• Tidak ada hasil yang ditemukan

tonggak sejarah lahirnya Orde Baru

N/A
N/A
Mulki Rahman

Academic year: 2024

Membagikan " tonggak sejarah lahirnya Orde Baru"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1. Hari Tritura (Angkatan 66)

Sebelum tahun 1960-an, gerakan mahasiswa cenderung bersifat kedaerahan. Namun di sekitar tahun 1965-1966, gelombang aksi mahasiswa besar-besaran untuk pertama kalinya terjadi di Indonesia. Saat itu, puluhan ribu mahasiswa menggelar demonstrasi. Puncaknya dikenal sebagai Hari Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yang diperingati setiap tanggal 10 Januari.

Momen itu disebut sebagai tonggak sejarah lahirnya Orde Baru. Peringatan ini bermula dari tragedi berdarah Gerakan 30 September 1965 yang mengakibatkan adanya aksi yang diprakarsai oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).

Gerakan Mahasiswa dan pemuda itu turun ke jalan lantaran pemerintahan Orde Lama yang lambat dan tidak tegas terhadap PKI (Partai Komunis Indonesia) yang dianggap sebagai biang kerusuhan pada Gerakan 30 September 1965.

Mahasiswa panik, berlarian dan berhamburan ke sembarang arah. Naasnya, pukul 20.00 WIB dipastikan empat orang mahasiswa tewas tertembak dan satu orang dalam keadaan kritis. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam.

Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.

Mereka tewas tertembak di dalam kampus, terkena peluru tajam di tempat-tempat vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada. Peristiwa penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti ini juga

digambarkan dengan detail dan akurat oleh seorang penulis sastra dan jurnalis, Anggie D. Widowati dalam karyanya berjudul Langit Merah Jakarta.

2. Demo Kenaikan BBM 2012

Tahun 2012 dinilai sebagai demonstrasi besar-besaran yang dilakukan serentak di 33 Propinsi dan 340 Kabupaten atau Kota. Kegiatan ini terkonsentrasi langsung di ibu kota Provinsi, kabupaten dan beberapa aksi dilakukan juga di berbagai kantor kecamatan dan desa.

Sementara dalam catatan Tempo, kepolisian Daerah Metro Jaya memperkirakan jumlah demonstran meningkat dua kali lipat, yang sebelumnya diperkirakan hanya mencapai 4000 orang. Massa terbesar dari gerakan unjuk rasa ini dilingkupi oleh para buruh, petani, nelayan, PKL, Mahasiswa dan

simpatisan dari partai oposisi saat itu PDIP dan Gerindra.

3. Revisi UU KPK

Para mahasiswa di berbagai daerah menggelar unjuk rasa pada Senin, 23 September 2019. Di Jakarta, misalnya, demonstrasi mahasiswa dari sejumlah universitas menolak perubahan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (revisi UU KPK) dan rancangan aturan lain yang dianggap kontroversial di depan Kompleks Parlemen.

4. Aksi Tolak RKUHP

Sejumlah massa dari berbagai kalangan melakukan aksi tolak draf Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) di depan gedung DPR RI pada Senin, 5 Desember 2022. Massa aksi ini terdiri dari buruh, mahasiswa, Greenpeace, Walhi, LBH, serta kelompok pejuang perempuan. Massa membentangkan poster 'Menolak Pengesahan RKUHP' dan menaburkan bunga di depan gedung DPR RI sebagai bentuk penolakan pengesahan draf RKUHP.

(2)

PRO DAN KONTRA RKUHP

Pihak-pihak yang pro dengan RKUHP menilai KUHP baru harus segera disahkan.

KUHP yang ada saat ini dinilai sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu, KUHP yang digunakan sekarang juga dianggap tidak memiliki kepastian hukum.

Hal ini dikarenakan sejak merdeka, pemerintah belum menetapkan terjemahan resmi Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie (WvSNI), nama asli KUHP.

Akibatnya, multitafsir rentan terjadi dikarenakan pemaknaan KUHP yang berbeda-beda

Tak hanya itu, sebagai bangsa yang merdeka, pihak yang pro dengan RKUHP menganggap sudah seharusnya Indonesia memiliki induk peraturan hukum pidana yang dibuat sendiri.

