• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIREKTORAT JENDERAL PENGOLA-AN DAB PEVASARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "DIREKTORAT JENDERAL PENGOLA-AN DAB PEVASARAN"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

•PEDOMAN TEKNIS PELAKSANAAN

1NDIKASI GEOGRAFIS TAHUN 2012

07

D REKTORAT PENGEMBANGAN USAHA DAB INVESTASI DIREKTORAT JENDERAL PENGOLA-AN DAB PEVASARAN -AS L PERTAN

KEVEvTERIAy PERTA\ AN

AU

(2)

lB6

(3)

KATA PENGANTAR

Dalam rangka meningkatkan days saing produk pertanian unggulan untuk ekspor, Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian memandang perlu adanya penumbuhan kesadaran masyarakat luas tentang pentingnya Identifikasi Geografis (IG). Untuk itu, pads tahun anggaran 2012 diselenggarakan pertemuan sosialisasi pengembangan indikasi geografis di tingkat Pusat dan Propinsi. Melalui kegiatan ini diharapkan daerah dapat memproses sertifikasi Indikasi Geografis sebagai instrumen perlindungan terhadap kekhasan produk pertanian unggulan yang dihasilkan oleh daerahnya.

Berdasarkan data dan informasi di lapangan, komoditas pertanian yang sudah mendapatkan sertifikasi indikasi geografis masih terfokus pada produk kopi dan baru dimiliki oleh 2 (dua) wilayah/daerah yakni Kopi Kintamani yang berasal dan i Propinsi Bali dan Kopi Gayo yang berasal dani Propinsi Aceh. Padahal, kita mengetahui bahwa cukup banyak komoditas pertanian asal Indonesia yang memiliki karakteristik khas dan menjadi keunggulan daya saing dan komoditas sejenis yang dihasilkan oleh negara lain. Dengan sertifikasi indikasi geografis, diharapkan akan diperoleh manfaat yang luas dan cukup. Secara signifikan berpengaruh terhadap kemajuan dan perkembangan kelompok tani/masyarakat, percepatan pengembangan wilayah, serta peningkatan daya saing produk dimaksud di

Juklak /G-2022

I i

t4b

(4)

pasar domestik maupun intemasional. Untuk memperkuat upaya peningkatan daya saing komoditas kopi, pada tahun 2012 fasilitasi terkait dialokasikan kegiatan pengembangan sertifikasi indikasi geografis akan dilaksanakan pada 11 (sebelas) Propinsi dengan 13 (tiga belas) lokasi penghasil produk pertanian.

Guna mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan pengembangan sertifikasi indikasi geografis, Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hash l Pertanian menyusun Buku Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Sertifikasi Indikasi Geografis untuk propinsi yang menerima alokasi anggaran dekonsentrasi pada tahun 2012. Buku Petunjuk Pelaksanaan ini merupakan acuan pelaksanaan kegiatan Pengembangan Sertifikasi Indikasi Geografis di daerah.

Jakarta, Januari 2012 Direktur

Pengembangan Usaha dan Investasi,

Ir. Jamil Musanif

Juklak IG-2012

I ii

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

I PENDAHULUAN 1

1.1. LATAR BELAKANG 1

1.2. TUJUAN 4

1.3. SASARAN 4

1.4. PENERIMA MANFAAT 5

1.5. RUANG LINGKUP 6

II DEFINISI, KRITERIA DAN KETENTUAN 7 SERTA PERSYARATAN

2.1. DEFINISI 7

2.2. KRITERIA DAN KETENTUAN 8 2.3. PERSYARATAN PENDAFTARAN 11

INDIKASI GEOGRAFIS

III PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN 13 KELEMBAGAAN

3.1. PEMBERDAYAAN SUMBERDAYA 13 MANUSIA (SDM)

3.2. PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN 14 3.3. MANFAAT PERLINDUNGAN 14

INDIKASI GEOGRAFIS

IV PELAKSANAAN 16

4.1. METODE 16

4.2. RUANG LINGKUP 17

4.3. TAHAPAN PELAKSANAAN 18 4.4. PELAKSANAAN FASILITASI 20

INDIKASI GEOGRAFIS

4.5. JADWAL PELAKSANAAN 21

Juklak!G-2012

I iii

(6)

