Departemen Ilmu Perikanan
Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
MATA KULIAH “PENANGANAN HASIL PERIKANAN”
SEM II, TA. 2020-2021
QUIZ/TUGAS-3 :
KAJIAN PENERAPAN GHP DALAM INDUSTRI
PERIKANAN (TANGKAP/BUDIDAYA/PENGOLAHAN)
BENTUK : Ringkasan Materi + PPt (MS Word) (lihat Ouline di bawah !) WAKTU : 04 – 11 Maret 2021
NAMA LENGKAP : Tugus Trisna Triandana Putra
NIM : 19/442835/PN/16241
NILAI : ………. (50 – 100) CATATAN
(1). Tugas (penyusunan makalah & PPt) dikumpulkan paling lambat Tgl 11 Maret, Pkl. 11.00 WIB (sebelum jam kuliah).
(2). Pengumpulan melaui SIMASTER, caranya: klik E-Learning – List tugas – aksi (pada mata kuliah Penanganan Hasil Perikanan) – (+) tambah – ketik Quiz-1+Nama Lengkap (pada kolom Judul Diskusi) – ketik Tahapan & Proses Penurunan Mutu Ikan Segar (pada kolom Deskripsi) – Choose file (ambil file tugas/quiz-1 yg ada di laptop anda) – simpan
OUTLINE
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR
DATAR ISI
DAFTAR TABEL/GAMBAR/LAMPIRAN
BAGIAN I. PENDAHULUAN (maks. 2 halaman)
1.1. Latar Belakang (Tuliskan kenapa pentingnya materi ini terkait dengan mutu ikan segar)
1.2. Tujuan (Tuliskan tujuan dari penulisan makalah ini)
1.3. Manfaat (Tuliskan manfaat setelah mempelajari materi ini) BAGIAN II. KAJIAN PENERAPAN GHP DALAM INDUSTRI PERIKANAN
(TANGKAP/BUDIDAYA/PENGOLAHAN) (jlh halaman bebas) BAGIAN III. KESIMPULAN DAN SARAN (maks 1 hal.)
SUMBER PUSTAKA
TUGAS – 3
KAJIAN PENERAPAN GHP DALAM INDUSTRI PERIKANAN (TANGKAP/BUDIDAYA/PENGOLAHAN)
NAMA LENGKAP : Tugus Trisna Triandana Putra NIM : 19/442835/PN/16241
DEPARTEMEN ILMU PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2021
LEMBARAN PENGESAHAN
TUGAS - 3
KAJIAN PENERAPAN GHP DALAM INDUSTRI PERIKANAN (TANGKAP/BUDIDAYA/PENGOLAHAN)
Yogyakarta, 10 Maret 2021 Disusun Oleh :
t.t.d.
(Tugus Trisna Triandana Putra)
Dosen Pengampu, t.t.d.
(Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si.)
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat Beliau, saya dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya dalam waktu yang telah ditentukan. Makalah ini berjudul “KAJIAN PENERAPAN GHP DALAM INDUSTRI PERIKANAN (TANGKAP/BUDIDAYA/PENGOLAHAN)”. Penyusunan makalah ini dilakukan untuk memenuhi Tugas-3 mata kuliah Penanganan Hasil Perikanan.
Dalam penyusunan makalah ini, tentunya saya mendapat dukungan dari beberapa pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Penanganan Hasil Perikanan dan rekan-rekan THP 2019 sebagai rekan dalam berdiskusi. Saya juga mengucapakan terima kasih kepada kedua orang tua saya yang telah menfasilitasi saya dalam menempuh studi ini.
Saya menyadari penuh bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari Bapak Dr. Ir. Latif Sahubawa, M.Si. serta pihak terkait lainnya guna memperbaiki dan menyempurnakan tugas-tugas berikutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk pembacanya.