Untuk diketahui, WvSNI merupakan turunan dari Wetboek van Strafrecht (WvS) yang telah diberlakukan di Belanda sejak 1886.

WvSNI diberlakukan di Indonesia sejak 1918. Saat itu, Indonesia yang dijajah Belanda masih bernama Hindia Belanda.

Angin segar KUHP baru muncul saat pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyerahkan RKUHP pada DPR tahun 2012.

DPR periode 2014-2019 kemudian menyepakati draf RKUHP dalam pengambilan keputusan tingkat pertama.

Namun, gelombang protes terhadap sejumlah pasal muncul di masyarakat, termasuk dari para pegiat hukum dan mahasiswa.

Para pihak yang kontra menilai terdapat sejumlah pasal karet di dalam RKUHP. Pasal-pasal ini berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari.

DAMPAK POSITIF & DAMPAK NEGATIF

Konsultasi Nasional Pembaruan KUHP 2022 merupakan forum akademik sejumlah akademisi terhadap substansi dan proses pembahasan RKUHP. Kegiatan itu dilakukan pada 22-23 Juni 2022 silam dengan membahas empat tema fundamental dalam penyusunan RKUHP, yaitu Tujuan Pembaruan RKUHP, Kodifikasi dalam Politik Hukum Pidana Indonesia, Harmonisasi Delik untuk Pembaruan KUHP dan Uji Implementasi RKUHP.

Para akademisi mengingatkan pembuat undang-undang agar penyusunan Rancangan Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (RKUHP) tidak menerapkan dekolonialisasi secara terbatas. Para Akademis menilai dalih yang dipakai pembuat undang-undang untuk mengubah KUHP yang merupakan warisan kolonialisme Belanda itu harus seiring misi demokratisasi hukum di Republik Indonesia saat ini.

Konsultasi Nasional Pembaruan KUHP 2022 itu diselenggarakan kerja sama 10 lembaga perguruan tinggi, seperti di antaranya Pusat Pengembangan Riset Sistem Peradilan Pidana (PERSADA) Universitas Brawijaya, Pusat Studi Kebijakan Kriminal Universitas Padjajaran, dan Departemen Kriminologi FISIP Universitas Indonesia.

Pada panel satu, perwakilan Departemen Kriminologi FISIP UI Dr. Dra. Ni Made Martini, M.Si (Ketua Departemen Kriminologi) memaparkan RKHUP sebagai respon negara terhadap

perkembangan kejahatan di Indonesia pada Rabu (22/6). “RKUHP menjadi bentuk respon negara terhadap perkembangan kejahatan di Indonesia, tentu idealnya di dalam RKUHP itu bisa memberikan

(3)

keadilan, memberikan perlindungan bagi korban dan termasuk juga memberikan perlindungan pada masyarakat,” jelasnya.

Pandangan kriminologi terhadap hukum pidana, melihat bahwa keberadaan hukum pidana sampai saat ini adalah sesuatu yang belum bisa ditiadakan, ”artinya kita masih harus hidup dengan adanya yang mengatur kehidupan kita yaitu melalui hukum pidana. Kalau kita melihat perkembangan terakhir memang banyak kelompok-kelompok yang sudah bicara tenang penghapusan hukum pidana dan penghapusan hukum penjara tetapi kriminolog melihat bahwa sampai saat ini hukum pidana belum bisa ditiadakan,” ujar Ni Made.

Lebih lanjut Ni Made menjelaskan, “ kriminolog tidak menutup mata bahwa disisi lain hukum pidana punya peran penting dalam menciptakan ketidak bahagiaan kehidupan seseorang, seperti kriminalisasi suatu perbuatan, menimbulkan penderitaan dan ketidakadilan bagi masyarakat tertentu seperti orang miskin, kelompok marginal yang lebih rentan di mata hukum dibanding para pelaku kejahatan ‘white collar crime’ serta adanya penyalahgunaan kewenangan dan korupsi. Lalu hukum pidana juga mempunyai kewajiban untuk bisa memulihkan korban.”

