DIKTAT ANALISIS LOKASI DAN
KERUANGAN (RP09-1209)
Eko Budi Santoso Ema Umilia Belinda Ulfa Aulia
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2012
1
LEMBAR PENGESAHAN
1. Program : Penulisan Diktat Tahun 2012
2. Judul : Analisa Lokasi dan Keruangan (RP09-1209)
3. Ketua Tim :
a. Nama Lengkap : Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg.
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. NIP : 196107261989031004
d. Jabatan Fungsional : Lektor
e. Pangkat/Golongan : Penata Tingkat I / IIId f. Jabatan Struktural : Kepala Laboratorium g. Bidang Keahlian : Pengembangan Wilayah h. Laboratorium : Perencanaan Wilayah
i. Fakultas/Jurusan : FTSP / Perencanaan Wilayah dan Kota j. Tim
No Nama lengkap Bidang
keahlian Fakultas/Jurusan Instansi / Perguruan Tinggi
1. Ema Umilia, ST, MT Perenc. Kota FTSP/PWK ITS
2. Belinda U. Aulia, ST, MSc GIS FTSP/PWK ITS
4. Dana dan Waktu :
a. Jangka waktu program yang diusulkan : 1 tahun
b. Biaya yang disetujui tahun 2012 : Rp. 10.000.000,-
Surabaya, 29 Nopember 2012 Mengetahui,
Ketua Jurusan Perenc. Wilayah dan Kota Ketua Tim
Putu Gde Ariastita, ST, MT Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg.
NIP. 19780402 200501 1 003 NIP.19610726 198903 1 004
Menyetujui, Dekan FTSP
Dr. Ir. Hidayat Soegihardjo M, MS.
NIP. 19550325 198003 1 004
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME sehingga DIKTAT MATA KULIAH ANALISA LOKASI DAN KERUANGAN (RP-09-1209) dapat terselesaikan dengan baik. Diktat ini diharapkan dapat menjadi panduan mengajar yang lengkap tidak hanya bagi pengajar namun juga berguna bagi mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Analisa Lokasi dan Keruangan. Sehingga diharapkan terdapat penyempurnaan atau pemutakhiran bahan mengajar baik melalui literatur maupun masukan dalam proses diskusi belajar-mengajar.
Di dalam penyusunan diktat ini banyak pihak yang telah memberi kepercayaan dan membantu di dalam pelaksanaanya, untuk itu kami mengucapkan terima kasih.
Penyusun,
3
KERANGKA MATERI DIKTAT
Tujuan Instruksional Umum:
Memberikan pemahaman tentang pengertian teori lokasi dan kedudukannya dalam perencanaan wilayah dan kota.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Menjelaskan pengertian Teori Lokasi
2. Menjelaskan aspek Lokasi dan Implikasinya terhadap perencanaan wilayah dan kota 3. Menjelaskan ruang lingkup analisis lokasi dan keruangan
4. Menjelaskan faktor-faktor dasar penentuan lokasi 5. Menjelaskan permasalahan dalam penentuan lokasi
Tabel 1. Pembahasan Diktat Berdasarkan Kompetensinya
BAB Kompetensi Sub bab
Bab 1 Menjelaskan pengertian teori lokasi dan kedudukannya dalam perencanaan wilayah dan kota
1. Pengantar Teori Lokasi
2. Pengertian Lokasi dan Implikasinya
3. Ruang lingkup analisis lokasi dan keruangan 4. Faktor-faktor dasar lokasi
5. Masalah Lokasi Bab 2 Menjelaskan teori lokasi klasik
yang menjadi dasar perkembangan pendekatan analisis lokasi mutakhir
1. Teori Von Thünen: Land Use Theory 2. Teori Weber : ndustrial Location Theory 3. Teori Lösch dan Christaller : Central Place
Theory
4. Teori Hotelling: Spatial Competition and Competitive Differentiation
5. Teori Alonso Bab 3 Menjelaskan pendekatan dalam
analisis lokasi beberapa komponen kegiatan kota dan wilayah seperti perumahan, pemerintahan, industri, komersial, fasilitas sosial dan ekonomi
1. Dasar-dasar dan Analisis lokasi kegiatan industri
2. Dasar-dasar dan analisis lokasi kegiatan perdagangan (retail)
3. Dasar-dasar dan analisis lokasi fasilitas 4. Dasar-dasar dan analisis lokasi Permukiman Bab 4 Mampu mengimplementasikan
teknik analisis yang sesuai untuk mengkaji aspek lokasional
1. Aplikasi Multicriteria Analysis untuk menentukan pemilihan lokasi
2. Perspektif analisis keruangan dan Analisis
4
BAB Kompetensi Sub bab
komponen kegiatan wilayah dan kota
interaksi keruangan
3. Analisis sistem pusat permukiman dan komposisi keruangan
4. Aplikasi SIG untuk Analisis interaksi keruangan
5
BAB 1. TEORI LOKASI DAN KEDUDUKANNYA DALAM PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
1.1. Pengantar Teori Lokasi
Pengertian lokasi
lokasi diartikan sebagai tempat, posisi, site, tapak, ruang
lokasi absolut: posisi yg dikaitkan dengan sistem grid konvensional, contoh: Washington D.C.
posisinya 38°50’ LU dan 77°00’ BB
lokasi relatif: posisi yg dikaitan dengan lokasi lainnya, contoh: malang terletak 90 km di sebelah Selatan Surabaya
lokasi dapat dinyatakan dalam bentuk node (simpul), network (jejaring), area
KONTEKS LOKASI RELATIF
social space: jumlah kontak sosial yg terjadi dalam waktu tertentu (jumlah kontak per minggu)
cost space: biaya yg dikeluarkan untuk interaksi antar simpul (rupiah)
time space: waktu yg dibutuhkan untuk interaksi antar simpul (jam, menit)
absolute space: jarak fisik antar dua simpul (kilometer)
1.2. Persoalan Lokasional dan Spasial
Distribusi spasial:
karakteristik ruang/lokasi
frekuensi kegiatan (harian, mingguan, bulanan)
pola lokasional (terpusat, tersebar)
keterkaitan antar kegiatan
Struktur spasial dan proses spasial menentukan distribusi spasial
struktur spasial bersifat static phenomena
proses spasial bersifat dynamic phenomena
struktur spasial dan proses spasial merupakan circularly causal (hubungan sebab akibat)
Sifat Distribusi
Discrete distribution terdiri dari kumpulan kejadian yang berbeda
- rumah, pabrik, pompa bensin ketika dinyatakan secara terpisah dalam suatu area
Continuous distribution bila ada kejadian yang terkait
6
- temperatur udara dan air bersifat kontinyu dalam suatu area tergantung pada sirkulasi udara
Contingent distribution bila besaran distribusi dinyatakan dalam bentuk area atau waktu - produksi dinyatakan dalam ton, rupiah per hektar, atau jarak tempuh per jam
Pola Distribusi
Pola Statis: pola distribusi yg menggambarkan waktu tertentu dengan mengukur lokasi, susunan, dan besaran yg dapat diuraikan untuk kurun waktu tertentu
- distribusi pusat perbelanjaan atau rumah sakit di area metropolitan
Pola Dinamis: pola distribusi menggambarkan perubahan yang terjadi pada periode waktu yg berbeda
- persebaran permukiman dapat dilihat untuk waktu yg berbeda dan diperbandingkan
Pola Jejaring: pola didefinisikan oleh garis batas atau penghubung (link) antar simpul dalam suatu sistem transportasi
- sirkuler, heksagonal, linier digunakan untuk menggambarkan jaringan transportasi
Pola Normatif: pola yang “seharusnya” dengan pemberian asumsi tertentu
- mengindikasikan suatu pola yg diuraikan dari prinsip teoritis yg dapat diperbandingkan dengan pola dunia nyata
Penentuan proses dan struktur dalam distribusi spasial terkait:
Perspektif waktu yang digunakan
- PERGERAKAN MANUSIA DENGAN KENDARAAN ATAU JALAN KAKI MERUPAKAN hasil struktur spasial dari obyek seperti jalan, rel kereta, airport, sidewalk
kecepatan proses perubahan
- pilihan manusia terhadap aktifitas pertanian, industri, komersial menghasilkan econimic spatial structure
catatan: lebih mudah membuat peta distribusi phenomena fisik yg statis dibanding pergerakan manusia, motif pergerakan, atau membuat keputusan untuk itu
1.3. Implikasi Lokasi
Biaya transportasi: aktivitas memilih lokasi yg dapat meminimalkan ongkos angkut
Jangkauan pelayanan: aktivitas memilih lokasi yg dapat memaksimalkan pelayanan
Agglomerasi: keuntuntungan/ keunggulan lokasional yg diperoleh beberapa aktivitas bila mengelompok pada suatu area tertentu
7
Struktur Kota: tatanan berbagai aktivitas kota yg dicirikan dari pola penggunaan lahannya
Distribusi Spasial Berdasarkan Aktivitas
Aktivitas Primer, adalah aktivitas yang mengandalkan hasil hutan, tambang, perikanan, pertanian yang nonkomersial.
