PENDAHULUAN
Latar Belakang
Alasan peneliti tertarik untuk meneliti nilai-nilai budaya adalah karena nilai-nilai tersebut mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, yang dapat menjadi pedoman dan orientasi kehidupan manusia. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam karya sastra hendaknya dipelajari untuk menjadi sumber ilmu pengetahuan dan dikembangkan agar eksistensinya terus berkembang.
Fokus Penelitian
Permasalahan nilai-nilai tradisional masih menjadi permasalahan yang belum terpecahkan dan bahkan pada masyarakat yang berbeda pada tingkat ini sangat sulit untuk diselesaikan.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Memudahkan pembaca dan pecinta sastra dalam memahami bahwa menggali karya sastra dan memahami gambaran masyarakat dalam sebuah karya sastra dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Memberikan gambaran tentang karya sastra yang dapat dijadikan inspirasi dan referensi karya sastra bagi para peneliti selanjutnya dalam meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra.
Definisi Istilah
Ulama yang dimaksud dalam kedua novel tersebut merupakan bentuk tuturan dan tindakan yang mengandung nilai-nilai intelektual yang dimiliki masyarakat Bugis. Yang dimaksud dengan kedua novel tersebut adalah tuturan yang mengandung nilai-nilai pantas dan kepatutan yang diterima masyarakat Bugis dalam bertindak.
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
Kajian Pustaka
- Penelitian yang Relevan
- Persamaan dan Perbedaan Penelitian yang Relevan
- Kearifan Lokal Budaya
- Kearifan Lokal Budaya Tanah Toraja
- Kearifan Lokal Budaya Mandar
- Kearifan Lokal Budaya Makassar
- Kearifan Lokal Budaya Bugis
Fokus penelitian ini adalah nilai-nilai moral masyarakat Bugis dari karya sastra lokal yaitu novel Antara Bumi dan Langit. Dengan demikian, perspektif ini hanya melihat hubungan langsung antara unsur-unsur dalam sebuah karya sastra dengan unsur-unsur masyarakat yang digambarkan dalam karya sastra tersebut. Sutresna (dalam Artayasa, 2017: Vol 6) mengatakan bahwa karya sastra sebagai cerita fiksi pada hakikatnya adalah suatu struktur yang tercermin dalam sebuah teks sastra.
Unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam dan luar menjadi latar belakang terciptanya karya sastra. Oleh karena itu, karya sastra dipandang sebagai media yang dapat digunakan oleh pembaca atau pecinta sastra untuk menilai kehidupan pribadinya dan kehidupan orang lain. Berkaitan dengan kandungan nilai atau pesan kehidupan dalam sebuah karya sastra, maka kandungan yang tidak dapat dipisahkan dari isi karya sastra tersebut adalah nilai budaya.
Hal ini jelas berkaitan dengan budaya atau adat istiadat masyarakat yang ada pada saat karya sastra itu ditulis. Secara historis, karya sastra dalam kaitannya dengan masyarakat yang memproduksinya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sastra lama (klasik) dan sastra baru (modern). Pengarang sendiri adalah masyarakat, pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada pada masyarakat, dan hasil karya sastranya dimanfaatkan oleh masyarakat (Ratna.
Dengan demikian, dalam hal ini sastra daerah dipertentangkan dengan sastra nasional, yaitu karya sastra yang menggunakan bahasa Indonesia. Koentjaraningrat menyatakan bahwa dalam sejarah sastra Indonesia yang dikenal hanya sastra berwarna lokal, yaitu karya sastra yang menggambarkan ciri khas daerah tertentu.
Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
- Pendekatan Penelitian
- Jenis Penelitian
- Data dan Sumber Data
- Data
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Keabsahan Data
Berdasarkan penilaian beberapa nelayan, peneliti menyimpulkan bahwa nilai-nilai utama budaya Bugis diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Bugis. Hal ini terlihat dari kegigihan Halimah yang menggambarkan kerja keras anak-anak perempuan di masyarakat Bugis. Ada pula kerja keras Batara Guru dan La Oro Kelling yang saling bahu membahu, yang merupakan wujud nilai-nilai bisnis (reso) masyarakat Bugis.
Kutipan U.8 dan U.9 mengandung nilai bisnis (reso) yang diwujudkan melalui usaha dan ketekunan yang dilakukan masyarakat Bugis. Analisis tersebut diperjelas dengan teori Rahim (2011: XX) yang menyatakan bahwa nilai bisnis (reso) merupakan salah satu nilai utama dalam masyarakat Bugi. Mappangewa Pada kutipan HD.1, HD.2, HD.3 dan HD.4, nilai harga diri/rasa malu (siri') diungkapkan dalam sikap menghindari rasa malu masyarakat Bugis.
