• Tidak ada hasil yang ditemukan

disertasi perempuan bugis di ranah bisnis

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "disertasi perempuan bugis di ranah bisnis"

Copied!
268
0
0

Teks penuh

Perempuan Bugis dalam ranah bisnis adalah aktivitas perempuan Bugis sebagai pedagang pakaian di Pasar Butung Kota Makassar. Pendekatan penelitian ini adalah studi kasus dan menggunakan metode kualitatif yaitu mengungkap, memahami dan mendeskripsikan aktivitas sosial pedagang perempuan etnis Bugis di Pasar Butung.

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Sebelum tahun 1980-an, kegiatan perdagangan pakaian di Pasar Butung berada di bawah komando dan kendali laki-laki, namun setelah tahun 1980-an hingga sekarang, sebagian besar kegiatan tersebut telah berpindah tangan kepada perempuan. Bagaimana persepsi pedagang wanita yang melakukan kegiatan usaha pakaian di Pasar Butung Kota Makassar.

Tujuan Penelitian

Fakta tersebut menunjukkan bahwa “Perempuan Bugis, khususnya yang bergerak dalam kegiatan seperti menjajakan pakaian di Pasar Butung, tidak lagi menjadikan nilai-nilai budaya Bugis mengenai status dan peran perempuan sebagai acuan dalam bertindak, melainkan telah menggunakan nilai-nilai budaya tertentu. sebagai orientasi tindakan”. Mendeskripsikan persepsi pedagang perempuan yang melakukan kegiatan usaha pakaian di Pasar Butung Kota Makassar.

Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Teoritis

  • Kegunaan Praktis

Kajian yang lebih terfokus pada kajian perempuan Bugis yang aktif di sektor bisnis, sepengetahuan peneliti, belum banyak mendapat perhatian. Di bawah ini disajikan beberapa teori tentang perubahan sosial, status, peran perempuan, persepsi dan interaksi sosial ekonomi perempuan Bugis yang aktif di sektor bisnis.

Perspektif Perubahan Sosial

  • Perubahan Sosial (Aspek Sosial)
  • Perubahan Sosial (Aspek Ekonomi)

Konsep perubahan sosial adalah pengertian tentang proses sosial yang menggambarkan rangkaian perubahan yang saling berkaitan. Dengan demikian, konsep perubahan sosial menunjukkan: (1) perubahan yang berbeda, (2) mengacu pada sistem sosial yang sama (terjadi di dalam atau mengubahnya secara keseluruhan), (3) hubungan sebab akibat dan bukan hanya satu faktor yang menyertai atau mendahului faktor lainnya. faktor, (4) perubahan mengikuti satu sama lain dalam deret waktu (berurutan dalam waktu).

Interaksionisme Simbolik

Menurut Ritzer, dari semua pemikiran sosiologis, teori interaksionisme simbolik adalah teori yang paling sulit disimpulkan. Interaksionis simbolik menolak fakta sosial dan juga perilaku sosial karena alasan yang sama, keduanya gagal mengenali pentingnya posisi individu dalam masyarakat.

  • Jenis dan Ciri Interaksi Sosial
  • Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Interaksi Sosial
  • Proses Sosial

Interaksi sosial merupakan suatu proses sosial, Gilin dan Gilin (1974) mengklasifikasikan menjadi dua jenis proses sosial yang timbul akibat interaksi sosial, yaitu: Proses asosiatif (proses asosiasi) yang terbagi menjadi tiga bentuk (akomodasi, asimilasi dan akulturasi). Interaksi sosial antaretnis dapat dilihat sebagai interaksi yang terjadi antara identitas sosial yang berbeda.

Perilaku Ekonomi Pedagang

Weber (2002: xi) mendefinisikan tindakan ekonomi kapitalis sebagai tindakan ekonomi yang didasarkan pada harapan memperoleh keuntungan dengan menggunakan segala kemungkinan transaksi pada tataran formal, kesempatan untuk memperoleh keuntungan secara damai. Artinya, tindakan ini diubah menjadi penggunaan barang atau jasa pribadi secara sistematis, sebagai cara untuk memperoleh keuntungan dengan cara tertentu. Pekerja tidak menanyakan berapa banyak uang yang dapat dia hasilkan dalam sehari jika dia bekerja sebanyak mungkin, tetapi berapa banyak dia harus bekerja untuk mendapatkan upah (pendapatan yang diperoleh sebelumnya yang dapat memenuhi kebutuhan tradisionalnya.

Homans (1974) bertumpu pada asumsi bahwa orang terlibat dalam perilaku untuk memperoleh imbalan atau menghindari hukuman.