Tabanan, 10 Maret 2021
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR GAMBAR v
BAGIAN I. PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan 1
1.3. Manfaat 1
BAGIAN II. KAJIAN PENERAPAN GHP DALAM INDUSTRI PERIKANAN 2
2.1. Penerapan GHP dalam Industri Perikanan Tangkap 2
2.2. Penerapan GHP dalam Industri Perikanan Budidaya 6
2.3. Penerapan GHP dalam Industri Pengolahan Perikanan 8
BAGIAN III. KESIMPULAN DAN SARAN 10
SUMBER PUSTAKA 11
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Penggancoan Ikan Tuna 2
Gambar 2. Mematikan Ikan Tuna 3
Gambar 3. Pembuangan Darah Ikan Tuna 4
Gambar 4. Pembuangan Insang dan Isi Perut Ikan Tuna 5
Gambar 5. Pembersihan Ikan Tuna 6
Gambar 6. Pemanenan Udang dengan Jaring 7
Gambar 6. Peng-es-an Udang sebelum Pengiriman 8
BAGIAN I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bahan baku hasil perikanan termasuk dalam kelompok bahan pangan yang sangat mudah rusak (highly perishable). Hal tersebut dikarenakan ikan memiliki kadar air yang tinggi dan kandungan nutrisi yang dapat menjadi substrat yang baik bagi pertumbuhan mikroba pembusuk. Salah satu cara untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan melakukan proses penanganan (handling) yang baik mulai dari hulu hingga hilir.
Tujuan utama dari penanganan ikan adalah mengusahakan agar kesegaran ikan dapat dipertahankan selama mungkin atau kebusukan ikan dapat ditunda sebelum ikan sampai pada konsumen atau pabrik pengolahan. Tentunya dalam proses penanganan terdapat kaidah - kaidah dalam pelaksanaannya. Kaidah dalam penanganan yang baik dan benar disebut good handling practices (GHP). Untuk menghasilkan mutu ikan yang berkualitas, maka penerapan GHP menjadi hal yang wajib dalam sebuah industri perikanan.
Melihat kondisi tersebut, penerapan GHP tentunya sangat penting dalam sebuah industri pada sektor perikanan. Sehingga penting untuk diketahui bagaimana penerapan GHP pada industri perikanan mulai dari perikanan tangkap, perikanan budidaya, hingga pengolahan hasil perikanan. Dengan harapan, pengetahuan ini akan memberikan wawasan yang lengkap mengenai penanganan hasil perikanan yang baik mulai dari hulu hingga hilir.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan GHP pada industri perikanan mulai dari perikanan tangkap, perikanan budidaya, hingga pengolahan hasil perikanan.
1.3. Manfaat
Adapun manfaat yang didapat setelah mempelajari materi ini adalah mahasiswa dapat mengetahui bagaimana penerapan GHP dalam industri perikanan mulai dari perikanan tangkap, perikanan budidaya, hingga pengolahan hasil perikanan sehingga memiliki wawasan yang lengkap mengenai penanganan hasil perikanan yang baik mulai dari hulu hingga hilir.
BAGIAN II
KAJIAN PENERAPAN GHP DALAM INDUSTRI PERIKANAN
2.1. Penerapan GHP dalam Industri Perikanan Tangkap
Sektor perikanan tangkap merupakan sektor penting dalam industri perikanan di Indonesia. Dalam sektor ini terdapat beragam komoditi yang dapat dihasilkan. Salah satu komoditas unggulan pada sektor ini adalah ikan tuna. Menurut Nurilmala et al. (2018), tuna merupakan komoditi utama penyumbang devisa penting negara dan memiliki nilai ekspor signifikan. Sehingga dalam pembahasan penerapan GHP dalam industri perikanan tangkap akan mefokuskan untuk membahas penanganan ikan tuna. Berikut adalah tahapan penanganan ikan tuna di atas kapal:
a. Penggancoan dan Pendaratan ke Atas Kapal
Menurut Irianto (2008), penggancoan untuk menarik ikan ke atas kapal selalu dilakukan pada bagian kepala dan jangan pernah melakukannya pada bagian badan, tenggorokan, atau jantung. Untuk ikan berukuran besar dapat digunakan dua alat ganco dengan memasukkan alat ganco kedua pada bagian mulut. Irianto (2008) juga menyebutkan bahwa ikan sebaiknya dinaikkan ke atas kapal yang telah diberi alas busa, karpet, atau matras. Bila terjadi pelipatan sirip bagian pektoral, terutama pada saat membalik ikan dari satu sisi ke sisi lainnya, maka diupayakan hal tersebut tidak menyebabkan sirip menjadi rusak.
