Tema rangkaian perkuliahan pada perkuliahan Senin, 7 Oktober 2013 adalah “Pendidikan Tinggi Hukum dan Urgensi Pengembangan Filsafat Hukum Pancasila”. Untuk itu hal tersebut dapat kita laksanakan dengan membahas tentang pandangan hidup Pancasila dan hubungannya dengan hukum di lingkungan pendidikan tinggi hukum khususnya pada jenjang Strata 2 (Program Magister Ilmu Hukum) dan Strata 3 (Program Doktor Ilmu Hukum). Upaya ini harus dibarengi dengan refleksi dan restrukturisasi mendalam terhadap kurikulum hukum pendidikan tinggi di Indonesia.
Pancasila: Sebagai Pilar Pendidikan Hukum dan Kewarganegaraan 1
Dengan belajar dari inspirasi dan renungan tersebut, maka kita juga dapat menstrukturkan bidang-bidang kehidupan yang akan diresapi oleh energi Pancasila. Di bagian paling bawah adalah ranah perilaku, dan di antara keduanya adalah ranah memerintah.
Membumikan Etika Pancasila dalam Penyelenggaraan Negara
Administrasi publik yang mengacu pada etika politik didasarkan pada landasan-landasan pengelolaan politik-negara yang bersifat umum dan normatif, seperti pertama, pemahaman bahwa politik adalah upaya mengatur kebaikan dan kemaslahatan hidup bersama melalui permusyawaratan damai. Kelima, kebijakan publik harus mendukung poin-poin utama kemaslahatan publik (barang publik) seperti legitimasi demokrasi, kemakmuran ekonomi, dan identitas kolektif. Identitas kolektif yang bersifat normatif kemudian menjadi nilai yang memperkuat dan mendukung kebijakan publik.
Pancasila dengan lima silanya telah dicanangkan sebagai dasar (filsafat) negara, pedoman hidup, ideologi nasional, pengikat kehidupan berbangsa dan bernegara, serta sumber dari segala sumber hukum. Untuk memahami, meyakini dan mengamalkannya, Pancasila harus dipahami bukan sebagai landasan yang statis, melainkan sebagai bintang penuntun dinamis yang menyikapi perkembangan saat ini. Untuk memindahkan Pancasila dari ranah idealitas ke ranah realitas, diperlukan penghayatan hakikat (ruh asli) negara sebagaimana yang diperintahkan dan diteladani oleh para founding fathers bangsa itu sendiri.
Sifat kedua adalah semangat kekeluargaan seperti yang disampaikan Bung Karno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 tentang Indonesia sebagai negara gotong royong. Demikianlah para pendiri bangsa mewariskan kepada kita semangat, alasan dan tujuan perjuangan nasional dengan begitu jelas dan mulia.
Menilik Kepantasan Labelisasi Pancasila sebagai Staatsfundamentalnorm dalam
Predikatnya adalah jiwa bangsa, Weltanschauung, Leitstern, pandangan hidup bangsa, ideologi negara, cita-cita negara, cita-cita hukum, bahkan sumber dari segala sumber hukum (ada yang menguraikan kategorisasinya).
Sistem Hukum Indonesia
2006: 169 et seq.), misalnya menyatakan bahwa Staatsfundamentalnonorm tidak dapat menjadi bagian integral dari konstitusi, sehingga antara lain mereka sampai pada kesimpulan menolak untuk menempatkan pembukaan UUD 1945 (termasuk Pancasila). sebagai Staatsfundamentalnorm.2 Sebagai alternatif, mereka mengajukan Deklarasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai Staatsfundamentalnonorm. Tentu saja hubungan Pancasila dengan Pembukaan UUD 1945 tidak bisa dibaca hanya dari bunyi ayat 4 Pembukaan. Pandangan yuridis-politik telah menggeser penafsiran UUD 1945 dari penafsiran autentik yang semula kini diposisikan sebagai penafsiran sejarah [sekadar] sejarah.
Dalam penafsiran sejarah inilah dapat digali pernyataan fundamental yang menjalin hubungan antara Pancasila, Pembukaan, dan Badan UUD 1945. Kalimat ini menegaskan bahwa terdapat pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945, dan itulah pokok-pokok pikiran yang selanjutnya dijabarkan dalam Pasal – Pasal (Badan) UUD 1945. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa dari seluruh alternatif format norma yang ada saat ini, Pembukaan UUD 1945 lah yang paling banyak digunakan. pilihan logis. diberi nama Staatsfundamentalnorm.
Oleh karena itu, tidak sepenuhnya salah jika kita menempatkan Pancasila dalam Norma Dasar Negara, karena pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 tidak lain adalah tentang keseluruhan sila-sida Pancasila. Namun karena Norma Dasar Negara dalam susunan hierarki ini dimaksudkan untuk menjawab bentuk daripada substansi (isi), maka akan lebih baik jika jawabannya adalah Pembukaan UUD 1945.