Prinsip – Prinsip Keluarga Bugis

Normatif yang menekankan pedoman hidup tentang tata krama, aturan, cara hidup yang mengatur aktivitas sebagai kelompok manusia; Pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa pedoman hidup meliputi: (1) perilaku eksplisit dan implisit; (2) nilai dan tradisi yang dipertahankan dari generasi ke generasi; (3) dan produk dari tindakan manusia. Nampaknya peran pedoman hidup penting dalam membentuk sikap dan perilaku masyarakat serta menjadi paradigma pemikiran manusia.

Menurut Matulada (1993: 7), pedoman hidup yang pertama berupa ide-ide, gagasan-gagasan itu berada di dalam pikiran yang membentuk sistem budaya yang menjadi pandangan hidup, dan bentuk yang kedua adalah kompleks aktivitas manusia yang berinteraksi dengan manusia. setiap. yang lain untuk membentuk sistem sosial.

Hasil Penelitian yang Relevan

Aneurin, Santoso dan Ilhamsyah (2010) dalam penelitian “Migrasi dan Sektor Informal di Kota Makassar” menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia kerja di atas 12 tahun adalah 1381. Kecilnya persentase tenaga kerja wanita dibandingkan dengan persentase tenaga kerja pria diduga terkait dengan budaya masyarakat Makassar. Laki-laki dan perempuan memaknai dan memahami gender sebagai kesetaraan dan keseimbangan fungsional dalam pengambilan peran berdasarkan pedoman.

Implikasi kesetaraan gender bagi suami istri dalam keluarga Bugis terlihat pada peningkatan keuangan, memberikan semangat, motivasi dan prestasi bagi mereka dan keluarganya karena masyarakat dan agama Bugis tidak melarang perempuan berperan instrumental selama mampu. menjaga harga diri dan mendapatkan izin dari suami mereka.

Kerangka Konseptual Penelitian

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami tindakan perempuan Bugis di sektor bisnis (Studi Kasus Pedagang Perempuan Bugis di Pasar Butung Kota Makassar). Selain itu, dikembangkan beberapa konsep mengenai rasionalitas tindakan perempuan Bugis dalam ranah bisnis untuk menjawab pokok permasalahan yang dibahas: (1) Rasionalitas tradisional, merupakan konsep yang menjelaskan perebutan nilai-nilai yang bersumber dari tradisi Bugis. masyarakat yang menempatkan perempuan hanya di ranah domestik; (2) Rasionalitas berorientasi nilai adalah konsep dimana masyarakat memandang nilai sebagai potensi kehidupan. Dalam hal ini, perempuan Bugis memiliki bakat atau kemampuan untuk berperan serta dalam dunia usaha meskipun tidak aktual atau mungkin bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku; (3) Rasionalitas Afektif, merupakan asas keefektifan atau manfaat yang diharapkan yang menempatkan perempuan baik dalam ranah domestik maupun bisnis, dan (4) Rasionalitas Kesengajaan, yaitu tindakan atau cara berupa tindakan rasionalitas yang lebih tinggi, berupa kerja . etika, semangat, kerjasama, interaksi sosial, persaingan (kompetisi) dalam arti positif, bakat atau jiwa dagang, kejujuran dan kepercayaan.

PEREMPUAN BUGIS MENJALANKAN BISNIS - Tahun Awal Perdagangan - Peran Wanita - Alokasi Ekonomi - Pendukung - Gaya Hidup - Kembali.

Gambar 2.1  Kerangka  Konsep  Perempuan  Bugis  di  Ranah  Bisnis  (Studi  Kasus               Perempuan Pedagang Pakaian di Pasar Butung Kota Makassar)
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Perempuan Bugis di Ranah Bisnis (Studi Kasus Perempuan Pedagang Pakaian di Pasar Butung Kota Makassar)

Pendekatan dan Jenis Penelitian

Sumber Data

Fokus Penelitian

Makassar, akan dijadikan informan dengan menetapkan 7 (tujuh) orang wanita yang sengaja bergerak di bidang usaha yang memenuhi kriteria yaitu wanita sebagai pemilik dan kontraktor, wanita sebagai kontraktor, wanita sebagai pemilik. Melakukan survei lapangan (survey pendahuluan) tentang apa yang diketahui tentang perempuan Bugis yang bekerja sebagai pedagang kain di pasar Butung. Menjodohkan hasil penciuman lapangan (survey pendahuluan) peneliti dengan informasi dari kepala KSU Bina Duta selaku pengelola pasar Butung.

Hasil pencocokan kemudian mengidentifikasi 4 (empat) informan yang layak dijadikan sasaran penelitian berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.