Aktivitas Sekunder, adalah aktivitas yang melibatkan produksi massal seperti mekanisasi pertanian, buruh pabrik.
Aktivitas Tertier, adalah aktivitas pemenuhan dan distribusi kegiatan jasa.
Aktivitas Kuarter, adalah aktivitas yang menggunakan pemrosesan informasi untuk pekerjaan (Information & Communication Technology)
1.4. Teori Lokasi
Teori Lokasi membahas pertanyaan penting tentang Siapa (Perusahaan, Individu, Pemerintah) yang memproduksi barang atau jasa tertentu pada Lokasi yang mana, dan Mengapa memilih lokasi tersebut
Banyak kebijakan pemerintah yang melibatkan upaya untuk mengalihkan/mengarahkan kegiatan produksi, yang pertama harus diteliti adalah dasar keputusan-keputusan lokasi awal untuk memahami dampak insentif yang dapat mengubah pola lokasi
Pendekatan Teori Lokasi
Typically researchers in location theory have been concentrating very much on the resolution (optimization phase) of a given problem (Stefan Nickel, Justo Puerto. 2005).
Proses pemecahan masalah pemilihan lokasi:
- Definition of the problem - Identification of side constraints - Choice of the right objective function(s) - Data collection
- Data analysis (data mining) - Optimization (actual resolution) - Visualization of the results
- Discussion if the problem is solved or if the phases have to be started again.
8
1.5. Locational Analysis
Locational analysis was originally the central question of regional economics.
Based on the earlier work of Von Thiinen, Weber, Losch, Christaller and others, locational analysis has succeeded in developing an impressive series of theoretical contributions and empirical analyses in order to provide adequate answers to the question where (and why) specific economic activities are taking place in a given spatial system. (P. NIJKAMP and E. S.
MILLS (1986)
Perkembangan Teori Lokasi
Location Theory has shifted its attention away from “hard” (cost) factors, relating to the proximity of markets and suppliers, towards relatively “soft” factors as the (perceived) quality of institutions, knowledge levels and environmental quality.
Tabel 2.Perubahan Kecenderungan Lokasi
Sumber: Mathijs Assink & Nico Groenendijk (2009)
Location Analysis
Location Analysis Tools Help Starbucks Brew Up New Ideas - The phenomenal growth at Starbucks Coffee Co. has been aided with the help of site selection technology to strengthen the decision-making process of strategic planning and market development.
9 Faktor-Faktor Penentu Lokasi
Faktor Teknologi: terkait dengan penyediaan infrastruktur (jalan raya, pelabuhan, bandara, irigasi, etc.)
Faktor Ekonomi dan Geografi: kenyamanan lingkungan, kemampuan membayar (willingness to pay), akses terhadap pasar, etc.
Faktor Politis: terkait kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah, Zoning, Kemudahan Fiskal, etc.
Faktor Sosial: terkait perilaku masyarakat, sosial-budaya, privasi, etc.
Referensi:
1. Mathijs Assink & Nico Groenendijk (2009) SPATIAL QUALITY, LOCATION THEORY AND SPATIAL PLANNING, Paper presented at Regional Studies Association Annual Conference 2009, Understanding and Shaping Regions: Spatial, Social and Economic Futures, Leuven, Belgium, April 6-8, 2009
2. Peter Nijkamp, ed.(1986) HANDBOOK OF REGIONAL AND URBAN ECONOMICS: VOL. 1 REGIONAL ECONOMICS, North-Holland
3. Stefan Nickel, Justo Puerto. (2005). LOCATION THEORY: AN UNIFIED APPROACH. Springer Verlag. Berlin.
4. Chan, Yupo. 2011. Location Theory and Decision Analysis: Analytics of Spatial Information Technology. Springer. New York.
10
BAB 2. TEORI LOKASI KLASIK YANG MENJADI DASAR PERKEMBANGAN PENDEKATAN ANALISIS LOKASI MUTAKHIR
2.1. Teori Von Thünen: Land Use Theory
Teori Von Thunen merupakan teori dasar atau teori klasik dalam teori lokasi. Teori ini mengawali perkembangan teori lokasi berikutnya. Analogi yang digunakan masih sangat sederhana yaitu terkait analisis lokasi wilayah perdesaan dengan sistem lokasi yang sederhana.
2.1.1. Aspek Lokasi/Spasial Hukum Geografi “ Tobler”
“setiap hal memiliki keterkaitan dengan hal lainnya, namun yang lebih berdekatan memiliki keterkaitan lebih dari yang lainnya”, (Tobler dalam Rustiadi, 2009).
Aspek lokasi/spasial
landasan lokasi dan ruang/spasial (Tarigan , 2005)
ruang adalah permukaan bumi, baik yang ada di atasnya maupun yang ada di bawahnya sepanjang manusia bisa menjangkaunya.
lokasi menggambarkan posisi pada pada ruang. Dalam konteks wilayah, lokasi menggambarkan keterkaitan antar kegiatan di suatu lokasi dan berbagai kegiatan lainnya di lokasi lain ( faktor kedekatan lokasi/spasial).
Teori lokasi
ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial. (Tarigan, 2005)
2.1.2. Perkembangan Teori Lokasi
Analisis Lokasi
Analisis lokasional merupakan pertanyaan initi dari ilmu ekonomi wilayah. Analisis-analisis lokasional pada dasarnya berupaya mencari jawaban-jawaban tentang “ dimana” dan “ mengapa” aktivitas ekonomi memilih lokasi (Rustiadi, 2009).
11
Teori-teori lokasi klasik
Pada awalnya (hingga 1950-an), teori lokasi hanya didominasi oleh pendekatan- pendekatan geografis-lokasional atau disebut sebagai karya-karya teori lokasi klasik (Von Thunen, Weber, Palander, Hotteling, Predhol, Losch, dan lainnya)
Teori-teori lokasi neoklasik
Setelah tahun 1950-an, teori lokasi berkembang dengan analogi-analogi ilmu ekonomi umum, dan diperkaya oleh analisis-analisis kuantitatif standar ilmu ekonomi, khususnya ekonometrika, dynamic model dan model-model optimasi seiring berkembangnya cabang ilmu regional science.
Perkembangan mutakhir teori lokasi
Sejak akhir 1980-an mulai tumbuh pendekatan-pendekatan metodologis kuantitatif yang mempertimbangkan aspek spasial, terkait dengan perkembangan metode-metode statistika spasial, ekonometrika spasial dan SIG.
