REMIDI PETROLOGI
DASAR TATA NAMA PADA BATUAN METAMORF
Disusun Oleh : Mikha Darren Setiawan
21100123140111
LABORATORIUM SUMBER DAYA MINERAL DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
JUNI 2024
REMIDI UAS PETROLOGI
• Bagaimana dasar tata nama tekstur pada batuan metamorf?
➢ Jawab : Dasar penamaan tekstur pada batuan metamorf dapat diidentifikasikan berdasarkan ukuran butir, bentuk kristal individu, ketahanan terhadap proses metamorfisme, dan hubungan antar mineral.
Berikut penjabaran tekstur yang dapat menjadi dasar nama batuan metamorf : 1. Tekstur Berdasarkan Ketahanan Terhadap Proses Metamorfosa
Berdasarkan ketahanan terhadap prose metamorfosa ini tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
a. Relict/Palimset
Tekstur batuan metamorf yang masih menunjukkan sisa tekstur batuan asalnya atau tekstur batuan asalnya nasih tampak pada batuan metamorf tersebut.
Contoh : Blastoporfiritik b. Kristaloblastik
Tekstur batuan metamorf yang terbentuk oleh sebab proses metamorfosa itu sendiri.
Batuan dengan tekstur ini sudah mengalami rekristalisasi sehingga tekstur asalnya tidak tampak. Penamaannya menggunakan akhiran blastik.
Contoh : Porfiroblastik
2. Tekstur Berdasarkan Ukuran Butir
Berdasarkan butirnya tekstur batuan metmorf dapat dibedakan menjadi:
a) Fanerit, bila butiran kristal masih dapat dilihat dengan mata Contoh : Gneiss
b) Afanitit, bila ukuran butir kristal tidak dapat dilihat dengan mata.
Contoh : Slate
3. Tekstur berdasarkan bentuk individu kristal
Bentuk individu kristal pada batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
a) Euhedral, bila kristal dibatasi oleh bidang permukaan bidang kristal itu sendiri.
b) Subhedral, bila kristal dibatasi oleh sebagian bidang permukaannya sendiri dan sebagian oleh bidang permukaan kristal disekitarnya.
c) Anhedral, bila kristal dibatasi seluruhnya oleh bidang permukaan kristal lain disekitarnya.
Berdasarkan bentuk kristal tersebut maka tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
a) Idioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk euhedral.
Contoh : Garnet
b) Xenoblastik/Hypidioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal berbentuk anhedral.
Contoh : Mika
4. Tekstur Berdasarkan Bentuk Mineral
Berdasarkan bentuk mineralnya tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi:
a) Lepidoblastik, apabila mineralnya penyusunnya berbentuk tabular.
Contoh : Klorit
b) Nematoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk prismatic.
Contoh : Hornblende
c) Granoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular, equidimensional, batas mineralnya bersifat sutured (tidak teratur) dan umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
Contoh : Kuarsa
d) Granuloblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular, equidimensional, batas mineralnya bersifat unsutured (lebih teratur) dan umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
Contoh : Feldspar
Selain tekstur yang diatas terdapat beberapa tekstur khusus lainnya diantaranya adalah sebagai berikut:
a) Porfiroblastik, apabila terdapat mineral yang ukurannya lebih besar tersebut sering disebut porphyroblasts.
Contoh : Sekis porfiroblastik garnetiferous
b) Poikloblastik/Sieve texture, tekstur porfiroblastik dengan porphyroblasts tampak melingkupi beberapa kristal yang lebih kecil.
Contoh : Gneiss poikiloblastik granit
c) Mortar teksture, apabila fragmen mineral yang lebih besar terdapat padamassadasar material yang barasal dari kristal yang sama yang terkena pemecahan (crhusing).
Contoh : kataklasit mylonite
d) Decussate texture yaitu tekstur kristaloblastik batuan polimeneralik yang tidak menunjukkan keteraturan orientasi.
Contoh : Andalusite Slate
e) Saccaroidal Texture yaitu tekstur yang kenampakannya seperti gula pasir.
Contoh : Marmer Carrara
f) Homeoblastik Texture Batuan mineral yang hanya terdiri dari satu tekstur saja Contoh : Dolomit
• Beberapa faktor yang dapat memengaruhi tekstur batuan metamorf, antara lain:
a) Komposisi batuan asal: Batuan asal dengan mineral lempeng akan lebih mudah menghasilkan tekstur foliasi, sedangkan batuan asal dengan mineral equidimensional akan lebih mudah menghasilkan tekstur non-foliasi.
b) Kondisi metamorfisme: Tekanan yang tinggi akan menghasilkan tekstur foliasi yang lebih jelas, sedangkan temperatur yang tinggi akan menghasilkan tekstur non-foliasi.
c) Waktu metamorfisme: Semakin lama proses metamorfisme berlangsung, semakin sempurna pula perkembangan tekstur batuan metamorf.
Contoh Penamaan Batuan
Kode Peraga PVI – 15
Warna Abu-abuan kehijauan
Struktur Foliasi
Jenis Struktur Gneiss Tekstur
Derajat Metamorfisme Regional Metamorphism Ukuran Kristal Fanerit
Bentuk Kristal Idioblastik (Euhedral) Hub. Antar Mineral Nematoblastik
Sketsa Peraga
P: 20,4 cm, L: 16,5 cm, T: 5 cm
Nama Batuan Gneiss
Tekstur pada batuan tersbut dapat diketahui dengan mengamati ciri-ciri serta kenampakan pada batuan. Kemudian Struktur dan Tekstur pada batuan dapat diidentifikasikan secara mudah berdasarkan klasifikasi serta dari dasar teori yang ada.