Gambar 1. Penggancoan Ikan Tuna (Blanc cit. Irianto, 2008)
b. Mematikan Ikan Tuna
Dalam mematikan ikan tuna, perlu dilakukan beberapa tahap. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat ikan menjadi tenang. Menurut Irianto (2008), supaya ikan berada dalam kondisi tenang, ikan dapat dipingsankan oleh pukulan tajam pada bagian atas kepala (antara mata) dengan menggunakan pemukul ikan atau alat tumpul
lainnya. Cara lain untuk membuat ikan tenang adalah dengan menutup matanya menggunakan sarung tangan atau lembaran kain. Setelah itu, pancing dari mulut ikan dilepas dengan menggunakan alat pemukul. Menurut Irianto (2008), proses mematikan ikan dilakukan dengan berdiri di atas ikan dan dilakukan penjepitan ikan dengan menggunakan kaki tepat di belakang sirip pektoral. Setelah itu dicari titik lunak pada bagian kepala di antara mata dengan merabanya menggunakan ibu jari. Kemudian alat tusuk (semacam paku) ditusukkan pada bagian lunak tersebut dengan sudut 45o dan ditekan terus sampai ke rongga otak. Irianto (2008) menyebutkan jika penusukan pada tempat yang tepat, ikan akan menunjukkan rontaan untuk terakhir kalinya sebelum lemas.
Jika hal tersebut belum terjadi, perlu dilakukan penusukan ulang pada bagian lunak.
Untuk merusak otak, alat tusuk digerak-gerakkan sampai badan ikan tidak bergerak lagi dan rahangnya lemas. Kadang-kadang digunakan alat pelubang untuk merusak otak dan sekaligus membuat lubang untuk kawat Taniguchi atau nilon monofilament. Kawat Taniguchi digunakan untuk merusak urat saraf pada saluran saraf dengan cara memasukkan kawat stainless steel atau nilon monofilament ke otak melalui lubang yang telah dibuat dengan menggunakan alat tusuk atau alat pelubang, dan ditekan sejauh mungkin ke saluran saraf untuk merusak urat saraf (Irianto, 2008). Ikan seharusnya bergetar kembali pada saat alat Taniguchi menuju saluran saraf. Jika nilon monofilament yang digunakan ditinggalkan pada saluran saraf, nilon tersebut dipotong dengan meninggalkan bagian yang tampak di permukaan kepala ikan sepanjang 2 cm sampai 3 cm.
c. Pembuangan Darah
Menurut Irianto (2008), pembuangan darah dapat dilakukan dengan membuat sayatan di bagian samping sepanjang 5 cm sampai 10 cm di belakang pangkal sirip pektoral dengan pisau kecil tajam. Sayatan dibuat pada kedua sisi ikan dengan kedalaman 2 cm, sebaiknya dibuat tegak lurus dan memotong relung sirip pektoral. Pembuluh darah utama terdapat di sepanjang relung sirip pektoral tepat di bawah kulit. Darah seharusnya mengalir dengan sendirinya dari sayatan tersebut dan dibiarkan selama 3 sampai 5 menit untuk mengalirkan darah. Sayatan pada membran antara pinggir insang dan insang dapat dibuat untuk mempercepat aliran darah. Setelah itu, pipa air laut diletakkan pada sayatan tersebut untuk mempercepat pembuangan darah dan membersihkan semua darah dari rongga insang. Cara lain adalah dengan menggunakan pipa air yang ujungnya diberi pipa stainless steel yang tajam. Pipa dimasukkan ke dalam tutup insang pada tempat sayatan biasanya dibuat. Irianto (2008) juga menyebutkan teknik pembuangan darah yang lain adalah dengan membuat potongan pada tenggorokan dan menempatkan pipa air laut di bagian mulut sehingga darah akan mengalir bebas dari sayatan pada tenggorokan.