2.1.3. Model Von Thunen
Teori Lokasi Von Thunen ditulis oleh Johan Heinrich Von Thunen tahun 1826. Teori lokasi Von Thunen diawali oleh analisis lokasi areal produksi pertanian. Karyanya berjudul
‘Der Isolierte Staat (The Isolated State atau Negara yang Terisolasi). Von Thunen menggambarkan negeri yang terisolasi dengan iklim dan tanah yang seragam, topografi yang seragam dan datar, serta alat-alat transportasi yang seragam yang hanya dilayani oleh kereta yang ditarik oleh hewan atau ternak.
Asumsi yang digunakan:
Areal pertanian satu ragam (uniform) dalam atribut lingkungannya
Hanya ada satu pasar akibat lokasi yang terisolasi
Transportasi sejenis dan biaya transportasi meningkat bersamaan dengan jarak terhadap pasar.
Semua petani bertindak rasional/ ekonomis, yang penggunaan lahannya untuk memaksimumkan profit, mereka mempunyai info yang cukup mengenai biaya produksi dan harga pasar.
Pola ruang dengan bentuk wilayah yang melingkar seputar kota zona-zona konsentrik.
Area Isolated State : model ideal dengan karakteristik wilayah yang terisolasi (bagan bagian atas)
12
Modified Condition: keberadaan sungai dan sub centre/pasar lainnya (bagan bagian bawah)
Klasifikasi zona: zona 1-6
Tabel 3. Pola Land Use Von Thunen
Pola Land Use Model Von Thunen Keterangan
Klasifikasi zona:
1. Zona 1: paling mendekati kota/pasar, diusahakan tanaman yang mudah rusak (highly perishable), seperti sayuran dan kentang (free cash cropping)
2. Zona 2: merupakan hutan dengan hasil kayu (foresting)
3. Zona 3: menghasilkan biji-bijian seperti gandum, dengan hasil yang relatif tahan lama dan ongkos transportasi murah 4. Zona 4: merupakan lahan garapan dan
rerumputan yang ditekankan pada hasil perahan seperti susu, mentega dan keju.
5. Zona 5: untuk pertanian yang berubah- ubah, dua sampai tiga jenis tanaman 6. Zona 6: berupa lahan yang paling jauh dari
pusat, digunakan untuk rerumputan dan peternakan domba dan sapi.
Konsep dasar model Von Thunen adalah; membuat kurva hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar.(Nugroho, 2004)
Sewa lahan / Land Rent adalah nilai atau harga yang dihubungkan dengan aset-aset yang memberikan aliran produksi san jasa sepanjang lahan dipergunakan (Mills dalam Nugroho, 2004).
Sehingga, sewa lahan merupakan residu (privat profit) dari perolehan-perolehan ekonomi penggunaan lahan sesudah dikurangi biaya konstruksi dan operasi.
13 Model Von Thuenen
FORMULA SEWA LAHAN : R = E ( p – a ) – E. f. k
DIMANA:
R = Sewa Lahan
E = Produksi per unit area
p = Harga per unit komoditi
a = Biaya produksi per unit komoditi
f = Ongkos angkut per unit jarak per unit komoditi
k = Jarak terhadap pasar
Konsep dasar model Von Thunen adalah; membuat kurva hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar.(Nugroho, 2004)
Gambar 1. Model Von Thunen dengan Satu Komoditas
Bila ada lebih dari satu komoditas, maka akan didapati sewa lahan yang paling optimum untuk setiap komoditas.
Gambar 2. Model Von Thunen dengan Zero Rent Margin
14
Gambar 3. Aplikasi Zone Konsentrik Von Thunen
Studi Kasus
Petani menanam jeruk dengan hasil panen 2 ton/ha, sedangkan harga jeruk di pasar Rp. 5 juta/ton dan biaya produksi Rp. 1.5 juta/ton. Untuk mengangkut jeruk ke pasar diperlukan biaya Rp. 100 ribu/ton/km.
Berapa jauhkah jarak maksimum dari pasar yang memungkinkan petani untuk menanam jeruk?
Jawaban:....?
R = E ( p – a ) – Efk R = 2 ( 5 – 1.5) – (2)(0.1)k
asumsi R = 0 artinya sewa lahan Nol/tidak ada privat profit/tidak memungkinkan lagi untuk menaman jeruk.
0 = 10 – 3 – 0.2k
0.2k = 7 --- k = 35 km sebagai jarak maksimum
15 Latihan
Komoditas A B C D
Harga Pasar
(Rp/Kg) 600 100 500 600
Hasil
(ton/Ha) 1 3 2,5 1
Biaya Produksi
(Rp/Kg) 400 25 350 550
Biaya Transport
(Rp/Km/Kg) 1,5 2,5 3 2
1. Komoditas apa yang ditanam pada areal yang dekat dengan pasar?
2. Komoditas apa yang paling jauh dari pasar?
3. Gambarkan dalam diagram von thunen kelima komoditas diatas!
2.1.4. Aplikasi Model Von Thunen
Penerapan Model Von Thunen dapat diaplikasikan pada identifikasi pola land use dan menjelaskan fenomena Urban Sprawl. Hal ini dapat dikaitkan dengan model Von Thunen Land Rent yang menjelaskan Urban bid-rent Curve (distance decay function), hal ini digunakan sebagai basis analisis bagi penggunaan lahan dan merupakan komponen dasar dalam model penggunaan lahan masa kini. Berikut ini adalah aplikasi model Von Thunen.
16 (buku: Community Economic,Theory & Application)
Gambar 4. Pola Land Use pada Model Von Thunen
Von Thunen Land Rent
Urban bid-rent Curve (distance decay function)
Aplikasinya pada land use
Digunakan untuk melihat sejauh mana alokasi geografis suatu kegiatan di suatu wilayah.
(buku: Community Economic,Theory & Application) Gambar 5. Urban bid-rent Curve
17 Fenomena Urban Sprawl:
Proses perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (Yunus: 125, 2000)
The areal expansion of urban concentrations beyond what they have been. Urban sprawl involves the conversion of land peripheral to urban center that has previously been used for non urban uses to one or more urban uses (Notham, 1975)
The continuos expansion around large cities, where by there is always a zone of land that is in the process of being converted from rural to urban use (Harvey dan Clark, 1971)
The growth of metropolitan area through the process of development of miscellaneous types of land use in the urban fringe area (Domouchel, 1976)
Faktor Urban Sprawl : Gerak Sentrifugal (Daldjoeni, 1987)
Gerak sentrifugal gerak keluar dari penduduk dan berbagai usahanya dispersi kegiatan manusia dan relokasi zona-zona kota
Hal yang mendorong gerak sentrifugal (Daldjoeni, 1987):
Gangguan yang berulang, seperti kemacetan dan polusi
Industri modern memerlukan lahan relatif kosong di pinggiran kota memungkinkan pemukiman tidak padat dan bebas kemacetan
Sewa tanah yang jauh lebih murah dibandingkan dengan di tengah kota
Terbatasnya perluasan ruang keterbatasan lahan di tengah kota
Perumahan di dalam kota umumnya sempit, kuno, tidak sehat perumahan di pinggir kota dapat lebih sehat, luas, model mutakhir
Sebagian penduduk secara naluri berkeinginan menghuni wilayah di luar kota yang terasa lebih alami
Model Von Thunen dalam menjelaskan fenomena Urban Sprawl
Penjelasan urban sprawl melalui model Von Thunen:
Prinsip penggunaan lahan: highest and best
Penggunaan lahan untuk pertanian dan kehutanan memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan untuk perumahan, industri, komersial harga komoditi dianggap stabil kurva bid-rent relatif flat dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya
Asumsi terjadi pertumbuhan ekonomi di wilayah perkotaan
Latar Belakang Pertumbuhan urban sprawl
Ekonomi meningkat stimulasi pasar tenaga kerja pengangguran lebih rendah dan pendapatan pekerjaan lebih baik makin banyak perumahan baru permintaan
18
lahan untuk perumahan, industri, komersial meningkat alokasi geografis akan permintaan lahan juga meningkat.