V MONITORING, EVALUASI DAN 22 PELAPORAN

5.1. MONITORING DAN EVALUASI 29

5.2. PELAPORAN 30

VI PENUTUP 31

Juklak /G-2012

I

IV

(7)

I. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Alam tropis Indonesia memiliki anugerah sumber

•daya alam yang beraneka ragam sehingga sektor pertaniannya kaya akan berbagai hasil produk pertanian. Teristimewa, produk pertanian yang dihasilkan di setiap wilayah juga memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu yang menjadi keunggulan produk pertanian dan i masing-masing daerah, balk dan i sisi aroma, cita rasa, warna, ukuran maupun tekstur yang khas yang merupakan keunggulan daya saing produk tersebut. Kekhususan karakteristik produk tersebut dihasilkan dani pengaruh kondisi alam setempat dan interaksinya dengan masyarakat sekitarnya.

Menurut catatan neraca perdagangan nasional, produk pertanian mempunyai kontribusi 16% dani nilai ekspor non migas dan ditargetkan terjadi peningkatan ekspor sekitar 20 % setiap tahunnya.

Kontribusi tersebut, sekitar 93 % disumbang oleh produk perkebunan, seperti minyak sawit, karet, kakao, teh, kopi, dan lain—lain. Dengan demikian, kita patut berbangga hati bahwa beberapa produk pertanian Indonesia, khususnya komoditas

Juklak IG-2012 1

(8)

perkebunan seyogyanya mudah ditemui di pasar internasional. Namun pada kenyataannya, produk pertanian dengan label Indonesia masih sangat terbatas dijumpai di pasar global.

Sebut saja komoditas kopi, misalnya. Daerah penghasil kopi yang menyebar dan i ujung wilayah barat hingga timur Indonesia masing-masing memiliki keunggulan yang khas dan diminati oleh konsumen tertentu, Di Indonesia, daerah produsen kopi yang sangat dikenal kekhasannya diantaranya adalah Aceh (Gayo), Sumatera Utara, Lampung, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan (Toraja). Komoditas kopi Indonesia tersebut beberapa telah dikenal di pasar intemasional, mendapat tempat yang baik di kalangan penggemar kopi dunia, dan bahkan nama daerah asal kopi tersebut telah pula digunakan sebagai "icon" untuk kepentingan pemasaran produk tersebut oleh Negara mitra pengimpor tanpa menyebutkan Negara asalnya. Dengan kata lain, produk pertanian tersebut telah "diakui"

sebagai produk yang dihasilkan oleh Negara pengimpor yang memasarkannya.

Sebagai salah satu upaya perlindungan terhadap keaslian dan kekhasan produk pertanian yang dihasilkan oleh suatu daerah, serta dalam rangka meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar domestik maupun global,

Juklak IG-2012

12

(9)

dipandang perlu adanya kegiatan fasilitasi dalam upaya pengembangan sertifikasi Indikasi Geografis. Sebagai langkah awal, Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian bermaksud membangun kesadaran masyarakat luas mengenai "apa" dan

"mengapa" Indikasi Geografis diperlukan sebagai salah satu instrumen proteksi dan pematenan produk pertanian Indonesia.

Disamping itu, pada fasilitasi ini juga dilakukan beberapa persiapan awal bagi daerah yang bersangkutan dalam memasuki proses sertifikasi IG. Oleh karena itu, Pengembangan IG mencakup kegiatan: 1). penyusunan bahan/materi; dan 2).

Penyelenggaraan pertemuan untuk sosialisasi pengembangan indikasi geografis.

Adapun bimbingan teknis selanjutnya terkait dengan proses sertifikasi IG diharapkan nantinya dapat dilaksanakan oleh Dinas bersangkutan di Daerah.