Deskripsi Fokus Penelitian

Instrumen Penelitian

Teknik Pengumpulan Data

  • Pengamatan (observasi)
  • Wawancara (Interview)
  • Dokumentasi

Observasi dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat tentang situasi sosial usaha perdagangan pakaian yang dijalankan oleh perempuan Bugis di Pasar Butung Kota Makassar. Situasi sosial yang dimaksud meliputi: (1) prasarana dan sarana yang berkaitan dengan perdagangan sandang; (2) pelaku yang terlibat dalam kegiatan perdagangan sandang (produksi, distribusi dan konsumsi); (3) interaksi sosial; (4) kedudukan dalam keluarga dan masyarakat; (5) pengambilan keputusan dalam kegiatan ekonomi; dan (6) kegiatan yang dilakukan informan di rumah, di pasar, dan berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya. Jenis data yang dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam meliputi pengalaman, pendapat dan keyakinan/keyakinan.

Wawancara bebas dilakukan dengan pihak-pihak yang memahami kondisi perdagangan wanita Bugis di pasar Butung.

Teknik Analisis Data

  • Reduksi Data
  • Penyajian Data
  • Verifikasi

Pengabsahan Data

Hal ini akan diverifikasi dengan temuan data selanjutnya dan akhirnya akan diperoleh kesimpulan akhir yang harus dilakukan dengan cara berdiskusi atau bertukar kontrol antar peneliti untuk mengembangkan apa yang disebut konsensus intersubjektif. Kegigihan observer bertujuan untuk melakukan observasi yang lebih cermat, teliti dan berkesinambungan terhadap pedagang perempuan dan faktor, karakteristik atau unsur yang terkait dengan subjek yang dicari. Dalam hal kegigihan, antara lain membaca berbagai referensi, buku, hasil penelitian atau dokumentasi terkait temuan yang diulas tentang aktivitas perempuan di sektor bisnis.

Triangulasi digunakan untuk mengecek keabsahan data dengan menggunakan sumber lain selain data sebagai pembanding.

Makassar Dalam Lintas Sejarah

Proses inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya kegiatan perdagangan di Kota Makassar, sekaligus menjadi pusat Kota Makassar saat ini. Baru pada tahun 1669 akhirnya kota Makassar dapat diratakan dan benteng terbesarnya yaitu benteng Somba Opu. Hingga saat ini, hasil laut masih menjadi salah satu mata pencaharian utama penduduk pulau-pulau di wilayah Kota Makassar.

Melihat pemaparan perjalanan sejarah kota Makassar di atas, diharapkan dapat memberikan gambaran bahwa perkembangan kota Makassar diawali dengan kegiatan perdagangan.

Keadaan Geografis dan Demografis

Seiring berjalannya waktu, perkembangan kota Makassar didukung oleh adanya kapitalisme yang pada akhirnya kota Makassar mengalami perluasan wilayah. Rasio jenis kelamin kota Makassar sekitar 92,17 persen, artinya dari setiap 100 penduduk perempuan terdapat 92 penduduk laki-laki dengan rata-rata kenaikan 1,65. Sebaran penduduk Kota Makassar menurut kecamatan menunjukkan bahwa penduduk masih terkonsentrasi di kecamatan Tammalate yaitu sebanyak 152.197 jiwa atau sekitar 12,14 persen dari total jumlah penduduk.

Komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat ditunjukkan dengan rasio jenis kelamin penduduk Kota Makassar yaitu sekitar 100,20 persen yang berarti setiap 100 penduduk perempuan terdapat 100 penduduk laki-laki.

Prospek Kegiatan Bisnis

Satu-satunya peraturan pemerintah kota terkait pasar lokal adalah Perda Kota Makassar No. Ekspansi pasar besar seperti Gelael, Makro, Hypermart, Diamond hingga Giant dan Carrefour mulai mengancam keberadaan pasar lokal di Makassar. Tentunya keunggulan pasar modern untuk memanjakan konsumen jauh melebihi kemampuan pasar lokal kita.

Hal ini terutama diperlukan dalam upaya menemukan kembali spirit pasar lokal di Kota Makassar yang pernah ada dalam jalur sejarah pasar di Kota Makassar.

Sejarah Perkembangan Pasar Butung

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Pulau Buton (disebut juga Butung) dulunya merupakan tempat pelarian Arung Palakka dari kejaran pasukan Sultan Hasanudin. Arung Palakka sebagai salah satu kepala suku Bone tidak terima dengan perlakuan para bangsawan Gowa yang menindas rakyatnya. Daerah bebatuan dengan lekukan-lekukan kecil di sepanjang bukit benar-benar menggambarkan kebenaran sejarah tersebut.Pernyataan Sultan Buton saat menyembunyikan Arung Palakka dianggap benar.