Kebaikan yang terdapat dalam novel LG karya Dul Abdul Rahman digambarkan dengan kepantasan atau kelayakan Batara Guru untuk menjadi pemerintah di Bumi kerana kepintaran, ketabahan, kerja keras dan kegigihannya dalam menjaga amanah yang diamanahkan adalah satu bentuk kebajikan. yang terus diadakan dalam masyarakat Bugis. Kelima, nilai usaha (reso) merupakan salah satu nilai teras budaya Bugis dalam bentuk kerja keras dan ketekunan yang dilakukan oleh masyarakat Bugis. Oleh itu, siri ini sangat terjaga dalam masyarakat Bugis kerana tanggungjawab yang besar.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Nilai Jujur (lempui)
- Nilai Cendekia (macca)
- Nilai Patut (sitinaja)
- Nilai Teguh (getteng)
- Nilai Usaha (reso)
- Nilai Harga Diri (siri’)
Masyarakat Bugis, yang sangat berpegang pada kata-kata mereka, tidak boleh menentang keputusan jika mereka sudah membuat keputusan. Sang Patotoqe mengagumi anaknya (Batar Guru) kerana kepintaran dan kepandaiannya menghayunkan pedangnya terhadap lawannya (panglima perang). Batara Guru juga mengumpulkan rakyatnya untuk membentangkan hasil musyawarah ayahandanya sebagai salah satu bentuk musyawarah yang dilakukannya sebagai pemerintah di muka bumi.
Ini terbukti dengan nilai ilmiah yang dimiliki oleh Nenek Mallomo dalam novel SRLCS sebagai seorang ulama Islam dan dalam novel LG bahawa Batara Guru menjaga dan mengusahakan tanah dengan ilmu yang dimilikinya sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Kepantasan Batara Guru sebagai penguasa di bumi mendapat pendamping hidup yang cantik iaitu gabungan keindahan Alam Syurga dan Pretiwi. Kepercayaan kehambaan Batara Guru kepada Sang Patotoqe adalah satu kewujudan yang berkekalan dengan nilai keimanan Batara Guru kepada Sang Patotoqe.
Dalam kutipan KT.16, KT.17 dan KT.18 nilai ketabahan (getteng) diungkapkan dengan ketabahan hati masyarakat Bugis. Hal itu menunjukkan kerasnya hati Batara Guru terhadap perpisahan ketika tiba saatnya ia meninggalkan keluarganya di surga. Tekad Batara Guru yang teguh bertahan di bumi dan ketegarannya (Batara Guru) meminta ampun kepada Patotoqe.
Dalam masyarakat Bugis, rasa malu dianggap sebagai sifat yang dimiliki perempuan untuk melindungi harga diri dan kehormatan keluarga. Hal ini terlihat dari keputusan Patotoqa untuk tidak bertindak sewenang-wenang yang merupakan wujud nilai rasa malu/harga diri (siri').
Pembahasan
Pertama, nilai budaya kejujuran (lempu) pada masyarakat Bugis terdiri dari nilai-nilai kebaikan berupa keikhlasan, kebenaran, kejujuran, memaafkan kesalahan orang yang berbuat salah, dapat dipercaya, tidak serakah, berbuat baik. itu demi kebaikan bersama dan jangan egois dalam segala hal. Gegge Mappangewa yang mendukung teori nilai kejujuran (lempu), peneliti menyimpulkan bahwa masyarakat Bugis percaya bahwa ketidakjujuran akan berdampak buruk pada kehidupan mereka. Dengan cara ini para orang tua di masyarakat Bugis mendidik anaknya sopan santun yang patut dipertahankan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.
Gegge Mappangewa mendukung teori nilai-nilai perusahaan (asigettengeng), nilai-nilai perusahaan yang dimaksud adalah wujud kemantapan, keimanan, kekuatan dan ketangguhan yang dimiliki oleh masyarakat Bugis. Nilai kegigihan (getteng) dalam novel LG karya Dul Abdul Rahman, peneliti menyimpulkan bahwa nilai kegigihan merupakan wujud keyakinan masyarakat Bugis bahwa kehidupan terbagi dalam tiga alam yaitu dunia atas, dunia tengah, dan dunia tengah. dunia yang lebih rendah. Masyarakat Bugis selalu memastikan wadah nasinya tidak kosong dan memiliki tutup serta wadah air yang tidak boleh kering.