Dampak Pertumbuhan
Permintaan meningkat akan lahan suplai lahan dengan pengubahan guna lahan terjadi konversi lahan peningkatan harga lahan pergeseran bid-rent curve pergeseran edge of city “URBAN SPRAWL”
Model Von Thunen dalam menjelaskan fenomena Urban Sprawl (buku: Community Economic,Theory & Application)
Gambar 6. Fenomena Urban Sprawl
Aplikasi Model Von Thunen
Model Von Thunen merupakan dasar teori dalam pengembangan teori lokasi selanjutnya.
Model Von thunen dalam perkembangan mengalami penyempurnaan dari para ahli lainnya, untuk dapat lebih menjelaskan gambaran kompleks analisa lokasi saat ini, akibat perkembangan teknologi transportasi, teknologi produksi. Sehingga hambatan jarak menjadi relatif.
19 Referensi:
1. Perencanaan dan pengembangan Wilayah (2009), Ernan Rustiadi, Sunsun saefulhakim, Dyah R. Panuju. Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
2. Perencanaan Pembangunan Wilayah (2005). Robinson Tarigan. Bumi Aksara. Jakarta
3. Pembangunan Wilayah; Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan (2004). Iwan Nugroho dan Rochmin Dahuri. LP3ES. Jakarta.
4. Community Economic: Theory & Application, second edition.(2004). pengarang: Ron Shaffer, Steve Deller, Dave Marcouiller. Penerbit: Blackwell Publishing.
2.2. Teori Weber : Industrial Location Theory
In 1909 the German location economist Alfred Weber formulated a theory of industrial location in his book entitled Über den Standort der Industrien (Theory of the Location of Industries, 1929). Weber's theory, called the location triangle, sought the optimum location for the production of a good based on the fixed locations of the market and two raw material sources, which geographically form a triangle. He sought to determine the least-cost production location within the triangle by figuring the total costs of transporting raw material from both sites to the production site and product from the production site to the market. The weight of the raw materials and the final commodity are important determinants of the transport costs and the location of production. Commodities that lose mass during production can be transported less expensively from the production site to the market than from the raw material site to the production site. The production site, therefore, will be located near the raw material sources. Where there is no great loss of mass during production, total transportation costs will be lower when located near the market.
Gambar 7. Weber’s Triangle
20 Perhitungan indeks bahan baku (IB)
IB = Bobot bahan baku local / Bobot produk akhir Keterangan:
- IB > 1, perusahaan akan berlokasi dekat ke bahan baku, - IB < 1, perusahaan akan berlokasi dekat ke pasar
Konsep ini dijelaskan dengan menggunakan segitiga lokasional, di mana lokasi optimum (p) adalah keseimbangan antara kekuatan yang ditimbulkan oleh sumber bahan baku (input 1 dan input 2) dan titik pasar (market). Untuk mengetahui apakah lokasi optimum lebih dekat ke sumber input atau pasar, digunakan index bahan, yaitu perbandingan berat input bahan lokal dengan berat produk akhir.
Asumsi teori Weber:
1. Unit studi terisolasi, homogen, konsumen terpusat di titik tertentu, semua unit perusahaan dapat memasuki pasar yang tidak terbatas (persaingan sempurna).
2. Sumber daya alam: air, pasir, lempung, tersedia di mana-mana (ubiquitous)
3. Bahan lainnya seperti mineral dan biji besi tersedia terbatas pada sejumlah tempat (sporadis) 4. Tenaga kerja tidak tersedia secara luas, mengelompok pada beberapa lokasi dan mobilitasnya
terbatas.
Isotim dan Isodapane
Isotim is line of equal transit costs from a alocation.
Market isotim+input isotims + total cost
Isodapanes is lines of equal total cost between all points within a production system (equal sum of isotims)
Gambar 8. Isotim
21
Gambar 9. Isodapane
FAKTOR LOKASI MENURUT ALFRED WEBER (1909)
Berdasarkan kelaziman yg terjadi
Berlaku umum dan praktis untuk setiap kegiatan industri (biaya transport, biaya tenaga kerja, biaya lahan, etc.)
Berlaku khusus dan hanya terjadi pada kegiatan tertentu pada bobot (bahan mentah dan produk mudah busuk, kelembaban udara, aliran air)
Berdasarkan pengaruh ruang
Faktor regional dimana industri tertarik pada aspek geografis tertentu, jaringan utama orientasi industri (ketersediaan lahan, simpul transportasi, tempat bongkar-muat, pelabuhan). Faktor regional yang murni ekonomi adalah harga bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya transport
Faktor aglomerasi/deglomerasi dimana dalam jaringan utamanya tidak tergantung pada orientasi geografis, antar industri saling terkait atau saling berjauhan (menekan harga melalui produksi massal, penggunaan mesin yg lebih baik (internal faktor), ketersediaan bantuan (eksternal faktor)
Berdasarkan sifat dan keadaan
Faktor alamiah dan teknis: posisi dan iklim, tingkat upah (umr), kualitas tenaga kerja
Faktor sosial budaya: tingkat suku bunga, tingkat pendidikan, tingkat kinerja
Referensi:
Alfred Weber and Subsequent Developments in Industrial Location Theory (http://faculty.washington.edu/krumme/450/weber.html)
22
2.3. Teori Lösch dan Christaller : Central Place Theory
Teori Christaller (1933)
Model Christaller menjelaskan model area perdagangan heksagonal dengan menggunakan jangkauan atau luas pasar dari setiap komoditi yang dinamakan range dan threshold.
Teori Central Place diperkenalkan pertama kali pada tahin 1933 oleh seorang Geographer Walter Christaller yang menjelaskan distribusi spasial kota dalam suatu ruang. Pada suatu pusat kotadi Selatan Jerman, Crhristaller berpendapat bahwa tujuan utama sebuah pusat permukiman atau pasar adalah menyediakan barang dan jasa untuk populasi di lingkungan sekitarnya. Teori Central place menggunakan konsep dasar threshold dan range. Lokasi atas suatu tempat ditentukan oleh threshold-nya, atau kebutuhan area pasar minimum atas suatu barang maupun jasa untuk dapat ditawarkan secara ekonomis, contohnya membawa sebuah perusahaan dapat mengadakan barang dan jasa dan menjaganya menjadi sebuah bisnis.
Christaller menyarankan bahwa setiap lokasi mengembangkan pasarnya sampai rangenya atau ukuran maksimum/jarak maksimum dimana konsumen mampu melakukan perjalanan untuk menjangkau suatu komoditi atau jasa. Dalam kondisi ideal pusat pasar dengan ukuran dan fungsi yang sama akan memiliki jarak yang sama satu sama lain.
Gambar 10. Ilustrasi Range dan Threshold
Teori Christaller mengasumsikan kondisi ideal dimana sebuah dataran homogen yang sama dengan kepadatan populasi dan daya beli yang sama. Dalam hal ini, teori central place mirip dengan teor lokasi Weber dan Von Thunen, dimana lokasi diasumsikan euclidean, dataran isotropic dengan kemampuan daya beli konsumen yang sama besar ke segala arah. Christaller menyarankan bahwa barang dan jasa dapat dikategorikan menjadi rangkaian tingkatan dari kekhususan rendah atau orde dasar (seperti produk pangan) sampai orde tinggi atau memiliki kekhususan tinggi (seperti sebuah tingkatan layanan kesehatan atau tingkatan alat-alat rumah tangga maupun kendaraan). Misal: dilakukan kategorisasi atau pengelompokan produk.
Kelompok 1: diperlukan sehari-hari: produk pangan.
Kelompok 2: diperlukan setiap 3 bulan sekali: sandang, peralatan rumah tangga, dll.
Kelompok 3: diperlukan setahun sekali: furniture.
Kelompok 4: barang mewah, kendaraan.
