• Tidak ada hasil yang ditemukan

Digitalisasi Ekonomi dan Prismatic Sociaty

N/A
N/A
Khilmi Zuhroni

Academic year: 2024

Membagikan "Digitalisasi Ekonomi dan Prismatic Sociaty"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Digitalisasi Ekonomi dan Prismatic Sociaty

Oleh : Khilmi Zuhroni

Diskursus generasi milenial, adalah sebuah kajian dan yang sangat menarik saat ini.

Sebab fenomena generasi milinel telah membawa nuansa tersendiri terlebih jika dikaitan dengan potensi, karakteristik, tantangan, dan jumlahnya yang signifikan dalam masyarakat Indonesia. Dalam kajian ilmu sosial, generasi millenial merupakan kelompok demografis setelah generasi X. Generasi ini lahir antara 1980 hingga 2000. Dengan demikian, generasi millenial sekarang berusia 18 tahun hingga 38 tahun. Di Indonesia, proporsi generasi millenial sekitar 34,45 persen, lebih dari sepertiga jumlah penduduk negeri ini.

Dari kajian beberapa peneliti, generasi millenial cenderung unik dibandingkan generasi- generasi sebelumnya. Keunikannya terletak pada penggunaan teknologi dan budaya pop/musik yang sangat kental. Karenanya, millenial seakan tidak bisa lepas dari internet, hiburan (entertainment), serta traveling. Millenial—yang sangat kreatif dan percaya diri—lebih suka bekerja keras dalam bidang usaha yang digeluti, untuk kemudian dinikmati dengan perjalanan panjang dan pengalaman.

Dunia internet yang semuanya menyajikan keterbukaan informasi serba cepat membawa pengaruh yang besar bagi perubahan karakter generasi milenial yang kesehariannya bergulan dengan internet. Karakter ini bisa berbentuk negatif dengan lahirnya pola hidup serba instan, asusila, kehilangan kepribadian diri, juga dapat berbentuk positif dengan makin kreatif, percaya diri, dan sebagainya. Masalah utama yang dihadapi adanya akses keterbukaan informasi ternyata banyak yang tidak diimbangi dengan kualitas pengetahuan dan kepribadian yang baik, sehingga masyarakat yang masuk kategori milenial mengalami semacam apa yang disebut dengan social sock.

Kondisi ini disebabkan oleh adanya transisi gaya hidup masyarakat yang pada mulanya masih minim pengetahuan tentang teknologi tiba-tiba terjebak dalam kubangan teknologi yang demikian terbuka dan berkembang tanpa bisa di kendalikan. Masyarakat transisi adalah masyarakat yang berada atau yang sedang beranjak dari masyarakat agraris menuju masyaraktat industri.

Sifat masyarakat negara-negara sedang berkembang merupakan pangkal ketidak netralan birokrasi. Pada umumnya masyarakat di negara-negara tersebut adalah masyarakat transisi, yaitu antara masyarakat yang mempunyai karakteristik tradisional sekaligus modern. Fred W.

Riggs menempatkan fase transisi didalam perkembangan suatu masyarakat sebagai prismatic

(2)

society yang apabila ditarik garis linear terletak antara apa yang dinamakan sebagai fused model society sebagai masyarakat tradisional dan diffracted society untuk masyarakat yang modern.

Masyarakat tradisional (fused society), disebut Riggs dengan Chamber, sedangkan masyarakat maju atau modern disebut dengan istilah Office. Adapun suatu masyarakat yang terletak diantaranya, birokrasinya disebut Sala Model atau Bureau. Inilah yang dikatakan sebagai masyarakat prismatik. Masyarakat demikian biasa dikenal dengan prismatic society (masyarakat prismatik).

Menurut Riggs, istilah prismatic sociaty digunakan di sini sebagai model teoretis terkait dengan gambaran empiris tentang “masyarakat transisi”. Istilah asing ini dipakai untuk menghindari beberapa konotasi yang tidak sesuai dengan sinonim umum dan untuk memperkenalkan konsep yang lebih tepat daripada dapat dikomunikasikan dengan sinonim.

Untuk memperjelas penggunaan konsep baru ini, kita harus menyimpang secara singkat dari proposisi yang dinyatakan dalam paragraf pertama, yang kita kembali lagi nanti. Konsep dasar dan cara berpikir demikian adalah berdasarkan pada tingkat diferensiasi yang tinggi struktur atau institusi yang umum pada masyarakat industri. Untuk setiap kebutuhan dasar manusia atau sosial seperti pendidikan, keyakinan agama, pengambilan keputusan tentang permasalahan bersama, penyediaan barang dan jasa, dan sejenisnya.

