada aturan tersendiri yang dibuat dan tidak ada secara tertulis, akan tetapi aturan secara lisan sering saya berikan dan ingatkan agar tidak terjadi penipuan yang menguntungkan satu pihak saja, antara petani dan pemodal juga harus saling mempercayai satu sama lain untuk kemajuan ekonomi bersama-sama”.

9. Jika praktik sipakaindanan bersyarat yang terjadi pada petani berdampak buruk, maka apa solusi yang dapat diambil selaku pemerintah setempat?

Jawaban: “Jika praktik ini berdampak buruk bagi keduannya maka solusi yang akan saya berikan adalah menghilangkan secara keseluruhan praktik ini, namun sejauh ini praktik yang dilakukan tidak memberikan dampak yang buruk dan justru memberikan banyak dampak positif, jika ada dampak buruk yang merugikan sepihak maka saya yakin bahwa ini bukan sebuah kesengajaan dan kelalaian dari para pihak melainkan karna faktor kondisi alam saja, misalnya petani sudah menanam akan tetapi tiba-tiba hujan tidak turun atau setelah tanaman tumbuh dan hujan terlalu deras maka ini akan merugikan petani dan pemodal karena pemodal juga tidak mendapatkan apa-apa, selanjutnya setelah panen dan hujan terus-menerus turun maka petani sulit untuk menjemur hasil pertaniannya dan pemodal juga sulit mengangkut hasil tani keluar dari desa untuk dipasarkan”.

(34)

XXXII

10. Jika praktik sipakaindanan bersyarat yang terjadi pada petani berdampak baik, maka apakah Bapak memberikan tindakan yang sifatnya membangun atau tetap pada praktik yang berlaku saat ini ?

Jawaban: “Pastinya saya akan memberikan tindakan yang sifatnya membangun untuk kemajuan pendapatan ekonomi warga, untuk sekarang saya masih memberikan dukungan terkait praktik yang berlaku saat ini, bukan berarti bahwa saya tidak ada tindakan membangun, karena saya juga telah membuatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang dalam pelayanannya membantu warga baik itu petani dan pemodal maupun bentuk usaha lainnya yang dilakukan oleh warga”.

(35)

XXXIII

(36)

XXXIV

(37)

XXXV

(38)

XXXVI

(39)

XXXVII

(40)

XXXVIII

(41)

XXXIX

(42)

XL

(43)

XLI

(44)

XLII

(45)

XLIII

(46)

XLIV

(47)

XLV

(48)

XLVI

(49)

XLVII

DOKUMENTASI

Wawancara dengan Bapak Takko Petani Desa Basseang.

Wawancara dengan Bapak Kepala Desa Basseang.

(50)

XLVIII Wawancara dengan Ibu Rineng selaku pemodal.

Wawancara dengan Bapak Muh. Syukur Petani Desa Basseang dan Bapak Hamsa.

(51)

XLIX

Wawancara dengan Bapak Beni, Dacong, Agust. T dan Nangsar Petani Desa Basseang.

(52)

L BIODATA PENULIS

Hernawati lahir di Desa Basseang, Kec. Lembang, Kab.

Pinrang tanggal 08 desember 1999. Merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Kundu dan Ibu Embong.

Penulis mengawali pendidikan di SD Inpres Kalosi (lulus tahun 2011), melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 5 Pinrang (lulus pada tahun 2014), kemudian melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 2 Pinrang (lulus pada tahun 2017). Selanjutnya Penulis diterima sebagai mahasiswa di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Penulis merupakan salah satu penerima beasiswa BIDIKMISI selain itu penulis juga aktif dalam bidang olahraga volley ball dan pernah mengikuti perlombaan antar mahasiswa tingkat Sulawesi selatan dan barat. Penulis pernah aktif dalam beberapa organisasi di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM-REDLINE), Ikatan Mahasiswa Perbankan Syariah Indonesia (IMAPSI), serta aktif dan menjadi sekertaris umum dalam organisasi kedaerahan Kerukunan Mahasiswa Basseang (KAMBAS). Penulis juga merupakan salah satu pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sipakatau di Desa Basseang.

Keaktifan penulis dalam berbagai organisasi tentunya sangat memberikan dampak positif dalam menempuh akademik di dunia kampus, pada akhirnya penulis berhasil menyeselasikan penyusunan skripsi ini dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat khususnya Desa Basseang.

Akhir kata penulis mengucapkan Alhamdulillah, sebagai bentuk rasa syukur atas terselesaikannya skripsi yang berjudul “Evaluasi Etika Bisnis Islam terhadap Perjanjian Sipakaindanan Bersyarat pada Sektor Pertanian di Desa Basseang Pinrang.”

Referensi

Dokumen terkait

An-Nahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat , Bandung: Gema Insani Press, t.th.. An-Nahlawi, Abdurrahman, Prinsip-prinsip dan Metode

Amrullah, Ahmad Iqbal, “Studi Kedudukan Qalb di dalam Belajar Menurut Al- Ghazali”, Skripsi, Pendidikan Agama Islam Istitut Agama Islam Negeri Tulungagung,

Jawab: memberikan motivasi kepada anak sudah pasti agar anak semangat dalam melakukan kegiatan yang baik, member hadiah tidak selalu kami lakukan tetapi ketika anak

Khalid Ibrahim Jindan, Teori Politik Islam, Telaah Kritis Ibnu Taimiyyah tentang Pemerintahan Islam, terj.. Khalid Ibrahim Jindan, Teori Politik Islam, Telaah Kritis Ibnu

Kondisi fisiologis dari benih yang dapat menyebabkan rendahnya vigor adalah kurang masaknya benih pada saat panen dan kemunduran benih selama

“Konsep Isti‟adzah Pada Tafsir Al-Falaq Dan An-Naas Karya Ibn Qayyim Al-Jauziyyah”.. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

Dhermawan, A.A Ngurah Bagus, dkk, “Pengaruh Motivasi, Lingkungan Kerja, Kompetensi, Dan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja Dan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kantor Dinas Pekerjaan Umum

Jawaban: Bank syariah memiliki produk sesuai dengan prinsip syariah, salah satunya yang saat ini saya gunakan adalah produk tabungan wadiah dimana produk ini menghilangkan rasa was-was