• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar-Dasar Pendidikan Jasmani Untuk Guru Sekolah Dasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Dasar-Dasar Pendidikan Jasmani Untuk Guru Sekolah Dasar"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

Dilarang mengutip, memperbanyak dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Bening Media Publishing. Buku ini disusun dengan tujuan untuk membantu guru pendidikan jasmani dalam mengajar, khususnya pada saat mengajar anak sekolah dasar. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan buku ini.

  • Pengertian Pendidikan Jasmanii
  • Asas dan Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani
  • Tujuan Pendidikan Jasmani
  • Pendidikan Sekolah Dasar

Yang terpenting tujuan Pendidikan Jasmani tercapai semaksimal mungkin dengan memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada. Secara umum tujuan Pendidikan Jasmani menurut Adang Suherman (dalam Sulaiman, 2016:15) dapat digolongkan menjadi empat kategori, yaitu: 1) Perkembangan Jasmani, 2) Perkembangan Gerak, 3) Perkembangan Mental dan 4) Perkembangan Sosial. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, tujuan pelaksanaan Pendidikan Jasmani adalah untuk meningkatkan kualitas peserta didik dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik.

Gambar 1.1 Kegiatan Anak Sekolah Dasar Dies Natalis Kemenpora RI  (Jakarta,2015)
Gambar 1.1 Kegiatan Anak Sekolah Dasar Dies Natalis Kemenpora RI (Jakarta,2015)

Faktor Pendukung Pembelajaran

Thorndike (1977) berpendapat bahwa “pembelajaran bersifat asosiatif, artinya proses belajar dapat dijelaskan dengan memahami stimulus dan respon”. Proses pembelajaran akan berjalan sesuai dengan yang diinginkan apabila seluruh faktor yang mempengaruhinya dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar, sehingga nantinya berpotensi menghasilkan proses pembelajaran yang optimal. Maknanya adalah “pembelajaran tidak tercapai secara kebetulan, harus diusahakan dengan penuh semangat dan diiringi ketekunan”.

Kesiapan Guru Mengajar Pendidikan Jasmani di Sekolah

Ketika seseorang memikirkan sesuatu, maka dalam proses berpikirnya tidak hanya terdapat aspek intelektual saja, tetapi juga aspek emosional. Begitu pula ketika anak belajar, ia tidak hanya bereaksi terhadap materi pembelajaran secara intelektual, tetapi juga emosional. Dalam proses pembelajaran, guru harus mampu menyampaikan materi dan informasi dengan menggunakan metode yang berbeda-beda, hal ini bertujuan agar setiap siswa dapat menyerap dan memahaminya kemudian menggunakannya bila diperlukan.

  • Konsep Dasar Belajar Gerak
  • Tahapan Gerak
    • Tahap Kognitif
    • Tahap Asosiatif
    • Tahap Otomatis
  • Gerak Dasar Fundamental
    • Gerak Lokomotor
    • Gerak Non Lokomotor
    • Gerak Manipulatif
  • Tujuan Belajar Gerak

Yang kedua menyangkut syarat-syarat yang harus dipenuhi agar keterampilan gerak dapat tercapai dengan baik. Segala jenis keterampilan gerak yang dikuasai dengan baik oleh anak secara alamiah diperoleh melalui tahapan-tahapan tertentu, sehingga gerakan-gerakan tersebut menjadi gerakan-gerakan yang dapat dilakukan secara otomatis. Setelah siswa diberikan informasi tentang apa, mengapa, dan bagaimana melakukan aktivitas gerak yang dipelajari, diharapkan sudah terbentuk rencana motorik dalam benak siswa, yaitu keterampilan intelektual dalam merencanakan cara melakukan keterampilan gerak.

Pada tahap latihan ini siswa diharapkan mampu mempraktekkan apa yang ingin dikuasainya dengan cara mengulanginya sesuai dengan ciri-ciri gerak yang dipelajari. Tanda-tanda keterampilan gerak sudah memasuki tahap otomatis adalah jika siswa dapat melakukan tugas gerak tanpa berpikir ulang apa yang akan dilakukan dan dengan hasil yang baik dan benar. Gerakan lokomotor sering diajarkan kepada anak kecil sebagai bagian dari pelatihan keterampilan motorik.