Selain itu RKUHP mempunyai dampak bagi kerentanan anak. Mengacu pada sumber Puskapa UI (Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia) tahun 2020, ada sekitar 9.119 anak yang menjalani hukuman penjara sejak tahun 2014 hingga tahun 2019.

Anak yang menjalani hukuman penjara umumnya karena melakukan tindak pidana

penucrian/kejahatan harta benda, narkotika dan kekerasan terhadap anak serta mayoritas anak ditahan ditempat penahanan/penjara orang dewasa. KHUP baru harus memperhatikan kerentanan anak yang berhadapan dengan hukum dan juga penjara tidak akan pernah menjadi tempat yang baik bagi anak.

Di sisi lain kelompok rentan yang muncul dari RKUHP adalah perempuan. Contohnya pasal 467 yang mengenai larangan seorang Ibu melakukan perampasan nyawa terhadap anak yang baru dilahirkan dan Pasal 470-472 tentang Pengguguran Kandungan. Pada pasal 467 tersebut asumsi yang

diskriminatif tersebut berpotensi besar untuk di kriminalkan adalah perempuan.

SEJARAH RKUHP :

Sejak puluhan tahun silam, upaya rekodefikasi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional sebenarnya sudah digagas. Tepatnya, saat digelarnya Seminar Hukum Nasional I di Semarang pada 1963, salah satunya membahas Rancangan KUHP (RKUHP) selain Rancangan KUHAP KUH perdata, KUH dagang. Seminar ini disebut-sebut menjadi titik awal sejarah pembaruan KUHP di Indonesia yang setahun kemudian mulai dirumuskan oleh tim pemerintah.

Sebab, substansi RKUHP yang ada saat ini sebagian masih mengacu hasil seminar tersebut

diantaranya menambahkan ataupun perluasan delik-delik (tindak pidana) kejahatan keamanan negara (kejahatan ideologi); delik ekonomi; hukum adat (living law); delik kesusilaan. Beberapa tahun terakhir, diadopsinya delik korupsi; delik penyebaran kebencian terhadap pemerintah; penghinaan kepala negara (presiden); contempt of court; kualifikasi delik penghinaan; dan beberapa delik yang selama ini tersebar di luar KUHP.

Namun, lebih dari setengah abad lamanya, RKUHP ini tak kunjung rampung dibahas dan disahkan menjadi KUHP nasional. Bila dihitung periode kepemimpinan presiden, berarti sudah tujuh presiden berganti. Kalau dilihat berapa banyak menteri hukum dan HAM (dulu menteri kehakiman), kira-kira sudah ada 13 kali pergantian menteri. Bahkan, tim penyusun yang pernah terlibat menyusun RKUHP, sekitar 17 orang telah wafat. Hal ini pernah diungkap Guru Besar Universitas Diponegoro Prof Barda Nawawi Arief pada Maret 2016 lalu.

(4)

Dari 17 anggota tim penyusun yang telah wafat, ada 7 diantaranya guru besar senior bidang hukum, dosen, atau pejabat negara. Seperti, Guru Besar Universitas Diponegoro (alm) Prof Soedarto.

Pengganti (alm) Prof Soedarto yang wafat tahun 1986 yakni Guru Besar Universitas Gadjah Mada (alm) Prof Roeslan Saleh yang juga wafat sekira tahun 1998. Selain itu, mantan Menteri Kehakiman ke-9 Prof Moeljanto dan (alm) Prof Satochid Kartanegara wafat sekira tahun 1971.

Disusul mantan Ketua Mahkamah Agung (alm) Prof Oemar Seno Adji yang wafat sekira tahun 1991.

Selanjutnya, sekira tahun 2007, (alm) Prof Andi Zainal Abidin Farid juga wafat. Kini, nama tim perumus yang masih tersisa, selain Barda sendiri, ada Prof Muladi. Selebihnya, anggota tim penyusun RKHUP yang bergabung belakangan, seperti Pakar Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia (UII Yogyakarta) Prof Mudzakir dan Pakar Hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Jakarta Chairul Huda.

