PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Pembatas Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
LANDASAN TEORI
Pengertian Poligami
Begitu pula dengan anak, kasih sayang dan perhatian orang lain terutama orang tua sangat diharapkan. Dalam kebiasaan tersebut, anak seringkali mengalami kemerosotan moral karena dalam pergaulannya dengan orang lain dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak wajar. Penelitian bertajuk “Dampak Poligami Terhadap Perkembangan Mental Anak di Seluma Selatan” dilakukan di Kabupaten Seluma Selatan.
Dalam hal ini pendidikan terhadap anak poligami di Kelurahan Seluma Selatan, khususnya anak yang bersekolah, berada dalam kondisi yang baik. Berdasarkan hasil temuan penelitian diketahui jumlah pelaku poligami di Kecamatan Seluma Selatan sebanyak 10 KK. Perkembangan jiwa anak yang orang tuanya berpoligami yang menjadi fokus penelitian ini adalah tentang bagaimana menjalin hubungan dengan kelompok sosial dan perilaku yang digunakannya.
Beberapa anak di Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma yang orang tuanya berpoligami sering menghabiskan waktu bersama orang lain. Pengaruh poligami terhadap perkembangan jiwa anak yaitu : Banyak anak yang orang tuanya berpoligami mempunyai perilaku yang tidak sesuai dengan indikator perkembangan mental anak, sosialisasi masih kurang, cara meminta bantuan orang lain tidak baik. pantas, mereka sering menggunakan kata-kata kasar, belum tahu cara mengendalikan amarahnya dengan baik, sering bertengkar dan melecehkan teman yang tidak mengganggunya. Mengapa anak poligami ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang lain yang dianggap menghibur?
Faktor-Faktor Orang Yang Melakukan Poligami
Indikator Tentang Jiwa Anak
Hukum Poligami Dalam Perundang-Undangan
Batasan Poligami
Batasan poligami ini tampak dalam bentuk penetapan jumlah istri dan larangan berkumpulnya perempuan yang masih berkeluarga, padahal isterinya hanya dua dan adil antar perempuan. Asy-Syaukani mengatakan bahwa surat an-Nisa' [4]:3 berkaitan dengan adat istiadat bangsa Arab sebelum masuknya Islam. Konon, para wali bangsa Arab sebelum masuknya Islam dulunya ingin menikahkan anak yatim piatu.
Namun, mereka tidak memberikan mahar yang sama seperti mahar yang mereka berikan kepada perempuan lain yang bukan anak yatim. Mengulas an-Nisaa' [4]:3, Imam Syafi'i berpendapat bahwa poligami ditujukan pada laki-laki merdeka, bukan budak. Hal ini didasarkan pada ungkapan “jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil, nikahi saja satu orang atau budak yang kamu miliki”. Dalam pandangan Imam Syafi'i, budak hanya dimiliki oleh orang-orang merdeka.
Menurut pendapat para ulama, Imam Syafi'i juga mengatakan bahwa seorang laki-laki boleh beristri hanya empat. Sebab, hal tersebut dianggap bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, yaitu jika seseorang mempunyai istri lebih dari empat, maka hendaknya ia memilih empat istri saja, dan menceraikan yang lainnya. Sebab, seorang laki-laki yang ingin berpoligami harus memenuhi syarat khusus, yakni adanya sikap adil terhadap istrinya.
Kesalehan yang diwajibkan bagi pasangan yang hendak berpoligami antara lain menafkahi, bersosialisasi, muamalah dan tidur malam. Pada hakekatnya ayat tersebut tidak diturunkan menjadi satu kesatuan mengenai poligami, mengingat poligami sudah dikenal dan diamalkan oleh hukum dan adat istiadat agama sebelum ayat tersebut diturunkan. Dalam riwayat Aisyah Ra. disebutkan bahwa surat an-Nisaa' [4]:3 merujuk pada orang yang hendak mengawini anak yatim.
Poligami juga harus ditinjau dari sudut pengaturan hukum dalam berbagai kondisi yang mungkin terjadi. Jadi, surat an-Nisaa' [4]:3 oleh karena itu tidak dapat dipahami sebagai usulan poligami, jika itu merupakan suatu kewajiban. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa meskipun poligami diperbolehkan, namun tetap harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh agama Islam, yang tidak mudah dan tidak semua orang dapat memenuhi syarat-syarat tertentu tersebut.