Semakin tinggi kelompok barang, range dan threshold nya semakin luas. Dalam konsep ruang, makin luas wilayah pemasaran suatu barang, ordenya semakin tinggi. Pada contoh diatas, barang kelompok 4
23
termasuk pada orde I, barang kelompok 3 sebagai orde II, dst. Masing-masing item atau jasa memiliki optimal market areanya masing-masing dan dapat digambarkan sebagai sebuah radius lingkaran. Untuk memastikan bahwa seluruh bagian dataran terlayani, maka seluruh lingkaran market area harus tumpang tindih. Hasil polanya dapat digambarkan menggunakan bentuk geometrik lingkaran, segi enam, dan segitiga.
Gambar 2.3.2
Gambar 11. Bentuk Heksagon dapat Mengisi Ruang secara Efisien
Asumsi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait teori Christaller adalah terori tersebut berdasar pada sebuah asumsi dimana model tersebut tidak dapat diterapkan pada situasi yang realistis. Asumsi yang digunakan adalah:
1. Permukaan bumi datar, tak terbatas, dan memiliki sumber daya yang homogen dimana tersebar secara merata atau dengan kata lain tidak terdapat perbedaan kondisi geografis;
2. Tidak terdapat batasan administrasi dan politis yang dapat menyimpangkan perkembangan permukiman
3. Tidak terdapat eksternal ekonomi yang mengganggu pasar
4. Populasi tersebar secara merata diseluruh area dan tidak terdapat pusat permukiman 5. Banyak pedagang kecil menawarkan produk yang sama dan tidak ada keragaman produk 6. Semua pembeli memilik daya beli yang sama
7. Biaya transportasi sama ke semua arah dan ragamnya sebanding dengan jarak 8. Pembeli membayar biaya transportasi produk atau layanan
9. Tidak ada akomodasi untuk inovasi atau kewirausahaan.
Proses Model Christaller
Mula-mula terbentuk area perdagangan satu komoditi berbentuk lingkaran dengan range dan threshold tertentu. Setiap lingkaran memiliki pusat dan menggambarkan threshold dari komoditi tersebut, lingkaran ini tidak tumpang tindih. Kemudian digambarkan lingkaran berupa range dari komoditi tersebut yang tumpang tindih. Range yang tumpang tindih dibagi antara dua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal heksagonal yang menutupi seluruh wilayah yang tidak tumpang tindih. Tiap komoditi berdasarkan tingkatan rodenya memiliki heksagonal sendiri-sendiri. Dengan menggunakan k = 3, barang orde I lebar heksagonalnya 3 kali heksagonal barang orde II, dst. Tiap heksagonal memiliki pusat yang besar-kecilnya sesuai dengan besarnya heksagonal tersebut. Heksagonal yang sama besarnya tidak saling tumpang tindih, tetapi antara
24
heksagonal yang tidak sama besarnya akan terjadi tumpang tindih. Terdapat komoditi yang range nya luas, sedang, atau kecil. Hirarki yang sama memiliki daerah pemasaran yang tidak tumpang tindih, tetapi hirarki yang berbeda memiliki daerah pemasaran yang tumpang tindih. Berbagai jenis barang pada orde yang sama cenderung bergabung pada pusat dari wilayahnya sehingga pusat itu menjadi lokasi konsentrasi (kota)/central place. Pusat dari hirarki yang lebih rendah berada pada sudut dari hirarki yang lebih tinggi sehingga pusat yang lebih rendah berada pada pengaruh tiga hirarki yang lebih tinggi. Pusat dari beberapa wilayah yang lebih rendah berada di dalam heksagonal dari pusat yang lebih tinggi.
Walaupun heksagonal hanya menggambarkan wilayah pemasaran dari barang dengan orde yang berbeda, tetapi christaller mengaitkan teorinya dengan susunan orde perkotaan. Ada kota yang menjual barang orde IV, III, dst. Kota yang menjual barang orde tertinggi sampai terendah dinyatakan sebagai kota orde I. Makin rendah orde barang yang bisa disediakan oleh suatu kota, orde kotanya juga makin rendah.
Gambar 12. Konsep Heksagon Christraller yang Mendasari Teori Orde kota
Kondisi ini menimbulkan beberapa kota memiliki orde yang lebih tinggi daripada desa yang memiliki orde yang lebih rendah. Akhirnya, muncullah konsep hirarki kota. Untuk setiap urutan tertentu, secara teoritis pemukiman akan memiliki jarak dari satu sama lain. Pemukiman urutan yang lebih tinggi akan lebih jauh terpisah dari urutan yang lebih rendah.
Aplikasi di Indonesia
Penerapan model Christaller di Indonesia, salah satu contohnya dapat dilihat dari hierarki layanan fasilitas kesehatan. Di tingkat kecamatan, PUSKESMAS melayani kebutuhan kesehatan masyarakat pada level penyakit ringan. Di tingkat kabupaten, terdapat RSUP yang melayani kebutuhan kesehatan masyarakat dengan ragam layanan yang lebih bervariasi sehingga penyakit berat dapat ditangani dan jangkauan layanan yang lebih jauh.
Sedangkan di tingkat propinsi, RSUP mampu memberikan layanan kesehatan lengkap untuk segala macam penyakit dan jangkauan layanan paling luas.
25 Evaluasi
Apabila dibandingkan dengan kondisi yang sebenarnya terdapat beberapa hal yang perlu dicermati terkait asumsi yang digunakan oleh Christaller yaitu:
1. Biaya produksi bervariasi, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi saja tetapi juga oleh faktor ketersediaan SDA
2. Biaya transportasi tidaklah sama ke segala arah
3. Pasar lingkup rumah tangga tidak tersebar secara merata
4. Praktek-praktek kompetisi dapat mengakibatkan terjadinya persaingan pasar tidak sempurna
Teori Lösch (1940)
Ahli ekonomi dari Jerman, August Losch, memodifikasi dan melengkapi teori central place Christaller. Dalam bukunya, The Spatial Organization of the Economy (1940), Losch memulainya dengan skala aktivitas ekonomi terkecil yaitu pertanian, dimana secara reguler lahan pertanian terdistribusi di seluruh dataran dengan pola kisi-kisi segitiga.
Losch mengusulkan sebuah model konsumen berdasarkan stuktur administratif dan industri yang berseberangan dengan pusat layanan Christaller. Didasarkan pada asumsi yang tidak realistik, teori pusat layanan merupakan sebuah titik awal yang membantu untuk membangun sebuah pemikiran mengenai perbedaan perkembangan komunitas dan meskipun demikian juga berguna dalam pertimbangan untuk lokasi perdagangan dan layanan serta ketentuan untuk lokasi barang dan jasa khusus. Konsep dari sebuah penataan suatu hirarki juga mempertimbangkan dampak jaringan sosial terhadapa aktivitas ekonomi dan pergerakan orang yang termodifikasi berdasarkan tingkatan hirarki atas layanan yang tersedia. Teori pusat layanan memberikan sebuah pondasi untuk sebuah bangunan besar penelitian empiris atas kerangka pembangunan kota dan hal ini berguna untuk pembangunan ekonomi kota dan wilayah yang memiliki isu mengenai lokasi dan kelangsungan hidup aktivitas ekonomi.
Gambar 13. Keberagaman Fungsi di Metropolis yang Masing-masing memiliki Market Area
Menurut Losch, suatu metrópolis memiliki fungsi yang berragam dan fungsi tersebut memiliki area pasar yang dibatasi oleh range dan thresholdnya masing-masing. Jadi tidak perlu ditentukan sebuah hirarki pasar karena akan muncul dengan sendirinya.
26
Gambar 14. Jaringan Kota yang Dibentuk oleh Ragam Fungsi (Aktivitas) yang berbeda
Gambar di atas menunjukkan, bahwa masing-masing fungsi membentuk pangsa pasarnya masing- masing, yang saling bertumpang tindih dengan pangsa pasar yang lainnya yang akhirnya membentuk suatu jaringan. Losch berseberangan dengan Christaller dimana ditegaskan bahwa tidak semua orde tinggi dibentuk oleh konstruksi orde yang lebih rendah.