Dalam sebuah kesempatan Simposium Nasional dan Pelatihan Hukum Pidana dan Kriminologi di Banjarmasin, Mei 2016 lalu, Barda sempat bergurau menyebut RKUHP layaknya bayi dalam

kandungan seorang perempuan yang tidak lahir-lahir dan tidak mati-mati. “Janinnya ini sudah terlalu tua,” ujarnya. Catatan Barda, draft RKUHP, sebagai ide dasar/pokok pemikiran para tim penyusun itu, sudah pernah diserahkan ke DPR pada tahun 2013 dan 2015.

Sejak saat itu, pembahasan draft RKUHP mulai intensif dibahas antara Panitia Kerja (Panja) DPR dan tim pemerintah. Berbagai masukan sejumlah elemen masyarakat sudah ditempuh baik melalui media maupun rapat dengar pendapat umum (RDPU). Janji wakil rakyat pernah terlontar untuk segera merampungkan pembahasan RKUHP. Panja DPR yang diketuai Benny K Harman ini pernah

mentargetkan pembahasan RKUHP bakal rampung akhir 2013. Tapi hingga berakhirnya DPR periode 2009-2014, pembahasan RKUHP tak selesai.

Berlanjut DPR periode 2014-2019, Presiden Jokowi mengeluarkan Surat Presiden (Surpres) pada 5 Juni 2015 mengenai kesiapan pemerintah dalam pembahasan RKUHP, yang terdiri dari Buku I dan Buku II dengan jumlah 786 pasal. Saat penyerahan draft RKUHP untuk kedua kali, pemerintah dan DPR sepakat merampungkan pembahasan dalam waktu 2 tahun hingga akhir 2017. Hingga

pertengahan 2016, Panja DPR dan pemerintah telah merampungkan Buku I RKUHP meski ada beberapa pasal pending pembahasannya.

PEMBAHASAN NASIB RKUHP :

atau RUU KUHP memasuki babak baru setelah pemerintah secara resmi menyerahkan draf RKUHP terbaru yang telah disempurnakan kepada Komisi III DPR. Masalahnya, dalam kesimpulan rapat antara Komisi III dengan pemerintah terjadi perdebatan panjang soal menyelesaikan tanpa pembahasan.

“Saya usul, Komisi III sepakat untuk membahas dan menyelesaikan. Jangan menyelesaikan saja.

Kadang kala menyelesaikan tapi gak dibahas. Supaya jangan tiba-tiba ada penyelesaikan tanpa ada pembahasan,” ujar anggota Komisi III dari Fraksi Demokrat, Benny Kabur Harman dalam rapat kerja dengan pemerintah di Komplek Gedung Parlemen, Rabu (6/7/2022).

Semula redaksional kesimpulan rapat pada poin dua menyebutkan, “Komisi III DPR dan pemerintah bersepakat untuk menyelesaikan RUU Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) khususnya terkait dengan 14 isu krusial RUU KUHP sebelum diserahkan ke pembicaraan ke tingkat selanjutnya sesuai dengan mekanisme ketentuan perundang-undangan”

Kami persembahkan untuk Anda produk jurnalisme hukum terbaik. Kami memberi Anda artikel premium yang komprehensif dari sisi praktis maupun akademis, dan diriset secara mendalam.

(5)

Hanya Rp42.000/bulan

Namun Benny khawatir tanpa ada kata “pembahasan” berpotensi terjadinya penyelesaian tanpa lagi ada pembicaraan berupa pembahasan. Alhasil boleh jadi dapat langsung diboyong ke rapat Badan Musyawarah (Bamus) untuk diagendakan rapat paripurna pengambilan tingkat kedua. Tapi kekhawatiran Benny ditampik dari beberapa anggota dewan lainnya.

PEMBAHASAN RKUHP :

Penjelasan 14 Poin Kontroversi RKUHP

Adapun 14 poin hasil sosialisasi RUU tentang KUHP antara lain pertama, penjelasan mengenai The Living Law. Wamenkumham menjelaskan bahwa dalam Pasal 2 yang dimaksud hukum yang hidup dalam masyarakat yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana adalah hukum pidana adat.

Kedua, mengenai pidana mati. Dalam RUU KUHP ini pidana mati ditempatkan paling terakhir dijatuhkan untuk mencegah dilakukannya tindak pidana. Pidana mati yang selalu diancamkan secara alternative dengan pidana penjara dengan waktu tertentu selama 20 tahun dan pidana penjara seumur hidup.