Melalui kegiatan ini, diharapkan ke depan kualitas khas dan i produk pertanian Indonesia yang dihasilkan oleh suatu daerah atau wilayah dapat lebih dikenal secara luas dan terlindungi keasliannya. Dengan demikian pada akhirnya diharapkan kualitas khas produk pertanian

Juklak IG-2012

1 3

(10)

dimaksud dapat menjadi daya saing yang dapat meningkatkan pemasaran dan melindungi produk pertanian yang bersangkutan dan i pemalsuan dan pemanfaatan ketenaran oleh pihak yang tidak berhak/bertanggung jawab.

1.2. TUJUAN

1. Memberikan panduan bagi petani /produsen/pelaku usaha dan instansi pembina dalam proses pengembangan sertifikasi indikasi geografis.

2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman bagi petani/produsen/pelaku usaha dan pemerintah daerah dalam pengembangan indikasi geografis.

3. Memfasilitasi komunikasi antara petani/produsen/ pelaku usaha dengan pihak terkait dalam rangka pengembangan indikasi geografis.

4. Memberikan pembekalan dasar dalam rangka memasuki proses sertifikasi Identifikasi Geografis khususnya untuk komoditas kopi atau komoditas ekspor lainnya.

Juklak /G-2011 4

(11)

1.3. SASARAN

Sasaran pelaksanaan kegiatan ini adalah tersedianya dukungan untuk memfasilitasi proses pengembangan sertifikasi indikasi geografis beberapa komoditas pertanian unggulan ekspor.

Untuk tahun 2012 komoditas pertanian yang ditargetkan untuk proses sertifikasi Indikasi Geografis adalah komoditas kopi untuk provinsi Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi Selatan dan Papua; komoditas kayu manis untuk provinsi Jambi; komoditas mangga untuk propinsi Jawa Barat; komoditas nilam untuk propinsi Sumatera Barat. Dengan demikian alokasi dana dukungan untuk kegiatan ini menyebar di ll Propinsi yakni : Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

1.4. PENERIMA MANFAAT

Penerima manfaat dan i kegiatan Pengembangan sertifikasi Indikasi Geografis komoditas pertanian khususnya adalah para petani/kelompok tani selaku produsen produk serta para pedagang pengumpul/eksportir /asosiasi komoditas.

Juklak IG-2012

1 5

(12)

1.5. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup buku petunjuk pelaksanaan ini meliputi :

1. Latar belakang, tujuan dan sasaran.

2. Definisi, Kriteria dan Ketentuan serta Persyaratan

3. Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan

4. Pelaksanaan

5. Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan 6. Penutup

Juklak /G-2012 6

(13)

II. DEFINISI, KRITERIA DAN KETENTUAN SERTA PERSYARATAN

2.1. DEFINISI

Indikasi geografis (IG) merupakan Hak Kekayaan Intelektual yang dapat dilindungi. Indonesia merupakan salah satu anggota Trade Related of Intelectual Property Rights (TRIP's) Agreement, yang mewajibkan negara-negara anggota untuk menyusun peraturan tentang indikasi geografis, dengan tujuan memberikan perlindungan hukum terhadap praktek atau tindakan persaingan curang.

Berdasarkan ketentuan Pasal 56 Undang-undang No. 15 tahun 2001 tentang Merek, IG adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang, yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dan i kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.

Hak Indikasi Geografis bersifat kolektif dan ditujukan khusus untuk melindungi nama asal suatu barang dan keterkaitan reputasi serta kualitas.

Perlindungan berlaku selama ciri dan kualitas bisa dipertahankan. Hak IG dimiliki oleh setiap produsen

Juklok !G-2012 7

(14)

dalam wilayah yang bisa memenuhi standar yang digunakan dalam buku persyaratan.

Perlindungan IG di Indonesia diatur dalam Undang- undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.