Referensi
Caves, Roger W. (2005) Encyclopedia of The City, London and New York: Taylor and Francis Group.
Christaller, W. (1966 [1933]) Central Places in Southern Germany (Die zentralen Orte in Süddeutschland), trans. C.W.
Baskin, Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Lösch, A. (1954 [1940]) Economics of Location, trans. William Woglom from 2nd rev. edn, New Haven: Yale University Press.
2.4. Teori Hotelling: Spatial Competition and Competitive Differentiation
Muncul sebagai kelemahan teori lokasi yang mengasumsikan bahwa karakter demand dalam suatu ruang (space) adalah seragam
Pengembangan dari konsep “least-cost location” dengan mempertimbangkan “ketergantungan lokasi”
Produsen dalam memilih lokasi industri berprilaku untuk menguasai market area seluas-luasnya yang dipengaruhi oleh perilaku konsumen dan keputusan berlokasi produsen lainnya
Kontributor pemikiran: Fetter (1942), Hotteling (1929).
Locational Interdependence, Pada kondisi inelastic demand
Industri A pertama kali memasuki market, kemudian industri B berkompetisi dengan A
Jika keduanya berlokasi di tengah, maka market area terbagi sama dari kedua industri
Jika B berpindah ke kanan, harga di kanan lebih rendah dibandingkan dengan harga di tengah
27
Jika, demand-nya inelastic (membeli produk pada harga berapa pun) maka B tidak mendapat keuntungan dari perubahan lokasi ini
Gambar 15. Locational Interdependence pada Inelastic Demand
Locational Interdependence, Pada kondisi elastic demand
Dua industri A dan B berkolusi memonopoli pasar dan berlokasi pada posisi kuartil
Keduanya membagi market area sama luasnya Perbandingan dengan lokasi di tengah, biaya angkut di lokasi kuartil lebih besar dibadingkan dengan lokasi yang di tengah
Keuntungan berlokasi di kuartil melebihi berbagai kemungkinan alternatif lainnya
Pemikiran Hotteling dikritik oleh Devletoglou (1965) bahwa market area yang dipisahkan oleh garis indiferen adalah tidak realistis
Gambar 16 Locational Interdependence pada Elastic Demand
Referensi:
Robinson Tarigan, Perencanaan Pembangunan Wilayah, edisi revisi, 2005.
Industrial Location; an Economic Geographical Analysis. David M. Smith, 1971.
28
2.5. Teori Alonso Faktor-faktor Dasar Lokasi
William Alonso extended the Von Thünen model in his book Location and Land Use (1964) and put it in an urban context. The central market town in the Von Thünen model is interpreted by Alonso as a city with a Central Business District (CBD) in the city centre. Households must commute there in order to work in the CBD. Again transportation costs are considered the main explanatory factor in the location decision of households and enterprises. This so-called bid-rent function approach now forms the basis of all contemporary theories on land use and land values.
The bid rent theory is a geographical economic theory that refers to how the price and demand for real estate changes as the distance from the Central Business District (CBD) increases. It states that different land users will compete with one another for land close to the city center. This is based upon the idea that retail establishments wish to maximize their profitability, so they are much more willing to pay more money for land close to the CBD and less for land further away from this area.
This theory is based upon the reasoning that the more accessible an area (i.e., the greater the concentration of customers), the more profitable.
Bid-rent functions are typically formulated as follows:
A household is supposed to spend its income on three things:1) land, 2) transportation costs and 3) all other goods. The household requires a location in a simplified city, which is monocentric, uniform, and in which markets are competitive. Employment, goods, and services are only available in the city centre. For an individual household the prices of land are given. Land prices are supposed to decrease with increasing distance from the city centre, which is “essentially true for most cities” and a requirement for the market equilibrium.
29
Gambar 17. Bid Rent Curve
Land users all compete for the most accessible land within the CBD. The amount they are willing to pay is called "bid rent". The result is a pattern of concentric rings of land use, creating the Concentric zone model.
It could be assumed that, according to this theory, the poorest houses and buildings will be on the very outskirts of the city, as that is the only place that they can afford to occupy. However, in modern times this is rarely the case, as many people prefer to trade off the accessibility of being close to the CBD, and move to the edges of the settlement, where it is possible to buy more land for the same amount of money (as Bid Rent states). Likewise, lower income housing trades off greater living space for greater accessibility to employment. For this reason low income housing in many North American cities, for example, is often found in the inner city, and high income housing is at the edges of the settlement.
Though later used in the context of urban analysis, though not yet using this term, the bid rent theory was first developed in an agricultural context. One of the first theoreticians of bid rent effects was probably David Ricardo, according to whom the rent on the most productive land is based on its advantage over the least productive, the competition among farmers ensuring that the full advantages go to the landlords in the form of rent. Later, this theory was developed by J. H. von Thünen who combined it with the notion of transport costs. His model implies that rent at any location is equal to the value of its product minus production costs and transport costs. Admitting that transportation costs are constant for all activities, this will lead to a situation where activities with the highest production costs are located near to the market place. Those with low production costs will be farther away.
30
The concentric land-use structure thus generated closely resembles the urban model described above: CBD - high residential - low residential. This model, introduced by William Alonso, was inspired by von Thünen's model.
Land users, whether they be retail; office; or residential, all compete for the most accessible land within the CBD. The amount they are willing to pay is called bid rent. This can generally be shown in a ‘bid rent curve’. Based upon the reasoning that the more accessible the land, generally in the centre, is the more expensive land.
Commerce (in particular large department stores/chain stores) is willing to pay the greatest rent to be located in the inner core. The inner core is very valuable for them because it is traditionally the most accessible location for a large population. This large population is essential for department stores, which require a considerable turnover. As a result, they are willing and able to pay a very high land rent value. They maximise the potential of their site by building many stories.
As one goes farther from the inner core, the amount commerce is willing to pay declines rapidly.
Industry, however, is willing to pay to be in the outer core. There is more land available for their factories, but they still have many of the benefits of the inner core, such as a market place and good communications.
As one goes farther out, the land becomes less attractive to industry because of the reducing communication links and a decreasing market place. Because householders do not rely heavily on these and can now afford the reduced costs (when compared with the inner and outer core),they can purchase land. The further from the inner core and, the cheaper the land. This is why inner city areas are very densely populated (terraces, flats and high rises), whilst the suburbs and rural areas are sparsely populated (semi and detached houses with gardens).
Referensi
Dedi NS Setiono [2011], Ekonomi Pengembangan Wilayah: Teori dan Analisis, Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta
Rustiadi, Ernan, et.al. [2009], Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Sjafrizal [2008], Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi, Baduose Media, Padang
Tarigan, Robinson [2006], Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi, Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta
Krumme, (http://faculty.washington.edu/krumme/450/weber.html)
William Alonso [1964], Location and Land Use, Harvard University Press, Cambridge, MA.
William Alonso [1960], a theory of the urban land market, Papers in Regional Science, Volume 6, Issue 1, pp 149 – 157.
31
BAB 3. PENDEKATAN DALAM ANALISIS LOKASI
3.1. Dasar-dasar dan Analisis lokasi kegiatan industri
FAKTOR LOKASI UNTUK KEGIATAN INDUSTRI
FAKTOR LOKASI DARI SISI MAKRO
Transportasi
Jarak terhadap pemasok, konsumen
Ketersediaan komunikasi (pos, bank, telkom, etc)
Posisi terhadap jaringan jalan (arteri, kolektor, tol)
Posisi terhadap jaringan kereta api & terminal container
Posisi terhadap kanal, angkutan sungai & penyeberangan
Posisi terhadap bandara, pelabuhan
Tenaga kerja
Ketersediaan tenaga kerja
Kemampuan/keterampilan (profesional, tukang, buruh)
Upah tenaga kerja
Tempat pelatihan tenaga kerja (blk)
Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
Iklim (temperatur, kelembaban, curah hujan, etc.)