Ketiga, Pasal 218 terkait penyerangan harkat dan martabat presiden dan wakil presiden. Keempat, Pasal 252 terkait dengan tindak pidana dengan memiliki kekuatan ghaib. Tindak pidana tersebut merupakan delik formil, sehingga tak perlu ada akibat yang ditimbulkan dari tindak pidana itu yang dipidana apabila seseorang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan untuk menimbulkan penyakit dan lainnya.

Penjelasan kelima, dokter atau dokter gigi yang melaksanakan pekerjaannya tanpa ijin. Penjelasan keenam mencakup unggas dan ternak yang merusak kebun yang ditaburi benih. Pemerintah

mengusulkan mengubah Pasal 278 dan 279 RKUHP menjadi delik materil. Pasal ini masih diperlukan dalam melinduungi para petani yang berpotensi mengalami kerugian akibat benih atau tanamannya dirusak unggas/ternak milik orang lain.

Keenam, Pasal 281 tentang contemp of court, pemerintah mempertahankan pasal tersebut dengan perubahan pada penjelasan Pasal 281 huruf c, sehingga berbunyi: Yang dimaksud dengan

“dipublikasikan secara langsung” misalnya, live streaming, audio visual tidak diperkenankan.

Kedelapan terkait isu tentang penodaan agama. Kesembilan Penganiayaan hewan. Ke-10 menjelaskan tentang penggelandangan tetap diatur RUU KUHP. Penjelasan ke-11 tentang Aborsi ditambahkan satu ayat yang menyatakan memberikan pengecualian apabila keterdaruratan medis atau korban perkosaan. Ke-12 mencakup perzinahan melanggar nilai agama dan budaya. Ke-13 Kohabitasi dan ke-14 Perkosaan dalam perkawinan.

INTI MASALAH

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Arif Maulana menjelaskan secara rinci poin-poin masalah dari draft terbaru RKUHP (Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) versi tanggal 30 November 2022 yang akan disahkan DPR dan Pemerintah pada Selasa besok, 6 Desember 2022. LBH Jakarta dan sejumlah organisasi masyarakat sipil lainnya menggelar

demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada hari ini, Senin, 5 Desember 2022.

Arif menyatakan terdapat beberapa pasal karet yang menjadi sorotan koalisi masyarakat sipil. Di antaranya, masalah penghinaan pemerintah dan lembaga negara (pasal 240), masalah pengaturan

(6)

pidana denda (pasal 81), masalah pidana mati (pasal 100), masalah larangan unjuk rasa tanpa pemberitahuan (pasal 256), serta masalah pasal subversif yang kembali muncul (pasal 188).

Pasal 240 soal penghinaan terhadap pemerintah dan lembaga negara

Dalam pasal 240, penghinaan terhadap pemerintah dan lembaga negara dilebur menjadi satu pasal dan menjadi delik aduan secara terbatas. yaitu untuk penghinaan yang tidak mengakibatkan kerusuhan.

Menurut Arif, pasal tersebut tidak sejalan dengan cita-cita demokrasi, tidak perlu dipidana perbuatan

"penghinaan" karena akan selalu sulit dibedakan dengan kritik.

"Sedari awal kami menyuarakan untuk penghapusan pasal ini, jika yang dilindungi adalah mencegah kerusuhan, pasal-pasal lain tetap dapat digunakan," ujar Arif ketika dihubungi oleh Tempo.

Menurutnya, pasal tersebut harus dihapuskan karena pemerintah dan lembaga negara adalah objek kritik, yang tidak dapat dilindungi dengan pasal pembatasan. Apalagi ini untuk institusi yang tak memiliki reputasi secara personal.

KORBAN JIWA

Mereka para korban tewas yakni, Maulana Suryadi (23), Akbar Alamsyah (19) dan Bagus Putra Mahendra (15) di Jakarta. Sedangkan dua sisanya merupakan mahasiswa Universitas Haluoleo yakni Immawan Randi (21) dan Muhammad Yusuf Kardawi (19).

Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) adalah Undang-Undang yang mengatur mengenai perbuatan yang dapat dipidana di Indonesia. Hukum pidana sendiri merupakan bentuk upaya hukum terakhir (ultimum remedium) dalam penyelesaian sebuah perkara.

Nah fungsi dari KUHP dalam penegakan hukum di Indonesia ini ada dua, yaitu social defence yakni melindungi masyarakat dari kejahatan, serta sebagai penjaga keseimbangan dan keselarasan hidup di masyarakat.

Dari banyak keunggulan yang terdapat dalam RKUHP, 17 diantaranya berbicara tentang bertitik tolak dari asas keseimbangan, rekodifikasi hukum pidana, tujuan dan pedoman pemidanaan, serta menjadi pertimbangan bagi hakim sebelum menjatuhkan pemidanaan.

Keunggulan lainnya adalah tentang adanya penentuan sanksi pidana dengan modified delphi method, putusan pemaafan oleh hakim, pertanggungjawaban pidana korporasi, mengutamakan pidana pokok yang lebih ringan, dan perluasan jenis pidana pokok.

Kemudian keunggulan berikutnya adanya pembagian pidana dan tindakan ke dalam 3 kelompok (umum, anak, korporasi), mengatur pidana denda, penjatuhan pidana mati secara bersyarat, dan mencegah penjatuhan pidana penjara untuk TP maksimal 5 tahun.

Keunggulan lainnya adalah adanya pengaturan alternatif pidana penjara berupa pidana denda, pidana pengawasan, dan pidana kerja sosial, mengatur pemidanaan pidana dan tindakan, dan mengatur pertanggungjawaban mutlak dan pertanggungjawaban pengganti.

Dalam perancangan RKUHP ini, pemerintah juga membuka ruang kepada seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam menyampaikan masukan terhadap berbagai pasal di RKUHP melalui platform PARTISIPASIKU.

Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau RKUHP menjadi hal urgent untuk dilakukan sebuah perbaikan. Melihat bagaimana produk hukum pidana yang masih belum maksimal dalam

(7)

pengaturan maupun penegakkannya dilapangan, maka perbaikan-perbaikan harus dilakukan. Bahkan menurut Wakil Menteri Hukum dan HAM sendiri mengatakan bahwa, KUHP yang saat ini berlaku penuh dengan ketidakpastian.

Apakah RKUHP yang sekarang sudah disahkan dapat menjamin kepastian pengaturan, penegakkan maupun implemntasinya di lapangan?

Berikut pasal-pasal yang perlu untuk disoroti dan dikritisi:

1. Pasal 218 RKUHP

Pasal ini mengenai kritik kepada Presiden dan Wakil Presiden. Pasal ini sangat rawan untuk disalahtafsirkan oleh aparat penegak hukum guna membungkam kritik terhadap penguasa. Bahkan sampai tahun 2021 ini, sebelum RKUHP disahkan, telah banyak pihak-pihak yang terkena kasus penghinaan kepada penguasa, padahal yang mereka kritisi adalah terkait dengan kebijakan serta kinerja aparat negara, seperti masalah Reforma Agraria dan Omnibus Law Cipta Kerja.

Berikut bunyi Pasal 218 ayat (1) RKUHP:

“Setiap Orang yang di muka umum menyerang kehormatan atau harkat dan martabat diri Presiden atau Wakil Presiden dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori IV”.

2. Pasal 219 RKUHP

"Setiap orang yang menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempelkan tulisan atau gambar sehingga terlihat oleh umum, memperdengarkan rekaman sehingga terdengar oleh umum, atau

menyebarluaskan dengan sarana teknologi informasi yang berisi penyerangan kehormatan atau harkat dan martabat terhadap Presiden atau Wakil Presiden dengan maksud agar isinya diketahui atau lebih diketahui umum dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori IV".

3. Pasal 240 RKUHP

Dalam pasal ini menyatakan bahwa seseorang bisa diancam pidana penjara 3 tahun jika menghina pemerintah di media sosial. Pasal ini dapat berpotensi mengkriminalisasi siapapun yang melayangkan ketidakpuasan mereka terhadap kinerja pemerintah. Pemerintah seolah antrikritik dan kembali membangunkan masa orba.