2.2. KRITERIA DAN KETENTUAN

a. "Tanda" sebagaimana dimaksud dalam definisi Indikasi Geografis merupakan nama tempat atau daerah maupun tanda tertentu lainnya yang menunjukkan asal tempat dihasilkannya barang yang dilindungi oleh Indikasi Geografis. "Tanda" tersebut dinyatakan sebagai Indikasi Geografis apabila telah terdaftar dalam Daftar Umum Indikasi Geografis di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), Kementerian Hukum dan HAM.

b. Indikasi Geografis terdaftar tidak dapat berubah menjadi milik umum.

c. "Tanda" sebagaimana dimaksud pada definisi indikasi geografis hanya dapat dipergunakan pada barang yang memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Buku Persyaratan.

d. "Barang" sebagaimana dimaksud pada definisi indikasi geografis dapat berupa hasil

Juklak IG-2012 8

(15)

pertanian, produk olahan, hash kerajinan tangan, atau barang lainnya.

e. Buku Persyaratan

Buku persyaratan adalah buku tentang identifikasi produk secara rinci yang didalamnya juga menguraikan tentang faktor- faktor yang menjadikan ciri khas suatu produk, yang terdiri dan :

1) Nama Indikasi Geografis 2) Nama barang yang dilindungi

3) Uraian mengenai karakteristik dan kualitas.

4) Uraian mengenai lingkungan geografis serta faktor alam dan faktor manusia.

5) Uraian tentang batas-batas daerah dan atau peta wilayah yang dicakup oleh indikasi geografis.

6) Uraian mengenai sejarah dan tradisi yang berhubungan dengan pemakaian indikasi geografis.

7) Uraian yang menjelaskan tentang proses produksi, proses pengolahan dan proses pembuatan.

8) Uraian mengenai metode yang digunakan untuk menguji kualitas.

Juklak IG-2012 9

(16)

9) Label yang digunakan pada barang dan memuat indikasi geografis

Buku persyaratan ini harus disusun dan ditaati oleh masyarakat produsen pemegang hak Indikasi Geografis.

Indikasi Geografis tidak dapat didaftar apabila tanda yang dimohonkan pendaftarannya :

1) bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum;

2) menyesatkan atau memperdaya masyarakat mengenai : ciri, sifat, kualitas, asal sumber, proses pembuatan barang, dan atau kegunaannya;

3) merupakan nama geografis setempat yang telah digunakan sebagai nama varietas tanaman, dan digunakan bagi varietas tanaman yang sejenis; atau

luklak IG-2012 10

(17)

4) telah menjadi generik (milik umum)

Pemohon (atau melalui kuasanya) yang dapat mengajukan permohonan tertulis terdiri atas:

1) lembaga yang mewakili masyarakat di daerah yang memproduksi barang yang bersangkutan, terdiri atas:

• pihak yang mengusahakan barang hasil alam atau kekayaan alam;

• produsen barang hasil pertanian;

• pembuat barang hash kerajinan tangan atau barang hash industri;

atau

• pedagang yang menjual barang tersebut;

2) lembaga yang diberi kewenangan untuk itu; atau

3) kelompok konsumen barang tersebut.

2.3. PERSYARATAN PENDAFTARAN INDIKASI GEOGRAFIS

Pengajuan pendaftaran Indikasi Geografis disampaikan kepada Direktorat Jenderal HaKI, dengan memenuhi persyaratan berikut :

Juklak IG-2012 11

(18)

a. Diajukan oleh Organisasi b. Mempunyai Buku Persyaratan

c. Memiliki Peta Wilayah Penghasil Produk

Pendaftaran Indikasi Geografis diajukan kepada Direktorat Jenderal HaKI, Kementerian Hukum dan HAM.

Indikasi Geografis adalah hak kolektif yang mendapat perlindungan setelah terdaftar atas dasar permohonan yang diajukan oleh :

a. Lembaga yang mewakili masyarakat di daerah yang memproduksi barang yang bersangkutan, yang terdiri atas :

1) Pihak yang mengusahakan barang yang merupakan hasil alam atau kekayaan alam;

2) Produsen barang hasil pertanian

3) Pembuat barang-barang kerajinan tangan atau hasil industri

4) Pedagang yang menjual barang tersebut b. Lembaga yang diberi kewenangan untuk itu;

atau

c. Kelompok konsumen barang tersebut.