Perkembangan Jiwa Anak
- Pengertian Perkembangan Psikologi/Jiwa Anak
- Teori Tentang Dampak Poligami Bagi Perkembangan Jiwa Anak
Kecamatan Seluma Selatan didominasi oleh kawasan perkebunan, selebihnya dijadikan kawasan pemukiman warga. Luasnya lahan perkebunan menjadikan warga Kecamatan Seluma Selatan sebagai penghasil padi dan kelapa sawit terbesar di Kabupaten Seluma.
Kerangka Berpikir
METODOLOGI PENELITIAN
- Waktu Dan Tempat Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Keabsahan Data
- Instrumen Penelitian
- Teknik Analisis Data
Seluma Selatan dipilih sebagai subjek penelitian karena merupakan salah satu tempat praktik poligami. Cara pengumpulan datanya dengan melakukan survei langsung ke lokasi penelitian dan melakukan wawancara kepada masyarakat Seluma Selatan. Taman yang begitu hijau menjadi pemandangan indah yang menjadikan Kecamatan Seluma Selatan menjadi kawasan yang sejuk untuk dipandang.
Wawancara dilakukan dengan teknik wawancara tidak terstruktur terhadap 6 (enam) orang informan yang diambil di Seluma Selatan. Perkawinan poligami di Kecamatan Seluma Selatan disebabkan oleh banyak faktor, antara lain faktor kurangnya kesadaran dalam arti menikah dan seringnya perselisihan yang berujung pada poligami.
HASIL PENELITIAN
Profil Kecamatan Seluma Selatan
Kabupaten Seluma merupakan salah satu kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Bengkulu Selatan yang terletak di Provinsi Bengkulu, dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Muko-Muko, Kabupaten Seluma, dan Bupati Kaur di Provinsi Bengkulu. 59'40'54" BT dengan luas wilayah 240.004 Ha, Kabupaten Seluma merupakan kabupaten terluas ketiga di Provinsi Bengkulu. Kabupaten Seluma berbatasan langsung dengan Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan dan Samudera Hindia. Sisi barat dengan Samudera Hindia Proses pengecekan suatu kesimpulan yang telah diambil dan apabila kesimpulan tersebut digunakan maka dapat dilakukan proses pengumpulan data baru dan data tersebut diverifikasi dengan cara membenarkan data yang diperoleh.
Wilayah Administratif Kabupaten Seluma terbagi menjadi 14 kecamatan, 182 desa dan 20 kelurahan dengan jumlah penduduk sebanyak 183.420 jiwa pada tahun 2017. Masyarakat Kabupaten Seluma sangat beragam, terdiri dari berbagai suku, selain suku asli Serawai. Kelompok yang sebagian besar terdiri dari suku Jawa, Bali, Bugis, Batak, dan Padang, hidup berdampingan, berbaur dengan penduduk setempat secara rukun dan damai. Luas wilayah Kecamatan Seluma Selatan dalam penggunaan lahan Luas wilayah Kecamatan Seluma Selatan adalah 118.52221 Km2 terdiri atas :.
Luas Wilayah Kecamatan Seluma Selatan Dalam Tata Guna Lahan
Kondisi Dan Ciri Geologis Wilayah
Demografis/Kependudukan
Pendidikan
Untuk kondisi anak yang bersekolah dan bergabung dengan teman sebayanya, anak tersebut tidak mendapatkan hak seperti anak lainnya, dimana ketika teman-temannya atau orang tua temannya mengetahui bahwa anak tersebut adalah hasil perkawinan poligami, secara tidak langsung orang tuanya . mereka kurang bereaksi atau berubah sebelum mereka mengetahui status anak tersebut, dan mereka juga mulai sedikit menjauhkan diri dari teman sebayanya, karena bagi mereka itu adalah suatu kesalahan, meskipun pada dasarnya tidak ada anak yang ingin dilahirkan dalam keluarga poligami. Sehingga dalam hal ini psikologis anak yang lahir dari perkawinan poligami menjadi terganggu dan merasa kurang nyaman.
Mata Pencarian
Aspek Sosial
Dinamika Politik
Sosial Budaya
Penyajian Hasil Penelitian
Banyak anak yang orang tuanya berpoligami memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan indikator perkembangan mental anak, sosialisasinya masih kurang, cara meminta pertolongan. Anak usia dini masih sangat bergantung pada orang tuanya. Dalam mendidik dan menyikapi anak usia dini, kita harus ekstra sabar dan harus bisa memahami keadaan anak. Sebagai orang tua, seharusnya merekalah yang menjadi pusat perhatian anak, bukan orang lain.
Interpertasi hasil penelitian
- Penyebab Terjadinya Poligami