Setiap orang atau individu dengan sendirinya akan mengalami gerakan-gerakan manipulatif dalam perkembangannya, gerakan-gerakan manipulatif tersebut merupakan bagian dari keterampilan gerak yang kompleks. Keterampilan gerak merupakan wujud kualitas koordinasi dan pengendalian bagian-bagian tubuh yang terlibat dalam gerak. dalam Richard Tinning, 2010:57) mengatakan bahwa: “Pada masa kanak-kanak, perkembangan keterampilan motorik dasar memberikan landasan yang kuat bagi kinerja yang aman dan sukses, menyenangkan dan dinamis. Berdasarkan pendapat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa gerakan manipulatif adalah sebuah keterampilan motorik yang sebagian besar melibatkan lengan dan kaki, namun bagian tubuh lainnya tetap dapat digunakan saat melakukan gerakan tersebut.

Ericsson, Krampe dan Tesch Romer (dalam William Edwards 2010:200) menyimpulkan bahwa “situasi pembelajaran yang paling efektif adalah situasi yang sangat terstruktur dan di mana siswa terlibat dalam aktivitas yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan motorik”.

Gambar 3.1 Keberadaan Pendidikan Jasmani Saat Ini Adalah Dimana Seorang  Pendidik Yang Menginginkan Muridnya Bergerak Sebebas-Bebasnya, Hingga
Gambar 3.1 Keberadaan Pendidikan Jasmani Saat Ini Adalah Dimana Seorang Pendidik Yang Menginginkan Muridnya Bergerak Sebebas-Bebasnya, Hingga
  • Dasar-Dasar Perkembangan Anak
  • Ciri Khas Anak Usia Sekolah Dasar
  • Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar dan
  • Perkembangan Fisik
  • Perkembangan Kepribadian
    • Arti Kepribadian
    • Definisi Kepribadian Menurut Allport
    • Hal-Hal Yang Tetap dalam Kepribadian
  • Perkembangan Motorik Anak
  • Dasar Perkembangan Motorik
    • Pengertian Perkembangan Motorik
    • Perbedaan Perkembangan, Kematangan dan
    • Nilai-Nilai Dalam Perkembangan Motorik
    • Perkembangan Motorik Hubungannya dengan

Perkembangan motorik merupakan perubahan tingkah laku gerak yang menunjukkan adanya interaksi kematangan makhluk dan lingkungannya. Pada manusia, perkembangan motorik merupakan perubahan keterampilan motorik sejak bayi hingga dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan keterampilan gerak. Sebenarnya apa yang kita pelajari dalam perkembangan motorik sebenarnya merupakan sesuatu yang masih kontroversial.

Melalui berbagai upaya, sekelompok ahli perkembangan motorik mengemukakan definisi perkembangan motorik sebagai perubahan perilaku motorik yang mencerminkan interaksi kematangan organisme dan lingkungannya. Definisi tersebut diyakini masih menimbulkan dua pandangan yang berbeda, dimana salah satu kelompok berpendapat bahwa perkembangan motorik lebih memperhatikan gerak yang dihasilkan (produk gerak). Prinsip perkembangan motorik adalah adanya perubahan, baik fisik maupun psikis, sesuai dengan masa pertumbuhannya.

Perkembangan motorik sangat dipengaruhi oleh gizi, status kesehatan dan pola olah raga yang sesuai dengan masa perkembangannya. Jadi pada dasarnya rangkaian perkembangan motorik hingga gerakan terorganisir sangat bergantung pada faktor-faktor seperti kematangan dan integrasi sistem saraf dan muskuloskeletal. Kemampuan anak mencapai tingkat perkembangan motorik yang terkoordinasi sangat ditentukan oleh keadaan dan kemauan individu itu sendiri.

Tujuan perkembangan motorik adalah untuk mengkaji proses gerak melalui tahapan keterampilan motorik, apakah keterampilan motorik yang dimiliki individu sesuai dengan zamannya. Tidak ada seorang pun yang tertarik menulis tentang perkembangan motorik dalam kaitannya dengan perkembangan kognitif kecuali Jean Piaget. Perkembangan kognitif dan perkembangan motorik senantiasa berinteraksi, perkembangan kognitif lebih bergantung pada keterampilan intelektual.