Juklak IG-2012 12

(19)

III. PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN

3.1. PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)

Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengembangan indikasi geografis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, kapasitas dan wawasan dikalangan masyarakat agar menjadi pengelola usaha agribisnis komoditas unggulan dan spesial yang berdaya saing melalui proses sosialisasi. Selain itu, pemberdayaan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran SDM dalam memanfaatkan potensi sumberdaya pertanian yang dimilikinya untuk mengembangkan usaha agribisnis produk unggulan dan spesial di wilayahnya. Melalui, pemberdayaan ini diharapkan usaha agribisnis komoditas pertanian unggulan dan spesial akan tumbuh dan berkembang menjadi kawasan usaha agribisnis unggulan dan spesial yang berdaya saing secara berkelanjutan.

Indikator keberhasilan dan i kegiatan pemberdayaan tersebut adalah tumbuhnya minat untuk membangun Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG). Diharapkan, MPIG akan berkembang kemampuannya dalam mengelola, mengoptimalkan potensi yang ada dan

Juklak IG-2012 13

(20)

menguatkan kelembagaan kelompok tani dalam pengembangan usaha agribisnis produk unggulan dan spesial mulai dan i tahap budidaya hingga pemasarannya.

3.2. PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN

Pengembangan kelembagaan MPIG dilakukan melalui pengembangan kelembagaan ekonomi, pengembangan jaringan usaha, dan fasilitas terhadap akses pemasaran secara bertahap, dinamis dan berkelanjutan.

3.3. MANFAAT PERLINDUNGAN INDIKASI GEOGRAFIS

Perlindungan IG memiliki berbagai manfaat balk bagi produsen maupun bagi konsumen. Bagi produsen, manfaat keberadaan IG dapat dilihat dani aspek ekonomi, aspek ekologi, aspek sosial budaya dan aspek hukum.

a. Aspek Ekonomi; adanya kepemilikan khas suatu produk, peningkatan nilai tambah, peningkatan pemasaran, perlindungan dani pemalsuan produk, peningkatan pendapatan, peningkatan lapangan kerja, keberlanjutan usaha, pengembangan agrowisata, penguatan ekonomi wilayah, percepatan pengembangan

Juklak /G-2012 14

(21)

wilayah serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

b. Aspek Ekologi; menjaga kelestarian alam, mempertahankan kelestarian sumber daya genetik serta peningkatan reputasi kawasan.

c. Aspek Sosial Budaya; mempererat hubungan komunitas produsen, meningkatkan dinamika wilayah, melestarikan adat, pengetahuan serta kearifan lokal masyarakat.

d. Aspek Hukum; memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi produsen dan perlindungan dan i pemalsuan dan pemanfaatan legal, ketenaran produk.

Adapun manfaat IG bagi konsumen antara lain memberikan jaminan kualitas sesuai harapan konsumen terhadap produk IG dan memberikan jaminan hukum bagi konsumen.

Juk/ak IG-2012 15

(22)

IV. PELAKSANAAN

4.1. METODE

Fasilitasi dalam rangka pengembangan sertifikasi indikasi geografis ini akan dilaksanakan dalam bentuk swakelola dengan menggunakan Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2012 yang dialokasikan untuk 13 (tiga belas) lokasi di 11 (sebelas) provinsi dengan komoditas sesuai dengan yang ditentukan oleh masing-masing daerah seperti pada Tabel 1. :

Tabel : Alokasi Kegiatan Fasilitasi IG thun 2012

No. Provinsi Komoditas Keterangan

1. Sumatera Utara Kopi 1 lokasi 2. Sumatera Barat Nilam 1 lokasi 3. Jambi Kayu manis 1 lokasi 4. Lampung Kopi Robusta 1 lokasi 5. Jawa Barat Mangga, Kopi 2 lokasi 6. Jawa Tengah Mangga 1 lokasi