Pajak, retribusi, pungutan, insentif
FAKTOR LOKASI DARI SISI MIKRO
Lahan
Layanan transportasi
Penyediaan energi
Kelistrikan (tegangan, kinerja, gardu induk, biaya samb.)
Gas (jenis pelayanan, jaring distribusi, harga, biaya samb.)
Batubara
Penyediaan air bersih
Layanan jaringan pdam (sambungan, kinerja, sumber air, harga jual)
Penggunaan air tanah (kualitas, kuantitas)
Pengolahan limbah cair
Pengelolaan limbah padat
Kegiatan usaha yg berdekatan
32 PERTIMBANGAN DALAM PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI
Location of resources & markets
Changing demand for products
Transportation costs for assembly & distribution
Variations in manufacturing costs; principally in labor cost, but also in land cost, costs of heating
& cooling the plant, disposal of waste, and corporate & inventory taxes
Scale of operations
Techniques of production – labor-intensive or capital intensive
Availability of capital
Governmental policy that serves to encourage industry to locate in special areas by guaranteeing markets, providing land and/ or trained employees & tax reductions
Agglomeration economies achieved through availability of specialized services & inter-industry linkages between suppliers & customers within specialized manufacturing regions
Amenity factors, such as superior schools, or location adjacent to college or university, which offers pool of prospective employees. Mild climate, cultural amenities, and suburban locations are especially to management
Gambar 18. Variabel Lokasi Industri
33
Gambar 19. Kasus 1 Lokasi Alternatif
Gambar 20. Kasus 2 Lokasi Alternatif
34
Gambar 21. Kasus 3 Lokasi Alternatif
Gambar 22. Kasus 4 Lokasi ALternatif
35
Gambar 23. Kasus 5 Lokasi ALternatif
KLASIFIKASI INDUSTRI
Resource orientation: utilize bulky or perishable raw material normally seek location close to source of raw material. Expl. Mining industries, fruit canning
Market orientation: location of market-oriented industries having high distribution cost is positively correlated with location of population.
expl. Printing industries, office equipment & supplies
Optional orientation: industries can be either market or resource oriented because of ability to rearrange (exchange) technique production to maximize profitability of alternative location
Gambar 24. Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi
36 Theories of Industrial Clusters
Discussion of two theories of regional clusters, (Marshallian) industrial districts and Porters regional clusters.
The two cluster theories are discussed in the context of innovation. A main theme is to which extent and how the two types of clusters stimulate the innovation capability of cluster firms.
The interest in innovation is related to some ‘stylised facts’ about firms’ innovation processes:
- Firms rely first of all on internal competence in their innovation activity
- However, firms also often bring in ideas, information and knowledge from external actors during the innovation process
- The ‘quality’ of the external environment and the firms’ ability to use external knowledge determine to a large extent the innovation capability of an economy
- Firms often find external actors of importance for their innovation process in their local area.
These actors may constitute regional clusters or innovation systems.
What is an industrial district? Definition of the districts
The districts have many firms and jobs in one or a few adjacent industrial sectors in a local area.
(The area is overrepresented with jobs in a sector compared with the national average, as measured with location quotients)
Local networks between firms creating external economies, i.e. the achievement of effective production through extensive, external division of labour between firms specialising within various phases of a production chain. (What can happen to achieve more effective production when firms share the same suppliers?)
A specific, local socio-cultural dimension denoted as Marshallian agglomeration economies consisting of three factors:
a) mutual trust between firm leaders, workers etc. that reduces transaction costs, b) accumulation of skill among workers (denoted as an ‘industrial atmosphere’)
c) stimulation of incremental innovations through ‘learning by doing’ and ‘learning by using’ by factor a and b
Alfred Marshall’s century-old theory of industrial districts. (Marshall 1890, 1920)
Marshall’s basic point about why companies in the same industry congregate still holds: industrial districts enjoy the same economies of scale that only giant companies normally get. Specialized suppliers arrive. Skilled workers know where to come to ply their trade. And everyone involved benefits from the spillovers of specialized knowledge. As Marshall put it, “The mysteries of the trade become no mysteries, but are as it were in the air.” (James Surowiecki 2000, p. 68, emphasis added.) Back to Marshall’s external economies
”Something is in the air” – i.e. benefits that are not represented as costs for the single firms:
Labour market pooling
Networks of supplier and auxiliary firms
Localised knowledge spillovers From Mark I to Mark II Industrial Districts
Mark I Industrial districts: Traditional industrial districts with considerable growth in the 1960s and 70s. The local system of firms is innovative, first of all as regards small, stepwise changes in products and processes (incremental innovations). The innovation activity builds on the experience based competence of entrepreneurs and skilled workers, and on close cooperation between persons and firms in an atmosphere of mutual trust and understanding (i.e.
agglomeration economies)
Mark II industrial districts: In the 1980s the traditional industrial districts had to upgrade themselves to mark II districts in order for firms to carry out more radical innovations. Radical
37
innovations were necessary to meet increased competition from low cost countries and to introduce more advanced technology. Upgrading to mark II districts take place through the establishment of centres for real service. The centres have specialised competence for the dominating industrial sectors in the districts. The centres offer subsidised services to firms, such as information about markets and technological development, help in exporting or in introducing new production equipment. The centres supply the system of firms with professional competence that small firms often cannot possess themselves, but competence necessary to carry out more radical innovations
Why the large interest in industrial districts?
The interest in industrial districts far exceeds their empirical significance. Districts are of some importance in countries with craft traditions like Italy, Spain, France, Denmark (and examples are found in Norway)
The interest of the districts is rooted in:
a) the fact that the districts may constitute a possibly new and more human-centred industrial development. The model symbolise the possibility of small firms and craft skills in a world of impersonal big firms and deskilling
b) the emphasizing of social and cultural factors (as traditions and trust) in economic life, i.e. that industrial development rely on more than ‘economic factors’,
c) what the districts can tell about the mechanisms of innovation, learning and knowledge flow, i.e. that these build on factors in the local environment and not just on factors internal to firms,
d) what the districts have to say about the possibility of independent SMEs to be internationally competitive as long as the SMEs collaborate, i.e. that local areas can develop without relying on large firms
The boat-building industry in the Arendal-Grimstad region: The growth of an industrial district?
The development of the industry: Six historical phases
1. The start: Tradition and knowledge about boatbuilding from the period of sailing vessels, when Arendal was by fare the largest shipping town in Norway
2. The revolution with the building of glass fibre boats in the 1950s. This kind of boat building started in Arendal by the linking of external knowledge and local competence
3. Spreading of the knowledge in the local area in the 1950s and 60s, giving rise to many start-ups and growth
4. The growth of giant firm Fjord Plast, and the centre for the building of motor boats in Europe 5. Restructuring in the 1970s and 80s. Start-ups, specialisation on firm level and growth of
subcontractors
What is an industry cluster?
Geographic concentration of interconnected companies and institutions in a particular field
A cluster includes
the core or driver industries
upstream industries (suppliers)
downstream industries (customers)
other institutions (such as, agricultural extension, research labs, trade associations, and so on)
The background of Porter’s cluster theory
Michael Porter departs from studies of firm strategies, particularly the question of how individual firms can compete internationally
38
In the 1980s he started to study what makes a nation’s firms and industries competitive in global markets. This research led to the theory of clusters, first national clusters (1990), then regional clusters (1998)
The central idea behind the cluster theory is:
a) that the national (or regional) environment is of central importance in stimulating firms’
competitiveness (‘Competitive advantage is created and sustained through a highly localized process’),
b) that the environment influences the ability to succeed in particular industries or industry segments (nations become the home base for competitive firms in some particular industries, and most important is competitiveness in sophisticated industries),
c) that the international successful firms in an industry constitute systems or clusters of firms, and
d) that firms and industries become competitive by continually upgrading and innovation (and by developing new and sophisticated industries)
Porter’s cluster definition
Clusters are geographic concentrations of interconnected companies, specialised suppliers, service providers, firms in related industries, and associated organisations (such as universities, standard agencies, trade associations) in a particular field linked by commonalities and complementarities.