Gambar 3. Pembuangan Darah Ikan Tuna (Blanc cit. Irianto, 2008) d. Pembuangan Insang dan Isi Perut
Menurut Irianto (2008) langkah pertama dalam pembuangan insang dan isi perut adalah dengan membuat sayatan sepanjang 5 cm sampai 10 cm pada bagian perut sampai 1 cm di depan anus. Selanjutnya, sayatan dibuat mengarah ke anus dan kemudian usus ditarik melalui sayatan ini. Ujung usus tersebut dipotong dekat anus. Irianto (2008) juga menyebutkan cara lainnya yaitu dengan metode potongan donut. Metode ini dilakukan dengan membuat sayatan berbentuk bulat disekitar anus dengan tanpa merusak usus.
Potongan sayatan atau donut ditekan masuk ke dalam rongga perut. Langkah selanjutnya disebutkan oleh Irianto (2008) adalah dengan menusukkan pisau di bagian belakang tutup insang dan disayatkan ke arah mata sampai pisau menyentuh tulang. Cara yang sama diulangi pada sisi ikan yang lain. Membran antara insang dan pinggiran insang dipotong sepanjang pinggiran insang tersebut pada kedua sisi ikan. Penghubung antara insang dan rahang bawah juga dipotong, sedangkan antara tenggorokan dan rahang bawah jangan dipotong. Jika bagian ini terpotong, maka harus diikatkan kembali ke rahang dengan menggunakan benang atau tali untuk menghindarkan terjadinya lapisan-lapisan otot terpisah-pisah seperti halaman-halaman buku. Selain itu, penghubung antara insang dan pangkal tengkorak juga dipotong. Selanjutnya, insang dan organ internal dibuang dalam satu tarikan melalui insang yang terbuka. Pada tahap akhir, organ jantung dibuang dan dibilas sampai bersih.
Gambar 4. Pembuangan Insang dan Isi Perut Ikan Tuna (Blanc cit. Irianto, 2008) e. Pembersihan
Menurut Irianto (2008), proses pembersihan diawali dengan penyayatan membran
memberikan penampilan tidak menarik. Bagian pangkal tengkorak dan punggung disikat dengan menggunakan sikat kaku untuk menghilangkan semua darah yang membeku dan empedu. Semua serpihan daging dan tendon yang ada di bagian dalam rongga insang dibuang, kemudian secara hati-hati bagian dalam dan luar ikan dicuci. Selanjutnya, karena beberapa pembeli ada yang meminta sirip dorsal yang panjang dan sirip anal dari yellowfin tuna dipotong, maka bagian tersebut dapat dipotong dengan menggunakan gergaji. Setelah proses di atas, maka sekarang ikan siap di-es-kan. Jika menggunakan air laut dingin (dengan es atau refrigerasi), ikan sebaiknya dilindungi dengan kain elastis atau kantong plastik.
Gambar 5. Pembersihan Ikan Tuna (Blanc cit. Irianto, 2008) f. Penyimpanan
Menurut Irianto (2008), untuk mendapatkan ikan tuna dengan mutu paling baik, direkomendasikan menggunakan prosedur dua tahap sebagai berikut : (1) Menurunkan suhu internal ikan tuna dengan menempatkannya pada air laut yang didinginkan dengan es (ALDI). (2) Setelah 24 jam, ikan tuna dipindahkan ke palka dan kemudian di-es-kan.
Selanjutnya tidak diperlukan perlakuan lain sampai ikan tuna didaratkan.