Rumah adat berlantai dua berkamar enam ini juga memajang foto dan patung Arung Palakka.

Struktur Organisasi Pasar Butung (KSU Bina Duta)

  • Sistem Pembangunan dan Pengelolaan Pasar Butung
  • Teknis Bangunan a. Lokasi

Pembangunan Pasar Butung didasarkan pada Perjanjian Kerja Sama Bersyarat No. 511.2/16/S.Perja/Um tertanggal antara Pemkot Makassar dengan PT. Haji Latunrung L&K tentang Pembaharuan dan Pengembangan serta Pengelolaan Pasar Butung di Kotamadya Daerah Tingkat II Makassar. Rencana Renovasi Pasar Butung direncanakan oleh Pemerintah Daerah Kota Makassar dan akan dilaksanakan oleh kontraktor konstruksi yang akan ditunjuk (memenangkan tender).

Rencana induk ini mengacu pada kesepakatan kerja sama bersyarat yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Makassar terkait penetapan lokasi pasar Butung, baik secara makro maupun mikro.

PEREMPUAN BUGIS DI RANAH BISNIS

Perempuan Bugis sebagai Pengendali Utama Bisnis Pakaian di Pasar Butung Kota Makassar

  • Tahun Awal Berdagang
  • Peran Perempuan
  • Alokasi ekonomi
  • Modal Usaha
  • Pilihan tempat usaha
  • Dukungan Sebagai Pengendali Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Pengambilan Keputusan
  • Persepsi Perempuan Pedagang: Nilai Budaya Mengenai Kedudukan Dan Peran Yang Seyogyanya Dilakoni Perempuan Bugis

Disebutkan karena semua informan yang menguasai usaha pakaian di Pasar Butung berasal dari keluarga pedagang. Rincian lebih lanjut mengenai jumlah perempuan yang bertindak sebagai pengendali usaha pakaian jadi di Pasar Butung dapat dilihat pada tabel berikut. Kegiatan perempuan Bugi sebagai pengendali usaha di Pasar Butung tidak terlepas dari dukungan keluarga terutama suami, orang tua dan anak-anaknya.

Wanita Bugis sebagai pengendali bisnis di Pasar Butung menawarkan barangnya mengikuti tren fashion terkini yaitu desain busana muslim yang menjadi selera konsumen.

Tabel V.1. Distribusi Jumlah Perempuan sebagai Pengendali Bisnis di Pasar  Butung, tagun 2012
Tabel V.1. Distribusi Jumlah Perempuan sebagai Pengendali Bisnis di Pasar Butung, tagun 2012

Gambar

Tabel 1.  Jumlah Angkatan Kerja menurut Jenis Kelamin, 2006-2008 (Ribu)
Gambar 2.1  Kerangka  Konsep  Perempuan  Bugis  di  Ranah  Bisnis  (Studi  Kasus               Perempuan Pedagang Pakaian di Pasar Butung Kota Makassar)
Tabel V.1. Distribusi Jumlah Perempuan sebagai Pengendali Bisnis di Pasar  Butung, tagun 2012
Tabel V.8. Matriks Perempuan Bugis Pengendali Bisnis  No  Tujuan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelayakan bisnis kue bugis pada usaha rumahan kue bugis Ibu Iis di Majalaya yang ditinjau dari aspek pemasaran dan aspek

PERMAINAN PARAGA SEBAGAI OLAHRAGA TRADISIONAL MASYARAKAT SUKU BUGIS MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN (Studi Fenomenologis Ditinjau Dari Aspek Keterampilan Gerak dan

Dari hasil penggunan metode sejarah tersebut, maka diperoleh hasil penelitian perdagangan perempuan di Kota Manado adalah sebagai berikut : (1) faktor yang paling utama timbulnya

yang bersangkutan dengan judul, “ Kesadaran Pelaku Ekonomi Terhadap Etika Bisnis dalam Islam (Studi Kasus Pedagang Pasar Sentral Kota Makassar) ”, memandang bahwa

3) Sebagian kelompok masyarakat memercayai eksistensi pemali sebagai bagian dari kearifan lokal leluhur masyarakat Bugis dan Makassar, tetapi memilah antara pemali yang

perempuan yang sudah berdagang lebih dari. 10 tahun di pasar tradisional

Tesis ini berjudul “EKSISTENSI UANG PANAI’ TERHADAP STATUS SOSIAL LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM TRADISI PERKAWINAN MASYARAKAT BUGIS (Studi Kasus, di Desa Tompo Kecamatan

Rumusan masalah penelitian ini adalah (i) apa yang menjadi motivasi perempuan berprofesi sebagai pemulung di kota Makassar , dan (ii) bagaimana kontribusi pemulung