Negara Industri pada umumnya memiliki seperangkat institusi sosial yang sesuai.

Demikianlah dengan sekolah, gereja, bank, pasar, partai politik, badan legislatif, dan pemerintahan kantor istratif adalah semua struktur dasar yang dikhususkan untuk pemenuhan sejumlah fungsi terbatas.

Dalam konteks sosial masyarakat Indinesia, generasi milenial dapat dikelompokkan sebagai masyarakat prismatik. Fenomena ini terlihat bahwa secara pola pikir, sebagian besar masyarakat masih terkungkung dalam pola pikir tradisional sedangkan secara perangkat komunikasi yang digunakan sudah memakai teknologi modern, yakni teknologi digital.

Bakyaknya lembaga keuangan yang berbasis digital yang ditawarkan melalui jejaring sosial dan jasa-jasa media online lainnya, secara langsung berpengaruh pada pola dan perilaku gerenasi milenial tersebut. Sebab merekalah pengguna terbanyak jaringan internet. Hadirnya beragam jasa online, mulai dari jual-beli secara online, bisnis online, jasa antar online, bisnis star-up dan sebagainya patut diapresiasi sebagai bentuk-bentuk kreatif generasi milenial dalam pemanfaatan media digital yang ada. Namun demikian, minimnya pengetahuan terhadap dampak-dampak bisnis online, serta pengetahuan bisnis secara umum, bukan tidak mungkin

(3)

dapat menjebak mereka dalam praktik-praktik ilegal dan terjerumus pada tindak kriminal dan negatif lainnya.

Seperti isu-isu akhir-kahir ini yang sangat marak terkait pinjaman online (online loans), dimana telah banyak memakan korban. Baik dari sisi penyedia jasa pinjaman yang dirugikan oleh nasabah yang tidak mau membayar, demikian juga banyak masyarakat tertipu oleh bentuk pinjaman online sehingga berujung pelaporan hukum, kriminal dan sebagainya. Parahnya, kemudahan dalam melakukan pinjaman online disalah gunakan oleh pihak tertentu untuk meminjam sejumlah uang atas nama orang lain dengan menggunakan kartu identitas dan informasi seseorang yang secara sadar atau tidak dimuat dalam sosial media seperti facebook, instagram dan tiktok. Bahkan, beberapa praktek pencurian identitas melalui aplikasi-aplikasi ilegal pun makin marak dengan tujuan menguras keuangan korban yang tersimpan di banyak platform digital.

Demikian halnya dengan kemudahan-kemudahan dalam akses permodalan yang ditawarkan oleh beragam jasa financialm tecnohogi (FinTech), jika tidak dimbangi pengan pengetahuan manajemen keuangan dan kemampuan bisnis yang baik, hanya akan melahirkan praktik-praktik mal-financial, penipuan, pencurian dan sebagainya.

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan Lindung Bukit Daun di Bengkulu (Gunggung Senoaji).. KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN LINDUNG BUKIT DAUN

Judul Artikel : Kondisi Sosial Ekonomi dan Tingkat Kesejahteraan Keluarga: Kasus di Wilayah.. Pesisir

Kondisi faktor determinan utama pada masa transisi yaitu faktor sosio- ekonomi, determinan kultural, higiene dan nutrisi serta determinan medis dan kesehatan masyarakat

Kondisi faktor determinan utama pada masa transisi yaitu faktor sosio- ekonomi, determinan kultural, higiene dan nutrisi serta determinan medis dan kesehatan masyarakat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Kondisi sosial-ekonomi masyarakat sebelum adanya kampus, 2) Kondisi sosial-ekonomi masyarakat sesudah adanya kampus,

Hasil pelaksanaan dari kegiatan ini yaitu tim pengabdian akan mendampingi masyarakat untuk mengembangkan dan membuat sebuah website sebagai bentuk digitalisasi desa yang kedepannya

KETERLIBATAN PENELITI UTAMA DAN MITRA PT PADA PUBLIKASI ARTIKEL ILMIAH 1 Uraikan secara singkat peran seluruh tim PT ARTIKEL ILMIAH 2 Uraikan secara singkat peran seluruh tim PT ARTIKEL

Bapak Fery Tobing SE., MM selaku Ka Prodi Analisis Keuangan FV UKI atas kesempatan dan dukungannya sehingga kami dapat melakukan Edudkasi Penerapan Digitalisasi Ekonomi dalam Upaya