Atas dasar itulah masyarakat Bugis menjadikan Batara Guru sebagai teladan terbaik ketika ia berusaha meyakini bahwa Sang Patotoqe tidak akan memberikan apa pun kepada masyarakat tanpanya. Kearifan lokal, konsep bisnis (reso) mempunyai arti suatu wujud kerja keras, ketekunan dan usaha yang dilakukan oleh masyarakat bugis. Gegge Mappangewa dengan novel LG Dula Abdul Rahman mengandung nilai harga diri/rasa malu (siri').
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Kajian kearifan lokal budaya Bugis lainnya adalah novel Sajak Rindu Lontara Cinta dari Sidenreng S. Kearifan lokal budaya Bugis memuat konsep kejujuran (lempu) sebagai wujud nilai-nilai budaya Bugis yang berupa ketulusan, kebaikan, kebenaran dan keadilan, yang mengandung nilai-nilai jujur. Sedangkan dalam novel LG Dul Abdul Rahman dibuktikan dengan keikhlasan, kebaikan dan keadilan yang dijunjung tinggi Sang Patotoqe sebagai penguasa kerajaan surga dalam mengambil keputusan secara transparan, jujur dan konsisten antara perkataan dan perbuatannya.
Sedangkan dalam novel LG karya Dul Abdul Rahman Batar, kecerdasan Guru dalam menjaga dan mengolah bumi menyuburkan tanaman dan menyejahterakan masyarakat. Kearifan lokal budaya Bugis adalah konsep kepatutan (sitiraja) yang berarti kepantasan, kepantasan atau kepantasan seseorang menerima sesuatu yang patut diterimanya. Sedangkan dalam novel LG karya Dul Abdul Rahman terbukti Batara Guru pantas menjadi penguasa Kerajaan Bumi dan memiliki pendamping cantik yang merupakan perpaduan kesempurnaan.
Sedangkan dalam novel LG karya Dul Abdul Rahman, para penghuni Kerajaan Surga, Kerajaan Bumi, dan Pretiwi percaya bahwa Sang Patotoqe adalah penguasa tunggal ketiga kerajaan tersebut, dan Sang Patotoqe lah yang memegang kendali atas apa yang terjadi di ketiga kerajaan tersebut. kerajaan terjadi. . Sedangkan dalam novel LG karya Dul Abdul Rahman, bentuk usaha (reso) ditunjukkan oleh Batara Guru yang bekerja keras dan rajin mengolah bumi bersama La Oro' Kelling yang tadinya kosong hingga dipenuhi berbagai jenis tanaman dan tanaman. menjadi hutan belantara dimana hasil tanahnya nantinya akan dijadikan makanan bagi masyarakat. Sedangkan dalam novel LG karya Dul Abdul Rahman, bentuk harga diri (siri') ditunjukkan pada sikap putri-putri Tompo Tikkaq yang tetap menjaga kehormatan kerajaannya meski hanya tinggal reruntuhan istana kerajaan, peninggalan mereka. rasa diri sebagai seorang putri kerajaan masih tetap terjaga.
Saran
- Izin Penelitian
- Korpus Data
- Sinopsis Novel
- Biografi Pengarang
- Biodata Angulator
Nilai Moral Masyarakat Bugis dalam Novel Antara Bumi dan Langit Karya Syahriar Tato: Tinjauan Sosiologis Sastra. Analisis Psikologi Sastra dan Nilai Pendidikan dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari dan Pentingnya Sebagai Bahan Ajar Sastra di Sekolah Menengah. Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahahendra sebagai Bahan Ajar Sastra SMA: Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan Karakter.
Menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar pada tahun 2014. Pengalaman berorganisasi, 1) Kepanduan Hizbul Wathan Qabilah Universitas Muhammadiyah Makassar dan sebagai Sekretaris Dewan Wanita Periode. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar dan menyelesaikan skripsi pada tahun 2018 dengan judul skripsi “Pengetahuan Lokal Budaya Bugis dalam Novel Sajak Rindu Lontara Cinta Karya Sidenreng Karya S.
Nabi Ibrahim pun kesulitan bahkan menyembelih anaknya sendiri, Ismail, apalagi nenek Mallomo yang hanya manusia biasa namun luar biasa dalam menegakkan keadilan. Pemuda yang maju dan mengakui perbuatannya mencuri adalah anak kesayangan Nenek Mallomo. Nenek Mallomo sebagai hakim yang bijaksana dan adil kemudian menjatuhkan hukuman mati pada putra kesayangannya.