Juklak /G-2012 16

(23)

7. Jawa Timur Kopi 1 lokasi 8. Sulawesi

Selatan

Kopi I lokasi

9. Bali Kopi 1 lokasi

10. NTT Kopi, Horti 2 lokasi

11. Papua Kopi 1 lokasi

Total 13 lokasi

4.2. RUANG LINGKUP (CAKUPAN KEGIATAN)

Cakupan kegiatan fasilitasi IG meliputi :

a. Pertemuan sosialisasi dalam rangka membangun pemahaman

b. Pertemuan pembentukan MPIG

c. Pembinaan dan pendekatan terhadap petani dan gapoktan/masyarakat

d. Penyusunan peta wilayah penghasil produk

e. Penyusunan Buku Persyaratan Indikasi Geografis

Juk/ak /G-2012 17

(24)

4.3. TAHAPAN PELAKSANAAN

Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan pengembangan Indikasi Geografis, perlu dibentuk Tim Pelaksana dan Tim Ahli yang memiliki tugas dan peran sebagai berikut:

a. Tim Pelaksana

Terdiri dan i pejabat/petugas dan perorangan yang ditunjuk oleh Dinas lingkup Pertanian di tingkat Propinsi. Tugas Tim Pelaksana adalah:

• Menyusun dan menyiapkan dokumen kegiatan (pedoman pelaksanaan) program kegiatan pengembangan indikasi geografis;

• Melakukan koordinasi dan sosialisasi dengan Dinas Pertanian kabupaten/kota dan instansi terkait;

• Menyusun dan menyiapkan bahan/materi pengembangan indikasi geografis dengan mengacu kepada pertemuan sosialisasi yang diselenggarakan oleh Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi.

Juklak /G-2012 18

(25)

b. Tim Ahli Indikasi Geografis

Terdiri dan i nara sumber yang kompeten dan Perguruan Tinggi, Pusat Penelitian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Ditjen HaKI Kementerian Hukum dan HAM dengan tugas melakukan :

Pembinaan kepada kelompok masyarakat yang akan melaksanakan pengembangan Indikasi Geografis;

Pengawasan terhadap kesesuaian buku persyaratan yang ada di lapangan;

c. Kelompok Pemohon Seritifikasi Indikasi Geografis yang terdiri dan i petani/kelompok tani, pedagang pengumpul/eksportir, tokoh masyarakat dan Pemda setempat yang kemudian disebut Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG), mempunyai tugas : 1) Menyusun keanggotaan

2) Menyusun AD/ART, termasuk di dalamnya mengenai hak dan kewajiban anggota 3) Mengelola keanggotaan

4) Menyusun program kerja

Juklak IG-2012 19

(26)

4.4. PELAKSANAAN FASILITASI INDIKASI GEOGRAFIS

PUSAT

Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pertemuan sosialisasi di dua Propinsi, yaitu Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Peserta pertemuan adalah pejabat/petugas dinas lingkup pertanian di tingkat Propinsi, pelaku usaha/petani produsen, asosiasi pelaku usaha/petani terkait komoditas kopi dan tokoh masyarakat yang berada di beberapa propinsi terdekat di wilayah Sumatera dan Sulawesi, terutama 11 (sebelas) Provinsi yang menerima alokasi Dana Dekonsentrasi untuk Pengembangan 1G.

PROPINSI

Kegiatan fasilitasi pengembangan indikasi geografis di tingkat dilaksanakan secara bertahap dan tidak harus dilaksanakan pada tahun yang sama tergantung dan i keinginan daerah masing- masing dengan tahapan sebagai berikut :

- Sosialisasi kepada stakeholder di daerah khususnya petani yang bersangkutan.

- Pembentukan MPIG

- Pemetaan (deliniasi) kawasan/wilayah cakupan IG

- Penyusunan Buku Persyaratan IG

Juklak IG-2012 20

(27)

4.5. JADWAL PELAKSANAAN

Kegiatan pengembangan IG yang difasilitasi oleh Ditjen PPHP tahun 2012 diharapkan dapat diselesaikan (Realisasi Keuangan 100%) pada bulan Desember tahun 2012.