Berikut bunyi pasal 240 RKUHP:

"Setiap orang yang di muka umum melakukan penghinaan terhadap pemerintah yang sah yang berakibat terjadinya kerusuhan dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.”

4. Pasal 241 RKUHP

Ancaman hukuman 3 tahun penjara yang disebutkan dalam pasal 240 RKUHP akan dinaikkan menjadi 4 tahun, jika penghinaan yang dimaksud dilakukan di media sosial, sebagaimana bunyi draft pasal 241 RKUHP berikut ini:

"Setiap orang yang menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempelkan tulisan atau gambar sehingga terlihat oleh umum, memperdengarkan rekaman sehingga terdengar oleh umum, atau

menyebarluaskan dengan sarana teknologi informasi yang berisi penghinaan terhadap pemerintah

(8)

yang sah dengan maksud agar isi penghinaan diketahui umum yang berakibat terjadinya kerusuhan dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak kategori V."

5. Pasal 273 RKUHP

Dalam pasal ini mengatur mengenai demonstasi yang akan dilakukan. Dengan adanya pasal ini juga akan menyulitkan kepada para mahasiswa maupun masyarkat yang akan melakukan aksi demonstrasi.

Padahal unjuk rasa atau demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin oleh undang-undang.

Berikut bunyi pasal 273 RKUHP:

“Setiap Orang yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada yang berwenang mengadakan pawai, unjuk rasa, atau demonstrasi di jalan umum atau tempat umum yang mengakibatkan terganggunya kepentingan umum, menimbulkan keonaran, atau huru-hara dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak kategori II.”

Delik di atas berubah dari yang diatur dalam UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Sebab dalam UU 9/1998, domonstrasi tanpa izin cukup dikenakan dengan tindakan administrasi yaitu pembubaran. Oleh karena itu hal ini sangat berbahaya.

Sebab demonstrasi yang biasa dilakukan adalah secara spontan sebagai bentuk aksi kekecewaan kepada kinerja pemerintah.

Memang benar bahwa dengan adanya RKUHP ini telah mewujudkan suatu kepastian hukum.

Khususnya kepastian bagi para penguasa agar dapat berkuasa tanpa adanya suara-suara yang dapat mengancam kursi jabatannya.

 Mereka para korban tewas yakni, Maulana Suryadi (23), Akbar Alamsyah (19) dan Bagus Putra Mahendra (15) di Jakarta. Sedangkan dua sisanya merupakan mahasiswa Universitas Haluoleo yakni Immawan Randi (21) dan Muhammad Yusuf Kardawi

Pada hari Kamis 15 Desember 2022, 5 Organisasi Kemahasiswaan Universitas di Bandung termasuk Widyatama telah mengadakan turun aksi ke DPRD Jawa Barat untuk menuntut agar pasal RKUHP harus dicabut dan tidak dijadikan sebagai Undang-Undang .

Berikut latar belakang dari kejadian aksi ini : LATAR BELAKANG

Organisasi Kemahasiswaan dari berbagai Kampus lain telah menyiapkan massa dari para mahasiswa termasuk yang mewakili dari Universitas Widyatama . Peserta dari Universitas Widyatama berjumlah 60 orang ,sementara dari Universitas lain memiliki berbeda jumlah massa masing-masing . Aksi tersebut pada pukul 16.00 masih kondusif dan hanya menyuarakan melalui beberapa pemimpin- pemimpin organisasi tersebut dengan meneriaki tuntutan rakyat kepada DPRD . Namun, pada pukul 17.08 , ada 5 orang yang tak dikenal dengan menyamar pakaian biasa dengan menggunakan masker penutup muka telah melemparkan Bom Molotov ke gedung DPRD sebanyak 5 kali dengan target ke Pos Satpam , Mobil Damkar Polisi,dan CCTV gedung DPRD. Sehingga yang terjadi adalah Mobil Damkar Polisi telah melakukan penyerangan dengan menembaki watercanon yang menyebabkan sebagian besar mahasiswa Widyatama terkena pentalan dari air yang sangat keras itu .