Menggugat Diskriminasi atas Nama Agama
Di satu sisi, Indonesia telah lama dikenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya menganut agama terbesar di dunia (Islam), yang juga disebut-sebut berhasil mengembangkan demokrasi. Contoh permasalahan perlakuan diskriminatif tersebut di atas dapat dilihat pada tindak kekerasan yang menimpa kelompok masyarakat di Sampang, Madura yang menganut aliran Syiah. Diskriminasi yang termasuk dalam salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dialami oleh kelompok minoritas tidak hanya dilakukan oleh kelompok mayoritas di masyarakat, namun juga dapat dilakukan oleh pihak yang berwenang (pejabat pemerintah).
Secara historis, masyarakat Indonesia telah 'dilatih' oleh pemerintah kolonial Belanda untuk hidup dalam diskriminasi, misalnya melalui kebijakan klasifikasi hukum terhadap warga negara yang terdiri dari kelompok Eropa, oriental asing, dan pribumi.
Konsep Keadilan dalam Islam,
Perlindungan terhadap Kaum Minoritas, dan Negara Hukum Pancasila
Jennifer Jakson Preece merumuskan pengertian kelompok minoritas sebagai kelompok yang tidak mempunyai ciri-ciri peradaban menurut standar tertentu, dan tidak mempunyai hak penuh dalam masyarakat politik karena identitas agama, ras, bahasa, dan etniknya berbeda dengan identitas publik ( Susamto Sehubungan dengan hal tersebut Oleh karena itu, kelompok minoritas juga dapat diartikan sebagai kelompok yang diakui atas dasar perbedaan ras, agama, atau suku, yang mengalami kerugian akibat prasangka atau diskriminasi. dapat dijadikan solusi dalam menangani masalah diskriminasi yang dihadapi kelompok minoritas.
Berdasarkan penjelasan konsep keadilan dalam Pancasila di atas, jika kemudian dihubungkan dengan upaya perlindungan hak asasi kelompok minoritas, maka akan diperoleh pemahaman bahwa keadilan dalam Pancasila jelas mengandung makna perlindungan terhadap kelompok minoritas oleh kelompok mayoritas. Dalam konteks keadaan masyarakat Indonesia yang terdapat kelompok minoritas dan mayoritas, hal ini menunjukkan perlunya kedua belah pihak saling bersinergi, saling melengkapi dan kemudian bersinergi untuk mewujudkan kesejahteraan.1. Untuk keperluan tersebut di atas, mungkin upaya untuk membangun fasilitas perwakilan bagi kelompok minoritas harus dipertimbangkan secara serius.
Namun nyatanya, baik Islam maupun Pancasila sebenarnya mempunyai kepedulian yang sangat mendalam terhadap persoalan keadilan, kesetaraan (prinsip egaliter) dan perlindungan hak asasi manusia, termasuk terhadap kelompok minoritas. Sebab keduanya, yakni Islam dan negara hukum Pancasila, mempunyai prinsip yang sejalan untuk menegakkan keadilan, menjamin kesetaraan bagi semua orang, dan berupaya melindungi hak asasi manusia, termasuk kelompok minoritas.
Pancasila dan Arsitektur Negara Hukum Indonesia
Prolog 1
Tulisan ini hanya merupakan tayangan pada saat diskusi di Pusat Kajian Pancasila Universitas Pancasila setelah melaksanakan tugas melaksanakan kajian komprehensif terhadap sejumlah ketetapan DPR yang kemudian direvisi dengan Ketetapan MPR RI (yang dikenal dengan sebutan 'Resolusi Sapu Jagat). Di tengah diskusi setiap Selasa dan Kamis dengan Pak Abdulkadir Besar, mantan Sekretaris Jenderal MPR, dilakukan evaluasi kritis terhadap keabsahan Amandemen UUD 1945. Sekarang UUD 2002 - di pertimbangan mengingat jumlah pasal yang terkena perubahan sangat besar.
Amerika Serikat telah melakukan 27 perubahan, namun tidak pernah mengubah satu huruf pun sejak Deklarasi Kemerdekaan. 1 Topik ini hanya sebatas catatan diskusi dengan Abdulkadir Besar yang disampaikan di berbagai forum.