Gambar 4.1 Kedudukan Perkembangan, Kematangan dan Pertumbuhan.
Gambar 4.1 Kedudukan Perkembangan, Kematangan dan Pertumbuhan.
  • Konsep Dasar Bimbingan di Sekolah
  • Layanan Bimbingan di Sekolah Dasar
  • Kesulitan-Kesulitan Dalam Perencanaan Bimbingan
  • Tugas-Tugas Perkembangan Siswa Sekolah Dasar
  • Pola Organisasi Bimbingan di Sekolah

Pertemuan orang tua yang rutin akan bermanfaat bagi perkembangan anak di sekolah dasar. Pengorganisasian dalam orientasi dan konseling adalah kegiatan pengorganisasian atau pengolahan program bimbingan dan konseling sedemikian rupa agar program tersebut berjalan dengan sebaik-baiknya. Penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang baik dan teratur dapat dijadikan sebagai alat untuk menciptakan hubungan dan mekanisme kerja yang efektif.

Bentuk atau model organisasi bimbingan dan konseling dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah serta besar kecilnya isi program. Dengan menerapkan model ini, setiap guru kelas wajib memberikan bimbingan dan nasehat kepada siswanya. Dalam model organisasi di atas, kepala sekolah sebagai koordinator bimbingan bertanggung jawab langsung terhadap program bimbingan dan konseling di sekolahnya.

Dalam menghadapi permasalahan yang memerlukan penanganan terpadu, setiap guru dapat bekerjasama dengan rekan-rekannya di sekolah. Model ini dapat diterapkan dalam kondisi dimana sekolah mampu mengerahkan tenaga khusus (konselor) untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling. Pada grafik di atas terlihat empat SD terdekat yang melaksanakan bimbingan dan konseling sesuai programnya masing-masing.

Pada bagian atas, kepala sekolah merupakan orang tertinggi yang bertanggung jawab dalam memberikan bimbingan dan konseling di sekolahnya.

Gambar 5.1 Penyelenggaraan Pendidikan Dimanapun Tidak Akan Lepas Dari  Layanan Bimbingan
Gambar 5.1 Penyelenggaraan Pendidikan Dimanapun Tidak Akan Lepas Dari Layanan Bimbingan

Karakteristik Peserta Didik Usia Sekolah Dasar

Selain itu juga akan dibahas mengenai dampak tugas perkembangan dan karakteristik anak sekolah dasar terhadap terselenggaranya pendidikan di sekolah dasar. Karakteristik tersebut mengharuskan guru sekolah dasar untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang mencakup permainan, terutama untuk kelas bawah. Dalam menyusun jadwal pelajaran hendaknya ada pergantian antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dan pelajaran yang mengandung unsur bermain, seperti pendidikan jasmani atau seni, budaya, dan keterampilan (SBK).

Ciri lainnya adalah suka bergerak, orang dewasa bisa duduk berjam-jam, sedangkan anak SD paling lama duduk diam sekitar 30 menit. Sifat ini berarti guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak bekerja atau belajar dalam kelompok. Berdasarkan teori-teori psikologi perkembangan yang berkaitan dengan perkembangan kognitif, anak sekolah dasar memasuki tahap operasi konkrit.

Dari apa yang dipelajari di sekolah, anak belajar menghubungkan konsep baru dengan konsep lama. Pada masa ini anak belajar membentuk konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi tubuh, peran gender dan moralitas. Pembelajaran di sekolah dasar cepat dipahami oleh anak jika anak terlibat langsung dalam melakukan atau mempraktekkan apa yang diajarkan guru.

Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Aktivitas Pendidikan Jasmani Bagi Murid Sekolah Dasar

Melempar bola ke sasaran yang telah ditentukan atau melakukan gerakan keseimbangan pada waktu yang telah ditentukan dan seterusnya. Selain kegiatan individu, diperlukan pula kegiatan Pendidikan Jasmani baik secara berkelompok, beregu, atau berpasangan. Hal ini tentunya pernah Anda alami sendiri ketika masih duduk di bangku SD, SMP, atau SMA, seperti pada pertandingan sepak bola, tarik tambang, dan lain sebagainya.