2.2. Penerapan GHP dalam Industri Perikanan Budidaya
Komoditas di sektor budidaya juga sangatlah beragam. Salah satu komoditas budidaya yang umum dibahas adalah udang. Nurilmala et al. (2018) menyebutkan bahwa udang merupakan salah satu produk hasil perairan yang bernilai ekonomis tinggi dan merupakan produk ekspor andalan Indonesia. Untuk itu dalam pembahasan penerapan GHP dalam industri perikanan budidaya akan dibahas mengenai komoditas udang. Menurut Nurilmala et al. (2018), penanganan dalam aspek budidaya udang terbagi ke dalam:
a. Pra Panen
Sebelum melakukan pemanenan, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi udang. Menurut Nurilmala et al. (2018), sehari sebelum pemanenan hendaknya dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi udang. Jika kondisi udang kurang dari 5% moulting, panen seharusnya ditunda. Hal tersebut dikarenakan proses moulting menyebabkan kulit udang menjadi lembek secara fisik. Selain itu, Nurilmala et al. (2018) juga menyebutkan bahwa pada udang yang akan dipanen sebaiknya dilakukan pengurangan pemberian pakan atau dipuasakan sehari sebelum dipanen.
b. Pemanenan
Menurut Nurilmala et al. (2018), pemanenan udang di tambak biasanya menggunakan jaring terutama untuk jenis vaname karena udang jenis ini senang hidup di bagian ruang air. Pemanenan dilakukan dengan mengeluarkan sebagian air yang ada pada tambak. Proses pemanenan harus dilakukan dengan cepat dan hati-hati karena dapat mempengaruhi mutu dan fisik udang. Udang yang rusak secara fisik menimbulkan penurunan mutu yang cepat. Nurilmala et al. (2018) menyebutkan, udang yang telah dipanen diletakan dalam keranjang atau blong yang berisi es. Segera setelah dipanen, udang dicuci dan direndam dalam air dingin dengan suhu sekitar 0oC sehingga udang cepat mengalami kematian. Udang yang mati dengan cepat dapat memperpanjang mutu kesegarannya dibandingkan udang yang lama proses kematiannya.
Gambar 6. Pemanenan Udang dengan Jaring
(https://www.tribunnews.com/images/regional/view/1814423/panen-udang-vaname) c. Pengiriman
Nurilmala et al. (2018), menyebutkan bahwa udang yang telah dimatikan dengan pendinginan, kemudian dipindahkan ke dalam blong atau wadah dan diberikan es curah
udang, hingga diakhiri dengan lapisan es. Nurilmala et al. (2018), juga menyebutkan cara yang lebih modern yaitu dengan penyimpanan udang dalam angkutan yang mempunyai sistem pendingin dengan suhu yang dapat dikontrol.
Gambar 6. Peng-es-an Udang sebelum Pengiriman
(https://intisari.grid.id/read/03946522/sebelum-diekspor-udang-jepang-dibuat-pingsan- dulu-agar-tidak-stres-dalam-perjalanan?page=all)
2.3. Penerapan GHP dalam Industri Pengolahan Perikanan
Sektor pengolahan adalah sektor yang dapat memberikan nilai tambah bagi produk perikanan. Dalam industri pengolahan, bahan baku dapat berasal dari industri penangkapan maupun budidaya. Meneruskan pembahasan sebelumnya, dalam pembahasan penerapan GHP dalam industri pengolahan perikanan, komoditas yang akan dibahas adalah udang.
Penanganan dalam aspek pengolahan udang terbagi ke dalam:
a. Penerimaan
Menurut Nurilmala et al. (2018), setelah sampai di unit pengolahan, udang akan diturunkan secara hati-hati. Selanjutnya udang dikeluarkan dan dipindahkan dalam keranjang untuk disiram dengan air dingin. Hal ini bertujuan untuk tetap menjaga kesegaran udang sekalius membersihkannya dari kotoran yang menempel. Penerimaan bahan baku ini harus dicontrol oleh yang ahli dalam bidang nya yaitu QC (Zulfikar, 2016).
b. Penyortiran
Nurilmala et al. (2018) menyebutkan penyortian ini dilakukan untuk memisahkan udang berdasarkan size atau ukuran. Sortasi dapat dilakukan dengan mesin maupun dengan tenaga manusia. Sortasi yang dilakukan dengan tenaga manusia meliputi sortasi mutu, ukuran dan warna. Hasil sortasi ditampung pada keranjang dan selanjutnya akan ditaruh pada meja-meja karyawan yang berbahan stainless steel yang berjumlah 8 buah untuk dilakukan pemisahan berdasarkan mutu, ukuran dan warna (Zulfikar, 2016).