Juklak lG-2012 21

(28)

JADWAL PELAKSANAAN DEKON IG 2012

NO

1

KEGIATAN DAN SUB .

KEGIATAN

ANGGARAN

(Rp) 1 2. 3.; S 7 a P 1b 11 12

SUMATERA

UTARA 100.000.000

kaglafan

2.500.000 68.500.000

par/alanan

1.500.000 14.000.000 13.500.000

2 SUMATERA

KARAT 75.000.000

kaglahn

parjalanan

1.000.000 59.000.000

1.500.000 7.500.000 6.000.000

SWAKELOLA

Juklak IG-2012 I22

(29)

3 M I

75.000.000

saaaaw~

1.000.000 59.000.000

1.500.000 7.500.000 6.000.000

4 1AMPUNG

100.000.000

keglatan

2.500.000 68.500.000

pefJelanan

1.500.000 14.000.000 13.500.000

5 JA WA BARAT

(MANGGA) 75.000.000

59.000.000 keg/atan

1.000.000

Juk/ak IG-2012 23

(30)

p«w~ 1.500.000 7.500.000 6.000.000

6 JAWA SARAT (ICON)

kegiatan

pe,Ja/anan

100.000.000

2.500.0 00

66.50 0.000

1.500.

000 14.000.

000 13.50 0.000

7 JAWA TENGAN 100.000.000

keglaIan

pafa/anan

1.500.000

2.500.000 68.500.000

14.000.000 13.500.000

Juklak IG-2012 24

(31)

S JAWA T$IUA

kag aan

p.rjdanan

rM.0o0-000

2.500.0 00

68.50 0.000

1.800.

000 14.000.

000 13.50 0.000

9 SULAWESI SELATAN

keglaan

100.000.000

2.500.0 00

68.50 0.000

perjalanan 1.500.

000 14.000.

000 13.50 0.000

Juklak IG-2012 I25

(32)

10 BALI 13.000.~M

kaglaoun

1.000.000 59.000.000

p—anan

1.300.000 7.500.000 6.000.000

11 NTT (KOPI)

100.000.000

kagiatan 2.500.000 68.500.000

13.500.000 pai/alanan

1.500.000 14.000.000

Juklak IG-2012 26

(33)

12 NTT (HOR17n 7S.000.000

1.500.00 0

kagladn 1

000.000 59.000.000

par/alanan 7 500.000 6.000.000

13 PAPUA 100.000.000

kag/atan 2.500.000 68.500.000

par/alanan 1.500.000 14.000.000 13.500.000

Juklak IG-2012 27

(34)

s o00 00

0

0,005

2 00000

0

0.096

277.000.00 0

0,236

4:600.00

0,004

41.600.00

A.035

229.000J30 0

o;iss

4.50if. 0

p{

4o. . 00

0,042.

i.60Q.od4:

0,

2'10.000A0f,~

Juklak IG-2012 28

(35)

MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

5.1. MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan evaluasi kegiatan fasilitasi pengembangan indikasi geografis, dimaksudkan untuk pencapaian hasil, kemajuan dan kendala dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan IG.

Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala dan berjenjang sesuai dengan tahap kegiatan kelompok MPIG, untuk dapat mengidentifikasi dan mencari solusi pemecahan permasalahan yang dihadapi.

Monitoring dan evaluasi kegiatan dilakukan oleh unsur Ditjen PPHP, Dinas lingkup Pertanian yang bersangkutan. Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan.

Hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berjenjang tersebut meliputi :

a. Kemajuan pelaksanaan kegiatan sesuai indikator kinerja.

b. Perkembangan dan dinamika di masyarakat yang bersangkutan terkait dengan IG.

c. Identifikasi masalah dan solusi pemecahannya.