Kegiatan jasmani yang berkaitan dengan gerakan ritmis dapat dilakukan dengan diawali dengan musik berirama tertentu, kemudian siswa diminta menirukan gerakan yang dilakukan guru. Selain itu, siswa juga dapat diberikan kebebasan untuk melakukan gerakan sebebas yang diinginkannya. Agar siswa dapat secara mandiri menciptakan gerakan-gerakan senam, hal ini sama halnya dengan guru menumbuhkan kreativitas pada siswanya.

Guru hendaknya memberikan petunjuk keselamatan anak dengan selalu berguling, dengan dagu menyentuh dada (membungkuk) dan badan selalu pada posisinya. Mainkan dodge ball, round, petak umpet, atau permainan lain yang Anda mainkan saat masih kecil.

Implikasi Karakteristik dan Kebutuhan Anak Sekolah Dasar

Ciri-ciri anak yang lebih besar lainnya adalah suka bergerak, orang dewasa bisa duduk berjam-jam dan anak SD duduk diam tidak lebih dari 30 menit. Dari interaksinya dengan kelompok teman sebaya, anak mempelajari aspek-aspek penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar mengikuti aturan kelompok, belajar setia kepada teman, belajar mandiri dari orang dewasa, belajar bekerja sama, belajar berperilaku yang sesuai. dapat diterima oleh lingkungannya, belajar menerima tanggung jawab, belajar berkompetisi secara sehat dengan orang lain (sportivitas), belajar olah raga dan permainan tim, serta belajar keadilan dan demokrasi. Ciri-ciri anak SD yang keempat adalah suka merasakan atau melakukan/menunjukkan sesuatu secara langsung.

Bagi siswa sekolah dasar, penjelasan guru terhadap materi akan lebih mudah dipahami jika anak melakukannya sendiri, seperti halnya memberikan contoh kepada orang dewasa. Karakteristik anak sekolah dasar, implikasinya terhadap pendidikan juga dapat didasarkan pada kebutuhan siswa. Tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang terjadi selama kurun waktu tertentu dalam kehidupan seseorang dan bila berhasil akan menimbulkan perasaan bahagia dan membawa pada keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas selanjutnya, sedangkan kegagalan dalam tugas-tugas tersebut menimbulkan perasaan tidak bahagia, penolakan oleh masyarakat dan kesulitan dalam mengatasi tugas-tugas selanjutnya.

Tugas-tugas tersebut muncul dari kematangan fisik, lingkungan budaya, keinginan, cita-cita dan kepribadian yang berkembang. Havighurst (l96l:5) mengemukakan dua alasan pentingnya pemahaman konsep tugas perkembangan bagi pendidikan, yaitu: “Pertama, membantu menemukan dan menyatakan proses-proses pendidikan di sekolah. Kajian anak sekolah dasar digunakan sebagai titik tolak dalam menentukan tujuan pendidikan di sekolah dasar, selain itu juga dapat digunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak itu sendiri.

Penulis melanjutkan pendidikannya di SMAN 2 Kisaran dan lulus pada tahun 2009, serta melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) dan lulus pada tahun 2013.

Gambar

Gambar 1.1 Kegiatan Anak Sekolah Dasar Dies Natalis Kemenpora RI  (Jakarta,2015)
Gambar 2.1 Anak Melakukan Kegiatan Olahraga Permainan .
Gambar 3.1 Keberadaan Pendidikan Jasmani Saat Ini Adalah Dimana Seorang  Pendidik Yang Menginginkan Muridnya Bergerak Sebebas-Bebasnya, Hingga
Gambar 3.2 Melompat dalam permainan engklek merupakan salah satu bagian  dari gerakan berpindah tempat atau gerak lokomotor
+5

Referensi

Dokumen terkait

Maka upaya yang harus dilakukan oileih siswa seikoilah dasar deingan peindidikan moiral taupun deingan peindidikan karakteir, kareina peindidikan ini dapat meimbeintuk poiteinsi dasar