Keberlakuan Hukum Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 1
Pada bagian ini patut dikritisi apakah amandemen konstitusi menggunakan paradigma Pancasila sebagai latar belakang filosofis. Sebelumnya, penyusunan amandemen UUD 1945 dilakukan oleh Panitia Ad Hoc I yang melibatkan sejumlah pakar hukum tata negara yang notabene merupakan akademisi elite. Beberapa kelompok baik dari dalam negeri (The Habibie Center, CETRO, dll) maupun luar negeri yang mempunyai kepentingan (seperti National Democracy Institute) juga memberikan pendapatnya terhadap amandemen UUD 1945.
Dalam proses amandemen UUD 1945 ternyata awalnya hanya melibatkan elite sehingga memunculkan solidaritas elite (meminjam konsep Emillio Durkheim). Dalam konteks Perubahan UUD 1945, patut dicermati apakah Perubahan UUD secara yuridis memenuhi syarat substantif dan format. Untuk melakukan perubahan dan perubahan UUD 1945, pembagian dan penetapan kewenangan diserahkan kepada Konstituante (Pasal 3 UUD 1945) dan tata cara (Pasal 37 UUD 1945).
UUD 1945 berlaku secara elitis, baik kepada elit politik, elit masyarakat (termasuk elit akademik) dan mekanismenya. Rakyat juga akan mempersoalkan pindaan Perlembagaan 1945 yang akhirnya akan dilucutkan kesahihannya dari hari ke hari.
Serial Focus Group Discussion
Pendidikan Karakter yang Berbasis Pancasila”
Topik pertama membahas tentang pendidikan hukum (pertinggi) dalam kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila, sedangkan topik lainnya mengkaji aspek pendidikan karakter berbasis Pancasila khususnya dalam konteks lingkungan satuan pendidikan. Disampaikan juga materi bahwa pembahasan dasar kenegaraan belum ada dalam sejarah sebelum 1 Juni, sehingga Pancasila merupakan jawaban cerdas atas tantangan bernegara. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kecanggihan pembacaan para filosof oleh Sukarno menjadikan Pancasila sebagai jalan tengah jauh sebelum Giddens menciptakan teori 'jalan ketiga'.
Dari beberapa tanggapan tersebut, akhirnya muncul tanggapan dari para sumber yang menyatakan bahwa Pancasila merupakan batu ujian, sehingga tidak cukup hanya mengacu pada norma-norma yang ada dalam pasal tersebut. Rangkaian FGD ini didorong untuk mencari ciri-ciri pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan hukum yang selaras dengan ideologi Pancasila. Implikasi dari semua itu bagi pendidikan hukum dan kewarganegaraan adalah terhapusnya “hukum Indonesia” dari landasan pemikiran orang Indonesia yang berupa budaya hukum.
Sejarah keterlibatan Soekarno, dimulai dari pejuang revolusi hingga Presiden pertama Republik Indonesia, menunjukkan bahwa hakikat pemikiran Pancasila adalah perjumpaan dialektis: antara Islam dan gagasan Pancasila itu sendiri. Energi pada dasarnya memerlukan proses konversi untuk melepaskannya menjadi unsur lain, misalnya suatu tindakan. Demikian pula Pancasila sebagai sumber hukum meneruskan gagasan Yudi Latif yang mentransformasikan tenaganya menjadi penggerak utama kehidupan hukum dan kemasyarakatan di Indonesia. .ts.
Hukum Penalaran dan Penalaran Hukum
Penalaran hukum dalam konteks Indonesia erat kaitannya dengan sistem kebudayaan yang berlaku di Indonesia yang kaya akan perpaduan budaya asli Indonesia, Hindu, Islam, dan modern. Demikian pula sistem hukum di Indonesia saat ini tidak lepas dari perkembangan sejarah masa lalu. Seperti pada masa penjajahan Belanda, serta proklamasi kemerdekaan yang menjadi momentum dimulainya sistem hukum nasional.
Sistem hukum Indonesia dibangun dengan karakter Kelsenian yang mengutamakan kepentingan politik dengan mengusung jargon “demi pembangunan”. Banyak kasus yang menunjukkan buruknya sistem hukum Indonesia, baik substansi maupun budaya hukum di Indonesia. Kondisi sistem hukum yang buruk menyebabkan penalaran hukum tidak berkembang dengan baik.
Penalaran hukum ala 'mata kuda' memberikan warna yang tidak kondusif bagi penegakan hukum di Indonesia. Sistem budaya, sosial, politik, dan ekonomi mempengaruhi karakteristik penalaran hukum di Indonesia.
Publikasi Epistema Institute
Menuju Keamanan dan Keadilan dalam masa jabatan. Buku ini dapat diunduh secara gratis di www.epistema. Update Perubahan Iklim Vol 1/2012 Update Perubahan Iklim ini dapat diunduh secara gratis di www.epistema.or.id. Update Perubahan Iklim Vol 2/2013 Update Perubahan Iklim ini dapat diunduh secara gratis di www.epistema.or.id.