Nantinya akan didapat kelompok udang berukuran besar (big), sedang (medium), dan kecil (under size) (Nurilmala et al. 2018).
c. Perendaman
Proses selanjutnya adalah perendaman yang bertujuan untuk mengembalikan berat udang setelah melalui beberapa proses sebelumnya (Zulfikar, 2016). Zulfikar (2016) juga menyebutkan larutan yang digunakan untuk perendaman adalah STPP fosfat yang berfungsi sebagai food aditif yang bertujuan untuk meningkatkan kekenyalan produk.
Campuran brisol, garam, dan air bersuhu 0 °C sampai 3 °C. Proses perendaman ini dilakukan di fiber yang berisi air es selama 30 menit sampai 1 jam.
d. Penimbangan
Penimbangan dilakukan untuk mengetahui berat, size dan banyaknya udang dalam satu wadah yang berisi produk udang beku. Zulfikar (2016) menyebutkan tujuan penimbangan yaitu, untuk mengetahui berapa banyak udang yang akan jadi produk udang beku yang siap dibekukkan, dalam proses penimbangan ini rantai dingin tetap diperhatikan pada tiap meja penimbangan dilapisi dengan es curai agar udang yang menunggu untuk ditimbang tetap terjaga mutunya, suhu yang digunakan yaitu 2 ºC.
e. Pencucian
Setelah proses penimbangan dilakukan pencucian dengan air yang dicampur dengan es dan chlorine 25 ppm sampai 35 ppm. Zulfikar (2016) menyebutkan pencucian dilakukan dengan cara penyiraman raw material 1 kali setelah itu raw material dicelup kedalam air chlorine yang kapasitasnya 25 ppm sampai 35 ppm dan celup kembali raw material ke dalam air biasa, supaya udang yang banyak mengandung chlorine dapat tercuci, standar suhu air pencucian yaitu 0 °C sampai 3 °C.
f. Penyusunan dan Pembekuan
Udang yang telah ditimbang kemudian disusun di ruang penyusunan, udang disusun didalam inner pan oleh karyawan atau pegawai di bagian penyusunan, penyusunan dilakukan berdasarkan hasil penimbangan agar ukuran udang dalam satu inner pan seragam. Penyusunan dilakukan dengan hati - hati agar tekstur udang tidak rusak. Tahap penyusunan udang dalam pan harus sesuai dengan aturan. Peraturan ini tergantung dari size udang. Udang yang telah disusun ke dalam pan kemudian diberi air es suhu <5oC sampai penuh, kemudian ditutup dengan penutup pan yang dilapisi plastik blok (Zulfikar, 2016). Pemberian air es ini bertujuan untuk mencegah terjadinya dehidrasi dan perubahan
g. Glazing
Udang yang telah dibekukkan selama 4 jam lalu kemudian di proses selanjutnya yaitu proses glazing yaitu untuk mencegah terjadinya oksidasi, dehidrasi dan memperbaiki penampilan karena terbentuk lapisan es tipis yang seragam (Zulfikar, 2016).
Glazing dilakukan dengan cara mencelupkan udang blok ke dalam bak yang berisi air dingin yang berjumlah 1 buah dan semprotan air dari pipa paralon yang diberi lubang (Zulfikar, 2016).
h. Pengemasan dan Pelabelan
Cara pengemasan dan pelabelan ini yaitu dengan terlebih dahulu produk dimasukkan kedalam plastic block yang berwarna bening kemudian dilakukan penggecekan inner carton dengan melihat kode expire, data, dan size (Zulfikar, 2016). Pengemasan ini bertujuan untuk melindungi produk dari resiko kerusakan cacat fisik, mempermudah identifikasi produk, mempermudah distribusi dan juga memperindah penampilan dari pada produk (Zulfikar, 2016).
i. Penyimpanan.