Lalu dengan beraninya, semua para Mahasiswa telah melakukan pelemparan batu dan beberapa alat lainnya ke mobil tersebut . Namun tiba-tiba tidak lama dari situ, Mobil Damkar melakukan kembali

(9)

penyerangan dengan Polisi serta Brimob yang keluar dari Gedung DPR telah melakukan penyerangan dengan Represif dan tidak Manusiawi .

Sehingga para mahasiswa telah melakukan evakuasi ke gedung Unpas dengan lari dari gedung DPR dan mengungsi ke gedung Universitas Pasundan (UNPAS) di jl. Tamansari.

INFORMASI TENTANG KORBAN

Dikabarkan korban yang terlibat dalam aksi turun tersebut telah menembus 31 orang yang tertangkapoleh kepolisian . Namun, ada dua Mahasiswa dari Universitas Widyatama telah dinyatakantertangkap oleh Kepolisian yang mana satu orang dibawa ke Rumah Sakit dan satunya telah diinterograsikan oleh pihak kepolisian . Namun , untuk saat ini Korban telah dibebaskan dari penjara .

Namun, kasus Represif telah dinilai sebagai pelanggaran HAM dan sangat tidak manusiawi .

KESIMPULAN :

Berdasarkan uraian pada penjelasan bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu:

 Terkait kebijakan hukum pidana dalam memasukkan rumusan tindak pidana korupsi ke dalam RUU KUHP terdapat 3 hal penting yang perlu diperhatikan yaitu pertama, terkait kebijakan perumusan tindak pidana korupsi dalam RUU KUHP yang mana kebijakan tersebut

memasukkan tindak pidana di luar KUHP salah satunya tindak pidana korupsi sebagai langkah upaya unifikasi dan konsolidasi kedalam satu buku. Namun kebijakan tersebut perlu diperhatikan, karena dapat menimbulkan kemunduran dalam pemberantasan korupsi. Kedua, mengenai Arah kebijakan kodifikasi RUU KUHP. Pada saat ini arah dari kebijakan kodifikasi RUU KUHP cenderung menginginkan kodifikasi secara total/menyeluruh. Kodifikasi total/menyeluruh tersebut berpotensi menyulitkan dalam melakukan perubahan/perbaikan dalam menghadapi perkembangan tindak pidana kedepan. Dan ketiga, formulasi tindak korupsi dalam RUU KUHP. Terkait formulasi tindak pidana korupsi dalam RUU KUHP sekarang merupakan hasil salinan dari ketentuan dalam UU No. 31 Tahun 1999 UU No. 20

Referensi

Dokumen terkait

 - KESATUAN AKSI PEMUDA PELAJAR INDONESIA (KAPPI)  - KESATUAN AKSI BURUH INDONESIA ( KABI )..  - KESATUAN AKSI SARJANA INDONESIA (KASI)  - KESATUAN AKSI WANITA INDONESIA (

mempertimbangkan ketiga momentum tadi maka diperoleh empat masa perjalanan sejarah sastra Indonesia, yaitu masa pertama mencakup tahun 1900-1945, masa kedua mencakup tahun

Kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi 650 % setahun tidak memungkinkan pemerintah untuk melaksanakan pembangunan

Artikel ini menjelaskan peristiwa sejarah tahun 1965 yaitu peristiwa 30 September 1965 dalam konteks politik juga berbagai wacana peristiwa tahun 1965 dan perlunya paradigma baru

Abstrak: Tujuan penulisan artikel ini yaitu: 1) menjelaskan dinamika gerakan guru Indonesia setelah era Orde Baru. Fase ini ditandai dengan bermunculan berbagai organisasi

Penelitian ini mencoba menguraikan startegi atau pola-pola dari gerakan Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia, Pelajara Islam Indonesia dan Tarbiyah di Sumatra Utara dalam

Abstrak: Tujuan penulisan artikel ini yaitu: 1) menjelaskan dinamika gerakan guru Indonesia setelah era Orde Baru. Fase ini ditandai dengan bermunculan berbagai organisasi guru

Aksi itu di hadang oleh pasukan Cakrabirawa ( pasukan pengamanan presiden) dan menyebabkan terjadinya bentrokan. Dalam peristiwa itu, seorang mahasiswa Universitas