Juklak /G-2012 I29

(36)

5.2. PELAPORAN

Laporan Pelaksanaan kegiatan fasilitasi Pengembangan IG tahun 2012 dinuat dan disampaikan oleh Dinas, lingkup Pertanian yang bersangkutan kepada Ditjen PPHP untuk setiap triwulan yaitu pada awal April, awal Juli, awal Oktober dan pertengahan Desember 2012.

Isi laporan mencakup semua aspek kegiatan sesuai ruang lingkup kegiatan (butir 4.2)

Juklak /G-2012 I30

(37)

VI. 'PENUTUP

Pedoman pelaksanaan kegiatan Pengembangan Indikasi Geografis ini dimaksudkan untuk mendukung kelancaran operasional kegiatan yang menjadi tanggung jawab propinsi penerima alokasi Dana Dekonsentrasi. Untuk Pengembangan Indikasi Geografis di wilayahnya. Hal terpenting yang perlu dicermati adalah bahwa semua kegiatan dilakukan dalam upaya alih pengetahuan dan teknologi dan i narasumber dan pelaku usaha kepada kelompok tani/masyarakat setempat, menumbuhan sikap kepemilikan khas suatu produk sebagai suatu keunggulan daya saing, peningkatan nilai tambah dan peningkatan pemasaran.

Diharapkan dengan adanya pedoman pelaksanaan ini, semua pelaksana kegiatan di tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota, maupun kelompok masyarakat baik petani/kelompok tani, pedagang pengumpul/eksportir maupun tokoh masyarakat setempat dapat melaksanakan seluruh kegiatan terkait secara baik dan benar menuju tercapainya sasaran yang telah ditetapkan dengan mengacu kepada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Juk/ak /G-2012 I31

(38)

CONTACT PERSON

Ir. I Nyoman G Widhi Adnyana Kasubdit. Promosi Luar Negeri

Telp. 021 — 7815380 ext. 5214-5215 /021 —78833938 Hp. 0817-189353

E-mail : [email protected] Ir. Wolo Palupi, MP

Kasie. Exhibition/Expo

Teip. 021 — 7815380 ext. 5214-5215 / 021 —78833938 Hp. 0815-1664023

E-mail : woro [email protected]

Ir. Aman Rachman Kasie. Daya Saing

Telp. 021 —7815380 ext. 5214-5215 / 021 —78833938 Hp. 0819-32769234

E-mail : [email protected]

Juklak /G-2012 32

(39)
(40)

~G

- Politik, Keamanan, Infrastruktur, Lingkungan

a

Gambar

Tabel  :  Alokasi  Kegiatan  Fasilitasi  IG  thun  2012

Referensi

Dokumen terkait

Pengupasan kulit tanduk pada kondisi biji kopi yang masih relatif basah (kopi labu) dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas yang didisain khusus.. Agar

Dalam hal tersebut peran DJBC sebagai trade facilitation / fasilitasi perdagangan dengan memberikan pembebasan bea masuk pada perdagangan perbatasan

Berarti disana juga ada semacam daftar aktiva yang sudah dialokasikan kesini kan gitu loh, kalau pada saat daftar aktiva itu tidak ada dikantor pusat dialokasikan kemari

Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), melakukan kegiatan saling membantu pada proses pemanenan kopi Arabika, memberikan

Alat analisis yang digunakan untuk mengukur daya saing secara internasional suatu komoditas adalah dengan menggunakan rasio Domestic Resourse Cost (DRC), yaitu rasio

Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memfokuskan kinerjanya untuk “Meningkatkan produksi komoditas sub sektor tanaman pangan dalam rangka memperkuat

Pada kondisi tertentu, suatu populasi dapat berkembang menjadi dua atau lebih spesies tanpa keberadaan pemisah geografis antara lain dengan perbedaan pada perilaku.. Perilaku

Tidak tercapainya target serapan anggaran tersebut karena optimalisasi dan efisiensi pada kegiatan Pembinaan, pengawalan dan pembangunan perkebunan; kegiatan sertifikasi,