Setelah pengemasan dan pelabelan selesai dilakukan kemudian produk dimasukkan kedalam cold stroge merupakan penyimpanan terakhir dari produk sebelum diekspor, dimana produk disimpan dengan menyusun berdasarkan ukurannya, hal ini dilakukan agar saat akan dilakukan pengiriman barang petugas yang bertugas tidak akan kesulitan untuk mencari produk yang dimaksud (Zulfikar, 2016). Selain itu cara penyusunan disini harus diperhatikan karena apabila cara penyusunan tidak sesuai standar maka akan berakibat pada produk yang dibekukan karena dapat merusak kemasan bahkan produk didalamnya tertindih oleh produk lainnya. Tujuan dari penyimpanan udang dalam cold storage yaitu untuk menjaga kondisi udang beku agar selama menunggu proses pemasaran tetap dalam kondisi yang segar dan masih fresh (Zulfikar, 2016).
BAGIAN III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Sektor perikanan tangkap merupakan sektor penting dalam industri perikanan di Indonesia. Dalam sektor ini terdapat beragam komoditi yang dapat dihasilkan. Salah satu komoditas unggulan pada sektor ini adalah ikan tuna. Menurut Nurilmala et al. (2018), tuna merupakan komoditi utama penyumbang devisa penting negara dan memiliki nilai ekspor signifikan. Tahapan penanganan ikan tuna di atas kapal antara lain penggancoan dan pendaratan ke atas kapal, mematikan ikan tuna, pembuangan darah, pembuangan insang dan isi perut, pembersihan, dan penyimpanan.
Komoditas di sektor budidaya juga sangatlah beragam. Salah satu komoditas budidaya yang umum dibahas adalah udang. Nurilmala et al. (2018) menyebutkan bahwa udang merupakan salah satu produk hasil perairan yang bernilai ekonomis tinggi dan merupakan produk ekspor andalan Indonesia. Menurut Nurilmala et al. (2018), penanganan dalam aspek budidaya udang terbagi ke dalam pra panen, pemanenan, dan pengiriman.
Sektor pengolahan adalah sektor yang dapat memberikan nilai tambah bagi produk perikanan. Dalam industri pengolahan, bahan baku dapat berasal dari industri penangkapan maupun budidaya. Penanganan dalam aspek pengolahan udang terbagi ke dalam penerimaan, penyortiran, perendaman, penimbangan, pencucian, penyusunan dan pembekuan, glazing, pengemasan dan pelabelan, serta penyimpanan.
3.2. Saran
Berkaitan dengan materi ini dan untuk penugasan selanjutnya, sebaiknya perlu ditetapkan literatur acuan dalam mengerjakan tugas sehingga dasar-dasar pembahasan menjadi seragam dan tidak menimbulkan keraguan.
SUMBER PUSTAKA
https://intisari.grid.id/read/03946522/sebelum-diekspor-udang-jepang-dibuat-pingsan-dulu-agar- tidak-stres-dalam-perjalanan?page=all (diakses pada 10 Maret 2021)
https://www.tribunnews.com/images/regional/view/1814423/panen-udang-vaname (diakses pada 10 Maret 2021)
Irianto, H. E. 2008. Teknologi Penanganan dan Penyimpanan Ikan Tuna Segar di Atas Kapal.
Squalen 3 (2): 41-50.
Nurilmala, M., Nurjanah, dan Hidayat, T. 2018. Penanganan Hasil Perairan. IPB Press. Bogor.
Zulfikar. R. 2016. Cara Penanganan yang Baik Pengolahan Produk Hasil Perikanan Berupa Udang.
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 5 (2) : 29-30.