There is competition as well as cooperation.
Why are Industry Clusters Important?
Industry clusters create a competitive advantage for the region.
The competitive advantage derives from four factors (M.E. Porter, 1990):
Factor conditions
Demand conditions
Related and supporting industries
Firm strategy, structure, and rivalry
Gambar 25. Porter’s Diamond
Source: Michael Porter, Harvard Business School
The sources of locational competitive advantage in a nation (‘the diamond’)
Four broad attributes of a nation form an environment that can promote or impede the creation of competitive advantage by firms in specific industries
1) Factor conditions. Factors of production (inputs) such as skilled labour, natural resources, capital or infrastructure. Important factors are created, and disadvantage of
Firm Strategy and Rivalry
Related and Supporting
Industries Factor
(Input) Conditions
Demand Conditions
39
factors can contribute to sustained competitive success (e.g. automation because of high labour costs)
2) Demand conditions. The quantity and particularly quality of home demand for the industry’s products / services (the importance of sophisticated and demanding customers for innovation).
3) Relating and supporting industries. Supplier and related industries that are international competitive. Support cost-effective supplies and stimulates innovation
4) Firm strategy, structure, and rivalry. How companies are created, organised, and managed, and the nature of domestic rivalry. How firms are managed support some type of industries more than others (f.ex. liberal and coordinated market economies
‘support’ different types of industries)
Two additional variables can influence the national system in important ways; chance and government policy
What are Industry Clusters?
Three critical conceptual dimensions:
1. Linkage, Interdependence between businesses/industries/sectors 2. Stage of development, Clusters may be existing, emerging, or potential 3. Geography
Linkage
The heart of cluster analysis
May be formal or informal
Sources
common value (e.g. production, market) chains
similar labor skill requirements
shared or similar technologies
or knowledge and/or innovation exchange
Choice of study linkage determined, at least in part, from policy goals.
Stage of Development
Offers different cluster types for study focus, depending on goals
Existing stage
Existing clusters are those that have reached a critical mass in size and/or diversity of operation
Existing clusters may be expanding or contracting at any given point in time
Emerging
Emerging clusters are likely to achieve critical mass, given current trends
Potential
Potential clusters are those with potential, but uncertain growth environment and possibly have only a few related industries
Geography
Clusters must be identified by more than locality
Regional concentration versus global dispersion
Cross boundary linkages
Study order:
Linkage/economic logic (Geographic concentrations)
40 Cluster Organizations
Help identify careers in related industries
Help guide local schools and colleges in providing appropriate training
Help policy makers understand the connections between industry requirements and the training needed for successful welfare reform and implementation of the Workforce Investment Act What is a cluster?
Firms in one or more industries that have competitive advantage in a region
Cluster competitive advantage may be based on resources, shared labor pool, access to research or other institutions, presence of significant customers or suppliers in the region, and innovation within the cluster
Empirical definition in this study:
High LQ, strong inter-industry ties (sales or purchases from other industries as depicted in input-output model), or moderate LQ + significant size
Data sources: IMPLAN input-output model for each WDA, ESD data on cluster characteristics
Industry Cluster Bubble Chart Four Quadrants
Northwest: Mature clusters
Specialization and slow or declining growth
Northeast: Star clusters
Specialization and fast growth
Southeast: Emerging clusters
Not specialized, but fast growth
Southwest: Transforming clusters
Not specialized and slow or declining growth
Gambar 26. Madison County, Missouri Industry Clusters
-1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0
-150 -100 -50 0 50 100 150 200
% chg in LQ 2001-2006
LQ in 2006
41
Gambar 27. The California Wine Cluster
Keterkaitan Pusat Pertumbuhan Dan Pengembangan Industri
Dalam proses pembangunan akan timbul industri unggulan yang merupakan industri penggerak utama dalam pembangunan daerah
Pemusatan industri pada suatu daerah akan mempercepat pertumbuhan ekonomi
Kegiatan ekonomi yang timbul merupakan gabungan dari sistem industri-industri unggulan dengan industri-industri yang tergantung dari industri unggulan
Aspek lokasi dalam pengembangan industri
Industri yang didasarkan pada ketersediaan bahan baku (resources based industry)
Industri yang memproses hasil dari sektor primer, misal bahan pertanian dan bahan pangan, dimana ditentukan oleh ketersediaan bahan baku/bahan mentah yang tersedia di daerah tersebut
Industri yang dekat dengan pasar produksi (market oriented industry)
Industri bahan makanan yang tidak tahan lama dan industri jasa-jasa
Industri yang letaknya netral terhadap pasar maupun bahan mentah (foot-loose industry)
Industri yang umumnya terdiri dari industri pengolahan dimana efisiensinya tidak tergantung pada bahan baku yang tersedia di daerah tersebut
Konsepsi ekonomi spasial dalam pengembangan industri
WILAYAH PUSAT PERTUMBUHAN INDUSTRI (WPPI)
42
Beberapa Zona Industri yang memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembangnya kegiatan industri dan mempunyai keterkaitan ekonomi yang bersifat dinamis karena didukung sistem perhubungan yang mantap
ZONA INDUSTRI
Satuan geografis sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya kegiatan industri baik berupa industri dasar yang berorientasi pada sumber daya alam, industri kunci yang bertumpu kepada pengolahan potensi pembangunan yang ada, maupun industri hilir yang berorientasi kepada konsumen akhir dengan populasi tinggi, sebagai penggerak utama (prime mover)yang secara keseluruhan membentuk berbagai kawasan-kawasan yang terpadu dan beraglomerasi dalam kegiatan ekonomi yang mempunyai daya ikat spasial, sehingga mewujudkan suatu sistem ekonomi dalam batasan jarak tertentu.
PENGELOMPOKAN LOKASI INDUSTRI BESAR DAN MENENGAH
Kompleks Industri
Lokasi industri yang berlokasi di luar kota dan jauh dari permukiman penduduk, terutama untuk menampung industri-industri dasar dan lebih dikenal dengan istilah Kompleks Industri yang menjadi inti Zona Industri.
Estat Industri (Industrial Estate)
Lahan yang dipersiapkan secara khusus guna menampung industri-industri yang bersifat manufaktur yang dikelola oleh suatu manajemen terpusat, dengan luasan yang cukup memadai bagi pengembangan sistem kegiatan industri yang terintegrasi yang lokasinya masih di dalam radius pelayanan sarana dan prasarana perkotaan.
Lahan Peruntukan Industri/Kawasan Industri (Umum)
Lokasi industri yang telah ditetapkan dalam Master Plan suatu daerah / kota yang biasanya terletak pada jalur jalan regional di luar wilayah yang dapat bersifat pertumbuhan pita atau plotting setempat dan masih berbaur dengan kegiatan lain secara lebih teratur.
Kawasan Berikat
Lokasi industri yang berlokasi pada areal yang mempunyai tingkat aksesbilitas tinggi baik dari dan ke pelabuhan maupun airport, mempunyai ketentuan-ketentuan pabean khusus dan dimaksudkan untuk proses pengolahan manufaktur dan pergudangan berorientasi ekspor.
PENGELOMPOKAN LOKASI INDUSTRI KECIL
Permukiman Industri Kecil
Lokasi industri kecil yang biasanya berbaur dengan permukiman para pengusaha dan pengrajin dalam tingkat aglomerasi yang cukup besar dari beraneka ragam jenis industri kecil terkait, terletak di daerah pinggiran kota (daerah semi urban).
Sentra Industri Kecil
Lokasi industri kecil, berbaur atau tidak berbaur dengan daerah permukiman para pengrajin dalam jumlah relatif kecil atau industri-industri sejenis dan terletak di dalam kota atau di pedesaan.
Sarana Usaha Industri Kecil (SUIK)
Tempat-tempat usaha industri kecil yang d